Namitsutiti

[FF FReelance] Pure Father

2 Comments


11430172_1665684937001283_939459034015574692_n

Tittle: Pure Father

Cast: Wen Jun Hui, and Jerry (oc),Huangzi Tao,Hanaya.

Author:  Herma

Genre: Family and little Comedy

Desclaimer: Diharapkan untuk tidak melalukan penyalinan isi cerita ini tanpa izin dari Author,karangan ini hanya untuk semata-mata menghibur ,nama dan foto yang tercantum pada cover hanya sebuah peran dan peminjaman nama.

 

 

(Oneshoot)

 

 

 

Thank you very much making this cover by Auxcirbe@C&F World

 

 

 

 

 

— Pure Father—

 

 

 

 

Wen Jun Hui  warga China ,19 tahun .Istrinya bernama Hanaya ,anak pertama mereka bernama Jerry, sudah dari kecil Jun tinggal bersama paman dan bibinya yang merauntau ke kota Gingseng.

 

Suara hentakan kaki yang berkecipak tajam bersama lantunan  musik beriringan , sepasang earphone terpasang ,  ia tidak bosan  membaca seluruh isi novel baru judulnya  Harry Poter.Disisi kirinya tergeletak sekotak susu instan Dancow untuk sang  bayi. Rambut pendeknya dibiarkan terikat kebelakang sedangkan poni seginya dibiarkan tergurai , tangan kananya memegang sebuah novel  dan tangan kirinya sibuk memainkan ponsel .

 

 

 

 

 

Tit Tilit Tilit~

 

 

 

 

Ponsel itu tiba-tiba berdering seketika konsentrasinya membuyar kedatangan suara bising itu , menghambat pencernaan setiap kata- perkata dalam novel yang ia miliki.

 

 

 

 

Tit Tlit Tit.

 

 

 

Lagi –lagi suara itu terdengar mata lelaki itu berpindah pandangan tepat pada sebuah ponsel ditangan kirinya , lalu ia meletakkan keasyikan sendiri pada buku itu  , ia menangkap suara besar seorang pria berusia tiga puluh tahunan sedang berbicara lantang padanya , dan terdengar seorang bayi kecil tengah menangis keras sekeras-kerasnya.

 

 

“Wen Jun Hui , kau anggap apa putramu ini?!” Pria dewasa itu berteriak keras dari ponselnya seakan-akan gendang telinganya akan pecah saat itu juga. Jun Hui hanya bisa menjauhkan ponselnya yang mendekat ditelinga tadi.

 

 

“Iya paman aku disini!”lelaki muda itu akhirnya membuka mulut untuk berbicara pada pria dewasa berusia tiga puluhan ,namanya  Huang zi Tao.

 

 

 

“Cepatlah kembali dan urusi putramu , jangan biarkan kau menitipkan putramu kepada istriku dia cukup kerepotan mengurusinya,” Pria itu masih berbicara lantang padanya ada rasa kesal yang meluap-luap saat ia berbicara.

 

 

Plug.

 

 

 

 

Lelaki muda itupun mematikan ponsel ,  dan mengacak-acak wajahnya ,  rasa kepalanya benar-benar berat sekali,  ia tidak bisa merasakan bebas karena istrinya Hanaya meninggalkan dunia  , ia  dikarunia seorang putra secepat itu. Walaupun sudah lama keberkabungan di rumahnya ,  tapi ada sedikit rasa sedih yang menimpali  , ia bingung bagaimana menjadi seorang ayah dari buah yang ia tanamkan di rahim Hanaya  , tenggorokannya seperti ada beton yang berusaha keluar dari kerongkongannya , Hanaya mengalami komplikasi.

 

 

“Jerry daddy datang!”mulut itu terbuka setelah beberapa kali mengayak-ayak raut wajahnya , pria itu berdiri dan membereskan keasyikan dan segera pulang kerumah pamannya.

 

Dengan motor seadanya pria itu berhasil meninggalkan lapangan berkuda dan tempat duduk yang ia duduki sementara.

Brum..

 

 

 

Tak ada susu yogurtpun jadi.

Ia lupa kalau susu nya tertinggal di tempat itu , mungkin susu tersebut sudah ikut terbuang ke tong sampah oleh pihak pembersih  , lama di perjalanan membuatnya ingin meledak saja , lagi pula tak ada gunanya,  ia kembali ke tempat itu demi sekotak susu , toh sekotak susu itu sudah terbuang bersama sampah-sampah disana.

 

 

 

“Jerry maafkan daddy mu!”suara seraknya kembali terdengar tapi ada kesan marah dan sesal yang meluap-luap.

