Namitsutiti


Leave a comment

[FF-Freelance] Always You – Part 2


Always You

Cover By : Fuglveen`s Art

Story By Herma & RoseLyn

Zi Tao

Cast: -Kim Jong-in, Choi Nara,

-Oh Sehun, Huangzi Tao, Kyungsoo.

Other Cast: Jung Ahjung, bibi Hani dan direktur Jung Dugeok.Oh.Yungsoo and Oh. Seul,Oh Soul joun.Bibi Tan.

Genre: Romance, Psycho and kekerasan.

.

Declaimer: Bukan bermaksud memperolok nama tokoh, jadi jangan benar-benar membash pengarang cukup tinggalkan komentar saran dan kritikan kalian.

Chapter 2.

Aku mendekapnya rapat, tanpa celah. Aku tidak peduli, jika dia sudah tidak bernafas. Dunianya milikku, maka hanya harus ada aku disana. Aku tidak ingin dia pergi meninggalkanku walau persekian detik lamanya. Aku tak rela . Karena apa yang sudah menjadi milikku, tak akan ku biarkan lepas begitu saja.

—-Always You—

Preview

Langkah kaki gadis itu terlihat lamban membiarkan tidak makan beberapa hari dan minum, wajahnya terlihat jelas sekali dia begitu putus asa. Dia berdiri di atas balkon paling tinggi rumah Jong-In tak ingin melihat apapun yang terjadi di bawah sana bahkan mengingat kejadian tadi berasa kehidupannya sudah tak berguna lagi.

Gadis itu memandang ke bawah dengan rambut yang tergontai-gontai di terpa angin. Bibirnya tak terlihat segar melainkan pucat tubuhnya kurus dan beberapa luka sayatan di tangannya sudah menghiasi badannya . Dia terlihat mengeluarkan air mata di kedua pipinya.

“Kyungsoo-oppa… Mianhae…”

Dia membalikkan punggungnya melentakkan kedua tangan itu di depan dada lalu menjatuhkan diri ke bawah. Dia terlihat lemah dan tak berdaya. Ah-Jung menutup mata selamanya.

Tubuhnya jatuh perlahan-lahan ke bawah menggapai tanah yang kasar dan tidak bersahabat membiarkan darah dari setiap kepalanya keluar dan tulang-tulangnya hancur bersamaan,

 Belum sempat Jong-in meraihnya gadis itu sudah lenyap.

“BRENGSEEK”

Chapter 2

Jong-In menuruni anak tangga dengan cepat tak ingin membiarkan mayat gadis itu berlama-lama di luar. Dia memandang sekitar ruangan mencari benda yang dapat menyelimuti, tak lama matanya menemukan sprei putih di kasur, lalu dia mengambilnya dan berlari keluar.

Nafasnya sedikit memburu melangkah cepat ke arah jasad Ah-Jung “Gadis sialan,” Jong-In lalu menebar selimut itu menyelubungi tubuh gadis yang tak bernyawa lagi sebelum bau darah itu tercium kemana-mana. Jong-in menaruh tubuh mungil ke bahunya untuk masuk ke dalam rumah, setelah itu dia mengambil selimut tak terpakai dan jerigen berisi bensin lalu membakarnya bersama darah-darah itu sampai tak berbau kembali. Jong-In tengah berdiri di dekat kobaran api, menatapi api yang terus berkobar sampai benar-benar lenyap bersama selimut itu.

Di sisi lain Kyungsoo menunggu kehadiran Ah-Jung . Seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya tapi dia tidak tahu yang pasti apa yang terjadi pada Ah-Jung. Dia terus memikirkan upacara pernikahan yang akan dilakukan mereka seminggu lagi bersama Ah-Jung.

Dia merebahkan tubuhnya di atas sofa yang empuk membiarkan pikirannya melayang bersama Ah-Jung. Jemari tangannya menekan tombol remot televisi mengubah channel tv semaunya. Tapi tetap saja hatinya ada yang mengganjal. Dia menengok untuk melihat pukul berapa.

“Ah-Jung.” Dia menoleh ke arah pintu begitu khawatir dengan Ah-Jung, dia menggenggam kedua tangan-nya. Dia membuang nafas kembali lalu bangkit dari sofa, dia berdiri di dekat jendela badannya agak menyender ke tembok jadi dia tidak merasa pegal berlama-lama di dekatnya.

Dia menyilangkan kedua tangannya; pikirannya terus melayang ke Ah-Jung . Cukup lama menunggu malam akan menggantikan sore, akhirnya Kyungsoo merogoh saku celananya menekan layar ponsel menyambungkan ke kontak Ah-Jung. Dia mendekatkan ponsel itu ke telinganya sampai benar-benar suara gadis itu muncul.

Kyungsoo menggigit bibir bawah.

“Ah-Jung angkatlah!!”

–0o0—

Jong-In mencari beberapa alat suntikan dan zat kimia di dalam lemari sedangkan Ah-Jung masih berbaring di ranjang.

Dia mengambil sekotak jarum suntik dan dua kotak zat Formalin beserta garam seng, alkohol, gliserol,dan asam silisilat.

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi!!”kata Jong-In duduk di samping ranjang Ah-Jung. “walau kau sudah mati tapi aku tetap di sisimu,” Jong-In kembali menarik jarum lalu menyuntikkan bahan itu ke lengan Ah-Jung. Tak terlihat sama sekali wajah Ah-Jung yang kesakitan melainkan mata yang terus terpejam dan darah yang masih mengalir.

Jong-In merasa mendengar suara khas ringtone ponsel milik Ah-Jung, tapi entah dimana Jong-In mencari-cari ke sisi ruangan. Tepat ponsel itu sudah bergetar dari tadi di atas meja, Jong-In pun mengambilnya. Melihat siapa yang sudah mengganggu aktifitasnya.

