Namitsutiti

[FF Freelance] Pandora: Gaffe 2 Chapter 3

1 Comment


1

Tittle : PANDORA

Cast : Park Jimin BTS | Park Jaena OC | Jeon Jungkook BTS | Kim Taehyung BTS | Min Yoon Gi BTS

Genre : Fantasy , misteri , little romance , fiksi , horor

Rating : 15+

Length : Chapter

Author : Okhara (anggi miftasha)

_o0o_

“Bisakah kau memberikan pyramid itu?” Lelaki itu telah menengadahkan salah satu tangannya. Tersenyum kecil menatap Jaena.

 

“Py..pyramid? Apa maksudmu?” Jaena menggeleng. Ia tidak mengerti. Terlebih, laki-laki itu. Ia sama sekali tak mengenalnya. “Siapa kau? Kenapa aku dan dirimu bisa ada disini?”

 

“Aku… Kim Taehyung. Kau ada di lingkaranku sekarang. Selamat datang.” Ujarnya dengan seringaianl ebar. Dan mata menyala merah.

***

Jaena merasakan kakinya semakin dingin. Sedangkan angin kencang berulang kali menerpa rambutnya. Tirai-tirai di samping kanan kirinya nampak berterbangan seperti sosok hantu pencabut nyawa berjubah putih. Membuat keberaniannya semakin goyah. Jaena kembali menatap sosok lelaki yang wajahnya tertutup jubah itu. Ia tak ingat pasti, apakah dia pernah bertemu dengan lelaki itu atau tidak. Yang pasti, ia kesulitan berteriak dan bahkan berlari saat ini.

“Berikan pyramid itu. Sekarang.” Ujar lelaki itu lagi tanpa melangkah mendekati Jaena. Gadis itu masih bergeming. Memikirkan cara terbaik agar ia bisa pergi dari tempat yang mendadak menjadi mengerikan ini. Entah kenapa ia merasa ketakutan.

“A..aku tidak punya pyramid yang kau maksud.”

“BOHONG! Jangan pernah bermain-main denganku !!”

Jaena tersentak. Lelaki tak dikenal itu baru saja membentak kepadanya. Dan dari kegelapan ini, ia mampu memandang mata merah menyala milik lelaki berjubah itu. Jaena mulai berasumsi bahwa ini hanyalah salah satu bagian dari mimpi panjangnya. Mimpi yang dirasanya sangat begitu nyata. Ia berusaha mencubit tangannya di dalam rasa kecemasannya. Ia berharap agar ia dapat segera bangun, dan mendapati Jimin berada di sampingnya.

Namun tak ada apapun yang dapat mengubah rasa kecemasan ini menjadi sesuatu yang melegakan. Lelaki itu mulai berjalan, dan semakin mendekat. Memperlihatkan sebagian wajahnya yang tetap gelap tertutup jubah. Jaena berhasil melangkah mundur. Meski ia tak henti-hentinya mencubit bagian tangannya dan bergumam agar lekas terbangun.  “Tolong, jangan dekat-dekat.” Pinta Jaena bertatapan was-was.

“Aku hanya ingin mengambil pyramid itu.” Taehyung menengadahkan sebelah tangannya. Menyeringai lebar hingga deretan giginya terlihat semua. Tak terlihat ramah, melainkan seram. Jaena berhenti mencubit kulitnya. Dan berpaling untuk meraba-raba ke setiap kantung piamanya. Berharap dapat menemukan barang yang dimaksud. Mungkin saja terselip dan benar-benar terbawa olehku, pikirnya dan lalu berupaya untuk meloloskan diri.

Tidak ada !  Pekiknya cemas kemudian.

“Ka..kau lihat sendirikan? Semua kantung bajuku tidak ada benda itu. Biarkan aku pergi. Aku ingin keluar dari tempat ini.”

“Jelas-jelas kau membawanya. Kemarilah, temanku akan mengambilnya.” Taehyung menurunkan tangannya yang menengadah. Saat itu, datanglah seseorang yang lain yang sama-sama menggunakan jubah. Jubah berwarna hitam pekat yang tetap tak akan terlihat wajahnya meski sinar rembulan meneranginya. Jaena menautkan dahinya heran. Sembari menanti apa yang hendak dilakukan dua orang asing di depannya itu.

“Awalnya akan sedikit sakit.”

“A..apa yang akan kau lakukan ?!!” Jaena mundur selangkah. Menatap lelaki berjubah hitam yang diketahuinya adalah teman si jubah rawa itu mendekatinya. Dari suaranya, mungkin dia jugalah seorang lelaki.

