Namitsutiti

[FF Freelance] The Other Star

1 Comment


gfh

Tittle      : The Other Star

Cast       : JeonJungkook | Jung Eun Seok (OC)

Genre    : Romance,friendship

Rating    : Teen

Length   : OneShoot

 

o0o_

“Hh..”

 

Sebuah nafasterhela panjang begitu Ia membaringkan diri di hamparan rumput yang luas.Seorang gadis dengan baju berlengan panjang itu kini bergumam lirih. Tatapannyatertuju lurus ke atas langit. Pikirannya mulai bosan, membuatnya memutuskanuntuk memejamkan mata sejenak. Namun masih akan tetap terjaga.

 

Anginberhembus sekali lagi. Menerpa wajahnya yang sedang terpejam. Sejuk memang. Mengabarkanbahwa beberapa minggu lagi akan tiba musim dingin. Sudah lama rasanya sejakmusim berganti. Gadis itu sangat menantinya.

 

Dari arahbelakang, terdengar langkah berlari mendekatinya baru saja berhenti. Gadis itutersentak. Sontak membuka mata dan mendapati wajah lain. Lebih tepatnya, wajahyang kini berada tepat di atas wajahnya, tengah tersenyum konyol padanya.

 

“Lama!” Ketusgadis itu seraya mengerlingkan wajahnya. Berusaha menghindari tatapan yang kininampak terkejut dari laki-laki itu.

 

“Yak, Eun Seok-ah,mianhae.” Sesal lelaki itu dan mulai bergerak ke sisi lain. Ikut berbaringseperti gadis yang bernama Eun Seok itu, tepat di sampingnya. “Aku baru sajapulang ke rumah, mian.” Jelas lelaki itu. Namun tampaknya Eun Seok tak mautahu. Gadis itu masih merajuk.

 

“Ne.Arraseyo.” Gadis itu mengangguk kesal. Melihat itu, lelaki di sampingnyatertawa lega. “Yaak! Apa yang kau tertawakan Jeon Jungkook?!”

 

“Anniya. Hey!Lihat ini! Sepulangnya, Appa memberiku ini!” Seru Jungkook tiba-tiba. Seolahterlupa bahwa gadis itu masih kesal karnanya. Eun Seok akhirnya menoleh malas,mencoba menyembunyikan rasa keingin tahuannya karna lelaki itu mulaimelambai-lambaikan sebuah majalah berjudul Stars di tangannya. “Semuabintang ada disini!” Lanjutnya lagi.

 

“Aku tidakmengerti tentang itu.”

 

Jungkookberdecak putus asa. Jika dihitung, mereka tak hanya sekali dua kali bertemu.Tapi hampir 11 tahun mereka menghabiskan waktu bersama-sama. Merajut kisahdengan sebuah ikatan persahabatan. Lalu, kenapa gadis ini masih tidak mengerti?Padahal setiap kali bertemu, Jungkook mendongenginya dengan cerita-ceritamenakjubkan tentang dunia luar angkasa. Khususnya tentang bintang. “Kau masihtidak paham dengan dunia angkasa?”

 

Jangnan –bercanda–.Tentu saja aku hafal. Bukankah kau selalu menceritakannya setiap saat?”

 

“Yaak! Orion!”Pekik Jungkook yang rupanya sudah sibuk dengan majalah barunya. Sedangkan EunSeok mulai berdecak kesal. Tangannya dengan ringan mulai terayun dan kinimenjambak poni rambut laki-laki itu gemas. Masih dengan posisi berbaring mereka,Jungkook mengerang sakit. “Apheo –sakit– Eun Seok-ah! Kenapa sih?”

 

“Kau takmendengarkanku!” Protes Eun Seok. Gadis itu mulai merajuk lagi. Mau tak mau,Jungkook harus menutup majalah barunya. Berpaling dan mulai menunggu gadis itubicara lagi.

 

“Mianhae.Jangan marah terus menerus Eun Seok. Umurmu sudah 16 tahun sekarang.”

 

“Memangnyakau? Umur 17 tahun tapi masih bersikap kekanak-kanakkan.” Cibirnya. “Lagi pula,tahun depan, aku akan berumur 17 tahun. Kita akan setara!”

 

Jungkooktertawa kecil. Menganggap kalimat barusan itu adalah kalimat yang lucu. NamunEun Seok tak begitu menerimanya. Tangannya kembali menjambak rambut Jungkook.“Eun Seok! Apheo!”

 

Kali ini EunSeok-lah yang tertawa. Sedangkan Jungkook masih mengelus rambutnya dengancengiran kuda menyedihkan. Setelah itu, mereka terdiam lama. Padahal malam telahmenyisir langit. Matahari telah lama kembali ke peraduannya.Menampakkanbeberapa gemerlipan bintang bak sebutir gula pasir yang bening dan bercahaya.Sangat indah.

 

“Indah bukan? Bintangitu… selalu indah.”

 

“Kau sudahmengatakan kalimat itu berulang kali Jungkook. Mereka memang indah.” Eun Seoktersenyum simpul. Kali ini ia membiarkan laki-laki itu terbang dengankhayalannya sendiri. Mereka terdiam lagi, cukup lama. “Kau menemukan bintangmu?”Tanya Eun Seok akhirnya. Namun Jungkook menjawabnya cepat dengan sebuahgelengan.

 

“Aku belummenemukan yang benar-benar terang.”

 

“Memang rasibintangmu tidak terlihat ya?” Jungkook menggeleng. “Bahkan sampai sekarang akujuga belum menemukan bintang favoritku.” Eun Seok mendesah kecil. Lagi-lagikembali terdiam.

 

“Eun Seok.”Panggil Jungkook lirih. “Aku ingin menghadiahkanmu sesuatu saat kau berulangtahun nanti.” Ujarnya sembari menatap Eun Seok di sampingnya yang kini jugaikut menatapnya. Eun Seok tersenyum lagi.

 

“Jinjjayo? Apaitu?”

 

“Tentu sajarahasia. Aku berharap kau menyukainya nanti. Akan kutemukan rasi bintangfavoritmu.”

 

MendengarJungkook akan memberinya kejutan, Eun Seok dalam hati bersorak bahagia. Apalagisoal rasi bintangnya yang belum ketemu. Meski bukan hari ulang tahunnyapun, Jungkooktak pernah absen untuk memberinya kejutan, hadiah, dan segalanya yang membuathatinya bergejolak bahagia. Mereka sudah bertahun-tahun bersama. Selama itupunJungkook tak pernah berubah. Ia  masihsama. Laki-laki berparas tampan dengan kehangatannya. Selalu berada disampingnya meski akan selalu bercerita panjang lebar tentang dunia luarangkasa-nya. Eun Seok tak peduli. Selama laki-laki itu ada di sampingnya, iasanggup menjadi pendengar yang baik untuknya. Selalu ada saat laki-laki itumembutuhkannya. Menemani laki-laki itu saat ia sedang sendirian. Itu janjinya.Janji seorang sahabat.

_o0o_

 

BRRRAAKKK!!

 

“Yaak!!”

 

Eun Seokterlonjak begitu selimutnya ditarik paksa seseorang. Matanya dengan cepatmenangkap sosok jangkung yang kini menatapnya kejam. Jeon Jungkook. Laki-lakiyang semalaman menyita jam tidurnya sudah berada di hadapan ranjangnya, berdirisambil berkacak pinggang. “Apa yang kau lakukan di kamarku Jeon Jungkook!”

 

“Hei! Pemalas!Cepat bangun! Kau pikir hari Minggu itu hari tidurmu? Kau sudah berjanjipadaku!”

 

Eun Seok sebelumtersadar kembali menguap lebar. Lalu terbelalak begitu Jungkook mengingatkansebuah janjinya. Janji untuk mengajari laki-laki itu mengerjakan tugas sekolah.Eun Seok segera menggeser tubuhnya dan beranjak dari ranjangnya. Mulaimelangkah ke kamar mandi. “Nde. Arraseyo. Aku ingat.”

 

“Nah, begitu.Kutunggu di halaman belakang rumahku eoh? Mandilah dengan cepat!”