Mata Jong-in melotot saat melihat nama pria yang suka mencampuri urusan Jong-in dan Ah-Jung sedang menghubungi-nya. Tangannya sedikit mengepal ingin meremas-remas kepala pria itu.

Dia semakin menajamkan pandangan ke ponsel Ah-Jung. Seperti nya amarah Jong-In begitu meluap-luap.

Tak~

Dia melempar ponsel milik Ah-Jung ke tembok sehingga tak berbunyi kembali. Dia pecah berserakan dimana-mana.

Nafas Jong-In semakin terdengar keras dia benar-benar marah wajahnya terlihat memerah menatap Ah-Jung yang tertidur di ranjang. Dia melangkah ke ranjang Ah-Jung dan melompat menindihnya.

“Ah-Jung. Jadi kau benar-benar tidak mau mempedulikanku lagi? Setelah kau mencuri data perusahaan ayahku kau akan meninggalkanku bersama pria brengsek itu,” Jong-In berteriak di wajah Ah-Jung yang terpejam.

“Yeah, kau benar… aku memang pria bejat Ah-Jung. Membunuh keluarga ku sendiri hanya demi kau. Aku hanya ingin bersamamu tidak lebih, aku tidak suka orang-orang yang selalu menentang hubunganku dengan-mu meskipun mereka harus mati di tanganku.”

“Kau lihat!! mayat ibuku- dan ayahku aku masih menyimpan-nya…Jika kau ingin berteriak . Berteriak lah seperti dulu Ah-Jung; saat kau tidak sengaja menemukan mereka di belakang lemariku.” Kata Jong-In meninggikan suaranya, dia sudah berdiri memunggungi Ah-Jung dan melihat ke arah lemari yang sudah berpindah tempat menampilkan dua sosok mayat suami istri.

“Jika kau ingin…aku bisa saja membunuh pria brengsek itu dengan tanganku.”

“Yeah, harus … harus aku lakukan,”kata Jong-in berdiri menatap kembali sosok Ah-Jung yang sudah tak bernyawa.

“Diam seperti itu aku anggap kau menyetujui-nya. Malam ini aku akan menghabisi-nya,”kata Jong-In menyeringai. Arwah Ah-Jung masih berdiri di dekat pintu dia menatapi Jong-In penuh dendam dan kesakitan, namun apalah daya seorang arwah yang tidak bisa membalas kesakitan yang dia alami sebelumnya. Bahkan menyentuh-nya saja tak akan bisa. Dia tersenyum kikuk dan sedikit menangis.

–0o0—

“Mwo!! Oppa” gadis muda itu menarik kursi dan menepuk-nepukkan sebelah tangannya ke kursi itu mengisyaratkan untuk Sehun duduk di samping-nya. Tatapan Sehun begitu mencari tempat duduk yang pas untuk-nya.

“Lihat Yungsoo-nunna mulai genit pada hyungku,”bocah lelaki ini mulai risih ketika melihat kakak-nya sedang bermanja-manja dengan Sehun.

“Mwo!! Seul tutup mulutmu!” Gertak Yungsoo pada adik laki-lakinya.Sedangkan di sisi Seul ada Soul yang masih tak berkutik dengan kehadiran mereka, dia malah terus menyumpit makanan di depan mereka.

“Yak. Soul kenapa kau tidak membantuku.” Gerutu Seul yang melihat bocah pipi chubby itu sangat menikmati sarapan pagi-nya.

 “Makanan ini terlihat lezat sekali, aku tidak bisa menahannya lagi Hyung!!”sahut Soul sambil menyuap.

“Ah,kau ini kerjamu hanya makan saja,”sindir Seul pada adik kembar-nya, diapun langsung menyuap.

Yungsoo memutar-mutarkan bola matanya malas melihat dua bocah laki-laki ini terus beradu mulut. Sehun menutupi mulutnya dengan satu tangan, dia tidak mau suara kekehan nya terdengar oleh Yungsoo, Yungsoo kembali menatapi Sehun dengan tatapan genitnya. Dia pun bergelanjutan di lengan Sehun.

“Oppa!! Antarkan aku ke sekolah ?” rengek Yungsoo.

“Aku juga Hyung,”kata mereka serempak sontak Yungsoo berdecak kesal melihat ke mereka. Hani Ahjumma dan Nara hanya bisa terkekeh sedikit. Dan kembali meyuapi sup ke mulut.

“Hani Ahjumma dimana orang asing itu,” Nara baru tersadar sosok warga Tiongkok itu belum ke meja makan padahal ini sudah waktunya untuk pergi.

“Oh, aku lupa…”ucap Sehun memegangi kepalanya mendorong kursi yang dia duduki, Yungsoo menarik lengan Sehun pelan.

“Oppa. Ingin kemana??”

“Kau tidak tau hyung harus membangunkan panda itu,”ledek Seul kembali menarik kedua kelopak mata di depan Yungsoo.

“Dia mirip panda Hyung,”kekeh Soul membalas, Nara hanya bisa diam menahan kekehan-nya dan Yungsoo menatap-nya.

“Nara-eonni!!!”rengek Yungsoo pada Nara.

“Baiklah tidak usah berbicara aku sudah tau maksudmu..tetap lah disitu dan makan dengan rapi,”ujar Nara mendorong kursinya melangkah pergi. Dia menaiki anak tangga perlahan-lahan untuk membangunkan pria Tiongkok di atas sana.

Tao mengeringkan rambutnya dengan handuk, tubuh kekar-nya masih terbaluti kain. Dia sedikit bercermin menatapi tubuh-nya dari cermin.

