Namitsutiti

[FF-Freelance] Always You – Part 1

Leave a comment



Tittle: Always You

Cover By : Fuglveen`s Art

Story By Herma & RoseLyn

Cast: -Kim Jong-in, Choi Nara,

-Oh Sehun, Huangzi Tao, Kyungsoo.

Other Cast: Jung Ahjung, bibi Hani dan direktur Jung Dugeok.

Genre: Romance, Psycho and kekerasan.

Note : ^^ eiiyy,, aku comeback. Aku dan kak Herma, lagi kerjasama bikin ff. Ya, meski amburadul kek begini Aku editing beberapa tulisan yang sedikit jelimet mungkin. Kak Herma sendiri yang nulis, aku cuman bantu dikit-dikit. Ngatur beberapa paragraf dan kata-kata rumit yang sedikit sulit dipahami. Jadi, ini udah hasil editing nya ^^

Happy Reading^^

No For Children.

Disclaimer: Bukan bermaksud memperolok nama tokoh, jadi jangan benar-benar membash pengarang cukup tinggalkan komentar saran dan kritikan kalian.

Chapter 1.

Aku mendekapnya rapat, tanpa celah. Aku tidak peduli, jika dia sudah tidak bernafas. Dunianya milikku, maka hanya harus ada aku disana. Aku tidak ingin dia pergi meninggalkanku walau persekian detik lamanya. Aku tak rela . Karena apa yang sudah menjadi milikku, tak akan ku biarkan lepas begitu saja.

—Always You—

Kota Seoul yang indah akan bermacam – macam bangunan menjulang tinggi yang mencakari setiap langit-langit ciptaan sang maha kuasa, belum lagi berbagai manusia yang berlalu-lalang dengan setiap kegiatan mereka masing-masing. Angin yang berhembus kencang menerpa sedikit rambut-rambut pohon serta menggoyang-goyangkan mereka kesana-kemari.

Burung merpati berterbangan leluasa di atas langit, mata manik seorang lelaki masih terfokuskan pada lensa kamera ditangannya. tidak mau kehilangan kesempatan, dia menjepret setiap bangunan yang unik di depan mata. Dia seorang fotografer baru dari china, namanya terlihat jelas pada nametag kemeja yang ia kenakan, ‘Huang Zi Tao’ mereka menyebutnya.

Dia menyipitkan kedua matanya, sesekali terpejam menghirup udara segar di sana sampai tersimpan banyak di paru-parunya. Pria itu membenarkan posisi kacamatanya.

“Hyung!!” sapa pria yang baru saja menyusul kemari, dia berbeda dengan lelaki ini, kulitnya putih, seputih susu dan perawakan dia terlihat jelas bahwa dia benar-benar warga negara ini, Oh sehun yang terlihat jelas di kemeja sebelah kirinya.

“Kau sudah mendapatkannya?”, tanya pria itu melihat hasil jepretan-jepretan yang dilakukan Tao tadi, tak sempat melihatnya Sehun langsung merebut kamera di tangan Tao.

“Tidak sopan.”

Dia memang suka melakukan hal seenaknya, pada orang yang tidak memandang siapa dia, kecuali dia bosnya Sehun. pasti sangat menghormati kedudukan dia, tapi untuk Tao, Sehun benar-benar menganggapnya sebagai teman biasa walaupun usia mereka cukup berbeda setahun saja.

“Hyung, bagaimana? Kau menyukai negeriku? indah bukan?”

Tak ada orang pun yang mengiyakan lelaki bermarga Oh ini selain Tao, dia mengangguk pelan mengiyakan setiap kalimat yang keluar dari mulut pria ini.

“Oh, kau pasti tertarik dengan bangunan tua itu”.

Sehun tiba-tiba menunjuk beberapa menara kembar di seberang sana, Tao sedikit mengatur nafas karena udara di sini sangat dingin berbeda di negaranya sendiri. Sehun masih tak bergeming dengan pria di sampingnya, dia melangkah menuju menara kembar di seberang sana meninggalkan Tao sendirian. Jemari lelaki itu mengangkat kamera mendekatkannya di antara kedua matanya lalu menjepret bangunan itu dari kejauhan.

