Namitsutiti


Leave a comment

[FF-Freelance] Every Heart – Part 9 END

Author : Ren Hikaru

Tittle : Every Heart

Cast : Choi Sulli, Kim Suho, Wu YiFan

Status : Completed – Season 1

.

.

.

PART 9 END

Suho terlihat frustasi duduk sendiri. Dia berdiri lalu berjalan kesana kemari bak setrikaan baju. Berkali-kali dia menggigit ujung kukunya. Pikirannya kacau. Selang beberapa menit kemudian seorang dokter dengan wajah yang tak bisa diprediksi itu keluar. Suho segera mendekatinya. 

“Tuan Kim, selamat menjadi seorang ayah. Putra anda lahir dengan selamat, dia sangat sehat dan tampan seperti anda.” 

“Ibunya?” Tanya Suho. 

Dokter itu diam. “Silahkan..” 

“..aku tanya bagaimana keadaan ibunya, dokter! Bukan bayinya!” Potong Suho cemas. 

Dokter itu menatapnya iba. “Maafkan kami Tuan Kim, kami sudah berusaha tapi Tuhan berkehendak lain. Kami gagal menyelamatkan ibunya. Maafkan kami..” 

Kaki Suho terasa lemas. Dia jadi linglung seketika. Dia bahkan tak mendengar tim dokter saat memanggil namanya berulang-ulang. 

“Tuan Kim.” 

Suho tetap bisu meski berkali-kali dipanggil hingga akhirnya sebuah tamparan kera mendarat di pipinya. 

PLAKK!! 

Suho terlonjak kaget. Pipinya terasa panas. Dia menatap tim dokter yang menatapnya sambil tersenyum aneh. 

“OPPA KENAPA DIAM SAJA!! TEMANI AKU!” Sulli berteriak seperti habis dicopet. Sudah kesakitan tapi suaminya itu dari tadi hanya bengong seperti orang bodoh. 

Suho meraba pipinya. Sakit memang. Tapi melihat Sulli masih hidup dan masih berteriak-teriak kesakitan. 

“OPPA!!” 

‘Astaga.. kupikir tadi nyata, syukurlah.’ Suho tersenyum senang melihat Sulli yang mencengkram tangannya supaya tak ditinggalkan. Pemuda itu mengangguk. “Aku akan menemanimu. Jangan khawatir.” 

15 menit kemudian… 

“Aaaakkh!!” Sulli berteriak kesakitan saat proses persalinannya, dia tak pernah menyangka akan merasa sakit yang luar biasa. Umur gadis itu masih 16 tahun tapi harus melahirkan secara normal. Suho terus menggenggam tangannya dan dan terus menyemangatinya agar tak menyerah. 

“Tahan sebentar lagi Sulli-ah, kau bisa.” Ujar pemuda itu seolah memberi kekuatan. Gadis itu menggeleng. “Kau pasti bisa.” 

Tim dokter yang menangani proses persalinan itu dengan sabar memberi petunjuk supaya Sulli mengikuti apa yang mereka suruh. Lucunya jika Sulli berteriak terkadang Suho juga ikut berteriak panik ketika Sulli menjerit kesakitan. 

30 menit sudah berlalu, tapi kepala bayi itu belum juga muncul sementara Sulli sudah kehabisa tenaga. Suhopun ikut seperti kehabisan tenaga melihat perjuangan istrinya itu. 

“Oppa.. aku sudah tidak kuat.” Ujar Sulli melemah. 

“Tidak, kau harus bertahan! Kumohon sabarlah, tahanlah sedikit lagi. Kamu pasti bisa.” Kata Suho clkhawatir bukan main, dia takut mimpinya tadi menjadi kenyataan. “Sulli-ah..!” Suho semakin panik saat melihat wajah Sulli mulai pucat, tubuhnya tak lagi bertenaga dan cengraman tangannya mulai melemah. 

“Nyonya Kim, anda mendengar kami?” Tanya tim dokter itu cemas. 

Mata Sulli mulai terpejam, dia sudah kelelahan menghadapi persalinannya. Pandangannya mulai kabur dan pendengarannya sudah hampir tumpul meski Suho meneriaki namanya. 

“Choi Sulli kau harus bertahan!! Buka matamu! Ayo tampar aku lagi!!” Suho berteriak gila melihat Sulli tak bergerak namun masih busa bernafas. 

“Dokter kita tak bisa terus memaksanya, bagaimana jika dia tetap tak bisa?” Tanya salah seorang perawat yang ikut membantu proses persalinan itu. 

“Kita lakukan vacum segera.” 

“Vacum apa maksudnya? Dokter tolong selamatkan mereka.” Pinta Suho. 

“Vacum adalah sejenis alat yang berfungsi untuk menarik kepala bayi supaya keluar, hal ini sering dilakukan jika sang calon ibu sudah tak sanggup lagi mengejan dikarenakan air ketuban sudah mulai mengering dan si calon ibu sudah kehabisan tenaga.” Jelas dokter itu sabar. Dia tahu jika pemuda disampingnya itu sangat cemas karena kelahiran anak pertama. “Berapa usia istrimu?” 

“16 tahun.” 

Dokter itu tersenyum. 

“Kami akan berusaha sebaik mungkin.” 

30 menit kemudian.. 

Suara tangis bayi memecah keheningab penghujung pagi. Suho terharu menyambut bayi kecil kemerahan dan masih berdarah itu. Laki-laki dengan mata biru secerah milik Wu Yifan. 

Suho tersenyum bahagia mendapatinya. ‘Anakku.’ 

“Oppa.. dia laki-laki atau perempuan?” Tanya Sulli lemah. 

Suho tersenyum padanya. “Dia jagoanku yang akan bermain bola denganku kelak.” 

Sulli terisak bahagia, rasa sakit yang luar biasa tadi mendadak lenyap begitu melihat makhluk mungil tak berdosa itu keluar dari perutnya. Setelah bayi laki-laki itu dibersihkan Sulli segera menggendongnya. Dia menciumi wajah bayinya dengan haru lalu menyusuinya. 

Tiba-tiba Suho menium keningnya membuat Sulli terdiam. “Terima kasih sudah bertahan.” Ujarnya sambil tersenyum. Sulli hanya mengangguk. Ini morning kiss pertamanya. 

©©©© 

Berlin.. 

Pasien bernama Kris Wu itu akhirnya membuka matanya. Suster penjaga itu segera memberi tahu dokter Peter. Selang beberapa menit dokter itu selesai memeriksa keadaanpasien istimewahnya. Diapun segera menghubungi pihak keluarganya. 

Keadaan mantan suami-istri itu mulai membaik, setidaknya mereka sudah tak saling menyalahkan lagi. Bagi merekachanya Kris. 

“Kris mengalami kemajuan, hari ini dia sudah membuka matanya. Tapi dia tetap lumpuh. Meski begitu dia bisa mendengar dan melihat di sekitar walau tubuhnya susah digerakkan.” Jelas doktet Peter. 

“Apa yang harus lakukan?” Tanya Juana. 

“Tetap menyemangatinya agar terus bertahan. Keajaiban sudah terjadi, kita tinggal menunggu dia bicara dan bergerak. Tidak boleh menampakkan wajah sedih di depannya.” 

“Terima kasih Tuhan..” Bisik Albert. 

“Ohya, apakah kalian tahu apa yang paling Kris inginkan? Segeralah penuhi dengan begitu akan mempercepat kesembuhannya.” 

Lagi-lagi mereka mengangguk pasrah. 

©©©© 

Bayi berkulit putih itu tertidur pulas dipangkuan Sulli. Bayi laki-laki itu sangat mirip dengan Wu Yifan atau Kris. Mulai dari kulitnya yang putih, matanya yang tajam berwarna biru cerah dan rambutnya yang putih keemasan. Benar-benar duplikat seorang Kris Wu. 

Suho tersenyum menatap istrinya tak tak henti-hentinya mencium wajah bayi itu. “Kau sudah menyiapkan nama?” 

“Oppa saja yang memberinya nama.” Jawabnya tanpa ragu, bahkan matanya tak mau lepas menatap makhluk mungil tampan itu. Bayi itu sungguh menggemaskan. 

“Terserah aku?” 

“Hm.” 

Suho pura-pura berpikir keras, padahal dia sudah menyiap nama sejak dulu. “Yifan? Kim Yifan?” Godanya. 

“Oppa!” Sulli cemberut. Dia menatap suaminya sebal. 

“Kau bilang terserah aku, kan?” Suho menahan tawa. 

“Kecuali satu nama itu.” Jawabnya judes. Reaksi Sulli barusan membuat bayi itu takut dan menangis. 

“Ya ampun, baru beberapa jam menjadi ibu sudah judes begitu, lihatlah dia menangis ketakutan.” Suho segera mengambil bayi itu lalu menimang-nimangnya. 

“Oppa yang memulai.” 

Suho tersenyum menatap bayi itu. “Namamu adalah Sehun. Kim Sehun.” Ujar Suho pada bayi itu. 

“Sehun?” 

“Ya, mulai sekarang namanya adalah Sehun.” Suho mencium bayi itu. “Sehun-ah cepat tumbuh besar ya, kita akan bermain bola bersama.” 

Ajaib. Sehun akhirnya diam seolah mengerti apa kata ayahnya. 

©©©©

Advertisements


Leave a comment

[FF-Freelance] Every Heart – Part 8


Author : Ren Hikaru

Tittle : Every Heart

Cast : Choi Sulli, Kim Suho, Wu YiFan

Status : Completed – Season 1

.

.

.

PART 8

Berlin. 

Kris terbaring damai, kepalanya agak miring, tubuhnya santai dan rambutnya mulai panjang. Termasuk pasien istimewah. Ruang perawatan yang paling mewah. Sangat dingin dan terjaga dengan peralatan yang menunjukkan detak jantung. Tekanan darah dan infus di kedua tangannya. Beberapa dokter ahli yang keluar masuk dan perawat yag selalu ada di dekatnya. 

Dan seorang gadis kecil berusia 6 tahun yang tak bosan-bosannya membacakan cerita di samping pemuda tampan itu. Victoria Song, putri tunggal dokter Peter Song yang bertugas mengontrol keadaan Kris. 

“Papa, kenapa kakak ini tidak bangun-bangun ya? Apa dia tidak bosan tidur terus?” Tanya Victory lugu. 

Dokter Peter cuma tersenyum, ia jongkok mengimbangi putrinya. “Karena belum waktunya dia bangun, mungkin masih lama.” 

“Tapi apa kakak ini tidak lapar?” 

“Tidak, karena kakak ini kuat. Makanya kau harus kuat seperti dia, jangan sakit lagi, jia waktunya minum obat, ya harus minum agar cepat sembuh.” 

Gadis cilik itu mengangguk, matanya tertuju pada jemari Kris yang mulai bergerak. “Papa.. telunjuknya mulai bergerak, lihatlah.” Tunjuk Victory. 

Dokter Peter segera memeriksa keadaan Kris. Meski lewat 6 bulan lamanya pemuda itu belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Namun hari ini keajaiban itu mulai menghampirinya. “Terima kasih Tuhan..” Ucapnya senang. 

©©©© 

Sepertinya Sulli mulai menyukai Suho. Gadis itu semakin hari semakin dibuat terharu dengan sikap suaminya itu. Tadi Suho menunjukkan 2 kamar yang sudah direnovasi menjadi kamar anak-anak. Kamar si kecil kelak. 

Kamara pertama bernuansa biru dan cerah. Lengkap dengan peralatan bayi, mulai dari baju, sepatu, mainan dan bermacam-macam pernak-pernik lucu untuk ditinggali seorang anak kecil kelak. Kamar kedua bernuansa Pink dengan atribut berbagai tokoh barbie. Lengkap juga dengan segala macam pernak perniknya. Suho sengaja menyicil membeli keperluan itu sejak lama. 

‘Oppa.. jangan terlalu baik padaku. Aku takut nanti tak bisa menahan perasaanku lalu jatuh cinta padamu.’ Sulli menatap sedih punggung Suho yang sibuk menghiasi dinding bernuansa Pink itu. 

“Sulli-ah, kau suka? Jika tidak aku akan mengganti..” 

“Aku suka, benar-benar suka..” Potongnya cepat. “Oppa terima kasih.” 

Suho tersenyum. “Tapi ini tidak gratis, kau harus ikut denganku sore ini melihat sakura di dekat pegunungan belakang rumah. Bagaimana?” 

Sulli mengangguk. “Ya.” 

“Siapkan bekal tapi jangan terlalu asin seperti kemarin.” 

Sulli tertawa. Soal memasak dia memang sangat payah. “Aku akan berusaha sebaiknya.” 

©©©© 

Akhirnya waktu yang ditunggupun tiba. Sebenarnya jaraknya cukup dekat hanya berjalan kaki sekitar 600 meter mereka sudah sampai. 

Mereka berdiri menatap sakura yang bermekaran indah itu. Angin sore berhembus pelan berusaha memain-mainkan rambut ikal gadis cantik itu. Wajah Sulli terlihat sangat ceria. 

“Indahnya..” Puji Sulli terpesona pada kelopak sakura yang berguguran dan terbang angin. Bibirnya tersungging membentuk senyuman yang melebihi indahnya sakura yang mekar saat ini. 

Suho menatapnya yang tersenyum lepas itu. Ada getaran aneh yang kembali melanda hatinya. Kilatan mata tajamnya tersihir oleh kecantikan alami wajah istrinya itu. 

Tatapan matanya turun kearah bibir Sulli. Sebuah bibir mungil tipis yang kemerahan dan terukir sempurna. Pantas saja jika bule super tampan selevel Wu Yifan tergila-gila pada gadis ini. Sulli sangat cantik dan manis. 

Meski matanya tak sebolak mata Yuri, namun saat tersenyum matanya seolah ikut tersenyum. 