“Kau keren Tao, apalagi Abs dan otot-ototmu,” Tao menampilkan bisep-nya.

Tok

Tok

Jemari Nara mengetuk pelan pintu kamar Tao.

Tao menoleh ke sumber suara.

“Masuklah…” Tao kembali menatapi diri-nya ke cermin.

Ckleck~

Kepala gadis itu sedikit menyembul, dia pikir yang hadir itu Sehun ternyata salah. Tao sedikit melebarkan mata ketika gadis itu melihat dirinya bertelanjang dada. Dia berdiri menatap Nara.

“Ka-kau,”tiba-tiba dia gugup handuknya melorot di depan Nara.

“Mwo!”

Nara membalikkan badan menutupi kedua matanya. Pemandangan yang tak biasa bagi Nara untuk melihat ke bawah, handuk pria itu melorot sampai memperlihatkan bagian bawah.

“Maa- Maaf,” sahut Tao menarik kembali handuk miliknya. Nara takut menoleh ke belakang jadi dia berbicara tanpa memandangi Tao. Sedangkan Tao cepat-cepat memakai pakaian-nya.

“Berbaliklah!”perintah Tao yang sudah mengenakan pakaiannya lengkap walaupun tidak rapi. Nara sedikit membuka mata untuk melihat pria itu.

“Kau tak ingin turun dan bergabung bersama kami? “ Nara bertanya pada Tao.

“Baiklah tunggu aku segera datang,”

“Bereskan pakaian mu setelah itu turunlah,”sahut Nara menarik knop pintu Tao. Sedangkan Tao menghela nafas tidak karuan, “dia benar-benar cantik,” puji Tao.

—0o0—

Kyungsoo masih menelpon Ah-Jung tapi berulang kali gagal, dia semakin khawatir dengan Ah-Jung dia mencari kontak Direktur Geok lalu menghubunginya lagi.

Dia mendekatkan lagi ponselnya ke telinga.

Di sisilain pria yang dia hubungi sedang membereskan data-data perusahaan.

KYUNGSOO~

Kontak ponselnya menunjukkan Kyungsoo sedang menghubungi-nya tapi berulang kali panggilan untuknya tidak terjawab, akhirnya dia pun yang menghubungi Kyungsoo duluan.

“Ada apa kau memanggilku?”

“Paman..apakah Ah-Jung bersamamu?”

“Tidak,”

“Bukankah dia bersamamu?”

“Aku pikir dia sedang bersamamu Kyungsoo,”

“Lalu dimana dia?”tanya Kyungsoo heran.

“Tapi, seharian ini aku menunggunya namun dia tidak kunjung hadir dan anehnya ponselnya tidak diangkat-angkat, tak biasanya dia melakukan ini kepadaku paman,”

“Ya, kau tenanglah..aku akan mencoba menghubungi-nya,”

Saat direktur Geok menekan tombol kontak Ah-Jung operator memberikan jawaban yang tidak valid.

“Tidak tersambung,”sahut direktur Geok panik.

Kyungsoo meremas rambutnya khawatir.

“Tenanglah, aku akan mencoba menghubungi Manager Tan.”

—-0o0—

Manajer Tan baru saja merobohkan tubuh di atas sofa tapi lagi-lagi ponselnya berdering.

Dia melihat ponsel mata-nya sedikit malas menjawab, tapi kali ini direkturnya yang memanggil akhirnya mau tak mau dia mengangkat ponselnya . Dia mendekatkan ponsel itu ke telinga.

“Manager Tan, apakah kau bersama Ah-Jung disana?”pria itu bertanya dengan suara cemas.

Mata Tan Ahjumma membelalak tiba-tiba tidak biasanya pria itu menanyakan kabar ponakan-nya, padahal dia suka menelantarkan Ah-Jung kepadanya.

“Tidak. Aku seharian penuh di kantor, bukankah dia bersamamu,”

“Semua orang menanyakan-nya tapi tidak satupun yang mengetahuinya,”

“La-La-Lu dimana dia sekarang?”Tanya Tan Ahjumma gugup.

“Kyungsoo juga tidak bersama-nya,”sahut direktur.

“Astaga, kenapa aku sampai lupa…waktu itu dia meminta izin dariku untuk pergi ke restaurant china, katanya dia ingin bertemu teman lamanya, tapi dia tidak memberitahukanku,”

“Apa jangan-jangan…maksudmu Kim Jong-In?”tanya direktur mengusulkan nama dia.

“Ah,itu tidak mungkin dia kan dipenjara sebulan yang lalu, dan aku selalu melarang Ah-Jung untuk bertemu dengannya,”

“Entahlah seperti-nya ada yang tidak beres..Aku akan memanggil polisi,”kata Tan Ahjumma cemas.

“Tidak perlu…lebih baik kita selidiki dulu Ah-Jung,”sahut direktur Geok.

“Yasudah itu terserahmu yang terpenting dia cepat kembali,”

“Ta..”

Ahjumma Tan menutup teleponnya memotong pembicaraan direktur Geok, dia meremas kepala-nya pening.

“Ah-Jung… Kau dimana?” kesal Ahjumma Tan merebahkan kembali di atas sofa.

To be Continued..

Advertisements


Leave a comment

[FF-Freelance] Always You – Part 1


Tittle: Always You

Cover By : Fuglveen`s Art

Story By Herma & RoseLyn

Cast: -Kim Jong-in, Choi Nara,

-Oh Sehun, Huangzi Tao, Kyungsoo.

Other Cast: Jung Ahjung, bibi Hani dan direktur Jung Dugeok.

Genre: Romance, Psycho and kekerasan.

