Namitsutiti

[FF Freelance] APARTEMEN Part 1

2 Comments


10169205_959515630750886_6690041940289327487_n

Kim Taehyung | Kim Seok Jin, Jeon Jungkook, Jung Ho Seok | Horror, Mystery, Angst

Okhara’s Storyline & Happy Birthday My Lovely Alien, Kim Taehyung {}

Apartment

Namaku Taehyung. Namun orang yang mengenaliku hanya akan memanggilku dengan nama samaran ‘V’. Jika kalian bertanya mengapa aku dipanggil demikian, karena memang benar aku sedang menyamar. Kau tahu? Aku baru saja berhasil kabur setelah beberapa bulan lalu menjadi buronan dari kasus pembunuhan. Hingga akhirnya aku sampai di sini, entahlah aku berada di mana. Yang kutahu, ini adalah daerah terpencil di sudut kota lain di dekat perbatasan kota Seoul. Membeli sebuah kamar apartemen untuk kutinggali yang lebih pantas disebut motel. Motel? Ahahaha, yang benar saja. Setidaknya aku aman di sini. Bebas dari keramaian dan hidup sendiri. Sampai akhirnya aku menemui berbagai peristiwa yang membuat hidupku semakin terisi. Aku menyebutnya, ketakutan.

***

Malam telah larut dan hujan mengguyur deras di entah kota mana yang tengah kusinggahi ini. Berbekal niat dan tekad kulangkahkan kaki menuju sebuah gedung beratap kayu dimana terdapat lambang elang di sisi kanan pagarnya. Mungkin ini sebuah maskot. Karena di dalam aku juga mendapatkan hal yang sama. Di sisi pintu yang kelam dan lembab.

Berjalan membelah pekarangan di sekitar bangunan ini membuatku semakin menggigil. Payung yang kubawa juga tak banyak membantu. Membuatku harus sedikit berjalan cepat meloncati kubangan keruh di sana-sini. Mendapati setidaknya ada empat katak ikut melompat yang terkadang membuatku tersentak terkejut sendiri.

Aku mendongak. Mengintip dari celah payung tempatku bernaung. Menatap dari ujung ke ujung sebuah bangunan tak begitu besar di hadapanku. Gedung ini cukup kuno bentuknya. Kukatakan, reot dan kelam. Ada kolam air mancur di sisi kirinya. Pohon-pohon rindang tumbuh di sekitaran gedung –yang kini bergemerisik diterpa angin karna hujan–, dan kegelapan yang menyelimuti sekitar membuat lampu-lampu taman seolah tak memiliki fungsi.

Aku berhenti di sana. Meletakkan payung lalu merenggangkan tas punggung berat yang telah berjam-jam lamanya tergendong di punggungku. Seraya memijat bahu kananku sendiri, perlahan kubaca tulisan pada pintu dimana tulisan tersebut tertulis dengan tulisan tangan yang buruk. Sebuah kalimat bertuliskan ‘Welcome to LBDOO’ bercat putih yang hampir pudar. Aku mengernyit. Hendak menghapus debu di bagian kata terakhir yang tak kunjung kupahami. Namun belum saja menyentuhnya, pintu itu menggeser kecil. Mengurungkan niatku yang penasaran dengan tulisan tersebut. Lalu beralih membuka pintu dengan hati-hati. Aku hanya berfikir pintu ini akan rubuh saat kusentuh.

Suara berderik terdengar nyaring begitu aku mendorong ganggangnya. Memasuki gedung yang tak terasa sedikitpun sisi kehidupannya. Cahayanya remang, tampak lengang dan sepi. Tak terlihat seorangpun yang berjaga di meja depan. Oh, jika kalian membayangkan ini terlihat seperti loket administrasi seperti di hotel, kukatakan kalian salah besar.

Ruangan ini memang luas. Sepertinya ini merupakan 6 dari 10 bagian yang ada di gedung ini. Meskipun begitu, di ruang utama ini hanya terisi dengan sebuah meja kayu tanpa taplak di sisi paling ujung, tepat menghadap ke pintu masuk. Kemudian di sisi kanan terdapat sofa kumal beserta meja kaca yang– kurasa selain jendela hanya meja ini yang terbuat dari kaca. Jarak dari meja kayu tanpa taplak dengan sofa bahkan berdekatan. Ruangan ini jadi terkesan sangat luas. Namun anehnya, sekalipun tak membuat ruangan ini tampak terang.

