Namitsutiti

[FF-Freelance] Every Heart – Part 7

Leave a comment



Author : Ren Hikaru

Tittle : Every Heart

Cast : Choi Sulli, Kim Suho, Wu YiFan

Status : Completed – Season 1

.

.

.

PART 7

Musim mulai berganti, sekarang mulai memasuki musim semi. Sulli berhenti sekolah sejak menikah dan sejak itu pula dia tinggal dengan Suho. Ken Hyuga sangat menyayangi anak itu meski tak banyak bicara. Dan Suho sendiri berhenti menjadi pelatih sepak bola di SMA Parang dan sebagai gantinya dia diterima di salah 1 klub sepak bola sebagai pemain, meski bukan pemain inti. Dia juga tetap mengajar di sekolah putri Kirin sebagai guru bahasa inggris. 

“Oppa apa kau sudah selesai?” Tanya Sulli di balik pintu melihat suaminya masih mengenakan mengajarnya. 

“Ya, sebentar lagi aku turun.” Jawabnya yang masih sibuk memasang dasi. 

Selang beberapa menit kemudian Suho turun. Sulli terlihat sudah siap sejak tadi. Hari ini mereka akan jalan-jalan ke taman kota untuk menikmati indahnya sakura yang bermekaran. 

Sulli menatap Suho yang baru saja turun, pandangan gadis itu terlihat lain. Walau Suho suaminya, pemuda itu tak pernah macam-macam padanya. Suho bersikap layaknya seorang kakak terhadap adiknya. Tidurpun di tempat terpisah. 

“Suho-ah kenapa diam saja, gandeng tangannya.” Bisik kakeknya. 

“Eh?” Pemuda itu kaget. “Kenapa harus digandeng? Dia bisa jalan sendiri.” 

DUK! Ken Hyuga menjitak kepalanya sebal. “Dia istrimu.” Lelaki tua itu menatapnya geram. 

“Baiklah.” Ujar Suho sebal sambil mengelus kepalanya yang sakit. Pemuda itu mensejajarkan dirinya dengan Sulli yang membawa bekal. “Berikan bekal itu padaku.” 

“Tidak apa-apa, ini tidak berat kok.” tolak Sulli. 

“Kalau begitu berikan tangan kirimu karena tangan kananku menganggur.” 

“Eh?” Sulli kaget. 

Suho tersenyum manis. Tanpa banyak bicara dia meraih tangan kiri Sulli dan menggenggamnya. 

Ada rasa lain yang yang sedikit demi sedikit mulai memasuki hati keduanya. Perasaan gembira yang tak bisa diucapkan. Ken Hyuga tersenyum melihatnya dari belakang. 

Taman pusat kota Seoul… 

Saat ini taman pusat kota sangat ramai. Banyak sekumpulan anak sekolah, pegawai kantoran dan berbagai keluarga ikut menikmati indahnya sakura yang bermekaran. Mereka semua terlihat gembira, saling tertawa duduk diatas karpet yang mereka bawa. Tak lupa bekal yang sudah disiapkan dari rumah. Juga makananringan dan juga soju. 

Suho, Sulli dan Ken Hyuga duduk di bawa pohon sakura sambil menikmati makanan ringan. “Orang-orang jepang sering mengibaratkan sakura itu seperti kecantikan seorang wanita.” Jelas Ken sambil meneguk sojunya. “Setelah menikah kecantikan wanita jepang jadi cepat memudar. Itu karena para istri sangat penurut kepada suami dan keluarga suaminya walau dia tak menyukainya sehingga mereka lebih banyak memendam perasaannya.” 

“Kakek bicara apa sih, dia tetap cantik kok.” Ujar Suho sewot yang malah membuat wajah Sulli memerah malu. “Aku keberatan dengan pernyataan kakek. Aku lebih suka mengibaratkan sakura itu seperti kehidupan para samurai.” 

Sulli menatap Suho. “Sepertinya lebih keren.” 

“Tentu saja karena para samurai harus selalu siap mengorbankan jiwanya untuk tuannya. Hail itu sama seolah-olah hidup para samurai itu tidak panjang seperti halnya mekarnya bunga sakura.” 

“Aku lebih setuju pendapat Suho oppa dibanding pendapat kakek.” 

“Huh, kalian ini tahu apa tentang sejarah jepang.” 

Suho dan Sulli tertawa. 

©©©© 

Berlin. 

Hampir 4 bulan berlalu tapi Yifan masih saja menjadi pangeran tidur. Albert menatap miris keadaan putranya yang berbaring tak berdaya itu. Dia sadar selama ini dia sangat egois. Melihat Yifan seperti itu hatinya benar-benar hancur. 

