Namitsutiti

[FF-Freelance] Every Heart – Part 4

Leave a comment



Author : Ren Hikaru

Tittle : Every Heart

Cast : Choi Sulli, Kim Suho, Wu YiFan

Status : Completed – Season 1

.

.

.

PART 4

Yifan merebahkan tubuhnya lelah. Tenaganya benar-benar terkuras habis melawan Henry dan teman-temannya. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Pertandingan tadi, SMA Parang unggul keluar sebagai pemenang meski hanya terpaut sedikit dengan goal 3 kali sedangkan SMA Genie hanya 2 kali mencetak goal. 

Hampir saja pemuda itu tertidur karena kelelahan tapi bayangan senyuman Sulli yang mendadak melintas di benaknya membuat pemuda itu segera menepis semua rasa lelahnya. ‘Aku harus menemuinya malam ini.’ 

Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam ketika Yifan sudah sampai di depan rumah Sulli. Diapun memencet bel rumah tersebut. 

Selang beberapa menit Sulli akhirnya membukakan pintu. 

“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Yifan memulai pembicaraannya dengan suara datar. 

Sulli sedikit heran melihat raut wajah kekasihnya yang terlihat sedih itu. “Apa sangat penting?” Gadis itu bertanya sangat hati-hati. Firasatnya mengatakan kalau semua tidak akan baik-baik saja. “Oppa, kenapa diam?” Sulli semakin merasa tak tenang dibuatnya. 

Yifan terdiam cukup lama. 

“Oppa, jangan menakutiku.” 

“Aku akan pindah ke Itali. Besok pagi.” Suara Yifan terdengar berat. Bahkan saat mengucapkan kata-kata itu terdengar sedih dan seperti susah mengucapkannya. 

Kali ini Sulli yang terdiam. Tubuhnya terasa lemah. Matanya mulai berkaca-kaca. “Oppa, aku tak mendengarnya.” Ujarnya bergetar. “Katakan sekali lagi.” 

Yifan memalingkan wajahnya, tak sanggup menatap wajah Sulli yang kini menatap wajahnya. 

“Oppa..” 

“Besok aku berangkat ke Itali. Daddy sudah mengurus semuanya tanpa sepengetahuanku dan aku tak bisa menolaknya.” 

“Berapa lama?” 

Yifan menggeleng. “Aku juga tidak tahu.. Sulli-ah.. jangan menangis. Please.” Pinta pemuda itu merasa bersalah, meski tak bersuara, entah kenapa airmata Sulli mengalir begitu cepat. Yifan menyesal karena harus meninggalkan gadis yang ia cintai demi ambisi ayahnya. 

“Oppa akan meninggalkanku? Benarkah? Jangan tinggalkan aku.” 

Yifan mati-matian menahan airmatanya namun tak bisa, pertahanannya akhirnya jebol karena airmata Sulli. “Maafkan aku Sulli-ah.. maafkan aku..” Didekapnya tubuh itu erat-erat. 

Mereka berdua menangis. 

‘Tuhan.. kenapa takdir yang kau berikan pada kami terasa kejam? Kenapa kau mau memisahkan kami? Aku sangat mencintainya, tak bisakah kau biarkan kami hidup bersama?’ Tubuh Yifan bergetar menahan tangis. 

Salju mulai turun dan udara semakin dingin. Namun 2 hati anak manusia itu terasa membara. Ini adalah musim dingin yang menyakitkan bagi mereka. Desember kelabu. Mereka berciuman dibawah siraman salju yang semakin deras turunnya. 

©©©© 

Bandara Incheon. 

Hari ini Yifan dan teman-temannya sudah berkumpul di bandara. Teman se-klubnya kaget begitu mendengar pemberitahuan mendadak bahwa kapten kebanggaan mereka harus pindah ke Itali. 

“Kapten jaga dirimu baik-baik.” Kata Key terharu. 

“Kami akan merindukanmu kapten.” Kata Taemin dan Jonghyun. 

Yifan hanya mengangguk, setelah menyalami mereka semua, ia beralih pada Sulli. Wajah itu terlihat datar. 

