Namitsutiti

[FF Freelance] Just One Day

Leave a comment


unnamed

Author : Indah Setya

Cast:
– Byun baekhyun
– Kim ji na (OC)
– Oh sehun

Support cast:
– Kim jongdae
– Huang zhi tao

Genre: Fantasy, sad, tragedy, little bit comedy

Lenght: one shoot

Happy reading ^^

~JUST ONE DAY~

Mesin elektrokardiograf terdengar mendominasi di ruangan serba putih itu. Ruangan itu tampak gelap, hampir tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Suara detak jarum jam seakan memburu, terus berbunyi seiring waktu berjalan.

“Jongdae-ssi”. Panggil seorang pria berdimple mengenakan jas putih. Jongdae menoleh.

“Nde?”

Jongdae mengerutkan dahi. “Dokter yixing, apa ada masalah dengan baekhyun? Kenapa dia tak kunjung sadar? Padahal sudah hampir 2 minggu”.

Pria berdimple, yang diyakini adalah seorang dokter itu tersenyum menampilkan dimple nya yang manis. “Dia meminum racun arsenik, racun itu menyerang syaraf, hingga membuat syarafnya mengalami gangguan. Keadaannya cukup memprihatinkan, tapi berharap saja ia cepat sadar dan racun itu dapat di netralisir dari tubuhnya”.

Jongdae mengangguk.

“Baiklah, kalau begitu aku permisi. Jika butuh bantuan, kau hubungi aku”. yixing membungkuk sopan dan berlalu dari hadapan jongdae.

Jongdae memasuki ruangan tersebut. Ia bersandar pada sandaran sofa, berniat memejamkan matanya sebentar. Beberapa hari ini, ia terus terjaga. Jongdae berniat melepas rasa lelahnya walaupun hanya sesaat.

Namun matanya harus terbuka secara paksa tatkala mendengar suara decitan pintu yang terbuka. Jongdae melihat bayangan hitam yang melintas di depannya, ia bersusah payah meneguk salivanya. Jongdae bangkit dan menyalakan saklar lampu, ia mendelik mengetahui siapa yang berada di ruangan itu.

“Mau apa kau ke sini?”. Jongdae berujar sinis seraya melipat ke dua tangannya di dada.

laki-laki bertubuh tinggi itu tersenyum miring. “Tidak, aku hanya ingin melihat saudaraku yang tengah sekarat. Mungkin saja hari ini adalah hari terakhirnya, jadi ku fikir aku harus mengucapkan selamat tinggal”.

Jongdae mengepalkan tangannya kuat-kuat. “Kau pasti berniat untuk mencelakainya kan?”.

“Aku hanya ingin membantunya untuk lebih mudah menemui kekasihnya itu”.

“KAU!!!! PERGI DARI SINI IBLIS!”. Jongdae menggeram kesal.

“Santai saja, aku kan hanya ingin membantu. Seharusnya kau berterimakasih. Dia yang menginginkan nya bukan?”. Laki-laki itu berujar setenang mungkin.

“Pergi, bodoh! Kau tuli hah?”. Pekik jongdae tertahan.

“Kau tidak tahu terimaksih sekali”.

“Kau yang tidak tahu terimakasih dan kau tidak tahu diri sehun!”. Jongdae mendengus kesal. “Kau masih mempunyai muka untuk datang ke sini huh?”. Lanjutnya lagi.

Sehun mendecih, ia berlalu meninggalkan ruangan itu. Ia menutup pintunya secara kasar hingga menimbulkan suara bedebum yang cukup keras.

Jongdae menghembuskan nafasnya berat. Ia berjengit mendengar suara lenguhan seseorang. Jongdae mendekat ke arah tempat tidur pasien. Disana sebuah raga yang terbujur, kini mulai bergerak secara perlahan. Kelopak matanya mengerjap-ngerjap, hingga akhirnya terbuka.

Jongdae hampir memekik, jika ia tidak ingat ini di rumah sakit. Jongdae memencet tombol untuk memanggil dokter.

Baekhyun terbatuk, ia memuntahkan cairan kental berwarna merah. Jongdae sedikit panik, ia memijit tengkuk baekhyun.

“Jongdae?”. Panggilnya lirih.

“Wae baekhyun-ah?”.

“Apa yang terjadi padaku?”. Tanya baekhyun seperti orang linglung.

Jongdae memicingkan matanya. “Kau tidak ingat sama sekali?”.

Baekhyun menelengkan kepalanya. “Apa?”.

Jongdae menggeleng. “Tidak”.

CKLEK

Jongdae dan baekhyun mengalihkan pandangannya pada orang yang memasuki ruangan.

“Annyeong haseyo, baekhyun-ssi. Aku akan memeriksa keadaanmu”. Ujar pria berjas putih seraya memasangkan stetoskop ke telinganya dan mulai mendengarkan denyut jantung baekhyun.

“Bagaimana keadaannya dokter?”. Tanya jongdae khawatir.

“Denyut jantungnya normal. Dia sudAh mengeluarkan racun itu, tapi kami harus memeriksa keadaannya di lab”. Jelas yixing, selaku dokter.

“Tapi, dia tidak mengingat apa yang di alaminya”. Suara jongdae semakin mengecil, mungkin jika yixing tidak menajamkan indra pendengarannya, ia tidak akan mendengar apa yang di ucapkan jongdae.

“Itu sebagai wujud trauma. Tenang saja, jika kondisinya sudah pulih, ingatannya akan kembali”.

“Arasseo, khansahamnida”. Ujar jongdae seraya membungkuk.

“Nde, aku permisi”. Ujar yixing.

“Aku mau pulang jongdae-a”. Rengek baekhyun.

“Kau belum sembuh baekhyun”.

“Bagaimana dengan ji na? Dia pasti merasa kesepian di rumah sendiri”. Baekhyun mengguncang-guncangkan tangan jongdae.

“Kau benar-benar tidak ingat sama sekali?”.

Baekhyun terdiam, tangannya bergetar. Ia melepas pegangan tangannya pada jongdae. Buliran kristal bening terus menggenangi pelupuk matanya.

Jongdae menepuk pelan pundak baekhyun. Ia membawa baekhyun ke dalam dekapannya.

Baekhyun meronta, ia melempar benda apa saja yang berada di dekatnya. Ia terus terisak dan memberontak.

“BAEKHYUN!”. Jongdae meninggikan suaranya. Setidaknya dapat membuat baekhyun berhenti meronta.

“Tenanglah”. Suara jongdae melemah.

“Kim ji na, kim ji na”. Baekhyun terus menggumamkan nama ji na.

“Baekhyun, jangan seperti ini”. Jongdae menenangkan baekhyun.

“Bawa ji na kemari, jongdae. Aku khawatir dengannya, aku ingin melihatnya”.

“Baekhyun, kau harus menerima jika ji na sudah tiada”.

“Tidak!! Kau bohong, ji na masih hidup. Dia pasti tengah duduk di balkon dengan memainkan boneka beruangnya”. Baekhyun memandang ke arah jendela.

