Namitsutiti

[FF-Freelance] Every Heart – Part 5

Leave a comment



Author : Ren Hikaru

Tittle : Every Heart

Cast : Choi Sulli, Kim Suho, Wu YiFan

Status : Completed – Season 1

.

.

.
PART 5

Hari mulai sore, Sulli berjalan gontai ke luar kelasnya. Wajahnya terlihat lelah, pikirannya kacau. Sekolah sudah sepi hanya tinggal beberapa anak yang masih asyik berkumpul di sekolah itu. 

Semenjak dia tahu hamil, gadis itu merasa hidupnya hancur tak punya masa depan. Sampai saat ini Yifan masih tak menghubunginya. 

“Jadi kau yang bernama Choi Sulli?” 

Sulli mendongak menatap sosok yang menyapanya. Sosok lelaki tinggi menjulang, berpenampilan rapi dan tentunya kaya. Sosok itu menatapnya sambil tersenyum meremehkan. 

‘Siapa dia? Wajahnya tidak kukenal bahkan ini untuk pertama kalinya kami bertemu pria bule ini.’ 

“Namaku Albert Wu.” 

Wajah Sulli langsung pucat begitu mendengar nama laki-laki yang pernah disebut Yifan. Yifan pernah menceritakan betapa sangat otoriternya sang ayah. Dan tetunya Sulli tahu bahwa lelaki ini sangat disegani karena pengaruhnya yang kuat. Sulli mundur dua langkah. 

“Kenapa kau kaget sekali, wajahmu sampai pucat. Apa wajahku sangat menakutkan?” Albert Wu tersenyum sinis melihat Sulli ketakutan. “Choi Sulli aku akui kau hebat karena sudah bisa membuat putraku berani melawanku. Bagaimana kalau kalian segera berpisah?” 

Sulli menatapnya lurus. “Kami tak akan berpisah, Yifan berjanji tak akan meninggalkanku.” 

Albert Wu tertawa. “Apa karena janin itu?” Tunjuknya pada perut Sulli. 

Reflek Sulli meraba perutnya. 

“Choi Sulli, sebenarnya aku itu orang baik tapi jika ada yang menjadi batu sandungan bagi masa depan anakku, aku tidak akan berpikir 2 kali untuk melakukan hal kejam.” 

“Apa maksud anda?” Sulli mulai takut. 

“Gugur bayi itu dan tinggalkan Yifan.” 

“Itu tidak mungkin, bayi ini anak kami.” 

“Apanya yang tidak mungkin? Aku akan membantumu.” Lelaki itu mendekatinya. “Ini cek kosong yang sudah kutandatangani semua, kau bisa menulis berapapun angka yang kau mau dengan syarat tinggalkan putraku. Kau bisa memulai hidupmu yang baru dengan cek itu. Lagi pula kau dan putraku masih sangat muda. Yifan 18 dan kau baru 16 bukan? Masa depan kalian masih panjang jangan sampai gara-gara kehadiran bayi itu bisa membuat hidup putraku berantakan. Jadi gugurkan saja.” Nasehat Albert. 

Sulli tersenyum kaku. “Tuan, walaupun saya miskin saya tidak akan pernah membunuh bayi ini. Sebuah nyawa tidak bisa ditukar dengan uang.” Ditatapnya wajah tua yang hampir seumuran kakeknya itu. “Kalaupun sebuah nyawa bisa dibeli dengan uang, katakan pada saya berapa harga nyawa anda agar saya bisa membelinya.” 

Albert menggeleng pelan. “Sudah kukatakan padamu, berpisahlah baik-baik sebelum aku menunjukkan sesuatu padamu. Awalnya aku tak mau melakukan ini tapi karena kau begitu gigih dengan keinginanmu, dengan senang hati kutunjukkan surat Yifan padamu. Aku harap kau tak bunuh diri jika membacanya.” Albert menyerahkan sebuah surat pada Sulli. 

Dengan ragu Sulli membacanya. 

“Jika kau memang mengenal Yifan kau pasti bisa hafal tulisan anak itu. Bacalah isinya baik-baik.” Ujarnya tersenyum penuh kemenangan. 

Brukk.. Sulli terduduk lemas setelah membaca pesan Yifan yang ditulis singkat dikertas itu. Lututnya bergetat. ‘Ini tidak mungkin, kenapa Yifan menulisnya. Aku tak percaya.’ Airmata Sulli hampir tumpah. 

Albert tersenyum puas. “Sepertinya kau tidak tahu kalau putraku tak serius padamu bukan? Kau tak mengenal baik siapa Yifan.” Usai berkata seperti itu Albert meninggalkan Sulli yang masih shock dengan isi pesan tersebut. 

