Namitsutiti

[FF-Freelance] Every Heart – Part 3

Leave a comment


Author : Ren Hikaru

Tittle : Every Heart

Cast : Choi Sulli, Kim Suho, Wu YiFan

Status : Completed – Season 1

.

.

.

PART 3

Menjelang malam  Sulli berada di depan pagar rumahnya. Ia dikagetkan dengan kedatangan cowok jangkung 188cm yang sedang menyandarkan tubuhnya pada pohon sakura yang mulai berguguran tepat di depan pagar halaman rumahnya. Wajah sendunya menatap langit sore yang keemasan, sementara kedua tangannya dimasukkan ke dalam katong celananya. 

“Yifan-sshi.” Sapanya terkejut. Pemilik mata biru dan rambut pirang itu menoleh. Pemuda itu tersenyum cerah begitu orang yang ditunggunya sudah ada di depan mata. 

ELF Kafe… 

“Aku tidak tahu harus meminta maaf dengan cara apa setelah kejadian itu.” Yifan memulai pembicaraannya. “Sulli-ah..” 

Sulli tetap tak bergeming. Ditatapnya wajah Yifan lekat-lekat. “Jika terjadi sesuatu padaku suatu hari nanti, apa kau mau bertanggung jawab?” 

Yifan mengangguk. “Aku janji.” 

“Apa kau juga berjanji tidak akan mengulangi hal itu lagi?” Kali suaranya terdengar bergetar. 

“Aku janji, kejadian itu tidak akan kuulang lagi.” Yifan meyakinkan. 

Sulli bernafas lega. “Jika kau melanggar janjimu, selamanya aku tak akan pernah memaafkanmu. Sampai mati dan di kehidupan selanjutnya.” 

“Aku Wu Yifan berjanji tidak akan melanggar janjiku pada gadis bernama Choi Sulli.” Pemuda itu mengacungkan 2 jarinya. 

Tiba-tiba saja Sulli merasa mual pada perutnya. 

“Kenapa?” Tanya Yifan. “Apa perutmu mual?” 

Sulli mengangguk. “Aku ke toilet sebentar.” 

Yifan termenung begitu Sulli ke toilet. ‘Apa mungkin dia hamil? Mana mungkin, aku hanya melakukannya 2 kali. Mual belum tentu hamil, lagi pula Sulli punya penyakit asam lambung. Dia juga sering muntah-muntah ketika diawal kami berpacaran.’ 

Begitu Sulli keluar dari toilet, wajah gadis itu terlihat pucat. 

“Sulli-ah kita ke dokter pribadiku sekarang.” Kata Yifan tegas tanpa meminta persetujuan gadis itu. 

©©©© 

Dokter Kangta memeriksa keadaan Sulli. Usai memeriksanya dokter pribadi keluarga Wu itu memberikan resep obat pada Sulli. 

“Asam lambungmu kambuh nona Choi. Jaga pola makan anda dan jangan terlalu banyak pikiran. Stress adalah pemicu utama kambuhnya penyakit anda.” 

Yifan tampak lega. Hanya asam lambung. Pemuda itu pamit setelah menerima resep obat dari dokter Kangta. Ketika mereka keluar dari ruangan itu, dokter Kangta langsung menelfon seseorang. “Tolong sambungkan telpon saya pada Albert Wu. Dari dokter pribadinya.” 

©©©© 

Di perjalananpulang ke rumahnya Sulli hanua bisa diam mendengarkan Yifan yang terus mengoceh. “Sulli-ah, kau mendengarku tidak?” Tanyanua gemas. 

“Ya, tak perlu berlebihan seperti itu. Aku baik-baik saja. Jangan khawatir.” 

“Aku seperti ini karena aku mencemaskan keadaanmu.” 

Sulli tersenyum. “Ya tuan Wu, aku mendengar semuanya. Pulanglah, aku sudah sampai di rumah kecuali kau mau dibanting kakekku.” 

Yifan mengangguk. “Sulli-ah.” Panggilnya sebelum gadis itu masuk rumahnya. Sulli menoleh. 

“Apa lagi?” 

“Bisakah kau memanggiku Oppa mulai sekarang?” Yifan bertanya penuh harap. 

