Namitsutiti

[FF Freelance] MEMORIZE

10 Comments


tumblr_lw21rwGNHD1qelst3o1_500

MEMORIZE – Nadia Nur Arisky

—–prolog—–

Bagaimana rasanya jika kalian terbangun dari tidur panjang kalian alias koma dan kalian tak mengingat apapun?

Jiyeon gadis berandalan hidupnya berubah 180 drajat, seorang yang dikenal brengsek di masa lalunya…

Dan sekarang ia harus menanggung dosanya itu

“Ji kau sudah sadar?”

“Jiyeon.”

“Ji….”

Jiyeon? Apakah itu namaku, ah benar namaku Park Jiyeon. Ini dimana. Aku tak memeperdulikan teriakan mereka. Putih bersih apa ini “Rumah sakit?” gumamku.

“Benar Jiyiku kau berada di rumah sakit. Ah syukurlah kau sudah siuman.” Ucap seseorang yang kelihatannya lebih tua dariku. Dia menangis?

“Ji kau sadar akhirnya.” Dan seseorang yang lain berteriak sangat kencang di sampingku.

“Merepotkan.” Sementara Seseorang yang lain tampak tak perduli.

“Ah maaf kalian, kalian siapa?” ucapku begitu saja.

“JI?”

“Dia kehilangan ingatannya. Aku rasa dilihat dari hasil tes dia mengalami Amnesia.”

Seorang gadis dengan berani berdiri menantang masa depannya, namun bayangan masa lalu masih menghantuinya.

Akankah ia mampu melangkah?

“MEMORIZE…..”

I DON’T WANT IT BACK….

“Jadi namaku Jiyeon, dan Kau Chanyeol oppaku dan dia Hani yeodongsaengku?” Tanyaku memastikan.

“Benar Jiyiku kau adikku tercantik. Jangan membuat kami khawatir lagi.” Dia menangis lagi?  respon yang berlebihan.

“Hyung maafkan aku. Aku yang memuat Jiyeon Nona kecelakaan. Seharusnya aku tak meminjamkan motorku padanya. Maafkan aku.”

“Ah Sehun sudahlah kau ini, Jiyiku sudah sembuh lagipula ini bukan salahmu sepenuhnya. Seharusnya aku sebagai seorang Oppa bisa menjaganya.” Seseorang yang mengaku oppaku dia terlihat sangat bijaksana.

“Lallu dia siapa?” Tunjukku pada pemuda yang bernama Sehun?

“Aku pacarmu Ji.”

“Benar dia pacarmu Jiyi.”

Pacar ?

Jiyeon pov

“Ini kamarku?” tanyaku memastikan.

“benar Jiyi tinggal di lantai dua, Hani di lantai satu dekat dengan ruang makan dan oppamu ini tepat tinggal di ruangan samping anak tangga terakhir. Ah oppa banyak bicara ya? Ah ehmh sebaiknya kau beristirahat dulu. Ah untuk nanti malam kau ingin aku masakkan apa Jiyi?” dia bertanya santai seraya meletakkan tasku.

“Ah memasak, ah kau yang memasak?” Tanyaku polos.

“Ah iya tentu, aku yang memasak. Jadi kau ingin makan apa?” dia masih menawariku.

“Ah terserah padamu.” Jawabku jujur, saat ini aku memang tak terlalu lapar.

“Okay, wait it.” Ucapnya seraya tersenyum ramah.

Aku hanya mengangguk,

Aku menelusui kamar ini,

Kamar bernuansa girlly

Sangat ….

“Ah” aku mendesah, aku tak mengingat apapun. Sungguh. Aku mendudukkan diriku di ranjang yang lagi – lagi bernuansa girlly – hello kitty? Apa ini wajar? Seorang Park Jiyeon berumur 17 berada di tingkat kedua SMA menyukai Hello kitty? Ya karena semua barang – barangku kebanyakan adalah berupa Hello kitty?

Dan lagi aku tak ingat apapun mengenai saudaraku . Ah aku benar – benar bingung – tak ingat jika aku memiliki dua saudara laki-laki dan perempuan, dan seorang pacar?

Park Chanyeol kelihatannya dia sangat ramah

Park Hani sepertinya dia membenciku

Dan Oh Sehun pria yang mengaku pacarku satu tahun dibawahku,

Mengapa aku tak bisa mengingat mereka?

 

“Lalu dimana orang tuaku? Ah maksudku dimana orang tua kita?” tanyaku tanpa sadar, rasanya sangat aneh dan canggung menanyakan hal ini pikirku tapi aku benar-benaar pensaran dengan semuanya. Saat ini kami berada di ruang makan.

“Ah Jiyi, kau ini mengapa tiba- tiba bertanya seperti itu? Hem Appa dia sudah meninggal dan eomma kita bercerai.” Ia cukup tenang dalam menjelaskan.

“Ah maaf, jadi begitu?” Tanyaku memastikan.

“Ya tentu saja. Jiyiku.”  Dia tersenyum, tapi aku masih dapat melihat senyuman yang seperti dipaksakan.

Apakah aku akrab dengannya? Kenapa ia selalu menyebutku dengan Jiyiku?

“Ah Oh ya besok kamu tak perlu bersekolah dulu aku sudah izin kepada gurumu.” Ia menjelaskan.

“Ah iya.”

“Chan-Chan, aku sudah selesai terimakasih untuk makanannya.” Seseorang yang  kukenali sebagai Hani berucap tanpa ekspresi sekalipun? Dan ia hanya memandang ke arah Chanyeol? Ia tak melirikku sama sekali.

“Ah Hani chan, kau jangan terlalu memaksakan dirimu okay, jangan lupa tidur jangan terus belajar OKAY.” Ucap Chanyeol seraya mengusap kepalanya.

Jadi ia memang benar membenciku?

 

Chanyeol sungguh baik, kakak yang sangat baik. Ah apakah aku dulu akrab dengannya? Dan Park Hani apakah dulu aku jahat kepadanya, karena ia sama sekali tak menyapaku. Dan tak pernah memandangku sama sekali. Aku kembali berpikir tentang masa laluku tanpa sadar, membuat seseorang menyadarkanku.

“Hei Ji kenapa kau mengerutkan alismu. Apa yang kau pikirkan?”

“Ah?” benar aku terlalu banyak berfikir.

“Hei – hei it’s no good. Jiyi yang aku kenal selalu percaya diri dan tak terlalu ambil pusing. You got that?” ia menepuk kepalaku. Entah mengapa ini cukup menenangkanku.

“Ne.”

Jadi aku memang akrab dengannya?

“Apa yang kau lakukan hah!!!” teriakku meledak, saat Oh Sehun namja yang berpredikat namjachinguku hampir menciumku paksa.

“Nona kau, mengapa kau berubah seperti orang asing.” Pria yang baru saja kutendang dan kuteriaki Oh Sehun hampir saja mau menciumku.

“Apa maksudmu? Aku tak mengenalmu. Kau jangan mendekatiku hingga radius 100meter.” Aku berteriak kembali.

“Nona yang aku kenal selalu senang memelukku, ia sangat mencintaiku.” Ia berucap menjelaskan panjang lebar seraya menahan tangis.

“Aku bukan Jiyeon yang dulu. Aku tak mengenalmu. Kau lebih baik pergi –pergi.” Aku berteriak kembali.

“Shit.” Ucapnya berlalu pergi.

“Ah sial.” Aku hampir saja menangis, aku ketakutan.

Tenang Ji, tenang ia sudah pergi. Aku berusaha menormalkan detak jantungku ini.

“Aku pulang.” Aku mendengar suara seseorang beberapa saat setelah kejadian mengerikan tadi.

“Ah Hani.” Aku bangkit untuk memastikan. Aku lega melihatnya dari tangga kamarku, aku tidak sendirian.

“Hani kau sudah pulang?” ucapku menuruni tangga dari arah kamarku.

Ia hanya memandangku, dan melanjutkan langkahnya menuju kamar miliknya tepat di dekat ruang makan.

“ah aku rasa ia memang membenciku?” gumamku.

“ah hem, jadi sampai saat ini aku hanya mengetahui jika namaku Park Jiyeon memiliki oppa bernama Park Chanyeol dan adik Park Hani serta pacar ish Oh Sehun namja sialan.” Gumamku seraya menuliskannya di sebuah buku kosong milikku.

“ah bukankah aku yeoja tapi mengapa aku tak memiliki buku diary?” Gumamku frustasi.

“Kriukkk.” Ah perutku lapar. Batinku seraya mengelus perutku.

Aku melangkah menuju dapur rumah kami. Nyatanya memang tidak ada apa-apa. Ehm kulkas. Yah benar kulkas aku memeriksa kulkas. “Hanya ada susu dan roti.” Ucapku tidak puas. Aku lapar makanan ini tidak cukup. Batinku.

Apa aku harus bicara dengan Hani? Pikirku

“Hani-chan – Hani-chan.” Ucapku di balik pintu kamarnya.

Merasa tidak ditanggapi oleh Hani, aku semakin menjadi-jadi mengetuk dan memanggil namanya.

“Hani chan- Hani chan.” Ucapku semakin bersemangat.

“Apa maumu?” Tanyanya terlihat nada marah di sana.

“Ah Hani-chan ehm  apa kau tak lapar?” Tanyaku kikuk.

“Tidak aku sudah makan.” Jawabnya singkat.

“Ah hem…..” Aku melipat memainkan bibirku, aku sangat takut ingin mengatakan kepada Hani.

“Kenapa ? Kau belum makan?” tanyanya tepat sasaran.

“Ah ne, ehm Hani chan maukah kau membantuku untuk memasak?” Tanyaku gugup.

“Kita tidak sedekat itu untuk melakukan kegiatan bersama.” Ucap Hani yang kemudian begitu saja menutup pintu kamarnya.

“Jadi ia benar-benar membenciku?” gumamku sedih.

Ah tenanglah Park Jiyeon, ehm baiklah mungkin ini waktunya melihat dunia luar. Aku akan makan siang diluar. Aku rasa aku telah siap. Batinku menguatkan.

Jiyeon pov end

Memorize, I DON’T WANT IT BACK….

“Chanyeoli.” Teriak beberapa orang namja.

“Heoh Baeki kau membuatku menumpahkan susu strawberryku.” Ucap Chanyeol seraya menengok kea rah teman-temannya yang ada dibelakangnya.

“Yak Mian, hehehehhe.”Ucap Baeki.

“Ada apa?” Tanya Chanyeol ramah.

“Ehm kau tidak akan ikut kami dalam blind date hari ini? Kau tahu Jongin membawa yeoja cantik dari Universitas swasta.” Ucap Xiumin bersemangat.

“Ehm, aku rasa tidak maaf teman.” Ucap Chanyeol seramah mungkin, ia sungkan untuk menolak permintaan orang lain.

“Ah ini karena dongsaengmu?” Tanya Baeki begitu saja.

“Hehehee tidak, hanya saja memang hari ini aku sedang sibuk. Ah sudah waktunya maaf kawan aku pergi dulu.” Ucap Chanyeol menolak sebaik mungkin.

“Ah anak itu selalu begitu, ia lebih menyayangi keluarganya dri pada dirinya sendiri.” Ucap Xiumin pada akhirnya ketika Chanyeol menjauh.

“Benar namja yang begitu diidamkan sangat bertanggung jawab, ah hem dan aku sangat iri bagaimana mungkin ia sudah bisa mengolah bisnis dan keluarganya diusia kuliah seperti kita. Huh.”  Ucap Jongdae yang dari tadi hanya mendengarkan temannya membujuk Chanyeol.

“Benar.” Baekhyun mengiyakan.

Sementara itu,

“WUAAHHHH, Indahnya!!!” Seru Jiyeon ketika melihat pantai. Tanpa sadar pula ia berlali menuju bibir pantai. Ini pertama kalinya ia melihat pantai setelah mungkin beberapa minggu lalu mengalami kecelakaan?

“Semuanya begitu Indah, apa aku sering kemari?Ah  andai aku bisa mengingat masa laluku. Tapi aku takut, aku takut jika masa laluku mengerikan.” Gumam Jiyeon.

“Ji?” Tanya seseorang mengalihkan perhatian Jiyeon dari Pantai di depannya.

“Ne, Nuguseyo? Kau mengenalku?” Tanya JIyeon polos.

“Jadi benar berita itu jika kau kecelakaan dan mengalami amnesia?” tanya Gadis yang menyapa Jiyeon.

“Ah ne, benar begitu.” Jiyeon mengiyakan.

“Ah Ji, baiklah namaku Bae Irene.” Ucap gadis itu ramah.

“Bae Irene?”

“Ne, ah Ji ikut aku ya hari ini Seulgi ulang tahun kau harus ikut. Kajja.” Ucap gadis itu seraya menuntun Jiyeon pergi.

Jiyeon hanya mengikuti langkah gadis itu, Bae Irene.

Cukup lama perjalanan mereka karena letak tempat rumah mereka yang ada di pinggir kota mengharuskan mereka naik kereta.

“JIYEONNNNNNNNNNN.” Seseorang berteriak cukup keras dan memeluk Jiyeon tiba-tiba saat Irene dan Jiyeon tiba di sebuah kafe.

“Ah ne?” Jiyeon bingung.

“Hei Kang Seulgi jangan berteriak.” Bentak gadis yang ada dibelakang Seulgi, Im Nana.

“Ish aku senang kau tahu Jiyeon my Queens is back.” Ucap Seulgi seraya melepas pelukannya.

“Ye.” Ucap Nana sebiasa mungkin. “Ji senang kau bisa kembali.” Ucap Im Nana kemudian seraya tersenyum.

Mereka menghabiskan waktu cukup lama, mengobrol, bercanda, makan dan berbelanja

 

Jadi ini yang dinamakan teman?Melakukan semuanya bersama? Batin Jiyeon bertanya-tanya terdapat rasa kegembiraan di dalam perasaan dan jiwanya saat ini.

 

 

“Kau ingin kembali ke Sekolah besok?”. Tanya Chanyeol terkejut dan memandang Jiyeon yang duduk di sampingnya, saat ini mereka ada di sebuah sofa di ruang tamu. Chanyeol tak menduga Jiyeon akan meminta ini, pasalnya Jiyeon meminta untuk berangkat ke Sekolah bukankah kemarin dia menolak untuk bersekolah? Ini terlalu tiba-tiba.

“Ne tidak boleh ya?” Jiyeon bertanya balik.