 

Eun Seokmengangguk malas. Kembali menguap dan masuk ke kamar mandi. Saat Jungkook mulaiberjalan keluar, kepala Eun Seok kembali menyembul. “Yak! Jeon Jungkook!Kuperingatkan padamu, jangan lagi masuk kamar perempuan.” Jungkook tersentakkecil, menahan tawa. “Aku bukan anak kecil lagi. Aku sudah dewasa.”

 

Tiba-tiba tawaJungkook meledak keras. Membuat alis di dahi Eun Seok bertautan, heran. “Kau…kau lucu!”

 

“Yaak! Keluarkau Jeon Jungkook !!”

 

_o0o_

 

Langkahnyabaru saja terhenti begitu ia sampai di sebuah gerbang tinggi yang berada tepatdi samping rumahnya. Eun Seok menghela nafas, lalu tersenyum gugup. Meski ia sadaria sering datang kemari, rasa berdebar ini tak juga memudar. Rumah Jungkook.

 

Mereka selamaini telah bertetangga cukup dekat. Ia dan Jungkook, maupun kedua orang tuanya,menjalin hubungan yang bisa dibilang cukup erat. Meski hanya dalam ikatan bertetanggadan juga persahabatan. Mereka sudah seperti tinggal di rumah yang sama. Terbuktikarna Jungkook dan Eun Seok tak jarang bolak-balik keluar masuk rumah untuksaling berkunjung satu sama lain.

 

“Kau sudahdatang?” Tanya Jungkook setelah menyadari kedatangan Eun Seok dengan sebuah wadahkaca lonjong yang dibawanya. “Kau juga berniat melanjutkan itu disini? Nantikubantu ya?” Jungkook melirik lagi butiran kertas warna-warni di dalam wadahkaca tersebut. Namun dengan cepat Eun Seok menyembunyikannya.

 

“Andwae! Hanyaaku yang boleh membuatnya!”

 

Jungkookbergumam kesal. Ia merasa kecewa. Gadis itu kini sudah duduk di bangku dihadapannya. Mulai sibuk memilih-milih kertas dan mulai melipat-lipatnya serius.Sedangkah Jungkook kembali menekuni buku bacaannya, serta buku tulis berisibeberapa kalimat soal yang membuatnya pusing akhir-akhir ini.  “Eun Seok, yang ini apa jawabannya?”

 

“Yang mana? Oh,Aku memakai rumus seperti ini saat membuat soal nomor ini. Coba kau hitung.”Eun Seok menunjuk sekilas ke sebuah kolom catatan yang tertera di buku cetakdengan telunjuk, lalu kembali sibuk dengan kegiatannya.  Jungkook bergumam, lalu mencoba membuatnyasecara mandiri. Jungkook kembali bertanya untuk beberapa soal setelahnya. Namunsekian lama pula Eun Seok mulai mengeluh terganggu. Membuat Jungkook berdecakkesal.

 

“Sebenarnya,kau kemari untuk mengajariku untuk membuat pr atau melipat butiranbintang kertas ini?! Aku benar-benar tidak paham dengan soal-soal ini! Yak! EunSeok!”

 

Gadis itumenoleh malas. Tak ada raut menyesal di wajahnya. Membuat Jungkook segera berteriakfrustasi. Eun Seok terkekeh kecil. Menghentikkan kesibukannya dan mulaiberpaling pada Jungkook. “Yang mana yang tidak kau mengerti hm? Yang ini?”Tanya Eun Seok berubah antusias. Jungkook yang awalnya berwajah kesal mendadaksirna. Ia mengangguk. Wajahnya bahkan sudah mirip dengan anak kecil sekarang.

 

Saat Eun Seok sibukmenggarap PR milik Jungkook, lelaki itu justru nampak mengeluarkan sebuahmajalah dari dalam ranselnya. Ia tertegun sesaat, lalu matanya mulai sibukmenyapu tekun ke atas bacaan. Sibuk memahami dan memanggut-manggutkan kepalanyasesekali ketika dirasanya ia mengerti. “Uwaah.. rasi bintang apa ini?” Gumamnyayang langsung membuat Eun Seok mendongak. Gadis itu tersentak sebelum akhirnyameneriakki Jungkook yang terasa sedang mengerjainya. Bukannya memperhatikkan,laki-laki itu malah sibuk dengan majalahnya.

 

“Jungkook!!Kenapa kau malah sibuk membaca majalah astronomi-mu?! Kau mengerjaiku eoh?!!”

 

Kini gantianJungkook yang tersentak. Laki-laki itu menyengir kuda, terlihat konyol. MembuatEun Seok tiba-tiba bangkit dan berjalan menjauh dari meja belajar mereka. Tentusaja dengan rasa kesalnya. “Yak! Mianhae Eun Seok, kau lama sih.” UngkapJungkook ikut bangkit dan berjalan mengekori Eun Seok.

 

Gadis itumemilih diam, meski Jungkook mendengar gadis itu mendengus merespon ucapannya.Eun Seok mendudukkan diri di atas papan kayu dudukkan ayunan. Matanya melirikJungkook yang berdiri di hadapannya mengawasi, lalu membuang wajah acuh takacuh. “Kau marah eoh?”

 

“Tentu saja!Kau selalu membuatku kesal!”

 

“Yaak!A..aiish, mianhae. Jangan marah lagi Eun Seok-ah.”

 

Eun Seok lamaterdiam. Sedangkan Jungkook mulai mendesah putus asa karna tak kunjungdimaafkan. Gadis itu seolah mendapat ide dan kembali mendongak menatapJungkook. Masih dengan wajah kesalnya. “Dorong.” Pintanya dengan suara ketus.

 

“Mwo? Dorongapanya?”

 

“Tentu sajaayunannya. Setelah puas, aku akan memaafkanmu.” Janjinya. Eun Seok sebenarnyatak benar-benar marah. Hanya saja, ia merasa kesal karna Jungkook selalu nampakmementingkan hobi dunia angkasanya. Hingga tega tidak memperhatikkan Eun Seokyang mati-matian mengajarinya mengerjakan tugas.

 

Jungkookmendelik hendak memprotes. Tapi apa daya? Dia tidak mau mendapat hukuman besokpagi karna tidak membuat tugas. Terlebih, ia tidak bisa lama-lama dimusuhi olehEun Seok. Gadis itu akan kehilangan senyum dan cerianya jika sedang marah.Jungkook tidak mau itu terjadi. “Oke. Tapi kau janji akan memaafkanku.” EunSeok mengangguk sekejap. Jungkook dengan segera mulai bangkit dan berdiri dibelakang ayunannya.

 

Lelaki ituperlahan mulai mengayunkan ayunannya. Membuat gadis yang terduduk ituterombang-ambing dengan nyamannya disana. Perlahan senyumnya mengembang.Tertawa kecil begitu melihat kedua kakinya melayang-layang di udara. Jungkookikut tertawa senang.

 

Persahabatanyang dirintis sejak lama cukup membantu meredakan pertengkaran yang kerapterjadi di antara mereka. Seperti kali ini misalnya. Meski hanya masalah kecil,mereka bisa saja saling diam sampai beberapa hari. Hanya kenangan dan sesekalisikap kekanakkan mereka pula yang entah bagaimana bisa memperbaiki itu dengan sendiri.Tak jarang pula salah satu dari mereka yang rela mengalah. Semua tergantungkondisi. Yang pasti, Jungkook maupun Eun Seok, keduanya tidak bisa lama-lamabertengkar. Mereka akan saling membutuhkan satu sama lain. Saling merindu danakan kesepian saat berpisah. Bak sepasang sepatu, begitulah mereka.

 

_o0o_

 

“Eun Seook!!”

 

“Jungkook?”

 

Gadis itumerapatkan mantelnya begitu memandang Jungkook berlari-lari kecilmenghampirinya. Keduanya tersenyum lebar. Memperlihatkan deretan gigi putihsatu sama lain. Jungkook sudah berdiri di samping Eun Seok sekarang.Menengadahkan tangan seraya menyaksikan butiran putih nan kecil itu salingberjatuhan ke tanah. Salju sudah seminggu ini turun.

 

“Aku baru sajapulang ke rumah. Maaf lama.”