Note : ^^ eiiyy,, aku comeback. Aku dan kak Herma, lagi kerjasama bikin ff. Ya, meski amburadul kek begini Aku editing beberapa tulisan yang sedikit jelimet mungkin. Kak Herma sendiri yang nulis, aku cuman bantu dikit-dikit. Ngatur beberapa paragraf dan kata-kata rumit yang sedikit sulit dipahami. Jadi, ini udah hasil editing nya ^^

Happy Reading^^

No For Children.

Disclaimer: Bukan bermaksud memperolok nama tokoh, jadi jangan benar-benar membash pengarang cukup tinggalkan komentar saran dan kritikan kalian.

Chapter 1.

Aku mendekapnya rapat, tanpa celah. Aku tidak peduli, jika dia sudah tidak bernafas. Dunianya milikku, maka hanya harus ada aku disana. Aku tidak ingin dia pergi meninggalkanku walau persekian detik lamanya. Aku tak rela . Karena apa yang sudah menjadi milikku, tak akan ku biarkan lepas begitu saja.

—Always You—

Kota Seoul yang indah akan bermacam – macam bangunan menjulang tinggi yang mencakari setiap langit-langit ciptaan sang maha kuasa, belum lagi berbagai manusia yang berlalu-lalang dengan setiap kegiatan mereka masing-masing. Angin yang berhembus kencang menerpa sedikit rambut-rambut pohon serta menggoyang-goyangkan mereka kesana-kemari.

Burung merpati berterbangan leluasa di atas langit, mata manik seorang lelaki masih terfokuskan pada lensa kamera ditangannya. tidak mau kehilangan kesempatan, dia menjepret setiap bangunan yang unik di depan mata. Dia seorang fotografer baru dari china, namanya terlihat jelas pada nametag kemeja yang ia kenakan, ‘Huang Zi Tao’ mereka menyebutnya.

Dia menyipitkan kedua matanya, sesekali terpejam menghirup udara segar di sana sampai tersimpan banyak di paru-parunya. Pria itu membenarkan posisi kacamatanya.

“Hyung!!” sapa pria yang baru saja menyusul kemari, dia berbeda dengan lelaki ini, kulitnya putih, seputih susu dan perawakan dia terlihat jelas bahwa dia benar-benar warga negara ini, Oh sehun yang terlihat jelas di kemeja sebelah kirinya.

“Kau sudah mendapatkannya?”, tanya pria itu melihat hasil jepretan-jepretan yang dilakukan Tao tadi, tak sempat melihatnya Sehun langsung merebut kamera di tangan Tao.

“Tidak sopan.”

Dia memang suka melakukan hal seenaknya, pada orang yang tidak memandang siapa dia, kecuali dia bosnya Sehun. pasti sangat menghormati kedudukan dia, tapi untuk Tao, Sehun benar-benar menganggapnya sebagai teman biasa walaupun usia mereka cukup berbeda setahun saja.

“Hyung, bagaimana? Kau menyukai negeriku? indah bukan?”

Tak ada orang pun yang mengiyakan lelaki bermarga Oh ini selain Tao, dia mengangguk pelan mengiyakan setiap kalimat yang keluar dari mulut pria ini.

“Oh, kau pasti tertarik dengan bangunan tua itu”.

Sehun tiba-tiba menunjuk beberapa menara kembar di seberang sana, Tao sedikit mengatur nafas karena udara di sini sangat dingin berbeda di negaranya sendiri. Sehun masih tak bergeming dengan pria di sampingnya, dia melangkah menuju menara kembar di seberang sana meninggalkan Tao sendirian. Jemari lelaki itu mengangkat kamera mendekatkannya di antara kedua matanya lalu menjepret bangunan itu dari kejauhan.

Sementara langkah kakinya mendekati bangunan tua itu, suatu hal yang menyenangkan untuk dinikmati berbagai pohon dan burung-burung merpati berada di atas kami. Dunia ini sungguh indah. Sehun berlari mendekati berbagai burung merpati di dekat pancuran air, sesekali kedua tangannya mencondong ke depan menangkap merpati yang berkerumunan tidak jelas.

Dia merenggangkan kedua lengannya dengan senyuman melebar merasakan udara sejuk sudah memasuki rongga paru-parunya. tidak mau ketinggalan pemandangan indah ini, tangan Tao kembali menjepret Sehun bersama merpati-merpati di sana.

Dia terkekeh melihat Sehun seperti bocah lelaki yang baru merasakan kehidupan di dunianya sendiri. Pandangan Tao mengendur ke sebrang menara. dia melihat seorang gadis berambut hitam, terlihat begitu pucat dari sini. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang menjemputnya. tapi anehnya dia terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu sebelum dia pergi meninggalkan bangku itu.Tao kembali melihat ke arah Sehun yang sudah berdiri di dekatnya, sejak kapan dia berdiri di sampingnya, mata Tao menatap dia datar.

“Kau melihat dia”. Sehun menengok ke arah Tao yang masih menjepret beberapa gambar bangku tua itu. Tao melangkah pergi menjepret beberapa gambar di sebrang sana dan diikuti oleh Sehun.

_o0o_

Dibandara ini seorang pria berkulit tan sudah menginjakkan kaki, udara disekitar sini sangat dingin membuat dia memasukkan kedua tangan-nya ke dalam saku mantel. Pandangan mata dia mengendur mencari sosok yang menunggunya.

Gadis cantik berkulit mulus dengan setelan mantel bulu dan kacamata hitamnya membawa selembar kain mengataskan nama pria itu untuk kemari. Jong-in tersenyum datar menatap gadisnya sudah menunggunya lama, terlihat kedua pipi dan hidungnya sudah memerah membeku. Dia tersenyum lebar menyambut dirinya.

