Namitsutiti

[FF Freelance] Gone

1 Comment


dd

Tittle     : Gone (When The Snow is Falls)

Cast       : Jeon Min Sa (OC) | Oh Sehun | Kim Jong In

Genre    : Romance, Sad

 

***

Ketika salju turun nanti masihkah aku bisa bersamamu? Terus berpura-pura tak tahu demi dirimu? Aku ingin terus di sisimu –Min sa

 

Aku tidak tahu, ketika salju turun, semua terasa begitu cepat. Aku harus pergi, tolong jangan mencintai aku –Sehun.

***

******************************

Dingin, bahkan telah berhasil membuat Sehun mempererat syal lehernya lagi. Rasanya… musim dingin semakin dekat. Sejak pagi udara sudah menunjukkan suhu berminus-minus derajat.  Laki-laki itu melangkah dengan tergesa menuju ke ruang musik seorang diri. Menjauhkan dirinya dari hiruk pikuk keramaian sekolah yang tengah dipenuhi beraneka ragam aktifitas siswanya. Langkahnya dengan cepat menuju ke ruang musik. Setelah sampai di dalam, laki-laki itu menghela nafasnya panjang. Seraya menghalau rasa dingin yang mulai menyerang tubuhnya.

Ruangan ini memang selalu nampak sepi, karna hanya dia yang sering datang kemari. Menghabiskan waktunya untuk sendiri. Sekedar menikmati hidup. Sekedar untuk meluangkan waktu. Sejenak ditengoknya benda besar bernama piano itu. Sehun mendekatinya. Tersenyum, seraya membenahi letak syal lehernya.

Lelaki itu duduk dengan rasa cemas yang hebat. Ia kesal. Bukan, tapi rasa takut inilah yang sangat mengganggunya. “Min Sa…” Sehun berujar lirih.

Baru saja ia melihatnya. Peristiwa yang sangat mengejutkan. Sahabatnya, yang lebih tepatnya adalah seorang gadis yang sangat berarti baginya itu melakukan sesuatu diluar pemikirannya. Tepatnya berupa suatu kalimat pernyataan. Bahkan kalimat yang telah dilontarkan gadis itu masih terngiang-ngiang di pikirannya. Begitu jelas, karna ia mendengarnya sendiri.

*Flashback

Waktu masih menunjukkan pukul 10 pagi setelah bel istirahat berbunyi. Sehun dengan senyumnya yang mengembang berjalan mendekati Min Sa yang saat itu sedang berada di taman sekolah. Gadis itu terlihat sedang tak sendiri. Ada seorang lagi yang juga ikut duduk di sampingnya.

“Kau tak ingin memikirkannya terlebih dahulu?”  Ujar seseorang itu memastikan keputusan yang telah dibuat gadis itu.

 

Min Sa, meski dari jauh, ia terlihat sedang mengangguk. “Aku tak bisa. Mianhae Kim Jong In.”

 

Kim Jong In? Apa yang sedang gadis itu lakukan bersama Jong In?  Batin Sehun yang semakin heran dengan pembicaraan yang terlihat serius itu. Apa gadis itu menolak Jong In? Bukankah Ia mencintainya?

Sehun tahu bahwa gadis itu sangat mengagumi seseorang. Seorang laki-laki yang bahkan merupakan tim inti sepak bola di sekolahnya. Bagaimana tidak? Laki-laki itu tampan! Dialah Kim Jong In. Laki-laki dengan rambut hitam dengan kulit kecoklatan itu setiap hari akan slalu mendapat hadiah manis dari Min Sa. Gadis itu, entah kenapa slalu terlihat berbinar saat seorang Kim Jong In terlintas di hadapannya. Gadis itu benar-benar mengagumi Kim Jong In. Tapi kenapa…

“Aku memang sering menyelinapkan hadiah-hadiah untukmu. Itu hanya semata-mata karna aku mengidolakanmu. Bukan berarti aku.. aku menyukaimu lebih dari itu.”

 

“Mwo? Benarkah? Tapi, aku sangat tertarik denganmu. Itulah mengapa aku ingin mengenalmu lebih banyak. Bisakah kau memikirkannya lagi Min Sa-ah?” Jong In menatap gadis yang sudah merasatak nyaman itu lekat-lekat.

 

“Anni. Aku sangat tidak bisa meski harus memikirkannya lagi. Aku sudah bertekad.”

 

“Lalu siapa yang kau cintai sebenarnya?”

