Namitsutiti

[FF Freelance] Don’t Say Goodbye

Leave a comment


gg

Tittle : Don’t Say Goodbye

Length : Vignette

Cast : Momoko Kiba | Mizuko Aoi

Genre : Romance, sad

_o0o_

Malam di pertengahan bulan Januari.

 

Langit kembali berselimut mendung. Menghembuskan angin dingin hingga berminus-minus derajat. Gadis itu nampak berulang kali memainkan gantungan kunci yang menggantung di ranselnya dengan gusar. Sudah semenjak 40 menit yang lalu ia berdiri disini. Sendirian. Seraya menatap gundukan salju dengan tatapan melamun. Meski ia tahu tumpukan salju itu tak akan pergi kemana-mana, ia terus berdiam diri seolah mengawasinya.

Gadis itu masih bergeming. Tak menyadari hadirnya seseorang yang kini berdiri di sampingnya. Hanya diam dan ikut menatap lurus ke depan saja. Menghembuskan nafas sekedar menghalau dingin.

“Momo-chan?” Panggil laki-laki itu tanpa menoleh padanya. Sedangkan gadis yang dipanggil Momo itu hanya diam. Tak bergerak sedikitpun meski dingin semakin menjadi-jadi. “Sampai kapan kau akan berdiri di sini? Taman ini semakin dingin. Lihat! Salju kembali turun.” Lelaki itu mendongakkan kepalanya. Menatap salju yang perlahan-lahan turun dengan lembut.

Momo mendesah panjang. Menandakkan bahwa ia tengah mengeluh. Kepalanya mendongak keatas langit. Sama-sama menatap salju yang merinai turun. Tak begitu lebat. Namun dinginnya cukup menusuk menembus mantelnya.

“Pulanglah Momo.”

Lelaki itu kembali berbicara. Sementara gadis bernama Momo itu mulai melangkah maju. Meninggalkan taman seraya menoleh ke belakang sejenak. “Sayounara. –selamat tinggal–.” Ucap gadis itu lirih. Seraya menatap sayu ke arah pria yang tengah melambaikan tangannya ceria. Yang lalu berubah murung setelah Momo kembali menghadap ke depan. Hilang begitu gadis itu berbelok ke tikungan jalan. Ia jadi kesepian.

_o0o_

Malam di pertengahan bulan Februari, 14.

 

“Selamat hari kasih sayang…”

Lelaki itu mendudukkan dirinya seraya tersenyum menatap gadis di sampingnya. Entah sudah berapa lama mereka berada disini. Memandang langit yang mulai jarang menurunkan salju lagi.

Orang-orang nampak berlalu lalang sembari bergandengan tangan memadu kasih. Bahkan beberapa dari mereka terlihat tengah menikmati sebatang coklat bersama. Tertawa dan bahkan saling berpelukan menghangatkan diri.

“Hey, kau membawa coklat?” Lelaki itu nampak gembira. Sedangkan gadis disampingnya berpaling menatap kotak coklatnya datar. Seolah tak mengerti benda apa yang ada di tangannya ini.

“Coklat..” Ujar Momo lirih seraya mengangkat coklatnya. Wajahnya tak terlihat bahagia. Tak juga sedih. Hanya datar dan terlihat bingung. Lelaki di sampingnya ikut menatap kotak itu dengan tak sabar, lalu berpaling untuk menatap gadis itu. Namun ia justru terperanjat. Gadis itu, Momoko, sudah bertampang sedih.

“Momo-chan? Panggil laki-laki itu cemas.

Perlahan-lahan Momo merasakan wajahnya memanas. Memanas hingga tanpa sadar air matanya mengalir keluar. Meski kepalanya telah menunduk dalam, lelaki di sampingnya tahu. Bahwa ia, sedang menangis sekarang. “Momo-chan?  Kau baik-baik saja?”

Go..gomennasai ! –maafkan aku!– Mizuko-kun!”