 

Eun Seokmengangguk mengerti. Lalu kembali tersenyum. “Ne. Arraseyo. Aku juga barudatang.”

 

Gadis ituseolah mulai terbiasa dengan alasan Jungkook yang selalu berkata bahwa laki-lakiitu baru saja pulang ke rumah. Bukankah mereka sudah 11 tahun ini bersama?Bahkan tahun depan, mereka sudah terhitung 12 tahun bersama. Tak jarang jikaterkadang –tanpa– Jungkook mengatakannya pun, Eun Seok juga akan tahu sendiri.Sudah terbiasa.

 

“Kajja!” AjakEun Seok begitu bus yang dinanti sudah datang. Saat ini mereka akan pergi kesebuah distrik perbelanjaan di pusat kota. Memang tak begitu jauh. Namunmengingat salju kerap turun, Eun Seok memutuskan untuk pergi dengan naik bus.

 

Jungkook selamadi perjalanan hanya diam memandang keluar jendela. Sedangkan Eun Seok disampingnya berulang kali berdeham untuk mengalihkan perhatian laki-laki itu.Namun tetap saja laki-laki di sampingnya itu bergeming. “Jungkook? Jaljinaeseosseo?–baik-baik saja?–.”

 

“Em.” Gumamlaki-laki itu dan tersenyum tipis.

 

Mussun iriisseosseo? –apa ada yang terjadi?–.” Jungkook kembali menggeleng. Kali iniwajahnya terlihat muram. Begitu tersadar, Eun Seok kembali angkat bicara. “Bagaimanadirimu?”

 

“Huh? Apanya?”

 

“Kondisimu.Kau baru saja kontrol ke dokter kan? Bagaimana?”

 

“Ahh… sepertibiasa. Aku… belum menemukan jantung baru.”

 

Nafas Eun Seokterasa tercekat. Ia memang tak suka dengan kabar ini. Kabar yang selalumembuatnya mengeluh dan merasa kesal pada dirinya sendiri. Jungkook, alasanlelaki itu selalu datang terlambat pulang ke rumah adalah, karna ia sibukbolak-balik rumah sakit untuk mengontrol kesehatannya. Terutama jantungnya yangmemiliki riwayat yang cukup buruk. Jungkook, mengidap penyakit jantung.

 

“Pasti kauakan menemukannya. Umurmu tetap akan bertahan panjang Jungkook.”

 

Meski dugaanitu benar, Eun Seok tak ingin menganggap ini adalah kepastian. Semua orang taktahu, bahkan dokter yang menangani Jungkook sendiri tak akan tahu. Kapan laki-lakiini akan berhenti tertawa dan hanya akan berbaring terlelap. Waktu disaat layarmonitor pendektesi denyut nadinya tak lagi menunjukkan tanda-tandakehidupannya. Entahlah, Eun Seok hanya tak bisa membiarkan senyum dan wajahceria lelaki itu hilang begitu saja. Dan ia tak sanggup merelakannya, meskihanya sehari saja. Semenitpun bahkan juga tidak.

 

Eun Seoktampak menerawang jauh. Mengingat-ingat bagaimana pertemuan pertamanya denganJungkook kala itu. Ketika umurnya masih 6 tahun. Kurang lebih pertemuannya yangterjadi 11 tahun lalu.

 

Gadis itu nampaktengah duduk seorang diri di hamparan rerumputan yang luas. Matanya dengan nanarmenatap langit dengan air mata berlinang. Pandangannya mengabur. Namun ia bisatahu ketika tiba-tiba saja seseorang berdiri di belakangnya dan menengok tepatdi atas kepalanya. “Kau siapa?” Ia ingat betul kalimat pertama apa yangdilontarkan Jungkook saat itu. “Namaku Jeon Jungkook. Aku juga biasa dudukdisini. Apa kau berada disini juga untuk…menangis?” Ujar laki-laki itu yangjustru nampak peduli dengan keadaannya. Sedangkan Eun Seok hanya bergumamlirih.

 

“Janganganggu aku. Aku tidak ingin berteman.”

 

“Aku tidakmengajakmu berteman. Aku disini karna aku… juga ingin menangis.”

 

Saat itu EunSeok nampak tak peduli. Ia kembali menangis. Sedangkan Jungkook di sampingnyamulai merintih. Bahkan saat mereka mulai menangis bersamaan, Eun Seok masihnampak tak peduli. Beberapa saat setelahnya, mereka menangis dengan salingbertatap muka. Pemandangan ini justru membuat tangis mereka saling berhentisatu sama lain. Saling tatap sejenak sebelum akhirnya tertawaterpingkal-pingkal. Sejak saat itulah mereka mulai mengikat sebuah hubungan dalamsebuah ikatan persahabatan.

 

Mereka samasekali belum saling kenal saat itu. Tapi kehangatan yang diberikan Jungkookmembuatnya nyaman setiap kali disisinya. Jungkook kebetulan adalah tetanggabaru yang tinggal di samping rumahnya. Tiap kali merasa sepi, gadis itulangsung datang ke rumahnya. Bermain ayunan dan menilik bintang-bintang lewatteropong mainan Jungkook. Kenangan yang cukup indah.

 

“Melamun?”Jungkook membuyarkan lamunan tak terencana itu dan tersenyum simpul. Eun Seoknampak salah tingkah. Tapi akhirnya ia ikut tertawa juga. “Kita sudah sampai.Ayo!”

 

_o0o_

 

Langit nampakcerah meski sedang musim salju. Rasa hangat juga menjalar kesetiap sisi telapaktangan yang nampak saling memeluk itu. Eun Seok tersenyum sumringah begitumatanya menangkap hiasan lucu yang terpajang di salah satu etalase pertokoan.Sebuah jepit rambut berwarna merah dengan bintang kecil di atasnya. “Kau inginmasuk ke toko itu?” Tawar Jungkook yang langsung mendapat anggukan cepat EunSeok.

 

Masih denganbergandengan, mereka memasuki toko tersebut. Eun Seok sampai di dalam langsungmenghambur ke arah etalase. Tangannya berusaha menggapai-gapai jepit rambut itudengan susah payah. Jungkook yang menyadarinya lantas membantu gadis itu untukmengambilnya. “Kau suka yang ini ya?” Jungkook mengaitkannya pada rambut EunSeok. Membuat gadis itu terkekeh dan memanggut-manggut senang. “Cantik.”

 

“Aku kanmemang cantik.” Puji Eun Seok pada dirinya sendiri. “Ayo kita keluar.” Ajaknyaseraya melepas jepit rambut itu dan hendak mengembalikannya di etalase.Jungkook merasa heran.

 

“Ka..kau takingin membelinya?”

 

“Untuk apa?Aku suka bukan berarti aku harus memiliki.” Ujar Eun Seok tersenyum simpul.

 

“Tak  apa. Biarkan aku yang bayar.” Jungkook menariklengan Eun Seok. Gadis itu memanyunkan bibirnya. Merasa tak setuju dengantawaran Jungkook.

 

“Annieyo. Takusah Jeon Jungkook. Ini bukan kado natal yang kuinginkan darimu. Bukan yangini.” Gadis itu selangkah lebih maju.

 

“Tak apa.Anggap saja aku mentraktirmu.”

 

Jungkookmemandang gadis di sampingnya lagi dan lagi. Setelah keluar dari toko itu, EunSeok masih tetap mengenakkan jepit rambut manis itu. Jungkook telah memasangnyakembali. Gadis itu jadi lebih nampak cantik. Benar, sangat cantik.

 

Sesekali EunSeok menyentuh jepit rambut yang menggantung di rambutnya dengan sumringah. MembuatJungkook tak henti-henti tersenyum geli. Bila dipikir, rasanya sudah lama iatak menyadari bahwa gadis ini telah tumbuh dewasa. Wajahnya semakin menunjukkankedewasaan. Pipinya yang gemuk sudah tak terlihat lagi. Bahkan tubuhnya semakintinggi. Rambutnya juga mulai menjuntai panjang. Sangat cocok disandingkandengan jepit pita itu. Entah sejak kapan, ia mulai berpersepsi bahwa dimatanyaEun Seok adalah sosok gadis remaja yang cantik. “Jungkook? Yaak! Jungkook!” EunSeok berulang kali menggertak Jungkook yang tak henti-hentinya memandangnyadiam. Gadis itu mulai cemas.

