Namitsutiti

[FF-Freelance] Every Heart – Part 6

Leave a comment



Author : Ren Hikaru

Tittle : Every Heart

Cast : Choi Sulli, Kim Suho, Wu YiFan

Status : Completed – Season 1

.

.

.

PART 6

“Aku sudah tahu semuanya.” Ujar Yifan dingin. “Daddy sangat kejam. Tega sekali membunuh janin yang ada di perut Sulli. Janin itu anakku, Dad.” Mata pemuda itu berkaca-kaca, suaranya terdengar bergetar. 

“Kris..” 

“Dia anakku, Dad! Cucumu! TAPI KENAPA DADDY TEGA MEMBUNUHNYA SEBELUM DILAHIRKAN?! KENAPA?!” Teriak Yifan marah. 

“Kris, daddy hanya..” 

“JANGAN PERNAH SEBUT DIRIMU DADDYKU KALAU KAU SUDAH MEMBUNUH ANAKKU! LAKI-LAKI SEPERTIMU TAK PANTAS MENJADI AYAH!” Yifan segera berlalu. 

“Kris tunggu dulu.” Cegah Albert 

“Berhenti memanggil namaku Tuan Albert Wu. Mulai sekarang kau bukan Daddyku lagi. Aku sangat membencimu Tuan Albert. Anggaplah putramu sudah mati.” Yifan kemudian berlalu, dia membanting pintu itu keras dan berlari ke luar. 1 menit kemudian terdengar suara Maybach 62 Biru yang biasa dikendarainya meluncur dengan sangat cepat. Salah satu penjaga gerbang milik keluarga Wu itu langsung melompat ke arah rerumputan menghindari mobil sport yang baru keluar dari garasi dan menggila itu. 

©©©© 

Park Junsu, seorang lelaki tua berumur lebih dari 60 tahunan itu berjalan cepat menuju ruangan cucunya. Wajahnya merah padam mendengar berita bahwa cucu kebanggaannya hamil. Laki-laki tua itu merasakan amarahnya memuncak dan berkobar-kobar. 

Begitu sampai di depan ruangan cucunya, ia berhenti menatap sosok pemuda yang diam menemani cucunya. Pemuda itu duduk di dekat pembaringan cucunya dan menggenggam tangan Sulli yang kini tertidur. Tangannya bergetar hebat, ingin sekali dia membunuh pemuda itu. 

“Maafkan aku.” Lirih Suho saat melihat Sulli tertidur. Dia mengusap bekas tamparan di pipi gadis itu. Tiba-tiba… 

BUGH 

Suho merasakan sebuah hantaman keras mengenai wajahnya. Suho kaget dan terkejut dengan apa yang terjadi barusan, belum sempat dia berdiri lelaki tua itu kembali memukulnya hingga Suho terjerembab. Tubuh Suho mengenai meja, ada rasa sakit yang menjalar di ulu hatinya. 

Sulli yang mendengar keributan itu terbangun. “Kakek..” Ujarnya kaget. Gadis itu segera bangun dari pembaringannya lalu mencegah kakeknya agar tak memukul pelatihnya. “Kakek jangan pukul dia.” Pinta Sulli memohon namun sepertinya Park Junsu tak mendengarkan kata-kata cucunya. 

Suho mencoba berdiri namun sebuah pukulan kembali mendarat di perutnya. Sakit sekali. Pemuda itu memegang perutnya. 

“Aku akan membunuhmu anak muda.” Cengkramnya keras pada baju Suho, memaksa pemuda itu berdiri. “Apa kau tahu bagaimana hancurnya perasaanku sekarang? Dari kecil aku mendidiknya keras agar dia menjadi orang yang berguna. Siang malam aku bekerja keras hanya untuk melihat dia lulus dari universitas, tapi kau…” Kata-kata lelaki tua itu terputus melihat Suho yang hampir pingsan karena amukannya tadi. 

“Kakek aku mohon lepaskan dia, dia tidak salah.” Sulli berlutut di depan kakeknya sambil menangis. “Bunuh saja aku. Aku yang salah.” 

Park Junsu tersenyum sinis. “Ya, kau pantas mati. Bagiku sebuah kehormatan lebih penting daripada punya cucu memalukan sepertimu.” Lelaki itu melepas Suho lalu pandangan matanya tertuju pada cucunya. Mungkin hatinya saat ini sudah dikuasai setan sehingga dia menuruti amarahnya. 

Tangan lelaki itu menggapai leher Sulli lalu mencekiknya tanpa ampun seolah-olah yang dicekiknya adalah setan. 