Momo beranjak tiba-tiba. Berlari meninggalkan Mizuko yang terkejut setengah mati. Bagaimana tidak? Gadis itu sedari tadi hanya diam, lalu tiba-tiba menangis dan berlari meninggalkannya. Terlebih, ia meninggalkan kotak coklatnya yang terjatuh di tanah.

Mizuko menatap kotak coklat itu nanar. Menundukkan kepalanya seraya menghembuskan nafas panjang. Kepalanya terasa berat dengan berbagai pernyataan yang seolah menghujatnya. Kini, tak terkecuali langit yang mendung, Mizuko menangis. Tetes demi setetes, hingga akhirnya mengalir begitu saja. Seiring dengan salju yang kembali turun.

Ia menyesal. Hari istimewa yang harusnya ia gunakan untuk membuat gadis itu tersenyum, hancur hanya karna melihat gadis itu menangis. Mizuko tak mengerti. Apa yang harusnya ia lakukan, ia pun tak mengetahui. Seolah ia hanya berjalan di tempat yang telah digariskan. Inikah takdir?

“Harusnya aku, harusnya aku yang minta maaf. Gomen..gomennasai  Momoko.”

_o0o_

Malam di pertengahan bulan Maret.

 

Momo baru saja kembali dari toko bunga. Ia tak lantas pulang. Langkahnya kini berjalan menyusuri trotoar. Melewati halte-halte tak jauh dari pusat kota. Kepalanya menengadah. Menatap jajaran awan kelabu yang berjalan berarak di sana. Menggumpal seperti permen kapas yang lembut. Beriringan dengan angin-angin yang bertiup melintas.

Musim semi kali ini terlihat indah. Seindah karangan bunga yang ada di genggaman tangannya ini. Setiap melihatnya, Momo akan semakin bersemangat dalam melangkah. Menembus kerumunan dan berbelok di pertigaan jalan terakhir. Di sanalah, ia membuka pintu gerbang yang besar. Lalu kembali melangkah masuk.

Suara kerumunan dunia malam mendadak hilang. Hening, hanya terdengar deru nafasnya kini. Momo menarik nafas, sebelum akhirnya duduk di samping lelaki yang tengah menatap kedatangannya. Tersenyum ceria dengan mata bersinar terang.

Momo sendiri juga tersenyum. Menimang-nimang karangan bunganya dan menghirupnya lembut. Seakan memberinya banyak pasokan kekuatan dan kebahagiaan. Yang hangatnya perlahan-lahan mulai menjalar ke setiap sisi tubuhnya. Meski melepasnya, akan ada bekas yang tertinggal indah. Bunga di musim semi.

“Kukira kau tak akan datang.” Ujar lelaki itu. Ia nampak lega gadis itu terlihat baik-baik saja setelah terakhir kali mereka bertemu. “Aku merasa tak tenang karna memikirkanmu yang tiba-tiba menangis kala itu. Kau baik-baik saja kan?”

Momo terdiam sejenak. Kepalanya lagi-lagi menengadah ke atas langit. Menatap jajaran gemerlipan bintang yang saling bersahutan. Matanya perlahan terpejam. Sebelum akhirnya ia berbicara.

ii tenki desu ne? –cuacanya bagus ya?–.” Momo tersenyum, sembari membuka mata. Mizuko yang ada di sampingnya ikut tersenyum. Menatap langit dan lalu menatapnya dengan antusias. “Aku sudah lebih kuat sekarang. Alasan mengapa aku bisa datang kemari lagi. Menemuimu, menemui kenanganmu, karna aku sudah lebih kuat.”

Gadis itu menarik nafas. “Aku juga tahu. Setahun telah berlalu sejak saat itu. Aku selalu berusaha menerimanya. Tapi nyatanya, aku masih selalu menangis. Ternyata benar…aku terlalu mencintaimu, Mizuko.” Meski wajahnya mulai menyiratkan rasa cemas, Mizuko berupaya tersenyum. Ia pun masih terdiam, menanti kalimat-kalimat berikutnya.