 

Nafas Min Sa terasa tercekat. Gadis itu bergeming sejenak. Berusaha mencerna baik-baik pertanyaan yang dilontarkan Jong In barusan. Ia tak tahu harus menjawabnya dengan kalimat apa untuk pertanyaan ini. Karna beberapa menit yang lalu ia sudah mengeluarkan semua alasannya untuk memberi pria ini penjelasan. Dia tak tahu nama siapa yang akan ia sebutkan.

“Apakah orang itu yang kau cinta? Lalu untuk apa kau slalu mengirimiku hadiah?!! Untuk apa kau berusaha membuatku tertarik padamu jika akhirnya kau sendiri melukaiku yang terlanjur menyukaimu ?!!!”

 

Terlihat gadis itu terperanjat. Bahkan Sehun yang melihatnya dari jarak yang jauh ikut terkejut. Tangannya perlahan mengepal, seiring dengan degup jantungnya yang memburu menahan marah. Ia tak suka bagaimana seorang Jong In yang dicintai gadis itu justru membentak gadis itu.

“Mianhae. Aku tidak bisa lagi mengagumimu Kim Jong In. Aku benar-benar merasa bingung.”

Saat itu pula Min Sa berlari meninggalkan Jong In yang terus berteriak memanggil namanya. Namun usahanya tak berhenti disitu. Jong In mengejarnya. Sehun bahkan hampir saja beranjak dari tempatnya berdiri untuk menyusul gadis itu. “Min Sa! Dengarkan…”  PLAAK!

JongIn membelakkan matanya merasakan pipi kanannya memanas setelah ia berhasil menarik tangan gadis itu.  Min Sa yang baru saja menamparnya masih memandangnya dengan tatapan menahan tangis. Bahkan Sehun tahu bahwa gadis itu juga telah menangis.

 

“Jangan dekati aku ! Aku membencimu Jong In-sshi ! Aku sama sekali tidak menyukaimu ! Sehun ! Akumencintainya! Aku mencintai Sehun!”

 

*flashback_end

Sehun menggelengkan kepalanya. Berupaya menghilangkan bayangan peristiwa yang tiba-tiba membuat pikirannya terasa tertekan karna terus memikirkannya.

Min Sa tidak boleh merasakannya. Benar, meski ia tahu bahwa gadis itu memang mencintainya, Min Sa tidak boleh merasakannya. Bahkan dirinya sekalipun. Sehun berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi membuat gadis itu merasa nyaman di dekatnya. Ia harus menghindar dari sisi gadis itu. Hal ini sangat membuatnya ketakutan. Takut karna tidak bisa membalas cinta gadis itu.

Sebuah lagu mulai dinyanyikannya dengan lirih. Sembari menarikan secara anggun jemarinya di atas tuts-tuts piano. Seolah hanya dia yang bisa mendengarnya. Tapi emosi ini tak mampu menahan gejolak isi hatinya. Membuat perasaannya larut bercampur menjadi satu di dalam lagu itu. Perlahan lagu ini terdengar lebih jelas dinyanyikannya. Seakan ia sedang membuang semua beban yang selama ini berhasil disembunyikannya rapat-rapat. Alhasil, suara yang merdu itu terdengar sampai keluar ruangan.

Di luar sana, seorang gadis tengah berlari-lari kecil menuju kesebuah ruangan. Namun ketika hendak membuka pintu disalah satunya, pergerakannya terhenti seketika. Perlahan Ia mendorong pintu itu dan mendapati sesosok pria jangkung tengah duduk dan bernyanyi dengan memainkan pianonya.

Sehun menghentikan permainan pianonya setelah menyadari seseorang baru saja datang. Gadis yang masih terengah-engah itu perlahan memasuki ruangan sembari merapikan rambutnya yang berantakan. Ia mulai melangkah mendekati laki-laki itu. “Sehun..”

“Min Sa..”

Gadis itu memanggilnya dengan nafas terengah-engah. Sehun tahu bahwa gadis ini baru saja berlari-lari mencarinya. Min Sa, gadis yang adalah sahabatnya itu menghela nafas berat. Tapi Sehun sama sekali tak merasa bersalah padanya. Padahal gadis itu sudah lelah berlari mencarinya.

“Apa yang sedang kau lakukan disini? Aku mencarimu. ”

“Aku sedang menikmati waktuku.”

Min Sa akhirnya memilih tersenyum. Memandang Sehun yang kini membalikan badannya dan beranjak dari bangkunya. Tubuh laki-laki itu menghadap keluar jendela.Menatap gugurnya dedaunan yang masih tersisa di atas pohon halaman sekolah. Dimana helai demi helai itu berguguran. Seolah telah lelah hidup, seolah mereka sudah lelah menampung beban hidupnya. Sama seperti dirinya. Sehun tersenyum masam. Sebentar lagi salju turun,batinnya.

