Namitsutiti

[FF FReelance] Hay Bridal Chapter 1

2 Comments


11652205_1634844113425699_244867627_n

Author : Hea

Starring : Lu Han × Oh Se Hun × Yoon Saemi (Oc/You)

Cast : Wu Yi Fan × Liu Yan Mie (Oc). Sewaktu-waktu bisa bertambah.

Genre : Romance × Sad × Phisyco

Leght : Chapter

Cover : Cha13 Artwork

Background song : Saranghamnida (Tim Hwang)

Author : Hea

Starring : Lu Han × Oh Se Hun × Yoon Saemi (Oc/You)

Cast : Wu Yi Fan × Liu Yan Mie (Oc) × Ziyu Lau (Oc) And Other.

Genre : Romance × Sad × Phisyco × Comedy (?)

Leght : Chapter

Cover : Yeohan@Art

Background song : Don’t forget (Baek Ji Young).

Hea balik lagi bawa ff abal-abal…
Ff ini murni karya pemikiran khayalan Hea yang idenya muncul karena mimpi. Hehehe
Mimpi mulu-_-.
Jadi maaf kalau jalan ceritanya tidak sesuai harapan dan tidak nyambung dengan judulnya.

Apabila ada adegan atau kejadian yang familiar harap di maklumi karena aku ambil dari beberapa filem dan drama.

Nama cast cuma meminjam, kecuali (oc), sepenuhnya cast milik Tuhan, keluarga, dan managenment.

Warning ! Typo bertebaran! Harap di maklumi, maaf kalau ada salah penulisan kata.
Bahasa yang di gunakan juga bahasa sehari-hari anak muda umumnya. Mudah-mudahan bahasa gaulnya ngak nge-Alay.
Semoga dapet fellnya…

Summary : Cinta itu seperti hukuman mati. Di tembak atau di gantung…

“Senja itu hidup, hidup yang memudar. Pudar yang akan datang lagi saat lembab pagi menyapa. Pagi dan senja, itulah hidup manusia…. ” – Saemi.

~Happy Reading~

@.Victoria peak mountain.

Author pov

Malam di pertengahan bulan Mei begitu cerah dengan banyaknya bintang-bintang yang menghiasi langit gelap. Bulan dengan bentuk hampir sempurna memancarkan sinar terangnya sebagai penganti sang surya untuk menemani malam yang bertabur ribuan bintang. Angin berhembus pelan membawa guguran daun serta debu jalan untuk menari bersamanya. Gemerlap lampu warna-warni yang memancar dari gedung-gedung tinggi membuat suasana malam nampak indah jika di lihat dari atas bukit.

Seorang gadis cantik dengan pakaian mini. Dress hitam yang begitu pas melekat di tubuh rampingnya, hingga memperlihatkan lekuk tubuh dan paha putih mulusnya. Melangkah dengan percaya diri di koridor yang samping kanan-kirinya adalah sebuah pintu. Ketukkan dari hak sepatunya yang beradu dengan lantai marmer menimbulkan bunyi khas seiring langkahnya. Setelah memastikan nomer kamar, Ia menekan tombol bel pada sisi pintu bercat putih susu didepannya.

“Klekk!” seorang pria tampan membuka pintu yang merupakan salah satu kamar vvip hotel mewah di kawasan Victoria peak mountain.

“Oh. Aku sudah menunggumu sedari tadi sayang.” ucapnya seraya mengedipkan matanya nakal.

Gadis itu. Yoon Saemi hanya tersenyum manis dan melangkah masuk. Saemi menilai bahwa hotel King memang hotel berbintang. Kamar yang luas itu di desain gaya klasik eropa dengan nuansa warna putih perpaduan coklat tua. Perabotan mewahnya juga tertata rapi yang hampir seluruhnya berwarna coklat. Ada jendela besar yang menampilan pemandangan malam yang sangat sayang dilewatkan. Saemi mendekat kearah jendela. Gemerlap lampu warna-warni dari seluruh gedung di Hongkong tampak jelas terlihat. Dari kawasan Victoria peak mountain memang bisa melihat seluruh wilayah Hongkong. Karena merupakan pegunungan tertinggi di Hongkong.

“Kau ingin minum?” Namja tampan itu menuang anggur pada dua gelas didepannya lalu menyerahkan pada Saemi.

“Terimakasih.” Saemi menerimanya dengan senyum manis miliknya.

Namja tampan itu terkekeh lalu menarik Saemi dalam pelukkannya.

“Khu Hyun-ssi?”

“Kau begitu mengoda sayang.” Khu Hyun menciumi tengkuk Saemi yang memang terekspos. Saemi menahan nafas dan memejamkan matanya.

“Aku begitu merindukanmu.” gumam Khu Hyun dengan suara seraknya yang malah membuat Saemi bergidik.

“Khu Hyun-ssi. Bukankah kau bilang, sudah menyiapan makan malam untukku?.” Saemi mendorong pelan tubuh Khu Hyun.

“Kau lapar?” tanya Khu Hyun sambil memainkan rambut Saemi.

“Sangat.” jawab Saemi dengan ceria membuat Khu Hyun semakin masuk dalam pesonanya.

***

Sebuah kamar vvip di hotel King memang sengaja disewa khusus oleh Khu Hyun. Saemi sedari tadi hanya memainkan gelas berisi cairan unggu itu tanpa minat sedikitpun untuk meminumnya. Disampingnya Khu Hyun sedari tadi terus berbicara yang di anggap Saemi angin lalu. Entah apa yang pria itu bicarakan.

“Jadi dimana kau menyimpan memory card itu?” tanya Saemi dengan nada pelan.

“Apa memory card itu sangat penting untukmu?” tanya Khu Hyun dengan nada khas orang mabuk. Ia terkekeh lalu menarik tubuh Saemi.

“Sangat-sangat penting.” batin Saemi.

“Ada pada wanita bernama Angel Lim. Wanita yang merupakan simpanan tua bangka Huang Zu.” bisiknya membuat Saemi tersenyum.

Tidak sia-sia ia mencampurkan obat pada makanan Kyu Hyun tanpa disadari pria itu. Saemi merasakan tubuh Khu Hyun yang dalam pelukkannya tidak bergerak sama sekali. Deru nafasnya teratur dan terdengar dengkuran halus.

“Hah. Benar-benar. Tapi terimakasih ya, Khu Hyun sayang.” Saemi menjauhkan tubuh Khu Hyun.

“Brakk!”

“Honey!” Lu Han masuk di ikuti pria berseragam hitam lengkap dengan senjata.

“Kau tidak apa-apa?” Lu Han menyampirkan mantel pada bahu Saemi sambil melirik pria yang sudah tak berdaya disebelah Saemi.

“Kau memberinya apa?” tanya Lu Han.

“Racun tikus.” jawab Saemi dan melangkah pergi. Lu Han hanya terkekeh mendengarnya.

“Hei. Kalau dia mati bagaimana?” Lu Han memberi kode pada anak buahnya dan pergi menyusul Saemi.

“Masih banyak tempat kosong di pemakaman kota.” jawab Saemi.

“Kau kejam sekali.” gumam Lu Han

“Kau yang kejam. Aku hampir saja di tiduri oleh pria bejat itu. Sialan kau!” Saemi melepas sepatu kirinya dan melemparnya pada Lu Han yang tepat mengenai wajahnya.

