Namitsutiti

[FF-Freelance] Every Heart – Part 2

Leave a comment



Author : Ren Hikaru

Tittle : Every Heart

Cast : Choi Sulli, Kim Suho, Wu YiFan

Status : Completed – Season 1

.

.

.

PART 2


Sore itu Sulli memencet bel apartemen Yifan. Lama ia menunggu namun tak kunjung dibuka pintu itu. Sulli tahu Yifan berada di dalam karena itulah dia tak pergi meski hampir 2 jam menunggunya. 

“Masuklah.” Ujar Yifan membuka pintu. 

Sulli menatap wajah segar yang baru saja keluar dari kamar mandinya. Yifan masih mengenakan piyamanya sementara rambutnya yang mulai panjang itu terlihat berantakan. Air menetes dari rambutnya yang basah. 

Sulli memasuki apartement itu tanpa curiga. Yifan sendiri mengunci apartementnya lalu menyimpan kuncinya. 

Apartemen Yifan tervilang sangat mewah, semua yang diinginkansudag tersedia. Pemuda itu tinggal sendiri di apartemennya. Daddy~nya begitulah dia memanggil Ayahnya jarang pulang karena sangat sibuk dengan bisnisnya. Mommy~nya adalah wanita berkebangsaan Kanada yang menjadi desainer terkenal. Tak heran jika pemuda tampan itu selalu mengenakan pakaian dan aksesoris yangjarang dimiliki orang lain. Hampir semua barangnya limited edition. 

“Kemana orangtuamu?” 

“Diluar negri.” 

Sulli duduk disamping Yifan, dia menyentuh pipi memar itu. “Sakit?” 

Yifan tak menjawab. Sentuhan Sulli membuatnya bergairah. Dia tidak tahu kenapa setiap sentuhan gadis itu membuatnya bernafsu meski sesaat. 

“Yifan-sshi… Kenapa menatapku seperti itu?” Sulli mulai ketakutan. 

Ya, Yifan terlihat aneh seolah dia akan menerkamnya hidup-hidup. 

Pemuda itu menyentuh wajah Sulli. Dia tersenyum aneh. “Sulli-ah, aku sendirian. Bisa temani aku saat ini?” Tanyanya penuh minat akan dirinya. 

Sulli menggeser tubuhnya tapi tak bisa karena Yifan tak membiarkan hal itu terjadi. Yifan terus menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. 

“Yifan~sshi…” Sulli terlihat takut. Tapi sayangnya Yifan tak mendengarnya. Hatinya bergejolak hebat. Dia menginginkan Sulli saat ini. 

©©©©

Sore itu langit terlihat terang. Matahari semakin tenggelam di ufuk barat dan meninggalkan seberkas cahaya kuning keemasan. Kota Seoul terlihat sangat padat. Diantara lalu lalang manusia itu nampak seorang gadis cantik dengan pakaian yang begitu elegan sedang menatap suatu objek dengan teliti. 

“Noona..” Ujar Suho kaget begitu melihat Tiffany sudah berdiri di depan rumahnya. Gadis itu tersenyum lalu berlari kearahnya dan memeluknya. Suho terdiam. 

Extrofer Caffe… 

“Kenapa Noona kemari?” Suho memulai pembicaraan. Nada bicaranya tak sehangat dulu. Kini terkesan datar. 

Tiffany tersenyum. “Mencarimu. Kenapa, apa kau tak suka aku menemuimu?” 

“Ya.” 

Tiffany kaget dengan penyambutan Suho yang di luar perkiraannya. Padahal baru beberapa bulan lalu mereka tak bertemu tapi pemuda di hadapannya itu bersikap dingin padanya. “Suho-ah.” 

“Pulanglah Noona, disini bukan tempat Noona. Ayah Noona pasti sangat mengkhawatirkan keadaan Noona saat ini.” 

“Aku tak peduli.” 

“Tapi aku sangat peduli.” Suara Suho terdengar sangat ditekan. 