“Mizuko-kun, kau tahu? Terkadang aku sangat kesal padamu. Namun terkadang, aku juga sangat merindukanmu.” Momoko kembali terdiam. Wajahnya kembali memanas, hendak menangis. “Dan satu hal yang belum bisa kupercaya. Satu hal yang membuatku sulit menerima. Alasan dan kenyataan, bahwa dirimu… telah meninggal.”

Mizuko tercekat. Kepalanya perlahan menunduk. Membayangkan betapa menderitanya gadis itu selama ini. Mizuko tahu, ia terlalu banyak menanggung dosa kepada gadis ini, kepada gadis yang amat dicintainya.

“Aku ingin melihatmu Mizuko. Aku ingin bertemu.” Rintih Momoko yang lalu sadar bahwa air matanya telah mengalir deras. Berulang kali ia menyekanya. Namun tak berhenti juga. “Lihat, aku menangis lagi karnamu. Aku kesal padamu Mizuko-kun!”

 

Mizuko menoleh. Terkejut karna gadis ini berteriak kencang hingga suaranya menggema di sudut-sudut taman.

Gomen..gomennasai Momo-chan.”

“Aku ingin melihatmu… melihatmu saja. Aku berjanji tidak akan menangis lagi. Tapi aku ingin melihatmu. Kau bahkan tak sempat berpamitan saat pergi. Kau bodoh Mizuko!”

Setelah itu, Momo yang tak bisa melihat kehadiran Mizuko hanya terdiam. Membiarkan air matanya terus mengalir. Ia merutuki takdir. Dan perlahan merasakan tubuhnya lemas. Mungkin karna terlalu sering menangis.

Sementara di sampingnya, Mizuko berusaha tenang. Ia juga ingin berbicara dengan gadisnya. Selama ini ia selalu duduk disini. Menunggu gadis itu datang dan mengajaknya bicara. Dan tak pernah sekalipun ia mendapat tanggapan yang cukup berarti. Terkadang, jika biasanya ia tidak mendapatkan tanggapan, dia akan mendapatkan tangisan. Dan lalu hanya menatap cemas gadisnya yang berlari dalam tangis. Berulang-ulang kali hal itu kerap terjadi. Dan ia hanya berdiam diri.

“Momo-chan… Momo-chan… Momo-chan… Momo-chan…” Mizuko memanggil namanya berulang kali. Berharap gadis itu dapat mendengarnya dan kemudian kembali tersenyum. Namun tak ada apapun yang terjadi. Selain mendengar gadis itu terus menangis. Mizuko semakin bersalah.

Sayounara!”  Pekik gadis itu tiba-tiba. Meninggalkan karangan bunganya di bangku taman dan berlari dalam tangis. Meninggalkan Mizuko yang meratapi kepergiannya dengan kecemasan yang tinggi. Seakan kebiasaan ini mulai menyeramkan baginya. Ia merasa kacau.

_o0o_

Mizuko tahu, ia tak seharusnya melakukan ini. Tapi tak ada pilihan lain selain meminta hal ini. Tak apa ia tak lagi bisa kembali. Asal ia bisa berjumpa dan mengucapkan selamat tinggal. Ia pun telah memantapkan diri.

_o0o_

 

Setahun yang lalu…

 

Hembus angin kembali menyapa. Menerbangkan kelopak-kelopak sakura yang tumbuh tak jauh dari taman. Menjatuhkannya ke permukaan air danau yang tenang. Dan lalu kembali terbang begitu angin menghempasnya. Musim semi seolah berbicara. Menjawab segala kegundahan hati yang sedang di rasakan lelaki yang tengah duduk di bangku panjang di sisi taman. Yang di tangannya telah terpegang sepucuk surat dan seikat bunga lili putih yang cantik.

 

Mizuko kembali menarik nafas. Menatap kedua benda di tangannya dengan gugup. Sementara itu, ia mendengar derap langkah mendekatinya. Benar saja, kini kepalanya yang menunduk menatap sepasang sepatu yang berdiri sejajar di hadapannya. Ia menelanl udah tak siap. Lalu perlahan mendongakkan kepalanya.