Yifan mendekatinya lalu memeluknya cukup lama, semua yang melihatnya ikut terharu. Usai memeluknya Yifanpun meninggalkan mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun. 15 menit kemudian pesawat yang ditumpanginya meninggalkan negri gingseng. 

Minho dan Yuri mendekati Sulli yang masih diam sendiri menatap pesawat yang ditumpangi Yifan di langit hingga hilang di balik awan. 

“Sulli-ah, apa yang dikatakan kapten padamu sebelum pergi?” Tanya Yuri. 

“Tak ada.” Jawabnya sedih. 

“Hah?!” Yuri dan Minho kaget. 

“Dasar bule, apa susahnya sih mengucapkan selamat tinggal!” Maki Minho sebal. 

“Pasti tidak bisa.” Suara pelatih mereka ikut menimbrung. “Sebab kata ‘selamat tinggal’ adalah kata-kata menyedihkan dan menusuk perasaan bersama.” Jelas Suho sambil mendekati anak-anak didiknya. Dia melihat Sulli yang masih tak bergeming. Gadis itu seolah kehilangan separuh dari hidupnya. 

“Benar juga. Tapi lebih menyedihkan jika tidak mengucapkan apapun bukan?” Kata Yuri. 

“Mungkin Yifan berharap suatu hari nanti dia bisa kembali lagi makanya dia tidak mengatakan hal apapun karena dia yakin pasti akan kembali.” Lanjut Suho. 

“Aku pulang duluan.” Tiba-tiba Sulli meninggalkan mereka. Yuri yang melihatnya ingin mengejar tapi ditahan Suho. 

“Kenapa?” 

“Biarkan dia sendiri hari ini, kejadian hari ini sudah membuatnya sangat tertekan. Dia butuh sendiri untuk menenangkan hatinya.” 

Mereka mengangguk. 

©©©© 

Esok harinya… 

“Choi Sulli!” Guru Yunho mengabsen kelas 2-1. 

Tak ada jawaban. Semua murid menatap bangku kosong itu dan mulai berbisik. “Ada yang tahu kemana Choi Sulli?” Tanya guru sastra itu. Namun takada sedetik guru berpostur tinggi itu paham. ‘Mungkin ada hubungannya dengan Wu Yifan’ 

Sementara itu.. 

Diluar sekolah nampak kereta mulai berjalan meninggalkan kota Seoul. Sulli hanya terdiam menatap pemandangan alam dari jendela kereta tersebut. 

“Membolos lagi?” 

Reflek Sulli menoleh. “Pe.. pelatih Kim?” Tanya Sulli ragu. 

Suho tersenyum menatapnya. Sejak insiden kecelakaan itu ia lebih memperhatikan gadis di depannya ini. Gadis yang sudah menyelamatkan dirinya waktu itu. Rasa berhutang budi pada gadis bermata sendu ini terus tersimpan di hatinya untuk membalasnya. 

Suho duduk di sampingnya. “Aku berterima kasih atas pertolonganmu waktu itu. Kau sudah menyelamatkan hidupku. Harus dengan apa aku membayarnya?” 

Sulli terkekeh. “Kemarin pelatih sudah memberiku bekal dan tiket pulang juga traktiran makan. Saya rasa sudah cukup.” 

“Hanya dengan bekal kau membalasnya dengan nyawa? hebat sekali.” Puji Suho. 

“Kenapa pelatih memakai kacamata?” Tanyanya iseng, entah kenapa melihat pelatihnya mengenakan kacamata jadi terlihat semakin keren di matanya. ‘Apa yang kau pikirkan Choi Sulli?’ 

“Kenapa? Tidak pantas?” 

Sulli menggeleng. “Hanya saja terlihat berbeda, saya hampir tak mengenali pelatih tadi.” 

“Sejak insiden itu penglihatanku mulai kabur. Makanya aku memakai kacamata. Lalu.. apa masalahmu kali ini?” 

Sulli menggeleng. 

“Jangan pura-pura, matamu tak bisa berbohong.” Suho menatapnya. “Kau terlihat murung sejak ditinggal Yifan. Jika ada yang kau risaukan, aku mau mendengarnya. Ya.. itupun kalau kau mau menceritakannya. Mungkin saja kau tak suka kalau lawan bicaramu laki-laki.” 