Diam-diam Suho selalu menghentikan tatapannya pada bibir gadis itu. Terkadang dia berfikir bagaimana rasanya jika dia mencium bibir itu diam-diam dan Sulli mengetahuinya. 

Suho tersenyum. “Ya, benar-benar sangat indah.” Ujarnya tanpa sempat melepas tatapan matanya ke arah lain. 

“Oppa lihatnya kemana sih? Sakuranya kan disana?” Tanya Sulli heran. 

“Eh?” Suho menyadari kebodohannya.Reflek dia memalingkan wajahnya yang mulai kemerahan. ‘Astaga, apa yang tadi aku pikirkan?!” 

“Oppa..” Sulli menegok wajah suaminya heran. 

Suho memaki dirinya. “Ohya bukannya tadi kau ingin menanyakan sesuatu, katakan saja sekarang.” Kata pemuda itu berusaha mengalihkan topik. 

Sulli terlihat ragu. “Oppa percaya ubgkapan First love never deep?” Tanya gadis itu hati-hati. Sebenarnya Sulli ingin menanyakan hal itu tentang Tiffany. Ya, cinta pertama Suho. 

Sayangnya Suho salah paham, dia mengira Sulli bertanya tentang cinta pertamanya pada sosok tampan Wu Yifan. “Aku percaya.” Jawab Suho datar. 

“Bisa dilupakan?” 

Suho tersenyum, dia menatap istrinya. “Sampai kapanpun yang namanya cinta pertama tak akan pernah bisa dilupakan. Sekeras apapun kau berusaha melupakannya maka cinta pertama itu akan terus hidup. Dia akan terus dikenang sampai mati.” 

Sulli memalingkan wajahnya. ‘Oppa.. ternyata kau memang tak akan pernah bisa melupakan Tiffany. Kau bodoh Choi Sulli. Benar-benar bodoh!! Begitu bodohnya hingga berani mengkhayal Suho akan jatuh cinta padamu. Kau pikir dirimu siapa?’ Tangan gadis itu bergetar, ada airmata yang mulai meloncat dari bola matanya. 

Suho jadi heran. Dibaliknya tubuh itu hingga saling berhadapan dengannya, Dia menggapai wajah Sulli. Mereka saling menatap mata satu sama lain. Wajah Sulli begitu terluka. “Sulli-ah.” 

Sulli terisak. Ada rasa sakit yang menjalar di hatinya. 

“Aku tak keberatan jika kau masih memikirkan Wu Yifan. Walau kalian tak bisa bertemu, aku selalu akan ada di sampingmu. Jangan lupakan dia.” 

Sulli terisak. “Oppa..” 

Suho mendekapnya, membiarkan gadis manis itu menumpahkan tangisannya agar melepas rindu. “Kau tak perlu mengatakan apa-apa, aku mengerti. Bagiku kau sangat penting meski kau tak menganggapku yang pertama. Jangan takut, aku selalu ada untukmu.” 

“Lalu oppa sendiri?” Sulli mendongakkan wajahnya. Menatap mata Suho. 

Suho tersenyum. Dia mengacak rambut itu sejenak. “Apa kau tidak tahu? Aku itu laki-laki dan laki-laki itu sangat kuat, aku lebih kuat dari yang kau kira.” 

Sulli mendorong tubuh itu sebal. “Bukan itu maksudku.” 

“Lalu apa?” Suho jadi bingung. 

“Gadis yang bernama Tiffany. Bagaimana dengan dia? Apa oppa yakin bisa melupakannya?” 

Suho kaget, bagaimana mungkin Sulli bisa tahu tentang Tiffany? Dia bahkan tak pernah membahas soal Tiffany. “Itu..” 

“Maaf, aku tak sengaja tahu. Saat oppa mabuk, oppa menyebut nama Tiffany sambil menangis. Oppa sangat mencintainya, kan?” 

Suho terdiam, dia ingat malam itu mabuk tapi dia tidak ingat apa yang sudah terjadi dan apa yang sudah dia katakan. 

“Oppa bilang..” 

“..jangan dilanjutkan.” Potongnya bergetar. “Aku tak ingin mendengar kelanjutannya.” Pandangan matanya berubah lebih gelap dari biasanya. Dia menatap Sulli. “Jangan pernah sebut namanya lagi di depanku.” 

“Oppa..” 

“Kau memang bukan yang pertama tapi kaulah yang terakhir dan menjadi satu-satunya wanita dalam hidupku. Sulli-ah, sebenarnya kita ini sama. Kita mengalami cinta pertama yang tak bersambut. Aku tak mungkin bisa menggantikan posisi Yifan di hatimu.” Disentuhnya pipi gadis itu. “Biarkan tempat itu kosong karena aku yakin Yifan akan datang padamu suatu hari nanti.” 

Sulli menggeleng. ‘Oppa.. aku tak membutuhkan Yifan, tidakkah kau sadar jika aku mulai jatuh cinta padamu?’ 

Suho tersenyum pahit.’Sulli-ah, tak adakah tempat untukku sedikit saja di hatimu? Meski hanya satu detik?’ 

‘Oppa.. tak bisakah aku menggantikan kedudukan Tiffany di hatimu? Apa sebegitu besarnya cintamu padanya? Atau tak pantaskah aku bersanding denganmu?’ 

‘Sulli-ah.. aku mencintaimu.’ 

Merka saling menatap bisu. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulut mereka hanya sebuah tatapan yang saling meminta namun tak bisa diucapkan. 

“Sulli-ah berjanjilah kita akan bersahabat sampai mati.” 

“Sahabat?” Sulli tak percaya. ‘Hanya sahabat?’ 

Suho mengangguk lalu merengkuhnyake dalam pelukannya. “Menjadi sahabat hati selamanya.” Bisiknya. Sulli mengangguk meski hatinya menginginkan hal yang lebih. 

©©©©

‘Sahabat hati? Apa maksudnya?’ Sulli masih memikirkan kata-kata Suho. Dia bingung dengan pernyataan itu hingga tak bisa tidur sampai saat ini. Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Gadis itu menatap punggung suaminya yang sedang membelakanginya sekarang. 

Sulli tersenyum pahit. ‘Tiffany eonni.. beruntung sekali kau bisa dicintai laki-laki seperti Suho oppa. Sejujurnya aku membencimu walau aku tak tahu seperti apa wajahmu. Oppa.. padahal kita sedekat ini haya beberapa centi dariku. Rupanya aku salah mengira, kupikir oppa mulai menyukaiku.’ Sulli membalikkan tubuhnya hingga keadaannya sekarang saling membelakangi. 

“Kau menangis?” 

Dengan cepat Sulli menghapus airmatanya. ‘Kenapa oppa bisa bangun?’ Saat dia menoleh, kepala Suho sudah condong menatap wajahnya. 

“Sulli-ah kau menangis?” Ulangnya. 

“Tidak.” 

“Kau bohong lagi. Baiklah aku anggap salah mendengar isak tangismu tadi.” Suho kembali ke posisi semula. 

Tiba-tiba.. 

“Aduh!” Sulli meringis kesakitan sambil memegang perutnya hingga membuat Suho langsung bangun dan menatapnya cemas. 

“Kenapa?” Tanyanya cemas sambil menatap wajah istrinya khawatir. 

“Bayi ini menendangku.” Jawabnya polos sambil memegang perutnya yang barusan bergetat. 

Suho tertawa. “Wah, dia sudah belajar menendang dari perutmu. Aku semakin yakin kalau dia laki-laki.” Tebak Suho. Lalu dia mengusap perut Sulli yang membuncit itu. “Jagoan kecil, ayo cepat keluar, ayah akan mengajarimu bermain bola nanti.” 

Mata Sulli sedikit memanas begitu Suho menyebut dirinya ‘ayah’ pada bayinya tadi. Ada rasa bahagia yang tak bisa diucapkannya hingga dia ingin menangis sekarang. 

“Kenapa?” Selidik Suho heran melihat ada airmata yang mulai menetes dari matanya. 

“Aku senang saat oppa menyebut kata ayah tadi.” 

“Memangnya kenapa, kaukan istriku. Sudah tentu anak ini akan menjadi anakku bukan?” Dia kembali mengusap perut buncit itu. “Iyakan jagoanku? Kita akan bermain bola jika kau lahir nanti, jadi berhentilah menendang perut ibumu.” 

Sayangnya bayi yang ada di dalam perut Sulli itu sepertinya bandel dan tak mau mendengar kata-kata Suho, karena itulah sekali lagi bayi itu menendang cukup keras hingga membuat guncangan di perut Sulli. 

“Aduh!!” 

“Hei..hei..hei.. sudah ayah katakan jangan menendang lagi, kasihan ibumu, nak.” Suho jadi gemas dan ingin sekali dia memukul bayi di dalam perut Sulli karena gemas. Sulli hanya tertawa. 

©©©© 

Pagi itu Suho sudah bersiap pergi karena ada panggilan dari tim sepak bolanya. “Kakek aku pergi, mungkin aku pulang larut karena latihan di luar kota.” Pamit Suho seraya pergi. 

Ken Hyuga tersenyum meremehkan. “Suami macam apa dia tidak memberimu morning kiss setiap pagi, padahal bertahun-tahun dia tinggal Inggris tapi sejak menikah aku tak pernah melihatnya padamu.” 

“Mo.. morning kiss?” Ulang Sulli dengan wajah memerah. 

“Iya morning kiss, ciuman di kening yang biasa dilakukan suami terhadap istrinya saat mereka akan pergi kerja. Tapi lihat apa yang sudah anak bodoh itu lakukan?” Ujarnya sewot sambil menatap Sulli yang tersipu. “Dia berlalu begitu saja, dasar tidak romantis.” 

“Kakek, sudahlah. Hari ini oppa harus cepat-cepat pergi.” 

“Anak itu benar-benar bodoh.” 

©©©© 

Mendadak tengah malam Sulli terbangun dari tidur nyenyaknya, ia merasakan perutnya sangat mulas. Gadis itupun meringis kesakitan. “Oppa..” Panggilnya sambil menahan sakit. Suho tak bergeming karena dia sudah terlelap sejak pulang dari latihan klub sepak bolanya yang cukup menguras tenaganya. “Oppa..!” Kembali Sulli mengguncang tubuh Suho. 

Perlahan Suho membuka matanya yang terasa berat lalu memandang istrinya. “Kenapa? Ini masih tengah malam.” Ujarnya sambil menguap karena masih mengantuk. 

“Perutku sakit sekali..” Jawabnya hampir menangis. 

Mata Suho langsung terbuka lebar. Rasa kantuk yang menyerangnya mendadak lenyap dan berganti rasa cemas. ‘Mugkinkah dia akan melahirkan sekarang?’ 

“OPPA SAKIT!!” Bentak Sulli setengah berteriak juga setengah marah padasuaminya yang masih bengong menatapnya. 

“Iya.. iya pasti sakit, ayo ke rumah sakit sekarang.” Jawabnya panik akan situasi yang dihadapinya saat ini. Dia menelpon pihak rumah sakit dan meminta ambulan supaya datang ke alamatnya sekarang dengan cepat. Setelah itu dia membantu Sulli turun dari tempat tidurnya dan segera ke menunggu ambulan datang. 

Selang beberap menit kemudian ambulan datang lalu membawa mereka ke rumah sakit terdekat. Sulli menjerit-jerit menahan sakit membuat pemuda itu jadi stress. 

Suho tahu dia harus siap menghadapi situasi seperti ini. Seharian tadi dia latihan sepak bola dengan timnya yang akan di kirim ke kota Busan 2 pekan lagi. Suho tergabung dalam klub sepak bola di Hyundai Sporty yang merupakan klub terbagus no 1 di Seoul. 

Dia sangat lelah usai latihan tadi dan butuh istirahat tapi hal itu tak memungkinkan karena situasinya sekarang berbeda. Sulli membutuhkannya. 

‘Ya Tuhan tolong selamatkan keduanya.’ Doanya dalam hati. 

15 menit kemudian mereka sampai di SONE Hospital dan Sulli langsung dibawa ke ruang bersalin. 

©©©©


Leave a comment

[FF-Freelance] Every Heart – Part 7


Author : Ren Hikaru

Tittle : Every Heart

Cast : Choi Sulli, Kim Suho, Wu YiFan

Status : Completed – Season 1

.

.

.

PART 7

Musim mulai berganti, sekarang mulai memasuki musim semi. Sulli berhenti sekolah sejak menikah dan sejak itu pula dia tinggal dengan Suho. Ken Hyuga sangat menyayangi anak itu meski tak banyak bicara. Dan Suho sendiri berhenti menjadi pelatih sepak bola di SMA Parang dan sebagai gantinya dia diterima di salah 1 klub sepak bola sebagai pemain, meski bukan pemain inti. Dia juga tetap mengajar di sekolah putri Kirin sebagai guru bahasa inggris. 

“Oppa apa kau sudah selesai?” Tanya Sulli di balik pintu melihat suaminya masih mengenakan mengajarnya. 

“Ya, sebentar lagi aku turun.” Jawabnya yang masih sibuk memasang dasi. 

Selang beberapa menit kemudian Suho turun. Sulli terlihat sudah siap sejak tadi. Hari ini mereka akan jalan-jalan ke taman kota untuk menikmati indahnya sakura yang bermekaran. 

Sulli menatap Suho yang baru saja turun, pandangan gadis itu terlihat lain. Walau Suho suaminya, pemuda itu tak pernah macam-macam padanya. Suho bersikap layaknya seorang kakak terhadap adiknya. Tidurpun di tempat terpisah. 

“Suho-ah kenapa diam saja, gandeng tangannya.” Bisik kakeknya. 

“Eh?” Pemuda itu kaget. “Kenapa harus digandeng? Dia bisa jalan sendiri.” 

