Namitsutiti

[FF-Freelance] Every Heart – Part 1

Leave a comment


Author : Ren Hikaru

Tittle : Every Heart

Cast : Choi Sulli, Kim Suho, Wu YiFan

Status : Completed – Season 1

.

.

.

London, musim gugur. 

Tiffany membuka surat yang dilipat membentuk burung bangau di atas mejanya. Kertas itu berwarna putih dan sewangi bunga sakura. Ciri khas Kim Suho. Pemuda kebangsaan Korea yang 3 tahun lalu mendapat beasiswa ke Inggris dan tergabung dalam klub sepak bola disana. Dengan hati-hati gadis cantik itu membuka lipatan demi lipatan hingga akhirnya ia dapat membaca dengan jelas isi surat itu. 
“My Dear Tiffany 

Saat Noona membaca surat ini, aku sudah meninggalkan London. Mungkin untuk selamanya. 

Noona, terima kasih untuk semuanya. Aku sangat bahagia bisa mengenal Noona. Meski hanya 3 tahun, tapi.. aku sangat bersyukur karena bersama Noona, aku bahagia. Sungguh aku sangat senang. 

Noona, aku benci perpisahan ini, tapi aku tak bisa menghalangi semuanya. Aku terlalu lemah untuk menghadapinya. Dan pada akhirnya aku kalah dengan takdir. Akhirnya aku menyadari ada sesuatu yang tidak bisa aku dapatkan selama apapun aku berusaha.

Noona, maafkan aku.” 

Kim Suho. 

Tiffani tersenyum hambar, hatinya terluka. “Bodoh.” Ucapnya lirih. Gadis itu mencengkram kuat-kuat kertas yang dipegangnya hingga berkerut. “Suho, kau benar-benar bodoh!!” 

Tiffany menangis sesegukan diatas tempat tidurnya. Dia sendiri tidak tahu kenapa ayahnya sangat membenci Suho. Dia ingin bertanya tapi tak berani karena selama ini ia menjadi anak yang penurut. 

Kenangannya bersama Suho bagai ilusi. 

©©©© 

Seoul, Korea. 

Wu Yifan membasuh mukanya dengan air segar. Lama dia termenung memikirkan Choi Sulli yang sedang duduk sendiri menatap pertandingan sepak bolanya. Tapi Yifan tahu, Sulli tak menikmatinya karena mata gadis itu terlihat sendu. Pandangan matanya lain dan terlihat kosong. Sejenak pemuda itu menghela nafas panjang kemudian mendekati Sulli. 

Rupanya sang juara paralel itu tidak menyadari kehadiran sang kapten sepak bola di SMU Parang tersebut. 

Yifan menatap wajah kekasihnya lekat-lekat. “Sulli-ah.” Panggilnya santai. Sepi tak ada jawaban yang keluar dari mulut gadis manis itu. “Choi Sulli!” Kali ini suara Yifan lebih keras sambil menepuk bahunya pelan. 

“Eh, Yifan-sshi,” Jawab gadis itu kaget. “Kenapa? 

“Dari tadi kuperhatikan kau melamun terus.” Ujar cowok blasteran Kanada-Cina itu. Meski sudah 5 bulan berpacaran, Sulli masih saja memanggil Yifan dengan akhiran ‘sshi’ bukan ‘oppa’ ataupun menambahi kata’ah’ layaknya anak-anak lainnya yang berpacaran. 

“Aku..” Jawb gadis itu ragu. 

Yifan duduk disebelahnya. “Awalnya, aku juga mengkhawatirkanmu sampai aku tak bisa tidur. Tapi aku melakukannya karena aku benar-benar mencintaimu.” Wajah Yifan terlihat putus asa. 

Sulli menyandarkan kepalanya pada pundak cowok tinggi yang selalu menjadi pembicaraan teman-temannya itu. Terutama teman ceweknya. Seisi sekolah tahu kalau Yifan dan Sulli berpacaran. Dan sepertinya Yifan benar-benar jatuh cinta pada gadis pendiam ini. 

Yifan sangat playboy, hampir semua gadis cantik di sekolahnya pernah menjadi pacarnya. Tapi sayangnya dia cepat bosan dan tak ada 1 minggu sudah putus. Pada Sulli… tidak, dia sungguh mencintai gadis itu. 

“Yifan-sshi, apa kau selalu seperti itu pada mantan-mantan pacarmu?” Tanyanya datar. Yifan tersenyum. “Jujurlah, aku tidak akan marah.” 