“Aww. Yak! Yoon Saemi!” keluh Lu Han sambil mengelus hidung mancungnya dan berlari menyusul Saemi.

“Aahh.” seru Lu Han berbalik dan mengambil sepatu Saemi.

“Hei. Honey tunggu!” Lu Han segera berlari untuk mengejar Saemi yang sudah berdiri didepan lift.

“Memory card ada pada gadis bernama Angel Lim yang merupakan wanita simpanan tuan Huang Zu.” gumam Saemi pada Lu Han disebelahnya. Pintu lift terbuka dan mereka melangkah masuk.

“Thanks Honey!” ucap Lu Han lalu bersujud dibawah kaki Saemi.

“Pakai sepatumu. Hei ini sepatu mahal yang aku beli hingga menguras dompetku. Kenapa di lempar seenaknya?!.” gerutu Lu Han sambil memakaikan sepatu pada kaki kiri Saemi. Saemi hanya memutar bola matanya malas.

“Malam ini aku tidur denganmu ya.” ucap Lu Han sambil menekan tombol angka 12, lantai dimana kamar hotel yang Saemi sewa.

***

“Oh baiklah, kerja bagus Tao. Simpan memory card itu. Besok kita bicarakan lagi.” Lu Han melirik Saemi yang baru keluar dari kamar mandi.

“Oke. Selamat malam.” Lu Han tersenyum pada Saemi sambil menaruh ponselnya di meja.

“Sudah dapat memory cardnya?” tanya Saemi sambil mengeringkan rambut dengan handuk.

“Sudah. Semua berkat dirimu. Terimakasih Honey.” ucap Lu Han

“Bersihkan dirimu. Aku tidak mau tidur dengan orang bau.” Saemi melempar handuknya pada Lu Han.

“Hahaha. Tapi aku tetap tampankan?” ucap Lu Han sambil berdiri dan mendekat kearah Saemi.

“Tidak. Kau itu cantik.”

“Benarkah. Tap-” belum selesai dengan ucapannya, Saemi langsung mendorong tubuh Lu Han masuk kekamar mandi dan menutup pintunya.

“Yak. Yoon Saemi!” teriak Lu Han dari dalam kamar mandi.

“Yang bersih!” teriak Saemi.

“Ya. Ya.” balas Lu Han dengan berteriak supaya bisa terdengar.

Jangan salah paham. Maksud Lu Han dengan tidur bersama bukan tidur menghabiskan malam dengan melakukan sesuatu. Mereka hanya tidur bersama dalam satu ranjang tanpa melakukan apapun. Hal itu memang sering mereka lakukan sejak zaman kuliah. Hal itu membuat kekasih Lu Han maupun Saemi sempat protes. Tapi Lu Han dan Saemi tetap melakukannya walaupun pasangan masing-masing akan marah. Kekasih mana yang tidak marah jika begitu? Tapi sekarang hanya Lu Han yang memiliki kekasih. Dan kekasih Lu Han sudah lelah memohon supaya Lu Han tidak melakukan kebiasaanya itu. Seperti yang di katakan Lu Han, sangat sulit menghilangkan kebiasaan itu.

***

Next day…

Sang surya mulai muncul di bumi belahan timur. Berganti tugas dengan rembulan untuk menemani bumi. Awan putih mulai bergerak pelan mengikuti arah angin. Burung-burung mulai meninggalkan sarangnya dan berkicau ria memberi suasana ramai. Suasana di pegunungan tertinggi di Hongkong itu nampak begitu sejuk. Deretan perbukitan yang megelilingi negara Hongkong nampak biru jika di lihat dari jauh.

“Hei. Kudanil bangun!” Lu Han memukul tubuh Saemi dengan bantal guling berharap agar gadis berbola mata hijau kecoklatan itu segera bangun.

“Aish. Hei bangun!” dengan gemas Lu Han naik ke atas ranjang dan melompat-lompat membuat ranjang itu bergoyang mengikuti gerak tubuh Lu Han.

“Stop Lu please! Kau membuat pagi indahku hancur!” Saemi bangun dari posisinya dan menatap Lu Han horor. Rambut acak-acakan khas bangun tidur tidak mengurai kesan cantik pada gadis itu.

“Baiklah Honey. Cepat bersihkan dirimu! Aku akan menyiapkan sarapan untuk kita. Dan hari ini kita harus kembali ke Kowloon.” seru Lu Han sambil berkacak pinggang. Sinar mentari yang masuk lewat jendela yang kordennya sudah di buka membuat Lu Han nampak begitu menyilaukan karena terpaan sinar mentari yang mengenai rambutnya. Membuat Saemi terdiam karena terpesona.

“Baiklah ibu tiri Cinderella yang kejam dan biadap.” gumam Saemi.

“Kau bilang apa?” Lu Han mulai tersulut emosinya.

“Ibu tiri cerewet!” ucap Saemi dan berlari kekamar mandi sebelum terkena amukkan Lu Han.

“Yak. Yoon Saemi. Aku bukan ibu tiri!” teriak Lu Han.

“Ya. Kakek sihir!” seru Saemi dari kamar mandi.

“Awas kau ya!” Lu Han turun dari atas ranjang dan berjalan kedapur yang ada di hotel. Kamar yang di sewa Saemi memanglah kelas vip yang terdapat dapur mini serta meja makan. Bukan hanya itu sebuah meja bar mini juga ada.

15 menit kemudian…

“Kau masak apa Lu?” tanya Saemi sambil menarik salah satu kursi. Ia sudah rapi dengan kemeja biru mudah serta celana jeans biru toskanya dengan rambut yang di kucir kuda.

Sedangkan Lu Han dengan kemeja putih dan celana kain berwarna hitam sedang sibuk di dapur. Saemi hanya melihat Lu Han yang mondar-mandir mengambil sesuatu di dapur mini itu.

“Nasi goreng kimchi kesukaanmu.” jawab Lu Han tanpa menoleh. Saemi hanya mengangguk sebagai tanda mengerti.

“Taraa! Aku juga memasak sup iga sapi untukmu.” Lu Han melepas apron yang melekat pada tubuhnya. Lalu mendekat pada Saemi dan memberi kecupan kilat pada bibir pink cerry milik gadis itu.

“Morning kiss.” seru Lu Han dengan senyum manisnya. Selain kebiasaan tidur bersama, Lu Han juga sering memberikan kecupan singkat pada Saemi. Begitupun sebaliknya. Bukankah mereka lebih mirip pasangan?

“Yakin ini bisa di makan?” Saemi memandang panci beruap di depannya ragu.

“Hei. Aku jauh lebih pintar darimu dalam urusan dapur!” seru Lu Han tidak terima.

“Tidak kau campurkan racunkan?” tanya Saemi.

“Aku campurkan zat formalin disitu puas?!” Lu Han menarik kursi dan duduk dengan melipat kedua tangannya didada.

“Ah iya iya.” Saemi hanya terkekeh melihat wajah Lu Han yang memerah karena kesal.

“Sudah bagus aku memasakkannya untukmu.” ucap Lu Han cemberut.

“Iya. Terimakasih prince Beijing.” Saemi menyendong sup iga di mangkoknya. Lu Han hanya tersenyum mendengar Saemi memanggilnya prince Beijing.