Sementara langkah kakinya mendekati bangunan tua itu, suatu hal yang menyenangkan untuk dinikmati berbagai pohon dan burung-burung merpati berada di atas kami. Dunia ini sungguh indah. Sehun berlari mendekati berbagai burung merpati di dekat pancuran air, sesekali kedua tangannya mencondong ke depan menangkap merpati yang berkerumunan tidak jelas.

Dia merenggangkan kedua lengannya dengan senyuman melebar merasakan udara sejuk sudah memasuki rongga paru-parunya. tidak mau ketinggalan pemandangan indah ini, tangan Tao kembali menjepret Sehun bersama merpati-merpati di sana.

Dia terkekeh melihat Sehun seperti bocah lelaki yang baru merasakan kehidupan di dunianya sendiri. Pandangan Tao mengendur ke sebrang menara. dia melihat seorang gadis berambut hitam, terlihat begitu pucat dari sini. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang menjemputnya. tapi anehnya dia terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu sebelum dia pergi meninggalkan bangku itu.Tao kembali melihat ke arah Sehun yang sudah berdiri di dekatnya, sejak kapan dia berdiri di sampingnya, mata Tao menatap dia datar.

“Kau melihat dia”. Sehun menengok ke arah Tao yang masih menjepret beberapa gambar bangku tua itu. Tao melangkah pergi menjepret beberapa gambar di sebrang sana dan diikuti oleh Sehun.

_o0o_

Dibandara ini seorang pria berkulit tan sudah menginjakkan kaki, udara disekitar sini sangat dingin membuat dia memasukkan kedua tangan-nya ke dalam saku mantel. Pandangan mata dia mengendur mencari sosok yang menunggunya.

Gadis cantik berkulit mulus dengan setelan mantel bulu dan kacamata hitamnya membawa selembar kain mengataskan nama pria itu untuk kemari. Jong-in tersenyum datar menatap gadisnya sudah menunggunya lama, terlihat kedua pipi dan hidungnya sudah memerah membeku. Dia tersenyum lebar menyambut dirinya.

“Selamat datang Jong-in-oppa!”, sapanya menyebut nama panggilan diri pria di depannya. Dia sedikit mendongak untuk menatap wajah pria tampan yang sedang berdiri di dekatnya.

“Sudah lama menungguku?”, katanya menaruh tangan kanannya di kepala si gadis cantik, saat ini yang berdiri di depannya tanpa sedikit berbicara gadis itu mengangguk dengan bibir yang melengkung ke atas, lalu melihat beberapa koper telah berada di dekat pria ini, ia menarik koper besar yang ada di sebelahnya sekilas dia juga senang membantu Jong-in . Jong-in berdiri di belakang gadis itu sesekali terlihat jelas lengkungan manis dari bibir seksi miliknya.

Membawa koper sebesar itu, membuat Jong-in sedikit tidak tega melihat gadis itu berjuang mengangkat koper ke dalam bagasi, belum sempat perempuan itu ingin memasukkan koper sebesar bocah itu. tiba-tiba lengan Jong-in menarik lengan gadis itu, sontak dia menatap Jong-in terkejut. Jong-in menaruh kembali koper itu ke posisi semula. Dia membalikkan tubuh gadis itu hingga saling berpandang.

Sekarang pria itu memandangnya dengan tatapan sayu dan menghipnotis, lengan Jong-in menarik gadis itu untuk masuk ke dalam mobil miliknya, membiarkan koper itu dia sendiri menaruhnya. Setelah menaruh beberapa koper yang berat itu, mobil itu melejit meninggalkan bandara Incheon secepatnya.

Di perjalanan yang begitu lama, mereka disuguhkan pemandangan indah di luar, pagar-pagar pengaman di sekitar jalanan di kelilingi beberapa pohon besar dengan berbagai bunga-bunga hias, sesuatu yang indah untuk manusia di sekitar sana.

Sekitar tiga kilometer mereka disuguhkan kembali hamparan laut yang luas bersama bibir pantai yang mulus dan indah, berbagai nyiur yang melambai-lambai di terpa angin, menyibakkan semilir bau khas laut yang unik seperti beradu dengan berbagai campuran garam dan pasir.