“Aku melakukan hal itu hanya pada mantan pacarku yang pertama dan kau. kau tahu sendirikan, aku menghabiskan masa kecilku hingga SMP di Kanada. Hal seperti itu sudah biasa terjadi pada anak muda sepertiku.” 

“Tapi aku orang Korea.” Sulli mengingatkan. 

“Ya, aku tahu. Sulli-ah, apa kau membenciku?” Yifan menatapnya dengan penuh pertanyaan, entah kenapa dia takut sekali kalau Sulli akan membencinya. Sulli hanya diam. Yifan mengguncangkan tubuh gadis itu. “Sulli-ah, aku…” 

“Aku hanya takut..” Gadis itu menggigit bibirnya. Yifan dapat menangkap kecemasan yang luarbiasa pada diri Sulli. Ya, Sulli bukanlah Jessica. 

Jessica adalah mantan pacar dan cinta pertamanya ketika masih tinggal di Kanada. Jessica Jung putri pengacara hebat yang cantik dan cerdas. Dialah gadis pertama yang yang membuat Yifan bertekuk lutut dihadapannya sekaligus yang sudah menjadikannya playboy. Jessicalah yang pertama kali mengajaknya kencan. Dari sanalah kelakuan buruk Yifan dimulai hingga akhirnya pemuda itu melihat sendiri kalau kekasihnya itu tidak hanya pernah tidur dengannya. Dan puncaknya ketika ulang tahun Jessica yang ke 17, gadis itu memutuskan hubungannya dengan Yifan dan memilih pemuda lain. 

Sejak saat itulah Yifan menjadi playboy, tak peduli gadis itu lebih tua ataupun lebih muda darinya pasti ia jadikan target pelampiasan kekecewaannya. Tak ada kata cinta dalam kamus hidupnya. 

Namun kehidupannya berubah saat ia mengenal Choi Sulli, awalnya dia nemang ingin nenjadikan gadis bermata sendu itu sebagai target berikutnya. Dia ingin menyelami hati yang dianggapnya menarik. Setelah hampir 1 tahun lamanya akhirnya dia bisa menjadikan Sulli pacar. Satu kesalahan terjadi, Yifan benar-benar jatuh cintapada Sulli. 

Yifan menyentuh wajah Sulli. “Maafkan aku. Aku sungguh minta maaf.” 

Sulli cuma bisa diam. Semua sudah terjadi dan tak bisa meminta waktu itu diulang kembali. Sulli menunduk. 

Yifan semakin merasa bersalah. ‘ayolah Sulli, maafkan aku, jangan diam seperti itu. Kau tahu itu sangat menyiksaku. Lebih baik kau memukulku, memakiku atau menamparku karena itu lebih baik daripada kau diam seperti itu. Sulli.. aku mohon bicaralah..’ batin Yifan takut. 

“Aku maafkan.” 

“Benarkah?” Suara pemuda itu terdengar kaget dan senang. Sulli mengangguk datar tanpa senyum. 

Begitu mendapat kata maaf dari Sulli, Yifan memeluknya senang. Sulli cuma diam walau hatinya masih sakit dengan kejadian semalam. Sulli sangat lemah terhadap wajah Yifan yang sedih, apapun yang dilakukan Yifan, ia tak bisa membencinya. Karena Sulli juga mencintai pemuda super tampan ini. 

Padahal semalam gadis itu menangis. Dia shock menyadari dirinya sudah tidur dengan Yifan. Dengan mudahnya ia menyerahkan hal yang paling berharga yang ia jaga selama ini pada Yifan. Tidak, itu karena Yifan punya kekuatan magnet tersendiri untuk menarik hatinya. Sulli menyerah dan dia tersihir dengan kelakun dan kata-kata Yifan. 

“Aku akan terus melindungimu. Percayalah.” Kata Yifan meyakinkan. 

©©©©

Suho meletakkan bunga diatas makam yang bertuliskan “Kim Hyeoyon”. Disamping makam tersebut juga tertulis 2 marga yang sama namun sudah terlihat lama. “Kim Joon Woon” & “Kim Taeyeon”. Dua makam itu adalah makam kedua orangtuanya yang meninggal saat Suho masih kelas 1 SD karena kecelakaan pesawat. Sementara makam Hyeoyon baru 1 bulan lalu. Hyeoyon adalah adik kandung Suho yang meninggal karena menderita leukimia. Hyeoyon diadopsi pamannya dari pihak ibunya sejak masih balita, Kim Ryeowook. Sejak kematian kedua orangtuanya, Hyeoyon diasuh Ryeowook dan Suho hidup bersama kakeknya. 