 

“Mm..mwo? Ah,kau ingin makan ramyun? Ayo..ayo!”

 

“Yaak! Bukanitu! Jungkook, apa aku terlihat aneh? Kenapa kau diam saja dan menatapkuseperti itu? Apa dari tadi aku bicara sendiri? Aiish.” Gadis itu menggerutukesal sementara tubuhnya mengambil alih untuk duduk di sebuah bangku kosong dipinggir kolam ikan.

 

Jungkooktersentak. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya ia ikut duduk disamping Eun Seok. “Kau marah eoh? Eun Seok-ah, mianhae.”

 

“Akumenanyakan padamu sedari tadi. Kau ingin hadiah yang seperti apa untuk nataltahun ini? Tapi kau malah melamun menatapku.” Jungkook tersenyum geli.Sedangkan Eun Seok sudah memasang wajah hendak memprotes. “Kau mengerjaikusekarang?”

 

“Sebenarnya,aku tidak melamun Jung Eun Seok. Aku hanya…”

 

“Hanya apa?”

 

Jungkookmemilih diam. Kepalanya dengan gugup berpaling ke arah lain. Sementara Eun Seokmasih menunggunya bicara. “Jungkook? Aiish.. jebal, Jungkook.” Ujar Eun Seokyang kini berubah menjadi sebuah rengekkan yang terdengar manja.

 

“Sssh! Jeongmal,jangan berbicara seolah kau ini masih kecil. Kajja! Kita jalan lagi. Kau ingintahu apa yang kuinginkan? Tentu saja aku ingin kado luar angkasa, sebuah planetjuga tak apa.”

 

“Mwo? Dasaralien maniak!” Tukas Eun Seok merasa kesal karna Jungkook menertawaikepolosannya. Kali ini, mereka sudah asyik saling kejar di taman. Takmenghiraukan salju yang kembali turun. Mereka bahkan menikmatinya bersama.

 

_o0o_

 

Disinilahmereka sekarang. Dimana gundukkan salju berkumpul di sudut-sudut taman. EunSeok menghela nafas dan nampak gumpalan uap tipis nan lembut menyembul daridalam mulutnya. Cuaca memang sangat dingin, apalagi saat menjelang malam. Tapiia masih setia menunggu disini. Tak apa harus kedinginan, yang penting, ia bisabertemu.

 

“Eun Seok!”

 

Eun Seokmemalingkan wajahnya begitu mendengar seseorang meneriakki namanya. Senyumnyalangsung mengembang begitu melihat Jungkook sudah berjalan menghampirinya. “Apaaku lama? Mian, aku baru saja sampai ke rumah.” Ungkap laki-laki itu beralasan.

 

“Ne. Kau lama.Aku jadi kesal. Hahaha.” Eun Seok tahu ia sedang bercanda. Tapi laki-laki disampingnya justru menganggapnya serius. Ia langsung berwajah kusut. “Hei? Adaapa ini? Aku hanya bercanda Jeon Jungkook.”

 

“Bukan, bukanitu. Aku hanya ingin bercerita sesuatu.”

 

“Ah, tentusaja. Ceritalah. Eng… kalau soal luar angkasa juga tak apa.” Eun Seok berubahantusias. Sedangkan Jungkook nampak berfikir.

 

“Ada kabarbaik sekaligus buruk. Mungkin untuk dirimu hanya akan nampak kabar baiknyasaja, tapi untukku…”

 

“Sudahceritakan saja.”

 

“Di rumah sakit,aku sebenarnya punya kenalan. Dia gadis yang baik. Dia juga sakit. Dia sudahbertahun-tahun mengidap tumor otak. Setiap berkunjung kesana, aku selalubertemu dengannya. Kita memang tidak begitu dekat. Tapi aku senang bisaberteman dengannya.”

 

“Ka..kau? jadikabar baiknya itu?” Tanya Eun Seok skeptis. Namun Jungkook segera menggeleng.

 

“Bukan. Bukanitu. Kabar baik yang sesungguhnya itu, aku sudah menemukan jantung baru.”

 

“MWO?!!” EunSeok kini terpekik girang. Dia memukul-mukul pundak Jungkook seraya mengucapkanselamat. Bukannya ikut tertawa, Jungkook justru tersenyum nanar. Raut wajahnyaterlihat amat sedih. “Yaak? Lalu kenapa kau malah terlihat sedih? Ada apa?”

 

“Kau tak akanmengerti Eun Seok-ah.” Jungkook menoleh menatapnya. Matanya terlihat sangattersiksa. “Karna jantung baru itu, adalah milik… gadis itu.”

 

Eun Seoktercekat. Ia menatap Jungkook dengan pandangan tak percayanya. Sebenarnya adabeberapa pertanyaan lagi yang ingin ditanyakannya. Tapi melihat Jungkookberwajah sedih, Eun Seok tak kuasa mengatakannya. Laki-laki itu nampakmenghembuskan nafas. Alhasil gumpalan uap keluar dari dalam mulutnya. Eun Seokmemalingkan muka. Membiarkan laki-laki itu sibuk bergelut dengan pikirannyasendiri. Sementara dirinya akan sibuk menerka-nerka dalam hati. Mungkinkah,mungkinkah Jungkook menyukai gadis itu?Begitu batinnya.

 

Jajaranbintang diatas langit seolah ikut terdiam. Sinarnya nampak redup. Seredup hatiJungkook kali ini. Eun Seok juga masih terdiam. Masih membiarkan laki-laki itusibuk bergelut dengan pikirannya. Namun tiba-tiba Jungkook menyandarkankepalanya di bahu Eun Seok. Membuat gadis itu menoleh dan angkat bicara. “Kaumasih sedih eoh? Setidaknya, dia akan hidup di dalam tubuhmu. Dia masih akanberdetak di dalam tubuhmu.” Ujar Eun Seok. Setidaknya mencoba membangkitkansemangat Jungkook. Tapi laki-laki itu malah berdecak.

 

“Kenapaucapanmu seperti itu?”

 

“Bukankah kaumenyukainya?” Kali ini Eun Seok yang berdecak.

 

“Anniya. Akutidak menyukainya.”

 

“Lalu kenapakau sedih?”

 

“Aku hanya…tidak bisa. Dengan begitu, dia akan kehilangan harapan hidupnya. Meskipundokter bilang hidupnya tak akan lama lagi.”

 

“Tau apadokter itu soal hidup?”

 

“Kadang memangbegitu. Tapi analisanya selalu benar.” Jungkook mengangkat kepalanya. Mendongakke atas langit. “Seandainya jantung baru itu tidak ada, disana… aku akanmenjadi apa ya? Bintang yang mana ya?”

 

PLAAAK!!“Yaak! Eun Seok!”

 

“APA YANGSEDANG KAU KATAKAN?!! DASAR BODOH! UCAPANMU ITU MENYAKITKAN!”

 

“Aku hanyaberandai!”

 

“Kau tak inginhidup lagi begitu?” Eun Seok merasa matanya memanas. Ia tak menyangka Jungkookakan mengatakan kalimat itu juga. Meski terkadang mereka tak akur, Eun Seok takingin jauh dari Jungkook. Ia ingin selalu ada disisinya. Namun mendengarJungkook mengatakan itu, sepertinya laki-laki itulah yang ingin menjauhkandiri. “Kau egois Jungkook.”

 

Jungkookmenghentikkan pergerakkannya yang mengelus kepala karna baru saja dipukul EunSeok. Ia merasa tercengang. Gadis itu menyembunyikan muka dengan pura-puramembuang muka. Padahal Jungkook tahu, gadis itu sedang menangis.

 

“Eun Seok? Kaumenangis?” Jungkook mencoba menilik ke wajah Eun Seok. Tapi gadis itu masihbersikeras menyembunyikan tangisnya. “Mian, aku tak bermaksud begitu. Tentusaja aku masih ingin hidup. Karna aku.. aku takut tidak bisa bertemu dengan EunSeok lagi. Aku akan kesepian, begitu pula denganmu.” Jungkook merasa nadabicaranya bergetar. Ia mencoba menilik ke wajah Eun Seok lagi. “Aku memilikiharapan hidup karna ada bintang yang terang di bumi ini. Bintang itu adalahdirimu Jung Eun Seok.”