Mobil-nya kini masih berjalan di area tol, tak sampai beberapa lama mereka akan segera tiba. Jong-in melirik ke cermin mobil yang terletak di atas setir mobil wajah gadis itu terpampang jelas cantik dan manis di balik kursinya, walaupun dia tertidur kecantikan gadis itu tidak pernah luntur dan hilang. Kelopak mata yang indah bersama bulu mata yang lentik, apalagi bibir nya yang mungil mengundang nafsu setiap laki-laki yang melihatnya. Dia sungguh menghipnotis siapa saja yang memandanginya berlama-lama.

-Aura kejam bisa sangat mematikan seseorang, tapi lebih mematikan lagi ketika seseorang itu sudah jatuh cinta-

_o0o_

Tao dan Sehun sudah sampai ke rumah mewah milik Sehun. Pandangan Tao mengendur melihat sekeliling rumah itu di kelilingi berbagai tanaman hias yang menjorok ke belakang, sedangkan di depannya terpampang parkiran luas sekitar lima langkah ataupun lima puluh langkah lebarnya, Tao melihat kolam renang outdoor terpampang jelas di sebrang sana. Penataan ruangan yang terlihat cukup bagus tapi terkesan antik. Tak lama kemudian seseorang gadis cantik sudah membukakan pintunya dari dalam.

“Sehun-oppa!”.

gadis itu berteriak kencang sampai urat lehernya terlihat, sebelum dia jatuh kerangkulan Sehun dan memeluknya erat. Gadis itu menciumi aroma mint dari baju yang Sehun kenakan.

“Aku merindukanmu”.

gadis itu memeluk Sehun erat tanpa mempedulikan Tao yang masih berdiri mematung di belakangnya. Tao semakin menggaruk tengkuknya sampai Sehun benar-benar memulai pembicaraan.

“Kau kemana saja?”.

Gadis itu melepaskan tautan lengan yang melingkar di leher Sehun,dia melihat lelaki asing telah berdiri di dekat Sehun, Sehun memulai memperkenalkan Tao tentang dia berasal dari mana, setelah Sehun merasa cukup membahas tentang Tao gadis itu sedikit berkenyit melihat pria asing ini.

Sehun langsung membawa beberapa koper miliknya dan Tao sedikit merasa asing dengan rumah yang dia injak sekarang, Tao kembali melihat sekitar dua bocah lelaki dan seorang bibi-bibi yang tengah menatapnya dengan senyuman ramahnya berdiri di dekat anak tangga. Seperti budaya rumah ini kapan saja datang tamu mereka harus berdiri dan tersenyum ramah layaknya seorang penjamu tamu. Makanya tidak jarang teman-teman Sehun senang bermain ke rumahnya. Namun ada yang menarik pandangan Tao seketika, saat pemilik kaki jenjang itu sudah terlihat menuruni anak tangga.

Gadis itu mirip dengan gadis yang dia lihat saat di taman, tapi yang berbeda setelan rambut gadis dan bentuk wajah gadis itu tidak mencerminkan gadis yang dia lihat. Gadis itu melemparkan senyuman manis yang terukir di setiap sudut bibir merahnya.

“Cantik”.

Sehun melirik Tao yang sedang memandangi adik perempuan-nya yang baru saja menuruni anak tangga. Sehun tersenyum lalu bersahut. “dia adikku namanya Choi Nara…cantik bukan,”katanya kembali melangkah menuju kamar kosong, Tao menatapi punggung Sehun yang semakin menghilang sesekali dia menengok ke belakang sekedar melihat kembali gadis yang menurutnya tidak asing lalu melangkah pergi mengikuti Tao.

-Seperti-nya hati tidak bisa berbohong, pandangan pertama telah banyak membuat orang-orang terhipnotis-

_o0o_

Jong-in membawa beberapa koper itu untuk masuk ke dalam, gadis itu berdiri sedikit menunduk di belakangnya dengan beberapa kecanggungan, Jong-in melihat sekilas wajah gadis itu sedikit menyembunyikan masalah.