Prince Beijing adalah julukkan yang di berikan Saemi untuk Lu Han. Sedangkan Lu Han akan memanggil Saemi dengan Honey. Bukankah mereka benar-benar mirip sepasang kekasih ketimbang sahabat?

“Lu tidakkah aneh. Nasi goreng kimchi lalu sup iga?” tanya Saemi yang memegang sendok dan mengarahkannya pada Lu Han.

“Tidak. Yang penting kenyang.” jawab Lu Han sambil memakan makanannya.

“Makan yang benar Lu. Ada noda disudut bibirmu.” ucap Saemi

“Benarkah?” Lu Han meraba-raba sudut bibirnya.

“Salah. Sebelah sini.” Saemi berdiri lalu membersihkan sisa makan pada bibir Lu Han. Lu Han terdiam sambil menatap Saemi dalam.

“Lanjutkan makanmu Lu. Aku ada panggilan alam. Dan tolong nanti kau yang mencuci semua peralatan makan ya!” ujar Saemi sambil melangkah pergi. Lu Han hanya terdiam. Lalu matanya melotot setelah sadar apa yang Saemi katakan.

“Ya. Enak saja! Aku sudah capek memasak! Sialan kau kelinci!”

“Aku mendengarnya Lu. Jangan mengataiku. Dasar kijang!”

“Kau juga mengataiku!”

“Ya. Ya!”

***

@.Kowloon city.

Lu Han menghentikan mobilnya di depan salah satu gedung apartement mewah di tengah kota. Saemi melepas sabuk pengamannya dan hendak membuka pintu mobil jika Lu Han tidak mencegahnya dengan menarik pergelangan tangannya.

“Apa?” tanya Saemi

“Kau melupakan sesuatu.” ucap Lu Han. Saemi menghela nafas pelan lalu mengecup kilat bibir Lu Han.

“Istirahat ya. Nanti malam aku pulang ke apartementmu.” Lu Han mengelus puncak kepala Saemi.

“Oke. Hati-hati. Dan selamat bekerja.” Saemi segera turun dari mobil Lu Han. Ia melambaikan tangannya saat mobil Lu Han mulai melaju.

“Sampai kapan kalian akan terus seperti itu. Kalian bahkan lebih mirip disebut pasangan suami-istri.” seruan seseorang membuat langkah Saemi terhenti. Ia menoleh dan melihat gadis bermata sipit dengan rambut sebahu yang di kenal sebagai kekasih Lu Han menatap jenggah kearahnya. Ini sudah hal biasa untuknya.

“Kau ingin mampir?” tanya Saemi dengan nada biasa.

“Tidak. Aku hanya ingin kau mengerti dan tau posisiku.”

“Apa jawaban Lu Han saat kau mengatakan itu padanya?” tanya Saemi dengan senyum manisnya

Lu Yan Mei. Gadis yang sudah berpacaran 1 tahun lebih dengan Lu Han menahan kesal saat mendengar pertanyaan yang di lontarkan Saemi.

“Aku rasa jawaban ku juga sama dengan Lu Han.” ucap Saemi dan kembali melanjutkan langkahnya untuk masuk kedalam gedung apartement.

“Kau benar-benar ingin aku melakukan sesuatu padamu?!” seru Yan Mei emosi. Terlihat dari kepalan kedua tangannya.

“Lakukan. Aku tidak masalah.” jawab Saemi tanpa menoleh.

***

@.Departement police.

“Hai Mr. Lu!” sapa Min Seok salah satu rekan kerja Lu Han.

“Bagaimana. Apa semuanya sudah dikerjakan dengan baik?” tanya Lu Han sambil berjalan beriringan dengan Min Seok.

“Sudah. Berkat memory card itu kita bisa membongkar khasus korupsi para pejabat tamak sialan itu. Tuan Huang Zu dan beberapa pejabat lain termasuk Cho Khu Hyun sudah di tangkap. Tao sedang mengurus itu.” jawab Min Seok.

“Semua berkat bantuan Saemi.” gumam Lu Han.

“Lu?”

“Hmm … Apa?”

“Sampai kapan kau akan seperti itu terus? Kau benar-benar pintar mempermainkan hati wanita. Bukan hanya Yan Mei tapi Saemi juga terluka Lu.” ucap Min Seok. Ya selain Saemi, Lu Han juga punya beberapa sahabat karib. Diantaranya Min Seok dan Tao.

“Saemi tidak terluka. Soal Yan Mei aku sudah membicarakan hal itu padanya.” jawab Lu Han.

“Itu menurutmu. Kau tau Saemi menyukaimu kan?” tanya Min Seok. Min Seok tau hubungan persahabatan Lu Han dan Saemi yang menurutnya aneh.

“Aku tau. Lalu aku harus apa?” Lu Han membuka ruangannya.

“Sebenarnya kau ini mencintai siapa?”

“Yan Mei.” jawab Lu Han dan duduk di kursinya.

“Tapi kau tidak bisa lepas dari Saemi. Kau bahkan membawanya ke Hongkong saat kau di pindah tugaskan dari Beijing.” ucap Min Seok

“Kenapa diam?” tanya Min Seok saat melihat lawan bicaranya hanya diam sambil menatapnya.

“Dari beberapa kekasihmu terdahulu, hanya Yan Mei yang tidak terlalu protes akan kebiasaan kalian. Aku harap kau bisa tau perasaan hatimu sebenarnya Lu.” ucap Min Seok sebelum keluar ruangan.

“Perasaan sebenarnya?” gumam Lu Han.

***

@.Ladies market.

Saemi berjalan pelan dengan memakan es creamnya bersama ratusan pejalan kaki yang ada di kawasan yang terkenal sebagai pusat nongkrongnya anak muda serta pusat perbelajaan murah di Hongkong. Sebuah pasar yang sangat terkenal akan banyak barang berkualitas dan bermerek dengan harga murah. Tentunya sepintar-pintarnya kita menawar harga.

Kawasan yang terkenal dengan nama Ladies market terletak di antara Boundary street dan Dundas street kota Mongkok Kowloon. Saemi membenarkan letak kaca mata hitamnya. Ia berniat untuk membeli beberapa pakaian serta asscesoris.

Saemi melihat-lihat toko penjual asscesoris dan milih gelang-gelang yang digantung. Ia menaruh kacamata pada kepalanya seperti bando.

“Aaa…. ” ringgis Saemi begitu ada yang menyengol hingga tubuhnya nyaris ambruk mengenai beberapa barang didepannya.

“Maaf.” gumam orang itu lalu kembali bangun dari posisinya yang terjatuh dan melanjutkan larinya.

Saemi memiringkan kepalanya dan melepas kaca matanya. “Ziyu?” gumamnya.

“Yak. Bocah mau lari kemana kau dasar pencopet!” seorang pria berseru tepat disebelahnya membuat Saemi meringgis dengan teriakan itu. Walaupun suasana ramai namun tetap saja teriakan itu membuat telinga Saemi berdengung.

Saemi melihat Ziyu yang di kejar-kejar oleh pria tadi. Dengan segera Saemi meletakkan kembali gelang pada tempatnya dan berlari menyusul.

“Yak bocah berhenti kau!”

Bocah kecil itu kebingungan karena jalan didepannya buntu. Dia membalikkan badannya dan melihat pria yang mengejarnya ada di hadapannya.