 

Eun Seokmemalingkan wajahnya. Menatap Jungkook dengan air mata berlinang.

 

“Uljimma.Mianhae eoh?” Perlahan Jungkook mulai menghapus air mata Eun Seok. “Aku bisasaja kehilangan gadis yang menjadi teman baruku itu. Tapi aku tidak bisakehilanganmu.”

 

Eun Seokmenghapus sisa air matanya sendiri. Sedetik kemudian ia memeluk erat pinggangJungkook. Ia merasa sayang dengan laki-laki ini. Kata-kata tulusnya tadi telahberhasil meluluhkan amarahnya.

 

Sementara itu,Jungkook meletakkan dagunya di atas kepala gadis itu. Membalas pelukan eratnya.Memeluk gadis yang entah mengapa jadi terlihat lemah di hadapannya. Gadis yangmenjadi harapannya untuk hidup lebih lama lagi. Gadis yang selalu membuathatinya bernyanyi-nyanyi. Gadis yang satu-satunya membuat tubuhnya hangat danselalu nyaman. Seterang apapun bintang, tidak akan ada yang mampu menggantikansinar terang gadis ini. Jungkook sangat paham itu.

 

_o0o_

 

Jika kitatengok langit malam pada bulan Januari dan Februari, akan tampak sebuah polarasi bintang yang jelas. Tiga buah bintang cukup terang yang terletak sejajar.Ditemani bintang-bintang terang di atas dan bawah, juga kanan kirinya. Polayang seperti itu, orang akan menyebutnya sebagai pola bintang Orion. Salah saturasi bintang yang populer. Salah satu rasi bintang kesukaan Jungkook.

 

“Kaumelihatnya? Kau melihatnya?!!” Pekik Jungkook gembira. Tangannya nampak teracung-acungdengan semangat ke atas langit. Sedangkan Eun Seok sibuk menyusurilangit-langit yang memang nampak dipenuhi bintang. Gadis itu terlihat bingung.“Yaak, kau belum menemukannya?” Eun Seok menggeleng.

 

“Aku tidakpaham jika kau menunjuk-nunjuk seperti itu.”

 

“Aiish…Begini. Kau lihat tiga bintang sejajar yang terang itu?” Eun Seok akhirnyamengangguk paham. “Itu adalah sabuk Orion. Sedangkan tiga bintang sejajar yanglebih redup sebelah selatan itu menandakkan pedangnya. Di ujung sebelah kiri,itu namanya bintang Betelgeuse. Itu bahu milik Orion. Dibawahnya lagi,ada bintang Rigel. Itu adalah kaki Orion.”

 

Eun Seoktertawa kecil. Ia memang tidak paham dengan bintang. Tapi begitu Jungkookmenerangkannya, ia jadi sedikit mengerti. Dengan begitu, rasa kagumnya denganbenda luar angkasa ini menjadi meningkat. “Kenapa kau begitu menyukai Orion?”Tanya Eun Seok seolah tersadar sesuatu.

 

“Entahlah. Akumengaguminya karna dia seperti pemburu langit.”

 

“Pemburulangit?”

 

“Ne. Di dalamkisah mitologi Yunani, Orion jatuh cinta dengan Merope. Namun Orang tua Merope,Raja Oenopion tidak merestui mereka. Orion disihir sehingga mengalami tidurpanjang. Ia juga disihir menjadi buta. Dia terus berjuang hidup dan mendapatkanpenglihatannya kembali berkat sinar matahari. Ia hidup di Kretasebagaiseorang pemburu nan gagah. Kau tahu? Dewi Artemis pun jatuh cinta padanya. Tapidia malah membunuh Orion.”

 

“Ha? MembunuhOrion? Kenapa bisa?”

 

Jungkookmengedikkan bahunya. “Ditolak Orion mungkin. Hahaha.” Eun Seok yang bermukaserius ikut tertawa geli. “Sekarang, Orion dikenal sebagai rasi bintang yangsangat populer. Ia mendiami langit utara dengan ditemani dua anjing setianya. CanisMajor dan Canis Minor. TatapanJungkook menerawang ke atas langit. Ia memang begitu mengagumi rasi bintangOrion. Tapi mendengar Eun Seok hanya bergumam datar, laki-laki itu hendak melayangkanprotes.

 

“Lalu apa akujuga akan memiliki rasi bintang?”

 

Jungkookmengurungkan niatnya yang hendak mengajukkan protes saat akhirnya Eun Seokbertanya. “Emm, kau juga punya. Semua orang pasti punya. Rasi bintang seseorangditentukan dengan bulan lahirnya. Karna kau di bulan Februari awal, rasibintangmu adalah Aquarius.

 

“Aquarius? Diajuga punya cerita?”

 

“Tentu.”Jungkook menatap Eun Seok dengan senyum antusias. “Dia adalah kekasih DewaZeus. Namanya Genimede, gadis yang dijadikan abadi dan hidup di olimpus. Tempattinggalnya para dewa. Disana ia menjabat diposisi yang sangat istimewa, yaitu sebagaipembawa minum para dewa. Kedatangan rasi ini juga sangat istimewa bagi bangsaMesir kuno. Sehingga mereka menamainya dengan rasi bintang Aquarius.”

 

Eun Seokbersorak ramai. Ia baru tahu rasi bintangnya begitu sangat istimewa. Jungkooktertegun sejenak. Bukan karna Eun Seok merasa bangga dengan rasi bintangnya.Tapi karna senyum yang mengembang di wajah gadis itu. Eun Seok semakinmengeluarkan sinar misterinya. Sinar yang entah mengapa membuat jantungJungkook berdetak tak normal.

 

Perlahan laki-lakiitu menyentuh dadanya. Mencoba menenangkan diri karna degupan kencang ini.“Jungkook?” Panggil Eun Seok dengan nada cemas disana. Ia menyentuh pundakJungkook. Alih-alih mendapat sahutan, Eun Seok justru terkejut karna tubuhJungkook terjatuh. Laki-laki itu meringis kesakitan. Gadis yang awalnyaterkejut kini bertambah panik. “Jungkook! Jungkook!! Ireonna! Neo gwenchana?

 

“Eun Seok,sakiitt..”

 

_o0o_

 

Suara gemuruhkasur troli menggema kesetiap sudut koridor. Tak hanya itu, suara nafastersengal juga ikut mengiringi. Meski cuaca tengah dingin, keringat Eun Seoknampak mengalir deras. Di tangannya menggenggam sebuah tangan lain. Tangantubuh lelaki yang tergeletak tak sadarkan diri di atas ranjang troli. JeonJungkook, laki-laki itu pingsan setelah mendapat serangan jantung mendadak.

 

“Jungkook,Jungkook?”

 

“Maaf,tunggulah disini Nona.” Pinta seorang perawat padanya. Eun Seok menganggukpasrah. Kini kedua tangannya mengatup dengan tak sabar. Sementara suarapanggilan lain menggema ke arahnya.

 

“Eun Seok?Apa? Apa yang terjadi?”

 

“Ahjumma?Mianhae…” Ungkap Eun Seok yang langsung membalas pelukan Ibu Jungkook. Wanitaitu nampak cemas. Sedangkan dibelakangnya sudah menyusul Tuan Jeon yang adalahAyah Jungkook, beserta kedua orangtuanya. “Eomma… Aku takut.” Eun Seokberpaling. Kini memeluk cemas ke arah ibunya.

 

“Tak apa EunSeok. Jungkook akan baik-baik saja.”

 

Kali ini EunSeok semakin merasa waspada. Jungkook memang kerap mengeluh sakit. Tapi taksampai pingsan seperti ini. Apa waktunya semakin dekat? Apa seperti ini rasanyajika takut kehilangan? Lalu, apakah Jungkook masih memiliki waktu? Tolong,jangan sekarang.