DUK! Ken Hyuga menjitak kepalanya sebal. “Dia istrimu.” Lelaki tua itu menatapnya geram. 

“Baiklah.” Ujar Suho sebal sambil mengelus kepalanya yang sakit. Pemuda itu mensejajarkan dirinya dengan Sulli yang membawa bekal. “Berikan bekal itu padaku.” 

“Tidak apa-apa, ini tidak berat kok.” tolak Sulli. 

“Kalau begitu berikan tangan kirimu karena tangan kananku menganggur.” 

“Eh?” Sulli kaget. 

Suho tersenyum manis. Tanpa banyak bicara dia meraih tangan kiri Sulli dan menggenggamnya. 

Ada rasa lain yang yang sedikit demi sedikit mulai memasuki hati keduanya. Perasaan gembira yang tak bisa diucapkan. Ken Hyuga tersenyum melihatnya dari belakang. 

Taman pusat kota Seoul… 

Saat ini taman pusat kota sangat ramai. Banyak sekumpulan anak sekolah, pegawai kantoran dan berbagai keluarga ikut menikmati indahnya sakura yang bermekaran. Mereka semua terlihat gembira, saling tertawa duduk diatas karpet yang mereka bawa. Tak lupa bekal yang sudah disiapkan dari rumah. Juga makananringan dan juga soju. 

Suho, Sulli dan Ken Hyuga duduk di bawa pohon sakura sambil menikmati makanan ringan. “Orang-orang jepang sering mengibaratkan sakura itu seperti kecantikan seorang wanita.” Jelas Ken sambil meneguk sojunya. “Setelah menikah kecantikan wanita jepang jadi cepat memudar. Itu karena para istri sangat penurut kepada suami dan keluarga suaminya walau dia tak menyukainya sehingga mereka lebih banyak memendam perasaannya.” 

“Kakek bicara apa sih, dia tetap cantik kok.” Ujar Suho sewot yang malah membuat wajah Sulli memerah malu. “Aku keberatan dengan pernyataan kakek. Aku lebih suka mengibaratkan sakura itu seperti kehidupan para samurai.” 

Sulli menatap Suho. “Sepertinya lebih keren.” 

“Tentu saja karena para samurai harus selalu siap mengorbankan jiwanya untuk tuannya. Hail itu sama seolah-olah hidup para samurai itu tidak panjang seperti halnya mekarnya bunga sakura.” 

“Aku lebih setuju pendapat Suho oppa dibanding pendapat kakek.” 

“Huh, kalian ini tahu apa tentang sejarah jepang.” 

Suho dan Sulli tertawa. 

©©©© 

Berlin. 

Hampir 4 bulan berlalu tapi Yifan masih saja menjadi pangeran tidur. Albert menatap miris keadaan putranya yang berbaring tak berdaya itu. Dia sadar selama ini dia sangat egois. Melihat Yifan seperti itu hatinya benar-benar hancur. 

“Hanya keajaiban yang dapat menolongnya.” Kata-kata itu terus mengiang-ngiang di telinganya. Saat melihat lokasi kejadian tabrakan itu, ia seperti tersambar halilintar. Bagaimana tidak, mobil sport biru yang baru dibelinya itu hancur dan remuk,total dan tentunya dia sangat pesimis jika mengharapkan Yifan baik-baik saja. 

“Tuan Wu kami hanya para dokter yang tak lain juga manusia biasa, kami bukan Tuhan. Kami akan berusaha semaksimal mungkin merawat putra anda. Pengobatan dan Peralatan disini meang yang paling canggih. Tapi tetap saja mustahil bagi kami untuk menciptakan sesuatu yang bernyawa. Berdoalah.” 

Albert terisak di samping Yifan. “Kris, maafkan daddy. Daddy mohon bangunlah, apapun permintaanmu akan daddy kabulkan asal kau bangun. Daddy janji.” Digenggamnya tangan Yifan yang lemah itu. 

©©©© 

Malam itu Sulli membuka pintu, Suho langsung menabraknya hingga tubuhnya bertumpu pada istrinya. Dari mulutnya tercium bau alkohol. Suho mabuk setelah pulang dari latihan sepak bola bersama teman-temannya tadi. “Oppa..” 

Suho hanya tersenyum. Dengan susah payah Sulli menyeretnya ke kamar mereka. Karena tak kuat Sulli membiarkan Suho tidur di lantai. Meski sudah menikah mereka tidur terpisah. Suho memberikan tempat tidurnya pada Sulli sedangkan pemuda itu memilih tidur di lantai dengan beralaskan kasur lantai yang lembut. 

Sulli melepas kaos kaki suaminya dan saat akan melepas jaketnya tiba-tiba Suho mencengkram tangannya keras hingga Sulli meringis kesalitan. “Oppa sakit..” 

“Noona.. aku sudah menikah. Tapi percayalah aku hanya mencintai Tiffany noona bukan dia.” Suho membuka matanya, dia tersenyum sambil mengelus pipi Sulli yang di dalam pikirannya adalah wajah Tiffany bukan isttinya. 

“Oppa..” 

“Sstttt…” Suho meletakkanjari telunjuknya di bibir gadis itu. “Noona, kenapa tibatiba rambutmu panjang, hah? Hei.. kau terlihat mirip istriku.” Suho tertawa aneh sambil mengamati sejengkal demi sejengkal wajaj Sulli. “Noona maukah kau menikah denganku? Kita ke luar negri dan hidup bersama.” 

Sulli terdiam. Dia tidak tahu kalau ada wanita lain yang dicintai Suho. Tidak tahu kenapa ada rasa aneh yang menyelimuti hatinya. 

“Padahal aku ingin menikahimu… tapi ayahmu.. hihihi.. dia mengancam akan menghancurkan hidupku. Aku bekerja keras siang dan malam di London hanya untuk membeli… cincin itu. Cincin pernikahan kita…” Suho jadi hilang kendali, pemuda itu menangis sejadi-jadinya. “Tiffany noona..” 

Sulli menatap cincin pernikahan yang dipakainya. ‘Jadi ini cincin untuk gadis bernama Tiffany itu? Cincin yang kupakai saat ini ternyata untuk gadis lain?’ Sulli menatap Suho sedih. ‘Oppa.. tak seharusnya kau menikahiku, jika begini aku hanya menghalangi masa depanmu.’ 

“Noona… aku mencintaimu..” Tangis Suho disela-sela mabuknya. “Aku mencintaimu noona..” 

Sulli menjauh. Tidak sadar ada airmata yang mengalir di pipinya. ‘Ini… airmata apa? Kenapa aku menangis? Aku ini kenapa? Kenapa malam ini dadaku sesak sekali?’ 

Gadis itu meraba bagian perutnya yang semakin membesar. Usia kandungannya sudah memasuki 7 bulan. Gadis itu ke tempat tidurnya dan,menarik selimutnya. Entahlah dia sepertinya tak ingin mendengarkan igauan suaminya saat ini. Hatinya tiba-tiba menjadi sakit saat Suho menyebut nama gadis lain. ‘Kenapa seperti ini? Suho oppa berhak mencintai gadis manapun. Kau bukan apa-apa baginya, Ingat itu Choi Sulli. Dia terpaksa menikahimu karena kasihan padamu. Kau tak boleh jatuh cinta padanya. Ingat itu. 

©©©©

Pagi itu Suho menatap Sulli yang sedang menjemur cucian di halaman rumahnya. Pandangan pemuda itu lekat menatap wajah istrinya bahkan tanpa ia sadari sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Lama Suho memandangi wajah Sulli dan kelakuannya yang nampak bodoh itu semakin lengkap dengan tangan yang menopang dagunya. 

“Suho-ah, ambilkan gunting rumput di gudang.” Perintah kakeknya yang tengah kesulitan memangkas bonsai. 

Hening. Suho tetap menikmati wajah Sulli. Karena diacuhkan, Ken Hyuga menoleh. ‘Ho.. rupanya anak bodoh itu melamun.’ Didekatinya Suho diam-diam kemudian ikut duduk di sebelahnya. Lelaki tua itu tersenyum menggoda. 

“Dia cantik, ya?” 

“Ya. Sangat cantik.” Suho tersenyum. “Entah kenapa akhir-akhir ini aku selalu ingin dekat dengannya. Aku rasa aku sudah jatuh cinta padanya.” Gumamnya tanpa sadar. 

Ken Hyuga tersenyum, ditepuknya pundak Suho dengan keras hingga pemuda itu kaget dan tersadar dari lamunannya. “Kakek kenapa mengagetkanku?!” Serunya sebal, dia mengelus dadanya sesaat karena kaget. 

“Kenapa wajahmu kaget begitu?” Goda kakeknya. 

“Kakek sendiri kenapa ada di sampingku? Bukannya mencabuti rumput?” Suho sewot bukan main. 

Kakeknya mencibir. “Kau sendiri apa yang sedang kau lakukan? Bagianmu menyapu halaman, kan?” 

“Aku.. eh..” Suho jadi gugup, dia sendiri heran dengan apa yang sudah ia lakukan saat ini. Padahal tadi dia sedang menyapu halaman tapi lihat apa yang sedang dia lakukan? Duduk bengong dan tak memegang apa-apa. Bahkan dia tidak tahu dimana sapunya ia tinggalkan. 

“Apa yang kau perhatikan hingga tak mendengar kata-kataku tadi, hah?” 

Wajah Suho memerah. “Kakek bicara apa sih? Tadi aku istirahat, tidak boleh?” Elaknya sambil berlalu mencari sapu lidinya. Tanpa menghiraukan omongan kakeknya lagi dia menyapu halaman. ‘Astaga aku ini kenapa sih? Ah benar-benar memalukan!’ 

1 jam kemudian… 

Rumah klasik bermodelkan tradisional itu menjadi lebih bersih dan berkilau dari biasanya. Mereka bertiga duduk santai di atas tatami dan menikmati 

masakan khas korea buatan Suho. Ya, Sulli sama sekali tak pintar memasak. 

Minggu ini mereka membagi tugas membersihkan rumah. Sulli menyapu bagian dalam rumah dan mencuci, Suho menyapu halaman, mengepel lantai dan mengelap kaca sedangkan kakeknya mencabuti rumput dan menyiram bunga. 

Suho melirik istrinya yang sedang menyeduh minuman. ‘Ya Tuhan.. kenapa akhir-akhir ini aku selalu memikirkannya? Jantungku.. ah, jantung ini kenapa berdetaknya semakin keras saat Sulli ada di sampingku? Kenapa jadi tak tenang begini?’ Suho jadi gelisah, dia memegang dadanya yang dirasa bergemuruh hebat. 

“Oppa, kau kenapa?” Tanya Sulli heran melihat Suho gelisah. 

Suho cuma diam berkali-kali dia berkata pada jantungnya ‘Aku mohon jantung jangan keras-keras berdetaknya!! Nanti dia tahu!’ 

“Oppa.. kau sakit?” Sulli menatapnya sambil menyentuh keningnya. 

“Tidak..” Reflek Suho menepis tangannya cepat. “Dari tadi aku berpikir, apa yang belum aku lakukan? Oh ya air kolam ikan itu lupa belum aku ganti.” Ujarnya berlalu pergi. Padahal dia hanya ingin menghindari istrinya. 

Sulli mengangguk lugu. 

©©©© 

SMA Putri Kirin.. 

Suho mematikan radio tape, seketika lagu yang diputar berhenti. Pemuda itu membetulkan letak kacamatanya yang melorot lalu pandangannya beralih pada murid-muridnya. 

“Baiklah, kata apa yang kalian dapat dari lagu Ode to my family tadi?” 

Salah seorang muridnya mengacung antusias. 

“Iya, Kang Seulgi silahkan.” 

“Do you like me?” Goda siswi berparas cantik itu tersenyum. Suho tahu Seulgi hanya berniat menggodanya dengan berkata sepeeti itu walaupun benar di bait lagu tersebut ada kata-kata itu. 

Semua siswi bersorak. 

“Yang lainnya?” Suho mengalihkan pertanyaan. 

“Pak guru, umur bapak bukannya 23 tahun ya?” Goda Joy. 

“Pak guru, bolehkah kami memanggilmu oppa?” Kejar Wendy tak mau kalah. 

“Anak-anak fokuslah pada pelajaran kalian.” Kata Suho sabar. 

“Mana mungkin kami fokus pak jika gurunya sekeren artis Korea.” Celetuk Irene si ketua kelas. 

Suho menggeleng, lama-lama dia juga bisa stress jika setiap hari digoda mereka. “Anak-anak dengarkan..” 

“..ya oppa!” Sahut semuanya kompak dan senang. 

Suho menyentuh tengkuknya, ‘kenapa mereka segenit ini padaku? Apa wajahku tidak menakutkan sebagai guru sampai mereka berani mengodaku setiap hari?’ Pemuda itu menggeleng. “Bapak sudah menikah dan sebentar lagi akan punya anak. Jadi berhentilah menggoda guru kalian, mengerti.” 

“Mengerti oppa!” 

Suho semakin frustasi. 

©©©© 

Ken Hyuga menunjukkan foto-foto Suho pada Sulli. Mulai dari masih bayi hingga kuliah di Inggris. 

“Ini siapa?” 

Ken melihat foto yang ditunjuk cucu menantunya itu. “Kim Hyoyeon, adik Suho. Hyoyeon meninggal musim panas tahun lalu karena leukimia.” 

Sulli membolak-balik album foto itu. Dia mencari foto suaminya saat di Inggris. Matanya lekat menatap foto suaminya yang sedang duduk di bawah pohon cemara sementara di sampingnya ada 2 orang gadis cantik. Yang mana Tiffany? pikir Sulli. 

“Foto siapa yang kau cari?” 

“Ah tidak, hanya melihat-lihat foto Suho oppa saat di Inggris.” Ujar Sulli tersenyum, tapi sayangnya lelaki tua itu tahu apa yang sedang dicarinya. 