“Mau lari kemana kau? Kecil-kecil pintar mencopet. Sini kembalikan dompetku.”

Bocah kecil itu mengeleng seraya berjalan mundur.

“Sini sebelum aku melakukan hal kasar padamu.”

Pria itu mendekat dan hendak menangkap bocah kecil itu tapi tiba-tiba.

“Brukkkk!”

Seseorang menabraknya dari arah belakang membuatnya tersungkur. Saemi mengedipkan satu matanya. Ziyu bocah itu mengangguk dan segera berlari.

“Yak. Kau jangan lari.” pria itu bangun dari posisinya dan hendak mengejar bocah kecil yang berlari itu namun langkahnya berhenti karena sebuah tangan menahannya.

“Hei. Lepas. Oh kau pasti klompotannya?!”. ujarnya . Pria bertubuh jangkuk itu menyeritkan dahinya saat seseorang lebih tepatnya seorang gadis yang sedang memeluk kakinya kini sedang meraba-raba tanah.

Pria itu menghela nafas kasar. “Hei. Jangan beracting.”

Gadis itu tidak menjawab dan masih terus meraba-raba tanah.

“Hei!” pria itu sedikit menunduk lalu memiringkan kepalanya.

“Hei!” Pria itu melambai-lambaikan tangannya didepan wajah gadis yang tertunduk didepannya. Gadis itu tidak berkedip dan pandangannya kosong.

“Kau benar buta?” gumamnya.

“Bukan hanya buta kau bahkan tuli.” ucapnya kesal lalu mengambil tongkat yang tak jauh darinya.

“Terimakasih!” ucap Saemi dengan senyum manisnya membuat pria itu terpaku. Kenapa ia baru sadar kalau gadis didepannya sangatlah cantik.

Saemi berdiri dibantu pria itu lalu berjalan dengan tongkat. Pria itu hanya memandanginya.

“Selamat. Selamat.” batin Saemi sambil terus berjalan dengan tongkatnya.

“Hei. Kalau kau berjalan terus kesana maka kau akan masuk ke sungai.” pria tadi menarik Saemi.

Saemi hanya diam. Dia bahkan tidak sadar kalau di depannya adalah sebuah sunghai di kawasan perumahan sempit itu. Ia terlalu mendalami actingnya.

“Aku akan mengantarmu.” ujar pria itu.

“Yoon Saemi!” seorang gadis bertubuh sedikit berisi berlari mendekat kearah Saemi dan pria yang menuntunnya.

“Ah. Terimakasih tuan.” ucapnya seraya menarik Saemi.

“Apa dia temanmu?”

“Ya. Maaf kalau merepotkanmu tuan tadi kami terpisah.” jawabnya

“Jaga temanmu. Permisi.” ucap pria itu lalu pergi.

“Yoon Saemi apa yang kau lakukan?”

“Pria itu sudah jauh?” tanya Saemi

“Apa ini? Astaga kau beracting menjadi gadis buta? Dan dari mana kau mendapatkan tongkat sialan ini.” cerocos gadis gembul itu sambil merebut tongkat dari tangan Saemi.

“Entahlah. Aku mengambil asal milik seseorang tadi.” jawab Saemi.

“Astaga. Untuk apa hah?”

“Hanya iseng saja.” jawab Saemi sambil mengangkat bahunya dan menoleh kekanan-kirinya. Waspada jika pria itu masih ada disekitarnya.

“Aish. Lalu kenapa kau selalu menolak tawaran drama dan filem kalau begitu.”

“Stop it Lian!” ujar Saemi lalu melangkah pergi. Lian adalah manager Saemi.

“Kau ada acara malam ini. Pembukaan galeri seni milik mrs. Xing.” ujar Lian.

“Aku tau. Aku mau kesuatu tempat dulu. Mau ikut?”

“Tidak. Aku harus pergi mengambil gaunmu.” jawab Lian.

“Ya sudah. Hati-hati. Nantiku telepohone.” ujar Saemi.

Dan mereka berdua berjalan terpisah dengan arah berlawanan.

***

Saemi membuka gerbang rumah tua dengan pelan.

“Klek!”

Saemi melangkah pelan sambil melihat sekelilingnya.

“Uhuk. Uhuk…. ”

“Uhuk. Uhuk….” terdengar suara orang berbatuk.

“Ziyu?” panggil Saemi. Pintu yang terbuka itu membuat Saemi langsung bisa melihat Ziyu yang sedang bersama ibunya.

“Kakak?”

Bocah kecil tadi yang bernama Ziyu itu berlari kearah Saemi.

“Bagaimana ibumu?” tanya Saemi.

Ziyu hanya diam dan Saemi menghela nafas pelan. Saemi masuk kedalam dan tersenyum pada ibu Ziyu.

“Lama tidak berkunjung, Apa bibi jauh lebih baik?” tanya Saemi. Wanita yang sakit-sakitan, berbaring lemah diranjang kecil hanya mengeleng sebagai jawaban. Ia terlalu lemah bahkan untuk bersuara.

“Ibumu sudah minum obat?” tanya Saemi. Ziyu mengeleng sebagai jawaban.

“Dimana obatnya Ziyu?”

Saemi melihat bungkusan obat di lantai yang nampak kosong.

“Habis ya?” gumam Saemi sambil mengambil bungkusan itu.

“Obat yang kakak belikan sudah habis dua hari yang lalu.” jawab Ziyu sambil menunduk.

Saemi menghela nafas pelan. “Tunggu disini kakak keluar sebentar. Kau sudah makan?”

Ziyu mengeleng pelan. Saemi tersenyum dan mendekati bocah itu seraya mengelus kepalanya sayang.

“Apa mau ayam goreng?” tanya Saemi.

Ziyu mendongkak dan tersenyum manis. “Terimakasih kakak.”

“Jaga ibumu!” ucap Saemi dan berlalu pergi.

***

@.Taman kanak-kanak.

“Baik pelajaran cukup sampai disini. Jangan lupa kerjakan prnya di rumah nanti. Selamat beristirahat di rumah.” ujar Yan Mei dengan ceria kepada puluhan anak didiknya.

“Baik guru.” seru mereka kompak.

“Sebelumnya kita berdoa dulu. Tan kau pimpin teman-temanmu untuk berdoa.” ujar Yan Mei pada anak didiknya yang bertubuh gendut dan berwajah bulat itu.

“Baik guru.” jawabnya.

Setelah semua murid sudah selesai merapikan perlatan tulis dan memasukkanya kedalam tas. Yan Mei mengangguk memberi kode.

“Teman-teman mari berdoa. Berdoa mulai.” ucap Tan.

“Amin!” ucap mereka setelah selesai berdoa.

“Hati-hati dijalan ya. Tunggu sampai orang tua atau pengasuh kalian menjemput. Kalau belum beritahu guru.” ujar Yan Mei pada murid-muridnya yang kini satu persatu menciumi tangannya.

“Khem!” suara deheman seseorang membuat Yan Mei menoleh saat sedang merapikan peralatan mengajarnya.

“Lu.” Yan Mei tersenyum manis melihat Lu Han yang kini bersandar pada pintu kelas dengan gaya coolnya. Memasukkan kedua tangannya di saku celana.