Jong-in menatap datar gadis itu sejenak sampai mata itu kembali menatap Jong-in.

“Ouh, kenapa kita tidak masuk”.

gadis itu membuang pandangannya ke arah knop pintu lalu kembali menatap Jong-in. Tanpa berbicara banyak lelaki itu menarik knop pintu yang terpampang jelas di depan mata. Membiarkan dua pasang kekasih ini masuk ke dalam, mencari beberapa saklar lampu agar matanya dapat melihat betapa berantakan rumah yang kosong selama satu bulan.

“Terimakasih sudah menungguku”.

kata Jong-in menatap ke depan sedangkan gadis itu menatap dirinya dari samping, dia menyingkap rambut-nya ke belakang dan kembali mengendurkan pandangan ke arah lain. Namun seperti-nya Jong-in sedikit merasa curiga dengan gadis ini, dia melihat gadis itu terlihat gelisah. Gadis itu menemukan Jong-in sedang menatapnya sekarang membuat dirinya sedikit menunduk karena salah tingkah gadis itu mengetuk sepatu-nya ke lantai. Jong-in kembali tersenyum lebar membuat sedikit gadis itu melirik sekilas ke arah Jong-in. Tatapan-nya tampan tapi sedikit menakutkan ketika dia diam melihat Ah-Jung seperti itu.

Ini bukan pertama kalinya bagi Ah-Jung harus mendapat tatapan seperti itu, tapi entah kenapa dia merasa meragukan Jong-in, gadis itu diam sejenak memandangi punggung lebar Jong-in yang semakin melebar. Dia duduk di sofa menaikkan kaki kirinya, membiarkan kaki kanannya memangku kaki kiri. Tangan Jong-in mengisyarat agar gadis itu duduk di dekatnya.

Ah-Jung yang melihatnya sedikit menunduk, tatapannya sedikit ketakutan.

“Kenapa masih berdiri disana, kau tidak ingin duduk?”. tanya Jong-in mengisyaratkan untuknya segera duduk, mau tak mau gadis itu melangkah duduk di samping kiri Jong-in.

“Kau tidak merindukanku?”, kata Jong-in semakin duduk mendekati gadis itu yang duduk di dekatnya. Jong-in tersenyum sedikit menampilkan seringaian kecil untuknya. Dia menaruh dagu-nya di pundak gadis itu menciumi aroma pafum apel yang dia kenakan sekarang. “kau pasti sangat merindukanku.” Jong-in menghirup aroma khas milik gadis itu, nafasnya semakin terasa dekat di leher jenjang gadis itu, gadis itu membiarkan Jong-in menciumi leher-nya saat ini. Tapi tangan kiri-nya meremas-meremas sofa yang dia duduki, rasanya ingin menangis saat Jong-in menggigit kulit lehernya. Mata gadis itu berkaca-kaca, bukan merasa sakit tapi merasa harga dirinya sebagai wanita sudah ingin dijatuhkan oleh pria ini.

Ah-Jung terhenyak sedikit mengibaskan rambut lurus-nya, dia memegangi lehernya yang terasa ngilu. Dia berhasil meneteskan air mata, “why babe?”. Jong-in menatapi gadis itu sedikit kesal tapi kekesalannya itu membuatnya teriris saat gadis itu menangis di depannya. Tangan itu akhirnya menarik kepala gadis-nya menenggelamkan-nya ke dalam dada bidang dia, membiarkan dia menangis sepuasnya.

_o0o_

“Kau bisa mendekorasinya sendiri.Tapi jika kau butuh apa-apa Hani Ahjumma bisa membantumu,”katanya menarik kenop lalu menutup pintu, Tao sedikit membuang nafasnya membalikkan punggung menarik ke atas kaos yang dia kenakan.

“Oh,Iya toiletnya ada di dalam sana”. Baru saja Tao ingin melepaskan kenop pintunya, Sehun sudah membuka kembali pintu hanya untuk memberitahukan letak kamar mandi Tao menoleh ke arah Sehun. Sehun pun menutup pintu itu kembali .

“Aku lupa, jika kau lapar kau bisa turun ke bawah….”