Tangannya yang bersembunyi di balik jubah akhirnya terangkat. Menunjukkan sebilah pisau tajam yang berbentuk silinder di bagian ujungnya. Seperti pisau yang dikhususkan untuk mencongkel sesuatu. “Oh… apa itu seperti magnet ?” Jaena skeptis. Gadis itu merasa curiga.

Lelaki itu menggeleng. “Berikan tanganmu Nona.”

Jaena menurut saja. Memberikan sebelah tangannya dan membiarkan laki-laki itu menyentuhnya. Meneliti ke setiap permukaan kulit untuk mencari urat nadi. Tunggu, urat nadi?

“Yaak! Apa yang kau lakukan?” Jaena semakin cemas.

SRREEETTTT!!!

“Akkkhhhhh!!”  Jaena membelakkan matanya begitu darah mengucur deras dari pergelangan tangannya. Ia terduduk lemas. Merasakan degup jantungnya mulai melemah dan ia tersungkur.

“Ini tak akan lama Nona. Aku memerlukan darahmu untuk mengambil pyramid itu.”

“ Aaakkkh !!! Kau akan membunuhku.. Kau akan membunuhku! Aaakkkkh!!! ” Jaena berteriak. Merasakan ngilu pada tangannya yang digores paksa dengan pisau itu. Goresan dalam itu semakin terasa panas mengiris daging di sepenjang pergelangan menuju lengannya. Rasanya begitu tak wajar. Perih, panas, seolah pisau itu juga membelah sampai ke bagian tulangnya. “Oppaaa!!!” Triak Jaena kencang merintih sakit.

“OPPAAAAAAAAAAA!!!!!!!!”

***

“OPPAAAAAAAAAAA!!!!!!!!”

“Jaena? Jaena? Jaenaa!!”

Mata Jaena yang terbuka tiba-tiba terbelalak. Nafasnya nampak tersengal-sengal. Ditengoknya kanan kiri dan menyadari ia tengah berada di kamar Jimin. Ia kembali menatap lurus ke atas. Mendapati wajah Jungkook yang duduk di samping ranjangnya dengan cemas.

“Kau kenapa sih?”

“Jungkook ?Jungkook ?!!” Jaena beranjak tiba-tiba. Namun Jungkook menahannya dan kembali menidurkannya.

“Heey, santai saja. Kau demam semalam. Aku jadi cemas dan langsung datang kemari.”

Jaena tak menghiraukan ucapan Jungkook. Ia justru sibuk berfikir. Lalu berpaling dan mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Menggulung lengan panjang piamanya dan terbelalak terkejut. “Tanganku?”

“Kenap… mwo? Ada apa dengan tanganmu?”

“Apa aku pergi keluar semalam? Dimana Oppa ?! Dimana dia ?!!” Jaena sedikit berontak seraya membekap pergelangan tangan kanannya dengan sebelah tangannya yang lain. Seolah tangannya benar-benar terluka. Jungkook yang terlihat bingung berusaha menenangkannya. Tapi Jaena malah geram sendiri.

“Tenanglah Jaena, Oppa-mu sedang menebus obat. Kau kenapa sih?!”

“KAU TAK LIHAT TANGANKU TERLUKA ?!!” Bentak Jaena geram. Ia menangis sesenggukan. Merasa takut dan cemas melihat bekas goresan panjang yang terdapat di lengannya. “APA KAU TAK MELIHATNYA JUNGKOOK ?!!”

“Jaena! Tenangkan dirimu! Sadarlah! Apa yang sebenarnya terjadi padamu ?! Kau tidak sedang bermimpi !”

“Bagaimana mungkin kau tak melihatnya? Ada bekas sayatan di tanganku sepanjang ini !”

Jaena tetap tak mau kalah. Ia menangis meronta-ronta. Memandang Jungkook kesal yang sama sekali tak melihat adanya bekas luka memerah di sepanjang lengannya. Gadis itu merasa gila. Pikirannya berkecamuk dengan rasa ketakutan dan kebingungan yang melanda.

“Jungkook ?!” Triak seseorang dari luar kamar Jimin. Jaena tersadar dan berhenti sejenak sebelum akhirnya ia mengenali suara itu adalah suara Oppa-nya.

Gadis itu mendorong Jungkook keras. Hingga laki-laki itu terpelanting ke atas ranjang. Ia mengaduh kecil. Dan membiarkan Jaena berlari keluar kamar. “Oppa !!”