Jongdae menghela nafas, ia tidak kuasa menahan tangisnya. Ia beranjak pergi.

“Tenangkan dirimu baekhyun”. Ujar jongdae dan menghilang di balik pintu.

~JUST ONE DAY~

2 hari setelah kepulangan baekhyun ke rumahnya. Laki-laki mungil itu terus mengurung diri di kamarnya. Terkadang, ia berputar-putar ke penjuru rumahnya dengan membawa foto ji na seraya memanggil nama gadis itu.

Jongdae tidak habis fikir dengan baekhyun. Entah sudah berapa kali ia mengatakan jika ji na sudah pergi. Baekhyun hanya menangis, mendekap erat foto ji na lalu berputar-putar dan memanggil nama ji na lagi. Terus seperti itu, jongdae sudah mulai geram dengan tingkah laku baekhyun yang seperti orang tidak waras.

“Ji na-a kau dimana eoh? Jangan keluar dari rumah ini. Di luar berbahaya ji na-a”. Baekhyun mengelilingi setiap sudut rumahnya.

Jongdae menghentikan pergerakan baekhyun. “Baekhyun, dengarkan aku. Ji na sudah meninggal, jangan mencarinya disini karena dia tidak ada disini”.

Baekhyun menangis, ia terus terisak. Ia menghempaskan tangan jongdae.

“Kim ji na”. Lirih baekhyun.

“Kau harus merelakannya pergi. Jika kau ingin melihat ji na, aku bisa mengantarmu”. Ujar jongdae meyakinkan.

Baekhyun tersenyum. “Benarkah ada ji na? Aku ingin melihatnya, aku merindukannya”.

Jongdae mengangguk dan tersenyum miris.

Selama perjalanan, baekhyun terus mengoceh tentang ji na. Jongdae hanya mendengarkan, ia jengah dengan ocehan baekhyun yang terus beranggapan ji na masih hidup.

Jongdae keluar dari mobilnya, membawa se-bucket bunga. Baekhyun terus mengernyitkan dahi.

Langkah mereka berhenti pada sebuah makam yang bertuliskan nama ji na. Kaki baekhyun melemas, ia terus menangis seraya memeluk sebuah nisan itu.

Jongdae menahan rasa sesaknya. Ia berusaha membendung buliran air mata yang mendesak ingin di keluarkan.

“Ji na, apa kau merasa kesepian disana hm? Aku akan menolongmu”. Baekhyun menggali tanah menggunakan tangannya.

Jongdae menahan tangan baekhyun. “Baekhyun, sadar. Biarkan dia tenang”.

Jongdae menarik tangan baekhyun untuk beranjak. Mereka pergi meninggalkan tempat itu.

“Jongdae”. Baekhyun memanggil jongdae dengan suara paraunya.

Jongdae hanya berdehem sebagai jawabannya.

“Cepat kemudikan mobilmu, kita harus segera sampai rumah. Kasihan ji na”.

Jongdae memberhentikan mobilnya mendadak, hingga menimbulkan suara decitan akibat gesekan antara ban dengan aspal.

“Demi apapun baek, kau gila? Apa kau tidak melihat makam ji na huh? Dia sudah meninggal baek, jangan seperti ini”. Jongdae menghela nafas. Ia sudah lelah dan bosan memperingati baekhyun.

Bola mata baekhyun terus bergerak, ia menggelengkan kepalanya lalu menangis.

“Baek, jangan seperti ini. Kemana baekhyun yang ceria? Lupakan ji na. Dia sudah tenang disana, aku yakin jika ji na tahu ia akan sedih”. Jongdae menepuk pundak baekhyun dan mengemudikan mobilnya lagi.

Setelah dari makam ji na, baekhyun terus mengurung diri di kamar ji na. Ia hanya diam membisu. Baekhyun memeluk boneka beruang dan foto ji na yang tengah tersenyum menggunakan dress berwarna putih selutut. Hari itu adalah hari ulang tahun ji na.

“Baek, makanlah dulu”. Jongdae membuka pintu kamar ji na.

Baekhyun bergeming di tempatnya, ia memunggungi jongdae. Ia memeluk dan mencium foto ji na.

Jongdae mendengus, ia menghampiri baekhyun lalu merebut foto ji na.

“Urus dirimu dulu baek”.

Baekhyun berusaha merebut foto ji na dari tangan jongdae. “Kembalikan ji na ku. Jangan menyakitinya jongdae-a”.

Jongdae memperlihatkan foto ji na pada baekhyun. “Tidakkah kau melihat dia hanya tersenyum? Apa kau melihat ekspresi lain disana? Dia tidak dapat bicara bukan? Jadi apa kau masih menganggap dia makhluk hidup? Aku tahu kau mengerti”.

Baekhyun menangis tersedu. Ia merebut foto ji na dari tangan jongdae.

“Kau tidak apa kan chagi? Jangan takut, ada aku disini”. Baekhyun memeluk erat foto ji na.

“Kau gila baek, kau gila”. Jongdae kehabisan kesabarannya. Ia mendorong bahu baekhyun dengan telunjuknya.

~JUST ONE DAY~

Hari itu, langit bersinar cerah. Cuaca yang bersahabat, bunga yang mekar indah dan angin yang bertiup lembut, menggambarkan betapa indahnya hidup.

Jika menangis adalah sebuah pertahanan hidup, mungkin baekhyun dapat hidup abadi. Entah berapa kali ia menangis dalam sehari, ia tak tahu, ia lupa atau bahkan tak mempedulikannya. Hal itu membuatnya seperti pecundang. Telah tercatat dibenaknya, ia tak peduli.

Yang ada dalam bayangannya dan memenuhi seluruh otaknya adalah ji na. Nama gadis itu terpatri dengan sangat kuat di fikirannya. Ia mencintai gadis itu, lebih dari apapun. Kalimat yang klise. Tapi itulah penggambarannya, mungkin jika ada kata lain selain cinta untuk mewakilinya, ia akan gunakan itu untuk mengungkapkannya.

Jongdae membaca koran, dengan kacamata yang melekat di matanya. Mirip dengan seorang pria berumur. Asap yang mengepul dari secangkir kopinya, ia mengangkat gelas tersebut lalu menyeruputnya perlahan.

Jongdae melirik seseorang yang berjalan melewatinya, pakaian yang tak beraturan, rambut yang tak di sisir, mata yang bengkak, wajah yang kacau, siapa yang akan menyangka dia adalah seorang presdir di perusahaan byun fashion. Sebuah perusahaan yang bergerak dibidang fashion, yang sudah tak di ragukan lagi produknya. Seluruh korea dan bahkan dunia tahu, perusahaan itu adalah perusahaan terbesar yang sangat menjanjikan untuk melakukan kerja sama.

Jongdae menggelengkan kepalanya dan melanjutkan membaca koran.

“Jongdae”. Suara parau yang familiar, menginterupsi aktivitas jongdae. Pria itu menengadah, ia memicingkan matanya.

“Aku lapar”. Rengek baekhyun.

Jongdae tertawa renyah. “Ah, ternyata kau punya ingatan untuk rasa lapar”.