Ia kembali ke tempat kediaman sang paman sambil membawa sebungkus yogurt dengan suhu dingin yang luar biasa dingin sekali.

 

 

“Jun Hui !” Pria itu mematung menggendong bayi  laki-laki kecil berusia delapan bulanan. Bayi itu diam sejenak lalu menangis minta di susui oleh ibunya, Lalu pria dewasa itu memberikan bayi laki-laki itu pada  Jun Hui.

 

 

“Susuilah putramu itu dan jangan sesekali membuatnya menangis dan mengganggu telingaku bibimu sudah lelah mengurusinya dari tadi,” Pria itu bersendekap dengan alis yang bertautan ,  istrinya hanya memohon maaf dengan raut wajahnya pada Jun Hui.

 

 

“Suamiku jangan terlalu kasar pada Jun Hui walaupun begitu dia tetap keponakanmu dan aku wajib membantunya , lagi pula  ia tidak bisa mengurusi anak sendirian .” Kata istrinya memohon pada suaminya.

 

 

“Tapi  istriku jangan terlalu memanjakan dia,  lagi pula itu memang kewajibannya menjadi seorang ayah  ,  jika dia laki-laki sejati pasti dia akan merawatnya hingga besar tanpa bantuanku,” Pria itu berbicara panjang lebar dengan istrinya dan tepat di hadapan Jun Hui yang menggendong bayi laki-laki yang meraung-raung .

 

 

 

“Sudahlah suamiku ..”

 

 

“Tidak bibi paman benar aku ayahnya dan aku pantas menanggung semuanya , bibi tidak usah khawatir padaku,” jawabannya terpotong oleh Jun Hui wanita dewasa itu mengangkat kedua alisnya , tak biasanya Jun Hui seperti itu , mungkin ia sudah mulai mengerti kehidupannya , Jun Hui pergi membawa si bayi kecil dalam dekapannya bayi itu belum bisa berjalan seperti kebanyakan bayi.

 

 

Hwek Hwek Hwek

 

 

Lengkingan bayi itu terus- menerus mengeras dibalik kotak tidurnya , Jun Hui menghampiri menggoyangkan stik dengan boneka micky mouse yang berbunyi , bayi itu lalu diam pipinya memerah , dia sangat kehausan sang ayah  belum juga mengertikannya.

 

 

 

“Jerry anak daddy!”

 

 

 

Hwek Hwek Hwek

 

 

Sebentar saja berhenti tangisan bayi itu semakin melengking , Jun Hui pun lalu merubah posisi berjongkok lalu berlompat seperti katak , bayi kecil itu terdiam sejenak lalu kembali menangis , Jun Hui kembali berdiri memainkan toya miliknya sambil berinteraksi dengan toya-nya tapi bayi itu tak kunjung berhenti menangis tangisannya semakin keras disertai dengan air liur di mulut. Jun Hui menggaruk-garuk kepalanya , lalu ia mengacungkan telunjuk seperti baru saja ada ide menarik di otaknya. Ia mengambil boneka barbie lalu menggerak-gerakkan di depan mata sang anak , terlihat ada kebingungan di mata bayi kecil   ia terdiam lalu kembali melengking keras merebahkan tubuhnya,  ia kembali menangis di sertai air liur. Ia terlihat benar-benar kelaparan dan haus ,  tapi Jun Hui belum juga terkoneksi , ia malah asyik memainkan raut wajah dan liukan tubuh untuk membuatnya diam tak menangis , tapi percuma saja bayi itu terus menangis.

 

 

“Jerry apa yang daddy harus lakukan !”ia meremas rambutnya pening melihat bayi kecilnya menangis dengan suara yang semakin melemah  ,  jika saja Hanaya tahu mungkin dia akan memukuli suaminya yang kelewat idiot.

Bayi kecil itu terlihat lemas tak bertenaga suaranya pun juga melemah yang terdengar hanya tangisan sesenggukannya.

 

 

“Jerry kau kenapa?” ia malah bertanya pada bayi kecil yang tak tau apa-apa dan tak bisa berbuat apa-apa.

 

 

“Oh , aku  ingat kau butuh makan, kenapa kau tidak bilang dari tadi daddy khawatir padamu,” suara tanpa dosa itu terdengar kembali , akhirnya  kabel ayah Jerry tersambung juga sekian lama ia harus menangis meminta perutnya segera diisi.

 

 

“Nah , ini dia!” Lelaki itu mengambi sebungkus yogurt di lemari pendingin , ia bergerak mendekati bayi kecil lucu itu.