Sulli kesulitan bernafas karena cekikan tangan tua itu sangat keras. Dia sangat paham watak kakeknya yang keras. Jika kakeknya ingin membunuhnya sudah pasti dilakukannya. 

Saat dirinya sudah tak sanggup bernafas, dia melihat pelatihnya mendorong tubuh kakeknya keras dan melindunginya. “Jangan lakukan itu Tuan, dia cucumu.” 

“Tapi dia pantas mati.” 

“Tidak, dia masih pantas untuk hidup.” Ujar Suho. Dia mendekap Sulli memberinya perisai dari amukan kakeknya. “Jika Tuan berani menyentuhnya sedikit saja, saya tidak akan diam.” 

“Kalau begitu aku akan membunuh kalian berdua.” 

“Tak bisakah anda merestui kami?” Tiba-tiba saja kata-kata itu meluncur dari mulut Suho. “Saya akui, saya bersalah. Saya yang sudah membuatnya seperti itu. Saya sudah menghancurkan masa depannya. Maafkan saya.” 

“Semudah itukah kau meminta maaf, anak muda?” 

“Tentu saja, saya akan mempertanggung jawabkan semuanya apa yang sudah saya lakukan padanya. Saya akan menikahi Choi Sulli.” 

“Pelatih…” Sulli kaget bukan main. Dia menarik lengan Suho tak mau. 

Suho berlutut dihadapan lelaki itu. “Dengan segala hormat, tolong restui hubungan kami. Saya mohon.” 

Park Junsu mengepal tangannya kuat-kuat. “Aku sangat membencimu, anak muda..” Ujarnya bergetar namun ada kelegaan yang tak bisa dilukiskan begitu pemuda di hadapannya mau bertanggung jawab. “15 tahun lebih aku menjaganya dan dia selalu ceria. Jika kulihat dia meneteskan airmata karenamu lagi, aku pasti membunuhmu.” 

Suho tersenyum. “Terima kasih.” 

©©©© 

Yifan memacu mobil sportnya dengan sangat cepat. Pikirannya sangat kacau. “I Hate you dad!” Umpatnya sambil menyetir mobilnya. Pemuda itu menangis. Karena konsentrasinya pecah, Yifan tak memperhatikan jalanan di depannya. Sebuah palang kereta api baru saja diturunkan. Yifan tersentak kaget saat mobil sportnya semakin cepat mendekati palang rel kereta api itu. Sementara kereta api masih melintasinya. Jarak yang begitu dekat sehingga membuat pemuda itu lupa untuk menginjak remnya. Lalu terjadilah tabrakan yang sangat keras. Mobil sport biru itu menabrak kereta api yang sedang melintas. 

Suara tabrakan keras itu terdengar ke berbagai penjuru layaknya halilintar yang menyambar. Dalam sekejap tempat itu langsung ramai. 

©©©©

Albert Wu dan Juana Spencer menunggu dengan cemas di depan IGD. Wajah keduanya pucat, terlebih wajah Juana karena dia teringat akan Bryan, anak sulungnya yang tewas dalam kecelakaan. Di depan ruangan IGD inilah dulu ia mendengar kabar kematian Bryan dan kini Kris-lah yang berada di dalam sana. 

“Sekarang kau puas?” Tanya Juana pada mantan suaminya itu. Matanya menatap tajam seolah ingin menguliti tubuh lelaki itu. “Dulu Bryan yang ada di dalam sana karena keegoisanmu kita kehilangan dia untuk selamanya. Belum puas dengan Bryan kau korbankan Lay juga. Kau paksa anak itu untuk mengikuti jejakmu hingga Lay depresi dan menjadi pecandu narkoba. Dan sekarang kau juga korbankan anak terakhirmu hanya karena keegoisanmu?!” Juana beeteriak gila. 

“Diamlah.” Suara Albert terdengar bergetar. Ada rasa bersalah yang kian menggerogoti hatinya. Mendengar Kris kecelakaan lelaki itu merasa hidupnya benar-benar hancur. 

“Jika Kris mengalami hal yang sama dengan Bryan, kau pasti mati di tanganku Albert Wu.” 

Ceklek. Pintu terbuka dan lampu IDG itu mati, tanda operasi sudah selesai. 

“Dokter bagaimana keadaannya?” Tanya Albert cemas, dia bahkan terlihat putus asa begitu melihat ekspresi wajah para dokter yang baru keluar terlihat lemas. 

“Dokter anakku selamatkan?” Tanya Juana, airmata wanita itu menetes. 