“Kau penasaran dengan mantan pacar Suho?” Tebak lelaki tua itu. 

“Ti.. dak kok, untuk apa penasaran bukankah sekarang aku istrinya Suho oppa?” 

Ken hanya mengangguk. ‘Tapi aku tahu kau penasaran dengan gadis yang bernama Tiffany itu, kan? Walau kau bohong tapi matamu tak bisa membohongiku.’ 

“Kakek, Suho oppa begitu populer ya, pasti banyak gadis-gadis cantik yang menyukainya. Dulu banyak teman-temanku yang tergila-gila pada Suho oppa saat menjadi pelatih di sekolah kami.” 

“Sayangnya Suho bukan tipe orang yang suka memperhatikan wanita. Jika dia menyukai seseorang maka bisa dikatakan selamanya hatinya tak akan pernah berpaling.” 

“Begitu ya?” Sulli memaksakan senyumnya. “Aku jadi merasa berdosa karena sudah memisahkan Suho oppa dari gadis yang ia cintai.” 

“Tiffany hanya masa lalunya.” 

“Kakek..” Sulli kaget begitu mendengar lelaki tua itu menyebut nama seorang yang begitu dia tahan lidahnya agar tak mengucapkannya namun Ken Hyuga malah dengan santai menyebut namanya. 

Disentuhnya wajah Sulli sesaat. Wajah gadis itu hampir meneteskan airmata. “Tiffany hanya masa lalunya dan selamanya Suho tak mungkin menikahinya. Kaulah masa depan Suho bukan gadis manapun, Choi Sulli.” 

Tangis Sulli pecah. “Tapi aku…” 

“Aku sudah tahu semuanya sejak awal. Meski bayi itu bukan darah dagingnya, percayalah kami sangat menyayangi dengan tulus. Aku bahagia kau menikah dengannya meski saat ini kau tak mengandung anaknya.” 

“Kakek..” Sulli memeluk lelaki tua itu dan menangis. “Maafkan aku..” 

“Sudahlah, jika kau terus menangis bayimu bisa ikut sedih.” Ken menyeka airmata gadis itu. 

Tiba-tiba.. 

“Aku pulang.” Suara Suho memasuki ruangan, dengan cepat Sulli menghapus airmatanya. 

©©©©


Leave a comment

[FF-Freelance] Every Heart – Part 6


Author : Ren Hikaru

Tittle : Every Heart

Cast : Choi Sulli, Kim Suho, Wu YiFan

Status : Completed – Season 1

.

.

.

PART 6

“Aku sudah tahu semuanya.” Ujar Yifan dingin. “Daddy sangat kejam. Tega sekali membunuh janin yang ada di perut Sulli. Janin itu anakku, Dad.” Mata pemuda itu berkaca-kaca, suaranya terdengar bergetar. 

“Kris..” 

“Dia anakku, Dad! Cucumu! TAPI KENAPA DADDY TEGA MEMBUNUHNYA SEBELUM DILAHIRKAN?! KENAPA?!” Teriak Yifan marah. 

“Kris, daddy hanya..” 

“JANGAN PERNAH SEBUT DIRIMU DADDYKU KALAU KAU SUDAH MEMBUNUH ANAKKU! LAKI-LAKI SEPERTIMU TAK PANTAS MENJADI AYAH!” Yifan segera berlalu. 

“Kris tunggu dulu.” Cegah Albert 

“Berhenti memanggil namaku Tuan Albert Wu. Mulai sekarang kau bukan Daddyku lagi. Aku sangat membencimu Tuan Albert. Anggaplah putramu sudah mati.” Yifan kemudian berlalu, dia membanting pintu itu keras dan berlari ke luar. 1 menit kemudian terdengar suara Maybach 62 Biru yang biasa dikendarainya meluncur dengan sangat cepat. Salah satu penjaga gerbang milik keluarga Wu itu langsung melompat ke arah rerumputan menghindari mobil sport yang baru keluar dari garasi dan menggila itu. 

©©©© 

Park Junsu, seorang lelaki tua berumur lebih dari 60 tahunan itu berjalan cepat menuju ruangan cucunya. Wajahnya merah padam mendengar berita bahwa cucu kebanggaannya hamil. Laki-laki tua itu merasakan amarahnya memuncak dan berkobar-kobar. 

Begitu sampai di depan ruangan cucunya, ia berhenti menatap sosok pemuda yang diam menemani cucunya. Pemuda itu duduk di dekat pembaringan cucunya dan menggenggam tangan Sulli yang kini tertidur. Tangannya bergetar hebat, ingin sekali dia membunuh pemuda itu. 

“Maafkan aku.” Lirih Suho saat melihat Sulli tertidur. Dia mengusap bekas tamparan di pipi gadis itu. Tiba-tiba… 

BUGH 

Suho merasakan sebuah hantaman keras mengenai wajahnya. Suho kaget dan terkejut dengan apa yang terjadi barusan, belum sempat dia berdiri lelaki tua itu kembali memukulnya hingga Suho terjerembab. Tubuh Suho mengenai meja, ada rasa sakit yang menjalar di ulu hatinya. 

Sulli yang mendengar keributan itu terbangun. “Kakek..” Ujarnya kaget. Gadis itu segera bangun dari pembaringannya lalu mencegah kakeknya agar tak memukul pelatihnya. “Kakek jangan pukul dia.” Pinta Sulli memohon namun sepertinya Park Junsu tak mendengarkan kata-kata cucunya. 

Suho mencoba berdiri namun sebuah pukulan kembali mendarat di perutnya. Sakit sekali. Pemuda itu memegang perutnya. 

“Aku akan membunuhmu anak muda.” Cengkramnya keras pada baju Suho, memaksa pemuda itu berdiri. “Apa kau tahu bagaimana hancurnya perasaanku sekarang? Dari kecil aku mendidiknya keras agar dia menjadi orang yang berguna. Siang malam aku bekerja keras hanya untuk melihat dia lulus dari universitas, tapi kau…” Kata-kata lelaki tua itu terputus melihat Suho yang hampir pingsan karena amukannya tadi. 

“Kakek aku mohon lepaskan dia, dia tidak salah.” Sulli berlutut di depan kakeknya sambil menangis. “Bunuh saja aku. Aku yang salah.” 

Park Junsu tersenyum sinis. “Ya, kau pantas mati. Bagiku sebuah kehormatan lebih penting daripada punya cucu memalukan sepertimu.” Lelaki itu melepas Suho lalu pandangan matanya tertuju pada cucunya. Mungkin hatinya saat ini sudah dikuasai setan sehingga dia menuruti amarahnya. 

Tangan lelaki itu menggapai leher Sulli lalu mencekiknya tanpa ampun seolah-olah yang dicekiknya adalah setan. 

Sulli kesulitan bernafas karena cekikan tangan tua itu sangat keras. Dia sangat paham watak kakeknya yang keras. Jika kakeknya ingin membunuhnya sudah pasti dilakukannya. 

Saat dirinya sudah tak sanggup bernafas, dia melihat pelatihnya mendorong tubuh kakeknya keras dan melindunginya. “Jangan lakukan itu Tuan, dia cucumu.” 

“Tapi dia pantas mati.” 

“Tidak, dia masih pantas untuk hidup.” Ujar Suho. Dia mendekap Sulli memberinya perisai dari amukan kakeknya. “Jika Tuan berani menyentuhnya sedikit saja, saya tidak akan diam.” 

“Kalau begitu aku akan membunuh kalian berdua.” 

“Tak bisakah anda merestui kami?” Tiba-tiba saja kata-kata itu meluncur dari mulut Suho. “Saya akui, saya bersalah. Saya yang sudah membuatnya seperti itu. Saya sudah menghancurkan masa depannya. Maafkan saya.” 

“Semudah itukah kau meminta maaf, anak muda?” 

“Tentu saja, saya akan mempertanggung jawabkan semuanya apa yang sudah saya lakukan padanya. Saya akan menikahi Choi Sulli.” 

“Pelatih…” Sulli kaget bukan main. Dia menarik lengan Suho tak mau. 

Suho berlutut dihadapan lelaki itu. “Dengan segala hormat, tolong restui hubungan kami. Saya mohon.” 

Park Junsu mengepal tangannya kuat-kuat. “Aku sangat membencimu, anak muda..” Ujarnya bergetar namun ada kelegaan yang tak bisa dilukiskan begitu pemuda di hadapannya mau bertanggung jawab. “15 tahun lebih aku menjaganya dan dia selalu ceria. Jika kulihat dia meneteskan airmata karenamu lagi, aku pasti membunuhmu.” 

Suho tersenyum. “Terima kasih.” 

©©©© 

Yifan memacu mobil sportnya dengan sangat cepat. Pikirannya sangat kacau. “I Hate you dad!” Umpatnya sambil menyetir mobilnya. Pemuda itu menangis. Karena konsentrasinya pecah, Yifan tak memperhatikan jalanan di depannya. Sebuah palang kereta api baru saja diturunkan. Yifan tersentak kaget saat mobil sportnya semakin cepat mendekati palang rel kereta api itu. Sementara kereta api masih melintasinya. Jarak yang begitu dekat sehingga membuat pemuda itu lupa untuk menginjak remnya. Lalu terjadilah tabrakan yang sangat keras. Mobil sport biru itu menabrak kereta api yang sedang melintas. 

Suara tabrakan keras itu terdengar ke berbagai penjuru layaknya halilintar yang menyambar. Dalam sekejap tempat itu langsung ramai. 

©©©©

Albert Wu dan Juana Spencer menunggu dengan cemas di depan IGD. Wajah keduanya pucat, terlebih wajah Juana karena dia teringat akan Bryan, anak sulungnya yang tewas dalam kecelakaan. Di depan ruangan IGD inilah dulu ia mendengar kabar kematian Bryan dan kini Kris-lah yang berada di dalam sana. 

“Sekarang kau puas?” Tanya Juana pada mantan suaminya itu. Matanya menatap tajam seolah ingin menguliti tubuh lelaki itu. “Dulu Bryan yang ada di dalam sana karena keegoisanmu kita kehilangan dia untuk selamanya. Belum puas dengan Bryan kau korbankan Lay juga. Kau paksa anak itu untuk mengikuti jejakmu hingga Lay depresi dan menjadi pecandu narkoba. Dan sekarang kau juga korbankan anak terakhirmu hanya karena keegoisanmu?!” Juana beeteriak gila. 

“Diamlah.” Suara Albert terdengar bergetar. Ada rasa bersalah yang kian menggerogoti hatinya. Mendengar Kris kecelakaan lelaki itu merasa hidupnya benar-benar hancur. 

“Jika Kris mengalami hal yang sama dengan Bryan, kau pasti mati di tanganku Albert Wu.” 

Ceklek. Pintu terbuka dan lampu IDG itu mati, tanda operasi sudah selesai. 

“Dokter bagaimana keadaannya?” Tanya Albert cemas, dia bahkan terlihat putus asa begitu melihat ekspresi wajah para dokter yang baru keluar terlihat lemas. 

“Dokter anakku selamatkan?” Tanya Juana, airmata wanita itu menetes. 

“Lukanya sangat parah terutama di bagian kepalanya. Banyak syaraf uang sudah tak berfungsi lagi. Dengan sangat menyesal kami menyatakan bahwa Kris Wu…” 

“Tidaaaak!!!” Juana histeris seketika. “Anakku selamat kan dokter? Dia baik-baik saja, kan?” Ditariknya baju itu marah. 

“Kris Wu mengalami koma.” 

Bruk! Juana tak sadarkan diri seketika. Untunglah dengan sigap para Albert menyanggah tubuh wanita itu. 

“Pasien mengalami kelumpuhan total, sebaiknya anda membawanya ke Jerman Tuan Wu. Perawatan dan kelengkapan peralatan kedokteran di Jerman lebih maju dan lebih canggih. Berdo’alah semoga Tuhan memberinya keajaiban. Kami undur diri Tuan Wu.” 

©©©© 

Seoul, gereja jam 10 pagi. 

Suara lonceng bertalu-talu menyambut pernikahan yang digelar hari ini. Pernikahan yang digelar tertutup dan tak melibatkan pihak luar. Hanya dihadiri keluarga Suho dan Keluarga Sulli. 

Sulli berjalan enggan memasuki altar yang didampingi Minho. Wajah gadis itu terlihat tanpa ekspresi, sedangkan wajah Suho cuek-cuek saja saat pengantin wanitanya sudah berada di sampingnya. 

‘Yifan oppa seharusnya kaulah yang ad di sampingku saat ini.’ Wajah Sulli nampak murung. 

‘Apa keputusanku ini benar?’ Suho bertanya-tanya dalam hati, pemuda itu terlihat ragu dengan pernikahannya. ‘Noona.. bantu aku, aku benar-benar bodoh. Wanita yang ingin aku nikahi hanya noona bukan yang lain. Juga bukan dia.’ 

“Kim Suho bersediakah kau menerima Choi Sulli sebagai istrimu dalam suka dan duka hingga maut memisahkan kalian?” Tanya pendeta yang mengikat janji suci itu. 

Hening tak ada jawaban. Suho masih tak bergeming karena sibuk dengan pikirannya sendiri. Hingga pendeta itu mengulangi kalimat yang sama untuk kedua kalinya. 

Keluarga Sulli dan keluarga Suhopun bertanya-tanya dengan sikap kedua calon pengantin itu. 

Mereka terlihat seperti tak berniat untuk menikah. Seolah-olah mereka menikah karena dijodohkan dan saling tak mau. 

“Nak, apa kau mendengar apa yang sudah aku katakan tadi?” Pendeta itu menatap Suho bertanya-tanya. 