“Sehun, sebentar lagi musim dingin ya?”

“Em.”

“Tandanya akan turun salju dan natalkan?”

“Em.”

“Pasti ada hadiah untukku lagikan?”

Langkah Sehun terhenti. Sedangkan Min Sa yang menunggu anggukan Sehun selanjutnya terkekeh kecil. “Ada apa Sehun-sshi? Kau tak ingin menjawab ‘Em’ lagi?”

“Aku tidak tahu apakah aku bisa bertukar hadiah denganmu lagi atau tidak. Karna aku sendiri harus pergi.”

“Kau akan pergi kemana?”

Sehun tak menjawabnya. Ia justru kembali duduk di atas bangku di hadapan pianonya. Senyumnya mengembang setelah bertemu dengan jajaran tuts hitam putih yang ada di sana. Dengan sisa senyumnya, Sehun memainkan sebuah melodi dengan lirih –lagi.

“Kheure. Jika kau tak ingin memberitahuku. Ah, kau akan memainkan lagu apa Oh Sehun?”

Sehun berfikir sejenak. Lalu kembali terfokus pada pianonya. “Miracle in December.”

“Mwo? Kenapa lagu itu? A..aaaku..” Gadis itu terbata karna Sehun sama sekali tak menghiraukannya. Lelaki itu justru sudah larut dalam permainannya.

“Pulanglah Min Sa. Kau menggangguku latihan. Diluar sangat dingin. Cepatlah pulang.”

Min Sa tak mengikuti bagaimana yang telah dipinta Sehun. Gadis itu sibuk memandang Sehun. Memandang bagaimana laki-laki di depan sana seperti bintang yang bersinar di atas langit. Memainkan musik indah lewat jemarinya. Jemari yang seolah sedang menari. Bahkan rambutnya yang tertiup angin dari luar jendela, seolah ikut menari dengan jemarinya. Gadis itu tahu, dia sedang terpesona dengan pemandangannya sendiri.

Namun apa yang dirasakan gadis itu rupanya sama sekali tak ada hubungannya dengan lagu itu. Meski Ia merasa terpesona, hati kecilnya berkata lain. Rasa sedih sekaligus ketakutan. Cemas bahkan sudah bukan soal yang biasa lagi. Karna rasa cemas itu sudah mendarah daging di pikirannya.

“Yaak..aku tidak akan mengganggu eoh !” Gadis itu baru berhasil mengelak sekarang. Sehun meliriknya heran. “Sehun… beritahu aku jika kau ingin pulang. Arra? Aku akan duduk diam disini.” Gadis itu dengan tenang duduk di bangku di depan papan tulis. Mata gadis itu masih bersinar terang seperti matahari. Sepertinya, meski malam telah tiba, kedua manik mata itu akan masih terus bersinar.

Bibir Sehun terbuka kecil, hendak menyuruh gadis itu pulang lagi. Namun urung karna melihat gadis itu terlihat menenangkan disana. Tersenyum lembut sembari memandangnya bermain piano. Gadis itu seperti boneka cantik yang sengaja dipajang. Duduk manis dengan mata yang berbinar-binar. Ya.. sosok gadis yang slalu membuatnya tenang.

Min Sa sendiri merasa senang. Menikmati setiap detiknya bersama Sehun. Menikmati bagaimana laki-laki tampan itu memainkan musiknya. Perlahan ia mulai menggerakan kepalanya seiring dengan lagu yang dimainkan Sehun. Min Sa tak ingin ini cepat berakhir.

“Min Sa…”

“Nde?”

Sehun menghentikan permainan pianonya. Saat itu pula pergerakan kepala Min Sa berhenti. Gadis itu sedikit terkejut mendapati pandangan Sehun yang tajam terarah padanya saat ini. Dahi laki-laki itu berkerut serius seolah sedang berfikir. Namun tiba-tiba tersenyum memandangnya. Melenyapkan tatapan tajam yang baru saja ditunjukkannya. Min Sa tak mengerti pandangan seperti itu, bermakna apa untuknya.

Sehun memandang lagi kertas-kertas yang tertata rapi di papan pianonya. Ia lagi-lagi tersenyum masam. Matanya terlihat sayu entah mengapa. Tapi melihat gadis itu ikut bermuka cemas, Sehun mau tak mau menyunggingkan senyumnya.

“Pulanglah. Aku.. ingin latihan sendirian saja.”