“Selamat datang Jong-in-oppa!”, sapanya menyebut nama panggilan diri pria di depannya. Dia sedikit mendongak untuk menatap wajah pria tampan yang sedang berdiri di dekatnya.

“Sudah lama menungguku?”, katanya menaruh tangan kanannya di kepala si gadis cantik, saat ini yang berdiri di depannya tanpa sedikit berbicara gadis itu mengangguk dengan bibir yang melengkung ke atas, lalu melihat beberapa koper telah berada di dekat pria ini, ia menarik koper besar yang ada di sebelahnya sekilas dia juga senang membantu Jong-in . Jong-in berdiri di belakang gadis itu sesekali terlihat jelas lengkungan manis dari bibir seksi miliknya.

Membawa koper sebesar itu, membuat Jong-in sedikit tidak tega melihat gadis itu berjuang mengangkat koper ke dalam bagasi, belum sempat perempuan itu ingin memasukkan koper sebesar bocah itu. tiba-tiba lengan Jong-in menarik lengan gadis itu, sontak dia menatap Jong-in terkejut. Jong-in menaruh kembali koper itu ke posisi semula. Dia membalikkan tubuh gadis itu hingga saling berpandang.

Sekarang pria itu memandangnya dengan tatapan sayu dan menghipnotis, lengan Jong-in menarik gadis itu untuk masuk ke dalam mobil miliknya, membiarkan koper itu dia sendiri menaruhnya. Setelah menaruh beberapa koper yang berat itu, mobil itu melejit meninggalkan bandara Incheon secepatnya.

Di perjalanan yang begitu lama, mereka disuguhkan pemandangan indah di luar, pagar-pagar pengaman di sekitar jalanan di kelilingi beberapa pohon besar dengan berbagai bunga-bunga hias, sesuatu yang indah untuk manusia di sekitar sana.

Sekitar tiga kilometer mereka disuguhkan kembali hamparan laut yang luas bersama bibir pantai yang mulus dan indah, berbagai nyiur yang melambai-lambai di terpa angin, menyibakkan semilir bau khas laut yang unik seperti beradu dengan berbagai campuran garam dan pasir.

Mobil-nya kini masih berjalan di area tol, tak sampai beberapa lama mereka akan segera tiba. Jong-in melirik ke cermin mobil yang terletak di atas setir mobil wajah gadis itu terpampang jelas cantik dan manis di balik kursinya, walaupun dia tertidur kecantikan gadis itu tidak pernah luntur dan hilang. Kelopak mata yang indah bersama bulu mata yang lentik, apalagi bibir nya yang mungil mengundang nafsu setiap laki-laki yang melihatnya. Dia sungguh menghipnotis siapa saja yang memandanginya berlama-lama.

-Aura kejam bisa sangat mematikan seseorang, tapi lebih mematikan lagi ketika seseorang itu sudah jatuh cinta-

_o0o_

Tao dan Sehun sudah sampai ke rumah mewah milik Sehun. Pandangan Tao mengendur melihat sekeliling rumah itu di kelilingi berbagai tanaman hias yang menjorok ke belakang, sedangkan di depannya terpampang parkiran luas sekitar lima langkah ataupun lima puluh langkah lebarnya, Tao melihat kolam renang outdoor terpampang jelas di sebrang sana. Penataan ruangan yang terlihat cukup bagus tapi terkesan antik. Tak lama kemudian seseorang gadis cantik sudah membukakan pintunya dari dalam.

“Sehun-oppa!”.

gadis itu berteriak kencang sampai urat lehernya terlihat, sebelum dia jatuh kerangkulan Sehun dan memeluknya erat. Gadis itu menciumi aroma mint dari baju yang Sehun kenakan.

“Aku merindukanmu”.

gadis itu memeluk Sehun erat tanpa mempedulikan Tao yang masih berdiri mematung di belakangnya. Tao semakin menggaruk tengkuknya sampai Sehun benar-benar memulai pembicaraan.

“Kau kemana saja?”.

Gadis itu melepaskan tautan lengan yang melingkar di leher Sehun,dia melihat lelaki asing telah berdiri di dekat Sehun, Sehun memulai memperkenalkan Tao tentang dia berasal dari mana, setelah Sehun merasa cukup membahas tentang Tao gadis itu sedikit berkenyit melihat pria asing ini.

Sehun langsung membawa beberapa koper miliknya dan Tao sedikit merasa asing dengan rumah yang dia injak sekarang, Tao kembali melihat sekitar dua bocah lelaki dan seorang bibi-bibi yang tengah menatapnya dengan senyuman ramahnya berdiri di dekat anak tangga. Seperti budaya rumah ini kapan saja datang tamu mereka harus berdiri dan tersenyum ramah layaknya seorang penjamu tamu. Makanya tidak jarang teman-teman Sehun senang bermain ke rumahnya. Namun ada yang menarik pandangan Tao seketika, saat pemilik kaki jenjang itu sudah terlihat menuruni anak tangga.

Gadis itu mirip dengan gadis yang dia lihat saat di taman, tapi yang berbeda setelan rambut gadis dan bentuk wajah gadis itu tidak mencerminkan gadis yang dia lihat. Gadis itu melemparkan senyuman manis yang terukir di setiap sudut bibir merahnya.

“Cantik”.

Sehun melirik Tao yang sedang memandangi adik perempuan-nya yang baru saja menuruni anak tangga. Sehun tersenyum lalu bersahut. “dia adikku namanya Choi Nara…cantik bukan,”katanya kembali melangkah menuju kamar kosong, Tao menatapi punggung Sehun yang semakin menghilang sesekali dia menengok ke belakang sekedar melihat kembali gadis yang menurutnya tidak asing lalu melangkah pergi mengikuti Tao.