 

“ii tenki desu ne? –cuacanya bagus ya?–.” Ujar seseorang itu dengan menampakkan senyumnya lebar-lebar. Jantung Mizuko serasa meledak. Menatap begitu cantiknya gadis di hadapannya. “Aoi-kun? Kau baik-baik saja?”

 

“A..aku… duduklah, Kiba!”

 

Momo tak mematuhinya. Ia terlalu malu untuk duduk di samping lelaki ini. Lelaki yang akhir-akhir ini sering membuatnya mencuri-curi pandang. Yang selalu membuat tubuhnya merasa aneh karna degupan keras di dadanya. Tanpa sengaja, ia menatap kedua benda yang berada di sebelah tangan Mizuko. Senyumnya mengembang perlahan. Malu-malu ia menunjuk-nunjuk kedua benda itu. Yang kemudian membuat Mizuko terperanjat kaku.

 

“I..ini…”

 

“Untukku kan?”

 

Mizuko mengangguk. Senyumnya ikut terangkat. Tangannya lalu dengan cepat menarik lengan Momo. Mendudukan gadis itu agar mereka bisa saling berhadapan. Tanpa menunggul ama, Ia menyerahkan sepucuk surat itu. Beserta dengan bunga lili yang telah terbalut indah dengan pita di tangkainya.

 

Momo tertawa kecil. Menatap surat dari Mizuko dan membukanya antusias. Namun matanya justru terbelalak terkejut mendapati isi surat itu nampak putih bersih. Tak ada satupun kalimat disana. Sebuah titik bahkan tidak.

 

“Ke..kenapa kosong?”

 

Mizuko tersenyum, sebelum akhirnya… “Tokyo, 21 Maret 2014. Untuk Kiba Momoko. Dari seorang lelaki, Aoi Mizuko.” Mizuko tak nampak tersenyum. Namun kedua manik matanya menatap Momo lekat. “Aku telah lama memikirkanmu. Jauh dari hari setelah kita pertama bertemu. Rambut pendekmu yang cantik. Dengan kedua mata yang anggun. Semua seakan menyihirku. Kau seperti bidadari.”

 

Mendengar surat yang dibacakan Mizuko tanpa teks itu, Momoko tersenyum geli. Ia menunduk malu.

 

“Seandainya di dunia ini ada tiga permintaan, aku akan menjawabnya dengan Kiba, Kiba, Kiba. Karna aku… menyukai Kiba.” Mizuko menarik nafas. Lalu berfikir sejenak. Sementara Momo masih menunggunya dengan bingung. Apa Mizuko lupa dengan isi suratnya? “Ahh, maafkan aku Kiba-chan. Aku lupa isi suratnya. Tapi yang terpenting, bolehkah aku memanggilmu Momo-chan dan menjadi pacarmu?”

 

Momoko terdiam sejenak. Sebelum akhirnya tergelak terpingkal-pingkal. Ia mengaku gemas karna tingkah Mizuko yang kelewat polos. Lelaki itu tak begitu pintar di kelasnya. Tak begitu pula romantis. Tapi sikapnya kali ini cukup membuktikan bahwa lelaki ini telah banyak berusaha. Pastilah susah menghafalkan isi surat itu semalaman. Hasilnya akan jauh berbeda jika lelaki ini menghafalnya selama sebulan penuh.

 

“Aku merindukanmu lagi, Mizuko.”

Momo menatap bangku panjang di sampingnya. Setahun memang telah berlalu. “Aku tak pernah berharap hari itu menjadi hari bahagia sekaligus hari menyedihkan bagiku. Mungkin juga bagimu.” Ia kembali tersenyum nanar. Mengingat setahun lalu ia tertawa disini. Mendapat pelukan hangat setelah ia mengangguk setuju. Pertama kalinya ia mendengar Mizuko mengatakan bahwa lelaki itu mencintainya. “Aku bersyukur kau tak mengucapkan selamat tinggal karna aku akan semakin sedih karnanya.”