“Tentu boleh, kau harus bersekolah . Tapi mengapa tiba-tiba?” Ucap Chanyeol gembira dan bertanya di akhir.

“Ah aku bertemu chinguku kemarin.” Ucap Jiyeon gembira.

“Ah co cweet.” Chanyeol menepuk pipi Jiyeon.

“Hem.” Jiyeon hanya bergumam ia merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya, ketika Chanyeol selalu memberikan service-service layaknya namja ke yeoja. Padahal mungkin bagi Chanyeol itu adalah biasa.

“Wae?” Tanya Chanyeol karena Jiyeon hanya diam.

“Ah hem bolehkah aku memanggilmu dengan Oppa ? Tanya Jiyeon gugup.

“Eoh.” Chanyeol tersenyum seraya mengacak rambut JIyeon.

“Oppa. Jangan.” Jiyeon merapikan rambutnya.

“Heoh – heoh yeodongsaeng Oppa sudah kecentilan sekarang?” Chanyeol tertawa.

Membuat jiyeon merengek.

“AAA” Jiyeon memegangi kepalanya.

Aku membencimu, aku tak mencintaimu. Puas kau? Tiba –tiba sekelebat bayangan masa lalu Jyeon muncul kembali. Di dalam bayangan itu Chanyeol memandang JIyeon dingin.

“JI? Gwechanayo?” Chanyeol terlihat khawatir.

“Ah tidak apa-apa Opaa, mungkin aku hanya kelelahan. Oppa aku istirahat dulu ya?” ucap Jieyeon hendak berlalu pergi.

“Ne, kau beristirahat dan besok bersiaplah ke Sekolah.” Chanyeol memeluk Jiyeon sebelum Jiyeon pergi.

Oppa bayangan tadi itu tidak mungkin kau kan? Batin Jiyeon bertanya.

Memorize, I DON’T WANT IT BACK….

“Jadi maumu apa mengajakku ke atap?” Tanya Jiyeon to the point.

“Ehm Noona mian kemarin aku tak menyadari keadaanmu yang belum terbiasa dengan kebiasaan kita.” Sehun meminta maaf dengan tulus terlihat dari tatapannya.

“Ne? kebiasaan kita? Apa maksudmu?” Tanya Jiyeon terkejut.

“Hem seperti berciuman, bergandeng tangan dan sex.” Sehun mengucap layaknya hal normal.

“MWO? SEX?” tanya Jiyeon terkejut bukan main. Ia tanpa sadar berteriak.

“ Nde Noona.”

“AAAAAAAA” Jiyeon menjerit. “Kau berbohongkan?” Jiyeon memastikan, masih tidak percaya dengan semuanya. Tidak mungkinkan? Hal gila macam apa yang ia lakukan dan ia sudah lupakan. Kenapa sepertinya banyak yang membencinya. Terbukti tadi saat ia berangkat sekolah tak ada yang menyapanya semuanya memandang JIyeon marah dan mensyukuri jika Jiyeon hilang ingatan. Bahkan ia mendengar bisikan ‘rasakan salah sendiri dia gadis jahat’ atau ‘itu karma untuknya’. Begitu banyak kutukan-kutukan yang dilontarkan oleh anak –anak di sekolahnya untuk Jiyeon.

“WUAHHAHAHAHA.” Sehun tertawa. “Noona wajahmu menyeramkan.”

“Ne?” Jiyeon bingung.

“Tidak –tidak kita tak pernah melakukan hal itu paling maksimal kita hanya berciuman.” Ucap Sehun menjelaskan.

“Plak.” Jiyeon menampar Sehun.

“Noona?’ Sehun bertanya tak mengerti.

“Kau jaga jarak dengan ku 100 meter, jangan pernah menampakkan wajahmu didepanku. LIAR.” Jiyeon berlalu pergi. Kebohongan Sehun tadi hampir saja membunuhnya, ia begitu tidak rela jika ia sudah tidak virgin lagi. Untung saja hal itu tidak menjadi kenyataan. Tapi untuk apa kenapa sampai ia tidak rela?

Sementara itu Sehun kembali menyesali perkataannya. “AHHHHH” frustasinya mengacak-acak rambutnya.

“ISH, mengapa harus Jiyeon dan Jiyeon lagi?” seseorang terlihat membenci kedekatan Sehun dengan Jiyeon.

“Chanyeol-ah , sudah lama kita tidak bertemu.” Ucap seorang gadis bernama Suzy.

“Suzy-ah, ne sudah lama kita tidak bertemu.” Chanyeol terlihat senang menyambut kepulangan Suzy.

“Ne Chanyeol, mian aku terlalu egois.” Ucap Suzy merasa bersalah.

“Ne, Sudahlah Suzy untuk masa lalu kau tak perlu mengingatnya. Ehm.” Chanyeol tersenyum.

“Ne.” Suzy tersenyum cerah.

“Oh Hani merindukanmu? Kau mau main ke rumah?” Tanya Chanyeol.

“Ne? ah hem baiklah.” Ucap Suzy agak bimbang ada sesuatu hal tertentu dalam pikirannya dengan mengiyakan ajakan Chanyeol. Ada sesuatu di rumah itu mengenai masa lalunya dengan Jiyeon.

Memorize, I DON’T WANT IT BACK….

“Bagaimana dengan hari pertamamu di sekolah, Jiyiku yang cantik?” Tanya Chanyeol antusias saat mereka sedang bersiap akan membuat makan malam.

“Ah menyenangkan.” Jiyeon tersenyum seraya mengiris bawang merah.

“Really?” Chanyeol bertanya-tanya.

“Ne Oppa, ada Irene Seulgi dan Nana di sana yang selalu menemaniku.” Jiyeon bercerita cukup panjang lebar.

“Eh? Lalu Sehun pacarmu itu?” Chanyeol bertanya sesuatu yang mengganjal dibenaknya pasalnya Jiyeon tak pernah menyebut nama Sehun.

“Sehun? Aku putus dengannya, lebih baik seperti ini.” Jiyeon menghentikan acara mengiris bawangnya.

“Ah baiklah.” Ucap Chanyeol mengiyakan, ia tahu Jiyeon sepertinya tidak ingin membahas masalah putus jalinan kisah kasihnya dengan Sehun. Chanyeol melanjutkan acara memasaknya kemudian, saat ini mereka masih pada tahap mengiris dan mempersiapkan bahan untuk memasak.

“Ting – tong.” Bel berbunyi.

“Ah Ji bisa kau buka kan pintu depan.” Ucap Chanyeol yang sepertinya kerepotan saat mengambil ayam di lemari es.

“Ah baiklah.” Ucap Jiyeon bergegas menuju pintu depan.

“Selamat ma………..”Suzy terkejut dan tak melanjutkan kalimatnya.

“Selamat malam, mencari siapa ya? Tanya Jiyeon apa adanya.

“Ah….” Suzy bingung ingin berbicara apa.

“Eonniiiiii” Hani menjerit kesenangan dan tiba-tiba memeluk Suzy.

“Hani-Chan.” Suzy menanggapi dengan tersenyum.

“Eonni kajja memasak. Oppa ada di sana kajja memasak bersama.” Hani merangkul Suzy dan menuntunnya kea rah dapur.

HEOH? Batin Jiyeon speechless, bukankah tadi Hani tak mau memasak bersama? Tapi mengapa sekarang.

Akrab sekali mereka, Jiyeon memandang iri kebersamaan Hani, Suzy dan Chanyeol? Eh mengapa sepertinya Jiyeon merasa kesepian sekarang, biasanya Chanyeol akan selalu di dekatnya dan menggodanya? Tapi sekarang ? Jiyeon hendak pergi ke kamarnya.

“Jiyi mau ke mana kau? Kau belum makan malam.” Tanya Chanyeol menghentikan langkah Jiyeon.

“Ah aku tidak enak badan Oppa aku ingin beristirahat saja, aku sudah kenyang Oppa tadi aku baru minum susu..” JIyeon beralasan.

“Benarkah?” Chanyeol tiba –tiba menempelkan puncak kepalanya tepat di puncak kepala Jiyeon. “Kau sedikit demam. Benar tidak apa-apa?” Tanya nya lagi.

“Ne Oppa.” Jiyeon gugup dan cepat-cepat pergi dari hadapan Chanyeol.

Jadi dia benar-benar hilang ingatan? Ada rasa lega di batin Suzy.

“Terima kasih Oppa, aku senang bisa berkunjung ketempat mu lagi.” Suzy tersenyum manis layaknya orang  baru kasmaran saat ia keluar dari rumah Chanyeol.

“Ne, sering-sering lah kemari.”Chanyeol berucap jujur.

“Ehm Oppa aku…………”

“SSST. Aku tahu jangan meminta maaf lagi.” Ucap Chayeol.

“Ne. Gomawo.”

Diam hening dan entah dari mana Suzy memiliki keberanian dari mana ia mencium Chanyeol. Dan ya Chanyeol membalas ciuman itu. Mungkin mereka sudah terlalu rindu untuk membalas kerinduan yang sudah terlewati beberapa bulan itu.

Pemandangan yang cukup mengerikan bagi JIyeon sungguh tanpa sengaja ia melihatnya, sebenarnya ia hanya ingin menyusul Chanyeol untuk memberikan tas milik Suzy yang tertinggal. Jantung jiyeon merasa sakit, tapi mengapa? Tanpa sadar pula air matanya jatuh. Bayangan Chanyeol membentaknya kembali terlintas.

Aku membencimu, aku tak mencintaimu. Puas kau? Tiba –tiba sekelebat bayangan masa lalu Jyeon muncul kembali. Di dalam bayangan itu Chanyeol memandang JIyeon dingin.

“AAAAA” rintih Jiyeon pelan.

Memorize, I DON’T WANT IT BACK….

“Yak kau bagaimana mungkin melakukan itu padaku, kenapa kau tega?” Irene menangis.

 

Eeee? Sekarang apa lagi? Jiyeon bingung bukankah kemarin mereka berteman dan sekarang kenapa Irene menangis dan menuduhnya. Jiyeon kan baru saja tiba ke sekolahan.

“Ji kau kenapa tega? Irene temanmu.” Seulgi meminta penjelasan.

Eeee? Penjelasan macam apa? Jiyeon kan juga belum mengerti pokok masalahnya, kenapa ia dituntut seperti ini. Dimintai penjelasan yang dia sendiri tidak tahu apa itu.

“Aku tak mengerti penjelasan macam apa yang kalian minta dariku.” Jiyeon membuka suara.

“WUAAA WUAAAA.” Irene semakin menangis keras.

“Diamlah Irene, biar Jiyeon menjelaskan.” Nana mencoba menengahi.

“Tapi aku tidak mengerti apapun, aku tidak tahu salahku apa?” Jiyeon jujur berucap.

“Kau merebut pacar Irene, Oh Sehun kau tak ingat bahkan kaupun mengaku berpacaran dengan Sehun bukankah kau sudah putus dengannya dan lebih parahnya kau juga mengatakan kau tak sudi berteman dengan Irene karena Irene teman yang tak menguntungkan untukmu.” Seulgi menjelaskan panjang lebar.

 

HEEEEE? Jiyeon kaget Sehun pacarnya Irene? Apa Seulgi bilang aku tak sudi berteman dengan Irene.

“Tapi aku tidak per…………

“Ini buktinya.” Irene menunjukkan SMS di handphone nya. Benar itu pesan yang dikirim dari handphoneku. Tapi bagaimana mungkin? Jiyeon bingung.

“Ah walau begitu Sehun berpacaran dengan Irene? Sehun itu mantan…..

“Kau selalu berkata begitu Ji aku tidak kuat, aku tahu kau begitu menyukainya. Aku tahu dulu kau memang sempat berpacaran dengannya. Tapi itu dulu Ji. Itu dulu. Hiks-hiks hiks.” Irene kembali memutus kalimat yang belum sempat Jiyeon ucapkan dengan penuh.

“Tapi aku…………

“Ji kami muak berteman denganmu.” Ucap Seulgi gantian memotong ucapan Jiyeon dan membawa Irene pergi dari kelas, sementara Nana melihat Jiyeon tak percaya. Begitu pula teman –teman mereka yang lain mereka melihat Jiyeon jijik.

Jiyeon ingin menangis tapi ia tak bisa, itu artinya ia kalah. Jiyeon mengambil tasnya dan pergi dari kelas begitu saja.

 

“Dimana Jiyi?” Tanya Chanyeol kepada Hani karena tak mendapati Jiyeon ada di ruang makan. Ini saatnya makan malam.

“Aku tidak tahu.” Jawab Hani cuek jika hal itu menyangkut Jiyeon.

“Kau ini.” Chanyeol lekas menuju ke kamar Jiyeon.

“Jiyi-ah. Kau di dalam? Ini sudah malam, saatnya makan malam.” Chanyeol mengetuk pintu kamar Jiyeon.

Hening , tak ada jawaban.

“Jiyi?”

“Ji? Aku masuk ya?” Chanyeol meminta izin sebelum ia memasuki kamar Jiyeon.

Dan gelap adalah pemandangan yang menyapa Chanyeol.

“ Tak” Chanyeol menyalakan lampu kamar Jiyeon.

“Ji?” Chanyeol melihat Jiyeon berada di dalam selimut memunggungi Chanyeol.

“Ada apa? Terjadi sesuatu di sekolah? Kenapa kau menjadi murung begini?” Tanya Chanyeol bertubi-tubi.

Jiyeon tak menanggapi kalimat pertanyaan Chanyeol. Ia lebih memilih diam dan menangis terisak pelan.

Chanyeol mendekat, ia membuka selimut Jiyeon. “Ji kau menangis? Wae?” Tanya Chanyeol ketika mendapati Jiyeon menangis.

“Kha, pergilah. Aku hanya ingin sendiri.” Ucap Jiyeon kasar ia memandang tajam Chanyeol tepat di kedua matanya , tentu Jiyeon duduk di ranjangnya saat mengucapkan semua itu.

“Apa maksudmu?” Tanya Chanyeol tak mengerti.

“Aku hanya ingin sendiri. Bukankah kalian begitu membenciku? Akupun sama, aku juga membenci kalian semua. Kalian jahat. Aku sendirian.” Jiyeon menangis keras. Semua bebannya muncul dipermukaan begitu saja.

