Namitsutiti

[FF Freelance] My Rose

Leave a comment


FB_IMG_1446781734617(1)

Tittle: My Rose

Author: PinkBlue

Cast: EXO’s Suho as Kim Jun Myeon | A Pink’s Chorong as Park Chorong | Support Cast: Super Junior’s Kyuhyun | 2NE1’s Sandara.

Genre: Romance, Little be sad, Angst.

Rating: PG15+

Backsong: Park Soo Jin – My Story

Disclaimer: Cast milik Tuhan, Orangtua-nya, juga fans-nya kecuali OC. Author hanya meminjamnya J . Terinspirasi dari lagu plus MV Park Soo Jin yang bertajuk My Story sementara plot seluruhnya adalah hasil imajinasi author sendiri

NB: Warning! Typo bertebaran, Happy reading and hope you like it ^^

Summary:

” … karena kau adalah mawarku, indah namun berduri.”

-oOo-

*Jun Myeon’s POV*

Rentetan lagu nan syahdu kudengarkan lewat sebuah headset yang bertengger di kedua telingaku seakan membawaku mengikuti hempusan angin yang menuju ke arah awan. Kuhiraukan bias mentari yang menyengat karena hampir menghasilkan bayangan di permukaan bumi. Mataku menerawang ke bawah—melayangkan pandanganku ke segala penjuru arah. Segera kupejamkan mata, namun samar-samar aku melihat sesuatu yang aneh terjadi.

“Kecelakaan?” Aku membelalakkan mataku. Tanpa berpikir panjang, aku menyerat kakiku pergi. Melepaskan headseatku dan menaruhnya di balik kantung jas kerja karena rasa penasaran yang amat besar. Ah, jangan tanyakan lagi. Aku memang seperti itu. Setelah melewati lift dari lantai 4, ting! Pintu lift terbuka lebar mempersilahkanku untuk keluar dan bergerak menuju lokasi kejadian —yang tepat berada di depan kantor.

Kulihat kerumunan orang yang telah menyaksikan kejadian itu. “Apakah ada korban?” tanyaku prihatin dengan kejadian ini. Entah pada siapa aku melontarkan pertanyaan.

“Tidak ada korban yang terluka parah.” sahut salah satu Harabeoji (Kakek) berkecamata yang tepat berdiri di sampingku—yang juga menyaksikan kejadian itu.

“Uh, untunglah nyawa mereka masih selamat.” Jawabku datar. Tapi, Astaga!!! Lihatlah! Toko bunga yang berada di sisi kiri itu bangunannya sedikit rusak karena tertabrak oleh sebuah mobil box bermuatan makanan dan motor yang baru cicilannya itu tersulap menjadi lecet.

Harabeoji, bagaimana kecelakaan ini bisa terjadi?” tanyaku masih penasaran.

“Kejadiannya terjadi begitu cepat. Tapi, aku melihat motor itu datang berugal-ugalan dari arah persimpangan dan mobil box itu datang dari arah selatan.”

“Lalu? Siapa yang salah di antara mereka?” tanyaku lagi. Ah! Seperti wartawan saja.

“Biarkan aparat keamanan yang mengurusnya,” Jawab Harabeoji itu enteng.

“Ya, aku rasa. Harabeoji adalah salah satu saksinya,” kataku menyimpulkan.

“Hey! Manager Kim! Apa yang kau lakukan di situ?” kudengar suara seseorang yang menegurku. Suara familiar yang hampir setiap hari selalu ku dengar berceramah ditelingaku. Segera kuberbalik dan mencari keberadaan sumber suara itu dan ekor mataku berhasil menangkapnya.

“Oh, Kyuhyun hyung!” sekilas bibirku tersenyum simpul ke arahnya.

“Jangan menghabiskan waktu disitu! Cepatlah! Sebentar lagi meeting akan segera dimulai!” ia memperingatiku. Kulihat ia sudah berjalan duluan dengan tergesah-gesah sembari menenteng tas kerja keluaran terbaru.

“Baiklah, aku akan segera ke sana.”

Brukk!!!

Suara tubrukan yang bersatu dengan suara memekik terdengar jelas di telingaku, aku berbalik dan mendapati seorang gadis yang sedikit merapikan geraian rambutnya yang berantakan, “Jungsuhamnida,” katanya sambil membungkukkan seperempat derajat tubuhnya meminta maaf.

Nde gwenchana.” Jawabku datar bersamaan dengan lenyapnya gadis itu dari hadapanku dan hanya meninggalkan jejak berupa berbagai macam aroma bunga. Aku melirik arloji hitamku, ah tidak ada waktu lagi untuk menjadi wartawan dadakan di tempat ini.