Tanpa berkata-kata lagi, pemuda itu meninggalkan makam keluarganya dengan raut wajah yang sedih. Hampir 4 bulan Suho berada di Seoul, walau begitu dia masih belum melupakan Tiffany. Dia sadar, tidak mudah melupakan gadis yang selalu memberinya semangat saat masih di Inggris dulu. Biar bagaimanapun hal yang harus ditanamkan dihatinya hanya satu, yaitu Tiffany bukan jodohnya. 

Sayangnya hati dan pikirannya masih menolak melakukannya, karena itulah dia sampai tak memperhatikan jalan di depannya dan menabrak seorang gadis. Gadis itu agak terhuyung karena benturan yang cukup keras terjadi barusan, untunglah dia tak sampai jatuh. Hanya mengaduh sedikit. 

“Maaf..” Kata Suho terlihat kaget. “Kau terluka?” Gadis itu menggeleng pelan. Suho menatap gadis itu, rasanya wajah ini tidak asing baginya. Tapi siapa? Suho tak mengenalnya. 

“Saya tidak apa-apa, pelatih Kim.” 

“Syukurlah.” 

Tiba-tiba.. 

“Sulli-ah!! Cepat kemari!” Teriak seorang gadis berambut panjang. 

Sejenak Sulli dan Suho menoleh ke asal suara cempreng itu. Kwon Yuri. Yuri adalah sahabatnya sejak kecil, karena tak digubris gadis itu berlari ke arah sahabatnya. Yuri terlihat kaget saat melihat wajah Suho. “Pelatih Kim.” Sapanya malu karena tadi sudah berteriak seperti orang habis dijambret. 

Suho tersenyum. “Yuri-sshi, kau ini manajer klub sepak bola, kan?” 

“Ya pelatih Kim.” 

Kembali Suho melirik Sulli. Ah ya, Suho ingat kalau gadis yang ditabraknya barusan adalah pacar Wu Yifan, sang kapten sepak bola di sekolah ini. Pacar muridnya yang terkenal tampan juga playboy. 

Setelah saling membungkuk hormat kedua gadis itu pamit pergi. Suho masih memandang Sulli. Dia menghela nafasnya sejenak. “Hyeoyon-ah, jika kau masih hidup, mungkin sekarang oppa akan melihatmu mengenakan seragam SMA seperti mereka.” Ucapnya pelan. Dimatanya Sulli terlihat seperti adiknya, pendiam. 

©©©© 

Sementara itu Yuri masih sibuk mengoceh tak karuan tentang pelatih muda yang baru-baru ini menjadi topik bahasan teman-temannya. 

Sulli menatapnya heran. “Yuri-ah, daritadi kau membicarakan pelatih Kim, bagaimana dengan Minho oppa?” 

“Tidak salahkan menyukai pemuda lain.” Candanya tanpa melihat ekpresi wajah sahabatnya karena gadis itu lebih fokus pada es krimnya. 

“Dasar.” 

“Ohya, Sulli-ah, kau sudah tahu Yifan bercita-cita ingin menjadi atlet hebat?” 

“Hmm..” 

“Beberapa hari lalu ayah Yifan datang ke sekolah dan menawarkan Yifan supaya mengikuti pertukaran pelajar dengan tim sepak bola junior ke Itali.” 

Sulli terdiam mendengarnya. Es krim yang rasanya manis tiba-tiba terasa hambar. ‘Kenapa Yifan tak bercerita kepadaku? Yifan.. Apa kau akan meninggalkanku?’ Gadis itu terdiam cukup lama. 

Menyadari raut sahabatnya berubah, Yuri melanjutkan kata-kata. “Tapi Yifan menolak, kok.” 

“Eh? Kenapa?” 

“Aku tidak tahu. Kau saja tanya sendiri.” 

©©©© 

Ujian semester sudah berakhir, banyak siswa yang mengerumuni papan pengumuman untuk melihat hasil ujian mereka. Dari ratusan siswa kelas 2 yang berdesak-desakan melihatnya hanya Sulli seorang yang tidak tertarik untuk melihatnya. Gadis itu memilih duduk sendirian di bangku taman sekolahnya. 