“Yifan kau bohong padaku…” Ucapnya pelan, airmata gadis itu tumpah karena sudah tak terbendung lagi. Sulli menangis keras menyadari kebodohan dirinya. 

©©©© 

Flash Back 

1 hari sebelum Albert ke Korea. 

Yifan sangat frustasi begitu sampai dibandara, pemuda itu ditolak oleh pihak penerbangan dengan alasan yang tak masuk akal padahal pasportnya tidak ada masalah tapi tetap saja pihak penerbangan menolaknya membiarkannya meninggalkan Itali. 

“Damn!” Umpatnya kesal, dia tahu ayahnya sudah mensabotase pihak penerbangan sehingga dia tak bisa ke Korea diam-diam. Karena putus asa dia pulang kembali. Untunglah sebelum sampai di rumahnya salah seorang teman tim sepak bolanya memberi tahu bahwa 3 hari lagi akan ada pertandingan uji coba di China tingkat junior. Agar dia bisa keluar dari Itali dia harus meyakinkan ayahnya untuk mengikuti kompetisi itu. Setelah mendapat ijin pemuda itu berniat kabur dan tak kembali. 

“Please dad, i want go to Xi’an with my friends.” 

“Xi’an?” 

“Yes, Daddy not believe me?” 

“Jika bukan pelatihmu yang meminta Daddy tak akan pernah mengijinkan.” 

“I know, Oke, if daddy not believe me, now ask him.” 

Dengan enggan Albert menelpon pelatih putranya. Albert tersenyum begitu mendengar bahwa Yifan terpilih ikut pertandingan sepak bola junior itu dan untuk memulai debutnya sebagai pesepak bola baru pelatihnya mengadakan pertandingan di Xi’an, China. 

Yifan tersenyum cerah. “Aku terpilih, kan? Aku hebat, kan? Aku pasti pulang membawa kemenangan Dad. Karena aku ingin menjadi bintang lapangan dunia sepak bola.” 

“Fine, i believe you. How about your girl?” 

“Aku ingin mengejar mimpiku. Aku lebih memilih hidup dan mimpiku.” 

“Good, Kris. I proud to you my son.” 

“Ofcourse.” Yifan tersenyum. ‘Sorry dad, aku bohong padamu. Jika pasporku sudah tak dipermasalahkan lagi, aku akan ke Korea. Bagiku Sulli dan bayi kami lebih penting.’ 

Yifan segera berkemas. Dan tak lupa dia menulis sebuah pesan singkat di meja belajarnya agar ayahnya percaya padanya. Isi pesan itu: 

‘Daddy benar, masa depan dan impianku adalah sepak bola bukan yang lain. Aku akan mewujudkan mimpiku. Tak peduli apapun yang pernah terjadi aku menganggapnya tak pernah terjadi. Akan kuakhiri hubunganku dengan dia. Karena aku sadar mimpiku adalah sepak bola bukan dia.’ 

Your Son Wu Yifan. 

Yifan tersenyum. Surat tipuan ini pasti berhasil membuat ayahnya percaya. 

Flash Back end. 

©©©© 

Yuri dan Minho bergegas menuju stasiun, mereka berlari cepat agar bisa menemukan Sulli. Sepasang kekasih itu tak sengaja menemukan surat yang ditinggalkan Sulli di kamar gadis bermata sendu itu. Sulli berniat bunuh diri. 

‘Kakek maafkan aku, aku harus meninggalkanmu dengan cara seperti ini. Jaga diri kakek baik-baik. Aku cinta kakek. Choi Sulli.’ 

“Oppa cepetan!” Maki Yuri sebal karena Minho berlari lambat. 

“Kakiku masih sakit bodoh! Kemarin aku terkilir.” 

“Kita harus segera menemukan Sulli, aku tidak mau terjadi apa-apa pada Sulli.” Isak Yuri ketakutan. “Tuhan tolong lindungi Sulli.” 

Karenakakinya yang masih sakit dipaksa berlari akhirnya Minho terjatuh dan itu malah memperparah keadaannya. 

“Oppa!!” Teriak Yuri cemas. 

“Akh.. sial sekali, kenapa malah disaat seperti ini!” Kelu Minho kesal. 

“Loh, Choi Minho apa yang terjadi?” Tiba-tiba saja Suho menghampiri mereka. 

“Pelatih Kim, Choi Sulli berusaha bunuh diri, tolong selamatkan dia. Saya rasa anak itu berlari ke arah stasiun.” Ujar Minho sambil menahan sakit. 

“Apa?!!” Wajah Suho kaget. “Baiklah aku akan berusaha mencegahnya.” Suho berlari kearah stasiun. 