-oOo-

“Hufft …” dengusku panjang sambil memegangi kedua siku kakiku setelah berlari-larian mengitari jalanan sekitar sungai Han. “Seharusnya, aku beristirahat,” tambahku lagi dengan sisa nafasku.

“Uh, es krim?” suara mungil terdengar tak jauh dariku. Aku menyipitkan mataku sambil tersenyum simpul, kemudian melihat sang pemilik suara itu sudah berlari menuju kedai es krim yang terletak beberapa meter.

“Aku ingin es krim,” katanya dengan suara yang begitu menggemaskan. Namun, tidak ada yang mempedulikannya. Gadis kecil itu hanya sendirian. Kemana orang tuanya? Entahlah, “Aku ingin es krim,” katanya lagi dengan nada yang hampir menangis. Tak tega melihat wajah menggemaskannya luntur, aku segera menghampirinya …

“Berikan aku dua cone es krim,” kataku sembari memberikan beberapa lembar uang sesuai nominal kepada penjual es krim itu.

“Ini,”

“Terima kasih,” balasku sambil tersenyum simpul dan beralih pada gadis kecil yang berusia sekitar 6 tahun-an itu, “Ini untukmu.”

“Um? Untukku?”

Aku mengangguk kecil sambil mengatakan, “Iya, ambillah.” Tak heran wajah kusutnya langsung berubah menjadi ceria kembali.

“Wah! Terima kasih paman.” Balas gadis kecil itu berterima kasih sambil memamerkan deretan giginya yang tidak sepenuhnya terisi.

“Iya, sama-sama.” balasku sambil mengelus pelan pucuk kepalanya.

“Oh syukurlah, aku menemukanm!” seru seseorang tiba-tiba.

“Ibu?”

“Kau tidak apa-apa?” tanya wanita paruh baya itu dengan wajah mencemaskan.

“Aku tidak apa-apa. Ibu, lihatlah paman ini sudah memberiku es krim. Es krim nya sangat enak.”

“Oh, terima kasih anak muda.”

“Iya, sama-sama.”

“Baiklah, kita harus pulang. Ayahmu sudah menunggu kita,”

“Sampai jumpa paman!”

“Sampai jumpa!” Aku membalas lambaian tangannya dan gadis kecil itu terlihat mulai menjauh dari penglihatanku. Tak sadar es krim di tanganku sudah meleleh, “Eoh …” desahku pelan lalu segera melahapnya dengan nikmat, sangat menyegarkan—memakan es saat musim panas seperti ini. Melihat sebuah jejeran bangku kayu yang berada di taman. Sebaiknya, aku duduk di situ sembari beristirahat sejenak.

Tidak salah lagi. Angin yang menyegarkan dengan se-cone es krim coklat menemaniku saat ini. Kutolehkan wajahku ke samping kanan dan mendapati seorang gadis yang mengenakan blues merah dan dibaluti dengan gardigan selutut berwarna putih — menyambangiku. Gadis itu duduk tepat di sebelahku dengan jarak beberapa centi. Aku hanya bergeming sebentar dan pandanganku terlempar mengarah ke sungai Han. Seperti ada yang mengganjal? Aku menoleh ke gadis itu kembali dan melihat ia sedang asyik berkutit dengan sebuah buku catatan berwarna cokelat ditemani pensil berwarna merah yang tergenggam jelas di antara jari-jari lentiknya. Merasa diperhatikan olehku, ia menoleh padaku dan tersenyum sekilas bagaikan kilatan cahaya namun tertoreh senyuman indah yang pernah kulihat. Senyuman yang menenangkan. Ah, meskipun musim panas aku bisa mendadak membeku di sini.

Hening! Sejak tadi tidak ada satu pun percakapan yang tercipta di antara kami.

Apa yang ia lakukan? Apakah ia menggambar sesuatu? Atau menuliskan sesuatu yang membahagiakan?” batinku tanpa sama sekali mengalihkan pandangan darinya dan ekor mataku menangkap sesuatu yang terukir jelas di buku catatannya. Mawar?

Drrt … Drrt … Drrt  Suara deringan ponsel dari balik saku jaket parasut menyadarkanku. Kulihat nama yang tertera dan membaca pesannya,

“Jun Myeon-ah, ada rapat mendadak dari kantor. Kau harus segera kesana dalam waktu kurang dari 15 menit,”Manager Cho.

