Namitsutiti

[FF-Freelance] Every Heart – Part 9 END

Leave a comment


Author : Ren Hikaru

Tittle : Every Heart

Cast : Choi Sulli, Kim Suho, Wu YiFan

Status : Completed – Season 1

.

.

.

PART 9 END

Suho terlihat frustasi duduk sendiri. Dia berdiri lalu berjalan kesana kemari bak setrikaan baju. Berkali-kali dia menggigit ujung kukunya. Pikirannya kacau. Selang beberapa menit kemudian seorang dokter dengan wajah yang tak bisa diprediksi itu keluar. Suho segera mendekatinya. 

“Tuan Kim, selamat menjadi seorang ayah. Putra anda lahir dengan selamat, dia sangat sehat dan tampan seperti anda.” 

“Ibunya?” Tanya Suho. 

Dokter itu diam. “Silahkan..” 

“..aku tanya bagaimana keadaan ibunya, dokter! Bukan bayinya!” Potong Suho cemas. 

Dokter itu menatapnya iba. “Maafkan kami Tuan Kim, kami sudah berusaha tapi Tuhan berkehendak lain. Kami gagal menyelamatkan ibunya. Maafkan kami..” 

Kaki Suho terasa lemas. Dia jadi linglung seketika. Dia bahkan tak mendengar tim dokter saat memanggil namanya berulang-ulang. 

“Tuan Kim.” 

Suho tetap bisu meski berkali-kali dipanggil hingga akhirnya sebuah tamparan kera mendarat di pipinya. 

PLAKK!! 

Suho terlonjak kaget. Pipinya terasa panas. Dia menatap tim dokter yang menatapnya sambil tersenyum aneh. 

“OPPA KENAPA DIAM SAJA!! TEMANI AKU!” Sulli berteriak seperti habis dicopet. Sudah kesakitan tapi suaminya itu dari tadi hanya bengong seperti orang bodoh. 

Suho meraba pipinya. Sakit memang. Tapi melihat Sulli masih hidup dan masih berteriak-teriak kesakitan. 

“OPPA!!” 

‘Astaga.. kupikir tadi nyata, syukurlah.’ Suho tersenyum senang melihat Sulli yang mencengkram tangannya supaya tak ditinggalkan. Pemuda itu mengangguk. “Aku akan menemanimu. Jangan khawatir.” 

15 menit kemudian… 

“Aaaakkh!!” Sulli berteriak kesakitan saat proses persalinannya, dia tak pernah menyangka akan merasa sakit yang luar biasa. Umur gadis itu masih 16 tahun tapi harus melahirkan secara normal. Suho terus menggenggam tangannya dan dan terus menyemangatinya agar tak menyerah. 

“Tahan sebentar lagi Sulli-ah, kau bisa.” Ujar pemuda itu seolah memberi kekuatan. Gadis itu menggeleng. “Kau pasti bisa.” 

Tim dokter yang menangani proses persalinan itu dengan sabar memberi petunjuk supaya Sulli mengikuti apa yang mereka suruh. Lucunya jika Sulli berteriak terkadang Suho juga ikut berteriak panik ketika Sulli menjerit kesakitan. 

30 menit sudah berlalu, tapi kepala bayi itu belum juga muncul sementara Sulli sudah kehabisa tenaga. Suhopun ikut seperti kehabisan tenaga melihat perjuangan istrinya itu. 

“Oppa.. aku sudah tidak kuat.” Ujar Sulli melemah. 

“Tidak, kau harus bertahan! Kumohon sabarlah, tahanlah sedikit lagi. Kamu pasti bisa.” Kata Suho clkhawatir bukan main, dia takut mimpinya tadi menjadi kenyataan. “Sulli-ah..!” Suho semakin panik saat melihat wajah Sulli mulai pucat, tubuhnya tak lagi bertenaga dan cengraman tangannya mulai melemah. 

“Nyonya Kim, anda mendengar kami?” Tanya tim dokter itu cemas. 

Mata Sulli mulai terpejam, dia sudah kelelahan menghadapi persalinannya. Pandangannya mulai kabur dan pendengarannya sudah hampir tumpul meski Suho meneriaki namanya. 

“Choi Sulli kau harus bertahan!! Buka matamu! Ayo tampar aku lagi!!” Suho berteriak gila melihat Sulli tak bergerak namun masih busa bernafas. 

“Dokter kita tak bisa terus memaksanya, bagaimana jika dia tetap tak bisa?” Tanya salah seorang perawat yang ikut membantu proses persalinan itu. 

“Kita lakukan vacum segera.” 

“Vacum apa maksudnya? Dokter tolong selamatkan mereka.” Pinta Suho. 