“HEI CHOI SULLI MINGGIR!!” Suho berteriak keras dari jauh ketika melihat Sulli berdiri di rel kereta. Sulli tak menoleh meski ada yang meneriaki namanya berkali-kali. Kereta mulai berjalan berjalan cepat dan mendekatinya. Gadis itu memejamkan matanya tatkala kereta sudah hampir menabrak tubuhnya. 

BRUUUKHH..

Tubuh Sulli terlempar, suara kereta api masih terdengar keras melintas di telinganya. ‘Apa aku sudah mati? Beginikah rasanya mati?’ Perlahan gadis itu membuka kelopak matanya. Suasana masih tetap bising, pemandangan alam masih tetap sama tatkala dia tadi berdiri. Bedanya kini dia sedang terbaring di rerumputan dan nampak sosok lelaki berdiri dihadapannya. Sulli sadar bahwa dia belum mati. Kakinya gemetar, dia berusaha berdiri menjajari sosok itu. 

“DASAR GILA!! APA YANG SUDAH TADI KAU LAKUKAN, BODOH?!!” Sentak Suho marah luar biasa, nafasnya tersendat-sendat tak beraturan. Tapi setidaknya dia lega karena berhasil menyelamatkannya meski tadi keduanya hampir ditabrak kereta. Suho menatapnya tajam seolah-olah dia akan mencabut nyawa gadis itu. 

“Biarkan aku mati!! Aku tidak ingin hidup, semuanya sudah hancur!” Sulli berteriak histeris. Gadis itu meronta-ronta. “Untuk apa aku hidup jika harus menanggung malu seumur hidup?!” 

“Jangan nekat Choi Sulli!” 

“Matipun tak akan ada yang menangisiku!!” 

PLAAK!! 

Tubuh Sulli terhuyung lalu ambruk. Tangannya reflek menyentuh pipi kirinya. Ada rasa panas bercampur perih di pipinya. Merah sekali. Sulli tak percaya apa yang sudah dilakukan pelatihnya yang lembut ini bisa kasar padanya. 

Suho menatapnya tajam, untuk pertama kali seumur hidupnya dia berani menampar seseorang sangat keras. Wanita pula. “Jangan bodoh kau Choi Sulli.” Ucapnya datar. Mata gadis itu memerah dan berair karena menahan sakit di pipinya. Ya sakit sekali. “Aku yang akan menangis jika kau mati! Coba saja kau bunuh diri, aku akan terus menangis sampai mati! Lalu aku akan dendam padamu dan aku akan terus menderita karenamu.” 

Sulli akhirnya menangis. Dia tak menyangka pelatihnya ini begitu peduli padanya. 

Suho mendekatinya, dia jongkok mengimbangi Sulli. “Berjanjilah kau tak akan mati.” Pintanya mulai melembut. 

“Pe.. pelatih..” 

Suho tersenyum lalu mendekapnya. “Karena aku menyayangimu. Aku akan melindungimu dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Jika suatu hari nanti aku mengkhianatimu, disaat itulah kau boleh mati.” Janji pemuda itu. 

Sulli menangis hebat. Entah mengapa kata-kata pelatihnya ini sanggup membuatnya berkeyakinan kalau pemud ini tulus dan bersungguh-sungguh. Entahlah, saat ini dia lelah sekali. Tia-tiba saja semuanya gelap. 

“Hei, Choi Sulli bangunlah!” Suho jadi cemas. Dia menyesal sudah begitu keras menamparnya hingga bibir gadis itu sobek dan berdarah. Pipinyapun merah sekali. “Maafkan aku.” Bisiknya lirih. 

©©©© 

SONE Hospital 

Saat Sulli membuka matanya yang pertama kali dia lihat adalah sosok pelatihnya yang kini menungguinya. Suho duduk disanping gadis itu. “Pelatih.” Sapanya lemah. 

“Aku sudah tahu semuanya.” Ujar Suho datar. “Aku memang menyayangkan tindakanmu. Aku harap kau tak membuat kesalahan untuk kedua kalinya yang bisa membahayakanmu.” 

Sulli tergugu, gadis itu memalingkan wajahnya. “Saya.. saya tidak berani mengatakan hal ini pada kakek. Saya sangat takut.” 

“Kakekmu pasti sangat marah dan kecewa padamu.” 

“Lebih dari itu, kakek pasti akan membunuh sa…” 

“..dan kau akan menyerah begitu saja?” Potong Suho sambil menatap wajah pucat Sulli. “Pernahkah kau berpikir jika nekat melakukan hal itu akan ada berapa banyak airmata yang harus keluar dari orang-orang yang kau sayangi? Keluargamu? Teman-temanmu?” 