“Kau..aiissh..Jinjja. Mengusirku lagi eoh?” Min Sa berdecak kesal sekali lagi. Tapi lekas-lekas ia tersenyum memandang laki-laki itu. “Nde. Baiklah. Aku akan pulang. Kau ! Jangan sampai tertidur di atas piano lagi eoh! Arra?”

“Ne.arraseo.” Sehun sekilas menyunggingkan senyum. Lalu melambaikan tangan untuk membalas salam perpisahan pada gadis itu.

Gadis itu sudah pergi saat Sehun mendengar pintu ruangan tertutup lagi. Jujur, dirinya sendiri sangat menyesal meminta gadis itu pulang untuk yang kedua kalinya. Ia tak mengerti, mengapa hanya karna demi gadis itu ia harus menjadi setega ini. Bahkan Sehun sendiri yang menginginkannya. Menyembunyikan perasaan ini rapat-rapat dan berusaha untuk terus menumbuhkan jarak diantara mereka. Membiarkan gadis itu selamanya tidak tahu tentang kebenaran hatinya.

Sehun sudah bertekad. Ia tak ingin nantinya gadis yang terbiasa tersenyum itu sampai lupa caranya tersenyum. Gadis itu harus terus bahagia, meski bukan dengan dirinya. Meski harus mengubur perasaan gadis itu sendiri.

Sehun mulai menarikan jarinya lagi. Memainkan nada-nada indah di setiap langkah jemarinya di atas piano. Sesekali ia tersenyum dan berdecak kesal saat memainkan pianonya. Mencari-cari keselarasan dan keindahan dalam permainannya.

Di balik pintu, Min Sa masih berdiri disana. Mengintip sosok lelaki yang masih sibuk dengan piano di hadapannya. Perlahan tubuh gadis itu bergetar. Nafasnya berubah menjadi senggukan hebat. Menandakan bahwa gadis itu mulai menangis. Ia membekap mulutnya. Menahan dirinya untuk tidak menangis. Menekan segenap hatinya yang ingin sekali memeluk erat tubuh itu.

Min Sa sendiri bukanlah gadis yang kuat. Dia hanya manusia lemah yang bisa saja merasakan penderitaan seperti orang lain. Tapi penderitaan ini, meski ia berusaha menahannya, ia tetap tak sanggup menghadapinya kelak. Sehun, laki-lakiitu masih saja menunjukkan sisi semangat hidupnya. Padahal gadis itu tahu, Sehun…cepat atau lambat akan pergi juga.

“Sehun..harus apa aku sekarang? Apa aku harus tetap mempertahankan perasaanku ini pada Jong In dan melepasmu begitu saja? Sehun, aku tak tahu.”

Senggukan itu semakin hebat. Air mata semakin deras mengalir. Min Sa masih membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Tak sanggup membayangkan hari itu tiba dan ia tak akan bisa lagi melihat sosok itu ada disana, yang duduk tenang sembari memainkan lembut pianonya. Sosok itu, Sehun. Kapan dan dimanapun, Min Sa ingin selalu ada di sisinya. Meski itu adalah hari yang terakhir sekalipun.

“Sebentar lagi salju akan turun Sehun.”

***

5 hari kemudian…

Ketika matahari terbit lagi, dan dedaunan yang tersisa akhirnya gugur tak tersisa, di sanalah Sehun kembali mengucapkan syukur. Ia sedang menikmati paginya di halaman sekolah sekarang. Duduk sendiri sembari menikmati bagaimana semilir angin yang meskipun dingin  menerpa rambutnya. Sehun mendongakkan kepalanya. Menghirup dalam-dalam udara disekitarnya. Membentuk simpul indah di bibirnya, sebuah senyuman hangat.

“Indah sekali.” Ujarnya sembari kembali menundukkan kepalanya. Ia baru saja menatap langit yang sepertinya telah membalas senyumnya. Namun tiba-tiba sesuatu menutupi kedua penglihatannya. Sebuah tangan dengan bau wangi yang kas. Sehun berdecak, mendapati pandangannya menjadi gelap seketika. Tahu siapa orang dibalik kejahilan ini, Sehun hanya menghela nafas panjang. “Min Sa, jangan lakukan ini.”

“Yaak, Sehun! Kau tahu itu aku?”

“Siapa yang tidak mengenali bau apelmu itu?”

Min Sa berubah lesu. Entah apa yang sedang mengganggu pikirannya kali ini. Ia terdiam sejenak. Matanya seketika menatap mata Sehun yang tengah menatapnya juga. Gadis itu sedikit terkejut. “Kau kenapa? Min Sa?”