 

 

“Daddy memberikan ini untukmu,” sebungkus yogurt yang dingin siap-siap di berikan pada mulut mungil sang bayi yang duduk di dalam kotak tidur.

 

 

Jun Hui menjulurkan yogurt dingin itu pada mulut putranya , alhasil bayi itu berkedip-kedip genit saat merasakan asam dan dingin beradu dimulutnya.

 

Malamnya Jun Hui merapikan tempat tidur , rumahnya terlihat sangat berantakan kertas dan selimut beradu dengan debu disana-sini. Terkadang indera penciumanya tak sebagus anjing pantas saja ia tidak pernah merasa gatal disela-sela menghirup udara.

Bayi kecil lucu itu tertidur pulas dimalam hari , Jun Hui menatapi nya dengan serius ada sesuatu yang menarik untuk dilihat bayi kecil itu mengemut ibu jarinya persis saat ia berada di rahim mendiang istrinya , Tak terasa  air mata Jun Hui menetes bukan karena sedih tapi karena kelilipan debu yang berada di setiap ranjang bayi kecilnya.

 

 

 

 

 

Hacih

 

 

Ia menyumpal lubang hidungnya karena tak kunjung berhenti bersin lalu ia menarik selimut dan terbaring dengan mata terpejam.

 

 

 

Hwek Hwek Hwek

 

 

Tengah malam bayi itu menangis padahal besok ia harus bekerja dan kuliah , ia harus bangun pagi .Lengkingan itu tedengar seakan memecahkan seluruh alam jagad raya ini.

Tubuh tersebut ia paksakan berdiri menghampiri kotak bayi , dengan mata yang masih  terpejam.

 

 

 

Hwek Hwek Hwek

 

 

Terdengar keras sekali lengkingan bayi itu , dengan mata terpejam ia pastinya sudah tahu kalau ia sudah berada di dekat kotak bayinya padahal tidak.

 

 

Hwek Hwek Hwek

 

 

Jun Hui mengulurkan tangannya pada sebuah lemari tempat bayi itu terbaring , sekantong plastik ia robek kasar dan mengambil pembalut wanita , lalu mendekati bayi tersebut.

 

Hwek Hwek Hwek

 

 

“Jerry daddy mengantuk bisakah beri aku waktu lagi!” ia mengelantur dengan mata sedikit terbuka , ia membuka pampers bayi yang penuh dengan kotoran .

 

 

“Ah,sungguh menjijikkan baunya!” mata Jun Hui akhirnya terpaksa terbuka menjinjing pampers dengan kotoran bayi yang mencret dan lembek.

 

 

“Kau makan apa tadi Jerry,” lelaki ini belum juga tersadar kalau saja bukan karena nya mungkin ia tidak mengotori pampers itu dengan kotoran super bau.

 

 

Ia membuangnya sembarang tempat lalu menggantinya dengan pembalut wanita. Walaupun serupa tapi daya tahan nya tak sebagus pampers .  Jun Hui memang ayah paling buruk dalam menangani si kecil  , ia tidak tahu bagaimana perut bayi kecilnya saat ini , sakit dan melilit.

 

 

Hwek Hwek Hwek

 

 

Bayi itu terus menangis tapi akhirnya dia  diam , mungkin ia mulai memahami daddynya untuk apa menangis jika ujung-ujungnya terjadi aneh lagi seperti tadi siang ia diberi makan yogurt.

Jika bayi itu bisa berbicara ia tak akan mungkin mendapat perlakuan aneh dan tak masuk akal  .

 

 

Pagi harinya!

 

 

“Sakit Perut Aaaaaaah!”

 

 

Pagi yang tak terduga ia harus beradu dengan perutnya berlari terpingkal – pingkal kebelakang.Bayi itu masih diam berdiri memegangi  besi pengaman di kotak tidurnya . Wajah polos tak berdosa celingak-celingukan disana sini, memandangi lelaki muda itu berlari terpingkal – pingkal  ke toilet.

Dan hasilnya ia terpleset menginjak pampers yang ia buang sembarangan.Tak selang kemudia bayi itu tertawa.

 

 

“Ta ta!!” bayi kecil itu kegirangan melihat ayahnya terpeleset disana.

 

 

“Kya yai!” dengan menampilkan gusi kecilnya ia berkelojotan disana.

 

 

“Jerry anak daddy tertawa!” Jun Hui pun bernafas lega dan memilih tertidur dengan kaos ,dan  tidur  disamping pampers .

 

 

“Kau tahu Hanaya putra kita bisa berbicara!” Jun Hui menatapi langit-langit kamarnya.