Baekhyun memutar bola matanya, ia sudah tidak mempunyai cukup tenaga untuk hanya sekedar memukul jongdae. Jika ia tidak salah ingat, ia hanya makan satu kali dalam seminggu. Sebuah fakta yang mengejutkan, tapi baekhyun melupakan hal itu.

Jongdae datang membawa makanan untuk baekhyun, ia mengambil tempat duduk di sebrang baekhyun. Ia mendengus dan menyodorkan ponselnya.

“Sepertinya, sebentar lagi sehun akan mengambil alih posisimu baek”.

Baekhyun mengalihkan perhatiannya pada layar ponsel. Lalu ia bersikap tak acuh. Jongdae mendesah pelan.

“Biarkan anak itu mendapatkan apa yang ia inginkan”. Ujar baekhyun tak peduli.

Jongdae menganga tak percaya. Ia menggeleng tidak menyetujui ucapan baekhyun. Ia tak akan membiarkan iblis itu menang dan menari-nari diatas kemenangannya.

“Kau akan menyesal pada akhirnya”.

Baekhyun tak mempedulikan jongdae, menurutnya ucapan jongdae hanya sebuah cicitan burung yang tidak terlalu penting.

Jongdae menghela nafas, sebelum melanjutkan ucapannya. “Pertahankan apa yang telah kau perjuangkan baek, itu perusahan keluargamu, milikmu dan perjuanganmu. Tidak mudah untuk mendapatkannya bukan?”.

Ada jeda dalam ucapan jongdae. “Dia sudah mendapatkan lebih dari apapun, ini sudah melebihi ambang batas. Dia sudah keterlaluan. Jangan sampai keluarga byun hancur karena iblis itu”.

Baekhyun diam sejenak. Ia nampak berfikir. Hanya suara detak jarum jam yang terdengar. Baekhyun menunduk memandang kosong lantai, entah apa yang dia fikirkan. Tidak ada yang tahu.

Jongdae menyentuh bahu baekhyun. Pria bertubuh mungil itu menengadah, memandang lekat sosok jongdae di depannya.

“Jangan menjadi orang lemah hanya karena seorang gadis, kau laki-laki baek, maksudku kau seorang laki-laki jadi tidak boleh lemah seperti ini, seorang laki-laki harus tangguh, benar?”. Jongdae mengikuti gerak-gerik bola mata baekhyun yang bergerak cepat ke kanan dan kiri.

“Aku tahu, tapi aku tidak mau munafik. Aku tidak mempedulikan harga diri, aku hanya berusaha mengungkapkan rasa sedihku”. Bola mata baekhyun menatap lurus pada satu titik. Iris hitam, milik jongdae.

“Dengar, seorang pria terlihat buruk jika menangis. Apa yang kau dapatkan jika kau menangis? Apa bisa membuat ji na mu kembali? Jangan berkhayal”. Jongdae membuang muka. Mengalihkan pandangannya pada tembok bercat putih, entah sejak kapan menurutnya tembok terlihat menarik sekarang ini.

Jongdae menoleh, setelah merasa tak ada respon dari lawan bicaranya. “Teruskanlah hidupmu baek, kau punya kehidupan sendiri yang harus kau lanjutkan. Setidaknya tuhan masih memberimu kesempatan untuk hidup baek”.

Baekhyun tetap diam. Ia hanya memandangi jongdae berbicara. Tak berniat menanggapi.

“Takdirmu untuk hidup mungkin lebih besar dari keinginanmu untuk mati”.

Baekhyun mulai bergerak sedikit, mungkin ia akan memberi respon. Namun, terlihat dari sorot matanya ia terlihat ragu.

“Alasanku untuk hidup telah hilang. Lalu untuk apa aku hidup, jika tidak ada alasan?”.

Alasan?

Mungkin, terdengar konyol. Alasannya hidup adalah seorang gadis.

Seseorang hidup membutuhkan alasan.

Jongdae memicingkan matanya. “Alasanmu bodoh! Jangan bergantung pada gadis itu. Hidup adalah alasan kau bertahan. Setidaknya kau masih mendapat keberuntunganmu, kau bahkan masih bisa hidup walaupun kau meminum racun mematikan. Seharusnya kau sudah pergi ke neraka”.

Baekhyun mendesis. “Aku akan pergi ke surga menemui ji na”.

“Jika kau dapat bertemu”.

“Apa bedanya mati sekarang dengan nanti? Bukankah sama saja?”. Baekhyun menaikkan sebelah alisnya.

“Jelas berbeda bodoh! Jika sekarang kau telah menyalahi takdir, jika pada waktunya kau memang harus pergi, itu bukan salah siapapun. Hah, aku hidup dengan orang bodoh”. Jongdae memijit pelipisnya.

“Kau juga bodoh, karena memilih orang bodoh untuk menemanimu hidup. Tragis”.

Jongdae tersenyum kecil.

Bibir baekhyun melengkung ke bawah. “Aku bahkan hidup dengan sebuah derita seperti ini. Apa yang kau rasakan ketika kau terbangun ke esokan harinya dan di paksa untuk menelan kenyataan pahit? Takdir kepergian ji na, tidak tepat pada waktunya”. Mata baekhyun memerah, buliran air mata sudah menggenangi pelupuk matanya.

“Jangan menyalahkan takdir. Ini semua sudah tertera pada garis kehidupan dan kau harus melawan semua. Menelan hal pahit? Hanya akan berbekas beberapa saat, tapi akan hilang setelahnya”. Jongdae menyentuh bahu baekhyun. Pria mungil itu menepis ke dua tangan jongdae.

“Kau tidak mengerti jongdae, kau tidak mengerti apa yang aku rasakan. Kau tidak tahu rasanya kehilangan orang yang kau cintai”. Baekhyun mengalihkan pandangannya, kini cairan bening itu menetes.

“Kau hanya berbicara, itu saja mudah”. Bibir baekhyun bergetar.

Jongdae mendesah pelan. “Kau fikir aku tidak pernah merasakannya? Aku pernah mengalami keterpurukan. Kau bisa bangkit dari keterpurukanmu kecuali kau tidak mau bangkit, maka tetaplah meratapi nasibmu”.

Benar. Jongdae benar, ucapan jongdae tidak salah. Ia harus akui, bahwa jongdae dapat membuat hidupnya setidaknya kembali.

.
.
.
.
.
.

2 pasang kaki melangkah menapaki lantai gedung, sedikit tergesa dan berhenti di depan lift. Ke dua pria menggunakan setelan jas rapi itu segera memasuki lift yang terbuka.

Tidak ada pembicaraan, hanya keheningan yang memimpin suasana. Suara ketukan dari sepatu terdengar bergemeletuk, mengisi keheningan. Seorang pria bersurai coklat itu menoleh, melihat apa yang temannya lakukan. Ia sedikit menghela nafas, namun mengabaikannya.

Pintu lift terbuka, sejurus kemudian ke dua pria itu melangkah keluar. Mereka memasuki sebuah ruangan yang tertera ruangan presdir.