“Kita makan siang bersama.” ujar Lu Han.

***

“Sepertinya kau sedang dalam suasana hati yang baik?” tanya Yan Mei sambil menyupit daging lalu memakannya. Yan Mei melihat wajah Lu Han yang berseri-seri hari ini. Tidak seperti beberapa hari lalu saat mereka bertemu. Kusut.

“Kau benar. Kau tau kasus yang pernah aku ceritakan. Kasus yang membuatku serta timku frustasi karena tidak bisa mendapatkan bukti?” tanya Lu Han sambil memasukkan sayuran dengan isi daging pada mulutnya.

“Kasus korupsi pembangunan rumah sakit daerah itu?” tanya Yan Mei.

“Ya. Kasus itu sudah selesai dan para pejabat tamak itu sudah masuk bui sekarang.” ujar Lu Han sambil tersenyum.

“Wah. Selamat ya. Senang mendengarnya.” ujar Yan Mei.

“Heem. Dan semua itu berkat bantuan Saemi.” ujar Lu Han masih dengan senyum manisnya. Yan Mei tersenyum kecut ketika mendengar nama Saemi.

“Saemi adalah dewi penolong untuk timku. Berkat dia beberapa kasus terselesaikan. Saemi sangat bisa di andalkan untuk menjadi mata-mata. Hahahaha…. ” Lu Han tertawa sampai makanan yang didalam mulutnya ada yang keluar.-_-

“Dia pintar untuk mengelabui beberapa pria dan membuat mereka bertekuk lutut hingga dengan mudah membeberkan rahasianya pada Saemi.”

“Iya dia memang hebat.” ucap Yan Mei setengah hati. “Lalu kenapa tidak kau tawari dia masuk tim mu saja.” imbu Yan Mei

“Tidak. Terlalu berbahaya pekerjaan itu. Biar saja ia jadi seorang model. Dia sangat menyukai dunia modeling.” jawab Lu Han.

“Aku memang kalah jauh secara fisik dari Saemi. Dia bahkan lebih cantik.” batin Yan Mei sambil mengigit daging dengan kesal.

“Oia sesuai janji aku akan mengajakmu ke sesuatu tempat.” ujar Lu Han.

“Kemana? Beijing menemui orang tuamu?” tanya Yan Mei antusias wajahnya ceria sekarang.

“Tidak. Aku akan mengajakmu ke Moskwa.” jawab Lu Han.

“Moskwa?” Yan Mei melemas.

“Heem. Rusia. Kenapa kau tidak suka?” tanya Lu Han.

“Kapan Lu kau akan memperkenalkan aku pada kedua orang tuamu? Kita sudah setahun lebih berpacaran. Tapi tidak pernah kau membawaku pada orang tuamu.”

“Nanti kalau aku sudah siap Mei. Kau tahu kan bahwa aku hanya akan mengajak satu kali gadis ke hadapan orang tuaku.” ujar Lu Han

“Iya. Aku berharap itu aku. Lu sebenarnya kau mencintaiku tidak si?” Yan Mei gemas sendiri pada sikap Lu Han yang begitu santai pada hubungan mereka.

“Tentu. Aku mencintaimu Liu Yan Mei.” ujar Lu Han dengan senyum manisnya. Membuat hati Yan Mei sedikit lega. Kenapa sedikit? Tentu karena Saemi.

“Kau serius pada hubungan kitakan?”

“Tentu saja. Kalau tidak hubungan kita tidak akan bertahan selama ini.” jawab Lu Han

“Lalu apa kau mencintai Saemi?” tanya Yan Mei

“Mei. Aku sudah bilang aku hanya bersahabat dengan Saemi.”

“Iya. Iya maaf. Lalu menurutmu lebih cantik aku atau Saemi?” tanya Yan Mei.

“Saemi.” jawaban singkat Lu Han begitu menusuk hati. Ya ribuan kali Yan Mei menayakan pertanyaan itu maka dengan tanpa ragu Lu Han akan menjawab Saemi. Kejamnya Lu Han. Bukankah biasa seorang kekasih akan mengatakan kekasihnya jauh lebih cantik ataupun tampan dibanding siapapun.

“Jangan cemberut. Hahahaha. Besok aku jemput, kita berangkat dengan penerbangan jam10 pagi.” ujar Lu Han.

“Iya.” jawab Yan Mei pelan. Tidakkah Lu Han peka terhadap perasaannya.

***

“Makan yang banyak.” ujar Saemi sambil tersenyum melihat Ziyu yang lahap memakan makanan yang dia belikan. Saemi melirik ibu Ziyu yang tertidur setelah minum obatnya.

“Ziyu jangan mencopet lagi. Untung tadi kakak melihatmu. Kalau tidak bagaimana. Kau tidak takut di tangkap dan dibawa ke kantor polisi?.” ujar Saemi sambil mengelus kepala Ziyu.

“Maafkan aku kak. Ziyu janji tadi yang terakhir. Ziyu han-”

“Sudah berapa kali kakak bilang. Datang pada kakak dan katakan kalau kau butuh sesuatu.” potong Saemi

“Aku tidak mau merepotkan kakak.” ujar Ziyu dengan pelan. Matanya berair.

Saemi mendongkakkan kepalanya supaya air matanya tidak jatuh. Saemi ingat pertemuan pertamanya dengan Ziyu. Saat itu Ziyu menjambret tasnya dan Lu Han mengejar Ziyu hingga tertangkap. Lu Han akan membawa Ziyu ke kantor polisi tapi di tahan Saemi. Hati Saemi tidak tega. Saemi merasa ada dirinya pada Ziyu. Karena Ziyu memang mirip dengannya. Senyumnya begitulah kata Lu Han.

Lu Han akhirnya setuju dan melepas Ziyu. Besoknya Saemi datang ketempat yang sama dan mencari Ziyu. Bertanya pada beberapa orang dan akhirnya ia bisa bertemu lagi dengan Ziyu, hingga hubungan mereka dekat seperti sekarang.

Ziyu sendiri sebenarnya tidak mudah dekat dengan orang asing. Tapi saat melihat Saemi yang tersenyum padanya ia merasa Saemi seperti seorang peri yang selalu menolongnya dan memang terbukti. Beberapa kali Saemi selalu menolongnya lolos dari kejaran orang-orang yang ia copet.

“Serahkan dompetnya pada kakak?” ujar Saemi.

“Aku belum memakai uang selembarpun dari dompet itu kak.” Ziyu menyerahkan dompet kulit berwarna hitam pada Saemi.

Saemi mengangguk sambil menerimanya. “Besok kau ambil bakpaw di kedai paman Bo. Kakak sudah membayarnya.”

“Wahhh. Benarkah? Kemarin kak Lu Han juga mentlaktirku bakpaw di kedai paman Bo. Bahkan mengajakku jalan-jalan kak. Melihat pertandingan bola. Kak Lu Han juga memberiku baju bola dan sepatunya. Katanya minggu ini dia mau mengajakku main bola.” ujar Ziyu semangat.

“Benarkah? Dia pintar sekali meracunimu untuk menyukai bola sepertinya.” ujar Saemi

“Kakak kenapa tidak menikah saja dengan kak Lu Han?” tanya Ziyu.

“Menikah?” ulang Saemi

“Iya. Kalian itu sama-sama cantik dan tampan. Juga baik dan ramah.” ujar Ziyu.