Suho tersadar dari lamunan panjangnya yang masih memikirkan Tiffani. ‘Astaga Suho apa yang kau pikirkan saat ini? Ini pernikahanmu sendiri!’ Makinya pada dirinya sendiri. Pemuda itu menoleh pada Sulli yang terlihat ingin menangis. 

“Maaf, saya terlalu tegang hingga tak mendengar perkataan anda tadi.” Kilahnya. 

Dengan sabar pendeta itu mengulang ketiga kalinya janji suci itu kepada calon mempelai laki-laki. 

“Ya, aku menerimanya sebagai istriku dalam suka dan duka sampai mau memisahkan kami.” Suho mengikat janji itu dengan tegas. 

Pendeta itu juga mengajukan pertanyaan yang sama pad Sulli dan gadis itu hanya menjawab singkat. Ya. 

“Baiklah, sekarang aku resmikan kalian berdua sebagai suami istri. Mempelai laki-laki silahkan mencium mempelai wanita.” 

Keduanya saling berhadapan. Suho memasang cincin di jari manis kiri Sulli. Sebenarnya cincin itu dia beli untuk Tiffany saat di Inggris dan saat inipun dia masih tak rela jika gadis lain yang memakainya. Dia ingin Tiffany yang memakainya. Namun takdir berkata lain. Sulli juga melakukan hal yang sama terhadap pemuda yang kini sudah menjadi suaminya itu. 

Suho membuka tudung penutup wajah istrinya. Wajah cantik yang terlihat sedih. Ditatapnya wajah itu lalu di dekatinya dan diciumnya kening istrinya sekejap. 

Semua bertepuk tangan, Suho menggandeng tangan istrinya lalu mereka melakukan acara pelemparan bunga. 

“Tersenyumlah walau sebentar bahkan jika kau tak menginginkannya sekalipun. Ini adalah hari dimana kita disatukan dalam ikatan suci. Buatlah hari ini indah dengan senyummu.” Bisik Suho saat mereka akan difoto. 

©©©©


Leave a comment

[FF-Freelance] Every Heart – Part 5


Author : Ren Hikaru

Tittle : Every Heart

Cast : Choi Sulli, Kim Suho, Wu YiFan

Status : Completed – Season 1

.

.

.
PART 5

Hari mulai sore, Sulli berjalan gontai ke luar kelasnya. Wajahnya terlihat lelah, pikirannya kacau. Sekolah sudah sepi hanya tinggal beberapa anak yang masih asyik berkumpul di sekolah itu. 

Semenjak dia tahu hamil, gadis itu merasa hidupnya hancur tak punya masa depan. Sampai saat ini Yifan masih tak menghubunginya. 

“Jadi kau yang bernama Choi Sulli?” 

Sulli mendongak menatap sosok yang menyapanya. Sosok lelaki tinggi menjulang, berpenampilan rapi dan tentunya kaya. Sosok itu menatapnya sambil tersenyum meremehkan. 

‘Siapa dia? Wajahnya tidak kukenal bahkan ini untuk pertama kalinya kami bertemu pria bule ini.’ 

“Namaku Albert Wu.” 

Wajah Sulli langsung pucat begitu mendengar nama laki-laki yang pernah disebut Yifan. Yifan pernah menceritakan betapa sangat otoriternya sang ayah. Dan tetunya Sulli tahu bahwa lelaki ini sangat disegani karena pengaruhnya yang kuat. Sulli mundur dua langkah. 

“Kenapa kau kaget sekali, wajahmu sampai pucat. Apa wajahku sangat menakutkan?” Albert Wu tersenyum sinis melihat Sulli ketakutan. “Choi Sulli aku akui kau hebat karena sudah bisa membuat putraku berani melawanku. Bagaimana kalau kalian segera berpisah?” 

Sulli menatapnya lurus. “Kami tak akan berpisah, Yifan berjanji tak akan meninggalkanku.” 

Albert Wu tertawa. “Apa karena janin itu?” Tunjuknya pada perut Sulli. 

Reflek Sulli meraba perutnya. 

“Choi Sulli, sebenarnya aku itu orang baik tapi jika ada yang menjadi batu sandungan bagi masa depan anakku, aku tidak akan berpikir 2 kali untuk melakukan hal kejam.” 

“Apa maksud anda?” Sulli mulai takut. 

“Gugur bayi itu dan tinggalkan Yifan.” 

“Itu tidak mungkin, bayi ini anak kami.” 

“Apanya yang tidak mungkin? Aku akan membantumu.” Lelaki itu mendekatinya. “Ini cek kosong yang sudah kutandatangani semua, kau bisa menulis berapapun angka yang kau mau dengan syarat tinggalkan putraku. Kau bisa memulai hidupmu yang baru dengan cek itu. Lagi pula kau dan putraku masih sangat muda. Yifan 18 dan kau baru 16 bukan? Masa depan kalian masih panjang jangan sampai gara-gara kehadiran bayi itu bisa membuat hidup putraku berantakan. Jadi gugurkan saja.” Nasehat Albert. 

Sulli tersenyum kaku. “Tuan, walaupun saya miskin saya tidak akan pernah membunuh bayi ini. Sebuah nyawa tidak bisa ditukar dengan uang.” Ditatapnya wajah tua yang hampir seumuran kakeknya itu. “Kalaupun sebuah nyawa bisa dibeli dengan uang, katakan pada saya berapa harga nyawa anda agar saya bisa membelinya.” 

Albert menggeleng pelan. “Sudah kukatakan padamu, berpisahlah baik-baik sebelum aku menunjukkan sesuatu padamu. Awalnya aku tak mau melakukan ini tapi karena kau begitu gigih dengan keinginanmu, dengan senang hati kutunjukkan surat Yifan padamu. Aku harap kau tak bunuh diri jika membacanya.” Albert menyerahkan sebuah surat pada Sulli. 

Dengan ragu Sulli membacanya. 

“Jika kau memang mengenal Yifan kau pasti bisa hafal tulisan anak itu. Bacalah isinya baik-baik.” Ujarnya tersenyum penuh kemenangan. 

Brukk.. Sulli terduduk lemas setelah membaca pesan Yifan yang ditulis singkat dikertas itu. Lututnya bergetat. ‘Ini tidak mungkin, kenapa Yifan menulisnya. Aku tak percaya.’ Airmata Sulli hampir tumpah. 

Albert tersenyum puas. “Sepertinya kau tidak tahu kalau putraku tak serius padamu bukan? Kau tak mengenal baik siapa Yifan.” Usai berkata seperti itu Albert meninggalkan Sulli yang masih shock dengan isi pesan tersebut. 

“Yifan kau bohong padaku…” Ucapnya pelan, airmata gadis itu tumpah karena sudah tak terbendung lagi. Sulli menangis keras menyadari kebodohan dirinya. 

©©©© 

Flash Back 

1 hari sebelum Albert ke Korea. 

Yifan sangat frustasi begitu sampai dibandara, pemuda itu ditolak oleh pihak penerbangan dengan alasan yang tak masuk akal padahal pasportnya tidak ada masalah tapi tetap saja pihak penerbangan menolaknya membiarkannya meninggalkan Itali. 

“Damn!” Umpatnya kesal, dia tahu ayahnya sudah mensabotase pihak penerbangan sehingga dia tak bisa ke Korea diam-diam. Karena putus asa dia pulang kembali. Untunglah sebelum sampai di rumahnya salah seorang teman tim sepak bolanya memberi tahu bahwa 3 hari lagi akan ada pertandingan uji coba di China tingkat junior. Agar dia bisa keluar dari Itali dia harus meyakinkan ayahnya untuk mengikuti kompetisi itu. Setelah mendapat ijin pemuda itu berniat kabur dan tak kembali. 

“Please dad, i want go to Xi’an with my friends.” 

“Xi’an?” 

“Yes, Daddy not believe me?” 

“Jika bukan pelatihmu yang meminta Daddy tak akan pernah mengijinkan.” 

“I know, Oke, if daddy not believe me, now ask him.” 

Dengan enggan Albert menelpon pelatih putranya. Albert tersenyum begitu mendengar bahwa Yifan terpilih ikut pertandingan sepak bola junior itu dan untuk memulai debutnya sebagai pesepak bola baru pelatihnya mengadakan pertandingan di Xi’an, China. 

Yifan tersenyum cerah. “Aku terpilih, kan? Aku hebat, kan? Aku pasti pulang membawa kemenangan Dad. Karena aku ingin menjadi bintang lapangan dunia sepak bola.” 

“Fine, i believe you. How about your girl?” 

“Aku ingin mengejar mimpiku. Aku lebih memilih hidup dan mimpiku.” 

“Good, Kris. I proud to you my son.” 

“Ofcourse.” Yifan tersenyum. ‘Sorry dad, aku bohong padamu. Jika pasporku sudah tak dipermasalahkan lagi, aku akan ke Korea. Bagiku Sulli dan bayi kami lebih penting.’ 

Yifan segera berkemas. Dan tak lupa dia menulis sebuah pesan singkat di meja belajarnya agar ayahnya percaya padanya. Isi pesan itu: 

‘Daddy benar, masa depan dan impianku adalah sepak bola bukan yang lain. Aku akan mewujudkan mimpiku. Tak peduli apapun yang pernah terjadi aku menganggapnya tak pernah terjadi. Akan kuakhiri hubunganku dengan dia. Karena aku sadar mimpiku adalah sepak bola bukan dia.’ 

Your Son Wu Yifan. 

Yifan tersenyum. Surat tipuan ini pasti berhasil membuat ayahnya percaya. 

Flash Back end. 

©©©© 

Yuri dan Minho bergegas menuju stasiun, mereka berlari cepat agar bisa menemukan Sulli. Sepasang kekasih itu tak sengaja menemukan surat yang ditinggalkan Sulli di kamar gadis bermata sendu itu. Sulli berniat bunuh diri. 

‘Kakek maafkan aku, aku harus meninggalkanmu dengan cara seperti ini. Jaga diri kakek baik-baik. Aku cinta kakek. Choi Sulli.’ 

“Oppa cepetan!” Maki Yuri sebal karena Minho berlari lambat. 

“Kakiku masih sakit bodoh! Kemarin aku terkilir.” 

“Kita harus segera menemukan Sulli, aku tidak mau terjadi apa-apa pada Sulli.” Isak Yuri ketakutan. “Tuhan tolong lindungi Sulli.” 

Karenakakinya yang masih sakit dipaksa berlari akhirnya Minho terjatuh dan itu malah memperparah keadaannya. 

“Oppa!!” Teriak Yuri cemas. 

“Akh.. sial sekali, kenapa malah disaat seperti ini!” Kelu Minho kesal. 

“Loh, Choi Minho apa yang terjadi?” Tiba-tiba saja Suho menghampiri mereka. 

“Pelatih Kim, Choi Sulli berusaha bunuh diri, tolong selamatkan dia. Saya rasa anak itu berlari ke arah stasiun.” Ujar Minho sambil menahan sakit. 

“Apa?!!” Wajah Suho kaget. “Baiklah aku akan berusaha mencegahnya.” Suho berlari kearah stasiun. 

“HEI CHOI SULLI MINGGIR!!” Suho berteriak keras dari jauh ketika melihat Sulli berdiri di rel kereta. Sulli tak menoleh meski ada yang meneriaki namanya berkali-kali. Kereta mulai berjalan berjalan cepat dan mendekatinya. Gadis itu memejamkan matanya tatkala kereta sudah hampir menabrak tubuhnya. 

BRUUUKHH..

Tubuh Sulli terlempar, suara kereta api masih terdengar keras melintas di telinganya. ‘Apa aku sudah mati? Beginikah rasanya mati?’ Perlahan gadis itu membuka kelopak matanya. Suasana masih tetap bising, pemandangan alam masih tetap sama tatkala dia tadi berdiri. Bedanya kini dia sedang terbaring di rerumputan dan nampak sosok lelaki berdiri dihadapannya. Sulli sadar bahwa dia belum mati. Kakinya gemetar, dia berusaha berdiri menjajari sosok itu. 

“DASAR GILA!! APA YANG SUDAH TADI KAU LAKUKAN, BODOH?!!” Sentak Suho marah luar biasa, nafasnya tersendat-sendat tak beraturan. Tapi setidaknya dia lega karena berhasil menyelamatkannya meski tadi keduanya hampir ditabrak kereta. Suho menatapnya tajam seolah-olah dia akan mencabut nyawa gadis itu. 

“Biarkan aku mati!! Aku tidak ingin hidup, semuanya sudah hancur!” Sulli berteriak histeris. Gadis itu meronta-ronta. “Untuk apa aku hidup jika harus menanggung malu seumur hidup?!” 

“Jangan nekat Choi Sulli!” 

“Matipun tak akan ada yang menangisiku!!” 

PLAAK!! 

Tubuh Sulli terhuyung lalu ambruk. Tangannya reflek menyentuh pipi kirinya. Ada rasa panas bercampur perih di pipinya. Merah sekali. Sulli tak percaya apa yang sudah dilakukan pelatihnya yang lembut ini bisa kasar padanya. 

Suho menatapnya tajam, untuk pertama kali seumur hidupnya dia berani menampar seseorang sangat keras. Wanita pula. “Jangan bodoh kau Choi Sulli.” Ucapnya datar. Mata gadis itu memerah dan berair karena menahan sakit di pipinya. Ya sakit sekali. “Aku yang akan menangis jika kau mati! Coba saja kau bunuh diri, aku akan terus menangis sampai mati! Lalu aku akan dendam padamu dan aku akan terus menderita karenamu.” 

Sulli akhirnya menangis. Dia tak menyangka pelatihnya ini begitu peduli padanya. 

Suho mendekatinya, dia jongkok mengimbangi Sulli. “Berjanjilah kau tak akan mati.” Pintanya mulai melembut. 

“Pe.. pelatih..” 