“Lukanya sangat parah terutama di bagian kepalanya. Banyak syaraf uang sudah tak berfungsi lagi. Dengan sangat menyesal kami menyatakan bahwa Kris Wu…” 

“Tidaaaak!!!” Juana histeris seketika. “Anakku selamat kan dokter? Dia baik-baik saja, kan?” Ditariknya baju itu marah. 

“Kris Wu mengalami koma.” 

Bruk! Juana tak sadarkan diri seketika. Untunglah dengan sigap para Albert menyanggah tubuh wanita itu. 

“Pasien mengalami kelumpuhan total, sebaiknya anda membawanya ke Jerman Tuan Wu. Perawatan dan kelengkapan peralatan kedokteran di Jerman lebih maju dan lebih canggih. Berdo’alah semoga Tuhan memberinya keajaiban. Kami undur diri Tuan Wu.” 

©©©© 

Seoul, gereja jam 10 pagi. 

Suara lonceng bertalu-talu menyambut pernikahan yang digelar hari ini. Pernikahan yang digelar tertutup dan tak melibatkan pihak luar. Hanya dihadiri keluarga Suho dan Keluarga Sulli. 

Sulli berjalan enggan memasuki altar yang didampingi Minho. Wajah gadis itu terlihat tanpa ekspresi, sedangkan wajah Suho cuek-cuek saja saat pengantin wanitanya sudah berada di sampingnya. 

‘Yifan oppa seharusnya kaulah yang ad di sampingku saat ini.’ Wajah Sulli nampak murung. 

‘Apa keputusanku ini benar?’ Suho bertanya-tanya dalam hati, pemuda itu terlihat ragu dengan pernikahannya. ‘Noona.. bantu aku, aku benar-benar bodoh. Wanita yang ingin aku nikahi hanya noona bukan yang lain. Juga bukan dia.’ 

“Kim Suho bersediakah kau menerima Choi Sulli sebagai istrimu dalam suka dan duka hingga maut memisahkan kalian?” Tanya pendeta yang mengikat janji suci itu. 

Hening tak ada jawaban. Suho masih tak bergeming karena sibuk dengan pikirannya sendiri. Hingga pendeta itu mengulangi kalimat yang sama untuk kedua kalinya. 

Keluarga Sulli dan keluarga Suhopun bertanya-tanya dengan sikap kedua calon pengantin itu. 

Mereka terlihat seperti tak berniat untuk menikah. Seolah-olah mereka menikah karena dijodohkan dan saling tak mau. 

“Nak, apa kau mendengar apa yang sudah aku katakan tadi?” Pendeta itu menatap Suho bertanya-tanya. 

Suho tersadar dari lamunan panjangnya yang masih memikirkan Tiffani. ‘Astaga Suho apa yang kau pikirkan saat ini? Ini pernikahanmu sendiri!’ Makinya pada dirinya sendiri. Pemuda itu menoleh pada Sulli yang terlihat ingin menangis. 

“Maaf, saya terlalu tegang hingga tak mendengar perkataan anda tadi.” Kilahnya. 

Dengan sabar pendeta itu mengulang ketiga kalinya janji suci itu kepada calon mempelai laki-laki. 

“Ya, aku menerimanya sebagai istriku dalam suka dan duka sampai mau memisahkan kami.” Suho mengikat janji itu dengan tegas. 

Pendeta itu juga mengajukan pertanyaan yang sama pad Sulli dan gadis itu hanya menjawab singkat. Ya. 

“Baiklah, sekarang aku resmikan kalian berdua sebagai suami istri. Mempelai laki-laki silahkan mencium mempelai wanita.” 

Keduanya saling berhadapan. Suho memasang cincin di jari manis kiri Sulli. Sebenarnya cincin itu dia beli untuk Tiffany saat di Inggris dan saat inipun dia masih tak rela jika gadis lain yang memakainya. Dia ingin Tiffany yang memakainya. Namun takdir berkata lain. Sulli juga melakukan hal yang sama terhadap pemuda yang kini sudah menjadi suaminya itu. 

Suho membuka tudung penutup wajah istrinya. Wajah cantik yang terlihat sedih. Ditatapnya wajah itu lalu di dekatinya dan diciumnya kening istrinya sekejap. 

Semua bertepuk tangan, Suho menggandeng tangan istrinya lalu mereka melakukan acara pelemparan bunga. 

“Tersenyumlah walau sebentar bahkan jika kau tak menginginkannya sekalipun. Ini adalah hari dimana kita disatukan dalam ikatan suci. Buatlah hari ini indah dengan senyummu.” Bisik Suho saat mereka akan difoto. 

©©©©

Advertisements

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s