Sulli tersenyum geli. “Maaf..” 

“Tidak apa-apa.” Yifan berusaha tersenyum meski dia kecewa. 

“Yifan-sshi aku…” 

“.. sudahlah, aku tidak akan memaksamu jika kau tak mau. Selamat malam.” Yifan pamit dan berlalu. 

Sulli menahan senyumnya. “Selamat malam Yifan oppa!” Teriaknya. 

Yifan yang mendengarnya langsug menoleh ke belakang. Ada secercah kebahagiaan yang tak bisa dibendung. Pemuda itu bersorak senang. 

“Yeaah.. akhirnya dia memanggilku oppa!” teriak Yifan kesenangan bahkan saking senangnya pemuda itu melompat-lompat kegirangan. Beberapa orang yang melihatnya menggeleng heran. 

“Dasar anak muda yang sedang jatuh cinta.” 

Yifan mendengar cibiran itu tapi dia tak peduli dia malah berteriak senang seolah-olah panggilan oppa adalah gelar pangeran untuknya. “Oppa.. oppa..” Teriaknya senang. 

©©©© 

Esok harinya… 

“Dad..” Yifan kaget melihat lelaki paruh baya itu telah duduk nyaman sambil membaca koran. “Kapan Daddy datang? kenapa mendadak?” Pemuda itu jadi punya firasat jelek setiap ayahnya datang menjenguknya. 

“Daddy sudah merekomendasikanmu ke Itali. Semua keperluanmu sudah tersedia. Dad kemari hanya tinggal mengurus surat kepindahanmu.” 

“I wana stay here, dad.” Ujar Yifan datar. 

“What you say? Stay in here Kris?” 

“Yes dad. I Wanna stay in here.” Tegasnya lagi. 

Lelaki itu tersenyum mengejek. “Ada yang tidak beres dengan kepalamu.” 

“I’m fine dad.” 

“No.” Lelaki itu menggeleng. “Pasti ada yang mempengaruhimu. Siapa orangnya?” 

“Nothing.” 

“Lie.” 

Yifan menatap ayahnya. “Please dad, pergilah. Jangan ganggu kehidupanku.” 

“Lihat saja, cepat atau lambat Daddy pasti akan mengirimmu ke Itali. Kau tak bisa melawan daddymu ini, Kris Wu.” Usai memberi peringatan pada putranya lelaki itu segera keluar dari apartemennya. 

Yifan terduduk begitu saja. Dia sangat paham dengan watak ayahnya yang keras. Jika ayahnya berkata akan mengirimnya ke Itali secepat mungkin keinginan itu akan tercapai. Yifan terlihat frustasi. “Damn!!” Teriaknya seraya memukul dinding keras. 

Albert Wu adalah sosok yang memiliki disiplin tinggi. Cerdas dan mempunyai wibawa yang kuat sebagai pemimpin besar. Kekuasaannya sangat banyak. Dia tipe lelaki yang sangat otoriter. 

Pebisnis nomer 1 di Amerika. Semua pebisnis kelas atas tak ada yang tak mengenalnya. Dia bahkan memiliki banyak anak perusahaan. Mulai di Korea, Hongkong, Jepang, Thailand, Kanada, Swedia dan Jerman. Trakhir dia membeli perusahaan elektronik yang hampir bangkrut di Spanyol. Albert Wu seorang jutawan. 

Sebenarnya Albert memiliki 3 anak laki-laki. Mereka adalah Jifan, Yixing dan Yifan. Keluarganya kacau dan tidak harmonis. 

Jifan Wu atau lebih dikenal Bryan Trevor Wu tewas bunuh diri karena tak kuat menahan tekanan yang diberikan ayahnya untuk meneruskan bisnis ayahnya. Pemuda yang bercita-cita ingin menjadi pembalap F1 itu lebih memilih mengakhiri hidupnya dengan menabrakan Mobil sport merah ke pembatas jalan. Tapi Albert mengatakan bahwa itu kecelakaan. 

Anak ke dua Wu Yixing atau dikenal Lay Wu, pemuda itu nasibnya jauh lebih buruk dibanding kakaknya. Yixing dikabarkan menghilang dari rumahnya tapi sebenarnya pemuda itu mendekam di tempat rehabilitas pecandu obat-obatan terlarang di Kanada. Pemuda itu juga stress akibat tekanan dari ayahnya yang memaksany mengikuti jejak ayahnya. 