Sehun mengacungkan telunjuk kepadanya, sedangkan Tao sedikit berbungkuk memperlihatkan dada dan oto-otot kekarnya yang di gelungi kalung, dahinya sedikit terangkat melihat Sehun kembali membuka pintu.

“ngomong-ngomong soal tubuhmu itu bagus…aku suka tubuhmu”.

Dahi nya sedikit berkenyit, lalu Sehun kembali menutup pintu kamarnya. Tao melipat kaos miliknya menaruh pada sekotak bak plastik. Dia merobohkan tubuh kekarnya ke atas ranjang bersprei merah muda dia menopang kepala dengan kedua lengan-nya itu melihat ke atas langit-langit. Dia sedikit membuang nafas pelan lalu pandangannya seketika tertuju pada kamera digital di atas meja kayu di dekat jendela. Dia sedikit bangkit duduk di samping ranjang dan segera melangkahkan kaki-kakinya mendekati kamera.

Tirai gorden transparan itu bergoyang-goyang diterpa angin dia sedikit melihat ke arah kameranya di dekat jendela.

“AAAA”

Teriakan dua bocah lelaki itu terlihat begitu melengking saat gadis yang dia lihat tadi sedang meraba-raba keberadaan mereka, kedua matanya ditutupi kain lalu dia berhambur kearah manapun mencari dua bocah lelaki di sana. Pemandangan ini sedikit melengkungkan bibirnya keatas. dia kembali memotret pemandangan langka itu. Setelah itu dia kembali fokus pada kamera di kedua tangannya dengan bertelanjang dada pria itu menarik kursi utuk membuka isi kameranya.

Dia menduduki kursi itu sedikit mengambil memori kameranya, dia simpan di dalam tas kecil miliknya. Memindahkan beberapa data dia ambil menaruh ke PC lalu menyalin gambar itu ke dalam selembar kertas licin. Lelaki itu menyunggingkan bibirnya terlihat beberapa hasil potretannya sudah tertampak jelas. Lalu dia menaruh ke dalam map berisi laporan-laporan tour mengenai dirinya dan segera dikirim ke bosnya untuk dijadikan webtoon.

Seharian berkutik dengan kamera badannya terasa kaku dia sedikit merenggangkan lengan dan lehernya. Gadis itu menatapnya datar dari bawah.

-Berpikir kembali apa yang akan kau lakukan setelah ini terjadi menyakiti perasaannya hanya dapat memperdalam lukanya saja. Dia tak akan bisa menerimanya-

_o0o_

Ah-Jung masih menggenggam data video itu dia berdiri di dekat jendela, raut wajahnya sedikit gelisah sebelum dia menatap Jong-In sudah berdiri di dekat pintu. Dia sedikit ketakutan tapi ekspresi Jong-In begitu datar. Rahang pria itu sedikit terlihat mengeras aura negatif terlihat di sekitar sini.

“A-aku…”Ah-Jung sedikit gugup bagaimana cara menjelaskan padanya, dia sedikit mengkerutkan dahi membuang pandangan ke arah luar. Jong-In berdiri sedikit menyenderkan bahunya ke pintu.

“Aku tahu kau yang mencurinya,”kata Jong-In sudah mengetahui Ah-Jung sudah mencuri data video di flashdisknya. “aku tahu semuanya. Kau yang melaporkanku ke polisi untuk di penjarakan di California .” ujarnya sedikit tenang tanpa beban.

“A-aku…Maafkan aku,”kata Ah-Jung sedikit gemetar di tangannya sudah terlihat di depan mata Jong-In. Jong-In melangkah mendekati dia dengan tenang tapi Ah-Jung sedikit mundur ke belakang.

“Apakah karena aku Psikopat jadi kau melakukan ini padaku Hm..?”

Jong-In terus mendekati gadis itu tapi gadis itu mundur terus sampai ke titik himpitan dia, dia tidak dapat berlari kemanapun. Perasaan takutnya berlebih saat dia sudah di himpit oleh Jong-In ke tembok. Dia sedikit memejamkan matanya kasar.

“Aku sudah tahu..kenapa kau melakukan ini padaku?”Nada Jong-In sedikit pelan di dekat telinganya, Ah-Jung menoleh ke samping yang dia lihat pria itu sudah memerah dan sebentar lagi akan meledak.