“Jiyiku yang cantik.” Chanyeol memeluk Jiyeon.” Jangan pernah berkata kau sendirian, aku menyayangimu begitu pula Hani. Kau tak pernah sendirian. Oppa tak akan pernah sekalipun membencimu, Oppa berjanji akan selalu di sampingmu.” Chanyeol berusah menenangkan Jiyeon.

Sementara Jiyeon hanya menangis menanggapi pelukan hangat Chanyeol.

“Jiyeon begitu rapuh, dia sedang menderita.” Ucap Chanyeol jujur di telfon saat Suzy menelfonnya.

“Ne Chanyeol Oppa, kau harus kuat untuk Jiyeon.” Suzy mencoba memberi semangat.

“Ne, aku tutup dulu ya. Bye.”

“Bye.”

Huh , semoga Jiyeon tak pernah mengingat ingatannya yang lalu. Batin Suzy cemas.

 

Memorize, I DON’T WANT IT BACK….

“Heoh air pantai yang berombak seperti perasaanku saat ini yang kacau, mengapa aku melupakan semuanya? Tapi baguslah aku lupa aku rasa dulu aku orang yang jahat. Buktinya temanku memusuhiku. Keluargaku membenciku minus Chanyeol Oppa tentunya. Tapi mengapa akhir –akhir ini aku sering mengingat tatapan dingin Oppa jika ia tersenyum untukku.” Jiyeon bergumam panjang lebar.

Aku membencimu, aku tak mencintaimu. Puas kau? Tiba –tiba sekelebat bayangan masa lalu Jyeon muncul kembali lagi ini sudah terhitung ketiga kalinya bayangan itu muncul.

 

“AAAA” Jiyeon kembali mengerang sakit di kepalanya.

“Jika Chanyeol membencinya apa yang harusku lakukan?” Tanya Jiyeon entah pada siapa.

“NOONA.” Sehun membuyarkan lamunan Jiyeon.

Dia ? bocah ini yang membuatku dibenci Irene.

“Wae?” Tanya Jiyeon tak suka.

“Kau galak sekali padaku, ingat kau masih pacarku.” Ucap Sehun mencoba ramah.

“Adwaeyo kita sudah putus, aku tak bisa.” Jiyeon berucap jujur.

“Jika ini masalah mengenai Irene, aku sudah membereskannya. Mian aku baru mengetahuinya kemarin malam.” Ucap Sehun membuat Jiyeon bertanya-tanya.

Membereskannya? Dengan cara apa?

“Maksudmu?” Tanya Jiyeon tak mengerti.

“Aku membuat Irene mengaku atas perbuatannya, aku mengatakan Jika pacarku itu masih Noona dan aku tidak pernah berpacaran dengan Irene.”

“What’s? kau membuatnya tambah kacau. Kau tahu Irene itu mencintaimu.” Jiyeon membentak Sehun.

“I Know, tapi sikap Irene tak baik jika memfitnahmu.”

“Kau tahu?”

“Ne, Irene mencintaiku sejak 2 tahun lalu.” Sehun berucap polos.

“Dan kau malah memilihku dari pada Irene?” Tanya Jiyeon tak habis pikir. “Tunggu apa aku tahu jika Irene memang mencintai Oh Sehun sebelum aku hilang ingatan?”

Diam . adalah jawaban mengiyakan dari pertanyaan Jiyeon.

“Mwo? Jadi memang seperti itu? Makhluk macam apa Park Jiyeon itu waktu dia sebelum hilang  ingatan.” Jiyeon menyesali sikapnya yang terlampaui jahat kala itu.

Dengan ini ia tahu benar jika memang ia patut di benci dan dikucilkan. Iapun merasa jijik dengan dirinya saat ini.

“Ah Chanyeol kau tak perlu menjemputku ditempat kuliahku, aku tahu kau sibuk.” Suzy terlihat jujur mengatakannya, padahal dirinya sudah rindu sejak kemarin malam.

“Tidak masalah, aku punya waktu longgar siang ini. Kajja kita pergi.” Ucap Chanyeol santai seraya mengulurkan tangan kanannya.

“Kau ini.” Suzy menerima uluran tangan Chanyeol.

“Kita akan pergi kemana?” Tanya Suzy antusias

“Ehm bagaimana dengan taman hiburan di kota A yang baru di buka?” Tanya Chanyeol.

“Heoh itu terlalu jauh Chanyeol Oppa, aku tahu nanti kau mencemaskan adik-adikmu. Ehm aku tahu di rumahmu saja ne? Lagi pula aku juga rindu Hani.” Ucap Suzy memberi usulan.

“Kau sungguh pengertian, gomawo Suzy-ah.” Ucap Chanyeol seraya merangkul Suzy dari samping.

“Kajja.” Suzy berucap senang.

Hari semakin senja sementara itu Pak Jiyeon enggan pergi dari pantai ini, setelah ia mengusir Sehun dan mengatakan jika status mereka sudah tidak ada apa-apa . Jiyeon sudah terlampau membenci dirinya.

“Benar mereka patut membenciku.” Tanpa terasa Jiyeon meneteskan air mata, Jiyeon semakin menenggelamkan kepalanya di kedua lutunya. Ia memeluk kedua lututnya pula.

Jiyiku yang cantik.”

“Jangan pernah berkata kau sendirian, aku menyayangimu begitu pula Hani. Kau tak pernah sendirian. Oppa tak akan pernah sekalipun membencimu, Oppa akan selalu disisimu.

Jiyeon mengingat kalimat yang diutarakan Chanyeol kemarn malam. “Oppa apa benar kau tak membenciku?” Jiyeon memandang pantai dengan tatapan kosong. “Apa aku harus pulang?” Tanya Jiyeon polos.

“Oppa, kau membawa eonni.” Hani memeluk Suzy.

“Hani-ah sudahlah kau ini, cepat mandi dan makan malam.”

“Ne.” Ucap Hani senang dan hendak bergegas menuju kamarnya untuk mengambil baju ganti.

“Aku pulang.” Selang beberapa saat Jiyeon datang. Jiyeon melihat pemandangan ini lagi Hani memeluk senang Suzy dan ada Chanyeol Oppa di samping Suzy. Layaknya keluarga bahagia.

“Ah Jiyi. Kamu juga lekas mandi hari ini Suzy memasak makanan special.” Ucap Chanyeol seraya tersenyum.

“Ah Oppa aku tidak lapar, aku akan langsung tidur saja setelah mandi.” Ucap Jiyeon kemudian berlalu menuju ke kamarnya.

Chanyeol melihat Jiyeon aneh, apakah ada masalah lagi? Tapi hari ini Jiyeon tidak bersekolah bukan? Otomatis ia tak akan bertemu teman-temannya? Lalu ? batin Chanyeol menduga-duga ada banyak kekhawatiran di sana.

“Oppa kajja kita makan aku lapar.” Ucap Hani menyadarkan lamunan Chanyeol.

“Ah ne Hani-chan.”

 

Oppa –ah mengapa kau memandangnya seperti itu lagi? Kau mencintaiku kan? Suzy membatin sedih.

Memorize, I DON’T WANT IT BACK….

“Chanyeol Oppa cup cup.” Kecipak basah dari kedua bibir kekasih yang di mabuk asmara. Chanyeol dan Suzy sedang berciuman di ranjang milik Suzy. Suzy ada di bawah Chanyeol. Chanyeol menindih Suzy. Entah dimulai dari mana tapi mereka telah melakukan ciuman panas itu.

“Jiyi-ah.” Chanyeol menyebut nama seseorang ditengah-tengah ciuman mereka.

“Oppa?” Suzy menghentikan kegiatan mereka, ia merasa kecewa.

Sementara itu,

“Chanyeol Oppa?” Jiyeon mengetuk kamar Chanyeol.

“Oppa?” Jiyeon kembali memanggil Chanyeol.

“Chanyeol Oppa tidak ada, Chanyeol mengantar eonni pulang.” Ucap Hani yang melihat Jiyeon memanggil-manggil nama Chanyeol.

“Suzy?” Jiyeon memastikan.

“Ne, Wae? Mereka kan berpacaran apa tidak boleh? Memang siapa kau?” Ucap Hani kasar.

“Ah ne.” Ucap Jiyeon mengiyakan. Sebenarnya ada rasa tidak suka di dalam kalimat Hani. Tapi apa itu? Berpacaran ? siapa kau?

“Oppa sedang bersama Suzy eonni, padahal ini sudah lewat tengah malam. Apa yang mereka lakukan? Apa mereka tak akan pulang?” gumam Jiyeon yang saat ini berbaring tidak nyaman dikasur.

“Ah mengapa aku tak bisa tidur sih.” Gumamnya lagi.

“Apa mereka melakukan hal itu?”

“Ah apa peduliku.” Ucap Jiyeon kemudian menarik selimut untuk menutup seluruh badannya.

“Tapi mengapa aku tidak rela?” gumamnya di balik selimut.

“Ji tenanglah kau itu mungkin tidak rela jika Oppa tidak hanya ada di sampingmu, ya tidak mungkin kau mencintai Chanyeol Oppa.”  Ucap Jiyeon mantap.

“Hoam, aku tak bisa tidur nyenyak tadi malam.” Ucap Jiyeon seraya mengambil susu dingin dari kulkas.

“Aku pulang.”

“Oppa?” Tanya Jiyeon begitu saja saat ia melihat Chanyeol ada di dekatnya.

“Ah kau lapar Jiyi? Oppa akan memasakkan sesuatu untukmu.” Ucap Chanyeol ketika melihat Jiyeon memegang susu dingin.

“Ah ne, Oppa baru pulang?” seperti orang bodoh Jiyeon memastikan.

“Ne.” Chanyeol tersenyum.

“Eoh, Oppa……” Kalimat Jiyeon berhenti ketika mendapati lipstick di dekat leher Chanyeol. Perasaan aneh muncul di sana. Seperti perasaan cemburu.

“Ne?”

“Ah tidak, aku hanya bilang aku akan berangkat sekolah hari ini.”

“Ne?  Kau tidak apa-apa?” Chanyeol memastikan.

“Ne aku akan baik-baik saja.” Jiyeon pergi berlalu.

Tidak mungkin aku cemburu dengan Eonni, aku sudah gila bagaimana mungkin aku menyukai Chanyeol Oppaku sendiri. Batin Jiyeon menepis semua perasaannya.

Memorize, I DON’T WANT IT BACK….

“Ji, mian. Maafkan aku, aku bersalah.” Irene memohon ampun kepada Jiyeon, saat ini mereka ada di atap sekolah.

“Gwechana, aku memang wanita jahat. Aku tahu kau menyukai Sehun tapi aku merebutnya. Aku juga minta maaf.” Ucap Jiyeon bijaksana.

“Ji.” Irene tak menyangka jika Jiyeon akan menjawab seperti ini? Irene menangis.

“Miannneee.” Irene menangis lebih keras, nyatanya Irene yang lebih jahat sekarang ini.

“Ne.” Jiyeon memeluk Irene. “Irene kita berteman bukan? Maka dari itu aku memaafkanmu, aku juga bersalah maafkan diriku yang lalu ya.”

“Ne.”

“Jiiiiiii.” Seulgi memeluk erat Jiyeon.

Sementara Nana memandang semuanya senang. Nana yakin Jiyeon sudah berubah.

Lalu bagaimana dengan Oh Sehun? Semenjak kejadian di pantai, Sehun tak pernah menampakkan batang hidungnya. Sehun menuruti perintah Jiyeon. Jika jiyeon sampai melihat Sehun maka Jiiyeon akan lebih membenci Sehun.

Kembali Jiyeon memandang pantai di dekat rumahnya.

“Ah hem ye.” Jiyeon membuka suara.

“Aku tidak tahu apa yang ingin kukatakan.” Jiyeon sedang bingung tentang perasaannya. Ini lebih kompleks dari pada di benci teman-temannya.

Chanyeol itu Oppa dan Jiyeon tahu akan hal itu, tapi mengapa ada rasa tidak rela Jika Chanyeol bersama Suzy.

“Ah ini gila, membuatku frustasi.” Gumam Jiyeon.

“TIDAK AKU PARK JIYEON MENYAYANGI OPPA SELAYAKNYA ADIK KEPADA KAKAKNYA.” Jiyeon berteriak.

“Hosh-hos hosh.” Nafas Jiyeon beradu cepat.

“Jadi kau menyukai Oppamu sendiri?” Seseorang bertanya tidak percaya.

“Kau?” Jiyeon terkejut.

“Hahhahahahaaa. Jadi selama kau menyukai Chanyeol Oppa lalu itu alasannya kau ingin berpisah denganku?” Tanya Sehun.

“Bukankah aku sudah memperingatkanmu jika aku tak ingin melihatmu.” Jiyeon berusaha menghindar.

“Tap.” Sehun menangkap lengan Jiyeon.

“Kau, ah Noona aku lebih baik dibenci olehmu dari pada aku tak bisa melihatmu. Kau tahu aku begitu mencintaimu.” Sehun menatap tajam Jiyeon.

“Tapi aku tidak.”

“Aku akan menunggu, kau tak mungkin bisa mencintai Chanyeol karena dia itu oppamu.” Tandas Sehun.

“A………”

-“Yak Park HANI.”  Jiyeon melihat seseorang memanggil nama adiknya. Membuat Sehunpun melihat ke arah pandang Jiyeon pula. Membuat Jiyeon bergegas ke tempat itu. Cukup jauh memang maka itu dia berlali sebelum nya  Ia mengambil tongkat pemukul kasti Sehun yang ada di dalam ransel Sehun.

“PARK HANI.” Seseorang memanggil Hani dengan kalimat memerintah. Mereka mencegat Hani di sebuah Jalan di dekat pantai.

“Ye?” Jawab Hani tanpa ekspresi.

“Kau yeoja jelek bagaimana mungkin kau menduduki peringkat pertama Ujian percobaan kelulusan.” Seseorang yang dikenali sebagai Jisoo merasa tidak terima jika Hani menduduki peringkat pertama.

“Ne kau jelek bagaimana bisa sih?” seseorang yang lain bernama Youngji mengiyakan kalimat Jisoo.

“Ne iuh.” Minah menghentikan acara meminum jusnya setelah menanggapi kedua temannya.

“Ah Jisoo ah aku benar-benar sedang tidak mood, apa yang harus aku perbuat agar aku menjadi happy? Youngji berkata hal yang cukup menakutkan untuk Hani terbukti tangannya menegang memegang tasnya kuat.