 

 

“Hya Hyaii i i!!!!” walaupun gusi tersebut menantang ia cukup menyukai memiliki ayah sekonyol dia.

 

 

 

 

“AAAAAAAAAAA”

Jun Hui berteriak…

 

 

 

 

 

 

“Aku lupa sudah waktunya berangkat! Lima menit lagi gerbang akan ditutup!!”ia merapikan buku-buku yang berserakan dan menggendong tasnya, Eh tunggu dulu ada sesuatu yang ia lupakan . Ia lupa membawa Jerry .

 

 

“Aku bawa atau titipkan saja!” “-ah, tapi tidak mungkin paman pasti akan memarahiku,yasudahlah terpaksa aku membawanya!” cerocos Jun Hui bimbang, dengan sepeda motor itu ia menaruh bayi ke dalam tas , tas ini memuat bobot bayi dan beberapa perlengkapan kuliahnya.

Di kampus para gadis berteriak histeris menyambut bayi laki-lakinya, ada yang mencubit bahkan ada yang membanding-bandingkan ketampanan nya.

 

 

“Hey , pelan-pelan menggendongnya!”tegur Jun Hui saat bayi kecilnya mulai menangis dalam keributan gadis-gadis kampus.

Pekerjaan itu terus dilakukan setiap hari mulai menjadi sosok ibu sekaligus ayah dari bayi kecilnya,sempat ia merasa sangat lelah sekali tapi bukan Jun Hui namanya kalau menyerah begitu saja hanya karena sang putra.

Hari ini tepat kelulusannya, paman dan bibi terlihat sangat bahagia  sampai-sampai air mata mereka keluar.Si bayi kecil itu Jerry sudah beranjak besar usianya 10 tahun .

 

 

“Ponakan kita sudah lulus aku tersanjung melihatnya!”bibi terisak sambil menyeka kedua air matanya.Si paman hanya cengar-cengir saja sambil merangkul pundak Jerry.

 

 

 

“Daddy!!”panggilnya sangat bahagia, lelaki itu memeluk ayahnya yang berselimut pakaian wisuda.

 

 

“Hey,jagoan daddy sudah sangat besar!!”  “Memangnya daddy kemana saja baru bilang seperti itu ?!” belum selesai berbicara sudah dipotong oleh Jerry,sontak Jun Hui menyengir tidak jelas dibuatnya.

 

 

“Daddy kapan kau mau bermain perang-perangan bersamaku?”celetuk Jerry disaat kebahagiaan mereka, “-kau sudah janji padaku!”sambungnya dengan wajah datar yang dibuat-buat.

 

 

“Baiklah demi jagoan daddy malam ini kita main perang-perangan!”sahutnya menggendong putra kecilnya.

 

 

“Horee” teriak Jerrry senang .

Malam yang ditunggu-tunggu akhirnyapun tiba.

 

 

Jerry dan Jun Hui bergandengan tangan .

 

 

“Lihat itu kakak beradik yang akur ya!”dua gadis berjalan didepannya dengan berbisik,tapi sempat didengar oleh Jerry dan Jun dengan wajah tak percaya  akhirnya berteriak pada kedua gadis tersebut.

 

 

 

“Hey nonna, jangan salah sangka dia jagoanku!”sontak dua gadis tersebut tersenyum kikuk dan meminta maaf.

 

 

“Daddy benarkan?”tatapannya tertuju meyakinkan Jerry.

 

 

“Tidak salah lagi!”balasnya menyuap es krim ditangan-nya.

 

 

Jun berjongkok di depan putranya “Katakan kau sayangkah dengan daddymu?”tanya nya tiba-tiba.

 

 

“Tidak!”jawabnya sekilas.

 

 

“Hah?”

 

 

“Tidak , jangan lakukan itu padaku aku menyayangi daddy , se-idiot apapun daddy daddy tetaplah daddy Jerry yang tampan dan sempurna!”sahutnya kembali menyuap es krim.

 

 

“Kau ini!” balas gemas Jun Hui mengacak-acak rambut Jerry lalu merangkul ke pundak-nya.

 

 

“Daddy hebat jika seperti ini!”serunya. “Kau menyukai nya?”

 

 

“Iya daddy”

 

 

 

“Baiklah daddy akan menggendongmu seperti ini lain kali!!”

 

 

 

 

“Daddy !!!”

 

 

 

“Jerry Jagoanku hahah !”

 

 

 

 

 

 

end

 

Advertisements

2 thoughts on “[FF FReelance] Pure Father

  1. daddy yang keren!

    Like

  2. Terharuu… kerennn…

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s