“Vacum adalah sejenis alat yang berfungsi untuk menarik kepala bayi supaya keluar, hal ini sering dilakukan jika sang calon ibu sudah tak sanggup lagi mengejan dikarenakan air ketuban sudah mulai mengering dan si calon ibu sudah kehabisan tenaga.” Jelas dokter itu sabar. Dia tahu jika pemuda disampingnya itu sangat cemas karena kelahiran anak pertama. “Berapa usia istrimu?” 

“16 tahun.” 

Dokter itu tersenyum. 

“Kami akan berusaha sebaik mungkin.” 

30 menit kemudian.. 

Suara tangis bayi memecah keheningab penghujung pagi. Suho terharu menyambut bayi kecil kemerahan dan masih berdarah itu. Laki-laki dengan mata biru secerah milik Wu Yifan. 

Suho tersenyum bahagia mendapatinya. ‘Anakku.’ 

“Oppa.. dia laki-laki atau perempuan?” Tanya Sulli lemah. 

Suho tersenyum padanya. “Dia jagoanku yang akan bermain bola denganku kelak.” 

Sulli terisak bahagia, rasa sakit yang luar biasa tadi mendadak lenyap begitu melihat makhluk mungil tak berdosa itu keluar dari perutnya. Setelah bayi laki-laki itu dibersihkan Sulli segera menggendongnya. Dia menciumi wajah bayinya dengan haru lalu menyusuinya. 

Tiba-tiba Suho menium keningnya membuat Sulli terdiam. “Terima kasih sudah bertahan.” Ujarnya sambil tersenyum. Sulli hanya mengangguk. Ini morning kiss pertamanya. 

©©©© 

Berlin.. 

Pasien bernama Kris Wu itu akhirnya membuka matanya. Suster penjaga itu segera memberi tahu dokter Peter. Selang beberapa menit dokter itu selesai memeriksa keadaanpasien istimewahnya. Diapun segera menghubungi pihak keluarganya. 

Keadaan mantan suami-istri itu mulai membaik, setidaknya mereka sudah tak saling menyalahkan lagi. Bagi merekachanya Kris. 

“Kris mengalami kemajuan, hari ini dia sudah membuka matanya. Tapi dia tetap lumpuh. Meski begitu dia bisa mendengar dan melihat di sekitar walau tubuhnya susah digerakkan.” Jelas doktet Peter. 

“Apa yang harus lakukan?” Tanya Juana. 

“Tetap menyemangatinya agar terus bertahan. Keajaiban sudah terjadi, kita tinggal menunggu dia bicara dan bergerak. Tidak boleh menampakkan wajah sedih di depannya.” 

“Terima kasih Tuhan..” Bisik Albert. 

“Ohya, apakah kalian tahu apa yang paling Kris inginkan? Segeralah penuhi dengan begitu akan mempercepat kesembuhannya.” 

Lagi-lagi mereka mengangguk pasrah. 

©©©© 

Bayi berkulit putih itu tertidur pulas dipangkuan Sulli. Bayi laki-laki itu sangat mirip dengan Wu Yifan atau Kris. Mulai dari kulitnya yang putih, matanya yang tajam berwarna biru cerah dan rambutnya yang putih keemasan. Benar-benar duplikat seorang Kris Wu. 

Suho tersenyum menatap istrinya tak tak henti-hentinya mencium wajah bayi itu. “Kau sudah menyiapkan nama?” 

“Oppa saja yang memberinya nama.” Jawabnya tanpa ragu, bahkan matanya tak mau lepas menatap makhluk mungil tampan itu. Bayi itu sungguh menggemaskan. 

“Terserah aku?” 

“Hm.” 

Suho pura-pura berpikir keras, padahal dia sudah menyiap nama sejak dulu. “Yifan? Kim Yifan?” Godanya. 

“Oppa!” Sulli cemberut. Dia menatap suaminya sebal. 

“Kau bilang terserah aku, kan?” Suho menahan tawa. 

“Kecuali satu nama itu.” Jawabnya judes. Reaksi Sulli barusan membuat bayi itu takut dan menangis. 

“Ya ampun, baru beberapa jam menjadi ibu sudah judes begitu, lihatlah dia menangis ketakutan.” Suho segera mengambil bayi itu lalu menimang-nimangnya. 

“Oppa yang memulai.” 

Suho tersenyum menatap bayi itu. “Namamu adalah Sehun. Kim Sehun.” Ujar Suho pada bayi itu. 

“Sehun?” 

“Ya, mulai sekarang namanya adalah Sehun.” Suho mencium bayi itu. “Sehun-ah cepat tumbuh besar ya, kita akan bermain bola bersama.” 

Ajaib. Sehun akhirnya diam seolah mengerti apa kata ayahnya. 

©©©©

Advertisements

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s