Namitsutiti

[FF-Freelance] Every Heart – Part 8

Leave a comment



Author : Ren Hikaru

Tittle : Every Heart

Cast : Choi Sulli, Kim Suho, Wu YiFan

Status : Completed – Season 1

.

.

.

PART 8

Berlin. 

Kris terbaring damai, kepalanya agak miring, tubuhnya santai dan rambutnya mulai panjang. Termasuk pasien istimewah. Ruang perawatan yang paling mewah. Sangat dingin dan terjaga dengan peralatan yang menunjukkan detak jantung. Tekanan darah dan infus di kedua tangannya. Beberapa dokter ahli yang keluar masuk dan perawat yag selalu ada di dekatnya. 

Dan seorang gadis kecil berusia 6 tahun yang tak bosan-bosannya membacakan cerita di samping pemuda tampan itu. Victoria Song, putri tunggal dokter Peter Song yang bertugas mengontrol keadaan Kris. 

“Papa, kenapa kakak ini tidak bangun-bangun ya? Apa dia tidak bosan tidur terus?” Tanya Victory lugu. 

Dokter Peter cuma tersenyum, ia jongkok mengimbangi putrinya. “Karena belum waktunya dia bangun, mungkin masih lama.” 

“Tapi apa kakak ini tidak lapar?” 

“Tidak, karena kakak ini kuat. Makanya kau harus kuat seperti dia, jangan sakit lagi, jia waktunya minum obat, ya harus minum agar cepat sembuh.” 

Gadis cilik itu mengangguk, matanya tertuju pada jemari Kris yang mulai bergerak. “Papa.. telunjuknya mulai bergerak, lihatlah.” Tunjuk Victory. 

Dokter Peter segera memeriksa keadaan Kris. Meski lewat 6 bulan lamanya pemuda itu belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Namun hari ini keajaiban itu mulai menghampirinya. “Terima kasih Tuhan..” Ucapnya senang. 

©©©© 

Sepertinya Sulli mulai menyukai Suho. Gadis itu semakin hari semakin dibuat terharu dengan sikap suaminya itu. Tadi Suho menunjukkan 2 kamar yang sudah direnovasi menjadi kamar anak-anak. Kamar si kecil kelak. 

Kamara pertama bernuansa biru dan cerah. Lengkap dengan peralatan bayi, mulai dari baju, sepatu, mainan dan bermacam-macam pernak-pernik lucu untuk ditinggali seorang anak kecil kelak. Kamar kedua bernuansa Pink dengan atribut berbagai tokoh barbie. Lengkap juga dengan segala macam pernak perniknya. Suho sengaja menyicil membeli keperluan itu sejak lama. 

‘Oppa.. jangan terlalu baik padaku. Aku takut nanti tak bisa menahan perasaanku lalu jatuh cinta padamu.’ Sulli menatap sedih punggung Suho yang sibuk menghiasi dinding bernuansa Pink itu. 

“Sulli-ah, kau suka? Jika tidak aku akan mengganti..” 

“Aku suka, benar-benar suka..” Potongnya cepat. “Oppa terima kasih.” 

Suho tersenyum. “Tapi ini tidak gratis, kau harus ikut denganku sore ini melihat sakura di dekat pegunungan belakang rumah. Bagaimana?” 

Sulli mengangguk. “Ya.” 

“Siapkan bekal tapi jangan terlalu asin seperti kemarin.” 

Sulli tertawa. Soal memasak dia memang sangat payah. “Aku akan berusaha sebaiknya.” 

©©©© 

Akhirnya waktu yang ditunggupun tiba. Sebenarnya jaraknya cukup dekat hanya berjalan kaki sekitar 600 meter mereka sudah sampai. 

Mereka berdiri menatap sakura yang bermekaran indah itu. Angin sore berhembus pelan berusaha memain-mainkan rambut ikal gadis cantik itu. Wajah Sulli terlihat sangat ceria. 

“Indahnya..” Puji Sulli terpesona pada kelopak sakura yang berguguran dan terbang angin. Bibirnya tersungging membentuk senyuman yang melebihi indahnya sakura yang mekar saat ini. 

Suho menatapnya yang tersenyum lepas itu. Ada getaran aneh yang kembali melanda hatinya. Kilatan mata tajamnya tersihir oleh kecantikan alami wajah istrinya itu. 