Yifan tersenyum bangga melihat nama Choi Sulli masih tetap berada diurutan pertama. Tak lama kemudia dia segera mencari Sulli. 

“Wah adikku Choi Sulli hebat, oppa bangga padamu.” Kata Minho senang. Minho dan Sulli adalah sepupu. 

“Poinnya terpaut jauh dengan Go Ara yang peringkat ke 2” Sambung Key. 

“Dia benar-benar jenius.” Kata Taemin. 

“Bule pacarnya juga hebat loh.” Kata Jonghyun membuat mereka menoleh. “Lihat, meski bahasanya masih kacau dan kebarat-baratan, manusia tampan itu ada di peringkat 12.” 

“Wuah hebat. Tapi tetap saja aku mengagumi pacarnya.” Ujar Taemin. 

Semua yang mendengarnya tertawa. 

“Kalau Yifan mendengar kata-katamu, kau pasti dikeluarkan dari tim sepak bola.” Ujar Minho. 

Taemin tersenyum jenaka. “Makanya jangan laporan pada kapten.” 

Taemin, Key, Jonghyun & Minho saling mendekat lalu berbisik. “Kapten yang pencemburu.” Kata mereka bersamaan lalu menertawakannya bersama. 

©©©© 

Setelah cukup lama mencari Sulli, akhirnya Yifan menemukan gadis pujaan hatinya tengah berdiri menatap lapangan sepak bola. Sendirian. 

Sulli tidak tahu Yifan sudah berada dibelakangnya. Angin musim panas meniup-niup rambut ikat kecoklatan itu. Sulli hampir tidak pernah mengikat rambutnya karena dia lebih suka dengan rambut tergerai. Tiba-tiba gadis itu merasa ada yang memeluknya dari belakang. “Yi.. yifan-sshi..” 

“Hm.” Gumam cowok tampan itu cuek, kedua tangannya berhasil melingkar di pinggang Sulli. Sangat erat membuat Sulli sulit melepasnya. Perlahan Yifan mencium aroma wangi rambut itu kemudian turun ke tengkuknya. 

Sulli menjadi gugup. “Yifan-sshi jangan seperti ini.” Dia berusaha melepaskan pelukan itu tapi tak bisa. 

“Kenapa, aku pacarmu, kan?” 

“Tapi kau terlalu, aku malu. Ini sekolah, aku tidak mau dilihat anak-anak lainnya.” 

“Aku tak peduli.” 

“Yifan-sshi..” Ujar Sulli memohon. 

Yifan menghentikan aksinya, bamun dia malah memutar tubuh Sulli hingga menghadapnya. Tangannya berhasil menyentuh pipi Sulli, dia menatap mata itu dalam-dalam. Lalu pandangan matanya turun pada bibir mungil itu, saat hendah mencium bibir itu Sulli melengos. 

“Kenapa?” Tanya Yifan kecewa. 

“Maaf.” Ujarnya lirih, lalu gadis itu berlari secepatnya meninggalkan Yifan sendiri yang masih mematung heran. 

Yifan tersenyum hambar, tangannya mengepal erat. Sedetik kemudian dia meninju udara. Hampa. 

Sulli berlari kencang sampai lelah, jantungnya seakan mau meledak. Tindakan Yifan barusan bena-benar membuatnya hampir gila. Dia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya jika tak segera pergi. Yifan benar-benar sangat menarik. “Bodoh.” 

©©©©

“SULLI-AH!!” Minho berteriak seolah kiamat sedang terjadi. Pemuda tinggi itu berlari mencari sosok gadis pendiam yang kini tengah menulis catatan di bangkunya. “Hei Choi Sulli gawat!” 

Suara Minho yang masih ngos-ngosan itu nampak cemas luar biasa. 

Sulli menengadah menatap wajah kakak sepupunya itu. “Kenapa oppa berteriak? Lihatlah temanku terganggu.” Kata Sulli sebal karena suara Minho yang berat ala rapper itu menggema isi kelas 2-1. 

“Yifan berkelahi dengan Henry dan Zhoumi!” 

“Apaa?!!” Seru gadis itu kaget bukan main. 

“Hanya kamu yang… hei tunggu dulu!” Minho berteriak kesal begitu adiknya bergegas meninggalkannya, padahal dia belum selesai bicara. Diapun ikut mengejarnya. 