Sulli mulai terisak. Entah kenapa dia tak segan pada pelatihnya ini. “Saya.. saya merindukan Yifan..” Gadis itu menggenggam lipatan roknya. “Rasanya sakit sekali melepasnya pergi..” Tangannya bergetar. Airmatanya mulai jatuh. 

Suho menatapnya dalam diam. Sementara kereta semakin cepat meninggalkan kota Seoul. 

©©©©

‘Jika menurutmu mati adalah jalan terakhir tak bisakah kau membalikkan tubuhmu agar tak melangkah pada jalan kematian?’ 

‘Serumit apapun masalahmu, kau hatus tegar menghadapinya jangan pernah mau kalah dalam menghadapi masalahmu.’ 

‘Kenyataan ada bukan untuk lari tapi untuk kau hadapi.’ 

Sulli tersenyum mengingat kata-kata pelatihnya tadi saat di dalam kereta. “Hm.. dia keren juga.” Ujarnya kagum. Gadis menatap selembar foto yang selalu tersimpan di dalam dompetnya. Foto dirinya dengan Yifan. “Oppa, aku merindukanmu.” 

Sementara di Itali.. 

Bosan. Mungkin itu yang Yifan rasakan tanpa melihat wajah Sulli. Diapun menelpon nomer yang hafal di luar kepalanya. Tak peduli nanti berapa tagihannya yang penting pemuda itu bisa mendengar suara Sulli. 

“Sulli-ah.” Sapanya begitu telpon disebrang sudah terangkat. “Apa kabar? Apa kau sehat?” 

Diam. Masih tak ada jawaban. 

“Sulli-ah, kau mendengarku?” Tanya Yifan cemas. 

“Oppa..” Jawab Sulli akhirnya, gadis itu berusaha menahan tangisnya. Ada rasa sesak di dadanya. 

“Syukurlah kau baik-baik saja..” Pembicaraan mengalir santai, ada perasaan senang di hati mereka. Terlebih Sulli, ia menghapus airmatanya dan kembali tersenyum. 

Waktu berjalan begitu lambat, berusaha menyapu sisa-sia kerinduan gadis berkulit putih itu malam ini. Di luar bulan tersenyum lembut kagum akan ketegaran gadis itu. Sulli menutup jendela kamarnya, namun ia masih bisa menatap taburan bintang di langit.Malam yang indah dan cerah. Secerah hatinya saat ini. 

“Jaga dirimu baik-baik.” 

“Oppa juga.” 

“I Love you.” 

Sulli tertawa mendengarnya. “Oppa kau kekanakan.” 

“Aku memang kekanakan tapi siapa yang menyukai seorang yang kekanakan sepertiku?” 

“Oppa..” Sulli merajuk. 

“Baiklah sampai jumpa.” Yifan menutup telponnya. Ia tersenyum puas karena sudah mendengar suara Sulli. 

©©©© 

SMA Parang. 

“Choi Sulli, apa kau baik-baik saja? Wajahmu sangat pucat.” Kata guru Yunho cemas. “Jika kau sakit, kau bisa ke ruangan kesehatan atau pulang lebih dulu.” 

Sulli mengangguk. Entah kenapa beberapa minggu ini penyakit asam lambungnya sering kumat. Gadis itu segera membereskan bukunya lalu pulang. 

‘Aku harus ke dokter sekarang.’ 

©©©© 

“Klik.” Yifan menutup telponnya. Tubuhnya bergetar hebat, wajah tampannya terlihat shock. Gagang telpon itu masih bergantung namun ia tak peduli. Pikirannya berkecamuk hebat. Hal yang tak pernah ia bayangkan terjadi juga. 

Sulli hamil. Dan dialah ayah biologis dari bayi yang dikandung gadis pendiam itu. 

Yifan menatap sebuah bingkai foto dirinya dengan Sulli ketika berulang tahun dulu. Bayangan masa lalunya datang seolah mengingatkan kembali kejadian yang sudah dia lakukan waktu itu. 