“Hem kau benar juga, aku juga sedang tidak mood. Jadi kita akan melakukannya?” Jisoo terlihat antusias.

DANGER . Sinyal bahaya tiba-tiba dirasakan Hani. Ia tiba-tiba merasa ketakutan. Hani baru ingat mereka adalah trio pembully yang terkenal di sekolahnya.

LARI. Hani mencoba akan berlari. Tapi…………..

“AWWWW”  Minah melempar Jusnya ke kepala Hani. Membuat Hani berhenti berlari dan terjatuh.

“DASAR GADIS PABO MENJIJIKKAN!!!” Jisoo menarik rambut kuncir kuda Hani, mebuat Hani harus terpaksa berdiri.

“Benar sialan kau.” Youngji mengambil kacamata Hani dan menginjaknya membuat bingkai kacamatanya terbelah dua.

“HAHAHAHHAHAA.” Sementara Minah mengambil tas Hani dan menumpahkan buku – bukunya ke tanah.

Hani memandang semuanya datar. Ia memang tak bisa menangis lagi semenjak appanya meninggal.

“Kya.” Jerit Hani lagi saat Jisoo menendang bagian belakang kaki Hani.

“Wae? Kau tak menangis. Ah tak seru.” Minah berkata hal yang mengerikan.

Apa yang akan mereka lakukan lagi? Batin Hani dag dig dug.

“AH I know.” Jisoo mengeluarkan sesuatu dari ranselnya. Sebuah gunting?

Dan Minah juga Youngji tertawa.

Apa maksudnya? Hani berteriak dalam batinnya.

“KYA SIALAN KALIAN, APA YANG KALIAN LAKUKAN DENGAN ADIKKU? MAU KUBUNUH HAH!!!!!” Seseorang yeoja menjerit  seraya membawa tongkat pemukul kasti memperingati perbuatan ketiga Trio pembully, Jiyeon berhasil menghentikan kegiatan membully ketiga trio itu terbukti mereka kabur meninggalkan Hani.

“Gwechana Hani-chan?” Jiyeon hendak membantu Hani berdiri, ia mengulurkan tangannya.

“Nan Gwechana.” Hani berdiri tanpa bantuan Jiyeon, masih sama tatapan dingin yang ia berikan untuk Jiyeon.

 

He? Padahal aku berusaha membantunya, ia tak senang ku bantu? Jiyeon bertanya-tanya.

“Noona bagaimana kau tahu jika aku selalu membawa tongkat kasti di dalam ranselku?” Sehun tak percaya, apa Jiyeon sudah memiliki kembali ingatannya?

“Ah hanya feeling. Gomawo Sehun.” Ucap Jiyeon.

“Noona untuk yang tadi?”

“Perasaanmu, dan kau akan menungguku?”

“Ne, lalu?”

“Sehun aku tidak tahu, aku katakan aku belum tahu jawabannya.”

“Baiklah aku akan menunggumu.” Sehun tulus berucap.

“Tidak kau akan membuat Irene semakin terluka, kita hanya boleh berteman.” Ucap Jiyeon memberi saran.

“Noonna, hem baiklah.” Putus Sehun pasrah dan kecewa. Sehun masih tidak rela, tapi Sehun mencoba bersabar.

“Baiklah aku pergi dulu.”

 

Noona apa sulit membuka ruang dihatimu, aku tahu kau mencintai Chanyeol sejak dulu tapi mengapa harus dia? Kau melukai dirimu lagi untuk yang kedua kali. Batin Sehun sedih.

 

Memorize, I DON’T WANT IT BACK….

“Aku lapar.” Jiyeon bergumam seraya menatap layar tivi yang menampilkan acara kuliner.

“Aku akan memasak, kau mau membantuku.” Hani dari arah belakang berucap aneh bagi Jiyeon. Tunggu Jiyeon tidak salah dengarkan Hani mengajaknya memasak?

“Mau atau tidak?” tanya Hani ketus karena melihat Jiyeon hanya mengedip-kedipkan mata dan tak meannggapi Hani serius.

“Ah ne, aku mau kajja memasak.” Jiyeon  tersenyum senang.

“Aku memotong bawang ya.” Ucap Jiyeon lagi dan bergegas memotong bawang.

Dia memang bukan Jiyeon yang dulu? Dia berubah.

“Yak kau gadis jelek. Mengerikan aku bersaudara denganmu?” Ucap seorang yeoja tak lain Jiyeon kepada adiknya Park Hani.

“Kau tahu jangan pernah menampakkan wajahmu di saat aku bersama temanku kau mengerti. Dan jangan pernah berada di dekatku radius 10 m” Ucap Jiyeon lagi.

“Ah dan apa kau tahu mengapa Ibu meninggalkan kita? Aku kasih tahu ya Ibu itu tidak menyayangimu setelah tahu ia melahirkan bayi yang begitu buruk rupa maka ia kabur dan menceraikan appa.” Jiyeon tertawa di akhir dan meninggalkan Park Hani yang masih duduk di bangku SD dengan tangisan.

Hani mengenang perlakukan buruk Jiyeon kala itu. Yang terlebih Hani benci karena Jiyeon tidak pernah berada di rumah sakit saat Appanya sedang sekarat. Hani begitu membenci Jiyeon semenjak itu.

“Hani-chan ada apa?” Jiyeon membuyarkan lamunan Hani.

“Tidak. Ah ambilkan cabai yang ada di kulkas.” Ucap Hani memerintah.

“Siap Cheef.” Ucap Jiyeon senang.

Hani melihat Jiyeon dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

“Kalian memasak bersama?” tanya Chanyeol terkejut saat acara makan malam mereka.

“Ne.” Jiyeon tersenyum senang. “Benarkan Hani-chan?”

“Oppa aku sudah selesai.” Hani masuk ke dalam kamarnya tanpa memandang Jiyeon lagi.

“Yah aku pikir aku dan dia sudah sedikit akrab.” Gumam Jiyeon.

“Hei –hei, aku yakin Hani sedang sibuk.” Chanyeol berusaha menenangkan Jiyeon.

“Ne Oppa.”

“Kajja makan, wuah kelihatannya enak.” Chanyeol terlihat antusias dengan masakan Hani dan Jiyeon.

Jiyeon tersenyum melihat Chanyeol, Jiyeon menyukai senyuman Chanyeol.

 

Memorize, I DON’T WANT IT BACK….

“Ah brokoli, susu, bayam. Aku rasa sudah. Hem apa yang lupa ya? Oh ne bumbu kari kesukaan Chanyeol Oppa.” Jiyeon segera menuju ke bagian dari swalayan ini untuk membeli bumbu kari.

“Eoh kau tahu Bae Suzy dia putus dengan Park Chanyeol.” Terlihat ibu-ibu yang menggosip di dekat bagian membeli bumbu itu.

“Tunggu yang kau maksud Park Chanyeol yang keluarganya rumit itu?” Ibu dengan rambut kriting menanggapi.

“Ne kasihan sekali ya Park Chanyeol itu baru saja Suzy pulang sudah mau di tinggal lagi.” Jelas ibu berambut lurus.

“Benar, ah tapi kalau namanya tidak jodoh ya kita memang tak bisa mengatur.”

“Oh iya bu maksud Ibu keluarga Park rumit itu bagaimana ya?” si ibu ketiga yang sedikit gemuk buka suara.

“Ah ibu tidak tahu ya, jadi Park Chanyeol itu ayahnya menikah lagi dan wanita itu membawa anaknya kalau tidak salah yeoja dan setelah appa Chanyeol dan Ibu yeoja itu bercerai. Anak dari wanita itu masih ada di rumah itu dan yah bersama anggota keluarga baru mereka kalau tidak salah nama anak itu Jiyeon.” Jelas panjang lebar ibu berambut lurus itu.

“Wah rumit sekali jadi sekarang ini mereka masih tinggal bertiga?”

“Yah semacam itulah, Chanyeol memang terlalu bertanggung jawab ia berkuliah seraya mengurus bisnis appanya. Sungguh dewasa.” Ibu berambut kriting menanggapi.

Jadi ? Kami? Aku dan Chanyeol Oppa tidak bersaudara? Jiyeon membeku di tempat. Berita yang begitu mengejutkan untuknya. Jiyeon bergegas berlari dari market itu dan meniggalkan semua belanjaannya.

Ia berlari entah tanpa arah.

“Kau benar-benar akan pergi? Tanya Chanyeol tidak terima.

“Ne, jangan memasang tampang seperti itu membuatku tidak terima aku meninggalkanmu.” Suzy tersenyum.

“Tapi…

“Chanyeol Oppa kau tidak boleh begini, kau tahu kau tidak menyadari perasaanmu yang sesungguhnya.” Suzy menyela.

“Suzy aku…..

“Oppa terima kasih, saat malam itu aku sadar aku bukanlah yeoja yang ada di hatimu. Saat itu kau menyebutkan nama Jiyeon. Untung kita bisa menyudahinya dan tak melanjutkannya. Kau tahu Oppa jika kau seperti ini terus Jiyeon bisa direbut orang lain.” Sela Suzy kembali.

“Tidak aku sudah berjanji dengan appa aku tak bisa Suzy.”

“Oppa aku tetap akan mendukungmu, kau tahu hanya kau yang bisa memilih bukan orang lain bukan pula janjimu itu.” Suzy menjelaskan.

“Ah sepertinya keretaku sudah tiba. Oppa bersemangatlah.” Suzy memeluk Chanyeol dan bergegas pergi.

Jadi ini akhirnya? Batin Suzy. Jika ia tahu akan sperti ini mungkin saat itu Suzy tak seharusnya berkata kasar keapda Jiyeon. Walau Suzy akan mempertahankan hubungannya sebaik-baiknya nyatanya di hatinya ada perasaan tidak tenang. Jadi lebih baik ia memutuskan untuk melepaskannya.

“Kau wanita brengsek, kau tahu jika appaku itu sedang sekarat di rumah sakit.  Tapi mengapa kau tak memberitahukan kepadaku saat aku pulang ke rumah waktu itu dan bertemu denganmu.” Jiyeon membentak Suzy saat ini mereka ada di pengkuburan appanya.

“Kau sendiri yang tidak bertanya.” Suzy berusaha membela dirinya.

“MWO? Mana aku tahu jika appa sakit, kau yeoja jahat kau tahu aku tak mungkin merebut Oppa darimu lalu untuk apa semua ini kau ingin merusak image ku di depan keluargaku jika aku memang gadis jahat yang melupakan jasa appaku?” Tanya Jiyeon marah.

Suzy hanya diam. “Ji tenanglah itu semua juga salahku aku tak mencarimu untuk memberitahukan keadaan appa.” Chanyeol menengahi.

“Kau membelanya. Oppa kau begitu mencintai gadis ini. Ah baiklah aku akan pergi.”

Sementara itu Suzy melihat jika kekasihnya mengepalkan kedua tangannya. Dan melihat bagaimana ekspresi menyesal Chanyeol disertai air mata yang mengalir dari kedua matanya.

“AHAHAHAHAA sebenarnya sejak lalu Oppa sudah mencintai yeoja itu.” Suzy tertawa gila melepas semuanya. “Gadis itu sekarang sudah benar-benar tidak ada tapi aku masih terbebani, memang lebih baik begini melepasmu Oppa.” Gumam Suzy saat duduk di kereta.

Memorize, I DON’T WANT IT BACK….

“Ahahahahah baiklah arraseo aku tahu-aku tahu. Baiklah aku akan pergi Oppa. Jaljayo aku akan kembali padamu jika aku sudah menjadi adikmu yang manis seperti dulu.”

Chanyeol begitu ingat dengan ucapan Jiyeon. Kalimat keramat itu benar- benar terekam jelas pada otak Chanyeol. Benar Jiyeon tidak kembali lagi. Jiyeon hilang ingatan, Jiyeon melupakan semuanya. Dan kini JIyeon seperti Jiyeon yang dulu adiknya yang manis.

 

“Chanyeol, jika appa tidak ada kau harus menjaga Hani dan Jiyeon selayaknya adikmu. Kau tak boleh menjalin hubungan dengan Jiyeon.” Park Yochun mengatakan kalimat yang begitu berat untuk Chanyeol.

“Baik appa aku kan menjaga mereka sebagai adikku.”

 

“Appa aku tidak tahu aku harus bagaimana? Janji itu begitu berat.” Gumam Chanyeol memandangi foto appanya.

 

 

Sementara itu,

Seseorang mengingat kenangannya yang begitu kelam malam itu.

Senangnya jadi aku tidak memiliki hubungan darah dengan Chanyeol Oppa bukan? Aku senang. Ucap yeoja itu terlihat senang bukan main, ia tertawa.

Apa maksudmu? Seseorang yang lain terkejut, namja tua itu bingung dengan kesenangan yeoja di depannya.

Appa dengan ini aku tak perlu memendamnya bukan? Gumam yeoja itu .Aku boleh mencintai Chanyeol oppa bukan? Ucap yeoja itu meneruskan. Yeoja itu terlihat antusias dalam mengucapkan kalimanya.

Kau gila, walau begitu dia tetap keluargamu.!!! N amja tua tidak setuju dengan ucapan yeoja muda itu.

Tidak tidak kami tidak sedarah, kami bukan keluarga. Lagipula bagus kan jika aku resmi menjadi keluarga Park dengan menikahi Oppa.

PLAK.  Kau memang gila, apa aku perlu menghajarmu agar kau sadar HUH!!! Namja tua terlihat marah

Appa sudahlah Jiyeon masih anak-anak, maaf kan dia appa. Seseorang yang lain memohon seraya bersimpu di depan namja yang lebih tua.

Sementara yeoja muda itu terlihat masih bisa tersenyum walau pipinya sudah tampak memerah.

“Ji, Gwecahanayo?” Namja muda itu membantu membangunkanyeoja itu yang tadi terjauh akibat tidak kuat menerima tamparan appanya.

“Oppa Gwechana, aku senang aku tak perlu memendam perasaanku ini.”Jiyeon memandang Chanyeol dengan tersenyum seolah-olah tamparan tadi tidak berarti.

“Ji.”

“AAAAAAHAHAHAHAHHAA”  Jiyeon tertawa seraya menangis kencang.

Semua terlitas begitu saja, masa lalunya tiba-tiba muncul bersamaan.