‘Dasar Yifan bodoh! Apa yang ada dipikiran anak itu, kenapa dia berkelahi di sekolah!’ Sulli berlari cepat menuju lapangan karena dari jendela kelasnya tadi dia sempat melihat banyak anak-anak yang berkumpul di lapangan. Dia tidak tahu kalau kumpulan itu terjadi perkelahian. Henry Lau salah satu murid SMA Genie yang terkenal dan elit. Sekolah khusus putra dan tinggal di asrama. Wajah Henry selevel dengan,Yifan, yaitu sama-sama keturunan Cina-Kanada. Hanya saja mata Henry lebih sipit dibanding mata Yifan yang besar dan tajam. Henry merupakan musuh bebuyutan Yifan di lapangan sepak bola. Yifan sangat membenci pemuda itu karena Henry juga menyukai Sulli. Dan hal itulah yang membuat Yifan menjadi bersemangat berkelahi melawan anak bule itu. 

Entah kenapa Sulli merasa lorong-lorong sekolahnya menjadi sangat panjang, padahal dia sudah berlari cepat. Tetap saja dia merasa jalan menuju lapangan masih lama. Gadis itu berharap semua baik-baik saja meski otaknya mengatakan tidak. 

Sementara di lapangan sepak bola anak-anak berkumpul ramai sekali. Mereka bukan menonton jalannya pertandingan tapi menonton Yifan yang seperti kesetanan memukul Henry dan Zhoumi. Semua yang melihatnya tak ada yang berani melerainya melihat wajah Yifan bak malaikat pencabut nyawa. 

Yifan berkali-kali menjotos wajah Henry kesal, sementara Zhoumi sudah ambruk, wajahnya babak belur. Henry terhuyung lalu ambruk. Belum sempat cowok bermata biru itu bangun, Yifan sudah memaksanya berdiri. Dicengkramnya seragam Henry dengan penuh amarah. 

“Awas kau!” Ujarnya dengan nada tinggi yang mengancam, “jika kau masih berani mendatangi Sulli, kupastikan kau akan menyesal karena sudah pernah dilahirkan ke dunia.” Tangan Yifan bersiap menjotos wajah Henry. “Dan jika kau berani menyentuhnya lagi, walau dengan ujung kukumu… AKU AKAN MEMATAHKAN TANGANMU!” Teriaknya tepat di wajah Henry. Henry ambruk. 

Lalu Yifan menoleh pada Zhoumi yang berusaha berdiri. “Jika kau masih ikut campur masalah ini, rasakan sendiri akibatnya!” 

Semua yang menyaksikan hal itu benar-benar kaget dengan kelakuan Yifan yang tak biasa. Hanya bisa diam tanpa berani berkomentar. 

“APA YANG KALIAN LIHAT?!!” Bentak Yifan pada mereka yang menonton aksinya. 

Tak ada 2 detik mereka semua kabur takut akan tatapan mata sang raja lapangan sepak bola itu. Sangat menakutkan. 

“Yifan-sshi!” Panggil Sulli yang akhirnya tiba di lapangan yang mulai sepi. Pemuda itu menghentikan langkahnya. 

“Kenapa?” 

“Apa kau terluka?” Tanya Sulli cemas. 

“Seperti yang kau lihat.” Jawabnya acuh. 

“Aku mengkhawatirkanmu.” 

“Aku ingin sendiri.” 

“Tapi..” 

Yifan segera berlalu meninggalkan Sulli namun gadis itu tetap mengejarnya. 

“Yifan-sshi aku belum selesai bicara..” Sulli berusaha menyamai langkahnya dan kini berhasil meraih tangan Yifan. 

“Tinggalkan aku sendiri Choi Sulli, jangan membuatku membentakmu. Aku sudah sebisa mungkin tak membentakmu saat ini walau sebenarnya ingin. Aku cemburu.” Kata-kata Yifan terdengar bagai senjata tajam yang berhasil membelah hatinya. Meski tak berdarah tidak tahu kenapa hati Sulli sakit saat mendengarnya. 

“Aku paham.” Sulli akhirnya membalikkan tubuhnya dan pergi. Gadis itu menangis sendiri di bawah pohon. 

Tanpa sengaja Suho melewatinya dan dia tertegun mendapati gadis itu menangis sesegukan mati-matian menahan isak tangisnya walau suara tangisnya tetap terdengar. 

‘Kim Suho.. kau tak melihat apapun’ Suho berlalu secepatnya meski sebenarnya dia kasihan melihat Sulli seperti itu. 

©©©©

Advertisements

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s