 

_o0o_

 

Jauh di ataslangit, ada yang namanya bintang, ada bulan, planet, meteor, dan segalanya.Bahkan ada pula tempat yang lebih luas daripada bumi. Banyak hal menakjubkan diatas sana. Entah bagaimana Tuhan menciptakannya. Tapi semua hal tersebut sulitdinalar dengan pikiran. Yang jelas, semua hal itu nyata adanya.

 

Eun Seokmenutup majalah berjudul Stars versi terbaru yang kemarin sengajadibelinya. Ia bermaksud memberikannya kepada Jungkook saat menengok laki-lakiitu di rumah sakit. Senyumnya mengembang senang begitu Appa selesai memarkirkanmobilnya di area parkiran rumah sakit. Ia sudah sampai.

 

Sisa saljuyang meleleh tak memudarkan semangatnya. Berhati-hati ia melangkah memasukihalaman rumah sakit. Menelusuri koridor dengan langkah semangatnya. Appa masihberjalan di belakangnya. Membiarkan gadis kecilnya menikmati kegembiraannyayang akan menemui sahabat kecilnya. Tunggu, bukan lagi gadis kecil. Tapi gadisremajanya.

 

Langkah EunSeok terhenti begitu ia memasuki kamar Jungkook. Kepalanya melongok terkejut.Di ranjang itu tak nampak seseorangpun yang berbaring. Dimana Jungkook?

 

“Ada apasayang?” Tanya Appa cemas melihat putrinya itu diam.

 

“Jungkooktidak ada di ranjangnya!”

 

“Ah, Eun Seok?Kau baru saja datang ya? Jungkook sedang ada di taman. Kondisinya sudahmembaik.” Eun Seok dan Appa berbalik bersamaan. Mendapati Ibu Jeon tersenyum kearah mereka. Eun Seok dengan segera berlari ke arah jendela. Melongokkankepalanya dan menyusuri pandangannya dengan teliti.

“Appa,Ahjumma. Aku turun ke bawah.”

 

Gadis dengansyal lehernya itu berlari kecil menuju ke taman rumah sakit. Menengok kesanakemari mencari sosok laki-laki itu. Jungkook, apa benar laki-laki itu baik-baiksaja? Kenapa dicuaca sedingin ini dia malah kluyuran sendiri? Tapi… “Jungkook?”

 

Eun Seokakhirnya menemukannya. Jauh beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Jungkook,dari balik punggungnya Eun Seok dapat mengenalnya dengan pasti. Laki-laki itutak sendiri. Ada seorang gadis di sampingnya. Gadis yang sama sekali tak dikenalnyaitu nampak bersandar di pundak Jungkook. Eun Seok merasa ini bukan pemandanganyang baik. Ia kesal melihat pemandangan itu.

 

“Jungkook?Jungkook!” Panggil Eun Seok seraya melangkah mendakati kedua insan itu.Jungkook menoleh terkejut. Sedangkan gadis di sampingnya hanya melirik bingung.“Kenapa ada disini?”

 

“Ah, aku hanyaberjalan-jalan. Kau baru saja pulang dari sekolah?” Jungkook menatap Eun Seokyang masih mengenakan seragamnya. Senyumnya tentu saja mengembang senang. Tapitidak dengan Eun Seok yang tetap melirik aneh ke arah gadis di sampingnya. “Ohya, kenalkan. Dia…”

 

“Kenapa kaumenggelayut di lengan Jungkook seperti itu?” Tuduh Eun Seok tak suka. Gadisyang menggelayut di lengan Jungkook itu melengos sama tak sukanya. Ia justrumempererat pelukannya pada Jungkook. “Yaak! Kenapa kau..”

 

“Eun Seok,kenapa kau marah-marah?” Tanya Jungkook skeptis. “Su Jin Mi, kau juga kenapa?”

 

“Oppa, aku taksuka gadis itu.”

 

Eun Seokmembelakkan matanya. Tak percaya gadis genit itu memanggil Jungkook dengansebutan ‘Oppa’. “Kau pikir aku menyukaimu? Memang siapa kau?!!” Bentak EunSeok. Gadis itu memang tak bisa menahan ucapannya jika sedang tersulutamarahnya. Apalagi gadis centil itu yang terlebih dahulu memancing suasanapanas ini. Eun Seok yakin, salju akan meleleh saat ini juga.

 

“Eun Seok!Jangan membentak seperti itu!”

 

“Mwo? Kaumembelanya?”

 

“A..anniya.Aku hanya..”

 

“Bahkan kautak melepas tangannya yang menggelayut seperti monyet itu!”

 

“YAAK!!” Gadisdi samping Jungkook balik membentak. Ia merasa tak terima Eun Seok mengatainyaseperti monyet. “Kau kenapa sih? Kenapa datang dan marah-marah?”

 

“Aku tidakmarah. Aku.. Karna kau menatapku seperti itu!” Eun seok mencoba membela diri.

 

“EUN SEOK!”

 

“Jungkook! Kenapakau membentakku? Jadi disini aku yang salah begitu? Itu maksudmu? Baiklah!” EunSeok membalikkan badannya dengan kesal dan tak menghiraukan Jungkook yangberteriak berulang kali padanya. Eun Seok kesal karna gadis centil itu takhenti-hentinya menggelayut manja di lengan Jungkook. Ia tak suka pemandanganini. Dia merasa semakin kesal. Terlebih, saat dia berbalik tak mendapatiJungkook mengejarnya.

 

_o0o_

 

Dipertengahanmusim dingin, salju akan turun lebih lebat. Eun Seok menghelakan nafasnya lagi.Melepaskan gumpalan uap tipis yang keluar dari dalam mulutnya. Berdiam diri dihamparan tanah penuh salju sepertinya memang tak baik. Apalagi dia sedangsendirian.

 

Eun Seok sepertinyamulai merindukkan sosok cerewet itu. Sudah hari keempat semenjak pertengkarankecil itu terjadi. Benar, bukankah dia tidak bisa lama-lama berjauhan denganJungkook? Ia akan menengoknya sore ini juga. Tanpa memperdulikan dengan rasagengsinya. Lagipula, Jungkook selama ini sering mencoba menghubunginya.Sayangnya ia tak menghiraukannya. Dia jadi kapok sendiri.

 

Gadis itumulai bangkit. Berjalan menyusuri trotoar dan menunggu di salah satu halte. Memasukisalah satu bus dengan rute perjalanan yang telah ditentukannya. Sebelumnya Iasudah mengirim pesan kepada orang tuanya untuk meminta ijin pergi ke rumahsakit. Tapi ia tak memberitahu Jungkook tentang kunjungannya ini.

 

Eun Seokmengeratkan mantelnya lagi. Lalu mulai melangkah masuk begitu ia sampai dihalaman rumah sakit. Ia cukup gugup karna sudah empat hari ini tidak berbincangdengan Jungkook. Entah dengan wajah apa dia akan menemui lelaki itu. Rasanyamungkin akan sedikit canggung.

 

Langkahnyakini terhenti begitu ia sampai di depan kamar Jungkook. Alih-alih membukapintunya, Eun Seok malah berdiri mematung. Lagi-lagi ia mendapati pemandanganitu. Pemandangan dimana Jungkook tak sedang sendiri. Ada seorang gadis disamping ranjangnya. Menyuapinya dengan sebuah irisan apel. Laki-laki itu nampaksenang. Apalagi gadis itu. Ia nampak gembira menjaili Jungkook yang sedangdisuapinya. Entah mengapa kaki Eun Seok serasa berat untuk menghampirikeduanya.

 

Jika begini,apakah kata-kata ini masih bisa berlaku untuknya? Jika suka, bukan berartiharus memiliki? Tunggu, apa dia menyukai Jungkook? Jika tidak, mengapa sesakitini rasanya? Daripada memikirkan yang tidak pasti, dan terus memandang ini, EunSeok pun memilih pergi. Setidaknya untuk meredakan gemuruh di otaknya.

 

Disinilah iasekarang. Disebuah taman di dekat rumah sakit seraya menatap butiran salju yangmerinai turun. Ia tak peduli terhadap rasa dingin yang mulai menjalarmenyelimutinya. Ia hanya ingin sendiri. Biar saja dingin ingin menyelimutinya.Semoga kesepian ini ikut membeku dengan dirinya.