Jadilah Yifan sebagai anak tunggal di keluarga Wu itu. Sayangnya Yifan tak pernah tahu jika dia memiliki 2 saudara laki-laki. Yang ia tahu dia adalah anak tunggal pasangan Albert Wu dengan Juana Spencer. 

Albert memencat ponselnya. “Dengan kepala sekolah SMA Parang… saya adalah wali dari Wu Yifan… bla..bla..bla..” Albert memulai pembicaraannya dengan Lee Sooman. 

©©©©

Malam itu terasa sepi. Udara dingin semakin menusuk kulit hingga menusuk pori. Sulli melambaikan tangannya pada Yuri. “Hati-hati Sulli-ah.” Yuri mengingatkan sahabatnya. Mereka berdua baru pulang dari bioskop. 

“Aku tahu.” Ujar gadis itu lalu pergi. Dalam perjalanan pulang Sulli dikagetkan dengan kedatangan 4 orang laki-laki yang sedang memukuli seorang yang sudah tak berdaya. Tanpa ampun mereka memukulinya dengan garang seolah tubuh itu adalah mainan. Dan salah satu dari mereka memukul kepala itu keras. Korban itu jatuh, namun masih bisa melihat dan terlihat sekali kalau sedang menahan sakit. 

“Sudah kami katakan jauhi nona kami. Jika kau masih menemuinya jangan salahkan kami kalau kami nekat membunuhmu, Kim Suho!” 

Pemuda itu merasa kepalanya berdenyut-denyut hebat. Darah mengalir banyak dari bagian belakang kepalanya. Perlahan pandangan matanya mulai kabur. Yang dia tahu ada seorang yang mendekatinya. Terlihat panik dan berteriak memanggilnya. ‘Apa aku sudah mati?Tubuhku rasanya ringan. Ibu… ibu.. kau kah itu? Apa kau datang ingin mengajak ke tempatmu?’ Perlahan mata itu mulai redup hingga akhirnya tertutup. 

“Pelatih Kim!! Anda masih hidup, kan? Tolong jangan membuat saya takut! Pelatih!!” Sulli berteriak panik melihat kondisi pemuda itu. “Ya Tuhan darahnya banyak sekali.. bagaimana ini!” Gadis itu frustasi dan ketakutan. 

©©©© 

SONE Hospital.. 

Sulli menunggu cemas di luar ruangan IGD. Pikirannya kalut. Dia takut kalau pelatihnya tak bisa diselamatkan. 

“Nak, apa kau tadi yang menelpon ke rumah?” 

Sulli mendongak, dilihatnya seorang lelaki tua yang mungkin seumuran dengan kakeknya itu. Wajahnya terlihat cemas. 

“Namaku Ken Hyuga. Aku kakek Kim Suho.” 

“Anda kakek pelatih Kim?” Ulang Sulli. Orang jepang rupanya. Lelaki tua itu mengangguk lalu duduk di samping Sulli. Airmatanya jatuh, namun lelaki tua itu berkali-kali mengusapnya. “Aku takut sekali, nak. Saat kau menelpon ke rumah tubuhku terasa lemas. Aku takut kehilangan satu-satunya orang yang kumiliki.” 

Sulli menatapnya iba. “Kakek tak perlu khawatir, pelatih Kim sudah diurus oleh dokter terbaik di rumah sakit ini.” 

“15 tahun lalu aku ditelpon pihak rumah sakit dan mendapati anak dan menatuku tewas kecelakaan. 4 bulan yang lalu aku juga ditelpon pihak rumah sakit kalau cucu perempuanku sudah tiada. Makanya saat menerima telponmu aku terus berdo’a agar Tuhan tak mengambil Suho dariku..” Isak lelaki tua itu. 

Selang beberap menit tim dokter yang menangani Suho keluar. 

“Pasien sudah melewati masa kritis. Karena pendarahan yang cukup serius itu berefek pada syaraf di matanya, tapi untunglah tidak parah. Mungkin penglihatannya mulai kabur tapi tidak sampai mengakibatkan kebutaan.” 