“Huh ?! Jaena? Kau sudah baikkan? Kau demam tinggi sema..”

“Oppa !! Oppa ! Bwayo !! –lihat!!–.” Ujar Jaena panik sembari melingkis baju piamanya lagi. Hendak memberitahu bekas luka sayatan kepada Jimin. Memperlihatkannya agar Oppa-nya bisa segera mengobatinya.

“Ada apa? Kenapa?” Jimin ikut panik. Bagaimana tidak? Gadis itu baru saja turun dari demam tingginya semalam. Lalu tiba-tiba menghampirinya dengan wajah bengkak karna menangis. Terlebih, gadis itu terlihat panik saat ingin menunjukkan sesuatu padanya. “Jaena?”

“Oppa ! Tanganku…”

Jimin ikut menoleh. Menatap lengan Jaena yang tak terjadi apa-apa disana. Tangannya nampak baik-baik saja. Tak ada satu lukapun meski itu hanya gigitan seekor nyamuk saja. “A..ada apa?” Jimin berujar skeptis. Ia bingung tak mendapati apapun yang harusnya membuatnya ikut terkejut karna keadaan adiknya yang nampak seperti ini.

“O..Oppa tak melihatnya? Luka sebesar ini Oppa tak melihatnya ?!!!” Bentak Jaena terkejut. Ada apa sebenarnya dengan dirinya? Atau dengan dua lelaki yang sama sekali tak menyadarinya? Apa mereka sedang bercanda? “Oppa, jebal. Aku sedang tak ingin bercanda. Aku tidak sedang menakutimu !” Jaena meremas rambutnya sendiri. Menangis sekencang-kencangnya karna merasa takut dengan apa yang sedang terjadi.

Jimin berusaha menenangkannya. Begitu pula Jungkook yang kembali muncul dari dalam kamar Jimin. “Apa yang terjadi Jungkook-ah? Bukankah aku memintamu menjaganya ? Kenapa dia jadi seperti ini ?” Jimin cemas. Sedangkan Jungkook berwajah panik.

“Aku tidak tahu Hyung. Dia bangun dan melihat tangannya sendiri seperti itu. Padahal jelas-jelas tak ada luka disana.” Ujar Jungkook seraya membantu Jimin membimbing Jaena kembali ke kamarnya. “Jaena mungkin baru saja bermimpi buruk.”

“Tapi dia tak biasa seperti ini.” Jimin menatap Jaena yang menangis di ujung ranjangnya. Gadis itu terus saja menatap tangannya dengan panik. Ia tak terlihat kesakitan. Tapi ketakutan di wajah gadis itu terlihat jelas. Amat jelas hingga Jimin bingung harus melakukan apa. Jungkook di samping gadis itu berusaha mengajaknya bicara. Dan Jaena hanya meracau bercerita panjang lebar dengan luka gaib di tangannya.

“Ah, Hyung! Tadi dia bertanya padaku, apa dia sempat keluar semalam setelah aku mengantarnya pulang?”

“Tidak. Dia hanya demam tinggi dan aku menjaganya. Aku akan memanggil dokter untuk memeriksa keadaannya.”

_o0o_

Kastil Astron

 

BRRRAAAKKK!!

Taehyung nampak tergesa-gesa menghampiri peti yang berada tak jauh di sana. Wajahnya nampak lelah dan marah. Lilin abadi langsung menyala terang begitu ia mengerang keras di dalam sana. Suga ikut terperanjat, terkejut melihat tuannya mengaum kencang.

Taehyung berhenti sejenak. Kepalanya tetap menengadah menatap langit-langit yang tinggi. Nafasnya masih tersengal-sengal. Bahkan lebih parah. Tangannya terkepal erat. Sedangkan jubah yang dikenakannya tak lagi tertata rapi. Ia mengacak puncak kepalanya dengan geram. Kembali meraung dan menjambak-jambaknya rambutnya sendiri.

Surai berwarna perak keabu-abuan itu tentu saja menjadi berantakan. Beberapa helainya bahkan terjatuh begitu tertarik paksa. Taehyung masih mengaum. Mengamuk seraya menendang lilin-lilin abadi hingga terdengar suara berdenting yang cukup nyaring di ruangan yang menggema. Mata merahnya kembali menyala. Cukup terang hingga bahkan mampu meledakkan apapun yang akan ditatapnya. Suga yang ada di belakangnya tak berani sekalipun menenangkannya. Melangkah mundur saja ia tak kuasa. Ia cukup tahu bahwa tuannya sedang marah besar kali ini.