Pria bersurai coklat menghela nafas lalu meraih knop pintu dan membukanya. Ia terkejut melihat seseorang di dalam sana yang menyambutnya dengan senyuman. Senyuman palsu lebih tepatnya. Ia bahkan yakin di balik senyuman itu tersirat makna kebusukan.

“Hey, long time no see brother. How are you?”. Sapa pria itu dengan senyum palsu nya.

“Mau apa kau di ruangan baekhyun?”. Jongdae menatap tajam pria di depannya.

“Sebentar lagi, ini jadi ruanganku. Dan kau benalu, tunggu saja giliranmu”.

“Sudahlah sehun, jangan bermimpi untuk menggantikan posisiku”.

Sehun tersenyum tipis. “Kenapa tidak? Kau pecundang, jadi sudah sepantasnya aku menyingkirkanmu”.

Baekhyun muak dengan sehun, ia mengepalkan tangannya kuat. Ia berusaha untuk meredam amarahnya. “Iblis seperti mu tidak cocok berada disini, tempatmu di neraka”.

Sehun tertawa lalu memasang poker facenya. “Sayangnya iblis sepertiku selalu menang”.

“Pergi sana ke neraka”. Baekhyun geram, ia mencengkram kerah sehun. Ia menunjuk wajah sehun menggunakan jari telunjuknya. “Aku tahu, kau berbuat sesuatu yang buruk pada ji na kan? Dan kau telah merencakan ini semua kan?”.

Sehun tersenyum miring. “Menurutmu?”.

“Sudah ku duga, kau BRENGSEK oh sehun”.

Suara decitan pintu menginterupsi ketegangan yang ada. Baekhyun segera melepas cengkramannya. Sehun merapikan jas nya lalu membungkuk sopan pada ayah tirinya.

“Ada apa ini?”.

Baekhyun membuang muka dan mendengus.

“Tidak ada yang terjadi appa, baekhyun hyung terlalu merindukan aku, jadi dia terlalu erat memelukku. Hingga aku hampir mati tercekik hahaha”. Sehun merangkul bahu baekhyun. Pria itu melepaskan rangkulan sehun.

“Memang seharusnya kau mati”. Baekhyun bergumam pelan, sehingga tidak ada yang mendengar kecuali tuhan, dirinya dan sehun.

“Baiklah, baekhyun. Appa ingin bicara serius padamu”.

Baekhyun menoleh, menatap seksama appa nya.

“Posisi mu akan di gantikan sehun”.

Baekhyun menganga, sedangkan sehun tersenyum puas.

“Yang benar saja, appa akan memberikan posisiku padanya? Yaa! Aku anak appa! Aku tidak mau”. Baekhyun menggeram kesal.

“Baiklah, appa memberikan satu kesempatan padamu. Jika kau bekerja dengan baik selama 3 hari, maka appa tidak akan mengganti posisimu. Tapi jika kau tidak bekerja dengan baik, maka relakan posisimu pada sehun”.

“Dan ketika posisiku jatuh pada tangan sehun, maka appa tinggal menunggu kehancuran. Dia iblis tak berguna”. Rahang baekhyun mengeras, ia mengepalkan tangannya. Menghambat emosinya yang meluap-luap.

“Apa yang kau bicarakan baekhyun?!”. Appa baekhyun meninggikan suaranya.

“Tidak, sudahlah. Aku akan lakukan yang terbaik”. Bekhyun berdecak sebal.

Appa baekhyun berlalu meninggalkan ruangan.

“Kenapa orang sepertimu harus ada di dunia ini? Kenapa?”. Baekhyun menatap lurus ke depan, enggan menatap sehun.

Sehun mendekati baekhyun dan berbisik. “Aku? Tentu, untuk menghancurkan mu byun baekhyun”.

Baekhyun melihat senyuman licik pada wajah sehun. Ia ingin sekali mendaratkan pukulannya pada wajah sehun, namun ia malas ber-urusan dengan appa nya yang akan marah ketika anak kesayangannya mendapatkan luka lebam. Ia tidak habis fikir dengan appa nya, ia bahkan lebih menyayangi anak tiri nya ketimbang anak kandungnya.

~JUST ONE DAY~

Suara cicitan burung membuka pagi ini, kehangatan sinar mentari menyentuh kulit setiap insan yang terdapat di bumi. Cuaca pagi ini terlihat cerah, tidak seperti biasanya. Setiap penduduk korea terlihat bersemangat dan bahagia pagi ini. Kecuali, seorang pria yang tengah berbaring di zona nyamannya.

Pria itu meregangkan tubuhnya, ia memandang keluar jendela. Kemudian menghela nafas.

“Aku selalu melihat bayanganmu ketika aku tidak bisa tidur. Dan ketika aku terbangun ke esokan harinya aku harus menjalani hari yang panjang dan menyebalkan”.

Suara knop pintu mengusik indra pendengaran baekhyun. Ia menoleh, berharap melihat gadis nya. Ia memberengut tatkala harapan itu hanyalah angan-angan kosong. Mustahil bukan jika seorang yang sudah meninggal dapat hidup kembali? Ini bukan sebuah dunia khayalan dimana kau dapat bertindak sesuka hatimu. Dimana apapun yang tidak mungkin dapat menjadi mungkin.

“Kau berfikir jika aku adalah ji na?”. Jongdae menyeringai.

Baekhyun melengos. “Aku hanya berharap”.

Jongdae mendekat ke arah nakas dan meletakkan nampan di atasnya. Kemudian ia berbalik untuk keluar dari kamar baekhyun. Ia berhenti di ambang pintu lalu memutar tubuhnya.

“Jangan banyak berkhayal, jika nanti khayalanmu di luar kemampuan otak mu, syarafmu akan terganggu. Kau bisa gila”. Jongdae menutup pintu setelah berbicara.

Baekhyun beranjak dari ranjangnya, ia bergegas untuk membersihkan dirinya. Tanpa ji na di sisinya, tidak membuat baekhyun bersemangat. Ia berfikir ji na adalah sebagian hidupnya, pria itu sudah kehilangan setengahnya.

“Apakah hari ini ada rapat?”. Ujar baekhyun setelah memasuki mobil dan memasang sabuk pengamannya.

“Ya, hari ini ada rapat dengan klien penting dari jepang. Kau harus melakukan yang terbaik, agar posisimu itu tidak jatuh pada si iblis itu”. Ujar jongdae menatap lurus ke depan, melajukan mobilnya.

Baekhyun hanya mengangguk lalu menatap ke luar. Ia mengalihkan pandangannya pada langit yang terlihat cerah.

“Aku merindukan suaramu, aku merindukan tawamu, aku merindukanmu”.

Jongdae menatap baekhyun dari ekor matanya. “Lihatlah baek, bahkan matahari saja seakan mengejek kesedihanmu”.

Baekhyun menghembuskan nafas berat. “Ya, i don’t care”.

.
.
.
.
.
.

Baekhyun menopang dagunya menggunakan tangan kananya. Suara pria paruh baya di depannya bahkan tak di hiraukan. Bayangan ji na selalu berputar di otaknya. Ia tidak bisa lepas dari gadis itu.