Sulli membisu. 

“Apa dengan bunuh diri semua masalahmu akan hilang? Baik, kau memang siap mati, tapi apa orang-orang terdekatmu siap nantinya jika mendengar kabar kematianmu?” 

“Sa.. say..” 

“..aku belum selesai bicara.” Suho dengan cepat memotong pembicaraan gadis itu. “Satu hal lagi, jangan pernah kau mengulangi hal menyedihkan seperti ini! Tunjuk pada dunia bahwa kau gadis yang kuat!” 

“Saya janua gadis bodoh yang lemah.” 

“KAU HARUS KUAT!!” Bentak Suho gemas. Ditatapnya mata yang kaget itu dalam-dalam. “Aku.. aku memang tidak tahu bagaimana rasanya menjadi sepertimu. Tapi aku sudah sering merasakan rasanya ditinggal orang-orang yang aku sayangi. Setidaknya aku ingin kau berbagi masalah denganku. Choi Sulli, kau tak akan sanggup menanggung beban itu sendirian.” 

Sulli kembali meneteskan airmatanya. Tapi kali ini dia tak berani menatap wajah Suho. “Pelatih..” Panggilnya lirih. “Batu yang keras bisa berlubang jika disirami air setiap hari, apalagi saya.” 

“Kau bisa mengubah batu itu menjadi baja. Aku akan membantumu. Dengan begitu kau akan terus kuat. Aku akan menopang hidupmu hingga kau kuat dan tak menangis lagi.” Suho menyentuh tangan itu. “Kau bisa pegang kata-kataku, Choi Sulli.” 

“Kenapa..” Isak gadis itu tak tahan. “Kenapa pelatih begitu.. baik padaku? Apa karena ..kasihan?” 

Suho tersenyum tipis. “Karena kau seperti Hyoyeon, adikku.” Jawabnya. 

©©©© 

Itali… 

Terjadi pertengkaran hebat antara Albert Wu dengan mantan istrinya, Juana Spencer. Mantan suami itu saling menyalahkan satu sama lainnya. Leo sang sekertaris pribadi Albert itu menjadi takut mendengarnya. Buru-buru Leo keluar dari rumah itu dan saat menuruni tangga dia berpapasan dengan Yifan. “Tu.. tuan muda.” 

“Kenapa wajahmu ketakutan begitu?” Tanya Yifan curiga. 

“Mereke bertengkar lagi.” Jawab Leo takut. Yifan yang mendengarnya hanya cuek, toh dia sudah biasa dengan kejadian itu. “Pasti karena bisnis lagi.” 

“Bukan. Mereka bertengkar karena gadis bernama Choi.. Su.. eh, siapa tadi?”Leo berusaha mengingat nama gadis yang dimaksud. 

“Choi Sulli maksudmu?” 

Leo mengangguk dan bagai jin Ifrit, Yifan telah lenyap dari hadapan Leo. Begitu sampai di lantai atas Yifan melihat ibunya disentak-sentak oleh ayahnya. 

“Its not your problem, Juana! Urus saja bisnismu.” Suara Albert begitu menggelegar. 

“Not my problem? Kris is my son. Dan aku berhak ikut campur masalahnya Tuan Albert karena aku ibunya.” 

“Cih, apa kau pernah bersikap sepeeti seorang ibu?” 

Juana tersenyum sinis. “Jangan menuntutku menjadi seorang ibu yang baik jika kau sendiri tak punya jiwa seorang ayah!” 

“Apa maksudmu?” 

“Apa kau pikir Kris itu robot yang bisa kau ciptakan sendiri sesuai dengan pikiranmu? Kris hanya manusia yang sedang jatuh cinta pada lawan jenisnya. Tapi apa yang kau telah lakukan? Kau menyuruh anak buahmu untuk membunuh bayi tak berdosa itu?” 

DEG! Jantung Yifan seakan berhenti berdetak, dia tak menyangka ayahnya akan nekat melakukan hal itu pada Sulli. Ada getaran aneh yang menyelimuti hatinya. Bumi seakan bergoncang menginjak dirinya. ‘Dad…’ 

“Aku tak ingin masa depan Kris hancur. Bayi itu hanya sumber masalah bagi Kris.” 

“Kaulah sumber masalah itu! Hidup Kris sudah hancur sejak ikut denganmu!!” Bantah Juana tak mau kalah. 

Keduanya saling meluapkan amarah. Tiba-tiba pintu terbuka lebar dan muncullah sosok Yifan dengan wajah dan sorot mata yang penuh kebencian. Juana dan Albert sama-sama kaget. 

“KRIS!” 

©©©©

Advertisements

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s