-Seperti-nya hati tidak bisa berbohong, pandangan pertama telah banyak membuat orang-orang terhipnotis-

_o0o_

Jong-in membawa beberapa koper itu untuk masuk ke dalam, gadis itu berdiri sedikit menunduk di belakangnya dengan beberapa kecanggungan, Jong-in melihat sekilas wajah gadis itu sedikit menyembunyikan masalah.

Jong-in menatap datar gadis itu sejenak sampai mata itu kembali menatap Jong-in.

“Ouh, kenapa kita tidak masuk”.

gadis itu membuang pandangannya ke arah knop pintu lalu kembali menatap Jong-in. Tanpa berbicara banyak lelaki itu menarik knop pintu yang terpampang jelas di depan mata. Membiarkan dua pasang kekasih ini masuk ke dalam, mencari beberapa saklar lampu agar matanya dapat melihat betapa berantakan rumah yang kosong selama satu bulan.

“Terimakasih sudah menungguku”.

kata Jong-in menatap ke depan sedangkan gadis itu menatap dirinya dari samping, dia menyingkap rambut-nya ke belakang dan kembali mengendurkan pandangan ke arah lain. Namun seperti-nya Jong-in sedikit merasa curiga dengan gadis ini, dia melihat gadis itu terlihat gelisah. Gadis itu menemukan Jong-in sedang menatapnya sekarang membuat dirinya sedikit menunduk karena salah tingkah gadis itu mengetuk sepatu-nya ke lantai. Jong-in kembali tersenyum lebar membuat sedikit gadis itu melirik sekilas ke arah Jong-in. Tatapan-nya tampan tapi sedikit menakutkan ketika dia diam melihat Ah-Jung seperti itu.

Ini bukan pertama kalinya bagi Ah-Jung harus mendapat tatapan seperti itu, tapi entah kenapa dia merasa meragukan Jong-in, gadis itu diam sejenak memandangi punggung lebar Jong-in yang semakin melebar. Dia duduk di sofa menaikkan kaki kirinya, membiarkan kaki kanannya memangku kaki kiri. Tangan Jong-in mengisyarat agar gadis itu duduk di dekatnya.

Ah-Jung yang melihatnya sedikit menunduk, tatapannya sedikit ketakutan.

“Kenapa masih berdiri disana, kau tidak ingin duduk?”. tanya Jong-in mengisyaratkan untuknya segera duduk, mau tak mau gadis itu melangkah duduk di samping kiri Jong-in.

“Kau tidak merindukanku?”, kata Jong-in semakin duduk mendekati gadis itu yang duduk di dekatnya. Jong-in tersenyum sedikit menampilkan seringaian kecil untuknya. Dia menaruh dagu-nya di pundak gadis itu menciumi aroma pafum apel yang dia kenakan sekarang. “kau pasti sangat merindukanku.” Jong-in menghirup aroma khas milik gadis itu, nafasnya semakin terasa dekat di leher jenjang gadis itu, gadis itu membiarkan Jong-in menciumi leher-nya saat ini. Tapi tangan kiri-nya meremas-meremas sofa yang dia duduki, rasanya ingin menangis saat Jong-in menggigit kulit lehernya. Mata gadis itu berkaca-kaca, bukan merasa sakit tapi merasa harga dirinya sebagai wanita sudah ingin dijatuhkan oleh pria ini.

Ah-Jung terhenyak sedikit mengibaskan rambut lurus-nya, dia memegangi lehernya yang terasa ngilu. Dia berhasil meneteskan air mata, “why babe?”. Jong-in menatapi gadis itu sedikit kesal tapi kekesalannya itu membuatnya teriris saat gadis itu menangis di depannya. Tangan itu akhirnya menarik kepala gadis-nya menenggelamkan-nya ke dalam dada bidang dia, membiarkan dia menangis sepuasnya.

_o0o_

“Kau bisa mendekorasinya sendiri.Tapi jika kau butuh apa-apa Hani Ahjumma bisa membantumu,”katanya menarik kenop lalu menutup pintu, Tao sedikit membuang nafasnya membalikkan punggung menarik ke atas kaos yang dia kenakan.

“Oh,Iya toiletnya ada di dalam sana”. Baru saja Tao ingin melepaskan kenop pintunya, Sehun sudah membuka kembali pintu hanya untuk memberitahukan letak kamar mandi Tao menoleh ke arah Sehun. Sehun pun menutup pintu itu kembali .

“Aku lupa, jika kau lapar kau bisa turun ke bawah….”

Sehun mengacungkan telunjuk kepadanya, sedangkan Tao sedikit berbungkuk memperlihatkan dada dan oto-otot kekarnya yang di gelungi kalung, dahinya sedikit terangkat melihat Sehun kembali membuka pintu.

“ngomong-ngomong soal tubuhmu itu bagus…aku suka tubuhmu”.

Dahi nya sedikit berkenyit, lalu Sehun kembali menutup pintu kamarnya. Tao melipat kaos miliknya menaruh pada sekotak bak plastik. Dia merobohkan tubuh kekarnya ke atas ranjang bersprei merah muda dia menopang kepala dengan kedua lengan-nya itu melihat ke atas langit-langit. Dia sedikit membuang nafas pelan lalu pandangannya seketika tertuju pada kamera digital di atas meja kayu di dekat jendela. Dia sedikit bangkit duduk di samping ranjang dan segera melangkahkan kaki-kakinya mendekati kamera.

Tirai gorden transparan itu bergoyang-goyang diterpa angin dia sedikit melihat ke arah kameranya di dekat jendela.