Tiffany menatapnya sendu. “Kenapa? Kenapa kau berubah?” 

“Setiap manusia pasti akan mengalami perubahan dalam hidupnya.” 

Kembali Tiffany menunduk. Hatinya sakit melihat perubahan pemuda yang 3 tahun lebih muda darinya itu. Dulu saat di Inggris mereka sangat dekat bahkan seperti tak bisa dipisahkan dan Suholah yang paling mengerti keadaannya. Semua temannya mengatakan bahwa mereka adalah pasangan serasi. Namun sayangnya Suho tak pernah mengungkapkan perasaan yang sebenarnya pada gadis bermata indah itu. Mereka saling mencintai. 

Mereka terdiam cukup lama di cafe itu. 

“Aku sudah menelfon ayah Noona, sebentar lagi jemputan akan datang.” Selesai berkata seperti itu Suho meninggalkan Tiffany. Gadis itu menangis. Saat pengawal keluarga Hwang datang menjemput anak majikannya, Suho hanya bisa menatap kejadian itu dengan hambar. Hatinya bahkan lebih sakit karena harus melakukan hal itu. 

‘Maafkan aku Noona, aku benar-benar minta maaf. Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu.’ Tanpa sadar ada airmata yang menetes di pipinya. 

Suho ingat akan kata-kata Tuan Ian Hwang, ayah Tiffany waktu di Inggris dulu sebelum dia memutuskan untuk meninggalkan London selamanya. 

“Tiffany memang bukan anak kandungku tapi aku sangat menyayanginya seperti anak kandungku sendiri. Ayah kandungnya seorang atlet sepak bola sepertimu, tetapi lelaki itu meninggalkan Tiffany dan ibunya hanya untuk sebuah mimpi. Karena itulah aku melarang Tiffany berhubungan dengan laki-laki manapun yang bekerja sebagai atlet sepak bola. Aku tidak mau apa sejarah ibunya terulang kembali padanya. Aku minta padamu tinggalkan dia.” 

“Itu tidak mungkin Tuan.” 

“Jika kau tak mau meninggalkannya, maka aku yang akan memaksa kalian untuk berpisah.” 

“Tuan Hwang tidak semua lelaki sama seperti ayahnya. saya..” 

“..anak muda,” Tuan Hwang tersenyum. “Ingat baik-baik perkataannku ini. Kau mempunyai seorang kakek yang bekerja di toko keramik dan kau juga nemiliki seorang paman yang sedang menjalankan bisnis pengalengan ikan di daerah Busan. Bisnisnya cukup lancar bukan?” Lelaki itu menatap Suho sinis. 

Suho yang mendengarnya terkejut dan entah kenapa firasatnya cukup menakutkan pikirannya. 

“Hanya dengan hitungan menit aku bisa membuat usaha Kim Ryeowook bangkrut. Dan aku juga bisa membuatmu tak bisa diterima bekerja di tempat manapun.” 

Suho berdiri dari duduknya. “Tuan anda benar-benar…” Pemuda itu tak meneruskan kata-katanya, sebisa mungkin dia menahan amarahnya di depan lelaki yang menjadi salah satu orang disegani di negaranya itu. Ya, Ian Hwang adalah salah seorang mentri di Korea. 

“Pikirkan baik-baik anak muda, masa depanmu kau sendiri yang menentukan. Jika kau ingin selamat berpisahlah dari putriku tapi jika kau ingin hancur dengan senang hati aku akan menghancurkanmu sehancur-hancurnya.” 

Suho mengepalkan tangannya kuat-kuat, dia ingin melawan tapi ia sadar siapa dirinya. Lelaki paruh baya itu menyodorkan selembar kertas yang sudah bermaterai pada Suho. 

“Itu surat pernyataan bahwa kami keluarga Hwang tidak akan mengganggu hidupmu juga keluargamu selama kau menjauhi Tiffany.” 