Suho tersenyum lalu mendekapnya. “Karena aku menyayangimu. Aku akan melindungimu dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Jika suatu hari nanti aku mengkhianatimu, disaat itulah kau boleh mati.” Janji pemuda itu. 

Sulli menangis hebat. Entah mengapa kata-kata pelatihnya ini sanggup membuatnya berkeyakinan kalau pemud ini tulus dan bersungguh-sungguh. Entahlah, saat ini dia lelah sekali. Tia-tiba saja semuanya gelap. 

“Hei, Choi Sulli bangunlah!” Suho jadi cemas. Dia menyesal sudah begitu keras menamparnya hingga bibir gadis itu sobek dan berdarah. Pipinyapun merah sekali. “Maafkan aku.” Bisiknya lirih. 

©©©© 

SONE Hospital 

Saat Sulli membuka matanya yang pertama kali dia lihat adalah sosok pelatihnya yang kini menungguinya. Suho duduk disanping gadis itu. “Pelatih.” Sapanya lemah. 

“Aku sudah tahu semuanya.” Ujar Suho datar. “Aku memang menyayangkan tindakanmu. Aku harap kau tak membuat kesalahan untuk kedua kalinya yang bisa membahayakanmu.” 

Sulli tergugu, gadis itu memalingkan wajahnya. “Saya.. saya tidak berani mengatakan hal ini pada kakek. Saya sangat takut.” 

“Kakekmu pasti sangat marah dan kecewa padamu.” 

“Lebih dari itu, kakek pasti akan membunuh sa…” 

“..dan kau akan menyerah begitu saja?” Potong Suho sambil menatap wajah pucat Sulli. “Pernahkah kau berpikir jika nekat melakukan hal itu akan ada berapa banyak airmata yang harus keluar dari orang-orang yang kau sayangi? Keluargamu? Teman-temanmu?” 

Sulli membisu. 

“Apa dengan bunuh diri semua masalahmu akan hilang? Baik, kau memang siap mati, tapi apa orang-orang terdekatmu siap nantinya jika mendengar kabar kematianmu?” 

“Sa.. say..” 

“..aku belum selesai bicara.” Suho dengan cepat memotong pembicaraan gadis itu. “Satu hal lagi, jangan pernah kau mengulangi hal menyedihkan seperti ini! Tunjuk pada dunia bahwa kau gadis yang kuat!” 

“Saya janua gadis bodoh yang lemah.” 

“KAU HARUS KUAT!!” Bentak Suho gemas. Ditatapnya mata yang kaget itu dalam-dalam. “Aku.. aku memang tidak tahu bagaimana rasanya menjadi sepertimu. Tapi aku sudah sering merasakan rasanya ditinggal orang-orang yang aku sayangi. Setidaknya aku ingin kau berbagi masalah denganku. Choi Sulli, kau tak akan sanggup menanggung beban itu sendirian.” 

Sulli kembali meneteskan airmatanya. Tapi kali ini dia tak berani menatap wajah Suho. “Pelatih..” Panggilnya lirih. “Batu yang keras bisa berlubang jika disirami air setiap hari, apalagi saya.” 

“Kau bisa mengubah batu itu menjadi baja. Aku akan membantumu. Dengan begitu kau akan terus kuat. Aku akan menopang hidupmu hingga kau kuat dan tak menangis lagi.” Suho menyentuh tangan itu. “Kau bisa pegang kata-kataku, Choi Sulli.” 

“Kenapa..” Isak gadis itu tak tahan. “Kenapa pelatih begitu.. baik padaku? Apa karena ..kasihan?” 

Suho tersenyum tipis. “Karena kau seperti Hyoyeon, adikku.” Jawabnya. 

©©©© 

Itali… 

Terjadi pertengkaran hebat antara Albert Wu dengan mantan istrinya, Juana Spencer. Mantan suami itu saling menyalahkan satu sama lainnya. Leo sang sekertaris pribadi Albert itu menjadi takut mendengarnya. Buru-buru Leo keluar dari rumah itu dan saat menuruni tangga dia berpapasan dengan Yifan. “Tu.. tuan muda.” 

“Kenapa wajahmu ketakutan begitu?” Tanya Yifan curiga. 

“Mereke bertengkar lagi.” Jawab Leo takut. Yifan yang mendengarnya hanya cuek, toh dia sudah biasa dengan kejadian itu. “Pasti karena bisnis lagi.” 

“Bukan. Mereka bertengkar karena gadis bernama Choi.. Su.. eh, siapa tadi?”Leo berusaha mengingat nama gadis yang dimaksud. 

“Choi Sulli maksudmu?” 

Leo mengangguk dan bagai jin Ifrit, Yifan telah lenyap dari hadapan Leo. Begitu sampai di lantai atas Yifan melihat ibunya disentak-sentak oleh ayahnya. 

“Its not your problem, Juana! Urus saja bisnismu.” Suara Albert begitu menggelegar. 

“Not my problem? Kris is my son. Dan aku berhak ikut campur masalahnya Tuan Albert karena aku ibunya.” 

“Cih, apa kau pernah bersikap sepeeti seorang ibu?” 

Juana tersenyum sinis. “Jangan menuntutku menjadi seorang ibu yang baik jika kau sendiri tak punya jiwa seorang ayah!” 

“Apa maksudmu?” 

“Apa kau pikir Kris itu robot yang bisa kau ciptakan sendiri sesuai dengan pikiranmu? Kris hanya manusia yang sedang jatuh cinta pada lawan jenisnya. Tapi apa yang kau telah lakukan? Kau menyuruh anak buahmu untuk membunuh bayi tak berdosa itu?” 

DEG! Jantung Yifan seakan berhenti berdetak, dia tak menyangka ayahnya akan nekat melakukan hal itu pada Sulli. Ada getaran aneh yang menyelimuti hatinya. Bumi seakan bergoncang menginjak dirinya. ‘Dad…’ 

“Aku tak ingin masa depan Kris hancur. Bayi itu hanya sumber masalah bagi Kris.” 

“Kaulah sumber masalah itu! Hidup Kris sudah hancur sejak ikut denganmu!!” Bantah Juana tak mau kalah. 

Keduanya saling meluapkan amarah. Tiba-tiba pintu terbuka lebar dan muncullah sosok Yifan dengan wajah dan sorot mata yang penuh kebencian. Juana dan Albert sama-sama kaget. 

“KRIS!” 

©©©©


Leave a comment

[FF-Freelance] Every Heart – Part 4


Author : Ren Hikaru

Tittle : Every Heart

Cast : Choi Sulli, Kim Suho, Wu YiFan

Status : Completed – Season 1

.

.

.

PART 4

Yifan merebahkan tubuhnya lelah. Tenaganya benar-benar terkuras habis melawan Henry dan teman-temannya. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Pertandingan tadi, SMA Parang unggul keluar sebagai pemenang meski hanya terpaut sedikit dengan goal 3 kali sedangkan SMA Genie hanya 2 kali mencetak goal. 

Hampir saja pemuda itu tertidur karena kelelahan tapi bayangan senyuman Sulli yang mendadak melintas di benaknya membuat pemuda itu segera menepis semua rasa lelahnya. ‘Aku harus menemuinya malam ini.’ 

Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam ketika Yifan sudah sampai di depan rumah Sulli. Diapun memencet bel rumah tersebut. 

Selang beberapa menit Sulli akhirnya membukakan pintu. 

“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Yifan memulai pembicaraannya dengan suara datar. 

Sulli sedikit heran melihat raut wajah kekasihnya yang terlihat sedih itu. “Apa sangat penting?” Gadis itu bertanya sangat hati-hati. Firasatnya mengatakan kalau semua tidak akan baik-baik saja. “Oppa, kenapa diam?” Sulli semakin merasa tak tenang dibuatnya. 

Yifan terdiam cukup lama. 

“Oppa, jangan menakutiku.” 

“Aku akan pindah ke Itali. Besok pagi.” Suara Yifan terdengar berat. Bahkan saat mengucapkan kata-kata itu terdengar sedih dan seperti susah mengucapkannya. 

Kali ini Sulli yang terdiam. Tubuhnya terasa lemah. Matanya mulai berkaca-kaca. “Oppa, aku tak mendengarnya.” Ujarnya bergetar. “Katakan sekali lagi.” 

Yifan memalingkan wajahnya, tak sanggup menatap wajah Sulli yang kini menatap wajahnya. 

“Oppa..” 

“Besok aku berangkat ke Itali. Daddy sudah mengurus semuanya tanpa sepengetahuanku dan aku tak bisa menolaknya.” 

“Berapa lama?” 

Yifan menggeleng. “Aku juga tidak tahu.. Sulli-ah.. jangan menangis. Please.” Pinta pemuda itu merasa bersalah, meski tak bersuara, entah kenapa airmata Sulli mengalir begitu cepat. Yifan menyesal karena harus meninggalkan gadis yang ia cintai demi ambisi ayahnya. 

“Oppa akan meninggalkanku? Benarkah? Jangan tinggalkan aku.” 

Yifan mati-matian menahan airmatanya namun tak bisa, pertahanannya akhirnya jebol karena airmata Sulli. “Maafkan aku Sulli-ah.. maafkan aku..” Didekapnya tubuh itu erat-erat. 

Mereka berdua menangis. 

‘Tuhan.. kenapa takdir yang kau berikan pada kami terasa kejam? Kenapa kau mau memisahkan kami? Aku sangat mencintainya, tak bisakah kau biarkan kami hidup bersama?’ Tubuh Yifan bergetar menahan tangis. 

Salju mulai turun dan udara semakin dingin. Namun 2 hati anak manusia itu terasa membara. Ini adalah musim dingin yang menyakitkan bagi mereka. Desember kelabu. Mereka berciuman dibawah siraman salju yang semakin deras turunnya. 

©©©© 

Bandara Incheon. 

Hari ini Yifan dan teman-temannya sudah berkumpul di bandara. Teman se-klubnya kaget begitu mendengar pemberitahuan mendadak bahwa kapten kebanggaan mereka harus pindah ke Itali. 

“Kapten jaga dirimu baik-baik.” Kata Key terharu. 

“Kami akan merindukanmu kapten.” Kata Taemin dan Jonghyun. 

Yifan hanya mengangguk, setelah menyalami mereka semua, ia beralih pada Sulli. Wajah itu terlihat datar. 

Yifan mendekatinya lalu memeluknya cukup lama, semua yang melihatnya ikut terharu. Usai memeluknya Yifanpun meninggalkan mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun. 15 menit kemudian pesawat yang ditumpanginya meninggalkan negri gingseng. 

Minho dan Yuri mendekati Sulli yang masih diam sendiri menatap pesawat yang ditumpangi Yifan di langit hingga hilang di balik awan. 

“Sulli-ah, apa yang dikatakan kapten padamu sebelum pergi?” Tanya Yuri. 

“Tak ada.” Jawabnya sedih. 

“Hah?!” Yuri dan Minho kaget. 

“Dasar bule, apa susahnya sih mengucapkan selamat tinggal!” Maki Minho sebal. 

“Pasti tidak bisa.” Suara pelatih mereka ikut menimbrung. “Sebab kata ‘selamat tinggal’ adalah kata-kata menyedihkan dan menusuk perasaan bersama.” Jelas Suho sambil mendekati anak-anak didiknya. Dia melihat Sulli yang masih tak bergeming. Gadis itu seolah kehilangan separuh dari hidupnya. 

“Benar juga. Tapi lebih menyedihkan jika tidak mengucapkan apapun bukan?” Kata Yuri. 

“Mungkin Yifan berharap suatu hari nanti dia bisa kembali lagi makanya dia tidak mengatakan hal apapun karena dia yakin pasti akan kembali.” Lanjut Suho. 

“Aku pulang duluan.” Tiba-tiba Sulli meninggalkan mereka. Yuri yang melihatnya ingin mengejar tapi ditahan Suho. 

“Kenapa?” 

“Biarkan dia sendiri hari ini, kejadian hari ini sudah membuatnya sangat tertekan. Dia butuh sendiri untuk menenangkan hatinya.” 

Mereka mengangguk. 

©©©© 

Esok harinya… 

“Choi Sulli!” Guru Yunho mengabsen kelas 2-1. 

Tak ada jawaban. Semua murid menatap bangku kosong itu dan mulai berbisik. “Ada yang tahu kemana Choi Sulli?” Tanya guru sastra itu. Namun takada sedetik guru berpostur tinggi itu paham. ‘Mungkin ada hubungannya dengan Wu Yifan’ 

Sementara itu.. 

Diluar sekolah nampak kereta mulai berjalan meninggalkan kota Seoul. Sulli hanya terdiam menatap pemandangan alam dari jendela kereta tersebut. 

“Membolos lagi?” 

Reflek Sulli menoleh. “Pe.. pelatih Kim?” Tanya Sulli ragu. 

Suho tersenyum menatapnya. Sejak insiden kecelakaan itu ia lebih memperhatikan gadis di depannya ini. Gadis yang sudah menyelamatkan dirinya waktu itu. Rasa berhutang budi pada gadis bermata sendu ini terus tersimpan di hatinya untuk membalasnya. 

Suho duduk di sampingnya. “Aku berterima kasih atas pertolonganmu waktu itu. Kau sudah menyelamatkan hidupku. Harus dengan apa aku membayarnya?” 

Sulli terkekeh. “Kemarin pelatih sudah memberiku bekal dan tiket pulang juga traktiran makan. Saya rasa sudah cukup.” 

“Hanya dengan bekal kau membalasnya dengan nyawa? hebat sekali.” Puji Suho. 

“Kenapa pelatih memakai kacamata?” Tanyanya iseng, entah kenapa melihat pelatihnya mengenakan kacamata jadi terlihat semakin keren di matanya. ‘Apa yang kau pikirkan Choi Sulli?’ 

“Kenapa? Tidak pantas?” 

Sulli menggeleng. “Hanya saja terlihat berbeda, saya hampir tak mengenali pelatih tadi.” 