“Hanya keajaiban yang dapat menolongnya.” Kata-kata itu terus mengiang-ngiang di telinganya. Saat melihat lokasi kejadian tabrakan itu, ia seperti tersambar halilintar. Bagaimana tidak, mobil sport biru yang baru dibelinya itu hancur dan remuk,total dan tentunya dia sangat pesimis jika mengharapkan Yifan baik-baik saja. 

“Tuan Wu kami hanya para dokter yang tak lain juga manusia biasa, kami bukan Tuhan. Kami akan berusaha semaksimal mungkin merawat putra anda. Pengobatan dan Peralatan disini meang yang paling canggih. Tapi tetap saja mustahil bagi kami untuk menciptakan sesuatu yang bernyawa. Berdoalah.” 

Albert terisak di samping Yifan. “Kris, maafkan daddy. Daddy mohon bangunlah, apapun permintaanmu akan daddy kabulkan asal kau bangun. Daddy janji.” Digenggamnya tangan Yifan yang lemah itu. 

©©©© 

Malam itu Sulli membuka pintu, Suho langsung menabraknya hingga tubuhnya bertumpu pada istrinya. Dari mulutnya tercium bau alkohol. Suho mabuk setelah pulang dari latihan sepak bola bersama teman-temannya tadi. “Oppa..” 

Suho hanya tersenyum. Dengan susah payah Sulli menyeretnya ke kamar mereka. Karena tak kuat Sulli membiarkan Suho tidur di lantai. Meski sudah menikah mereka tidur terpisah. Suho memberikan tempat tidurnya pada Sulli sedangkan pemuda itu memilih tidur di lantai dengan beralaskan kasur lantai yang lembut. 

Sulli melepas kaos kaki suaminya dan saat akan melepas jaketnya tiba-tiba Suho mencengkram tangannya keras hingga Sulli meringis kesalitan. “Oppa sakit..” 

“Noona.. aku sudah menikah. Tapi percayalah aku hanya mencintai Tiffany noona bukan dia.” Suho membuka matanya, dia tersenyum sambil mengelus pipi Sulli yang di dalam pikirannya adalah wajah Tiffany bukan isttinya. 

“Oppa..” 

“Sstttt…” Suho meletakkanjari telunjuknya di bibir gadis itu. “Noona, kenapa tibatiba rambutmu panjang, hah? Hei.. kau terlihat mirip istriku.” Suho tertawa aneh sambil mengamati sejengkal demi sejengkal wajaj Sulli. “Noona maukah kau menikah denganku? Kita ke luar negri dan hidup bersama.” 

Sulli terdiam. Dia tidak tahu kalau ada wanita lain yang dicintai Suho. Tidak tahu kenapa ada rasa aneh yang menyelimuti hatinya. 

“Padahal aku ingin menikahimu… tapi ayahmu.. hihihi.. dia mengancam akan menghancurkan hidupku. Aku bekerja keras siang dan malam di London hanya untuk membeli… cincin itu. Cincin pernikahan kita…” Suho jadi hilang kendali, pemuda itu menangis sejadi-jadinya. “Tiffany noona..” 

Sulli menatap cincin pernikahan yang dipakainya. ‘Jadi ini cincin untuk gadis bernama Tiffany itu? Cincin yang kupakai saat ini ternyata untuk gadis lain?’ Sulli menatap Suho sedih. ‘Oppa.. tak seharusnya kau menikahiku, jika begini aku hanya menghalangi masa depanmu.’ 

“Noona… aku mencintaimu..” Tangis Suho disela-sela mabuknya. “Aku mencintaimu noona..” 

Sulli menjauh. Tidak sadar ada airmata yang mengalir di pipinya. ‘Ini… airmata apa? Kenapa aku menangis? Aku ini kenapa? Kenapa malam ini dadaku sesak sekali?’ 

Gadis itu meraba bagian perutnya yang semakin membesar. Usia kandungannya sudah memasuki 7 bulan. Gadis itu ke tempat tidurnya dan,menarik selimutnya. Entahlah dia sepertinya tak ingin mendengarkan igauan suaminya saat ini. Hatinya tiba-tiba menjadi sakit saat Suho menyebut nama gadis lain. ‘Kenapa seperti ini? Suho oppa berhak mencintai gadis manapun. Kau bukan apa-apa baginya, Ingat itu Choi Sulli. Dia terpaksa menikahimu karena kasihan padamu. Kau tak boleh jatuh cinta padanya. Ingat itu. 