“AAAA”

Teriakan dua bocah lelaki itu terlihat begitu melengking saat gadis yang dia lihat tadi sedang meraba-raba keberadaan mereka, kedua matanya ditutupi kain lalu dia berhambur kearah manapun mencari dua bocah lelaki di sana. Pemandangan ini sedikit melengkungkan bibirnya keatas. dia kembali memotret pemandangan langka itu. Setelah itu dia kembali fokus pada kamera di kedua tangannya dengan bertelanjang dada pria itu menarik kursi utuk membuka isi kameranya.

Dia menduduki kursi itu sedikit mengambil memori kameranya, dia simpan di dalam tas kecil miliknya. Memindahkan beberapa data dia ambil menaruh ke PC lalu menyalin gambar itu ke dalam selembar kertas licin. Lelaki itu menyunggingkan bibirnya terlihat beberapa hasil potretannya sudah tertampak jelas. Lalu dia menaruh ke dalam map berisi laporan-laporan tour mengenai dirinya dan segera dikirim ke bosnya untuk dijadikan webtoon.

Seharian berkutik dengan kamera badannya terasa kaku dia sedikit merenggangkan lengan dan lehernya. Gadis itu menatapnya datar dari bawah.

-Berpikir kembali apa yang akan kau lakukan setelah ini terjadi menyakiti perasaannya hanya dapat memperdalam lukanya saja. Dia tak akan bisa menerimanya-

_o0o_

Ah-Jung masih menggenggam data video itu dia berdiri di dekat jendela, raut wajahnya sedikit gelisah sebelum dia menatap Jong-In sudah berdiri di dekat pintu. Dia sedikit ketakutan tapi ekspresi Jong-In begitu datar. Rahang pria itu sedikit terlihat mengeras aura negatif terlihat di sekitar sini.

“A-aku…”Ah-Jung sedikit gugup bagaimana cara menjelaskan padanya, dia sedikit mengkerutkan dahi membuang pandangan ke arah luar. Jong-In berdiri sedikit menyenderkan bahunya ke pintu.

“Aku tahu kau yang mencurinya,”kata Jong-In sudah mengetahui Ah-Jung sudah mencuri data video di flashdisknya. “aku tahu semuanya. Kau yang melaporkanku ke polisi untuk di penjarakan di California .” ujarnya sedikit tenang tanpa beban.

“A-aku…Maafkan aku,”kata Ah-Jung sedikit gemetar di tangannya sudah terlihat di depan mata Jong-In. Jong-In melangkah mendekati dia dengan tenang tapi Ah-Jung sedikit mundur ke belakang.

“Apakah karena aku Psikopat jadi kau melakukan ini padaku Hm..?”

Jong-In terus mendekati gadis itu tapi gadis itu mundur terus sampai ke titik himpitan dia, dia tidak dapat berlari kemanapun. Perasaan takutnya berlebih saat dia sudah di himpit oleh Jong-In ke tembok. Dia sedikit memejamkan matanya kasar.

“Aku sudah tahu..kenapa kau melakukan ini padaku?”Nada Jong-In sedikit pelan di dekat telinganya, Ah-Jung menoleh ke samping yang dia lihat pria itu sudah memerah dan sebentar lagi akan meledak.

“A-aku ingin memutuskan hubungan kita, karena itu aku aku melaporkanmu ke dia. Ayahku sudah mentunangkanku dengan-nya,”

“JANGAN SEBUT DIA LAGI.. GADIS TENGIK,” Jong-In sedikit berteriak lalu wajahnya kembali tenang. Nafas Ah-Jung terdengar terputus-putus. “kau takut jika aku memperkosamu,” Jong-In melihat tubuh gadis ini dari atas sampai bawah. Wajah Ah-Jung sedikit memerah ingin menangis.

“AAAA HWAAAAA.BERHENTI!!!” Ah-Jung berteriak ketika Jong-In menggigit telinganya.

Dia mendorong dada pria itu, meraih gunting di atas lemari. Dia terlihat ketakutan sangat ketakutan sekujur tubuhnya dingin luar biasa, belum lagi kaki dan tangannya terasa gemetar. Darah di telinganya mulai bercucuran di lantai. Dia meraba telinganya menyentuh darah yang terus mengalir.

“PRIA BRENGSEK. JANGAN MENDEKAT.” Nada Ah-Jung terdengar meninggi, tapi Jong-In terus mendekati gadis itu dan beberapa kali Ah-Jung menusuk laki-laki itu agar tidak mendekatinya.

Tapi sepertinya usahanya sia-sia saja Jong-In dengan cekatan melempar gunting itu menaruh lengan-nya di leher gadis itu dan dia mulai menciumi gadis itu dari belakang.

“AAAAAAA”

Ah-Jung berteriak menangis tapi sepertinya teriakan dan tangisannya terdengar bagai angin berlalu. tak ada yang bisa menolongnya sampai dia merasakan seluruh badannya terasa ngilu dan kissmark sudah banyak di tubuhnya.

Dia menangis meringkuk di dekat ranjangnya. Jong-In melempar pakaian itu ke arah Ah-Jung dia tak berkutik masih dengan pakaian berantakan.

Sampai mata nya membengkak rasa sakit di tubuhnya tidak bisa dibayar apapun.

“JANGAN BIARKAN AKU BERTERIAK DAN MEMBUNUHMU AH-JUNG!”.

Lelaki itu berteriak sampai urat lehernya terlihat jelas.

Dengan gerakan lambat gadis itu berjalan lamban menuju ke kamar mandi dan mengguyur beberapa air yang ada di bak, sampai berteriak dan menangis tidak jelas. Kemudian dia meringkuk.