Aku menyapu pendangan. Beberapa saat setelahnya kudengar pintu di belakangku terhempas angin. Suara berdecit pelan yang di susul suara ceklikan pintu membuatku tertegun sejenak. Tersadar bahwa setelah pintu ini tertutup, suara hujan deras di luar ikut teredam. Menyadari bahwa ruangan ini cukup kedap suara, bahkan auranya menjadi lain. Lebih tenang. Namun, sedikit… mengintimidasi.

“P-Permisi?”

Meski ragu aku berjalan juga. Mendekat ke arah meja yang kemudian kusadari di kanan kiriku terdapat masing-masing jalan lain berupa lorong yang tak begitu panjang. Aku menelan ludah. Gelap. Seperti itu adalah goa yang tak berpenghuni.

Perlahan aku mulai merasakan tengkukku menjadi dingin. Anginkah? Tapi mengapa…

“Hhhft..hhft!” aku tercekat dan linglung sendiri. “Ba–Bau apa ini?”

Aku menoleh ke kanan. Tepat menatap lurus ke sebuah lorong yang kutahu itulah sumber arah bebauan hangus ini muncul. Seperti bau… daging yang terbakar. Apa seseorang tengah memasak di sana?

Namun hujan deras yang disertai angin menyamarkan penciumanku. Sedikit berusaha keras untuk menajamkannya kembali. Tapi kemudian, bau itu hilang. Benar! Hilang sama sekali!

Rasa penasarankupun semakin menjadi. Saat kudengar suara lain terdengar lirih muncul juga dari lorong ini. Meski aku tak yakin, namun aku mencoba berjalan mendekat ke lorong sebelah kanan dimana aku akan melewati sofa kumal itu. Berharap nantinya aku akan bertemu dengan seseorang yang dapat membantuku.

“Siapa?”

Langkahku sontak terhenti. Menoleh dan terkejut mendapati lorong sebelah kiri di sana itu memunculkan siluet hitam tubuh seorang pria yang di tangannya membawa sebuah gumpalan putih. Aku semakin kaku. Namun kusadari itu hanyalah sebuah selimut. Tak tampak bagaimana wajahnya. Namun aku tahu bahwa kepalanya memiring. Berfikir. Mungkin menebak siapa aku. Belum sampai ia selesai, lekas aku mengangguk memberi salam. Lalu ia berjalan keluar dan kini dapat kulihat jelas bagaimana wajahnya yang datar. Namun sangat tajam dan dingin.

“Jangan ke sana, di sana milik perempuan,”

“Perempuan?”

“Ya. Kubu kanan untuk perempuan dan kiri untuk laki-laki,”

Aku mengernyit. “Oh, maaf,”

“Kau..”

“V. Aku sudah membeli salah sa–,”

“V?” aku mengangguk. “Wajahmu orang korea tapi kenapa…”

“Hanya V. Panggil saja aku V,” aku menggaruk tengkukku yang dingin sambil tertawa kecil. “Nama asliku buruk jadi…”

“Kuantar ke kamarmu,”

Aku melongo. Berusaha meredakan kegugupanku lalu kembali membenarkan posisi tas punggung beratku sambil berjalan mengekor pada… yaah, seorang pria yang belum kutahu namanya.

“Anda..”

“Jin, Kim Seok Jin.”

Aku mengangguk. Lalu tak berkata lagi karena sibuk menyapukan pandangan ke seluruh dinding dimana sepanjang lorong ini hanyalah gelap. Bahkan saking gelapnya, aku tak kunjung tahu warna sebenarnya dinding ini. Putih? Tapi kenapa begitu kusam? Seperti sudah lama sekali. Terkesan kuno dan tua. Ya, sedikit berlumut dan aku tahu ada retakan dimana-mana.

“Ini kamarmu V,”

“Terimakasih. Kau tinggal dimana?”