“A-aku ingin memutuskan hubungan kita, karena itu aku aku melaporkanmu ke dia. Ayahku sudah mentunangkanku dengan-nya,”

“JANGAN SEBUT DIA LAGI.. GADIS TENGIK,” Jong-In sedikit berteriak lalu wajahnya kembali tenang. Nafas Ah-Jung terdengar terputus-putus. “kau takut jika aku memperkosamu,” Jong-In melihat tubuh gadis ini dari atas sampai bawah. Wajah Ah-Jung sedikit memerah ingin menangis.

“AAAA HWAAAAA.BERHENTI!!!” Ah-Jung berteriak ketika Jong-In menggigit telinganya.

Dia mendorong dada pria itu, meraih gunting di atas lemari. Dia terlihat ketakutan sangat ketakutan sekujur tubuhnya dingin luar biasa, belum lagi kaki dan tangannya terasa gemetar. Darah di telinganya mulai bercucuran di lantai. Dia meraba telinganya menyentuh darah yang terus mengalir.

“PRIA BRENGSEK. JANGAN MENDEKAT.” Nada Ah-Jung terdengar meninggi, tapi Jong-In terus mendekati gadis itu dan beberapa kali Ah-Jung menusuk laki-laki itu agar tidak mendekatinya.

Tapi sepertinya usahanya sia-sia saja Jong-In dengan cekatan melempar gunting itu menaruh lengan-nya di leher gadis itu dan dia mulai menciumi gadis itu dari belakang.

“AAAAAAA”

Ah-Jung berteriak menangis tapi sepertinya teriakan dan tangisannya terdengar bagai angin berlalu. tak ada yang bisa menolongnya sampai dia merasakan seluruh badannya terasa ngilu dan kissmark sudah banyak di tubuhnya.

Dia menangis meringkuk di dekat ranjangnya. Jong-In melempar pakaian itu ke arah Ah-Jung dia tak berkutik masih dengan pakaian berantakan.

Sampai mata nya membengkak rasa sakit di tubuhnya tidak bisa dibayar apapun.

“JANGAN BIARKAN AKU BERTERIAK DAN MEMBUNUHMU AH-JUNG!”.

Lelaki itu berteriak sampai urat lehernya terlihat jelas.

Dengan gerakan lambat gadis itu berjalan lamban menuju ke kamar mandi dan mengguyur beberapa air yang ada di bak, sampai berteriak dan menangis tidak jelas. Kemudian dia meringkuk.

Langkah kaki gadis itu terlihat lamban, membiarkan tidak makan beberapa hari dan minum, wajahnya terlihat jelas begitu putus asa. Dia berdiri di atas balkon paling tinggi rumah Jong-In tak ingin melihat apapun yang terjadi di bawah sana bahkan mengingat kejadian tadi berasa kehidupannya sudah tak berguna lagi.

Gadis itu memandangi bawah ini dengan rambut yang tergontai-gontai di terpa angin. Bibirnya tak terlihat segar melainkan pucat tubuhnya kurus dan beberapa luka sayatan di tangannya sudah menghiasi badannya kini. Dia terlihat mengeluarkan air mata di kedua pipinya.

“Kyungsoo-oppa… Mianhae…”

Dia membalikka punggungnya melentakkan kedua tangan itu di depan dada lalu menjatuhkan diri ke bawah. Dia terlihat lemah dan tak berdaya. Dia memejamkan kedua mata perlahan-lahan.

Tubuhnya jatuh perlahan-lahan ke bawah. menggapai tanah yang kasar dan tidak bersahabat. membiarkan darah dari setiap kepalanya keluar dan tulang-tulangnya hancur bersamaan,

Jong-In menatapi tubuh gadis itu yang 89sudah berada di bawah.

“Ah,sial gadis itu”.

-Seperti apa yang aku katakan, berhentilah sampai di sini.Tak bisa bersamanya bukanlah apa-apa. Tapi bersamamu hanya membuatku tersakiti.

Jong-In kau memang laki-laki bejat-

TO BE CONTINUED>>

Advertisements

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s