“Jinjja, sepagi ini? Bahkan hari minggu seperti ini? Aigo, ini akan mem-” kalimatku menggantung. Aku tidak sadar? Sebelum aku frustasi di sini, aku akan segera pulang, mandi, dan segera ke kantor. Dan … Hap! Aku menghabiskan seluruh es krimku dengan satu kali lahapan.

“Semoga kita bertemu lagi.” Batinku yang melirik sejenak ke arah gadis itu lalu beranjak pergi.

-oOo-

Seoul, Pukul 10.00 pm

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, dengan mata yang melilit-lilit karena kantuk aku berjalan sedikit sempoyongan menuju ke kamarku yang berada di lantai 4 apartemen Young Do. Percaya atau tidak, aku melihat gadis yang kutemui di sungai Han tadi pagi. Ternyata, dia satu apatemen denganku. Hanya saja berada di lantai yang berbeda. Menakjubkan? Tapi, tunggu dulu! Mengapa seorang gadis yang lain memapahnya? Ada apa dengannya? Apakah ada sesuatu yang terjadi padanya? Aku sangat cemas. Kuingin menghampirinya, dan menanyakan keadaannya namun ia sudah dibawa masuk ke dalam kamar apartement-nya.

-oOo

Tubuhku terhuyung di atas papan kayu yang telah disulap menjadi bangku oleh para pengrajin, lelah? Ya, aku cukup lelah. Namun pandanganku tidak berhenti melirik ke sana kemari? Tentu saja mencari sesuatu? Bukan sesuatu, tapi seseorang. Setelah pertemuan singkat satu minggu yang lalu. Apakah aku akan bertemu dengan gadis itu lagi di sini? Entahlah. Satu detik, menit, bahkan jam sudah terlewat aku tak menemukan gadis itu. Mungkin, karena kelamaan menunggu tubuhku sudah terkapar di atas bangku itu dan mataku terpejam sejenak.

Mengapa senyum gadis itu muncul lagi di depanku? Bahkan, jika mataku terpejam sebentar saja.” batinku dan segera terlonjak bangun. Entah rasa kaget atau apa yeng membuncah dadaku, sejak kapan gadis itu ada di sini?

“Annyeong,” sapanya sambil tersenyum ramah. Senyuman yang masih terekam jelas oleh otakku. Sudah kuduga, senyuman itu seperti akan membunuhku dalam sekejap dan membuat bibirku membeku hingga kehilangan kata-kata yang ingin kulontarkan.

Annyeonghaseyo …” sapa seseorang wanita lain yang umurnya kisaran 25 tahunan mendekat ke arah kami.

Eonni?” gadis yang ada di sampingku terlonjak dengan wajah yang berbinar. Mungkin, dia adalah kakaknya. “Nde, ayo kita pulang.” Ajak wanita itu yang dibalas rangkulan oleh adiknya dengan raut wajah yang bahagia. Lagi-lagi, aku menatap punggungnya yang telah menjauh. Kutolehkan pandanganku ke arah samping kananku, “Pensil warnanya tertinggal.” batinku. Punggung kedua wanita itu masih kulihat jelas, mulutku terbuka dan ingin meneriakkan nama untuk memanggilnya. Namun, bagaimana aku akan memangggilnya? Aku bahkan tidak tahu siapa namanya? Bodoh! Mengapa aku tak menanyakan namanya? Arghhh … geramku dan segera berlari hendak menyusul gadis itu. Tapi, tidak berhasil. Aku kehilangan jejaknya. Kuputuskan menyimpan pensil warna itu sendiri.

-oOo-

“Hey! Jun Myeon-ah apa yang membuatmu sampai senyum-senyum sendiri seperti itu?” tanya Kyuhyun hyung berjalan menghampiriku dan memberi segelas expresso kepadaku.

“Entahlah hyung! Ada seorang gadis misterius yang akhir-akhir ini memenuhi pikiranku.” Jawabku dan segera menyesap expresso itu.

“Siapa?”

“Aku tidak tahu namanya.” balasku singkat dengan perasaan sedih dan tanganku mengambil sesuatu dibalik saku jas kerjaku.

“Pensil warna?” tanya Kyuhyun hyung heran. Raut wajahnya terlihat kebingungan. Seperti menanyakan, ada apa dengan pensil warna itu?

Aku mengangguk, “Aku akan mengembalikan ini padanya.” Kemudian beranjak.

“Sekarang!”

“Iya, sekarang.”

Arra, semoga berhasil. Fighting!” Kyuhyun hyung memberiku semangat, dia benar-benar sahabat yang telah kuanggap sebagai kakak sendiri.