Jongdae sudah memperingati baekhyun, dengan menyikutnya. Namun baekhyun seakan tak peduli.

“Bagaimana presdir ?”. Suara serak pria paruh baya itu.

Jongdae menyikut lengan baekhyun.

“Presdir?”.

Baekhyun menengadah dan menatap pria paruh baya itu dengan tatapan linglung.

“Bagaimana presentasi tadi? Apakah kau setuju dengan kerjasama ini?”.

Baekhyun terlihat gagap, ia bahkan tak mendengar apapun cuap-cuap pria paruh baya itu. Ia menatap jongdae meminta bantuan. Namun tatapan mengintimidasi dari pria paruh baya itu membuat nyalinya ciut.

“Eum.. ya… ya.. bagus. Produk itu ya, pasti akan laku di pasaran”. Baekhyun tergagap, ia menyentuh tengkuknya menatap pria paruh baya itu tengah bersidekap. Membuat keringat dinginnya bercucuran.

“Produk kecantikan yang bagus”.

Pria paruh baya itu mengernyit. “Menurutmu itu produk kecantikan?”.

Baekhyun mengangguk ragu.

“Kau tidak menghargaiku”. Pria paruh baya itu menekankan kalimatnya. “Kau tidak menghargaiku dengan tidak mendengarku. Aku tidak mau melanjutkan kerjasama ini”.

Sehun menyeringai di sebrang sana, membuat baekhyun ingin memukulnya sekarang. Ia berbisik pada jongdae. “Memangnya apa produknya?”.

“Baju musim semi. Cepat, meminta maaf padanya. Dan buat dia kembali”.

Baekhyun segera bangkit dan menghadang klien dari negeri sakura itu.

“Tolong maafkan aku. Ke depannya aku akan melakukan yang terbaik, tolong jangan memutuskan hubungan kerjasama kita”. Baekhyun membungkuk beberapa kali. Namun tak di hiraukan pria paruh baya itu. Jika baekhyun tidak mengingat ayahnya, mungkin ia sudah membiarkan klien itu terlepas begitu saja.

“Tolong maafkan dia Mr. Yah, saudaraku itu mempunyai beban difikirannya”. Sebuah suara menginterupsi.

Itu terdengar menggelitik di telinga baekhyun.

Pria paruh baya itu mengangguk mengerti. “Baiklah, aku memaafkanmu. Jika kau melakukan hal itu lagi, aku akan mencabut saham dan memutuskan hubungan kerjasama”.

Baekhyun membungkuk sopan. Ia bergeming di tempatnya, walaupun kliennya sudah menjauh dari pandangannya.

“Kau gagal satu hari baek”. Ujar appa nya yang muncul di belakangnya.

“Appa”. Lirih baekhyun.

Appa baekhyun berlalu dari hadapan baekhyun, yang di ikuti oleh sehun yang tengah melemparkan tatapan mengejek padanya.

Malam yang dingin, di lewati dengan rasa hampa oleh baekhyun. Ia duduk di balkon kamarnya, ia menengadah ke langit. Matanya menangkap siluet cahaya berkilat di langit sana.

“Satu hari saja, aku ingin bersama ji na. Hanya satu hari, beri aku kesempatan satu hari”.

Baekhyun menghela nafas, ia beringsut berdiri karena udara dingin yang menusuk tulangnya.

“Kau ingin satu hari bukan?”. Ujar suara asing di belakang baekhyun.

“Kau siapa?”.

“Oh, benar. Perkenalkan, namaku huang zhi tao. Pengendali waktu”.

Baekhyun mengernyit. “Lelucon konyol macam apa itu?”.

Tao melotot. “Kau meragukanku? Ah, sudahlah kau ingin satu hari kan bersama gadis mu itu?”.

Baekhyun mengangguk.

“Hmm… baiklah. Satu hari, manfaatkan dengan baik”.

Pria aneh, yang mengaku bernama tao itu menghilang dalam sekejap. Baekhyun mengedikkan bahunya dan berbaring di ranjangnya, berusaha memejamkan mata dan terlelap dalam tidurnya yang damai.

~JUST ONE DAY~

Pagi itu, di kediaman byun baekhyun terlihat damai. Meskipun, suasana yang sarat akan kesedihan masih melingkupi kediamannya.

Kelopak mata baekhyun mengerjap perlahan kemudian terbuka. Baekhyun berjengit menatap seorang gadis di hadapannya. Gadis itu mengulum senyum manisnya.

“Kim ji na”. Gumam baekhyun, mungkin yang dikatakan jongdae beberapa minggu yang lalu benar, bahwa baekhyun sudah gila sekarang.

“Selamat pagi baekkie”. Ujarnya lembut di telinga baekhyun.

Pria itu menyentuh pipi ji na menguji keasliannya. Mungkin saja itu hanya sebuah manekin yang ia anggap hidup atau hanya sebuah ilusi.

“Ini aku, ji na”.

“Ba-bagaimana kau bisa hidup?”. Baekhyun tergugu.

“Kau meminta satu kesempatan, untuk bersamaku satu hari pada si pengendali waktu, baek”. Ji na menatap teduh baekhyun.

Baekhyun berhambur memeluk erat ji na. Buliran kristal bening menetes membasahi bahu ji na. Gadis itu tersenyum seraya mengusap kepala baekhyun.

“Aku merindukanmu, ku mohon jangan tinggalkan aku”.

Jina menepuk pelan punggung baekhyun. “Tapi, takdir sudah di gariskan baek. Kau harus menerimanya”.

Baekhyun menatap ji na. “Apa aku harus menunggu bintang jatuh untuk berharap atau menemui tao itu?”.

Ji na menggeleng pelan. “Tidak perlu. Hiduplah dengan bahagia ke depannya”.

Baekhyun mengangguk. Ia menggenggam erat tangan ji na, seakan gadis itu dapat pergi begitu saja dari hadapannya.

“Aku hanya mempunyai kesempatan satu hari kan? Aku tidak akan melewatkannya. Satu hari ini, kita harus selalu bersama”. Ujar baekhyun dengan menatap sendu gadisnya.

CKLEK

Suara knop pintu menginterupsi mereka. Ke dua sejoli itu terpaksa harus mengalihkan pandangan pada seseorang yang telah mengganggu mereka.

“Miane”. Ujar jongdae dengan senyum konyol.

Baekhyun menghela nafas. “Apa yang kau lakukan disana?”.

Jongdae menggaruk tengkuknya. Ia terlihat salah tingkah. “Eum… aku hanya ingin mengatakan bahwa kau baek, akan diadakan meeting hari ini”.

Baekhyun mendengus lalu menggeleng cepat. Ini kesempatan terakhirnya untuk bersama gadisnya. Tentu, ia tidak akan melewatkan kesempatan ini.

Ji na mengerti keadaan baekhyun saat ini, ia menggenggam tangan baekhyun untuk menguatkannya. “Baek, pergilah. Kau jangan egois”.