Suho bergetar menatap surat pernyataan tersebut. Dia tak mempunyai pilihan, yang ia korbankan adalah cinta pertamanya. Tangannya bergerak mengambil kertas itu lalu menandatanginya dan menyerahkannya pad Tuan Hwang. 

“Kau sudah melakukan yang terbaik.” 

“Tuan… apa begitu menyenangkan bagimu menjadi seorang yang berkuasa dan memisahkan kami?” 

“Mungkin kau akan menyesal sekarang dan juga sangat membenciku, tapi ingatlah suatu saat kau akan berterima kasih padaku karena aku sudah menyelamatkan hidupmu. Berbahagialah dengan gadis lain.” 

Suho mengangguk samar. “Terima kasih.” 

Lelaki itu menatapnya heran. 

“Terima kasih sudah menyadarkan saya, menyadarkan bahwa cinta bisa dibeli dengan sebuah kekuasaan.” 

Suho tersadar dari lamunannya, ia hanya bisa tersenyum tipis melihat Tiffany memasuki mobilnya dengan bodyguarnya dan beberapa deting kemudian mobil itu meninggalkan Extrofer cafe. Malam mulai beranjak. Pemuda itu menatap langit. 

©©©© 

Di satu tempat lainnya. 

Sulli terdiam. Ia ingin menangis tapi tak bisa. Gadis itu membisu di tengah kegelapan malam. Sementara Yifan sudah tertidur di sampingnya. Ia ingin memukul pemuda playboy yang memaksanya tidur malam ini. Ia ingin memukul, menampar, memaki atau apa sajalah agar membuat Yifan benar-benar menyesal dan berjanji tak mengulangi nya lagi. Tapi semua hanya ada di angan-angannya. Ia tak mungkin melakukannya. 

Sulli menarik selimut yang menutupi tubuhnya. Ia tercekam rasa takut. Menggigil dalam kesunyian. Sulli menangis. 

Samar-samar Yifan memicingkan matanya, dia terbangun gara-gara mendengar isak tangis gadis yang dicintainya. Pemuda itu menggeser tubuhnya lalu merengkuh Sulli dan memeluknya. Sayangnya gadis itu mendorong kuat tubuhnya dan menuju kamar mandi lalu menguncinya. Dihidupkannya shower itu kemudian ia menangis lagi. 

Dengan lemas ia menyandar pada dinding. Tubuhnya berguncang menahan tangis lalu perlahan tubuhnya mulai merosot ke lantai. 

“Sulli-ah!” Yifan memanggil namanya berulang-ulang dari luar sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi. Tetap saja tak ada jawaban. Sulli terus menangis. 

‘Kenapa aku lemah terhadapnya? Mengapa aku tak bisa membencinya? Aku benci diriku yang seperti ini.’ 

Sementara di luar, Yifan bersandar pada tembok yang memisahkan dirinya denga Sulli. Perlahan tubuhnyacjuga ikut merosot ke lantai. Dia menjambak rambutnya pelan. Pikirannya benar-benar kacau. Ini sudah kedua kalinya dia membuat Sulli menangis seperti itu. 

‘Bodoh.. bodoh.. dasar bodoh! apa yang sudah kau perbuat Wu Yifan?! Dia pasti membenci seumur hidup’ 

Yifan frustasi. “Sulli-ah… maafkan aku.” Suaranya terdengar pelan. Dia juga ingin menangis. 

Sulli tak mendengarkarena gadis itu menangis keras di dalam. 

©©©©

SMA Parang, Kelas 2-1 

“Choi Sulli.” Guru matematika pak Leeteuk mengabsen muridnya satu-persatu. Semua siswa di kelas itu menatap bangku kosong nomer 3 dari depan samping jendela. Ini sudah 1 minggu lamanya Sulli tidak masuk sekolah. Bahkan tak ada satupun yang tahu kemana si juara paralel perginya. 