 

Eun Seokmenundukkan kepalanya. Entah apa yang sedang dipikirkannya kali ini. Hatinyamemang menjerit sepi. Tapi ia tak bisa mengungkapkannya dengan nyata. Bahkansebelum waktu itu datang, ia sudah terlebih dahulu kehilangan.

 

“Ternyatabenar kau disini.” Ujar seseorang membuatnya sontak mendongakkan kepala.

 

“Jungkook?!”

 

“Jadi kaumemutuskan untuk melihat bintang sendirian? Begitu, hm?”

 

Mata Eun Seokmulai memanas. Kini telah berhasil memproduksi air mata. Tangisnya pecah begitusaja. Padahal ia sendiri tak tahu, alasan mengapa dia menangis begitu saja.“Uljimma…” Pinta Jungkook dan duduk di sampingnya. Menarik pelan tubuh gadisitu agar bisa dipeluknya. “Kenapa menangis sih?”

 

“Kenapa kau melepasinfusmu dan datang kesini?”

 

“Karna akuingin menemuimu. Kau sedang sangat sedih ya?”

 

“Dasar bodoh!Disini dingin Jeon Jungkook, kembalilah ke kamarmu!”

 

“Kau lebihbodoh eoh? Aku tidak bisa tenang jika kau terus menangis seperti ini.” Eun Seoktersadar. Ia masih saja menangis. Sedangkan Jungkook mulai mengusap pipinyaperlahan. “Eun Seok, bukankah aku slalu ada di sisimu? Lalu, kenapa kau malahmenangis? Apa yang mengganggumu? Eomma melihatmu duduk disini sejak tadi. Kautak ingin menjengukku lagi hm? Kau tak merindukanku?”

 

Eun Seokburu-buru menggeleng. Siapa bilang ia tak merindukan laki-laki ini? Tentu sajaia merindukannya. “Katakan padaku yang sebenarnya kalau begitu.” Pinta Jungkooksekali lagi.

 

“Aku…aku sudahkekamarmu tadi. Tapi…”

 

“Kau melihatkudengan Jin Mi dan menjatuhkan ini?”

 

Eun Seoktersentak. Sesaat matanya terpaku saat Jungkook menyodorkan padanya sebuahjepit rambut. Ia meraba rambutnya panik. Benar, dia telah menjatuhkan jepitrambut pita merah itu tanpa sadar. Eun Seok akhirnya mengangguk di dalampelukan Jungkook. Sementara Jungkook tersenyum nanar. “Kenapa kau tak masuk?”

 

“Aku tidakbisa karna kalian terlihat bahagia. Dan bukankah gadis itu tidak menyukaimu?”

 

“Eun Seok,kenapa berfikir begitu? Dia tidak serius mengatakannya.”

 

“Jungkook, jebal,jangan membelanya di hadapanku. Dia sudah merebutmu dariku.”

 

“Haha,benarkah? Tapi nyatanya aku disini.”

 

“Aku juga taksuka gadis itu. Aku membencinya.”

 

Jungkooktercekat. Tawanya mendadak sirna. Eun Seok yang merasa heran dengan perubahanJungkook melepas pelukannya. Menatap laki-laki itu dengan bingung.

 

“Jungkook?”

 

“Eun Seok,tolong jangan membencinya.” Eun Seok mendesah. Membuang mukanya dengan lemah.Ia tak menyangka bahwa Jungkook akan membela gadis itu lagi. Laki-laki inipasti menyukai gadis itu. “Akan kuberitahu sesuatu padamu Eun Seok. Jin Mi, diagadis yang mengidap tumor otak yang pernah kuceritakan dulu padamu.” Eun Seokmenoleh terkejut. Wajahnya menyiratkan tanda tanya yang besar. “Benar. Diakenalanku yang akan mendonorkan jantungnya untukku. Hidupnya sudah tak lamalagi. Tinggal 14 hari lagi.”

 

Eun Seokkembali terbelalak. Sementara airmatanya kembali mengalir. Ia masih terkejut.Tapi inilah kenyataannya. “Dia bukannya tak menyukaimu. Dia hanya iri karna kaulebih cantik daripada yang kuceritakan. Aku sering menceritakan tentangmupadanya. Dia bahkan ingin bertemu denganmu. Umurnya lebih muda setahun dariku. Seumurandenganmu. Jika dia bisa hidup lebih lama, mungkin kalian akan cocok.” Jungkookmenyunggingkan senyumnya. Senyum antara bahagia dan sedih.

 

“ Temui diaEun Seok. Setidaknya agar ia bisa kembali bersemangat di sisa hidupnya.”

 

_o0o_

 

“Kemarin… kali terakhirnya ia menjalanikemoterapi.”

 

Jungkook menghela nafas panjangsebelum akhirnya ia menyunggingkan senyumnya. Eun Seok yang berada disampingnya mengangguk lemas. Menatap penuh sayu ke arah tubuh yang berbaringtenang di dalam sana. Gadis itu, Jin Mi, masih belum sadar sejak pengobatanterakhirnya kemarin. Eun Seok ingin segera menemuinya. Sekedar menyapa danmemberinya semangat. Tentu saja gadis itu ingat. Pertemuan pertamanya denganJin Mi tak begitu baik. Ia jadi makin merasa bersalah.

 

“Apa dia benar ingin bertemudenganku?”

 

“Tentu saja. Jika dia sudah sadar,kita akan kemari lagi menjenguknya.”

 

“Em.” Eun Seok mengangguk lemas.Membiarkan Jungkook kembali membimbingnya untuk berjalan-jalan ke area rumahsakit. Laki-laki itu meski sakit dia tak pernah bisa diam beristirahat.Jungkook selalu rewel jika disuruh istirahat. Itulah mengapa ia mengajak EunSeok jalan-jalan berkeliling rumah sakit. Sepertinya, Jungkook amat hafaldengan rumah sakit ini. Terbukti karna beberapa kali orang yang dilewatinyamengangguk menyapa.

 

Sementara Jungkook bercerita panjanglebar tentang rumah sakit yang nampak seperti rumah keduanya, Eun Seok justruterdiam. Dia tak benar-benar mendengarkan Jungkook. Pikirannya menarawang jauh.Wajahnya menyiratkan kesedihan. Bukan, tapi lebih menyerupai penyesalan yangmendalam. Terlebih pada gadis bernama Su Jin Mi itu.

 

“Eun Seok? Neo gwenchana?”

 

“Hm? Ah.. aku.. eh? kau bicara apatadi?” Eun Seok gelagapan salah tingkah. Sedangkan Jungkook terkekeh geli.“Mianhae. Aku…”

 

“Kau kepikiran dengan Jin Mi eoh?”Eun Seok mengangguk menjawab tebakan Jungkook. Laki-laki itu tersenyum lagi.Senyum yang sedih tepatnya. “Harusnya kau mendoakannya. Bukan memikirkannya.Dengar, bukankah jika dia sembuh, kau akan bisa bersahabat dengannya?”

 

Eun Seok tercekat. Nafasnya kali inimendadak sesak. Bukan karna ucapan Jungkook. Tapi jika itu terjadi…“Tapi kau tak bisa mendapatkan jantung baru.”

 

Kali iniJungkook yang tercekat. Senyumnya mendadak sirna. “Bukankah kau berjanji untukselalu ada di sisiku?”Tuduh Eun Seok. Jungkook bergumam lirih. Sedetik kemudian ia memalingkanwajahnya. Menatap salju yang merinai indah di luar jendela. Tatapannya sejenakmenerawang.

 

“Aku..memang berjanji itu. Tapi, bukankah kejam jika aku merebut kehidupan seseorang?Tuhan sudah menggariskan semuanya dalam takdir. Kau tak boleh…”

 

“Aku takmengerti Jungkook. Aku sangat tidak mengerti.” Mata Eun Seok mulai memanas.Perlahan langkahnya mulai melangkah mundur. Membalikkan badannya dan berlarisecara mendadak. Jungkook terkejut. Namun ia memilih bergeming. Membiarkangadis itu menggemakan tangisnya ke setiap sudut koridor. Jungkook merasa kalut.Ia juga tidak tahu, ke jalan manakah dia akan menjalani takdirnya. Iamenyayangi Eun Seok, tapi kehidupan seseorang lebih berarti dari apapun.Tegakah ia merebutnya jika masih ada harapan?