“Apa kami cocok?” tanya Saemi.

“Cocok!” Ziyu mengangkat dua jempolnya. Saemi terkekeh melihatnya.

“Ya. Aku berharap juga seperti itu.” batin Saemi.

“Ziyu kakak pamit pulang. Kakak ada acara malam ini. Pakai uang ini untuk membeli makan malam mu. Dan hubungi kakak jika terjadi sesuatu. Oke.” Saemi menyerahkan beberapa lembar dolar Hongkong pada Ziyu.

“Ibu peri terimakasih.” ujar Ziyu

“Kau ini.” Saemi mengecup dahi Ziyu.

“Bye Ziyu. Jaga ibumu ya. kakak titip salam.” Saemi melambai tangannya sebelum menghilang di balik pagar rumah tua itu.

“Hati-hati ibu peri!” seru Ziyu sambil balas melambai.

“Tuhan terimakasih kau mempertemukanku dengan ibu peri cantik.” ujar Ziyu.

***
@. Apartement Saemi.

“Darimana saja hah ?! Kau tau aku sampai lumutan menunggu di depan apartementmu. Hampir 1 jam kau tau. 1 jam.” Lian memberi telunjuknya di depan wajah Saemi.

“Ya. Ya maaf.” Saemi menekan password apartementnya.

“Kau ini dari mana saja si? Lihat acaranya akan dimulai 2 jam lagi. Aishhh…. ” Lian masih mengomel sedangkan Saemi mengambil minuman di lemari es.

“Jangan marah-marah terus. Cepat tua nanti. Lihat wajahmu mulai ada keriput.” ujar Saemi sambil menyerahkan satu gelas orange jus pada Lian yang langsung di tenggak habis.

“Ahhh!” Lian menaruh gelas kosong dimeja lalu membersihkan sisa bibirnya.

“Benarkah? Tua? Keriput?” Lian heboh sambil memegang wajahnya.

“Sepertinya aku harus perawatan besok.” gumam Lian.

Saemi hanya mengelengkan kepalanya melihat prilaku managernya.

“Aishh. Ini semua juga karenamu. Makanya kau ini menurut sedikit padaku.” ujar Lian.

“Apa?”

“Ada tawaran iklan kali ini kau harus menerimanya. Aku lelah harus menolak beberapa tawaran yang selalu datang. Drama filem iklan dan lain-lain. Kau ini kesempatan di depan mata tapi selalu di lewatkan.”

“Jangan mulai Lian.”

“Aku heran denganmu. Alasannya karena Lu Han? Kau tidak ingin jauh dari Lu Han? Takut jika kau sibuk dengan drama atau filem nanti tidak bisa bebas bersama Lu Han. Ka-”

“Diam!” teriak Saemi.

Lian mengunci mulutnya rapat-rapat saat melihat wajah garang Saemi. Walaupun mereka seumuran, Lian lebih menghormati Saemi. Karena Saemi dia bisa bertahan hidup di negara Hongkong dan menghidupi keluarganya di China. Tapi di balik wajah cantiknya Saemi begitu menakutkan jika marah.

“Maaf.” gumam Lian pelan.

“Oke aku terima tawaran iklan itu. Aku ingin mandi jadi kau siapkan keperluanku.” ujar Saemi.

“Sip. Bos!” Lian bahkan melakukan posisi hormat pada bendera membuat Saemi terkekeh.

“Kau jauh lebih cantik jika seperti itu.” gumam Lian.

“Thanks manis.” ujar Saemi lalu masuk ke kamar mandi.

***

@.Apartement Mongkok city.

“Kau mau kemana hyung?” tanya seseorang yang kini sibuk di depan laptopnya. Dia membenarkan letak kaca matanya sambil menatap intens seorang pria tampan yang berpakaian rapi.

“Ke pembukaan galeri seni Mrs. Xing. Dan kau Oh Se Hun kenapa masih santai seperti itu?”

“Aku malas Kris hyung. Moodku sedang burung. Kau saja sana. Aku titip salam saja untuk Mrs. Xing.”

“Ck. Kenapa? Apa karena dompetmu yang kecopet. Sudah relakan saja. Lagi pula kartu kreditmu sudah di bekukan jadi tenang saja uangmu aman.” ujar Kris

“Bukan masalah isinya hyung. Kau taukan dompet itu dompet kesayanganku. Hadiah dari-”

“Oke. Aku mengerti.” potong Kris.

“Lagi pula aku juga harus menyelesaikan progam ini. Rencana kita.”

“Aku pergi dulu. Jaga rumah baik-baik. Dan kalau kau lapar panaskan saja makanan yang ada di lemari es.” ujar Kris sebelum pergi.

“Hati-hati hyung!” teriak Se Hun

***

@.Galeri Seni

Setelah berbasa-basi dengan pemilik galeri. Saemi dan Lian berkeliling untuk melihat-lihat lukisan disana.

“Hei aku mau ambil beberapa makanan di stan sana? Mau ikut tidak?” tanya Lian.

“Tidak. Kau saja sana.” jawab Saemi.

“Mau titip?”

“Kue sus.”

“Oke!”

Setelah Lian meninggalkannya Saemi melanjutkan untuk melihat lukisan yang di pamerkan. Saemi tertarik pada salah satu lukisan yang berdasar warna orange. Pemandangan senja disebuah pantai dengan kapal para nelayan.

“Senja itu indah. Tapi menyakitkan. Indah karena memberikan panorama yang menenangkan hati. Menyakitkan karena pergi dengan sisa kenangan panorama indah itu.” sebuah suara membuat Saemi menoleh dan tersenyum membuat seseorang itu terpaku.

“Senja itu hidup, hidup yang memudar. Pudar yang akan datang lagi saat lembab pagi menyapa. Pagi dan senja, itulah hidup manusia…. ” ucap Saemi dan berlalu pergi. Meninggalkan seorang pria yang diam terpaku.

“Oh tuan Wu Yi Fan!” seruan seseorang membuat pria bermarga Wu itu menoleh.

“Ah. Mrs. Xing.” sapanya.

“Anda sendiri. Dimana tuan muda Oh?” tanya Mrs. Xing.

“Dia tidak bisa datang. Dia meminta maaf dan menitipkan salam.” ujar Kris.

“Ah. Tuan muda satu itu memang terlalu sibuk. Dia benar-benar hebat. Menjadi pembisnis muda yang begitu di kagumi.” ujar Mrs. Xing

“Apa kau tertarik pada lukisan itu?” tanya Mrs. Xing. Kris menoleh dan menatap lukisan itu. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya.

“Ya.” ujar Kris.

***

Kris sedari tadi sibuk berkeliling hampir seluruh sudut galeri untuk mencari seseorang. Seseorang yang menarik, yang membuat hatinya bergetar.

“Ah itu.” Kris mendekat pada gadis yang kini duduk di sudut seorang diri yang tertutup karangan bunga ucapan.

“Kau disini ternyata.” ujar Kris sambil tersenyum.

Saemi menoleh saat seorang pria duduk disampingnya.

“Kau suka menyendiri?” tanya Kris.

“Kenapa?” tanya Saemi.

“Aku mencarimu. Wu Yi Fan kau bisa memanggilku Kris.” Kris mengulurkan tangannya.