“Kau wanita brengsek, kau tahu jika appaku itu sedang sekarat di rumah sakit .  Tapi mengapa kau tak memberitahukan kepadaku saat aku pulang ke rumah waktu itu dan bertemu denganmu.” Jiyeon membentak Suzy saat ini mereka ada di pengkuburan appanya.

“Kau sendiri yang tidak bertanya.” Suzy berusaha membela dirinya.

“MWO? Mana aku tahu jika appa sakit, kau yeoja jahat kau tahu aku tak mungkin merebut Oppa darimu lalu untuk apa semua ini kau ingin merusak image ku di depan keluargaku jika aku memang gadis jahat yang melupakan jasa appaku?” Tanya Jiyeon marah.

Suzy hanya diam. “Ji tenanglah itu semua juga salahku aku tak mencarimu untuk memberitahukan keadaan appa.” Chanyeol menengahi.

“Kau membelanya. Oppa kau begitu mencintai gadis ini. Ah baiklah aku akan pergi.”

“Appa, mianne Apppa.” Jiyeon kembali mengingat masa lalunya. Rasanya kepalanya mau pecah. semua kenangannya tiba-tiba muncul satu persatu.

“Yak kau gadis jelek. Mengerikan aku bersaudara denganmu?” Ucap seorang yeoja tak lain Jiyeon kepada adiknya Park Hani.

“Kau tahu jangan pernah menampakkan wajahmu di saat aku bersama temanku kau mengerti. Dan jangan pernah berada di dekatku radius 10 m” Ucap Jiyeon lagi.

“Ah dan apa kau tahu mengapa Ibu meninggalkan kita? Aku kasih tahu ya Ibu itu tidak menyayangimu setelah tahu ia melahirkan bayi yang begitu buruk rupa maka ia kabur dan menceraikan appa.” Jiyeon tertawa di akhir dan meninggalkan Park Hani yang masih duduk di bangku SD dengan tangisan.

“Hani-ah, mianne eonni bersalah-eonni bersalah.” Jiyeon menangis lebih keras lagi.

“Kau mencintai Oh Sehun?” Jiyeon memandang remeh Irene.

“Nde.”Ucap Irene khawatir.

“Ah arraseo. Kalau begitu aku akan menerimanya.” Ucap Jiyeon ambigu.

“Apa maksudmu Ji?” Tanya Irene spontan.

“Sehun memintaku jadi pacarnya, dan aku akan menerimanya.” Ucap Jiyeon tanpa belas kasih.

“Mwo? Tapi kau tahu kan aku sudah mencintinya sejak lama.” Irene melayangkan protes.

“Nde, Wae? Itu salahmu sendiri tidak segera mengatakannya.” Ucap Jiyeon angkuh dan meninggalkan Irene.

“Aku memang menjijikan.” Jiyeon mengenang semuanya.


“Ji kau tak boleh begini kita masih tetap bersaudara. Kau tahu walau pun kita tidak sedarah. Lagi pula appa baru saja meninggal mengapa kau seperti ini?” Ucap Chanyeol tegas.

“Tidak, aku mencintaimu Oppa, kau tak boleh begini padaku. Kalau begitu katakana kau membenciku.” Jiyeon meminta kejelasan.

“Aku tak mencintaimu.”Chanyeol berucap emosi.

“Begitukah, Oppa tatap aku dan ucapkan lagi kalimat itu.” Ucap Jiyeon memastikan.

“Aku membencimu, aku tak mencintaimu. Puask kau?” Bentak Chanyeol memandang Jiyeon tajam.

“ahahahahah baiklah arraseo aku tahu-aku tahu. Baiklah aku akan pergi Oppa. Jaljayo aku akan kembali padamu jika aku sudah menjadi adikmu yang manis seperti dulu.” Ucap Jiyeon menahan air mata dan berlalu pergi.

 

“AAAAAAAAAAAAAAAAH.” Jiyeon kembali memegangi kepalanya yang sakit, ia mengerang. Mengapa aku kembali mengingatnya. Batinnya . Jiyeon menagis sesenggukan dan menjadi lebih keras.

“Oppa-oppa.” Ucapnya sedih.

“Noona ?”

Jiyeon hanya menatap namja itu dengan penuh tatapan meminta tolong.

“Oppa kau masih bangun?” Kaget Hani mendapati Oppanya berada di ruang tamu.

Hening .

“Opppa.” Hani mengguncang tubuh Chanyeol.

“Ah Hani-Chan. Hem ada apa, kau belum tidur?” Tanya Chanyeol seadanya.

“Justru aku yang ingin bertanya kepada Oppa, Oppa kau tidak tidur ini sudah malam? Kalau aku kan memang sudah biasa begadang besok aku ujian.”

“Ah hem tidak, Oppa menunggu Jiyeon.” Ucap Chanyeol memang apa adanya.

“Oppa, kau tahu sebenarnya aku takut mengakui ini tapi aku menyukai Jiyeon yang sekarang. Ehm apakah Jiyeon akan tetap seperti ini?” Tanya Hani seraya dduduk di sebelah Chanyeol.

“Ne, tentu Park Jiyeon tetaplah Park Jiyeon. Dia tak akan berubah.”

“Baiklah, Jika Oppa yang mengatakannya aku percaya. Oppa aku tidur dulu ya.” Pamit Hani.

“Nde.”

Sebenarnya Chanyeol dari tadi tidak terlalu fokus dengan arah pembicaraan Hani, pikirannya hanya satu mengapa Jiyeon tidak pulang ke rumah?  Tadi ia sudah mencarinya ketempat-tempat tertentu di mana Jiyeon sering kesana. Dan sudah menelfon teman-teman Jiyeon tapi hasilnya nihil.

“Jiyi kau ke mana?” Gumam Chanyeol.

Memorize, I DON’T WANT IT BACK….

“Terima kasih Sehun.” Ucap Jiyeon tersenyum.

“Noona, kau benar- benar akan pulang? Tak mau menginap satu hari lagi?” Tanya Sehun polos.

“Tidak, nanti merepotkanmu.” Ucap Jiyeon sejujurnya.

“Tidak, kata siapa? Eomma malah menyuruhku membujukmu menginap lagi. Sepertinya eommaku menyukaimu.” Ucap Sehun senang.

“Nde tapi keluargaku mungkin mencemaskanku.” Ucap Jiyeon sedikit berat saat mengatakan keluarga.

“Benar begitu, ah baiklah.” Sehun kembali berucap pasrah.

“Bye Sehun.” Jiyeon melangkah pergi.

“Tap.” Sehun menahan langka Jiyeon dengan menangkap lengan Jiyeon.

“Wae?” Tanya Jiyeon.

“Noona jangan bersedih seperti tadi malam ya, kau membuatku takut. Noona bisa kapan saja ke tempatku dan mengatakan apapun atau tak mengatakan apapun seperti tadi malam. Asalkan jangan sampai Nonna sendirian di pantai . Nonna aku khawatir.” Ucap Sehun panjang lebar.

“Nde terima kasih sudah mau menemaniku semalaman. Maaf aku tak bisa menjelaskan masalahku padamu Sehun tapi dengan adda kau di sampingku aku cukup tenang.” Ucap Jiyeon tulus.

“Nde. Cha. Bye bye Noona.” Ucap Sehun melepas lengan Jiyeon.

“Nde.” Jiyeon melangkah pergi.

“Ah dimana Jiyeon? Mengapa jam segini dia belum pulang?” Ucap Chanyeol ketika baru saja terbangun dari tidurnya di sofa. Sekarang jam menunjukkan pukul 7 pagi. Dan ia tidak mendapati Jiyeon di rumah.

Tanpa pikir panjang Chanyeol segera menyambar jaket dan melangkah ke pintu utama untuk mencari Jiyeon. Harusnya sudah dari tadi malam ia mencari Jiyeon lebih keras lagi.

Saat ia hendak melangkah keluar, pintu utama dibuka dari luar. Dan menampakkan wajah Jiyeon yang terkejut mendapati Chanyeol di depannya.

“Ji dari mana saja kau?” Ucap Chanyeol langsung mengintrogasi Jiyeon. Terlihat ada nada marah di sana.

“Mian Oppa aku tidak mengabarimu, aku menginap.” Ucap Jiyeon sedikit ketakutan karena tak biasanya wajah tersenyum Chanyeol tidak tampak.

“Menginap? Di rumah siapa?” ada nada penasaran dan tak sabar menunggu jawaban.

“Oppa aku lelah aku hanya ingin beristirahat maaf.” Jiyeon hendak berlalu.

“Tap” chanyeol menahan lengan Jiyeon. “Aku belum selesai berbicara denganmu.” Ucapnya meminta penjelasan lebih.

 

Aku membencimu, aku tak mencintaimu. Puas kau? Tiba –tiba sekelebat bayangan masa lalu Jyeon muncul kembali. Dan lagi wajah marah Chanyeol dan kalimat itu yang selalu muncul.

“AAAH” Jiyeon meringis kesakitan memegangi kepalanya.

“Ji?” Chanyeol tampak khawatir, wajah marah dan emosinya berubah menjadi wajah kecemasan.

“Maaf Oppa, aku hanya perlu beristirahat.” Ucap Jiyeon pergi menjauh dari Chanyeol menolak perhatian lebih Chanyeol.

“Oppa mianne.” Gumamnya. Saat ini Jiyeon tidak tahu harus memandang Chanyeol dengan bagaimana. Hanya jalan ini satu-satunya menghindari Oppanya dulu sejenak.

 

Sementara Chanyeol memandang punggung Jiyeon khawatir dan ada sedikit rasa takut di sana. Tapi apa?

Memorize, I DON’T WANT IT BACK….

Jiyeon masih termenung di dalam kamarnya. Ini sudah terhitung 7 jam sejak ia pulang dari rumah Sehun. Jiyeon masih termenung. Ia takut, ia bingung, ia sedih dan semuanya perasaan itu bercampur aduk di dalam pikiran dan perasaannya.

“Harus bagaimana? Harus menemui Oppa dengan wajah seperti apa? Aku takut.” Jiyeon bergumam.

“Tidak-tidak kau tak boleh seperti ini terus.” Jiyeon bergumam lagi.

“ahahahahah baiklah arraseo aku tahu-aku tahu. Baiklah aku akan pergi Oppa. Jaljayo aku akan kembali padamu jika aku sudah menjadi adikmu yang manis seperti dulu.”

Benar jadilah Jiyeon saat ini, JIyeon yang manis dan penurut. Batin Jiyeon.

“Benar itu yang harus kulakukan. Aku hanya ingin hidup bahagia.” Ucap Jiyeon yakin. Ia kemudian melangkah keluar kamar.

“Hai?” Ucap Hani canggung di depan kamr Jiyeon.

“Ne?” Tanya Jiyeon tak mengerti mendapati Hani di depan kamarnya.

“Ah ini aku membuat roti, dan hem aku lihat dari tadi kau tidak keluar kamar. Jadi aku ke sini membawakan roti dan susu dalam botol.” Ucap Hani tulus.

Jiyeon berkaca-kaca. Ia hendak menangis. “Hani-cahan gomawo, kau begitu baik.” Ucap Jiyeon seraya memeluk Hani. Untung saja Hani sigap maka susu dan roti yang ia bawa tak jatuh.

“Yak kau aneh. Lepas –lepas.” Ucap Hani.

“Hem mian. Ini untukku kan. Ah kajja kita makan bersama.” Ucap Jiyeon mengambil alih roti dan susu yang di bawa Hani. Jiyeon melangkah turun untuk menuju ke ruang makan.

“Kau dasar yeoja aneh.” Gumam Hani senang.

“Jadi apa mau anda?” Tanya Chanyeol santai tapi to the point.

“Bolehkah aku tinggal dengan Jiyeon dan Hani. Aku merindukan mereka. Aku mohon.” Ucap Park Taehe memohon.

“Ah ne tentu saja. Rumah itu juga milik anda.” Ucap Chanyeol sopan.

“Chanyeol, kau benar-benar mirip appamu kau terlalu baik. Mianne selama ini aku mentelantarkan kalian.” Ucap Taaehe menyesal.

“Tidak, anda tak perlu membahasnya. Kami akan senang menerima anda kembali terutama Jiyeon dan Hani.” Chanyeol tersenyum.

“Gomawo.” Ucap Taehe.

“Jadi apa yang dilakukan si Jisoo dan genknya setelah kejadian waktu itu?” Tanya Jiyeon di tengah acara memasak. Ya saat ini mereka memasak untuk makan malam.

“Mereka sudah tidak berani denganku. Ini semua berkatmu. Gomawo.” Ucap Hani tersenyum .

“Wua kau tersenyum untukku. Aih senangnya.” Ucap Jiyeon terlampau senang dengan sikap Hani.

“Yak kau berlebihan.” Bentak Hani.

“Mian.” Ucap Jiyeon.

“Ting-tong.”

“Ah biar aku saja yang membuka.” Ucap Jiyeon.

“Tidak biar aku saja.” Ucap Hani dan segera melangkah ke pintu utama.

“Hai?”  Ucap seorang wanita paruh baya.

Hani diam membeku. Benarkah wanita ini?

Merasa aneh karena Hani tak menyapa tamu yang datang Jiyeon juga pergi ke pintu utama.

“Hani-chan siapa yang….” Jiyeon juga ikut diam membeku. “Eomma ?”

“Kalian sudah besar, ah senangnya..” Ucap Taehe di tengah acara makan malam.

“Ne.” Hanya Jiyeon yang menyahut.

Sementara Chanyeol dan Hani diam dalam kenikmatan memakan masakan yang ada.

“Ah Hani-chan sekarang ini kamu sudah kelas 3SMP ya sebentar lagi masuk SMA. Mau masuk sekolah mana?” Tanya Taehe berusaha membuat suasana nyaman.

“Belum tahu.” Jawab Hani asal-asalan.

“Hani, jangan begitu.” Ucap Chanyeol menasihati Hani.

“Oppa aku sudah kenyang aku masuk dulu ya.” Ucap Hani seperti biasa.

“Ah ne.” Chanyeol jadi semakin canggung.

Taehe memandang Hani sedih.

“Ehm Eom- maa. Ah hem kamarmu ada di dekat kamar Hani dan tadi aku sudah membersihkannya. Jika eom-ma lelah silahkan beristirahat.” Jiyeon berusaha menetralkan suasana, dan yah masih terlihat canggung dalam mengatakan eomma.

“Hani-chan. Kajja bangun. Eomma sudah menyiapkan makanan kesukaanmu dan bekal untukmu.” Ucap Taehe membangunkan Hani.