“Aku juga bersyukur kau tak menangis saat melihatku tersungkur di tengah jalan. Meski kau melihat darah begitu banyak mengucur dari kepalaku.”

Gadis itu tersentak. Kepalanya sontak menoleh mendapati sosok tak asing duduk di sampingnya. Menatapnya dengan senyum mengembang lembut. Ia tak lantas beranjak memeluk. Tapi ikut tersenyum menatap lelaki itu.

“Kau sudah melihatku sekarang. Apa kau akan memenuhi janjimu?”

“Aku tak percaya aku melihat hantu sekarang.” Momo tertawa kecil. Hingga air mata muncul dari sudut matanya. “Kau bodoh Mizuko-kun!”

“Asal kau tahu, aku telah hafal isi surat itu. Kau ingin aku membacanya ulang?”

Momoko menatapnya antusias. Lalu mengangguk kecil.

“Tokyo, 21 Maret… 2015. Untuk Kiba Momoko. Dari seorang lelaki, Aoi Mizuko.” Mizuko masih nampak tersenyum. Kedua manik matanya menatap Momo lekat. “Aku telah lama memikirkanmu. Jauh dari hari setelah kita pertama bertemu. Rambut pendekmu yang cantik. Dengan kedua mata yang anggun. Semua seakan menyihirku. Kau seperti bidadari. Seandainya di dunia ini ada tiga permintaan, aku akan menjawabnya dengan Kiba, Kiba, Kiba. Karna aku… menyukai Kiba. Setelah itu, aku akan mengarungi samudra yang luas.”

Mizuko perlahan meraih pundak gadis itu. Memeluknya erat. “Lalu aku akan menyebrangi Sungai Nil di Afrika dan naik ke puncak Gunung Everest. Terjun dari atas Sungai Angel dan berjalan kaki di sepanjang Gurun Sahara. Tak apa meski piranha memakanku di sungai Amazone, asal setelah itu, aku dapat meraih hati Kiba. Meski aku akan tenggelam di dalam Segi Tiga Bermuda.”

Momo mati-matian menahan tangisnya. Namun Mizuko mengetahuinya terlebih dahulu. Lelaki itu melepas pelukannya. Menatap Momo dan menyeka air mata gadis itu perlahan. “Akuakan bernyanyi sepanjang malam untuk Kiba. Mendongenginya dengan dongeng berjudul Putri Bidadari Kiba yang cantik. Mengisahkan seorang gadis yang cantik jelita dengan seorang pangeran bodoh bernama Aoi Mizuko. Seorang pangeran yang dengan gagahnya merebut hati gadis itu dengan mengarungi samudra. Memberikan segalanya untuk putri yang cantik. Sebagai bukti cintanya pada si putri. Lalu, maukah Putri Kiba menjadi pacar dari seorang pangeran yang biasa-biasa saja dan bodoh ini? Bolehkah aku memanggilmu Momo-chan dan menjadi pacarmu?”

Momo terbelalak. Sementara Mizuko tertawa geli dengan isi suratnya sendiri. Gadis itu tak ikut tertawa melainkan menangis seraya memeluk pinggang Mizuko yang perlahan memudar. Mizuko tahu, waktunya tak lagi banyak tersisa.

Gomenne Momo-chan, telah membuatmu sedih selama ini. Aku belum bisa tenang karna belum membacakan surat ini dan mengucapkan… selamat tinggal. Aku… mencintai Momo-chan meski dunia dimensi kita sudah berbeda. Dan aku telah mengambil perjanjian itu. Aku tidak bisa… kembali ke dunia ini lagi.”

“Mizuko-kun akan pergi lagi ?” Mizuko mengangguk. “Dan tidak kembali lagi ?” Tanya gadis itu lagi semakin menjadi-jadi rasa sedihnya. Ia terlalu cemas. Ia tak ingin lelaki ini pergi lagi. Bahkan sampai mengatakan lelaki itu tak akan kembali.