Taehyung kini berpaling pada peti berwarna putih dengan hiasan berlian hitam di setiap sisinya. Ia mengamati sosok di dalam sana cukup lama. Tanpa sadar, berangsur-angsur eramannya berubah hilang. Matanya yang menyorotkan cahaya merah juga berangsur-angsur padam. Dan kali ini, yang terlihat adalah matanya yang berkaca-kaca. Sebuah bulir mata dari sebelah matanya berhasil mengalir. Ia menangis. Menangis dan kembali berteriak menyesal.

“Aku tahu betapa menderitanya Tuan V.” Gumam Min Suga yang masih berada jauh di belakang Taehyung. Lelaki itu menatap nanar lelaki yang tengah menjerit-jerit di ruangan gelap dengan lilin tergeletak dan masih tetap menyala itu. Ia menghela nafas seperlunya. Ia sendiri juga merasa lelah. Ia tahu, kali ini, mereka masih gagal mendapatkannya.

Sudah lebih dari berabad-abad yang lalu. Mereka berusaha mencarinya. Hingga akhirnya Taehyung dan Suga sendirilah yang mencari sendiri kotak pyramid itu. Dan ketika mereka menemukannya, mereka tetap gagal mendapatkannya. “Sedikit lagi, ah…” Keluh Suga mengingat begitu berharganya waktu sempit itu. Ia telah berhasil mengambil darah dari si gadis pemilik pyramid itu. Meski akhirnya ia tetap harus menanggung kegagalan. Pyramid itu, adalah benda yang sangat berharga untuk tuannya.

Sedangkan tujuan mereka mengambil darah itu adalah untuk membuat rasi bintang hitam untuk menyedot keluar pyramid yang terdapat dalam tubuh gadis itu. Yang tersembunyi cukup dalam di bagian jiwanya. Alasan mengapa mereka tidak bisa membunuh gadis itu karna pyramid tersembunyi di bagian jiwanya. Cukup mudah karna si pemilik belum begitu menyempurnakan kekuatan itu. Yang terpenting, pyramid itu harus mampu dikeluarkan sebelum rasi bintang baru terbentuk.

“SUGA!! MIN SUGA!!” Taehyung kembali berteriak. Memanggil kencang namanya. Suga tercekat. Dan buru-buru menghampiri tuannya dengan rasa cemas. BRRRUUUKKK!!!

“Aakkhhhh!!!”

Suga mendelik begitu merasakan perutnya melepuh. Terdapat lubang penuh darah di sana. Ia tahu, Taehyung baru saja menyerangnya. Memberinya hukuman atas kebodohannya malam tadi. Suga menatap perutnya lagi. Perlahan-lahan luka itu kembali menutup. Memberikan bekas penuh darah di jubah hitamnya yang tetap berlubang.

“Kau bersyukur karna aku tak bisa membunuhmu ! Berterimakasihlah pada tubuh reinkarnasimu itu, Makhluk Ares ! –Makhluk yang diciptakan sebagai bala tentara di negri Astron–.”

Setelah lukanya benar-benar tertutup, Suga menundukkan kepalanya. Taehyung tak sepenuhnya benar. Ayahnya memang makhluk Ares. Dewa yang adalah Ayah Taehyung menciptakan bala tentara yang bernama Ares. Mereka hidup seperti manusia. Menikah dan memiliki anak. Namun kesalahan terbesar itu terjadi padanya. Min Suga, terlahir pula sebagai setengah manusia. Satu hal yang harusnya tidak boleh terjadi. Ibunya adalah manusia. Sama seperti Taehyung. Mereka berdua sendiri sudah sering bersama. Berteman sejak keduanya saling mengutarakan bahwa mereka sama-sama setengah manusia. Sama-sama memiliki kekuatan besar dari ayahnya.

Dan satu yang sebenarnya ingin Suga utarakan. Dia tak pernah bangga disebut-sebut sebagai makhluk Ares. Sebuah clan yang dianggap terkuat untuk menjadi pelindung paling utama di Negara itu. Kenyataan itu cukup menyiksanya karna mengingat mendiang ibunya yang dibunuh dengan kejam oleh ayahnya sendiri. Dan Suga, tak patut bersyukur dari keturunan tersebut. Yang menjadikannya menjadi manusia abadi dengan kekuatan tubuh yang mampu beregenerasi berkat sel-sel jaringan tubuh istimewa yang dimilikinya.

“Benar. Aku hanya makhluk Ares. Maafkan aku.”