“Sejak insiden itu penglihatanku mulai kabur. Makanya aku memakai kacamata. Lalu.. apa masalahmu kali ini?” 

Sulli menggeleng. 

“Jangan pura-pura, matamu tak bisa berbohong.” Suho menatapnya. “Kau terlihat murung sejak ditinggal Yifan. Jika ada yang kau risaukan, aku mau mendengarnya. Ya.. itupun kalau kau mau menceritakannya. Mungkin saja kau tak suka kalau lawan bicaramu laki-laki.” 

Sulli mulai terisak. Entah kenapa dia tak segan pada pelatihnya ini. “Saya.. saya merindukan Yifan..” Gadis itu menggenggam lipatan roknya. “Rasanya sakit sekali melepasnya pergi..” Tangannya bergetar. Airmatanya mulai jatuh. 

Suho menatapnya dalam diam. Sementara kereta semakin cepat meninggalkan kota Seoul. 

©©©©

‘Jika menurutmu mati adalah jalan terakhir tak bisakah kau membalikkan tubuhmu agar tak melangkah pada jalan kematian?’ 

‘Serumit apapun masalahmu, kau hatus tegar menghadapinya jangan pernah mau kalah dalam menghadapi masalahmu.’ 

‘Kenyataan ada bukan untuk lari tapi untuk kau hadapi.’ 

Sulli tersenyum mengingat kata-kata pelatihnya tadi saat di dalam kereta. “Hm.. dia keren juga.” Ujarnya kagum. Gadis menatap selembar foto yang selalu tersimpan di dalam dompetnya. Foto dirinya dengan Yifan. “Oppa, aku merindukanmu.” 

Sementara di Itali.. 

Bosan. Mungkin itu yang Yifan rasakan tanpa melihat wajah Sulli. Diapun menelpon nomer yang hafal di luar kepalanya. Tak peduli nanti berapa tagihannya yang penting pemuda itu bisa mendengar suara Sulli. 

“Sulli-ah.” Sapanya begitu telpon disebrang sudah terangkat. “Apa kabar? Apa kau sehat?” 

Diam. Masih tak ada jawaban. 

“Sulli-ah, kau mendengarku?” Tanya Yifan cemas. 

“Oppa..” Jawab Sulli akhirnya, gadis itu berusaha menahan tangisnya. Ada rasa sesak di dadanya. 

“Syukurlah kau baik-baik saja..” Pembicaraan mengalir santai, ada perasaan senang di hati mereka. Terlebih Sulli, ia menghapus airmatanya dan kembali tersenyum. 

Waktu berjalan begitu lambat, berusaha menyapu sisa-sia kerinduan gadis berkulit putih itu malam ini. Di luar bulan tersenyum lembut kagum akan ketegaran gadis itu. Sulli menutup jendela kamarnya, namun ia masih bisa menatap taburan bintang di langit.Malam yang indah dan cerah. Secerah hatinya saat ini. 

“Jaga dirimu baik-baik.” 

“Oppa juga.” 

“I Love you.” 

Sulli tertawa mendengarnya. “Oppa kau kekanakan.” 

“Aku memang kekanakan tapi siapa yang menyukai seorang yang kekanakan sepertiku?” 

“Oppa..” Sulli merajuk. 

“Baiklah sampai jumpa.” Yifan menutup telponnya. Ia tersenyum puas karena sudah mendengar suara Sulli. 

©©©© 

SMA Parang. 

“Choi Sulli, apa kau baik-baik saja? Wajahmu sangat pucat.” Kata guru Yunho cemas. “Jika kau sakit, kau bisa ke ruangan kesehatan atau pulang lebih dulu.” 

Sulli mengangguk. Entah kenapa beberapa minggu ini penyakit asam lambungnya sering kumat. Gadis itu segera membereskan bukunya lalu pulang. 

‘Aku harus ke dokter sekarang.’ 

©©©© 

“Klik.” Yifan menutup telponnya. Tubuhnya bergetar hebat, wajah tampannya terlihat shock. Gagang telpon itu masih bergantung namun ia tak peduli. Pikirannya berkecamuk hebat. Hal yang tak pernah ia bayangkan terjadi juga. 

Sulli hamil. Dan dialah ayah biologis dari bayi yang dikandung gadis pendiam itu. 

Yifan menatap sebuah bingkai foto dirinya dengan Sulli ketika berulang tahun dulu. Bayangan masa lalunya datang seolah mengingatkan kembali kejadian yang sudah dia lakukan waktu itu. 

“Ya Tuhan kenapa bisa begini?” Ujarnya bingung. ‘Apa yang harus kulakukan? Aku tak mungkin kembali ke Korea. Aku harus bisa membujuk dad agar kembali ke Korea.’ 

Pemuda itu keluar dari kamarnya. Di Itali ia tidak tinggal di asrama seperti kebanyakan umumnya tapi tinggal di rumah baru bersama ayahnya. Yifan mencara ayahnya ke ruang kerjanya tapi ruangan itu kosong. 

“Kemana Dad?” Tanya Yifan pada sekertaris ayahnya ketika berpapasan di ruang tamu. 

“Bertemu dengan pemilik anggur dari Spanyol dari kemarin Tuan Muda.” 

“Kapan pulang?” Tanyanya sebal. 

“Kamis.” 

“Katakan pada Dad aku ada keperluan mendadak. Aku ingin segera bertemu Dad.” 

Sekertaris itu mengangguk. “Eh Tuan Muda, Lusa Nyonya Besar akan kemari. Tepatnya hari minggu.” 

Yifan terdiam. Pemuda itu rindu sekali pada ibunya setelah hampir 4 tahun tak bertemu. dia teringat kata-kata ayahnya. 

“Jika kau tak ke Itali, Dad pastikan kau tak akan pernah bisa menemui Mommy-mu. Bukankah kau sangat merindukan Mommy-mu, Kris? Sadarlah kau lebih 4 tahun tak bisa menemuinya. Itu karena Daddy melarang kalian bertemu. Jika kau masih ingin bertemu mommy-mu kau harus ikut daddy ke Itali, jika tidak pertemuanmu dg mommy-mu 4 tahun yang lalu adalah pertemuan terakhir.” 

Yifan menghela nafasnya. Dia tak boleh membuang kesempatan untuk bertemu ibunya. 

©©©© 

“PLAAK!!” 

Yifan sedikit terhuyung tapi dia tetap diam meski ayahnya menamparnya sangat keras. Sakit memang. 

“Kau akan tetap disini bersama Daddy.” 

“Aku harus menemuinya, Dad!” 

“No Kris!!” 

“Why not, Dad?” 

“Sekolahmu lebih penting dibanding gadis itu.” Albert Wu menatapnya tajam. “Kau tak akan pernah keluar dari Itali tanpa izin dariku. Lupakan saja gadis bernama Choi Sulli itu. ” 

“Tapi Sulli sedang mengandung anakku, Dad!” Teriak pemuda itu kesal. 

Albert Wu yang awalnya hendak meninggalkan putranya itu membalikkan tubuhnya begitu mendengar pengakuan Yifan. Lelaki itu menatapnya. “Jadi itu alasanmu, kau begitu ngotot mau kembali ke Korea? Gadis itu memberitahumu kalau dia sedang mengandung anakmu? Heh, lelucon macam apa.” Albert Wu 

tersenyum mengejek. 

“Itu bukan lelucon, Dad!” 

“Dan kau percaya anak itu adalah darah dagingmu?” 

“Tentu saja!” Jawab Yifan tegas. “Kami sudah tidur bersama dan aku yang memaksanya bukan dia yang menggodaku.” 

Albert Wu menatap Yifan seakan dia hendak menelannya bulat-bulat. Dengan perasaan marah, dicengkramnya baju yang dipakai Yifan itu kasar lalu memukulnya berkali-kali. 

Yifan tak melawan, bahkan ketika ayahnya sudah kehabisan tenaga untuk memukulnya pemuda itu tetap tak bergeming. “Kenapa berhenti, Dad? Pukul saja aku terus sampai Daddy puas. Tapi aku akan tetap berangkat ke Korea dan Daddy tak akan bisa menghalangiku.” 

“Kau akan tetap disini.” Sahut lelaki itu. 

Yifan tersenyum sinis. “Jangan harap Daddy bisa bisa menghalangiku.” Yifan bergegas pergi. Sementara Albert Wu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. 

“Kau tak akan bisa melawanku Kris. Akanku singkirkan bayi itu bersama gadis bernama Choi Sulli itu. Lihatlah.” 

©©©©


Leave a comment

[FF-Freelance] Every Heart – Part 2


Author : Ren Hikaru

Tittle : Every Heart

Cast : Choi Sulli, Kim Suho, Wu YiFan

Status : Completed – Season 1

.

.

.

PART 2


Sore itu Sulli memencet bel apartemen Yifan. Lama ia menunggu namun tak kunjung dibuka pintu itu. Sulli tahu Yifan berada di dalam karena itulah dia tak pergi meski hampir 2 jam menunggunya. 

“Masuklah.” Ujar Yifan membuka pintu. 

Sulli menatap wajah segar yang baru saja keluar dari kamar mandinya. Yifan masih mengenakan piyamanya sementara rambutnya yang mulai panjang itu terlihat berantakan. Air menetes dari rambutnya yang basah. 

Sulli memasuki apartement itu tanpa curiga. Yifan sendiri mengunci apartementnya lalu menyimpan kuncinya. 

Apartemen Yifan tervilang sangat mewah, semua yang diinginkansudag tersedia. Pemuda itu tinggal sendiri di apartemennya. Daddy~nya begitulah dia memanggil Ayahnya jarang pulang karena sangat sibuk dengan bisnisnya. Mommy~nya adalah wanita berkebangsaan Kanada yang menjadi desainer terkenal. Tak heran jika pemuda tampan itu selalu mengenakan pakaian dan aksesoris yangjarang dimiliki orang lain. Hampir semua barangnya limited edition. 

“Kemana orangtuamu?” 

“Diluar negri.” 

Sulli duduk disamping Yifan, dia menyentuh pipi memar itu. “Sakit?” 

Yifan tak menjawab. Sentuhan Sulli membuatnya bergairah. Dia tidak tahu kenapa setiap sentuhan gadis itu membuatnya bernafsu meski sesaat. 

“Yifan-sshi… Kenapa menatapku seperti itu?” Sulli mulai ketakutan. 

Ya, Yifan terlihat aneh seolah dia akan menerkamnya hidup-hidup. 

Pemuda itu menyentuh wajah Sulli. Dia tersenyum aneh. “Sulli-ah, aku sendirian. Bisa temani aku saat ini?” Tanyanya penuh minat akan dirinya. 

Sulli menggeser tubuhnya tapi tak bisa karena Yifan tak membiarkan hal itu terjadi. Yifan terus menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. 

“Yifan~sshi…” Sulli terlihat takut. Tapi sayangnya Yifan tak mendengarnya. Hatinya bergejolak hebat. Dia menginginkan Sulli saat ini. 

©©©©

Sore itu langit terlihat terang. Matahari semakin tenggelam di ufuk barat dan meninggalkan seberkas cahaya kuning keemasan. Kota Seoul terlihat sangat padat. Diantara lalu lalang manusia itu nampak seorang gadis cantik dengan pakaian yang begitu elegan sedang menatap suatu objek dengan teliti. 

“Noona..” Ujar Suho kaget begitu melihat Tiffany sudah berdiri di depan rumahnya. Gadis itu tersenyum lalu berlari kearahnya dan memeluknya. Suho terdiam. 

Extrofer Caffe… 

“Kenapa Noona kemari?” Suho memulai pembicaraan. Nada bicaranya tak sehangat dulu. Kini terkesan datar. 

Tiffany tersenyum. “Mencarimu. Kenapa, apa kau tak suka aku menemuimu?” 

“Ya.” 

Tiffany kaget dengan penyambutan Suho yang di luar perkiraannya. Padahal baru beberapa bulan lalu mereka tak bertemu tapi pemuda di hadapannya itu bersikap dingin padanya. “Suho-ah.” 

“Pulanglah Noona, disini bukan tempat Noona. Ayah Noona pasti sangat mengkhawatirkan keadaan Noona saat ini.” 

“Aku tak peduli.” 

“Tapi aku sangat peduli.” Suara Suho terdengar sangat ditekan. 

Tiffany menatapnya sendu. “Kenapa? Kenapa kau berubah?” 

“Setiap manusia pasti akan mengalami perubahan dalam hidupnya.” 

Kembali Tiffany menunduk. Hatinya sakit melihat perubahan pemuda yang 3 tahun lebih muda darinya itu. Dulu saat di Inggris mereka sangat dekat bahkan seperti tak bisa dipisahkan dan Suholah yang paling mengerti keadaannya. Semua temannya mengatakan bahwa mereka adalah pasangan serasi. Namun sayangnya Suho tak pernah mengungkapkan perasaan yang sebenarnya pada gadis bermata indah itu. Mereka saling mencintai. 

Mereka terdiam cukup lama di cafe itu. 

“Aku sudah menelfon ayah Noona, sebentar lagi jemputan akan datang.” Selesai berkata seperti itu Suho meninggalkan Tiffany. Gadis itu menangis. Saat pengawal keluarga Hwang datang menjemput anak majikannya, Suho hanya bisa menatap kejadian itu dengan hambar. Hatinya bahkan lebih sakit karena harus melakukan hal itu. 

‘Maafkan aku Noona, aku benar-benar minta maaf. Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu.’ Tanpa sadar ada airmata yang menetes di pipinya. 

Suho ingat akan kata-kata Tuan Ian Hwang, ayah Tiffany waktu di Inggris dulu sebelum dia memutuskan untuk meninggalkan London selamanya. 