“Paling ujung. Ada di sana,” dia menunjuk lurus jauh ke depan. Hingga jemarinya berhenti di sisi kanan paling ujung. “Ruang kamar ini terletak secara zig-zag. Ada 8 kamar dan untuk saat ini hanya terisi 4 penghuni di kubu laki-laki,”

“Penghuni kubu perempuan?” tanyaku spontan.

“Kau tak akan datang ke sana kan? Itu dilarang,” ia menatapku tajam.

“Maaf, aku hanya mencairkan suasana. Di sini terlalu sepi,”

Ia mengusap jidatnya. “Ya, bagaimanapun ini sudah pukul 11 malam. Oh, yang ada di kamar pertama ini adalah Jeon Jungkook. Dia masih muda,” ia menunjuk kamar di belakangnya. “Sementara disini adalah Jung Ho Seok. Tapi untuk dua bulan ini dia pergi ke Thailand untuk bekerja. Tapi setelah itu dia akan pulang,”

“Baiklah, terimakasih telah membantuku,” ia tersenyum tipis. Lalu berbalik untuk berlalu pergi. “Jin,” panggilku dan ia menoleh. “Apa disini aman? Maksudku, dari maling atau…?”

“Tentu, kau pikir ini kota seperti apa? Seoul?” ia menyengir. Cengiran yang suram dan hambar. Sementara aku mengernyit. “Selamat beristirahat,”

Setelahnya aku benar-benar diam. Memandang punggungnya yang semakin menjauh mendekat ke salah satu kamar di paling ujung lorong bercahaya minim. Entah mengapa aku merasa cemas. Cengirannya membuatku sedikit waspada. Semoga dia tak menyadari jatidiriku.

***

Tek..Tek..Tek..

Aku beringsut. Ini sudah kelima kalinya aku mendengar suara itu dari luar jendela. Padahal semalam hujan deras diikuti angin. Membuatku seakan tak pernah berhenti merasa kedinginan dan ingin berlama-lama berlindung di bawah selimut. Tapi suara itu benar-benar tak bisa diajak kompromi. Meski telah berulang kali aku mencoba meredam suaranya dengan membenamkan kepala di samping bantal, suara itu hanya akan bertambah keras.

Dan yang terakhir ini aku menyerah. Memilih bangun dan terduduk dengan tampang lelah. Menyapu padangan ke sekitar untuk membiasakan diri dengan cahaya sinar matahari yang remang-remang menyusup melalui celah jendela.

“Berisik sekali,” aku menggerutu seraya bangkit. Berjalan menuju ke ransel besarku untuk mengambil air mineral. Meneguknya, kemudian meletakannya di meja nakas di samping tempat tidur. Sejenak aku mengamatinya. Ini air mineral terakhirku. Ahh, syukurlah aku terbangun sepagi ini. Jadi aku bisa membeli beberapa perlengkapan sehari-hari di sebuah market tak jauh dari sini. Tapi dimana? Gedung ini terlalu jauh dari keramaian. Aku harus meminta bantuan pria bernama Jin itu.

Aku hanya mengenakan jaket saat keluar. Belum juga sempat mencuci muka karena aku takut kesiangan pergi. Aku tidak mau terlalu lama berada di luar. Terlebih aku tidak mau ada orang yang curiga dengan keberadaanku.

Kulihat lorong masih sama sepinya seperti malam kemarin. Dimana hanya ada penerangan redup –setidaknya sinar matahari sedikit membantu lebih banyak– di sepanjang lorong, dan kamar-kamar yang tertutup rapat seolah tak berpenghuni. Dan kurasa Kim Seok Jin juga tidak ada di kamarnya.

Aku berjalan lagi. Melewati kamar di samping kananku yang telah kuketahui pemiliknya bernama Jeon Jungkook meski aku belum pernah bertemu. Terbesit di benakku bahwa aku ingin mengetuk pintu kamarnya dan mengajaknya berbicara. Setidaknya aku bisa bertemu dengan orang lain selain Seok Jin agar ia bisa membantuku. Tapi sepertinya kesadaran bahwa aku ini buronan telah berhasil mengubur keinginanku. Lekas saja aku merasa takut dan cemas. Aku kembali melenggang keluar.