Baekhyun mendongak menatap nanar ji na. “Apa? Egois katamu? Kau akan pergi, ini kesempatanku. Tentu saja aku hanya memilih bersamamu”. Baekhyun memekik.

“Pergi? Memangnya ji na akan pergi kemana?”. Tanya jongdae lebih tepatnya pada dirinya sendiri. Karena tidak ada satupun yang mempedulikan keberadaan laki-laki itu saat ini.

“Ehm… baek, kau tetap harus meeting. Kau tahu kan, appamu sangat menyayangi sehun? Jadi, jika kau tidak ikut meeting. Ku rasa appamu akan memberikan perusahaanmu pada iblis itu”.

Baekhyun hanya diam membisu. Menatap kosong lantai.

Nasehat jongdae terabaikan.

Sejauh ini dari 1000 nasehat jongdae, mungkin hanya 1 yang di indahkan oleh baekhyun.

“Aku tidak peduli dengan iblis itu. Biarkan dia melakukan apa yang di sukainya”. Baekhyun berbicara pelan, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga memperlihatkan kuku nya yang memutih.

There is 1000 angel and also one devil, but why he is in power and always win?.

Baekhyun semakin menundukkan kepalanya. “Kenapa ? Kenapa iblis itu harus selalu menang dariku?”.

Ji na menggenggam erat tangan baekhyun seraya tersenyum lembut. “Aku percaya, iblis itu akan kalah pada akhirnya”.

Baekhyun tersenyum hingga matanya ikut tersenyum.

In the end, the devil will lost right?.

“Sekarang, kau mandi dan aku memasak untuk mu”.

Baekhyun mengangguk patuh dan berjalan menuju kamar mandi.

.
.
.
.
.
.

Ji na sibuk memasukkan sayuran ke dalam panci. Ia merasakan seseorang menarik tangannya. Dahi ji na berkerut, memandang sosok imut di hadapannya. Baekhyun menatap datar ji na lalu mematikan kompor itu. Ia menarik ji na untuk keluar dari rumahnya.

“Baek, apa kau tidak lapar?”.

Baekhyun membukakan pintu mobilnya dan menyuruh ji na untuk masuk. “Aku tidak mau membuang waktu ku untuk menunggumu memasak atau hanya sekedar mengisi perut. Aku tidak akan mati hanya karena menahan rasa lapar untuk satu hari bukan?”. Baekhyun menatap lurus ke depan dan menjalankan mobilnya.

Ji na menghela nafas. “Tapi kau bisa sakit”.

Baekhyun memberhentikan mobilnya di perempatan jalan. Ia menatap tajam ji na. “Menurutmu, aku tidak sakit selama ini? Kau pergi meninggalkanku, menurutmu aku tidak sakit huh? Sakit biasa tidak sebanding dengan rasa sakit karena kehilanganmu”.

Ji na bergerak gelisah. “Baek, pinggirkan mobilmu. Ada truk besar yang melaju baek. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengannmu”.

Baekhyun mengalihkan pandangannya. “Biarkan aku bersamamu ji na-a”.

Ji na menggeleng seraya mengusap pipi kanan baekhyun lembut. “Jika kau berakhir sekarang, maka satu hari akan berakhir dan seorang iblis akan tersenyum penuh kemenangan”.

Tatapan baekhyun melembut, ia melihat sebuah truk yang berjarak beberapa meter dari mobilnya. Baekhyun segera menginjak gasnya dengan cepat. Mereka dapat terhindar dari kecelakaan maut itu. Jantung mereka terdengar cepat.

Baekhyun memandang ji na lalu tersenyum. Sejurus kemudian, ia memeluk erat ji na.

JUST ONE DAY

If only I had just one day, i want to peacefully fall asleep intoxicated with your sweet scent. If there’s a chance in my busy schedule, I want to put my body in your warm and deep eyes.

Baekhyun menyandarkan kepalanya di bahu ji na. Mencium aroma tubuh ji na yang khas. Ia memejamkan matanya.

Baekhyun merindukan aroma tubuh ji na yang menguar memasuki indra penciumannya, itu sangat memabukkan untuk baekhyun.

“Jika aku dapat menukar 1 kehidupanku dengan satu hari bersamamu, aku akan menukarnya ji na”.

Ji na mengelus kepala baekhyun perlahan. “Kau tidak perlu menukarnya baek, karena kau sudah mempunyai kesempatan satu hari”.

Baekhyun menatap nanar ji na. “Tidakkah aku salah? Aku tahu ini salah, tidak seharusnya aku meminta waktu untuk bersamamu. Tapi, aku ingin bersamamu. Aku hanya mempunyai satu hari, aku ingin mengatakan aku sangat merindukanmu”. Baekhyun memeluk ji na. Ia menangis di pelukan hangat gadis itu.

Ji na hanya tersenyum lalu mengusap punggung baekhyun. “Sangat baek, aku sangat merindukanmu”.

Ddrrrrtttzzzzz

From: Jongdae
Kau dimana pabbo? Sudah ku katakan bahwa kau harus datang meeting hari ini. Ini penting pabbo!

Baekhyun menatap malas layar ponselnya. Ia merutuk dalam hatinya.

“Tidak apa-apa baek, kita pulang sekarang. Dan kau dapat menangkap iblis itu”.

Baekhyun menoleh dengan tatapan bingung. “Apa maksud ucapanmu?”.

.
.
.
.
.
.

Baekhyun mengetukkan jemarinya di atas meja. Ia terlihat gusar di tempatnya, bahkan suara appanya tidak ia dengarkan. Ia melihat arlojinya yang menunjukkan pukul 12.30.

“Kembalilah pada pukul 13.00 baek, kau akan tahu kebenarannya”.

Ucapan ji na terngiang di otak baekhyun. Tanpa sepatah katapun, ia pergi meninggalkan ruangan. Ia tidak menghiraukan pekikan keras dari appanya.

Jongdae mengerutkan keningnya dan menatap layar ponsel.

Baekhyun berlari keluar kantor byun fashion dan terus berlari mengabaikan tatapan aneh dari orang sekitarnya. Baekhyun memasuki mobil silvernya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menerobos ramainya jalanan seoul siang itu.

Suara decitan ban yang bergesekan dengan aspal sangat memekakkan telinga. Baekhyun terpaksa harus mengerem mendadak mobilnya.

“Sial, lampu merah. Ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar”. Gerutunya seraya mengumpat pada lampu lalu lintas.

Ketika lampu lalu lintas yang tadinya berwarna merah itu berubah menjadi warna hijau, baekhyun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimum.

Mobil yang di kemudikan baekhyun kini telah terparkir manis di halaman rumahnya. Ia segera berlari memasuki rumah megah itu. Baekhyun mendengar suara ji na dari lantai atas. Ia segera berlari menapaki anak tangga satu persatu hingga sampai di depan pintu kamar ji na. Ia meraih knop pintu kamarnya dan tertegun mendengar suara sehun di dalam. Ia mendobrak pintu itu.

BRAK

“BRENGSEK! Apa yang kau lakukan pada ji na iblis?”. Baekhyun mengumpat.