“Anni. Sehun aku ingin jalan-jalan pulang sekolah nanti. Ayo kita…”

“Aku tidak bisa.” Sehun memotong ajakkan Min Sa cepat. Suaranya terdengar ketus. “Aku harus latihan lagi.”

“Tapi kemarin kau sudah latihan.” Min Sa berujar lirih. Ia menundukkan kepalanya. “Akhir-akhir ini kau slalu bersikap seperti ini. Kau slalu menolak jika bersamaku. Latihanmu sepertinya jauh lebih penting.”

Sehun terdiam. Min Sa yang masih menundukpun ikut terdiam menunggu reaksi Sehun selanjutnya. Tapi justru tawa kecil yang terdengar sekarang. Sehun menertawakan gadis itu. “Kau seperti anak kecil saja. Nde. Latihan ini sangat penting. Mianhae, aku tak bisa pergi bersamamu.”

Suasana menjadi tegang sekarang. Beberapa menit mereka terdiam. Sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Min Sa maupun Sehun, keduanya tak ada yang memulai pembicaraan lagi. Hingga bel masuk berbunyi, mereka masih disana dalam diam.

“Kajja kita masuk. Pelajaran pertama akan segera dimulai.” Sehun meninggalkan Min Sa yang masih duduk di sana. Gadis itu tak bergerak sedikitpun. Bahkan Sehun tak lagi memanggilnya.

Min Sa tak mengerti. Mengapa disaat-saat ketika ia ingin menghabiskan waktu bersama Sehun, laki-laki itu justru memperlihatkan sikap dinginnya. Tidak, laki-laki itu sudah berubah. Entah sejak kapan sikapnya menjadi sedingin ini. Setiap gadis itu mendekat, atau berusaha berlama-lama dengannya, Sehun selalu mengelak. Bahkan tak segan-segan mengusir atau menolaknya meski berupa ucapan yang lembut. Namun bukankah itu sama saja menyakiti gadis itu?

“Sehun, apa ada yang salah dari diriku?” Suaranya terdengar parau. “Apa aku, melakukan kesalahan?” Ia terus bermonolog dengan lirih. Namun tanpa disadarinya, Sehun mendengar ucapannya. Karna Sehun masih berada disana, tengah berjalan pelan menuju ke koridor sekolah. “Jika kita tidak pergi, aku tidak akan punya kesempatan lagi Sehun.”

Sehun yang mendengar itu terlonjak sesaat. Matanya membulat lebar dan kembali mempertajam pendengarannya. Tubuhnya seketika berbalik dan memandang gadis itu yang sudah berdiri di belakangnya. “A..apa yang sedang kau bicarakan Min Sa?”

“Bukankah kau akan pergi dari Seoul? Kau tak akan menghabiskan malam natal disini kan?Mengapa tak ingin pergi denganku?!”

Sehun tak menjawab. Ia justru membalikkan badan dan kembali melangkah. “Sehun!” Triak gadis itu berupaya menghentikan Sehun yang masih enggan menjawab.

“Jangan dekati aku lagi Min Sa! Pergilah sendiri! Rayakan natalmu sendiri! Jangan seperti anak kecil ! Menyebalkan sekali.”

Sehun sudah hilang di tikungan koridor. Meninggalkan Min Sa yang sudah berderai air mata. Gadis itu bingung, tidak tahu harus berbuat apa. Perlahan kakinya mulai bergetar dan merosot ke bawah. Menangis, meringkukkan tubuhnya dalam dekapannya sendiri. Ia sudah tak tahan lagi. Bahkan sebelum hari itu datang, ia sudah merasakan penderitaannya. Benar, dia sangat menderita. Apalagi, Sehun baru saja membentak-bentak dirinya.

“Apa aku harus membencimu Sehun?!!”

***

Jong In berjalan cepat setelah lama menunggu di sisi lain koridor sekolah. Matanya dengan tajam sontak terbelalak saat menemukan seseorang yang sedari tadi dinantinya. Sehun.

“Sehun! Yaak! Oh Sehun!” Triaknya kesal karna Sehun belum juga berbalik menghadapnya.

“Mwoya?”

Mata tajam Jong In terbelalak sekali lagi. Dipandangnya Sehun yang berwajah malas dan datar itu dengan kesal. Ia sontak mencengkram kerah Sehun marah. “Kau pikir kau siapa? Apa maksudmu tadi pagi? Kenapa membuat Min Sa menangis! Aku melihatnya!”