“Hei Kwon Yuri, kamu kan sahabatnya memangnya kamu tidak tahu Sulli kemana?” Tanya Onew sang ketua kela 2-1 saat mereka berada di lapangan sepak bola. 

“Sulli tidak masuk? Setiap hari aku melihatnya memakai seragam sekolah dan kami selalu bertemu di kereta.” 

Onew mengangguk. “Apa iya? Hari ini dia bolos lagi, loh.” 

Yuri menggeleng tak percaya. “Mana mungkin Sulli berani bolos. Asal kau tahu kakek Sulli itu lebih mengerikan dibanding kepala sekolah kita Lee Sooman.” Jelas gadis itu. Lee Sooman adalah kepala sekolah sekaligus pemilik SMA Parang yang paling ditakuti dan disegani semua murid-murid SMA tersebut. Dari jaman ke jaman anak-anak SMA Parang menyebutnya ‘Si Muka Gorila’ 

“Tapi Sulli sudah 1 minggu tidak masuk sekolah.” 

“APA?” Yuri kaget sekali, dia menatap Onew. “Kau tak bertanya pada kapten bule itu?” 

Onew tersenyum kecut. “Jika aku bertanya tentang Sulli pada kapten sama saja aku mengantar nyawa.” 

Yuri mengangguk paham. Yifan adalah pencemburu berat. 

©©©© 

Sementara itu kereta berjalan cepat meninggalkan daerah Seoul. Diantara banyaknya orang Sulli duduk menyendiri hingga ada kaleng minuman yang masih utuh terulur padanya. Gadis itu menengadahkan wajahnya. 

“Minumlah.” Ucap pemuda itu sambil duduk di sebelahnya. Pemuda itu tersenyum tulus membuat Sulli tak ragu menerima minuman kaleng tersebut. Sulli mencoba membuka kaleng minuman itu tak juga berhasil meski dicobanya berkali-kali. Tanpa berkata apa-apa pemuda itu mengambil minuman kaleng dari tangan Sulli. Membukanya dengan satu gerakan mudah lalu menyerahkannya pada Sulli. 

“Terima kasih.” Kata Sulli pelan, perlahan dia meneguk minuman itu pelan. Matanya masih sembab karena habis menangis hingga matanya terlihat sipit. 

Sejenak Sulli menatap wajah yang tak asing baginya. Ya, dia adalah pelatih muda yang keren dan tampan itu kini duduk di sampingnya. Matanya fokus pada koran yang dibacanya. Tiba-tiba saja perut Sulli berbunyi. 

“Kau belum sarapan?” Pemuda itu mengalihkan pandangan matanya pada Sulli. Sulli menggeleng malu. 

Suho tersenyum lalu mengeluarkan bekal yang dibawanya dan memberikannya pada Sulli. “Sebagai gantinya jangan bolos sekolah lagi.” Lanjutnya santai seolah tahu apa yang ada di pikiran anak itu. 

Awalnya Sulli ingin menolak tapi aroma bekal yang disodorkan itu berhasil menggoda perutnya, diapun menerima bekal itu dan menyantapnya tanpa sisa. 

“Kenapa pelatih tahu kalau saya bolos?” 

Suho tersenyum simpul, matanya tetap fokus pada koranyang dibacanya saat ini. “Sebenarnya aku tidak tahu. Tapi 3 hari berturut-turut melihatmu di kereta dan tidak turun juga meski sudah sampai stasiun dekat sekolah, aku menyimpulkan bahwa kau bolos.” 

Sulli menatap wajah pelatih muda itu. ‘Wajahnya tampan dan menarik, walau masih kalah tampan jika dibanding Yifan. Juga masih tinggi Yifan. Tapi wajah pelatih ini seperti memiliki sesuatu yang bahkan Yifan tak memilikinya. Karisma. Yifan tak memiliki karisma seperti pelatih Kim.’ 

“Apa yang kau lamunkan?” 

Sulli tersadar karena sudah cukup lama dia menatap wajah pelatihnya itu. “Tidak ada.” 