Suga berusaha bangkit. Membungkuk sedikit untuk meminta pengampunan. Bagaimanapun, Taehyung adalaha nak kandung Dewa Astron. Dewa yang amat diagung-agungkan di dunianya.

“Ingat Suga, sekali lagi kau melakukan kesalahanmu, aku akan meminta medusa untuk membekukanmu!” Ancam Taehyung yang bergerak keluar.

Suga masih disana. Perlahan-lahan mendongakkan kepalanya menatap peti di hadapannya. Peti yang berisi tubuh seorang lelaki yang merupakan orang yang amat berarti baginya, setelah mendiang ibunya.

“Salam Promotheus Rapmon. Maaf, aku gagal dalam misi ini. Aku mungkin akan membuatmu menunggu lagi. Tapi aku mohon bersabarlah. Aku berjanji akan mendapatkannya. Untukmu dan juga Tuan V.”

Suga tersenyum nanar. Dibandingkan Taehyung, rasa hormat yang diberikan Suga lebih besar diberikan kepada lelaki ini. Lelaki yang meski bertanggung jawab penuh untuk memimpin dunia kegelapan, namun memiliki hati yang bijak dan adil. Lelaki ini tak pernah sekalipun membunuh. Ia tak pernah menyiksa kaumnya. Wajahnya yang seram, bertolak belakang dengan peringainya.

Lelaki itu memiliki ciri-ciri yang hampir dominan seperti Taehyung. Surai putih, mata tajam, dan keabadian yang lekat. Berbeda dengan Taehyung, Rapmon adalah seutuhnya makhluk astron. Darah yang mengalir ditubuhnya adalah darah dewa kegelapan dan dewi bintang, yang adalah ayah dan ibunya. Ia mewarisi hal yang selalu membuat Taehyung menatapnya iri. Meski begitu, Rapmon berusaha mungkin melindungi adiknya. Berusaha merubah Dunia Astron yang lekat akan kegelapan ini berangsur-angsur berubah.

Namun kejadian itus ampai saat ini belum pernah membuat Suga mampu menerimanya. Kejadian yang tak hanya menghantui Taehyung dan Suga, melainkan seluruh penduduk Dunia Astron. Kejadian yang menjadi alasan mengapa Rapmon mengalami mati suri yang panjang. Itulah mengapa mereka membutuhkan pyramid itu. Pyramid yang dimiliki gadis berambut panjang semalam.

Pyramid keabadian yang menyimpan semua kekuatan yang ada di setiap penjuru dunia, telah muncul kembali. Lewat titisan dewi yang sebelumnya adalah pemilik dari pyramid abadi itu, atau mereka biasa menyebutnya Darklight Pyramid. Entahlah, seberapa besarnya kekuatan yang tersimpan. Jika asal kekuatannya saja didapat dari setiap penjuru dunia. Yang Suga tahu, kekuatan itu akan aktif jika si pemilik sudah berhasil menyempurnakannya. Dan sebelum itu terjadi, sebelum gadis itu menyadarinya, Suga harus terlebih dahulu merebutnya.

Pyramid itu saat ini tengah berada di dalam jiwa gadis itu. Pyramid yang berfungsi untukmenghidupkan kembali Promotheus Rapmon yang terkutuk mati suri. Entah seberapa lama lagi mereka akan mendapatkannya. Rasanya tak mungkin untuk menunggunya selama berabad-abad lagi. Saat ini, titisan itu telah kembali membawa benda itu tepat didepan mata. Suga harus bisa mendapatkannya. Mengingat penemuannya ini belum lama terlambat.

“Aku akan mendapatkan pyramid milik titisanmu, Dewi Pandora.” Gumam Suga seraya berbalik meninggalkan ruangan gelap itu, seraya memikirkan rencana selanjutnya.

 
_TBC_

Annyeong~~
Ini seri lanjutan dari Gaffe sebelumnya, di bab 2. Jadi disini masih menjelaskan konflik selanjutnya ^^ castnya masih sama. Jin sama Jhope belum keluar :” Terimakasih untuk kalian yg sudah membaca ^^ tolong kritik dan saran 😀 {}

Advertisements

One thought on “[FF Freelance] Pandora: Gaffe 2 Chapter 3

  1. Aaahh.. Aku salah satu penggemar ff ini, aku suka ceritanya karena berhubungan dengan fantasi tapi sialnya sedang enak enaknya baca TBCpun muncul, saran ajah ceritanya dipanjangin biar readers puas ngebacanya kaya akunih hehe 😀 keep writing yeth

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s