 

_o0o_

 

Dua harikemudian…

 

Saljuturun baru saja berhenti ketika Eun Seok berdiri di ambang pintu kaca di sebuahkoridor. Ia nampak menarik nafas dalam, sebelum akhirnya ia memasuki ruanganserba putih itu dengan langkah ragunya. Eun Seok tersenyum, lalu duduk disebuah bangku di samping tempat tidur single itu.

 

“Annyeong..senang bertemu denganmu. Aku Jung Eun Seok.” Eun Seok menundukkan kepalanya.“Sebelumnya kita pernah bertemu, tapi sepertinya tidak begitu baik, Su Jin Mi.”

 

Eun Seoktanpa sadar telah meneteskan air matanya. “Kata Jungkook, jika kita bisaberteman, mungkin kita akan sangat cocok. Untuk itu, aku ingin berbagi ceritadenganmu.”

 

“Awalnya,aku tidak tahu Jungkook mengidap penyakit jantung. Aku sangat sedih saatmengetahui itu 7 tahun yang lalu. Kau tahu? Jungkook itu adalah satu-satunyasahabat yang kumiliki. Kau pasti juga sangat mengenalnya. Karna kalian selalubertemu di rumah sakit yang sama.”

 

“Aku danJungkook bertemu saat umurku 6 tahun. Pertemuan pertama dengan sebuah tangisan.Haha. Itu benar.” Eun Seok perlahan menyeka air matanya. “Aku menangis karnaaku baru saja pindah rumah. Sedangkan Jungkook menangis tanpa alasan. Dia barumengatakan alasan dia menangis setelah 4 tahun berlalu. Saat itulah aku tahudia memiliki riwayat sakit jantung. Alasan mengapa ia selalu terlambatmenemuiku.”

 

“ Akudan dia suka melihat bintang di bukit di dekat rumah kami. Dia penggemarastronomi. Kau pasti juga tahu. Rasi bintang favoritnya adalah Orion.” Kali ini Eun Seok tersenyum.“Apa Jungkook pernah mengatakan padamu? Orion memiliki dua bintang pendamping. Canis Major dan Canis Minor. Akuberharap kita bisa menjadi keduanya. Aku dan Kau Jin Mi. Jadi, lekaslah bangundan sembuh. Aku berjanji akan mengajakmu melihat bintang bersama denganJungkook di bukit. Kita juga akan bersekolah di tempat yang sama.”

 

Eun Seokmenatap Jin Mi yang masih belum sadar selama tiga hari ini. Setengah kepalagadis itu tertutup dengan sebuah topi rajutan berwarna biru. Tiba-tibaterlintas di benak Eun Seok untuk memberikan gadis itu sebuah bendakesayangannya sebagai bentuk pemberian semangatnya. Eun Seok melepas jepitrambut pita di kepalanya. Menatapnya senang dan membuka perlahan topi rajutyang dikenakan Jin Mi.

 

Namun iamalah terbelalak. Terkejut mendapati tak ada satupun helai rambut di kepala JinMi. Gadis itu berkepalabotak. Hanya ada balutan perban di kepalanya. “Jin Mi, mianhae…” Eun Seokmenunduk menyesal. Kali ini ia tahu alasan mengapa gadis ini iri kepadanya.Tentu saja karna Eun Seok memiliki rambut. Sedangkan gadis ini…

 

“Kaubisa mengenakannya di pergelangan tanganmu. Jepit rambut ini hadiah natal dari Jungkook.” Eun Seok dengan suarabergetar mulai menggantungkan jepit rambutnya di gelang pasien milik Jin Mi.Tersenyum nanar sebelum akhirnya kembali menangis. “Teruslah hidup Jin Mi.Jungkook bilang, Tuhan telah menggariskannya semua. Entah bagaimana kalianberdua akan hidup nanti. Takdir itu… meski menyesakkan, pasti adalah yangterbaik. Termasuk jantungmu. Kau tidak boleh mengorbankan kehidupanmu begitusaja. Kau juga harus memiliki semangat hidup. Jungkook juga begitu.”

 

Dibelakangnya,Jungkook melihat semuanya. Mendengar semua ucapan gadis itu. Termasuk ucapanterakhirnya. Jungkook semakin berat dalam pilihannya. Tanpa sadar, tangannyamulai mengepal erat. Sedangkan air matanya mengalir. Seiring dengan salju yangkembali merinai turun.

 

_o0o_

 

“Khamsahamnida…”

 

“Huh?”

 

“Khamsahamnida..Ne..neomu khamsahamnida.”

 

“Kaubicara apa sih?!”

 

“Aku mengucapkanterimakasih padamu. Kau tak dengar?”

 

Orangyang duduk disampingnya tersenyum senang. Kepalanya kembali mendongak ke atas langit. Musim dingin terlihat lebihindah meski tak terlihat rasibintang orion lagi disana. Tapi indahnya langit masih terlihat jelas. “Aku senang.”

 

“Kenapa?”

 

“Karnatanpa rasi bintang orion, aku bisa melihat bintang lain seterangdirimu, Jung Eun Seok.”

 

“Kaumerayuku Jeon Jungkook?”

 

Jungkookterkekeh geli. Tangannya dengan lembut mengusap puncak kepala Eun Seok dengangemas. Laki-laki itu menghela nafas panjang. Menyiratkan rasa leganya setelahdua minggu berlalu. Ia menyentuh dadanya perlahan. Merasakan degup jantung yanglain yang membuatnya semakin mensyukuri hidup.

 

“Jin Mipasti akan bersinar terang juga disana.” Ungkap Eun Seok membuat Jungkooksontak  menoleh. Lelaki itu bergumam.Setuju dengan pendapat Eun Seok. “Tak kusangka dia tak membawa serta jepitrambutku.” Ketusnya seraya menyentuh-nyentuh pita rambutnya. Jungkook malahtergelak.

 

“Jangandirusak. Aku sudah menatanya dengan rapi.” Jungkook berulang kali merapikanposisi rambut Eun Seok dengan jepit rambut itu. “Dia akan memakai jepit rambutyang lebih indah disana Jung Eun Seok.”

 

“Ahh,dia pasti akan terlihat sangat cantik dengan rambut barunya karna….” CUP!

 

Eun Seokmembelakkan matanya. Sementara Jungkook terkekeh kecil. “YAAAKKK!!!” Eun Seokberteriak kesal seraya memukul-mukul Jungkook bertubi-tubi. “Apa yang kaulakukan Jeon Jungkook!!”

 

“Kau taksuka aku mengambil ciuman pertamamu, hm? Hahaha.”

 

Eun Seokmemanyunkan bibirnya malu. Lalu ikut tersenyum dan memeluk Jungkook manja.Jungkook membelai rambut gadis itu penuh kasih sayang. Menikmati pelukan gadisitu yang memang tak ingin lagi jauh-jauh darinya. Dia ingat, bagaimana gadisitu menangis saat Jungkook baru saja keluar dari ruang oprasi. Gadis itu takterlihat bahagia. Dia terlalu cemas.

 

Syukurlah,kali ini Jungkook bisa memenuhi janjinya. Janji untuk selalu berada di sampinggadis ini. Ia telah menepatinya. Disaksikan dengan ratusan bahkan ribuanbintang di langit. Eun Seok merasa ini adalah hadiah terbaiknya. Hadiah di hariulang tahunnya.

 

“Selamatulang tahun Eun Seok.” Jungkook tanpa sadar mengenakannya sebuah kalungberliontin bintang dengan simbol air. Simbol rasi bintang Aquarius. Eun Seoktertawa pelan. Merasa terkagum dengan kalung yang kini bersinar di lehernya.“Saranghae..”

 

“Nado,Jeon Jungkook.”

 

_END_

Advertisements

One thought on “[FF Freelance] The Other Star

  1. aduh author ini ffnya mengharukan bgt:’) bagus

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s