“Ya Tuhan kenapa bisa begini?” Ujarnya bingung. ‘Apa yang harus kulakukan? Aku tak mungkin kembali ke Korea. Aku harus bisa membujuk dad agar kembali ke Korea.’ 

Pemuda itu keluar dari kamarnya. Di Itali ia tidak tinggal di asrama seperti kebanyakan umumnya tapi tinggal di rumah baru bersama ayahnya. Yifan mencara ayahnya ke ruang kerjanya tapi ruangan itu kosong. 

“Kemana Dad?” Tanya Yifan pada sekertaris ayahnya ketika berpapasan di ruang tamu. 

“Bertemu dengan pemilik anggur dari Spanyol dari kemarin Tuan Muda.” 

“Kapan pulang?” Tanyanya sebal. 

“Kamis.” 

“Katakan pada Dad aku ada keperluan mendadak. Aku ingin segera bertemu Dad.” 

Sekertaris itu mengangguk. “Eh Tuan Muda, Lusa Nyonya Besar akan kemari. Tepatnya hari minggu.” 

Yifan terdiam. Pemuda itu rindu sekali pada ibunya setelah hampir 4 tahun tak bertemu. dia teringat kata-kata ayahnya. 

“Jika kau tak ke Itali, Dad pastikan kau tak akan pernah bisa menemui Mommy-mu. Bukankah kau sangat merindukan Mommy-mu, Kris? Sadarlah kau lebih 4 tahun tak bisa menemuinya. Itu karena Daddy melarang kalian bertemu. Jika kau masih ingin bertemu mommy-mu kau harus ikut daddy ke Itali, jika tidak pertemuanmu dg mommy-mu 4 tahun yang lalu adalah pertemuan terakhir.” 

Yifan menghela nafasnya. Dia tak boleh membuang kesempatan untuk bertemu ibunya. 

©©©© 

“PLAAK!!” 

Yifan sedikit terhuyung tapi dia tetap diam meski ayahnya menamparnya sangat keras. Sakit memang. 

“Kau akan tetap disini bersama Daddy.” 

“Aku harus menemuinya, Dad!” 

“No Kris!!” 

“Why not, Dad?” 

“Sekolahmu lebih penting dibanding gadis itu.” Albert Wu menatapnya tajam. “Kau tak akan pernah keluar dari Itali tanpa izin dariku. Lupakan saja gadis bernama Choi Sulli itu. ” 

“Tapi Sulli sedang mengandung anakku, Dad!” Teriak pemuda itu kesal. 

Albert Wu yang awalnya hendak meninggalkan putranya itu membalikkan tubuhnya begitu mendengar pengakuan Yifan. Lelaki itu menatapnya. “Jadi itu alasanmu, kau begitu ngotot mau kembali ke Korea? Gadis itu memberitahumu kalau dia sedang mengandung anakmu? Heh, lelucon macam apa.” Albert Wu 

tersenyum mengejek. 

“Itu bukan lelucon, Dad!” 

“Dan kau percaya anak itu adalah darah dagingmu?” 

“Tentu saja!” Jawab Yifan tegas. “Kami sudah tidur bersama dan aku yang memaksanya bukan dia yang menggodaku.” 

Albert Wu menatap Yifan seakan dia hendak menelannya bulat-bulat. Dengan perasaan marah, dicengkramnya baju yang dipakai Yifan itu kasar lalu memukulnya berkali-kali. 

Yifan tak melawan, bahkan ketika ayahnya sudah kehabisan tenaga untuk memukulnya pemuda itu tetap tak bergeming. “Kenapa berhenti, Dad? Pukul saja aku terus sampai Daddy puas. Tapi aku akan tetap berangkat ke Korea dan Daddy tak akan bisa menghalangiku.” 

“Kau akan tetap disini.” Sahut lelaki itu. 

Yifan tersenyum sinis. “Jangan harap Daddy bisa bisa menghalangiku.” Yifan bergegas pergi. Sementara Albert Wu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. 

“Kau tak akan bisa melawanku Kris. Akanku singkirkan bayi itu bersama gadis bernama Choi Sulli itu. Lihatlah.” 

©©©©

Advertisements

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s