Tatapan matanya turun kearah bibir Sulli. Sebuah bibir mungil tipis yang kemerahan dan terukir sempurna. Pantas saja jika bule super tampan selevel Wu Yifan tergila-gila pada gadis ini. Sulli sangat cantik dan manis. 

Meski matanya tak sebolak mata Yuri, namun saat tersenyum matanya seolah ikut tersenyum. 

Diam-diam Suho selalu menghentikan tatapannya pada bibir gadis itu. Terkadang dia berfikir bagaimana rasanya jika dia mencium bibir itu diam-diam dan Sulli mengetahuinya. 

Suho tersenyum. “Ya, benar-benar sangat indah.” Ujarnya tanpa sempat melepas tatapan matanya ke arah lain. 

“Oppa lihatnya kemana sih? Sakuranya kan disana?” Tanya Sulli heran. 

“Eh?” Suho menyadari kebodohannya.Reflek dia memalingkan wajahnya yang mulai kemerahan. ‘Astaga, apa yang tadi aku pikirkan?!” 

“Oppa..” Sulli menegok wajah suaminya heran. 

Suho memaki dirinya. “Ohya bukannya tadi kau ingin menanyakan sesuatu, katakan saja sekarang.” Kata pemuda itu berusaha mengalihkan topik. 

Sulli terlihat ragu. “Oppa percaya ubgkapan First love never deep?” Tanya gadis itu hati-hati. Sebenarnya Sulli ingin menanyakan hal itu tentang Tiffany. Ya, cinta pertama Suho. 

Sayangnya Suho salah paham, dia mengira Sulli bertanya tentang cinta pertamanya pada sosok tampan Wu Yifan. “Aku percaya.” Jawab Suho datar. 

“Bisa dilupakan?” 

Suho tersenyum, dia menatap istrinya. “Sampai kapanpun yang namanya cinta pertama tak akan pernah bisa dilupakan. Sekeras apapun kau berusaha melupakannya maka cinta pertama itu akan terus hidup. Dia akan terus dikenang sampai mati.” 

Sulli memalingkan wajahnya. ‘Oppa.. ternyata kau memang tak akan pernah bisa melupakan Tiffany. Kau bodoh Choi Sulli. Benar-benar bodoh!! Begitu bodohnya hingga berani mengkhayal Suho akan jatuh cinta padamu. Kau pikir dirimu siapa?’ Tangan gadis itu bergetar, ada airmata yang mulai meloncat dari bola matanya. 

Suho jadi heran. Dibaliknya tubuh itu hingga saling berhadapan dengannya, Dia menggapai wajah Sulli. Mereka saling menatap mata satu sama lain. Wajah Sulli begitu terluka. “Sulli-ah.” 

Sulli terisak. Ada rasa sakit yang menjalar di hatinya. 

“Aku tak keberatan jika kau masih memikirkan Wu Yifan. Walau kalian tak bisa bertemu, aku selalu akan ada di sampingmu. Jangan lupakan dia.” 

Sulli terisak. “Oppa..” 

Suho mendekapnya, membiarkan gadis manis itu menumpahkan tangisannya agar melepas rindu. “Kau tak perlu mengatakan apa-apa, aku mengerti. Bagiku kau sangat penting meski kau tak menganggapku yang pertama. Jangan takut, aku selalu ada untukmu.” 

“Lalu oppa sendiri?” Sulli mendongakkan wajahnya. Menatap mata Suho. 

Suho tersenyum. Dia mengacak rambut itu sejenak. “Apa kau tidak tahu? Aku itu laki-laki dan laki-laki itu sangat kuat, aku lebih kuat dari yang kau kira.” 

Sulli mendorong tubuh itu sebal. “Bukan itu maksudku.” 

“Lalu apa?” Suho jadi bingung. 

“Gadis yang bernama Tiffany. Bagaimana dengan dia? Apa oppa yakin bisa melupakannya?” 

Suho kaget, bagaimana mungkin Sulli bisa tahu tentang Tiffany? Dia bahkan tak pernah membahas soal Tiffany. “Itu..” 

“Maaf, aku tak sengaja tahu. Saat oppa mabuk, oppa menyebut nama Tiffany sambil menangis. Oppa sangat mencintainya, kan?” 