“Ah. Hem.” Hani memandang sebentar eommanya dan bangun meninggalkan eommanya begitu saja.

“Ah Taehe. Kau perlu lebih bersabar.” Ucap Taehe menguatkan.

“Pagi.”

“Pagi.”

Ucap Chanyeol membalas sapaan Jiyeon yang menuruni tangga dan tak sengaja berpapasan dengan nya di depan kamar.

“Oppa ah hem nanti pulang jam berapa?” Tanya Jiyeon penasaran.

“Mungkin jam 7 malam ada banyak tugas kampus.” Terang Chanyeol.

“Ah jadi tetap makan malam di rumah kan?” tanya jiyeon.

“Ne Jiyiku.” Chanyeol membelai kepala Jiyeon.

“Tap.” Jiyeon memegang tangan Chanyeol dengan kedua tangannya.

“Ji?” Heran Chanyeol karena Jiyeon dari tadi tak melepas genggaman tangan Chanyeol.

“Ah heheheheh tidak, Oppa dengan tangan ini kau selalu memasakanku dan melindungiku dan Hani. Oppa gomawo kau Oppa yang sangat aku sukai.” Ucap Jiyeon tersenyum,.

Deg . ada perasaan bergetar lebih di dalam diri Chanyeol ketika Jiyeon mengatakan suka.

“Ah Oppa, sepertinya aku harus pergi sekolah sekarang. Oppa hari ini harus lebh bersemangat , Fighthing!!!!” Jiyeon tersenyum lagi dan lekas berlalu pergi.

Jiyeon kau sudah berubah menjadi yeodongsaeng pada umumnya. Batin Chanyeol memandang punggung Jiyeon menjauh.

Memorize, I DON’T WANT IT BACK….

“Aku akan pindah ke apartemen terdekat Universitasku.” Terang Chanyeol membuat syok keluarga Park.

“Maksud Oppa?” Hani spontan bertanya, ia menghentikan acara makan malamnya.

“Iya, hem temanku menawariku untuk tinggal di apartemennya. Dan sekarang ini adalah semester terakhir Oppa, maka dari itu Oppa ingin fokus. Hani-chan.” Jelas Chanyeol berucap.

“Baiklah Oppa.” Hani hanya mengiyakan. Sementara sedari tadi Jiyeon berusaha memahami situasi yang terjadi. Oppa akan pindah dan hatinya tiba-tiba menjadi sangat sedih. Badan Jiyeon tanpa sadar bergetar.

“Chanyeol apakah ini karena eomma maka kau pindah?” Ucap Taehe sungkan.

“Tidak eomma, aku senang eomma ada di tengah- tengah kami. Memang ini adalah saatnya eomma.” Chanyeol tersenyum.

“Ah hem Chanyeol, gomawo kau memberi kesempatan kepadaku. Aku akan mengurus Jiyeon dan Hani dengan sangat baik.” Ucap Taehe lega.

“Ne eomma.” Chanyeol tersenyum.

“Aku sudah selesai, aku duluan.” Ucap JIyeon seraya membawa piring kotor dan bergegas ke kamar setelah meletakkan piring kotornya.

Sementara itu Chanyeol hanya memandang Jiyeon sedih.

Didalam kamar,

Jiyeon hanya termenung, dia memandang kosong langit-langit kamarnya. “Oppa akan meninggalkanku, padahal aku sudah menjadi gadis baik, yeodongsaengnya yang manis.” Jiyeon bergumam. “Hiks-hiks-hiks, ini salahku seharusnya aku tak boleh mencintainya lagi. Oppa apa ia tahu maka dari itu ia menghindariku.” Jiyeon mengoceh panjang lebar tak jelas Ia menangis.

“Ah heheheheh tidak, Oppa dengan tangan ini kau selalu memasakanku dan melindungiku dan Hani. Oppa gomawo kau Oppa yang sangat aku sukai.”

Chanyeol mengingat jelas kalimat yang diucapkan JIyeon. Sebenarnya kepindahannya ke apartemen sudah Chaneyol atur sejak lama, hanya saja merealisasikannya menunggu waktu yang tepat. Saat ini mungkin adalah waktunya, saat dimana ia sudah tidak bisa menahan rasa sukanya rasa cintanya dan rasa sayangnya terhadap Jiyeon. Chanyeol tidak boleh mengiyakan- membenarkan perasaan ini. Ia tidak ingin melanggar janjinya.

“Miaane Jiyi aku tak bisa berada di sampingmu mulai saat ini.” Gumam Chanyeol memandang pintu kamarnya, ia berbaring dalam ke adaan tidur menyamping.

“Tap tap tap” Chanyeol mendengar derap langkah seseorang menuruni tangga, ia tahu itu Jiyeon dan ia berpura-pura tertidur. Chanyeol memejamkan matanya.

“Kret .” Jiyeon membuka pintu kamar Chanyeol begitu pelan.

Ia memposisikan membaringkan tubuhnya tepat di samping Chanyeol. Jiyeon memandang wajah Chanyeol dari samping. Jiyeon tersenyum, ia benar-benar berani kali ini. Jiyeon sudah habis akal, ia hanya ingin merekam wajah Oppanya dalam ingatannya.

“Oppa kau ingat kita dulu waktu kecil sering tidur bersama di kasur lipat ini, saat itu Oppa ketakutan karena Appa harus masuk rumah sakit karena kecelakaan kerja, hehehehee aku senang saa itu bisa menenangkan Oppa.” Jiyeon berucap sangat pelan ia mengenang masa lalunya dengan Chaneyol.

“Oppa kau harus hidup lebih baik lagi. Oppa jangan pikirkan Hani, dan eomma aku berjanji akan menjaga mereka. Oppa ….hiks.” Jiyeon berhenti berucap ia membekap mulutnya, ia ingin menangis lagi tapi itu tidak boleh, Jiyeon harus mengatakan semuanya karena memang tidak ada waktu lagi selain malam ini.

“Oppa aku Jiyeon Park yeodongsaengmu akan menjadi gadis yang lebih baik lagi dan aku mencintaimu Oppa, Oppa, dengan ini aku akan benar-benar melepasmu.” Ucap Jiyeon sepelan mungkin. Jiyeon memejamkan matanya dan terlelap di samping Chanyeol.

“Sret” Chanyeol memandang Jiyeon, ia terkejut bukan main. Jadi Jiyeon sudah mengingatnya? Chanyeol meneteskan air matanya tanpa sadar. Ia benar-benar tak tega melihat Jiyeon seperti ini tapi harus bagaimana lagi, ini adalah jalannya dan ia harus memenuhi janjinya.

“Ji kau juga harus hidup lebih baik lagi.’ Gumam Chanyeol.

Aku mencintaimu Oppa, maafkan aku atas sikapku dulu. Kau tak perlu menghindariku hanya untuk itu. Aku sudah bukan Jiyeon yang dulu. Jiyeon membatin sedih saat Oppanya membereskan barang-barang miliknya saat Oppanya akan pindah ke apartemen dekat Universitasnya. Saat ini ia memandang kegiatan itu lewat balkon kamarnya.

Chanyeol tahu jika Jiyeon memandangnya sedih tapi ia mencoba tidak menyadarinya. Maaf, Jiyi . batin Chanyeol

Dan malam Jiyeon melihat kamar Chanyeol yang benar-benar sudah kosong tanpa apapun hanya ada kasur lipatnya. Jiyeon membaringkan tubuhnya di sana dan mencoba memeluk selimut yang masih tercium bekas bau Chanyeol , setidaknya aroma Chanyeol membuatnya bisa bertahan dan menguatkan perasaan Jiyeon.

Memorize, I DON’T WANT IT BACK….

 

“Ah Hani-chan dan eomma, kalian habis berbelanja bersama?” Tanya Jiyeon senang.

“Ne eon–ni.” Hani berucap canggung.

“Kau memanggilku eonni?” Jiyeon senang bukan main dan ia membuat gerakan yang seolah-olah ingin memeluk Hani.

“Apa yang akan kau lakukan?” Tanya Han menghentikan gerakan itu.

“Eh, memelukmu? Boleh tidak?” Tanya Jiyeon polos.

“Kemarilah.” Hani memeluk Jiyeon.

“Ah terima kasih Tuhan.” Taehe tersenyum.

“Eomma kemari.” Jiyeon dan Hani juga memeluk Taehe.

Makan malam itu memang terasa hangat, tapi saat Chaneyol tidak ada mereka cukup sedih. Mereka kembali mengenang kelakuan Chanyeol yang selalu membuat suasana hangat di rumah. Namun mereka mencoba untuk menerima, dan memang sudah berminggu – minggu mereka melakukan acara makan malam bersama tanpa sosok Chanyeol.

“Eonni, bagaimana jika eonni besok menemui Oppa?” Tawar Hani.

“Eh, kenapa?” Jiyeon tak mengerti.

“Besok ulang tahun Chanyeol, Jiyeon sayang.” Ucap Eomma Jiyeon.

“Ah begitu. Tapi kenapa kalian tidak ikut?” Tanya Jiyeon aneh.

“Ah besok aku harus mengikuti tes ke perguruan tinggi, dan eomma akan mengantarkanku.” Terang Hani.

“Oh begitu, baiklah eonni akan menegok Oppa dan mengatakan kalian menitip pesan ulang tahun.” Ucap Jiyeon.

“Benar dan juga ini.” Hani menyerahkan sebuah kotak berbungkus kertas kado.

“Ah iya aku belum menyiapkannya.” Jiyeon bingung.

“ Tenang eonni disitu sudah tertera nama kita, dari Keluarga PARK.” Hani menunjuk kartu ucapan diatas kado itu.

“Ah gomawo.” Ucap Jiyeon.

 

“Ah maaf apakah anda mengenal Park Chanyeol mahasiswa ekonomi semester akhir?” Tanya JIyeon kepada beberapa orang yang lewat di sekitar fakultas ekonomi. Hanya memerlukan satu kali pertanyaan untuk mengetahui dimana Park Chanyeol berada. Jiyeon rasa Oppanya cukup terkenal. Dan itu membuatnya sedikit tidak rela.

“Ada di lapangan basket dibelakang fakultas ini.” Ucap seseorang itu.

“Ah baiklah.Gomawo.” Ucap Jiyeon berterima kasih.

“Ah tunggu, akan kuantarkan aku juga kebetulan mau ke sana.” Ucap namja itu, namja yang tak lain adalah Baekhyun. Sahabat Chanyeol.

“Ehm ne.” Jiyeon tersenyum.

“Ah namamu Jiyeon, ah aku sering dengar tentangmu dari Chanyeol.” Ucap Baekhyun jujur.

“Ne.” Jiyeon hanya menanggapi sekenanya.

“Ah aku tidak menyangka kau sangat cantik.” Jujur Baekhyun berucap.

“Ne terima kasih.” Jiyeon tersenyum.

“Ah sudah sampai, itu Chanyeol.” Baekhyun memberitahu keberadaan Chanyeol yang ada di samping lapangan sedang beristirahat.

“Bekhyun.” Do Kyungso meneriaki nama Baekhyun dari sisi lapangan. Membuat semua orang menoleh kea rah Baekhyun dan hal itu jelas membuat Chanyeol terkejut. “Jiyeon.” Gumamnya.

“Ah Oppa lama tidak bertemu.” Jiyeon berucap canggung.

“Ne.” Chanyeol tersenyum sama canggungnya. Ternyata jika sudah lama tidak bertemu tetap terasa aneh. Batin mereka berdua.

“Ah ne Oppa ehm kau ah bagaimana ya. Ini untukmu dari kami.” Jiyeon meletakkan tas berukuran cukup besar pada meja di depan mereka. Saat ini mereka sedang berada di kantin.

“Ah apa ini?” Tanya Chanyeol penasaran.

“Buka saja.” Jiyeon menjawab apa adanya.

“Sebuah kado dan bekal makanan?” Chaneyol tak mengerti.

“Oppa sangil cukkae hamida, apa kau lupa hari ini kau berulang tahun?” Ucap Jiyeon tersenyum.

“Ini hari ulang tahunku?” Chaneyol terkejut.

“Oppa.”

“Ah hehehehehe ne mian Jiyeon. Iya aku senang kau datang terima kasih ya.” Chanyeol mulai membuka botol berisi sup rumput laut. “Ah aku makan ya.” Ucapnya.

“Wuahhhh enaknya.” Chanyeol tersenyum.

“Gomawo.” Ucap Jiyeon tersenyum malu.

“Kau yang memasak?” Chnayeol terkejut.

“Oppa.” Jiyeon merengek.

“Hhahahahahahah hanya bercanda, ini sangat enak gomawo Jiyi.” Chanyeol kemudian kembali memakan sup itu.

“Oppa yang itu juga, eomma membuatkan bentou.” Jiyeon membuka kotak makanan yang lain.

“Ah ne.” Chanyeol tersenyum.

Benar memang harus seperti ini. Inilah yang seharusnya kami lakukan sejak dulu, kami adalah kakak dan adik. Batin mereka berdua.

“AYO AYO AYO AYO.” Sorak sorai kumpulan remaja di sebuah tempat makan.

“AYO AYO AYO AYO. Baekhyun aku padamu janagan sampai kalah dengan Xiumin.” Ucap Kyungso menyemangati Baekhyun.

“Cerewet kau.” Suho membekap mulut Kyungso.

“YES. AKU MENANG.” Seru Baekhyun gembira saat berhasil menghabiskanlima  botol penuh soju. Gila memang, tapi inilah Baek dan keahlian minumnya.

“AHAHAHAHHAHAHAA.” Kyungso tertawa mendapati wajah Baekhyun merah padam.

“AH KALAH.” Xiumin mulai menangisi nasibnya, berlebihan memang mungkin efek mabuk.

“Chaneyolli, ah senangnya aku diajak di acara makan – makan ulang tahunmu.” Ucap seorang gadis bernama Kang Hena.

Chanyeol hanya tersenyum menanggapi, memang ia dengan terpaksa harus mengajak satu kelas ekonomi angkatan akhir. Mentang –mentang Chanyeol ulang tahun maka itulah alasannya grupnya mengharuskan ia mentraktir mereka. Dan alhasil disinilah mereka disebuah tempat makan dengan penghuni kelas ekonomi dan Jiyeon. Eh dimana Jiyeon?