Sehun tersenyum mengejek. “Hanya sedikit bermain dengan gadismu”.

Baekhyun menggeram dan melayangkan pukulannya ke pipi mulus sehun. “Apa yang kau inginkan huh?”.

Sehun tertawa remeh seraya mengusap bercak darah di sudut bibirnya. “Menghancurkanmu”.

“Kita lihat siapa yang akan hancur terlebih dahulu, kau atau aku”. Ujar baekhyun dengan menarik kerah sehun.

Sehun mendorong baekhyun dan memukul perutnya, hingga membuatnya tersungkur. Ia menodongkan pistol ke arah baekhyun.

“Tadinya, aku hanya akan melenyapkan ji na. Tapi, kau datang juga. Jadi, kalian akan ku lenyapkan. Ucapkan selamat tinggal—”.

“Kau yang harus mengucapkan selamat tinggal sehun”.

Baekhyun, ji na dan sehun mengalihkan pandangannya pada suara seseorang yang berada di ambang pintu.

“Jongdae”. Pekik mereka bersamaan.

Jongdae tersenyum penuh arti. “Tangkap laki-laki itu pak”.

“Turunkan senjatamu lalu angkat tanganmu”. Perintah polisi tersebut seraya menodongkan pistol.

Sehun menurunkan pistolnya dan mengangkat tangannya. Polisi itu lantas memborgol ke dua tangan sehun.

“Ah ya pak, ini rekaman kronologis ceritanya”. Ujar ji na seraya menyerahkan rekaman itu.

Flashback

Ji na meletakkan sebuah kamera di sudut kamarnya dan berjalan mendekati ranjang. Ia merasakan sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya. Gadis itu tersenyum dan memutar tubuhnya melihat sang empunya tangan. Senyuman itu tergantikan oleh senyuman kecut di bibir gadis itu. Sedangkan yang memeluk ji na tiba-tiba itu, tengah tersenyum mengerikan di mata ji na.

Ji na mundur beberapa langkah. “Apa yang akan kau lakukan sehun?”.

Sehun Semakin maju dan meraih dagu ji na. “Hanya sedikit bermain denganmu”. Ia beralih menyentuh bibir tipis gadis itu. “Apa yang akan baekhyun lakukan jika mengetahui aku telah mencium gadisnya?”.

Ji na menepis kasar tangan sehun. “Dia akan menghajarmu”.

Sehun tergelak mendengar ucapan ji na yang terdengar seperti lelucon di telinga sehun. “Sebelum ia menghajarku, aku akan membunuhmu dan mungkin ia akan gila atau bahkan bunuh diri”.

Ji na mengepalkan tangannya, meredam emosi yang seakan meluap. Ia ingin menangis, tetapi ia tidak ingin terlihat lemah di mata sehun.

“Kenapa? Kenapa kau membenci baekhyun? Keluarganya bahkan sangat baik padamu. Appanya bahkan lebih menyayangimu ketimbang anaknya sendiri. Itu sudah cukup menyakitinya. Apa itu kurang cukup huh?”.

Sehun menyeringai. “Tentu saja tidak baby, aku akan menghancurkannya keluarganya dan perusahaannya. Semuanya yang menyangkut keluarga byun. Apa kau tahu tentang kasus tabrak lari?”.

Ji na menelengkan kepalanya.

“Ku rasa tidak, kau cari tahu saja saat di alam lain nanti. Aku tidak mau membuang waktu untuk berceloteh. Aku ingin melakukan sesuatu padamu”.

Ji na mundur dan membuat sehun semakin maju. Ia meraih tengkuk ji na dan menyapu bibir gadis itu dengan bibirnya. Ia mendorong tubuh ji na ke ranjang.

Ji na melirik jarum jam yang terus berputar. Ia mendorong tubuh sehun dan memekik memanggil baekhyun.

Sehun menampilkan smirknya. “Pangeranmu tidak ada disini baby”.

BRAK

Sehun mengalihkan perhatiannya pada baekhyun yang berdiri di ambang pintu.

Flashback off.

“Ku rasa rekaman tadi akan memberatkan sehun”.

Ji na tersenyum, matanya berkaca-kaca menatap baekhyun. Ibu jari baekhyun bergerak mengusap air mata yang mengalir di pipi gadis itu. “Kenapa kau menangis ji na-a?”

“Maafkan aku baek”. Lirih ji na.

Baekhyun menangkup wajah ji na. “Apa yang salah? Kenapa kau meminta maaf hmm?”.

“Sehun telah menciumku dan ia—”.

“—sshhttt jangan diteruskan ji na-a. Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu”. Baekhyun memeluk erat tubuh ji na.

“Waktu itu, kejadian sebenarnya”.

Flashback

“Apa yang akan kau lakukan sehun?”.

“Hanya sedikit bermain denganmu”. Sehun mendekati ji na. Ia meraih tengkuk ji na dan mencium bibir gadis itu. Ji na mendorong tubuh sehun. Namun hanya membuat sehun bergeser satu langkah. Ji na berusaha lari menuju pintu. Namun sehun dengan gesitnya meraih pinggang ji na dan mendorong tubunya ke ranjang.

SKIP (bayangkan kelanjutannya sendiri)

Ji na terisak dan meraih knop pintu. Ia merasakan ada sebuah tangan yang menahannya, ji na dapat menebak seseorang tersebut —oh sehun. Laki-laki itu tersenyum licik seraya menarik tangan ji na memasuki mobil.

Sehun memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Di jalan yang sepi, ia memberhentikan mobilnya. Sehun menarik ji na keluar. Tangan ji na bergemetar ketakutan. Sehun menampilkan smirknya. Ia mengikat tangan ji na menggunakan seutas tali. Ji na memberontak, membuat sehun sedikit kewalahan. Ia menampar pipi ji na. Namun, gadis itu tak gentar ia segera berlari.

DOR

Suara yang memekakkan telinga berdengung di telinga ji na. Ia terpaku, nafasnya memburu.

“Itu peringatan untukmu baby, tapi tentu saja aku tidak akan menembakmu”. Sehun meniup lembut poni yang menutupi wajah cantik ji na.

Sehun menutup mata ji na menggunakan kain. Ia segera memasuki mobilnya, ia menancapkan gas. Sehun memicingkan mata menatap seorang gadis yang berjalan tak tentu arah. Sehun semakin melajukan mobilnya dan ia menyunggingkan senyuman tipis di sudut bibirnya.

BRAKK

Sehun tersenyum licik, karena merasa telah berhasil menabrak targetnya. Ia keluar dari mobil itu.

“Tragis sekali”. Sehun tertawa dan melepas ikatan tali serta penutup mata gadis itu.

Sehun segera berlalu meninggalkan ji na yang terkapar dengan darah yang mengucur dari kepalanya.

Flashback off.

“Maaf, maaf, maafkan aku. Itu pasti saat tersulit untukmu”. Baekhyun semakin mengeratkan pelukannya.

Ji na melepas pelukan mereka dan menatap sendu baekhyun. “Apa yang sehun maksud tentang tabrak lari?”.