©©©©

Pagi itu Suho menatap Sulli yang sedang menjemur cucian di halaman rumahnya. Pandangan pemuda itu lekat menatap wajah istrinya bahkan tanpa ia sadari sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Lama Suho memandangi wajah Sulli dan kelakuannya yang nampak bodoh itu semakin lengkap dengan tangan yang menopang dagunya. 

“Suho-ah, ambilkan gunting rumput di gudang.” Perintah kakeknya yang tengah kesulitan memangkas bonsai. 

Hening. Suho tetap menikmati wajah Sulli. Karena diacuhkan, Ken Hyuga menoleh. ‘Ho.. rupanya anak bodoh itu melamun.’ Didekatinya Suho diam-diam kemudian ikut duduk di sebelahnya. Lelaki tua itu tersenyum menggoda. 

“Dia cantik, ya?” 

“Ya. Sangat cantik.” Suho tersenyum. “Entah kenapa akhir-akhir ini aku selalu ingin dekat dengannya. Aku rasa aku sudah jatuh cinta padanya.” Gumamnya tanpa sadar. 

Ken Hyuga tersenyum, ditepuknya pundak Suho dengan keras hingga pemuda itu kaget dan tersadar dari lamunannya. “Kakek kenapa mengagetkanku?!” Serunya sebal, dia mengelus dadanya sesaat karena kaget. 

“Kenapa wajahmu kaget begitu?” Goda kakeknya. 

“Kakek sendiri kenapa ada di sampingku? Bukannya mencabuti rumput?” Suho sewot bukan main. 

Kakeknya mencibir. “Kau sendiri apa yang sedang kau lakukan? Bagianmu menyapu halaman, kan?” 

“Aku.. eh..” Suho jadi gugup, dia sendiri heran dengan apa yang sudah ia lakukan saat ini. Padahal tadi dia sedang menyapu halaman tapi lihat apa yang sedang dia lakukan? Duduk bengong dan tak memegang apa-apa. Bahkan dia tidak tahu dimana sapunya ia tinggalkan. 

“Apa yang kau perhatikan hingga tak mendengar kata-kataku tadi, hah?” 

Wajah Suho memerah. “Kakek bicara apa sih? Tadi aku istirahat, tidak boleh?” Elaknya sambil berlalu mencari sapu lidinya. Tanpa menghiraukan omongan kakeknya lagi dia menyapu halaman. ‘Astaga aku ini kenapa sih? Ah benar-benar memalukan!’ 

1 jam kemudian… 

Rumah klasik bermodelkan tradisional itu menjadi lebih bersih dan berkilau dari biasanya. Mereka bertiga duduk santai di atas tatami dan menikmati 

masakan khas korea buatan Suho. Ya, Sulli sama sekali tak pintar memasak. 

Minggu ini mereka membagi tugas membersihkan rumah. Sulli menyapu bagian dalam rumah dan mencuci, Suho menyapu halaman, mengepel lantai dan mengelap kaca sedangkan kakeknya mencabuti rumput dan menyiram bunga. 

Suho melirik istrinya yang sedang menyeduh minuman. ‘Ya Tuhan.. kenapa akhir-akhir ini aku selalu memikirkannya? Jantungku.. ah, jantung ini kenapa berdetaknya semakin keras saat Sulli ada di sampingku? Kenapa jadi tak tenang begini?’ Suho jadi gelisah, dia memegang dadanya yang dirasa bergemuruh hebat. 

“Oppa, kau kenapa?” Tanya Sulli heran melihat Suho gelisah. 

Suho cuma diam berkali-kali dia berkata pada jantungnya ‘Aku mohon jantung jangan keras-keras berdetaknya!! Nanti dia tahu!’ 

“Oppa.. kau sakit?” Sulli menatapnya sambil menyentuh keningnya. 

“Tidak..” Reflek Suho menepis tangannya cepat. “Dari tadi aku berpikir, apa yang belum aku lakukan? Oh ya air kolam ikan itu lupa belum aku ganti.” Ujarnya berlalu pergi. Padahal dia hanya ingin menghindari istrinya. 

Sulli mengangguk lugu. 

©©©© 

SMA Putri Kirin.. 

Suho mematikan radio tape, seketika lagu yang diputar berhenti. Pemuda itu membetulkan letak kacamatanya yang melorot lalu pandangannya beralih pada murid-muridnya. 

“Baiklah, kata apa yang kalian dapat dari lagu Ode to my family tadi?” 

Salah seorang muridnya mengacung antusias. 

“Iya, Kang Seulgi silahkan.” 