“Iya.” Jiyeon hanya mengiyakan. Benar saat ini Jiyeon menjadi artis dadakan karena banyak teman bengender laki-laki Chanyeol sedang berusaha merayu Jiyeon.

“Jiyi, benar kan Chanyeol sering memanggilmu begitu. Ah irinya aku ingin punya adik sepertimu. Kau sangat cantik.” Seorang namja mencoba merayu Jiyeon dan ini sudah 1-2-10 kali kalimat yang intinya mengatakan Jiyeon adalah wanita tercantik yang diucapkan oleh para perayu yang ada disekeliling Jiyeon.

“Benar.” Dan hanya tanggapan kecil yang Jiyeon berikan tak lupa ia tersenyum.

Membuat semua orang meleleh memandangnya.

“Chanyeolli? Kau ah coba makan ini sedari tadi aku melihatmu kau belum memakan apapun.” Kang Hena kembali mencoba mengalihkan pandangan Chanyeol dari adiknya.

“Ah ne.” Chanyeol berusaha kembali lagi mencoba memberi perhatian kepada Hena, benar Jiyeon sudah dewasa ia bisa menangani rayuan maut dari teman-temannya. Itu pikirnya.

“Ah Jiyeon bagaimana jika kita berlomba minum, kalau kau menang maka aku akan memberitahu rahasia Chanyeol dengan Hena dan jika aku menang berikan nomor handphonemu.” Ucap seseorang tak lain kriss tepat dikuping Jiyeon seperti berbisik. Ingat Kriss adalah namja playboy.

“BAIKLAH.” Jiyeon mengiyakan saja, sedari tadi sebenarnya ia sudah terbakar api cemburu ketika melihat kemesraan Oppanya dan Hena.

Kriss membuka dua botol soju dan menyerahkan kepada Jiyeon satu botol itu.

“Kita mulai 1 – 2 -………” Jiyeon bersiap meminum soju sebelum Chanyeol merebut paksa botol itu dan meneguknya habis dalam beberapa detik saja seperti orang kehausan.

“Kau tidak boleh meminum ini, kau ta-….” Chanyeol tak sadarkan diri, ia pingsan begitu saja.

“Ah dasar selalu begini.” Komentar Baekhyun, dan Kyungso bersamaan. Sementra Xiumin sudah meraung-raung tidak jelas dengan Suho menjadi korbannya.

“Ah sebaiknya kau bermalam saja di sini. Kau tidur saja dikamarku tepat di sebelah kamar Chanyeol. Aku akan ke apartemennya si Suho saja. Anggap saja rumah sendiri.” Ucap Baekhyun panjang kali lebar setelah membopong Chanyeol ke kasurnya.

Ternyata ia teman sekamarnya Oppa Chanyeol. Batin Jiyeon. “Ah ne.” Ucap JIyeon.

Setelah kepergian Baekhyun Jiyeon mengamati wajah Chanyeol. Jiyeon merasa begitu senang. Api cemburunya hilang. Ia begitu menyukai wajah Chanyeol ketika tidur, benar-benar seperti malaikat. Jiyeon menuduk untuk menelisik lebih jauh wajah kakaknya itu. Ia rindu, dan “cup” tanpa sadari ia telah mengecup bibr oppanya itu. “Oppa miane, aku tidak bisa menahannya.” Ucap Jiyeon. “Oppa benar maafkan aku ini yang terakhir.” Jiyeon mengecup bibir Chanyeol lagi.

Jiyeonpun  duduk di bawah kasur Chanyeol memandang ketenangan di wajah Chanyeol. Dan tak beberapa lama ia tertidur dalam posisi terduduk dengan kepalanya yang berada di kasur Chanyeol.

“Dasar pabo, mengapa kau lakukan itu kepadaku.” Gumam Chanyeol membuka mata dan menatap wajah Jiyeon. Sama seperti Jiyeon, Chanyeol merasakan ketenangan dalam memandang wajah Jiyeon. Ia menyukai itu-sangat menyukainya. “Kau tahu aku juga masih dapat mengingat dengan jelas saat kita selalu tidur bersama sewaktu kecil untuk melepas ketakutan, Jiyiku.” Gumamnya lagi dan iapun menutup matanya tidur menuju ke alam mimpi dengan posisi menghadap Jiyeon.

“Hoam” Jiyeon menguap, ia telah terbangun dari tidur panjangnya.

“Ah aku tidur di kasur Oppa, dimana Oppa?” Ucapnya kebingungan karena tak mendapati Chanyeol di kamar itu.

Jiyeon, bergegas turun dari ranjang dan berlari menuju keluar dari kamar. Sungguh Jiyeon seperti takut kehilangan sesuatu.

“Jiyi?”  seseorang memanggil Jiyeon dari arah samping.

“Op…..Ah Baekhyun-sii.” Sapa Jiyeon balik.

“Ah kau salah mengira aku Chanyeol kan? Oppamu dia sudah berangkat kuliah sejak tadi pagi. Ehm katanya kau lebih baik pulang dan ini ia menitipkan uang transport.” Ucap Baekhyun seraya memberikan amplop kepada JIyeon.

“Ah gomawo.” Ucap Jiyeon dan kemudian berlalu hendak mengambil jaket.

“Ah Ji sarapan dulu yuk, oppamu sudah menyiapkan sesuatu untukmu.” Ucap Baekhyun tersenyum.

Jiyeon hanya mengangguk untuk mengiyakan.

Sup ayam asparagus. Batin Jiyeon saat melihat makanan yang disiapkan Oppanya. Oppa kau sangat mengetahui apa kesukaanku.

“Kau suka?” Tanya Baekhyun. “Kau tahu Oppamu itu selalu membuat ini di setiap pagi, yah aku sih senang saja walau terkadang bosan. Tapi Chanyeol itu selalu bersemangat menghabiskan sup ini. Membuat nafsu makanku naik saja.” Ucap Baekhyun panjang lebar. “Ah aku rasa sup ini adalah makanan kesukaannya.” Ucapnya lagi.

Sup ayam? Kesuakaannya. Jiyeon hanya tersenyum menanggapi. “Mungkin.”

“Hani-chan ada apa?” Ucap Jiyeon terkejut melihat Hani termenung sedih di sofa ruang tamunya.

Hani hanya diam.

“Hani?” Jiyeon mendekati Hani.

“Eonni, mengapa ini terjadi?” Tanya Hani ia memandang Jiyeon sedih,

“Hani-chan, eonni tak mengerti.” Ucap Jiyeon apa adanya.

“Eomma – eomma pergi. Hiks-hiks-hiks ia meninggalkan surat jika ia tak akan kembali. Kau tahu ia pergi eonni?” Hani menangis meraung-raung.

“Hani-chan.” Jiyeon hanya mampu memeluk adiknya.

“Hani-chan. Buka pintunya ne? Oppa membawa makanan kesukaanmu donuts dan cake strawberry.” Ucap Chanyeol dari balik kamar Hani.

Hening ……………

“Hani?” Chanyeol masih berusaha membujuk Hani.

“Oppa, maaf harus memanggilmu sampai ke sini.” Jiyeon merasa tidak enak.

“Ah ne tidak masalah Jiyi. Hani juga adikku.” Chanyeol berucap sebiasa mungkin.

“Oppa, gomawo.” Ucap Jiyeon.

“Kajja kita membujuk Hani lagi.” Ucap Chanyeol dan kembali mengetuk-ketuk kamar Hani.

“Tidak bisa ya Oppa?” JIyeon sedih melihatnya. “Kunci cadangan oppa punya kan?” Usul Jiyeon.

“Ah kau benar.” Chanyeol bergegas menuju kamarnya dan mengambil kunci itu.

“Ini dia.” Gumam Chanyeol ketika mendapatkan kunci tersebut dari dalam laci kamarnya. “Eoh ini bukannya bantal Jiyeon?” gumam Chanyeol ketika melihat sebuah bantal berwarna pink kesayangan Jiyeon. “Dia tidur disini?” tanyanya entah pada siapa.

“Oppa bagaimana kau menemukannya?” Tanya Jiyi dari balik kamar Chanyeol.

“Ah nde.” Ucap Chanyeol dan segera menuju kamar Hani.

“Hani.” Kaget Chanyeol dan Jiyeon mendapati kamar adiknya sudah seperti kapal pecah.

“Oppa.” Hani memeluk Chanyeol.

Jiyeon melihat pemandangan itu dengan rasa haru.

“Hani-chan kajja kau harus memakannya, oppa membawakan khusus buah strawberry ini dan donut kesukaanmu. Kau tak mau mencobanya?” Chanyeol membujuk Hani untuk makan.

“Ne.” Hani memakan donut dan kemudian strawberry dengan tidak bersemangat.

“Hani-chan hebat lo Oppa. Ia mendapat beasiswa ke Seoul sekolah ternama pula.” Jiyeon mencoba membuka suasana seakrab mungkin.

“Ah benar? Kita harus merayakannya.” Chanyeol terlihat yang paling bersemangat.

“Aku tidak tahu akan mengambilnya atau tidak.”Ucap Hani datar dan dingin.

“Hani jangan begitu, bukankah kau ingin menjadi dokter? Itu kesempatanmu kau tahu.” Ucap Chanyeol mendukung.

“akan kupikirkan. Aku selesai, aku ingin beristirahat.” Ucap Hani dan berlalu pergi.

“Jiyi kau mau makan malam? Biar Oppa yang memasakkan.” Tawar Chanyeol.

“Tidak, oppa istirahat dulu saja. Ehm biar sekali ini aku yang memasak untuk oppa. Nanti jika sudah jam makan malam aku akan memanggil oppa.” Ucap Jiyeon tersenyum senang.

“Tapi…….

“Sudah Kajja oppa beristirahat.” Jiyeon menggiring Chanyeol ke kamar.

“Nah aku akan memasak apa ya?” gumam Jiyeon memandang bahan – bahan masakan yang tersedia di dalam kulkas.

“Ah hem kari kesukaan Oppa dan sup jamur untuk Hani.” Gumam Jiyeon dan ia mulai untuk memasak.

“AHH Masitta. Ini sangat enak.” Ucap Chanyeol tersenyum, ia  terlihat puas.

“Jinja?” Jiyeon memandang penuh harap.

“Ne.” tanggap Chanyeol.

“Ah hem sayang Hani sepertinya sedang tidak berselera makan.” Jiyeon sedih.

“Ah Jiyi, maafkan Hani. Mungkin dia memang sedang membutuhkan kesunyian untuk berfikir.”

“Ne Oppa.”

“Ah lalu setelah ini kau akan bagaimana?” tanya Chanyeol.

“Bagaimana?” Ucap Jiyeon tak mengerti.

“Setelah kau lulus?” Ucap Chanyeol menjelaskan.

“Ah hem, tapi sebelumnya oppa jangan tertawa ya.” Ucap Jiyeon takut-takut antara malu dan senang.

“Ne, Ah kau membuatku semakin penasaran.” Jujur Chanyeol.

“Ehm modeling ah semacam artis, Oppa aku direkrut menjadi seorang artis.” Ucap Jiyeon bangga.

“Ne?” Chanyeol terkejut, bertanya lebih memastikan seolah –olah hal itu terasa aneh dan asing.

“Yah Oppa kenapa tanggapannya seperti itu? Oppa tidak percaya adiknya bisa menjadi artis terkenal.Ah Oppa tidak pernah melihat majalah Teen? Aku ada di situ.” Ucap JIyeon menjelaskan panjang lebar.

“Jinjayo?”

“Oppaaaaaa.” Jiyeon sedikit kecewa.

“Hahahahahahaha, mianne.Oppa tidak pernah melihat majalah.” Chanyeol tersenyum kikuk.

“Ah Oppa. Kau membuatku kecewa.” Jiyeon berpura-pura marah.

“Jiyi-ah.”

“HEHEHEHEHEHEHE. Iya Oppa aku hanya bercanda. Itu memang bukan majalah terkenal tapi pasti aku Jiyeon Park akan menjadi aktris terkenal dan Oppa harus menjadi sasaaengfansku.” Ucap Jiyeon bangga.

“Tentu.” Chanyeol tersenyum.

“Ah hem dan Oppa mungkin dalam kurung dari satu minggu ini aku akan pindah ke Seoul. Jadi Oppa aku minta maaf karena mungkin tak bisa menjaga Hani.” Ucap Jiyeon sedih.

“Iya, Oppa akan menjaga Hani dan rumah ini, jika kau kembali maka ini adalah sarangmu.” Chanyeol mengusap kepala Jiyeon.

“Gomawo.”

“Maaf, eomma meninggalkan kalian. Jujur eomma tidak bisa tinggal di desa seperti ini, eomma membutuhkan Kim Rian disisi eomma.” Taehe meminta maaf dan mengatakan sejujurnya alasan mengapa ia tak bisa tinggal di rumah ini.

“Jadi itu semua alasanmu?” Tanya Hani tak suka.

“Hani-chan, miaane.”

“Eomma kau lebih mementingkan pacar eomma dari pada anak eomma?” Hani memprotes alasan Taehe.

“Hani.” Jiyeon dan Chanyeol berusaha menahan amarah Hani.

“Maaf Hani, eomma hanya tidak bisa untuk tinggal tanpa Rian, bukan berarti eomma tidak menyayangi kalian. Miaane.” Taehe tahu jika alasannya itu terdengar konyol bagi Hani.

“Eomma ini bukan salah eomma, karena Jiyi mengerti jika mencintai dapat membuat kita bertindak bodoh. Hani maafkan eomma ne?” Jiyeon berusaha mencari sedikit pengampunan dalam diri Hani untuk eommanya.

“Hani, Jiyi benar. Maaf kan eomma ne? setidaknya eomma sudah mau kembali dan menjelaskan alasannya. Walau itu menyakitkan tapi bukankah itu lebih adil. Eomma atau kau nantinya tidak terluka.” Chanyeol pun juga membantu Jiyi dan eommanya.

“Hiks-hiks hiks.” Hani tiba- tiba menangis.

“Hani.”

“Aku – aku bingung, aku marah mengapa eomma begitu menyukai lelaki itu dari pada Hani. Eomma tahu setiap tahun di hari ulang tahunku aku berdoa jika eomma akan datang dan tinggal bersama kami. Tapi nyatanya eomma  hanya tinggal sebentar dan pergi. Eomma aku sedih aku kecewa dan tentu aku marah.” Hani meluapkan semua kekesalannya.