Sehun memincingkan kedua matanya. Bibirnya sedikit terbuka. Ia tak tahu, ia tak menyadari apa yang telah ia lakukan tadi pagi terhadap Min Sa hingga Jong In semarah ini padanya. Sehun terbatuk sesaat. Saat itulah, Jong In melepas cengkramannya.

“Dia bilang kau sahabatnya, tapi kenapa kau sekejam itu padanya?!”

“Memang kau siapa? Kenapa semarah itu padaku? Apa urusanmu?! Apa yang kau ketahui tentangku?! Apa yang kau tahu?!!” Sehun mendorong tubuh Jong In kasar. “Jika kau mencintainya, kejar dia! Dia justru sangat mencintaimu! Kau dengar itu?!”

Jong In terperanjat. Bibirnya bungkam seketika. Ia menatap Sehun lekat. “A..apa yang sedang kau katakan itu? Yaak! Apa kau pikir dia itu sebuah benda mati yang tidak memiliki perasaan?! Dia itu mencintaimu bodoh!”

“Dia tidak mencintaiku bodoh! dia mencintaimu sejak awal. Dia hanya menyayangiku sebagai seorang sahabat.”

Perubahan mimik wajah penuh amarah itu berubah seketika. Sehun berubah muram. Ia tak tahu mengapa hatinya menjadi luluh ketika mengatakan pernyataan itu. Dia salah, dialah manusia yang menyebalkan. Bukan Min Sa yang tadi pagi dibilang menyebalkan olehnya. Sehun merasa muak. Ia sudah kehilangan harapannya.

“Tapi ke..kenapa?” Jong In menarik lengan Sehun untuk mencari alasan pria itu. Alasan mengapa Sehun mengatakan kebenaran ini.

“Bahkan aku tak mengerti apa yang sedang kulakukan ini. Aku hanya tak bisa mencintai gadis itu. Alasan mengapa aku tak bisa mencintainya, alasan mengapa dia tak boleh mencintaiku juga, alasan mengapa aku dingin dengan gadis itu bahkan membuatnya menangis sekalipun. Itu semua karna aku… akan pergi.”

***

2minggu kemudian…

Dentuman sepatu menggema ke seluruh penjuru ruangan. Koridor sekolah sudah nampak sepi sejak 2 jam yang lalu. Tapi sosok yang dicarinya tak terlihat sama sekali. MinSa, gadis itu sudah berulang kali menunggunya di ruang musik. Namun tanda-tanda kedatangannya sama sekali tak terasa.

Sehun, sebenarnya laki-laki itu ada dimana sekarang?

Min Sa kembali mengecek ponselnya lagi. Pesan bahkan telponnya tak mendapat balasan. Dan itu sudah terjadi sejak 2 minggu ini. Sejak hari menegangkan di pagi itu. Semua terasa sia-sia dan dia tak tahu harus berbuat apalagi. Ruang musik lagi-lagi menjadi tujuannya. Namun sosok itu tak juga datang.

“Sehun, ada apa denganmu? Kenapa kau terus menjauhiku? Apa kau masih marah? Ini sudah 2 minggu kita tak lagi saling bicara setelah hari itu eoh.”

Min Sa ingat, bagaimana Sehun meninggalkannya di taman sekolah pagi itu. Seharian penuh Sehun terus menjaga jarak darinya. Tak menghiraukan gadis itu sama sekali. Bahkan slalu mencari kesempatan untuk tidak berpas-pasan dengan gadis itu.

Air matanya entah sejak kapan sudah mengalir. Min Sa tahu, dia sudah berjanji dengan dirinya sendiri untuk tidak berada jauh dari Sehun meskipun laki-laki itu berusaha menjauh darinya. Tapi kenapa setiap kali dirinya sudah menemukan Sehun, laki-laki itu slalu saja cepat menghilang.

“Min Sa?”

Gadis itu menoleh cepat ke arah pintu masuk ruangan. Dilihatnya sosok jangkung yang selama ini diharapkannya berdiri sembari menggeser pintu dengan cemas. “Sehun! Salju sudah turun, apa yang kau lakukan disini?”

Laki-laki itu dengan cepat menghampirinya dan memeluk tubuh gadis itu erat. Erat.. sangat erat, hingga Min Sa merasa tubuhnya limbung dan ia terjatuh ke lantai.“Maafkan..maafkan aku.”

Didengarnya bisikkan yang lirih itu perlahan memudar. Dia tak tahu, apakah ini sebuah kenyataan atau mimpi atau bahkan hanya khayalannya semata. Tapi, saat ini, diahanya seorang diri disana. Ini kenyataannya. Dia hanya sendiri disana. Kejadian tadi, hanyalah sebuah dari seribu khayalannya.