Setelah melalui gelap, kutemukan ruangan luas ini telah menjadi ruang paling terang diantara yang lain. Amat berbeda jauh dengan kenyataan yang kudapati malam tadi. Mungkin karena tempat ini memang minim perabotan, menjadikan ruangan ini jadi mudah dimasuki cahaya. Oh, aku baru sadar bahwa di sini tak hanya ditinggali oleh pria. Namun juga wanita.

SREET..

“Eh?”

Aku menoleh terkejut. Serta merta memekik kecil mendapati seseorang telah berdiri di sampingku. Tentu aku tak mengenalinya. Saat kupandang dengan was-was, pria itu hanya menyengir.

“Penghuni baru?” tanyanya. Meski ragu, kujawab mengangguk. “Aku mendengar kedatanganmu, tapi aku sudah mengantuk,” ia terkekeh kecil.

“Kau?” kataku mencoba menebak.

“Jungkook. Jeon Jungkook,”

“Ah, benar,” ia membungkukkan badan. Begitu pula aku. Hingga tak terasa bahwa ada seseorang baru saja melintas di hadapan kami. “Ah, penghuni perempuan?”

Jungkook tak menyadarinya rupanya. Ia justru menyapu pandangan cepat ke balik tubuhnya. “Siapa?”

“Perempuan tadi?”

“Ohh, benarkah?” ia menggaruk tengkuk ragu. Seperti dia benar-benar salah tingkah. Aku hanya tersenyum. Kemudian ia memalingkan wajah lagi. “Kau mau kemana?”

“Entahlah. Aku berniat akan membeli beberapa perlengkapan. Meminta bantuan pria di kamar paling ujung yang bernama Seok Jin. Tapi dia belum terlihat,”

“Jam segini dia pasti berada di taman belakang,” Jungkook menunjuk ke belakang tubuhku. Tepat menuju lorong kubu pria. “Ada taman belakang di belakang kamar kubu pria kan? Dia biasanya berada di sana,”

“Oh jadi suara itu…” lirihku pelan, namun Jungkook tiba-tiba menyahut.

“Kenapa?”

“Tak apa, dia mungkin bercocok tanam,” aku menyengir ragu. Lagi-lagi aku tersadar kami sudah lama berdiri seperti ini, dan lagi kami terlalu banyak berbicara. “Baiklah, permisi.”

Segera kutinggalkan Jungkook yang masih menatap dan menungguku pergi tanpa mengatakan apapun. Setidaknya aku lega ia tak begitu memikirkan bagaimana aku lebih banyak. Ia sepertinya cukup aman untuk dijadikan seorang teman. Yaah, meskipun aku tak memiliki rencana untuk membeberkan jati diriku sebenarnya.

***

“Am…puun,”

Aku terkesigap. Mataku langsung menyorot tajam. Entah apa yang kutatap, tapi otakku lantas berputar cepat memberiku sebuah ingatan masalalu yang membuat kedua tanganku mendingin. Dahiku berkerut. Mengingat lebih banyak bagaimana darah itu mengucur deras dari kepala seseorang yang membuatku ingin muntah saat menyaksikannya. Bercampur dengan rasa penyesalan, kepuasan dan kemenangan itu tetap tercetak jelas dalam ingatanku. Aku tertawa dalam satu tarikan nafas dan lantas membulatkan mata begitu kusadari aku tengah berada di sebuah bangku taman tak jauh dari apartemen. Tawakupun memudar. Berganti cemas.

Bodohnya aku malah tertidur di sini seorang diri. Apa yang kulakukan? Aku memang ingat aku duduk di sini setelah usai berbelanja di sebuah market di seberang jalan. Bagaimana mungkin aku bisa tertidur dengan tenang di sini sementara aku selalu digentayangi mimpi buruk yang sekaligus membuatku merasa menang?

Nafasku terhela panjang. Meski telah berulang kali melakukannya, getaran di sini tetap sama. Bukan getaran yang positif. Tapi sebuah getaran yang bisa saja merubuhkanku seketika jika aku tak pintar-pintar mengatur pola pikirku. Kukatakan, aku masih ingin hidup tenang.