Suho terdiam, dia ingat malam itu mabuk tapi dia tidak ingat apa yang sudah terjadi dan apa yang sudah dia katakan. 

“Oppa bilang..” 

“..jangan dilanjutkan.” Potongnya bergetar. “Aku tak ingin mendengar kelanjutannya.” Pandangan matanya berubah lebih gelap dari biasanya. Dia menatap Sulli. “Jangan pernah sebut namanya lagi di depanku.” 

“Oppa..” 

“Kau memang bukan yang pertama tapi kaulah yang terakhir dan menjadi satu-satunya wanita dalam hidupku. Sulli-ah, sebenarnya kita ini sama. Kita mengalami cinta pertama yang tak bersambut. Aku tak mungkin bisa menggantikan posisi Yifan di hatimu.” Disentuhnya pipi gadis itu. “Biarkan tempat itu kosong karena aku yakin Yifan akan datang padamu suatu hari nanti.” 

Sulli menggeleng. ‘Oppa.. aku tak membutuhkan Yifan, tidakkah kau sadar jika aku mulai jatuh cinta padamu?’ 

Suho tersenyum pahit.’Sulli-ah, tak adakah tempat untukku sedikit saja di hatimu? Meski hanya satu detik?’ 

‘Oppa.. tak bisakah aku menggantikan kedudukan Tiffany di hatimu? Apa sebegitu besarnya cintamu padanya? Atau tak pantaskah aku bersanding denganmu?’ 

‘Sulli-ah.. aku mencintaimu.’ 

Merka saling menatap bisu. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulut mereka hanya sebuah tatapan yang saling meminta namun tak bisa diucapkan. 

“Sulli-ah berjanjilah kita akan bersahabat sampai mati.” 

“Sahabat?” Sulli tak percaya. ‘Hanya sahabat?’ 

Suho mengangguk lalu merengkuhnyake dalam pelukannya. “Menjadi sahabat hati selamanya.” Bisiknya. Sulli mengangguk meski hatinya menginginkan hal yang lebih. 

©©©©

‘Sahabat hati? Apa maksudnya?’ Sulli masih memikirkan kata-kata Suho. Dia bingung dengan pernyataan itu hingga tak bisa tidur sampai saat ini. Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Gadis itu menatap punggung suaminya yang sedang membelakanginya sekarang. 

Sulli tersenyum pahit. ‘Tiffany eonni.. beruntung sekali kau bisa dicintai laki-laki seperti Suho oppa. Sejujurnya aku membencimu walau aku tak tahu seperti apa wajahmu. Oppa.. padahal kita sedekat ini haya beberapa centi dariku. Rupanya aku salah mengira, kupikir oppa mulai menyukaiku.’ Sulli membalikkan tubuhnya hingga keadaannya sekarang saling membelakangi. 

“Kau menangis?” 

Dengan cepat Sulli menghapus airmatanya. ‘Kenapa oppa bisa bangun?’ Saat dia menoleh, kepala Suho sudah condong menatap wajahnya. 

“Sulli-ah kau menangis?” Ulangnya. 

“Tidak.” 

“Kau bohong lagi. Baiklah aku anggap salah mendengar isak tangismu tadi.” Suho kembali ke posisi semula. 

Tiba-tiba.. 

“Aduh!” Sulli meringis kesakitan sambil memegang perutnya hingga membuat Suho langsung bangun dan menatapnya cemas. 

“Kenapa?” Tanyanya cemas sambil menatap wajah istrinya khawatir. 

“Bayi ini menendangku.” Jawabnya polos sambil memegang perutnya yang barusan bergetat. 

Suho tertawa. “Wah, dia sudah belajar menendang dari perutmu. Aku semakin yakin kalau dia laki-laki.” Tebak Suho. Lalu dia mengusap perut Sulli yang membuncit itu. “Jagoan kecil, ayo cepat keluar, ayah akan mengajarimu bermain bola nanti.” 

Mata Sulli sedikit memanas begitu Suho menyebut dirinya ‘ayah’ pada bayinya tadi. Ada rasa bahagia yang tak bisa diucapkannya hingga dia ingin menangis sekarang. 

“Kenapa?” Selidik Suho heran melihat ada airmata yang mulai menetes dari matanya. 