“Ah. Yoon Saemi.” Saemi menerima uluran tangan Kris.

“Girl Korea?” tanya Kris.

“Ya. Kenapa?” tanya Saemi.

”Gwenchanna.” ujar Kris

“Kau bisa berbicara hangul?” tanya Saemi yang kaget karena pria disebelahnya bisa berbicara bahasa Korea.

“Pamanku orang Korea.” jawab Kris.

“Ahh. Arraso.” gumam Saemi dan mereka tertawa bersama.

Malam yang indah untuk Kris. Dimana ia bertemu sosok yang mampu menariknya dalam zona yang tidak ia kehendaki. Kris jatuh cinta pada pandangan pertama pada gadis Korea didepannya.

***

“Ya Mei.” Lu Han memasang hadset pada telinganya. Lu Han sedang fokus menyetir untuk pulang ke apartement Saemi.

“Kau dimana?” tanya Mei di sebrang.

“Perjalanan pulang. Kenapa?”

“Apa kau pulang ke apartement Saemi? Lu aku sudah pernah bilang padamu-.”

“Aku mencintai mu Yan Mei.” potong Lu Han.

“Aku juga mencintaimu. Baiklah selamat malam. Sampai bertemu besok.”

Lu Han hanya menghela nafas pelan dan lepas kasar hadsetnya. Entah karena nada bicara Yan Mei yang sendu dan kecewa atau pemandangan didepannya. Saemi baru saja turun dari mobil Lamborghini dengan seorang pria tampan yang membukakan pintunya.

“Terimakasih Kris.” ujar Saemi saat Kris membukakan pintu mobil untuknya. Sebenarnya Saemi akan membukanya sendiri tapi Kris menahannya.

“Sama-sama. Dan ternyata apartementmu hanya selisih 3 blok dari apartementku. Apa lain kali aku boleh mampir?” ujar Kris.

“Tentu. Apartement no 12.20 dan hubungi aku jika kau akan main.” ujar Saemi.

“Selamat malam nona Yoon.” ujar Kris sebelum masuk kemobilnya.

“Hati-hati!” ujar Saemi sambil melambaikan tangannya.

***

@.Apaetement Saemi

“Kau pulang dengan siapa?”

“Astaga!” seru Saemi kaget saat melihat Lu Han di belakangnya.

“Apa kau pikir aku hantu?” dumal Lu Han.

“Kau membuatku kaget Lu.” keluh Saemi sambil mengelus dadanya.

“Kau belum jawab pertanyaanku. Pulang dengan siapa?”

“Ah. Dengan teman.” jawab Saemi sambil melepas sepatu hak tingginya dan menganti dengan sandal rumah.

“Teman pria?” tanya Lu Han

“Iya.” jawab Saemi.

“Siapa namanya. Umur. Pekerjaan. Ti-”

“Aku lelah Lu.” Saemi menyumpal mukut Lu Han dengan stokingnya.

“Yoon Saemi!” teriak Lu Han murka.

“Hahahaha….”

***

“Jangan ngambek terus Lu. Maaf.” ujar Saemi sambil melirik Lu Han disampingnya yang sedari tadi terus cemberut. Mereka sedang menonton filem kesukaan Saemi. Kartun naruto.

“Aku bahkan harus berkumur selama 2 jam untuk membuat kuman pergi dari bibirku ini.” ucap Lu Han.

“Berlebihan.” batin Saemi

“Aishh. Aku bahkan sudah mencium bibirmu. Apa masih kurang.” ujar Saemi kesal sambil melempar keripik kentang pada Lu Han.

“Ya. ya. Sebaiknya kau persiapkan barang-barangmu.”

“Kenapa?” tanya Saemi sambil memakan keripik kentangnya.

Lu Han mengambil sesuatu dari saku celananya.

“Wow. Moskwa?” ujar Saemi saat mengambil sebuah tiket pesawat yang Lu Han letakkan di atas meja.

“Ya. Temui aku disana. Besok jam 10 aku berangkat lebih dulu, karena kau ada jadwal pemotretan jadi aku ambilkan jam 2.” ujar Lu Han.

“Aku juga sudah bicarakan ini pada Lian. Ya sedikit menyuap. Mulut nenek sihir itu benar-benar tipis” ujar Lu Han.

“Bukankah kalian itu sangat cocok. Nenek sihir dan kakek sihir.” ujar Saemi.

“No ngak level.” ujar Lu Han.

“Hei. Jangan begitu. Kena tala loh.”

“Jangan mulai Honey. Sudah ayo kemasi keperluanmu. Aku bantu.” ujar Lu Han.

***

“Drrttt. Drrtt…. ” ponsel putih milik Saemi bergetar.

-From : 098777×××

-Apa kau sudah tidur? Maaf menganggu. Sebenarnya aku ingin menelephonemu tapi takut kau sudah tidur. Selamat malam. Ini aku Kris jangan lupa save numberku. ^_^…

Saemi tersenyum membaca pesan dari Kris. Dengan cepat dia membalasnya.

To : 089777×××

-Aku baru saja akan tidur. Selamat malam Kris. Mimpi indah. ^_^

Dan setelah pemberitahuan send Saemi meletakkan kembali ponselnya di nakas samping kiri ranjangnya.

“Siapa?” tanya Lu Han.

“Teman. Sudah lanjutkan tidurmu.”

“Pria?” tanya Lu Han sambil memeluk Saemi.

“Banci.” jawab Saemi. Membuat Lu Han terkekeh.

“Chup!” Lu Ha mengecup kilat bibir Saemi.

“Ayo tidur. Selamat malam.” ujar Lu Han.

Saemi hanya tersenyum lalu memejamkan matanya. Ia membalas pelukkan Lu Han.

Sang rembulan nampak bersinar terang dengan cahaya teduhnya. Beberapa serangga mulai berjalan untuk mencari tempat peristirahatan. Angin berhembus semakin kencang saat malam semakin larut membawa debu dan kertas untuk menari bersama. Jalanan kota masih nampak di padati beberapa mobil. Gemerlap lampu warna-warni di negara Hongkong nampak begitu indah. Aktivitas masih nampak di negara itu. Hongkong termasuk negara tersibuk didunia mengingat Hongkong negara ke 3 setelah New York dan London sebagai pusat keuangan dunia.

***

Saemi merasa indra penglihatannya terganggu oleh sebuah sinar hangat. Saemi menarik selimut untuk menutupi wajahnya. Ia masih sangat mengantuk. Terlalu disayangkan jika terbangun karena ia bermimpi indah.

“Hei!” Lu Han menarik selimut yang menutupi wajah Saemi.

“Please prince Beijing.” gumam Saemi sambil menarik kembali selimutnya.

“Honey. Ayo bangun!” Lu Han mengecup pipi Saemi.

“Aisshh. Iya iya.” dengan kesal Saemi bangun. Di lihatnya Lu Han sudah rapi dengan setelan jasnya.

“Ini jam berapa?” tanya Saemi sambil memejamkan matanya membuat Lu Han gemas.

“07.00 Honey!” Lu Han menyentil dahi Saemi.

“Aww… ” ringgis Saemi.