“SEHUN! KAU ADA DIMANA?!!!”

***

“Desember.”

 

Lirih Sehun dan Min Sa bersamaan. Keduanya saling menghangatkan satu sama lain dengan berbagi syalleher yang memang berukuran panjang. Salju terus turun dengan lebat siang itu.Tak ada yang tahu mereka berdua sedang menikmati salju dari dalam ruang musik.“Min Sa, dengar, aku bisa bermain piano dengan indah. Latihanku membuahkan hasil.”

 

“Benarkah? Ayo mainkan!”

 

Tanpa dipintapun, Sehun akan memainkannya. Perlahan jemarinya mulai menekan beberapa tuts piano dan ia memulai memainkan nada berikutnya dengan baik. Suara indah itu, benar-benar diciptakannya. Min Sa terus duduk di samping Sehun sembari mengamati pergerakan tangannya. Sehun pun mengetahuinya. Bagaimana Min Sa kagum dengan permainan pianonya itu. Laki-laki ini merasa puas. “Selesai. Apa kau menyukainya? Aku membuatnya sendiri. Aku..”

 

“Ah! Sudah pukul 2 siang Sehun.Aku harus kelapangan indoor untuk melihat Jong In. Aku juga akan menyerahkan hadiah ini untuknya.”

 

Gadis itu segera beranjak dengan meraih syal leher yang sedari tadi dikenakannya berdua dengan Sehun. Laki-laki itu terperanjat. Menatap punggung Min Sa yang sudah melenggang pergi.

 

Hanya ada dirinya sendiri sekarang. Merasakan hawa dingin yang mulai menjalari tubuhnya. Tidak. Rasa hampa ini, bukanlah dingin karna langit tertutup salju, tapi kehangatan seseorang yang lenyap. Dia membutuhkannya.

“Dingiinnn..” Sehun berujar lirih sembari merapatkan kedua tangannya di atas dadanya. Perasaan dingin ini menusuk hatinya. Hampa, sakit, dan sesak yang dirasakannya ia tak tahu apa namanya. Gadis itu sudah pergi. Meninggalkannya sendiri di dalam ruangan itu, terkurung dengan dingin yang sepi. Ia membutuhkan gadis itu.

 

“SEHUUUNN!!!”

Min Sa terbangun begitu bermimpi melihat wajah Sehun pucat pasi di sebuah ruangan. Ia ingat, kejadian satu tahun lalu saat mereka masih duduk di kelas satu. Saatitu dia baru saja menjalin hubungan dengan Sehun sebagai seorang Sahabat. Tapi wajah itu… Wajah kesepian dan kedinginan seorang Oh Sehun, membuat tubuhnya ikut menggigil.

Min Sa bangkit dari tidurnya di lantai. Ia bahkan baru menyadari bahwa ia masih berada di ruang musik. Ia harus segera pergi. Namun sebelum ia melangkah keluar, tiba-tiba pintu masuk bergeser terbuka.

Seorang lelaki dengan nafas terengah-engah memandangnya dengan tatapan serius. “Kim Jong In?” Tanya gadis itu memastikan seseorang yang sedang menyeka keringat itu.

“Kemana saja kau ini? Ayo, kita pergi! Ini.. tentang Sehun!”

***

Salju…sudah turun tepat di hari ini. Nuansa putih dengan pohon-pohon natal yang mulai berkelap-kelip di pinggir jalanan, dan sorak gembira dari anak kecil hingga orang lanjut usiapun terdengar di segala penjuru arah. Namun, tidak di tempat ini.

Triakan, isakan, air mata…

Tiga hal itu bercampur aduk menjadi satu di ruangan ini. Min Sa berdiri mematung. Dibelakangnya, Jong In menyentuh kedua pundaknya. Memberi sebagian semangatnya untuk menguatkan gadis itu.

Min Sa terus terdiam meski seseorang sudah menjelaskannya panjang lebar. Telinganya terasa tuli. Waktu seakan berhenti saat itu juga. Sedangkan seseorang yang berbaring dengan wajah tenangnya disana, hanya diam tertidur. Tak menghiraukan kedatangan gadis yang biasanya akan slalu membuat senyumnya langsung mengembang. Mungkinkah, orang yang terbaring itu juga tuli?

“Dia sudah pergi, Min Sa. Dia bahkan pergi sebelum waktunya.”

Orang yang sedari tadi menjelaskan panjang lebar akhirnya mengatakan kebenarannya juga. Gadis itu bahkan tak sanggup lagi untuk berteriak atau menangis sekalipun. Setetes air matapun bahkan tidak. Karna dia tahu, penderitaan ini akan datang juga.