Sebelum pergi ke apartemen, aku memilih singgah ke toko bunga yang berada di seberang kantor. Berbagai aroma langsung mengenai rongga hidungku, hamparan bunga dari berbagai jenis dapat kutemukan di sini. Tapi, tanpa memilah-milah bahkan berpikir lagi. Mataku langsung tertuju pada bunga berwarna merah menyala yang mengingatkanku pada sesuatu.

Gomawo ahjumma,” setangkai bunga mawar merah kini telah sampai di tanganku. “Aku tidak sabar, memberikan hadiah ini padanya.” Gumamku dengan sedikit senyuman simpul sebelum meninggalkan toko bunga itu.

Mobilku melesat ke arah apartemen yang juga menjadi tempat tinggalku di area distrik Itaewon, setelah menaiki lift hingga sampai di lantai 3. Tepatnya, di depan kamar gadis itu. Yang tidak kutahu namanya? Hehe. Aku mendadak gugup dan gelisah, bagaimana caraku mengembalikan pensil warna merah ini padanya dan memberikannnya sebuah mawar merah untuk hadiah? Bukan hanya sekedar hadiah? Tapi lebih. Aku mendengus pelan dan memberanikan diri. Kuketuk pintu yang diatasnya tertera nomor 307 itu.

Tok … tok … tok …

Cklek …

Pintu itu pun terbuka dengan mulusnya, senyumanku mengembang namun alih-alih sedikit memudar saat melihat seseorang wanita yang membukakan pintu adalah bukan gadis yang kucari. Terlebih, wajah wanita itu terlihat sendu, seperti habis menangis.

“Kau Jun Myeon?”

“Nde, annyeonghaseyo nuna,” aku membungkukkan sedikit tubuhku ke arahnya dan ia membalasnya.

“Namaku Sandara Park. Aku adalah kakaknya-” wanita iu menggantungkan kalimatnya dan menyeret tubuhnya agar keadaan di dalam kamar apartementnya terlihat. Mataku memicing seperti ingin segera membungkam mulut, apa yang kulihat?

“Tidak mungkin,” batinku.

“Dia sudah tidak ada, dia meninggal satu hari yang lalu.” Tatapanku seakan bias ke arah bingkai foto berukuran 8R yang disekelilingnya dihiasi oleh bunga krisan sementara bunga mawar yang berada digenggamanku seakan ingin terjun bebas mengenai lantai. Tapi kutahan …

“Bagaimana mungkin? Dia terlihat baik-baik saja.”

“Tidak bisa kujelaskan, hiks! Dia mengidap kanker darah. Dan ia memutuskan menyerah pada penyakitnya,” jelas Sandara Nuna begitu singkat. Pikiranku seakan hancur. Tidak ada yang bisa kuperbuat selain menerima kenyataan. Dengan gontai aku menyeret kakiku yang terasa berat menghampiri tempat berdoa itu. Diriku terduduk, menatapi bingkai foto berukuran 8R itu kembali. Mataku terpejam sembari mengirimkan rentetan doa lalu meletakkan setangkai bunga mawar yang tidak akan diterima lagi oleh tangannya dan juga pensil warna merah yang selama seminggu telah kusimpan dan menjadi alasan agar aku dapat bertemu dengannya lagi. Aku beranjak dan kulihat Sandara Nuna sedang menantiku ingin memberi sesuatu.

“Sebelum dia pergi. Ia menitipkan ini padaku untuk diberikan kepadamu,” katanya sambil mengulurkan sebuah buku catatan berwarna cokelat kepadaku. Aku tidak mampu membukanya disini, jadi kuputuskan untuk pergi ke suatu tempat untuk memeriksa apa yang ada di dalamnya.

SSttt … ssst … ssst …

Aku menginjak pedal rem tiba-tiba, pikiranku seperi berkunang-kunang entah kemana dan merasa tidak bisa untuk melajukan mobilku sendiri. Aku keluar dari mobilku dengan membawa buku catatan itu, jalanan jembatan Banpo yang begitu sepi, tenang, dan tak berisik membuatku ingin segera membaca buku itu di sini. Dan tanganku perlahan mulai membukanya. Kulihat sebuah gambaran bunga yang terarsir rapi oleh pensil berwarna merah. Gambar yang pernah kulihat, saat aku pertama kali bertemu dengannya.

Mawar?” batinku. Tapi tunggu dulu ada sebuah catatan kecil yang tertulis di balik sampul bukunya.