“Aku berangkat dulu. Ada beberapa urusan di kantor yang harus aku kerjakan sebelum berangkat ke Moskwa. Aku sudah buatkan sarapan untukmu. Ingat jangan meminum kopi. Tidak baik untuk kesuburan wanita jika sering mengkonsumi kopi. Jangan langsung meminum air dingin. Nanti kau sakit radang. Habiskan sarapanmu nanti. Aku berangkat dan sampai jumpa di Moskwa nanti.” ucap Lu Han lalu memberikan kecupan pada bibir Saemi. Sedangkan Saemi hanya mengangguk. Sudah biasa untuknya mendengar ceramah Lu Han.

“Ingat jangan langgar perintahku atau aku cium kau sampai kehabisan nafas.”

“Iya. Sudah sana. Hati-hati.” ucap Saemi.

“Aku pergi dulu.” Lu Han mengelus puncak kepala Saemi.

“Mandi jangan tidur lagi!” teriakkan Lu Han di luar kamar membuat Saemi menggerang kesal karena tidak jadi merebahkan tubuhnya.

“Ya. Sudah sana berangkat. Dasar kijang!” dumal Saemi.

“Aku mendengarnya.” seru Lu Han.

“Aishh. Telinganya itu frekuensinya berapa si?” dumal Saemi lalu bangkit menuju kamar mandi.

***

@.Apartement Saemi
01.00 pm

“Sudah tidak ada yang tertinggalkan?” tanya Lian

“Hmmm. Sudah.” ucap Saemi sambil membenarkan beberapa barang di dalam tas selempangnya.

“Dia benar-benar. Dia menyuapku dengan number milik Min Seok.” seru Lian.

“Hahaha. Kau harus berterimakasih banyak kali ini Lin padanya.” ujar Saemi.

“Ya. Kali ini terkecuali. Aku tunggu kau dibawah.” ujar Lian.

“Hmmm…. ” gumam Saemi.

Saemi melihat sesuatu yang asing pada tas yang tadi di pakainya. Ia tidak akan membawa tas itu. Tas merek Louis Vuitton keluaran bulan lalu. Dompet kulit berwarna hitam. Ah Saemi baru ingat ini milik pria yang kemarin Ziyu copet. Saemi membuka dompet itu.

“Wow. Kelihatannya dia orang kaya.” ucap Saemi saat melihat lembaran uang dolar Hongkong pada dompet itu.

“Ah. Cardnya juga.” gumam Saemi lagi.

“Oh Se Hun. Dia orang Korea.”

“Wajahnya sangar sekali saat di foto. Senyum sedikit kenapa.” ujar Saemi saat melihat kartu pengenal pemilik dompet itu.

“Tampan si. Dan ya masih muda.” gumam Saemi lalu memasukkan lagi dompet itu di tas dan menyimpannya di lemari.

“Aku akan mengembalikannya setelah pulang dari Moskwa.” gumamnya.

***

@. Bandar udara internasional Hongkong.

“Jangan lupa berikan itu pada anak bernama Ziyu. Kau mengerti.” ujar Saemi

“Iya. Iya.” ujar Lian.

“Tenang aku akan bawakan oleh-oleh untukmu.” ujar Saemi

“Tas limited editon keluaran terbaru Louis Vuitton ya.” ujar Lian.

“Kepalamu!”

“Aaa…. ” ringgis Lian saat Saemi menjitaknya.

“Aku berangkat ya!” Saemi melambai dan berjalan ketempat pemeriksaan paspor.

“Hati-hati!” seru Lian.

***

Setelah melewati proses pengecekan paspor serta naik kereta cepat untuk sampai di pesawat. Kini Saemi sibuk mencari nomor bangku tempatnya, rupanya tidak sulit. Saemi dapat menemukannya dengan mudah, berada di baris tengah dan memojok dekat dengan jendela. Setiap barisan hanya menampung dua bangku.

“Huft.” gumam Saemi setelah menaruh tasnya di kabin.

Saemi langsung duduk ditempatnya yang dekat dengan jendela. Lu Han sangat mengerti dirinya. Saemi memang sangat suka jika duduk dekat jendela saat naik pesawat. Alasannya karena ia merasa seperti menyentuh awan putih yang lembut. Saemi merasakan seseorang duduk disebelahnya. Ia menoleh dan matanya melebar.

“Omg.” jerit Saemi dalam hati lalu mengambil koran dan membukanya lebar-lebar untuk menutupi wajahnya.

“Aku kan mimpi indah semalam.” gumam Saemi. Ia memejamkan matanya. Seseorang yang duduk disebelah adalah seseorang yang beberapa hari lalu dompetnya di copet Ziyu. Pemilik dompet yang tadi sempat di lihatnya. Jelas Saemi masih ingat rupa wajah orang itu. Saemi tidak akan bersikap seperti ini kalau bukan ia beracting dan menipu pria itu untuk membantu Ziyu.

“Mati aku.” batin Saemi. Rasanya ia ingin lenyap dari bumi sekarang.

“Bagaimana bisa kebetulan begini. Oh Tuhan apa kau sedang menghukumku? Dari banyaknya orang yang akan berpergian dengan pesawat kenapa harus dia. Dan kenapa dia harus ada disini? Di pesawat ini. Bukankah banyak pesawat. Bukankah banyak jam penerbangan. Kenapa harus dia yang duduk disebelahku.?” banyak pertanyaan yang Saemi ajukan di dalam hatinya.

“Hebat sekali bisa membaca koran dengan huruf terbalik.”

“Bodoh!” batin Saemi sambil menepuk keras jidatnya. Saemi benar-benar ingin di kuburkan hidup-hidup di makam kota Mongkok. Ah tidak lempar di samudra luas Hindia.

Se Hun menatap aneh seseorang yang duduk disebelah. Sebenarnya ia tidak ingin peduli. Tapi melihat orang itu yang membaca koran dengan terbalik sungguh membuat Sehun tidak bisa menahan tawanya.

Saemi menghela nafas pelan lalu menurunkan korannya. Ia menutupi wajahnya dengan rambut coklat pekat pajangnya. Saemi berniat mengambil maskernya. Setidaknya benda itu yang bisa menolongnya. Dengan alasan sedang flu atau apalah nanti ia lontarkan jika ditanya.

Se Hun menyeritkan dahinya. Ia sedang berpikir sekarang. Kenapa ia merasa kenal dengan orang yang sedang ia tatap sekarang.

“Kau?” Se Hun menarik bahu Saemi.

Dan. Benar.

“Jederrrrr!” Saemi merasa disambar petir sekarang saat pria disampingnya menarik bahunya membuat ia langsung berhadapan dengan pria itu.

“Kau?” ucap Se Hun

“Oh siapapun tolong lempar aku dari pesawat ini sekarang!” batin Saemi.

“Ternyata kau tidak buta.”

Tbc…

Advertisements

2 thoughts on “[FF FReelance] Hay Bridal Chapter 1

  1. Huaaaahh kerennn, luhan ma saemi mank dh kyk pcran -_- kesian ma yanmei sihh tpi laahh dh biasa, ckup greget pas yanmei nanya cntikkan siapa -_- kirain plih yanmei eeehh mlh plih saemi, next chap-nya ditunggu HWAITING!!!

    Like

  2. Huaaa..
    Keren Bget ne ceritanya..
    Pnasaran ma akhir hbngan Lu ge n Seami..
    Lnjut Thor..
    Jgan lama2…

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s