“Do you like me?” Goda siswi berparas cantik itu tersenyum. Suho tahu Seulgi hanya berniat menggodanya dengan berkata sepeeti itu walaupun benar di bait lagu tersebut ada kata-kata itu. 

Semua siswi bersorak. 

“Yang lainnya?” Suho mengalihkan pertanyaan. 

“Pak guru, umur bapak bukannya 23 tahun ya?” Goda Joy. 

“Pak guru, bolehkah kami memanggilmu oppa?” Kejar Wendy tak mau kalah. 

“Anak-anak fokuslah pada pelajaran kalian.” Kata Suho sabar. 

“Mana mungkin kami fokus pak jika gurunya sekeren artis Korea.” Celetuk Irene si ketua kelas. 

Suho menggeleng, lama-lama dia juga bisa stress jika setiap hari digoda mereka. “Anak-anak dengarkan..” 

“..ya oppa!” Sahut semuanya kompak dan senang. 

Suho menyentuh tengkuknya, ‘kenapa mereka segenit ini padaku? Apa wajahku tidak menakutkan sebagai guru sampai mereka berani mengodaku setiap hari?’ Pemuda itu menggeleng. “Bapak sudah menikah dan sebentar lagi akan punya anak. Jadi berhentilah menggoda guru kalian, mengerti.” 

“Mengerti oppa!” 

Suho semakin frustasi. 

©©©© 

Ken Hyuga menunjukkan foto-foto Suho pada Sulli. Mulai dari masih bayi hingga kuliah di Inggris. 

“Ini siapa?” 

Ken melihat foto yang ditunjuk cucu menantunya itu. “Kim Hyoyeon, adik Suho. Hyoyeon meninggal musim panas tahun lalu karena leukimia.” 

Sulli membolak-balik album foto itu. Dia mencari foto suaminya saat di Inggris. Matanya lekat menatap foto suaminya yang sedang duduk di bawah pohon cemara sementara di sampingnya ada 2 orang gadis cantik. Yang mana Tiffany? pikir Sulli. 

“Foto siapa yang kau cari?” 

“Ah tidak, hanya melihat-lihat foto Suho oppa saat di Inggris.” Ujar Sulli tersenyum, tapi sayangnya lelaki tua itu tahu apa yang sedang dicarinya. 

“Kau penasaran dengan mantan pacar Suho?” Tebak lelaki tua itu. 

“Ti.. dak kok, untuk apa penasaran bukankah sekarang aku istrinya Suho oppa?” 

Ken hanya mengangguk. ‘Tapi aku tahu kau penasaran dengan gadis yang bernama Tiffany itu, kan? Walau kau bohong tapi matamu tak bisa membohongiku.’ 

“Kakek, Suho oppa begitu populer ya, pasti banyak gadis-gadis cantik yang menyukainya. Dulu banyak teman-temanku yang tergila-gila pada Suho oppa saat menjadi pelatih di sekolah kami.” 

“Sayangnya Suho bukan tipe orang yang suka memperhatikan wanita. Jika dia menyukai seseorang maka bisa dikatakan selamanya hatinya tak akan pernah berpaling.” 

“Begitu ya?” Sulli memaksakan senyumnya. “Aku jadi merasa berdosa karena sudah memisahkan Suho oppa dari gadis yang ia cintai.” 

“Tiffany hanya masa lalunya.” 

“Kakek..” Sulli kaget begitu mendengar lelaki tua itu menyebut nama seorang yang begitu dia tahan lidahnya agar tak mengucapkannya namun Ken Hyuga malah dengan santai menyebut namanya. 

Disentuhnya wajah Sulli sesaat. Wajah gadis itu hampir meneteskan airmata. “Tiffany hanya masa lalunya dan selamanya Suho tak mungkin menikahinya. Kaulah masa depan Suho bukan gadis manapun, Choi Sulli.” 

Tangis Sulli pecah. “Tapi aku…” 

“Aku sudah tahu semuanya sejak awal. Meski bayi itu bukan darah dagingnya, percayalah kami sangat menyayangi dengan tulus. Aku bahagia kau menikah dengannya meski saat ini kau tak mengandung anaknya.” 

“Kakek..” Sulli memeluk lelaki tua itu dan menangis. “Maafkan aku..” 

“Sudahlah, jika kau terus menangis bayimu bisa ikut sedih.” Ken menyeka airmata gadis itu. 

Tiba-tiba.. 

“Aku pulang.” Suara Suho memasuki ruangan, dengan cepat Sulli menghapus airmatanya. 

©©©©

Advertisements

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s