Sementara menegakkan kembali tubuh, aku mengusap wajah kasar. Menghapus sisa kantuk dan raut frustasi yang kudapat dari mimpi buruk barusan. Aku tak ingin terlihat seperti orang depresi, atau mungkin juga bersalah. Meski sebenarnya aku memang seperti itu.

Raut kecemasan yang kuingat. Bagaimana ketakutan membayang-bayangi dirinya akibat ulahku yang memainkan hidup-matinya seperti Tuhan. Aku ingat bagaimana ia berteriak memohon. Meracau ketika aku berhasil mendapatkan ujung nyawanya. Menariknya seperti malaikat kematian dan membuatnya merenggang nyawa dalam satu teriakan paling histeris yang pernah kudengar darinya.

Ia pun mendapatkan aku. Menemuiku di setiap mimpiku dimana dia hanya akan terlihat di sisi ruangan gelap menangis memohon ampun padaku. Dan bodohnya, aku selalu merasa iba. Mencoba mengampuninya dan mengulurkan tangan untuk membantunya. Namun yang terjadi, aku hanya akan selalu membunuhnya. Meski tak pernah kutahu apa sebabnya aku melakukan itu. Terlebih padanya. Yang tiada henti meminta pengampunan meski aku telah menusukkan pisau tepat di dahi dan jantungnya. Ah, bayangkan saja bagaimana aku ingin mengakhiri mimpi tragis itu.

Yang kulakukan selanjutnya adalah, berjalan kembali ke apartemen.

Di depan gerbang aku mendapati Jeon Jungkook ada di sana. Membawa sebuah kain putih dan menggenggamnya erat. Aku tak menyapanya, tak juga tersenyum meski kami saling bertemu pandang. Tatapannya lain. Seperti.. baru mengenalku.

“Ah!” kejutnya dengan mulut terbuka antusias. Mendadak aku terhenti. Apa dia.. “Kau!” aku menelan ludah. “Aku pikir kau siapa. Aku lupa kau si penghuni baru,” ia menyengir. Sementara aku menyeringai kesal. Apa dia mencoba merencanakan sesuatu? Kupikir dia lelaki muda yang polos.

“Baiklah, aku masuk.” ucapku berlalu.

Melewati jalan setapak dan memasuki ruang utama. Menutup pintu dan seketika hening mendominasi. Aku cemas mengapa ruangan ini begitu mengintimidasi. Maksudku aku memang ingin sendiri. Tapi ini terlalu mengkhawatirkan jadi, aku memutuskan berbalik dan kembali membuka pintunya. GRRAAK. “Yah, lebih baik terbuka.. em?”

Aku tersenyum sendiri. Namun lantas terdiam begitu tak kudapati anak itu di sana. Jungkook? Pergi kemana dia? Secepat apa dia berlari?

“Haah, bocah itu.”

Kutinggalkan pintu tetap terbuka. Sementara aku berjalan memasuki lorong sebelah kiri dan perlahan merasakan angin menghembus kecil. Dan tanpa kusadari aroma lain tercium. Bebauan beraroma tak sedap. Saat mencoba mengendus, suara decitan pintu tertutup menghentikanku. Segera saja aku merasa was-was. Rasanya, ini terlalu aneh. Aku hanya merasa, diperhatikan.

“Tidak, tidak-tidak!”

Kuyakinkan pada diriku bahwa semua akan baik-baik saja. Tak akan ada yang tahu aku ini buronan. Aku hanya harus segera pindah jika semua mulai tak aman.

***

Malam.

Ini adalah malam kedua sejak kedatanganku kemarin saat hujan turun sama derasnya dengan malam ini. Aku mencoba menenangkan pikiranku. Gemersik pohon seperti mencoba menyanyikanku. Tapi aku tetap terjaga. Duduk di pinggir jendela kamar yang tepat menghadap taman belakang di mana pohon-pohon itu bergoyang-goyang. Tertiup angin, terhempas ribuan peluru air hujan.