Perlahan, langkahnya mendekat ke sosok itu. Memandangnya lekat-lekat. Memastikan bahwa dia adalah orang yang sedari tadi ia cari. “Ternyata kau disini. Aku..aku sudah mencarimu kemana-mana, Oh..Sehun…”

Tubuh pucat itu, tak memberi respon apa-apa selain terus diam dan terpejam dalam tidurnya. Min Sa tersenyum parau. Gadis itu mulai menyadari hal yang tak baik di sekelilingnya sekarang. “SEHUUUN!!! KENAPA KAU DIAM SAJA! APA KAU INGIN MENOLAKKU LAGI?! TAK APA TAK INGIN PERGI DENGANKU!! TAPI CEPATLAH BANGUUUN!!”

Gadis itu berhasil menumpahkan air matanya. Triakkannya menggema sampai keluar ruangan. Orang-orang berbaju putih itu semakin menundukkan wajahnya, menyesal. Bahkan Jong In, sudah merapatkan dirinya di ujung ruangan menunduk lesu.

“EOMMA, BANGUNKAN SEHUN! HEI, KAU DOKTER YANG MENANGANI SEHUN KAN? DAN KALIAN SEMUA! INI BUKAN WAKTUNYA DIA TIDUR! DIA HARUS BANGUN! INI MALAM NATAL! DAN INI BELUM SAATNYA DIA PERGI”

Orang-orang itu memandang sesal Min Sa yang berteriak panjang lebar. Gadis itu terus mengguncang-guncangkan lengan dokter dan menarik-nariknya untuk mau membangunkan Sehun. Tapi tak ada satupun yang mau membangunkannya. Min Sa akhirnya menghampiri Jong In.

“Jong In, ayo bantu aku membangunkannya. Tolong, bantu aku jika kau menyukaiku. Dia sahabatku, dia orang yang penting bagiku. Meski aku mencintaimu, aku mencintainya juga. Di..dia..dia sahabatku, dia adalah sinarku.”

Min Sa menangis sejadi-jadinya memohon pada Jong In. Tapi Jong In justru memeluk tubuh gadis itu erat. Membiarkan tubuhnya basah karna gadis itu menangis dengan derasnya. Menumpahkan semua penderitaannya yang akhirnya datang yang sulit merelakan kepergian Sehun.

“Min Sa, biarkan Sehun pergi. Bukankah kau sudah mengetahuinya? Meski dia tak bilang padamu dia akan pergi kemana, bukankah kau sudah mengetahuinya?” Jong In membelai rambut gadis itu lembut.

“Kau tahu? Sehun tak ingin kau terus berbohong demi dirinya, itu alasan mengapa laki-laki itu menjauhimu. Dia ingin kau bahagia dan tak lupa caranya tersenyum. Min Sa, kau harus tetap hidup tanpa merasa menderita karna kepergiannya. Tersenyumlah, karna dia akan tetap hidup di dalam lagu ini.”

Jong In menyerahkan sebuah bingkisan dengan pita merah di atasnya. Bingkisan itu berupa CD yang diberikan Sehun untuknya.

“Jangan lagi mencintainya. Dia membenci itu Min Sa. Sehun tak ingin kau mencintainya. Dia sudah menceritakannya padaku saat aku melabraknya karna membuatmu menangis pagi itu. Dan dia menitipkan ini padaku. Dia bahkan sudah mempersiapkan hadiah ini sekaligus kepergiannya. Dia sangat mencintaimu, tapi dia tak ingin kau mencintainya. Biarkanlah dia tetap hidup di lagu ini. Dia slalu bilang sibuk latihan piano, padahal ia sibuk  membuat lagu-lagu ini untukmu.”

Min Sa mendekati tubuh tak bernyawa Sehun dengan rapuh. Di belainya rambut pirang itu dengan perasaan kalut. “Aku mencintaimu Sehun. Maafkan aku karna berpura-pura tak tahu tentang kepergianmu. Maafkan aku yang slalu menyusahkanmu. Aku tak apa, pergilah Sehun.”

Tangis itu kembali tumpah. Min Sa merasakan penderitaan itu akhirnya. Entah bagaimanaia akan mengenang Sehun nantinya dan bagaimana ia memulai kehidupan barunya dengan Jong In yang membalas cintanya. Namun sekarang ini, ia ingin terus memeluk tubuh itu. Meski untuk yang terakhir kalinya, saat salju telah turun.

*END*

 

Advertisements

One thought on “[FF Freelance] Gone

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s