Ken Hyuga menangis mendengarnya. “Syukurlah dia selamat.” 

“Dan kau nona terima kasih sudah cepat membawanya kemari sehingga kami bisa menanganinya cepat. Dan terima kasih sudah menyumbangkan darahnya pada pasien.” Ucap dokter itu salut. “Kalau begitu kami undur diri.” 

“Terima kasih nak. Sungguh aku berterima kasih padamu.” 

©©©© 

1 minggu kemudian. 

Suho sudah kembali beraktivitas. Tidak seperti biasanya, penampilan pemuda itu agak berbeda. Suho menggunakan kacamata. Ketika dia melewati bagian kelas 2 hampir semua siswi berteriak heboh melihat perubahan yang terjadi pada pelatih sepak bola di SMA Parang tersebut. 

“Wuah… kalian lihat penampilan pelatih Kim?” 

“Iya, dia bahkan lebih tampan dari harry potter.” 

“Aku tak sabar menunggu bel berbunyi agar bisa ke lapangan sepak bola.” 

Dan begitu bel istirahat berbunyi banyak siswi yang berlari menuju lapangan sepak bola. 

“Hei Sulli-ah, apa kau tak merasa lain hari ini?” Tanya Yuri aneh karena lapangan menjadi ramai. 

“Tidak, hari inikan turnamen sepak bola antara SMA kita melawan SMA Genie.” Jawab Sulli santai. 

Yifan dan teman-temannya turun ke lapangan, suara gaduh langsung keluar dari siswi yang memang menyukai sang kapten sepak bola. 

“Yifan oppa..!” Teriak mereka senang dan sebagian lain ada juga yang berteriak memanggil nama Henry Lau. Dan yang paling aneh aneh adalah gerombolan siswa kelas 3. Mereka bukannya meneriaki sang kapten melainkan pelatihnya. 

“Pelatih Kim semangat!” 

Sementara di lapangan itu, 2 anak adam yang saling bermusuhan menatap benci satu sama lain. Mereka adalah kapten kesebelasan SMA Parang si tampan Wu Yifan dan kapten kesebelasan SMA Genie Henry Lau. 

“Wah.. wah.. ini seperti awal dari film diamond cut diamond, ya?” Ujar Minho sambil melirik Sulli. Sulli yang tahu istilah itu hanya diam. 

“Oppa kau cerewet sekali, kenapa oppa tidak ikut turun kelapangan?” Kata Sulli. 

“Hoho.. aku ini kelas 3, ujian sudah dekat, kami tak diijinkan ikut pertandingan.” 

Yuri yang masih tak mengerti bertanya pada Minho. “Oppa apa maksudmu tadi yg tentang diamond?” 

“Itu peribahasa belgia yang artinya untuk mengiris suatu berlian keras harus menggunakan berlian lagi.” 

“Aku masih tak mengerti karena oppa menunjuk dua anak yang bertarung itu di lapangan.” Yuri mulai sebal. 

“Itu ungkapan perang dingin yang maha dahsyat antara orang-orang bijak dan orang-orang kuat. Tuh.” Tunjuk Minho pada Yifan dan Henry. 

Sementara itu di lapangan.. 

“Wu Yifan, aku tak peduli kau menang atau kalah kali ini karena tak lama lagi kau akan dikirim ke Itali. Kau tak perlu khawatir soal gadismu karena aku yang akan menjaganya. Menggantikan tempatmu.” Kata Henry tersenyum. 

Tangan Yifan gemetar. Ingin sekali dia menghajar wajah bule sipit ini. Andai dia bisa menolak perintah ayahnya. Andai ayahnya tak mengancamnya. Andai ia bisa menetap disini! Ah.. semuanya hanya omong kosong. Lelaki paruh baya itu sudah mengurus semuanya. Dan hari ini adalah hari terakhir dia di Korea karena besok dia harus ke Itali. ‘Dad.. andai aku bisa membunuhmu..’ 

Pertandingan dimulai, nampak Henry sudah berancang-ancang menendang bola ke arah Yifan. 

“Majulah kau Henry Lau, tak akan kubiarkan bolamu menjebol gawang kami.” Kata Yifan sinis. 

©©©©

Advertisements

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s