Sembari menyaksikan dahan-dahan pohon satu persatu, kuhirup dalam-dalam aroma khas malam ini. Hingga akhirnya pandanganku tertuju pada satu dahan pohon yang bergerak paling berbeda sendiri. Satu pohon dimana di salah satunya terdapat tali ayunan menggantung tenang.

Pikiranku mulai berputar. Membayangkan bagaimana ada seseorang duduk di sana di tengah hujan. Serasa lengkap dan terlihat sesuai dengan gerakan dahan di atasnya. Ah! Gerakan dahan?

“Apa? Tunggu,” aku terdiam. Hanya terfokus pada pandangan ini dan semakin menajamkan mata. Perlahan namun sedikit sulit. Kusadari bahwa tak hanya dahan itu yang bergerak lain. Melainkan papan duduk ayunan itu pula bergerak kecil. Terhempas angin mungkin. Tapi, kenapa ia memiliki tempo berirama sepelan itu? Padahal angin bertiup kencang.

“Hhfft?” aku mengernyit. “Hhfft? Astaga! Ba..bau ini?”

Aku menoleh ke belakang. Tepat ke depan pintu kamarku. Mencium secara jelas bagaimana angin sejuk ini membawa serta bebauan familiar yang menusuk hidung. Bau hangus.

Aku mulai mendesah. Beranjak dan berjalan ke arah pintu mencoba memperingatkan seseorang bahwa masakannya telah hangus. Atau mungkin ia melupakan kompornya hingga membuat panci kosongnya terpanggang. Itu berbahaya bukan?

KLIKK!

“Aahh.. benar-benar bau ini,” aku menutup hidup. “Bahkan asapnya sampai ke sini. Sepertinya dari luar,”

Kembali aku melangkah. Menutup pintu kamarku dan mulai berjalan keluar dari area kamar pria. Dan lagi melewati lorong gelap yang menghubungkannya dengan ruangan utama terluas di bangunan ini. Aku terkesigap. Meski telah melewati lorong yang gelap, gelap tetap kutemui meski aku telah berada di ruang utama. Tak ada cahaya temaram. Tak ada lilin. Hanya cahaya-cahaya samar tak jelas mengintip lewat ventilasi-ventilasi lingkaran yang justru mirip dibilang bulatan mata di dinding-dinding ruangan. Aku mengusap tengkuk. Dingin.

“Kenapa lampunya tak dinyalakan saja? Meski samar itu lebih baik kan?”

Dalam gelap, meski sebenarnya aku sedikit terbantu oleh cahaya temaran yang kusebut bulatan mata di dinding itu, kugapai dinding-dinding di sampingku untuk mencapai satu-satunya saklar lampu. Tapi karena dinding ini terlalu kusam, kupikir saklar itu akan semakin sulit ditemukan. Benar saja, sudah lima menit mencari aku tak kunjung mendapatkannya. Aku justru tersandung kursi sofa dan terduduk di sana. Semakin cemas saja mencium bau hangus ini.

“Hey, itu masakan siapa sampai bau begini?” runtukku khawatir. Bagaimana jika bangunan ini terbakar karena ulah si pemasak itu? Mau tinggal dimana lagi aku nanti?

“Heey, aku..” mataku membulat dalam gelap. Berhasil menggapai ke salah satu arah dinding dan mendapati sesuatu yang menumpul di sana. Aku menemukan saklarnya! Dan ketika hendak kunyalakan, kurasakan seseorang baru saja melintas di sampingku. Aku menoleh, tapi tetap saja tak mampu melihat dengan jelas. Kosong.

Ah! Tapi bau ini semakin…

KLIK!

Seketika mataku membulat lebar-lebar. Lantas menjerit kencang-kencang mendapati sesuatu tengah berdiri dalam diam di sana. Di tengah-tengah lorong gelap kubu laki-laki.

“AAAAAAKKKH!!!!”

_To Be Continue_

 

Advertisements

2 thoughts on “[FF Freelance] APARTEMEN Part 1

  1. O.O
    Ngeri. Feel ok. Nice ^^
    Merinding gue XD

    Like

  2. Annyeonggg… l’m ne here 😁😁

    Jadi serem sendiri gua…
    butt… akhhh keren beud dahhh

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s