Suho melipat korannya. “Sang juara paralel tiba-tiba bolos sekolah, aku rasa itu bukan hobi barumu. Jadi apa masalahmu?” 

Wajah Sulli kaget bukan main, kenapa pelatihnya ini bisa tahu kalau dirinya sedang punya masalah? “Tidak ada masalah serius. Hanya saja bosan.” Kilahnya sambil menatap ke luar jendela. 

“Kau tak bisa bohong.” 

“Saya tidak bohong.” 

“Benarkah?” Suho menatap tepat ke dalam retina gadis bermata sipit itu. Seketika Sulli terhipnotis saat menatap mata pelatihnya. ‘Astaga, dia mempunya sebuah tatapan mata yang sanggup merontohkan kebohonganku. Tatapan mata yang seolah menutunku untuk berkata jujur.’ 

Merasa aneh dan sudah membuat salah tingkah muridnya, Suho jadi tidak enak. “Apa di wajahku ada sesuatu?” Tanyanya heran. 

Sulli menggeleng. 

“Sebentar lagi aku turun di stasiun ini, tidak baik anak sekolah sepertimu bolos. Pulanglah jika kau tak ingin sekolah.” Ujar Suho hampir beranjak. 

“Tiket..” 

“Eh?” 

Sulli menunduk malu. “Saya sudah tak punya uang untuk membeli tiket pulang.” Jawabnya polos. 

Suho berpikir sejenak. Lalu tanpa ragu memberikan tiket yang tadi dia beli. “Terima dan pulanglah.” 

Sulli menerima tiket itu. “Pelatih sendiri?” 

“Aku bisa membelinya lagi nanti, waktu mengajarku sudah tiba, jika tidak cepat-cepat turun aku bisa telat mengajar di SMA Kirin.” 

“Pelatih juga mengajar di SMA Kirin?” 

“Ya, menjadi guru pengganti bahasa Inggris sementara.” Suho segera berlalu. Sulli menatap hingga punggung itu hilang dibalik keramaian. 

©©©© 

Pulangnya Suho dikagetkan dengan keadaan Sulli yang masih juga belum pulang. Gadis itu tertidur di bangku stasiun. ‘Astaga, kenapa anak ini masih disini? apa dia tidak takut diculik?’ Suho mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh pundak Sulli tapi mendadak tangannya berhenti bergerak, padahal tinggal sedikit lagi. Pemuda itu mengurungkan niatnya begitu melihat wajah Sulli yang tertidur pulas. Dia tidak tega membangunkannya. Diapun duduk di samping gadis itu. 

30 menit kemudian. 

Sulli terbangun sendiri dari tidurnya karena suara kereta, hal pertama yang dilihat adalah sosok pelatih yang ada di sampingnya. 

“Di dekat sini ada kedai ramen.” Suho melipat korannya. “Jika tidak cepat antriannya bisa panjang sampai malam.” 

Seperti mengerti maksud pelatihnya, Sulli menurut saja saat diajak makan. Bahkan gadis itu menghabiskan 2 porsi. 

“Pelatih besok saya pasti kembali sekolah.” Ujar Sulli ceria. 

“Tentu saja, kau sudah menghabiskan bekalku.” Canda Suho. “Sudah bosan membolos?” 

Sulli menggeleng. Setidaknya wajahnya kini tidak sesedih tadi pagi saat bertemu. Wajah itu kini tersenyum ceria. 

“Kenapa?” 

“Karena saya ingin melihat wajah pelatih besok.” Sulli membungkuk hormat lalu pamit pada pelatihnya saat kereta sudah berhenti di pemberhentian kota Seoul. Suho tertawa mendengarnya membuat Sulli ikut tertawa. 

“Tentu saja, jangan membuat anak didikku uring-uringan setiap hari karena memikirkanmu terus. Wu Yifan mencemaskan keadaanmu.” 

Sulli mengangguk. 

©©©©

Advertisements

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s