‘Ijinkan aku mengenalimu lebih jauh sebab kau tidak boleh mengenaliku lebih jauh. Mianhae … ‘

Eoh? Aku mendengus pendek dan kembali menatap ke arah lembaran pertama yang terukir satu tangkai bunga mawar dan mataku menangkap sebuah tulisan tangan yang tertera di ujung bawah kertas.

‘Hampir setiap hari. Aku selalu melihatmu, bersantai di balkon kantor dengan menikmati alunan lagu sembari mengamati pemandangan di sekitarmu. Kau tersenyum, seakan kau tidak melihatku. Padahal aku melihat senyum itu terukir dengan jelas di wajahmu. Entahlah, melihat hal itu akan membuatku senang dan sedikit melupakan rasa sakit yang telah menggorogoti tubuhku, siapapun namamu, Aku akan mengucapkan Terima Kasih …”

Apakah yang ia maksud itu adalah aku? Tapi … tunggu dulu, melihatku setiap hari? Dimana?

Eoh, apakah ia gadis itu? Gadis yang tidak sengaja menubrukku ketika ada sebuah kecelakaan beberapa minggu yang lalu.

“Baiklah, aku akan segera ke sana.”

Brukk!!!

Suara tubrukan yang bersatu dengan suara memekik terdengar jelas di telingaku, aku berbalik dan mendapati seorang gadis yang sedikit merapikan geraian rambutnya yang berantakan, “Jungsuhamnida,” katanya sambil membungkukkan seperempat derajat tubuhnya meminta maaf.

“Nde gwenchana.” jawabku datar bersamaan dengan lenyapnya gadis itu dari hadapanku.

Benar, aku mengingatnya. Aku melanjutkan membuka lembaran kedua, “Mawar?” batinku lagi hingga lembaran ke 13 Gambaran yang tertoreh di secarik kertas itu masih sama dengan gambaran yang ada di lembaran satu hingga ke-13 yaitu bunga mawar. Apa maksudnya? Tanyaku bingung.

Kulanjutkan lagi membuka lembaran ke 14 dan yang kulihat adalah gambaran sketsa wajah namun belum terlihat sempurna, ini membuatku bingung. Aku mulai membuka lembaran 15, sedikit sketsa ini mulai hampir sempurna dan aku hampir bisa mengenali wajahnya, kubuka lagi lembaran ke 16 “Aku?” batinku. Lembaran demi lembaran kubuka hingga lembaran-Entah sudah lembaran keberapa akhirnya, sketsa itu menampakkan gambaran yang sempurna. Dengan sedikit terkejut melihat sketsa itu, diriku mengenakan tuxedo hitam dengan tiga belas tangkai bunga mawar. Hingga lembaran terakhir, ekor mataku tidak sengaja menangkap sesuatu lalu membacanya.

‘Seseorang gadis yang selalu ada di dibelakangmu dalam diam, seorang gadis yang benar-benar lebih memilih diam jika ada di dekatmu karena di dalam cinta keheningan lebih berarti dari percakapan sebab ia muncul berawal dari rasa bukan kata. Hmm, mianhae. Sebagai gantinya, aku akan memberimu 13 bunga mawar meskipun bukan bunga mawar yang nyata, hehe. Setidaknya, aku bisa memberi ke-13 bunga mawar itu untuk mewakili perasaanku. Aku tidak tahu, kau akan menerimanya atau tidak.’_PENGGEMAR RAHASIAMU (Park Chorong).

Sekarang, aku mengerti mengapa ia menggambarkan setiap 1 tangkai bunga mawar di setiap lembarannya hingga menggambarkan tiga belas tangkai. Air mataku yang seakan meggumpal di kantung mata, akhirnya tumpah begitu saja. Aku tidak bisa menahannya lagi — sesak — hatiku seakan ditikam oleh ribuan bilah pisau. Kini, aku tidak peduli pada suara tangisku yang seakan menyatu dengan deruman petir menggelegar dan air mataku seakan tak terlihat karena hujan yang turun begitu deras. Saat ini, buku catatan itu masih berada di dalam dekapanku. Dalam dekapanku …

“Gwenchana, terima kasih telah hadir dalam hidupku. Walau hanya senyuman dan saling sapa yang tercipta di setiap detik dan menit pertemuan singkat itu. Pertemuan yang tercipta bagaikan kilatan cahaya namun untuk mengingatnya memiliki waktu yang lama sebagai sebuah kenangan. Biarkan aku menyimpannya, karena kau adalah mawarku, indah namun berduri.”_Kim Jun Myeon.

-END-

 

Advertisements

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s