Langkah kaki gadis itu terlihat lamban, membiarkan tidak makan beberapa hari dan minum, wajahnya terlihat jelas begitu putus asa. Dia berdiri di atas balkon paling tinggi rumah Jong-In tak ingin melihat apapun yang terjadi di bawah sana bahkan mengingat kejadian tadi berasa kehidupannya sudah tak berguna lagi.

Gadis itu memandangi bawah ini dengan rambut yang tergontai-gontai di terpa angin. Bibirnya tak terlihat segar melainkan pucat tubuhnya kurus dan beberapa luka sayatan di tangannya sudah menghiasi badannya kini. Dia terlihat mengeluarkan air mata di kedua pipinya.

“Kyungsoo-oppa… Mianhae…”

Dia membalikka punggungnya melentakkan kedua tangan itu di depan dada lalu menjatuhkan diri ke bawah. Dia terlihat lemah dan tak berdaya. Dia memejamkan kedua mata perlahan-lahan.

Tubuhnya jatuh perlahan-lahan ke bawah. menggapai tanah yang kasar dan tidak bersahabat. membiarkan darah dari setiap kepalanya keluar dan tulang-tulangnya hancur bersamaan,

Jong-In menatapi tubuh gadis itu yang 89sudah berada di bawah.

“Ah,sial gadis itu”.

-Seperti apa yang aku katakan, berhentilah sampai di sini.Tak bisa bersamanya bukanlah apa-apa. Tapi bersamamu hanya membuatku tersakiti.

Jong-In kau memang laki-laki bejat-

TO BE CONTINUED>>


3 Comments

[FF Freelance] Pandora: Darktorcrow bagian 2 Chapter 5

5

Tittle : PANDORA

Cast : Park Jimin BTS | Park Jaena OC | Jeon Jungkook BTS | Kim Taehyung BTS | Min Yoon Gi BTS

Genre : Fantasy , misteri , little romance , fiksi , horor

Rating : 15+

Length : Chapter

Author : Okhara (anggi miftasha)

_o0o_

Lalu, apa jadinya jika kejahatan membunuh kebaikan? Sedangkan bayangan hitam masih terus menghantui. Memasuki mimpi-mimpimu saat tidur di malam hari. Membunuh, membinasakan dan semakin menenggelamkanmu di dalam mimpi buruk. -Pandora

  Continue reading


3 Comments

[FF Freelance] Ssstt.. Secret!

11178650_846169245418859_405485147_n

Tittle    :           Ssstt.. Secret!

Cast     :           Park Jimin | Kim Sang In (OC)

Genre  :           School life, romance

Length :           One Shoot

Rating :           T 15+

Author and cover by A. Miftasha

 

#SINOPSIS

Kita punya rahasiakan? Sampai kapan akan di sembunyikan? Kau ingin menunggu dirimu dan aku tua dan semua orang tidak akan pernah tahu? PABO ! Aku sama sekali tidak menyesal ! Karna aku mencintaimu ! -Kim Sang In-

 

Kau pikir aku tidak mencintaimu karna banyak gadis menyukaiku? Memangnya aku mau menyembunyikan ini? PABO ! Bahkan aku menyesal telah menyembunyikannya! Karna aku lebih mencintaimu ! -Park Jimin-

Continue reading


5 Comments

[FF Freelance] Pandora: Darktorcrow Chapter 4

4

Tittle : PANDORA

Cast : Park Jimin BTS | Park Jaena OC | Jeon Jungkook BTS | Kim Taehyung BTS | Min Yoon Gi BTS

Genre : Fantasy , misteri , little romance , fiksi , horor

Rating : 15+

Length : Chapter

Author : Okhara (anggi miftasha)

Setiap malam, saat kegelapan datang, dan saat dimana orang-orang pergi untuk tidur, saat dimana ruangan telah hening dan hanya suara angin yang berhembus, saat itulahakan ada hal yang terjadi yang tak akan diketahui oleh siapapun. Apapun itu, bahkan si penulis juga tak tahu. Lagi-lagi hanya Tuhan dan malaikat yang menyaksikan. Tentang sosok hitam yang berjalan di tengah malam. –Pandora–

  Continue reading


1 Comment

[FF Freelance] A Confuse Love Story Chapter 5

11158008_968134586541976_902804615_n

Author  : engga punya nama * Irma Taehyungie *

Tittle : A Confuse Love Story

Cast : – Shin Eun Soo

  • Kim Taehyung
  • Jung Cho Ri
  • Park Jimin
  • Oh Sehun
  • All member BTS

Genre :  school, romance, love

Length : Chapter

Warning : Ini FF perdana saya jadi kalau banyak typo dan engga nge-feel maapin saya mungkin saya masih hilap 😀

 

Ayoooo aku mau bilangin nih untuk part selanjutnya yang aku tag bukan Cuma yang bilang next doang, tapi yang mbangkitin semangat authornya untuk melanjutkan, intinya paling bawel udah gitu aja. So, untuk yang mau di tag coment yang paling bawel, engga usah panjang yang penting bisa membuat authornya semangat. Apaan ini -_- sekian, salam ALIEN 😀

Continue reading


1 Comment

[FF Freelance] Pandora: Gaffe 2 Chapter 3

1

Tittle : PANDORA

Cast : Park Jimin BTS | Park Jaena OC | Jeon Jungkook BTS | Kim Taehyung BTS | Min Yoon Gi BTS

Genre : Fantasy , misteri , little romance , fiksi , horor

Rating : 15+

Length : Chapter

Author : Okhara (anggi miftasha)

_o0o_

“Bisakah kau memberikan pyramid itu?” Lelaki itu telah menengadahkan salah satu tangannya. Tersenyum kecil menatap Jaena.

  Continue reading