Baekhyun menerawang menatap langit. Sekelebat bayangan masa kecilnya terlintas di benak baekhyun. “Hari itu adalah malam liburan musim dingin. Aku, eomma dan appa pergi berlibur. Tiba-tiba ada sepasang suami-istri yang terlibat pertengkaran. Suami tersebut terlihat mendorong istrinya, tepat saat itu mobil appa melaju dan menabrak wanita tersebut hingga tewas. Appa tidak sengaja. Dan sang suami terlihat menyesal atas perbuatannya. Ia mengambil sebilah pisau lalu menusuk dadanya sendiri. Dengan kata lain, ia bunuh diri. Terdapat raut wajah penyesalan di wajah appa karena ia tidak bisa mencegah kejadian itu”. Baekhyun menoleh menatap ji na yang tersenyum menguatkan, ia menggenggam tangan baekhyun.

“Appa semakin merasa bersalah ketika melihat seorang anak kecil laki-laki yaitu sehun yang menangis melihat keadaan yang mengenaskan ke dua orang tuanya. Maka dari itu appa mengadopsi sehun, ia sangat menyayangi sehun karena ku fikir ia merasa bersalah”.

Ji na menyandarkan kepalanya di bahu baekhyun, menatap hamparan luas di atas langit.

Just one day, if I can be with you

“Aku membayangkan ini semua setiap hari karena itu adalah mimpi yang berarti. Kemudian hanya memberiku satu hari yang terasa seperti mimpi, aku ingin bersamamu lebih dari satu hari. Dari semua kata-kata aku harus menelannya karena alasan realitas”. Baekhyun menatap langit yang cerah, tinggal menghitung jam ia akan berpisah dengan ji na.

Just one day, if I can hold your hands.

“Aku ingin menggenggam tanganmu seperti ini selama yang kita bisa”. Baekhyun menggenggam tangan ji na. Tangan mereka saling bertaut satu sama lain.

Just one day, If only we can be together.

“Jika kita dapat kesempatan untuk bersama, aku tidak akan melepasmu. Apa aku egois yang terlalu mengharapkanmu?”.

Ji na hanya terpaku di tempatnya seraya mengusap pipi baekhyun.

“Bisakah kau tetap bersamaku?”. Baekhyun memeluk erat ji na. Ia enggan melepas pelukannya pada gadis itu. Ia tidak ingin melepaskan gadis itu lagi. Tapi satu hari sudah ia lalui. Ia semakin mengeratkan pelukannya tatkala melihat siluet tao yang tengah berdiri memperlihatkan sebuah benda berbentuk jam pasir. Ia menatap baekhyun seraya tersenyum tipis.

Bibir tao bergerak mengucapkan kalimat. “Beberapa jam lagi, waktu kalian akan selesai”.

Air mata menetes dari pelupuk mata baekhyun, ia menggeleng beberapa kali dan semakin erat memeluk gadisnya.

JUST ONE DAY

Cahaya putih terang menggangu pandangan baekhyun. Ia membuka matanya perlahan. Ia tersadar dan mencari ji na. Yang ia temukan hanyalah sebuah boneka beruang yang ia peluk.

CKLEK

“Kau sudah bangun baek?”. Jongdae menyembul dari balik pintu.

Baekhyun berjalan gontai menuju meja makan. Ia memakan roti yang sudah di siapkan oleh jongdae.

“Jongdae”.

Jongdae hanya berdehem sebagai jawaban.

“Apa sehun ada di kantor nanti?”. Baekhyun fokus dengan makannya tanpa menatap jongdae.

Punggung tangan jongdae di tempelkan di dahi baekhyun. “Kau tidak sakit, kau benar-benar sudah amnesia ya?”.

Baekhyun melirik jongdae dengan ekor matanya. “Wae?”.

“Dia di penjara, kau lupa huh? Dan ji na mu itu juga sudah meninggal. Kau jangan lagi menganggapnya hidup”.

Baekhyun mengangguk. “Bagaimana dengan appa? Apa dia marah padaku karena aku meninggalkan ruang rapat?”.

Jongdae menghembuskan nafas berat. “Aku rasa kau harus di periksa baek, otakmu itu perlu di benahi. Mungkin ada sesuatu yang rusak di dalam kepalamu karena racun itu”.

“Memangnya ada apa?”. Baekhyun bertanya dengan memasang wajah innocent.

“Appamu berterima kasih padamu karena telah mengungkap kejahatan iblis itu. Ia juga meminta maaf atas ketidak adilannya padamu. Dan kemarin kau bahkan presentasi produk fashion terbaru dengan sangat baik, hingga membuat saham perusahaan naik. Appamu bangga denganmu. Kau ingat?”. Jongdae menjelaskan secara rinci kejadian kemarin.

Baekhyun mengedikkan bahu seraya tersenyum bodoh. “Sebenarnya aku tak tahu apa yang terjadi”.

Jongdae terperangah tak percaya. “Apa kau terkena amnesia anterograde? Tapi kenapa kau ingat aku? Apa karena orang yang kau ingat hanyalah aku? Tapi kau juga mengingat sehun, ji na dan appa”. Jongdae menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia bingung dengan situasi ini.

Baekhyun tersenyum seraya menepuk bahu jongdae. “Tidak perlu di fikirkan. Aku tentu saja mengingatmu. Kau kan orang yang paling dekat denganku”. Baekhyun mengerlingkan matanya lalu beranjak dari tempatnya.

Jongdae termangu. “Hey, kau jangan menjadikanku pelampiasan karena ji na mu telah pergi. Aku masih normal”. Jongdae mengecilkan suaranya di kalimatnya yang terakhir.

Baekhyun berdiri di balkon kamarnya. Seulas senyuman terlukis di bibir laki-laki itu. Wajah baekhyun memancarkan kebahagiaan. Ia menatap langit cerah yang meninggalkan secercah harapan baru untuk baekhyun.

Hari baru akan di mulai. Satu hari sangat berarti. Walaupun hanya satu hari tetapi dapat memperbaiki semuanya. Baekhyun dapat tersenyum bahagia, walaupun ia juga harus menelan kenyataan pahit bahwa ji na memang telah pergi bersama angan dan impian bagi baekhyun.

“Terimakasih ji na, satu hari itu sangat berarti untukku. Aku mencintaimu”. Gumam baekhyun.

“Ku rasa kau benar-benar sudah gila baek”. Jongdae berdiri di sebelah baekhyun.

Baekhyun tersenyum lantas merangkul pundak jongdae. “Saranghaeeeeee”. Baekhyun berteriak melepaskan fikiran yang terasa mengganjal.

“Baek, aku masih normal. Kau harus pergi ke rumah sakit, agar kau tidak benar-benar gila”. Jongdae melepas rangkulan baekhyun.

“Aku sudah gila jongdae. Tidak perlu di periksa”. Baekhyun tertawa usil.

“Huuufffttt, terserah padamu lah”. Jongdae pergi berlalu dari hadapan baekhyun.

Baekhyun tersenyum seraya menatap hamparan langit yang terbentang luas nan cerah.

END

 

Advertisements

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s