“Aku senang saat oppa menyebut kata ayah tadi.” 

“Memangnya kenapa, kaukan istriku. Sudah tentu anak ini akan menjadi anakku bukan?” Dia kembali mengusap perut buncit itu. “Iyakan jagoanku? Kita akan bermain bola jika kau lahir nanti, jadi berhentilah menendang perut ibumu.” 

Sayangnya bayi yang ada di dalam perut Sulli itu sepertinya bandel dan tak mau mendengar kata-kata Suho, karena itulah sekali lagi bayi itu menendang cukup keras hingga membuat guncangan di perut Sulli. 

“Aduh!!” 

“Hei..hei..hei.. sudah ayah katakan jangan menendang lagi, kasihan ibumu, nak.” Suho jadi gemas dan ingin sekali dia memukul bayi di dalam perut Sulli karena gemas. Sulli hanya tertawa. 

©©©© 

Pagi itu Suho sudah bersiap pergi karena ada panggilan dari tim sepak bolanya. “Kakek aku pergi, mungkin aku pulang larut karena latihan di luar kota.” Pamit Suho seraya pergi. 

Ken Hyuga tersenyum meremehkan. “Suami macam apa dia tidak memberimu morning kiss setiap pagi, padahal bertahun-tahun dia tinggal Inggris tapi sejak menikah aku tak pernah melihatnya padamu.” 

“Mo.. morning kiss?” Ulang Sulli dengan wajah memerah. 

“Iya morning kiss, ciuman di kening yang biasa dilakukan suami terhadap istrinya saat mereka akan pergi kerja. Tapi lihat apa yang sudah anak bodoh itu lakukan?” Ujarnya sewot sambil menatap Sulli yang tersipu. “Dia berlalu begitu saja, dasar tidak romantis.” 

“Kakek, sudahlah. Hari ini oppa harus cepat-cepat pergi.” 

“Anak itu benar-benar bodoh.” 

©©©© 

Mendadak tengah malam Sulli terbangun dari tidur nyenyaknya, ia merasakan perutnya sangat mulas. Gadis itupun meringis kesakitan. “Oppa..” Panggilnya sambil menahan sakit. Suho tak bergeming karena dia sudah terlelap sejak pulang dari latihan klub sepak bolanya yang cukup menguras tenaganya. “Oppa..!” Kembali Sulli mengguncang tubuh Suho. 

Perlahan Suho membuka matanya yang terasa berat lalu memandang istrinya. “Kenapa? Ini masih tengah malam.” Ujarnya sambil menguap karena masih mengantuk. 

“Perutku sakit sekali..” Jawabnya hampir menangis. 

Mata Suho langsung terbuka lebar. Rasa kantuk yang menyerangnya mendadak lenyap dan berganti rasa cemas. ‘Mugkinkah dia akan melahirkan sekarang?’ 

“OPPA SAKIT!!” Bentak Sulli setengah berteriak juga setengah marah padasuaminya yang masih bengong menatapnya. 

“Iya.. iya pasti sakit, ayo ke rumah sakit sekarang.” Jawabnya panik akan situasi yang dihadapinya saat ini. Dia menelpon pihak rumah sakit dan meminta ambulan supaya datang ke alamatnya sekarang dengan cepat. Setelah itu dia membantu Sulli turun dari tempat tidurnya dan segera ke menunggu ambulan datang. 

Selang beberap menit kemudian ambulan datang lalu membawa mereka ke rumah sakit terdekat. Sulli menjerit-jerit menahan sakit membuat pemuda itu jadi stress. 

Suho tahu dia harus siap menghadapi situasi seperti ini. Seharian tadi dia latihan sepak bola dengan timnya yang akan di kirim ke kota Busan 2 pekan lagi. Suho tergabung dalam klub sepak bola di Hyundai Sporty yang merupakan klub terbagus no 1 di Seoul. 

Dia sangat lelah usai latihan tadi dan butuh istirahat tapi hal itu tak memungkinkan karena situasinya sekarang berbeda. Sulli membutuhkannya. 

‘Ya Tuhan tolong selamatkan keduanya.’ Doanya dalam hati. 

15 menit kemudian mereka sampai di SONE Hospital dan Sulli langsung dibawa ke ruang bersalin. 

©©©©

Advertisements

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s