“Miaanne Hani.” Taehe memeluk tubuh mungil Hani yang bergetar, berusaha meredam tangisnya.

“Jadi ini harinya?” Tanya Taehe kepada Jiyeon saat Jiyeon mengemasi barang-barangnya untuk pindah ke Seoul.

“ Ne eomma. Hem eomma seharusnya tak perlu kemari untuk membantuku berkemas. Aku kan juga sudah disediakan transport dan jasa angkut dari pihak management artis.” Ucap Jiyeon merasa tidak enak merepotkan eommanya.

“Ah kau ini, eomma sengaja sekalian menjemput Hani yang akan melihat-lihat SMA barunya di Seoul.”

“Baiklah-baiklah.” Jiyeon tersenyum.

“Ji lalu bagaimana dengan Chanyeol Oppa?”

“Ne?” Jiyeon tak mengerti.

“Kau dan Chanyeol bagaimana kelanjutan hubungan kalian?”

“Maksud eomma?” Jiyeon tersenyum misterius, ia sudah tahu dimana arah pembicaraan ini.

“Kau menyukai Chanyeol kan? Lalu mengapa kalian tidak bersama?” Taehe menyarankan seraya melipat baju-baju dan memasukkannya ke dalam koper.

“Eomma, tidak bukan seperti itu. Kau tahu jika kami memang bersaudara dan itu akan selamanya. Eomma aku begitu menyukainya sampai di titik di mana aku tidak bisa mencintai orang lain. Tapi jika aku menuruti rasa keegoisanku ini, nanti pasti akan membuat keluarga ini hancur dan menderita.” Terang Jiyeon.

“Kau ini bicara apa? Keluarga ini  tetap  akan berdiri sebagai mana mestinya. Jiyi pikirkan kebahagiaanmu pula, kau tahu eomma bisa melihatnya jika kalian saling menyukai. Kau tahu itu bukan? Hanya saja Chanyeol memang harus di sadarkan dan kau yang harus menyadarkan dia.” Taehe menolak alasan Jiyeon.

“Eomma, sudahlah. Sudah aku tidak sedang ingin membahasnya.” Jiyeon bersikeras.

“Baiklah tapi ini semua tergantung kalian, kalian yang memutuskan bukan kami bukan keluarga ini. Ji ingat keluarga ini tetap akan utuh sebagaimana mestinya.” Ucap Taehe seraya tersenyum.

“Ne eomma.”

“Eonni, mobilnya sudah datang.” Hani masuk ke kamar JIyeon.

“Ah nde.” Jiyeon bergegas mengepacki barang dan mengambil koper-kopernya untuk di bawa ke dalam mobil box.

“Eonni tidak menunggu oppa?” Tanya Hani bingung.

“Tidak, eonni harus segera pergi.” Ucap Jiyeon tersenyum.

“Yah eonni kenapa begitu, eonni nanti akan sibuk setelah ini dan pasti jarang ke mari.” Hani protes.

“Kau ini, kau juga kan sebulan lagi akan pergi ke Seoul melanjutkan sekolah.”

“Ne, ah tapi eonni benar tidak mau menunggu Oppa?” Hani  masih saja mengajukan protes.

“Tidak Hani. Hem sampaikan salam eonni saja ya. Bye Hani-chan, eomma bye.” Jiyeon memberi sign cium jauh.

“Bye –bye eonni.”

“Dah sayang. Ingat pesan eomma yak au yang menentukan apa jalanmu.” Ucap Taehe memberi nasihat.

Jiyeon hanya tersenyum.

Di dalam mobil ia masih saja berfikir nasihat eommanya……

 “Kau ini bicara apa? Keluarga ini  tetap  akan berdiri sebagai mana mestinya. Jiyi pikirkan kebahagiaanmu pula, kau tahu eomma bisa melihatnya jika kalian saling menyukai. Kau tahu itu bukan? Hanya saja Chanyeol memang harus di sadarkan dan kau yang harus menyadarkan dia.”

Baiklah tapi ini semua tergantung kalian, kalian yang memutuskan bukan kami bukan keluarga ini. Ji ingat keluarga ini tetap akan utuh sebagaimana mestinya.” Ucap Taehe seraya tersenyum.

Jadi sampai di sini saja ya? Oppa aku benar-benar mencintai mu aku akan selalu mencintaimu. Batin Jiyeon sedih.

Tapi benar sampai di sini? Jiyeon masih tidak rela.

“Ah asisten Nim bisakah kita mampir sebentar.” Ucap Jiyeon begitu saja, ia berfikir akan sesuatu.

Sementara itu seseorang terlihat melamun di dekat pantai, ia memandang kosong pantai itu.

“Ah hem ah hem.” Ia mendesah bergumam beberapa kali.

Seharusnya, aku tidak sepengecut ini? Seharusnya aku bisa jujur dengan perasaanku? Seharunya aku………….

“Aku tidak mengerti mengapa mencintai itu dapat membuat orang menjadi gila.” Gumam Chanyeol.

“APPA MAAFKAN AKU , AKU TIDAK BISA MENEPATI JANJIKU”

“JIYI AH JIYI AH, JIYIKU JIYIKU.” Chanyeol tiba-tiba berteriak.

“MIANNNEEEEE SEHARUSNYA AKU BISA JUJUR PADAMU”

“JIYIKU , AKU ……………….”

“Aku?” seseorang memotong ucapan Chanyeol. Dan itu membuat Chanyeol memandang seseorang itu dengan sangat senang-haru-sedih ah yang jelas sangat sulit untuk diungkapkan. Chanyeol pun tiba-tiba memeluk yeoja itu, Jiyi.

“Oppa, aku apa?” Jiyeon menuntut kalimat itu.

“Kau, huh. Baiklah, aku ah salah  Oppa benar-benar menyukaimu –mencintaimu- menyayangimu. Jiyiku maaf aku……”

“CUP.” Jiyeon mencium bibir chanyeol.

“Kau?” Chanyeol specchless, bagaimana mungkin Jiyeon seberani ini?

“Hahahahaha, Oppa aku tahu aku hanya ingin memastikannya. Oppa kau sudah menerimaku kan. Maksudku bukan sebagai yeodongsaeng tapi sebagai kekasih?” Jiyi memastikan.

“CUP.”

“Oppa.” Jiyeon memprotes, ini bukan jawaban yang ia inginkan.

“Apa?” Chanyeol menggoda Jiyeon.

“Oppa jangan begitu aku sudah tidak ada waktu lagi, aku harus segera pergi.” Jiyeon menjelaskan.

“Baiklah.” Chanyeol memegang tangan Jiyeon.

“Jiyeon-Jiyiku, aku mencintaimu kau mulai saat ini menjadi kekasih Park Chanyeol dengan kemungkinan menikah dikemudian hari.”

“Ne.”

Dan mereka tertawa……………

Yakin udah end????????

5 tahun kemudian……………

“Hani-chan apa maksudmu? Kau tidak bisa pulang? Yak bocah ini. Kau tahu minggu depan adalah hari special, Chanyeol Oppa ulang tahun.” Jiyeon memprotes alasan Hani yang tidak bisa pulang berkumpul bersama membuat beberapa orang melihat ke arahnya terutama managernya. Ia benar-benar geleng-geleng kepala, dan tentu membuat managernya harus meminta maaf atas perlakuan Jiyeon.

“Ah eonni tidak tahu anak muda saja, eonni aku sudah beli tiket EXO . Sayang kan jika harus aku anggurkan. Lagipula eomma sedang honeymoon dengan appa. Dan hemmmm kami sengaja agar kau dan oppa berduaan.” Hani tertawa di seberang telefon.

“Yak apa maksudmu?” Jiyeon bertanya.

“HEHEHEHE, dasar eonni maksudku malam pertama. Eonni sudah dulu ya aku harus pergi kuliah, byeee eonni selamat bersenang-senang.pip”

“Yak, bocah ini.” Jiyeon kesal bukan main.

“Ji.”

“Hehehehehee, mianne.” Ucap Jyeon seraya menunduk kepada crew drama yang ia bintangi.

“Oppa.” Jiyeon memeluk Chanyeol dari belakang.

“Ne?” Tanya Chanyeol yang masih saja tak melepas pandangan mata nya dari berkas-berkas yang ada di depannya.

“Oppa, kau sedang sibuk ya? Hem dari tadi kau menatap berkas-berkas itu dengan serius, kau mendiamkanku.” Ucap Jiyeon sedih.

“Jiyi-ah sabar ne? Oppa sedang menyelesaikan berkas-berkas ini.” Ucap Chanyeol jujur.

“Ah untuk apa , oppa begitu ingin menyelesaikan semuanya dengan tergesa-gesa?” Tanya Jiyeon bingung.

“Ah Jiyiku dengar.” Chanyeol memandang JIyeon lekat dan menggenggam tangannya.

“Ne?”

“Jadi oppa ingin segera menyelesaikan semua ini agar Oppa bisa meninggalkan semua pekerjaan di sini dan memulai hidup baru di Seoul.” Ucap Chanyeol.

“Eh? Maksud Oppa? Lalu bagaimana dengan rumah dan bisnis appa di sini?” Jiyeon tak mengerti dengan keputusan Chanyeol.

“Ne, Oppa memang harus melepasnya. Lagipula oppa ingin nantinya kita semua tinggal bersama kau, Hani, eomma, rian dan oppa di Seoul. Rumah ini memang memiliki kenangan tapi kenangan hanya kenangan kita hanya perlu menyimpannya tetapi tidak untuk menjadi penghalang di masa depan ah maksud oppa adalah kebahagian kita.” Chanyeol menjelaskan panjang lebar.

“Lalu bisnis?”

“Oppa akan memulainya di Seoul, oppa memiliki kenalan di sana dan dia mau membantu Oppa.”

“Benarkah?” jiyeon bertanya senang.

“Ne. Maka dari itu Jiyi jangan mengganggu oppa, hush sana istirahat saja. Nanti jika sudah selesai oppa menyusul.” Usir Chanyeol begitu saja.

“Opppaaaaaa” Jiyeon protes dan meninggalkan Chanyeol begitu saja.

“Hehehehhee.” Chanyeol tertawa.

“Ah selesai. Apakah ia sudah tidur?” gumam Chanyeol pada dirinya sendiri. ia kemudian bergegas menuju ke kamarnya niatnya sih untuk merapikan leptop dan menyimpan berkas tapi ia melihat Jieon di dalam kamarnya.

“Ji?” Chanyeol melihat Jiyeon sudah tertidur di kamarnya? Kamar Chanyeol?

“Dasar, kau ini mengapa tidur di sini. Kau kan punya kamar sendiri.” Gumam Chanyeol. Seraya memposisikan tidur di samping Jiyeon dengan posisi menyamping kea rah Jiyeon. Posoisi mereka saling berhadapan saat ini.

“CUP” Tiba –tiba Jiyeon mencium Chanyeol.

“Ji?” Chanyeol terkejut.

“Kekekekekee, oppa kau jahat tadi mengusirku.”

“Jiyi, ini kan juga demi kau.” Ucap Chanyeol.

“Ne ne ne.” Jiyeon masih kesal.

“Baiklah jiyiku , oppa minta maaf ne?” Ucap Chanyeol memelas.

“Huh.” Jiyeon memposisikan badannya membelakangi Chanyeol.

“Dasar.” Ucap Chanyeol seraya memeluk Jiyeon dari belakang.

Ah apa ini saat nya? Batin keduanya.

“Ji bolehkah?” Ucap Chanyeol ragu.

“Apa?” Jiyeon pura-pura tidak mengerti. Ia melepas pelukan Chanyeol dan memandang Chanyeol lekat.

“CUP. CUP CUP CUP.”

Jiyeon mendesah saat Chanyeol mencium bibir dan dada Jiyeon.

“Oppa?” Erang Jiyeon.

“Jiyi-ah.” Ucap Chanyeol masih menciumi Jiyeon.

“Oppa, tunggu matikan lampunya.” Jiyeon menolak saat Chanyeol hendak melepaskan bra Jiyeon.

“Ji, kau ini.” Chanyeol masih berusaha membuka baju Jiyeon.

“Oppa.” Jiyeon memeluk dirinya sebagai pertanda menolak.

“Baiklah-baiklah.” Chanyeol mematikan lampu kamar mereka.

Dan yah dimulailah malam pertama mereka, malam pertama setelah 5 tahun mereka dipisahkan oleh jarak dan waktu.

Oppa terima kasih kau selalu di sisiku, kau adalah duniaku

                        Jiyeon to Chanyeol

Jiyi terima kasih kau sudah bersabar utnukku, kau adalah duniaku

Chanyeol to Jiyeon    

 

Yakin udah end???? Kekekekekeke mau lanjutan NC NYA??? ADUH TAPI AKU PW AJ YA GA ENAK NIH HEHEHEHE yang mau baca silahkan d lanjut minta pw ke no bbm gue 578d1008…… tpi kykny ga memuaskan….. ga bakal buat basah banget kok….jd klo mau baca dipikir dulu ya……

Oh ya ff lanjutan nc ada d wp pribadi sya “jiyeonfanfic”…..

 

 

And ada curhatan nih dri aku kekekekekee

 

 

Ini oneshoot pertama gueeee wah sumpah sulit banget ya bikin kayak ginian wkwkwkwkwkwkwkwk…. Mulai deh curhatnyaaaa…..hehehehehee

So komen and like ya….

Kalian adalaah sumber semangatku

Salam nadia 1….

 

Advertisements

10 thoughts on “[FF Freelance] MEMORIZE

  1. omo..keren ceritanya…chanyeol sama jiyeon saling mencintai

    Like

  2. keren banget nih ceritanya…
    tpi kalau mau minta pw kan nggak punya bbm eonni….

    Like

  3. Aih ini mah kamu senior atuh wkwkwk bagus ceritanya euy

    Like

  4. sehun bgimana lah tu holang nasibnya…

    Like

  5. Kerenn ceritanyaa ngena banget lhooo huhu:v
    Keep writing yaaa ^^

    Like

  6. Bagus. Tapi, kalau marganya sama, di korea tetep gaboleh pacaran dan sejenisnya, secetek pengetahuanku ^^
    Keep write, ne ^^

    Like

  7. buset .. bnyak bangettttt
    tapi aku suka .. cara author buat alur dy flashaback itu

    trus sisi dy bicara pd dirinya sndri .. err..
    pnulisanny aku suka thor.d tunggu lanjutan dr ff ini wkwkwk..

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s