“Tiffany memang bukan anak kandungku tapi aku sangat menyayanginya seperti anak kandungku sendiri. Ayah kandungnya seorang atlet sepak bola sepertimu, tetapi lelaki itu meninggalkan Tiffany dan ibunya hanya untuk sebuah mimpi. Karena itulah aku melarang Tiffany berhubungan dengan laki-laki manapun yang bekerja sebagai atlet sepak bola. Aku tidak mau apa sejarah ibunya terulang kembali padanya. Aku minta padamu tinggalkan dia.” 

“Itu tidak mungkin Tuan.” 

“Jika kau tak mau meninggalkannya, maka aku yang akan memaksa kalian untuk berpisah.” 

“Tuan Hwang tidak semua lelaki sama seperti ayahnya. saya..” 

“..anak muda,” Tuan Hwang tersenyum. “Ingat baik-baik perkataannku ini. Kau mempunyai seorang kakek yang bekerja di toko keramik dan kau juga nemiliki seorang paman yang sedang menjalankan bisnis pengalengan ikan di daerah Busan. Bisnisnya cukup lancar bukan?” Lelaki itu menatap Suho sinis. 

Suho yang mendengarnya terkejut dan entah kenapa firasatnya cukup menakutkan pikirannya. 

“Hanya dengan hitungan menit aku bisa membuat usaha Kim Ryeowook bangkrut. Dan aku juga bisa membuatmu tak bisa diterima bekerja di tempat manapun.” 

Suho berdiri dari duduknya. “Tuan anda benar-benar…” Pemuda itu tak meneruskan kata-katanya, sebisa mungkin dia menahan amarahnya di depan lelaki yang menjadi salah satu orang disegani di negaranya itu. Ya, Ian Hwang adalah salah seorang mentri di Korea. 

“Pikirkan baik-baik anak muda, masa depanmu kau sendiri yang menentukan. Jika kau ingin selamat berpisahlah dari putriku tapi jika kau ingin hancur dengan senang hati aku akan menghancurkanmu sehancur-hancurnya.” 

Suho mengepalkan tangannya kuat-kuat, dia ingin melawan tapi ia sadar siapa dirinya. Lelaki paruh baya itu menyodorkan selembar kertas yang sudah bermaterai pada Suho. 

“Itu surat pernyataan bahwa kami keluarga Hwang tidak akan mengganggu hidupmu juga keluargamu selama kau menjauhi Tiffany.” 

Suho bergetar menatap surat pernyataan tersebut. Dia tak mempunyai pilihan, yang ia korbankan adalah cinta pertamanya. Tangannya bergerak mengambil kertas itu lalu menandatanginya dan menyerahkannya pad Tuan Hwang. 

“Kau sudah melakukan yang terbaik.” 

“Tuan… apa begitu menyenangkan bagimu menjadi seorang yang berkuasa dan memisahkan kami?” 

“Mungkin kau akan menyesal sekarang dan juga sangat membenciku, tapi ingatlah suatu saat kau akan berterima kasih padaku karena aku sudah menyelamatkan hidupmu. Berbahagialah dengan gadis lain.” 

Suho mengangguk samar. “Terima kasih.” 

Lelaki itu menatapnya heran. 

“Terima kasih sudah menyadarkan saya, menyadarkan bahwa cinta bisa dibeli dengan sebuah kekuasaan.” 

Suho tersadar dari lamunannya, ia hanya bisa tersenyum tipis melihat Tiffany memasuki mobilnya dengan bodyguarnya dan beberapa deting kemudian mobil itu meninggalkan Extrofer cafe. Malam mulai beranjak. Pemuda itu menatap langit. 

©©©© 

Di satu tempat lainnya. 

Sulli terdiam. Ia ingin menangis tapi tak bisa. Gadis itu membisu di tengah kegelapan malam. Sementara Yifan sudah tertidur di sampingnya. Ia ingin memukul pemuda playboy yang memaksanya tidur malam ini. Ia ingin memukul, menampar, memaki atau apa sajalah agar membuat Yifan benar-benar menyesal dan berjanji tak mengulangi nya lagi. Tapi semua hanya ada di angan-angannya. Ia tak mungkin melakukannya. 

Sulli menarik selimut yang menutupi tubuhnya. Ia tercekam rasa takut. Menggigil dalam kesunyian. Sulli menangis. 

Samar-samar Yifan memicingkan matanya, dia terbangun gara-gara mendengar isak tangis gadis yang dicintainya. Pemuda itu menggeser tubuhnya lalu merengkuh Sulli dan memeluknya. Sayangnya gadis itu mendorong kuat tubuhnya dan menuju kamar mandi lalu menguncinya. Dihidupkannya shower itu kemudian ia menangis lagi. 

Dengan lemas ia menyandar pada dinding. Tubuhnya berguncang menahan tangis lalu perlahan tubuhnya mulai merosot ke lantai. 

“Sulli-ah!” Yifan memanggil namanya berulang-ulang dari luar sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi. Tetap saja tak ada jawaban. Sulli terus menangis. 

‘Kenapa aku lemah terhadapnya? Mengapa aku tak bisa membencinya? Aku benci diriku yang seperti ini.’ 

Sementara di luar, Yifan bersandar pada tembok yang memisahkan dirinya denga Sulli. Perlahan tubuhnyacjuga ikut merosot ke lantai. Dia menjambak rambutnya pelan. Pikirannya benar-benar kacau. Ini sudah kedua kalinya dia membuat Sulli menangis seperti itu. 

‘Bodoh.. bodoh.. dasar bodoh! apa yang sudah kau perbuat Wu Yifan?! Dia pasti membenci seumur hidup’ 

Yifan frustasi. “Sulli-ah… maafkan aku.” Suaranya terdengar pelan. Dia juga ingin menangis. 

Sulli tak mendengarkarena gadis itu menangis keras di dalam. 

©©©©

SMA Parang, Kelas 2-1 

“Choi Sulli.” Guru matematika pak Leeteuk mengabsen muridnya satu-persatu. Semua siswa di kelas itu menatap bangku kosong nomer 3 dari depan samping jendela. Ini sudah 1 minggu lamanya Sulli tidak masuk sekolah. Bahkan tak ada satupun yang tahu kemana si juara paralel perginya. 

“Hei Kwon Yuri, kamu kan sahabatnya memangnya kamu tidak tahu Sulli kemana?” Tanya Onew sang ketua kela 2-1 saat mereka berada di lapangan sepak bola. 

“Sulli tidak masuk? Setiap hari aku melihatnya memakai seragam sekolah dan kami selalu bertemu di kereta.” 

Onew mengangguk. “Apa iya? Hari ini dia bolos lagi, loh.” 

Yuri menggeleng tak percaya. “Mana mungkin Sulli berani bolos. Asal kau tahu kakek Sulli itu lebih mengerikan dibanding kepala sekolah kita Lee Sooman.” Jelas gadis itu. Lee Sooman adalah kepala sekolah sekaligus pemilik SMA Parang yang paling ditakuti dan disegani semua murid-murid SMA tersebut. Dari jaman ke jaman anak-anak SMA Parang menyebutnya ‘Si Muka Gorila’ 

“Tapi Sulli sudah 1 minggu tidak masuk sekolah.” 

“APA?” Yuri kaget sekali, dia menatap Onew. “Kau tak bertanya pada kapten bule itu?” 

Onew tersenyum kecut. “Jika aku bertanya tentang Sulli pada kapten sama saja aku mengantar nyawa.” 

Yuri mengangguk paham. Yifan adalah pencemburu berat. 

©©©© 

Sementara itu kereta berjalan cepat meninggalkan daerah Seoul. Diantara banyaknya orang Sulli duduk menyendiri hingga ada kaleng minuman yang masih utuh terulur padanya. Gadis itu menengadahkan wajahnya. 

“Minumlah.” Ucap pemuda itu sambil duduk di sebelahnya. Pemuda itu tersenyum tulus membuat Sulli tak ragu menerima minuman kaleng tersebut. Sulli mencoba membuka kaleng minuman itu tak juga berhasil meski dicobanya berkali-kali. Tanpa berkata apa-apa pemuda itu mengambil minuman kaleng dari tangan Sulli. Membukanya dengan satu gerakan mudah lalu menyerahkannya pada Sulli. 

“Terima kasih.” Kata Sulli pelan, perlahan dia meneguk minuman itu pelan. Matanya masih sembab karena habis menangis hingga matanya terlihat sipit. 

Sejenak Sulli menatap wajah yang tak asing baginya. Ya, dia adalah pelatih muda yang keren dan tampan itu kini duduk di sampingnya. Matanya fokus pada koran yang dibacanya. Tiba-tiba saja perut Sulli berbunyi. 

“Kau belum sarapan?” Pemuda itu mengalihkan pandangan matanya pada Sulli. Sulli menggeleng malu. 

Suho tersenyum lalu mengeluarkan bekal yang dibawanya dan memberikannya pada Sulli. “Sebagai gantinya jangan bolos sekolah lagi.” Lanjutnya santai seolah tahu apa yang ada di pikiran anak itu. 

Awalnya Sulli ingin menolak tapi aroma bekal yang disodorkan itu berhasil menggoda perutnya, diapun menerima bekal itu dan menyantapnya tanpa sisa. 

“Kenapa pelatih tahu kalau saya bolos?” 

Suho tersenyum simpul, matanya tetap fokus pada koranyang dibacanya saat ini. “Sebenarnya aku tidak tahu. Tapi 3 hari berturut-turut melihatmu di kereta dan tidak turun juga meski sudah sampai stasiun dekat sekolah, aku menyimpulkan bahwa kau bolos.” 

Sulli menatap wajah pelatih muda itu. ‘Wajahnya tampan dan menarik, walau masih kalah tampan jika dibanding Yifan. Juga masih tinggi Yifan. Tapi wajah pelatih ini seperti memiliki sesuatu yang bahkan Yifan tak memilikinya. Karisma. Yifan tak memiliki karisma seperti pelatih Kim.’ 

“Apa yang kau lamunkan?” 

Sulli tersadar karena sudah cukup lama dia menatap wajah pelatihnya itu. “Tidak ada.” 

Suho melipat korannya. “Sang juara paralel tiba-tiba bolos sekolah, aku rasa itu bukan hobi barumu. Jadi apa masalahmu?” 

Wajah Sulli kaget bukan main, kenapa pelatihnya ini bisa tahu kalau dirinya sedang punya masalah? “Tidak ada masalah serius. Hanya saja bosan.” Kilahnya sambil menatap ke luar jendela. 

“Kau tak bisa bohong.” 

“Saya tidak bohong.” 

“Benarkah?” Suho menatap tepat ke dalam retina gadis bermata sipit itu. Seketika Sulli terhipnotis saat menatap mata pelatihnya. ‘Astaga, dia mempunya sebuah tatapan mata yang sanggup merontohkan kebohonganku. Tatapan mata yang seolah menutunku untuk berkata jujur.’ 

Merasa aneh dan sudah membuat salah tingkah muridnya, Suho jadi tidak enak. “Apa di wajahku ada sesuatu?” Tanyanya heran. 

Sulli menggeleng. 

“Sebentar lagi aku turun di stasiun ini, tidak baik anak sekolah sepertimu bolos. Pulanglah jika kau tak ingin sekolah.” Ujar Suho hampir beranjak. 

“Tiket..” 

“Eh?” 

Sulli menunduk malu. “Saya sudah tak punya uang untuk membeli tiket pulang.” Jawabnya polos. 

Suho berpikir sejenak. Lalu tanpa ragu memberikan tiket yang tadi dia beli. “Terima dan pulanglah.” 

Sulli menerima tiket itu. “Pelatih sendiri?” 

“Aku bisa membelinya lagi nanti, waktu mengajarku sudah tiba, jika tidak cepat-cepat turun aku bisa telat mengajar di SMA Kirin.” 

“Pelatih juga mengajar di SMA Kirin?” 

“Ya, menjadi guru pengganti bahasa Inggris sementara.” Suho segera berlalu. Sulli menatap hingga punggung itu hilang dibalik keramaian. 

©©©© 

Pulangnya Suho dikagetkan dengan keadaan Sulli yang masih juga belum pulang. Gadis itu tertidur di bangku stasiun. ‘Astaga, kenapa anak ini masih disini? apa dia tidak takut diculik?’ Suho mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh pundak Sulli tapi mendadak tangannya berhenti bergerak, padahal tinggal sedikit lagi. Pemuda itu mengurungkan niatnya begitu melihat wajah Sulli yang tertidur pulas. Dia tidak tega membangunkannya. Diapun duduk di samping gadis itu. 

30 menit kemudian. 

Sulli terbangun sendiri dari tidurnya karena suara kereta, hal pertama yang dilihat adalah sosok pelatih yang ada di sampingnya. 

“Di dekat sini ada kedai ramen.” Suho melipat korannya. “Jika tidak cepat antriannya bisa panjang sampai malam.” 

Seperti mengerti maksud pelatihnya, Sulli menurut saja saat diajak makan. Bahkan gadis itu menghabiskan 2 porsi. 

“Pelatih besok saya pasti kembali sekolah.” Ujar Sulli ceria. 

“Tentu saja, kau sudah menghabiskan bekalku.” Canda Suho. “Sudah bosan membolos?” 

Sulli menggeleng. Setidaknya wajahnya kini tidak sesedih tadi pagi saat bertemu. Wajah itu kini tersenyum ceria. 

“Kenapa?” 

“Karena saya ingin melihat wajah pelatih besok.” Sulli membungkuk hormat lalu pamit pada pelatihnya saat kereta sudah berhenti di pemberhentian kota Seoul. Suho tertawa mendengarnya membuat Sulli ikut tertawa. 

“Tentu saja, jangan membuat anak didikku uring-uringan setiap hari karena memikirkanmu terus. Wu Yifan mencemaskan keadaanmu.” 

Sulli mengangguk. 

©©©©