Mizuko mengangguk lagi. “Aku ingin menemui Momo-chan. Selama ini aku selalu menemui Momo-chan. Menemanimu disini. Tapi kau terus menangis. Aku semakin tak tenang.”

Momo menatap Mizuko kacau. Air matanya terus berlinang. “Dan kali ini kau tak akan bisa menemaniku lagi ? Meski aku tak bisa melihatmu?” Suara gadis itu semakin parau. Bergetar hebat. Hingga intonasi yang diucapkannya terdengar kabur.

“Momo-chan…”  Mizuko membelai kepalanya lembut. “Makanlah dengan baik dan belajarlah dengan benar. Carilah pacar dan menikah dengan bahagia. Kau juga harus bekerja agar bisa membangun rumah yang besar. Jangan pernah datang kesini dengan wajah ingin menangis. Aku akan sedih. Kau harus memenuhi janjimu karna aku telah memenuhi permintaanmu. Jangan lagi…”

“Mizuko bodoh!!” Momo memeluknya lagi. Entah kenapa hati Mizuko semakin ingin runtuh. Retak begitu mengingat waktunya semakin habis.

“Baiklah. Aku memang bodoh. Aku bodoh karna aku sangat mencintai Momo-chan, hingga ingin melakukan hal-hal bodoh demi mendapatkan hatimu. Waktuku sudah habis Momo-chan. Aku harus pergi. Selamat ting…”

“Jangan!! Jangan ucapkan itu!! Jangan ucapkan selamat tinggal !! Penuhi per..min..taanku..”

Mizuko tercekat. Ia tak tahu bahwa gadis ini justru tak ingin melepas kepergiannya. Ia menatap tubuhnya yang semakin mengabur ini. Ia menepuk punggung Momoko perlahan. Mengecup puncak kepalanya lama dan mengusapnya lembut.

“Maafkan aku Momoko. Aku harus pergi. Aku mencintaimu.”

_o0o_

Dua tahun kemudian… Musim semi, 21 Maret.

Kenangan itu akan selalu ada. Meski telah bertahun-tahun hilang, akan ada bekas yang tertinggal indah. Begitu pula dengan Momoko. Meski ia kehilangan sosok Mizuko yang baru beberapa jam dimilikinya, cintanya terus bersemi di setiap musim yang berganti.

Ia selalu benci mengucapkan selamat tinggal. Begitu pula dengan permintaan terakhirnya pada Mizuko. Ia tahu, dengan begini, Ia akan merasa Mizuko akan segera kembali pulang. Entahitu akan benar-benar terjadi atau tidak. Asal ia selalu percaya. Bahwa Mizuko, masih berada di sekelilingnya.

Langkahnya baru saja memasuki taman. Menatap bangku panjang yang di sana telah duduk lelaki yang amat dicintainya. Senyumnya mengembang nanar, lalu berubah cerah secerah langit di atas kepalanya. Kakinya berlari kecil. Menghampiri lelaki yang tiba-tiba hilang begitu angin melintas. Tawanya redup. Begitu pula dengan langkahnya yang berhenti begitu saja.

Dimensinya benar berbeda. Tak ada kehidupan yang abadi. Itu benar. Cepat atau lambat juga akan begini. Namun gadis itu tak begitu siap. Ini terlalu cepat. Meski begitu, ia telah berusaha menerima. Mizuko, akan bahagia juga di dunianya yang baru. Akan berada di taman yang indah seperti di dunianya. Menatap langit sambil tersenyum.

ii tenki desu ne? –cuacanya bagus ya?–.  Ungkapnya ceria. Sementara di sisinya, lelaki tak terlihat itu tersenyum senang. Berpaling dari menatapnya yang kemudian menatap langit.

“Em. Yoi o-tenki desu ne. –Em. Cuaca yang indah–.”

_END_

Advertisements

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s