Namitsutiti

[FF Freelance] Someone Who Called Me

1 Comment


gh

Tittle                  : Someone Who Called Me

Cast                   : Min Yoon Gi | Lee Yoon Na (OC)

Genre                : Romance

Rating                : T-Teen

Length               : OneShoot

Cover &Author :         Okhara

_o0o_

“Yoon Gi Oppa !”

Aku menoleh cepat. Menyapu pandangan ke sepanjang jaring-jaring pagar besi di sekeliling lapangan. Menatap satu persatu para gadis yang tengah menjerit-jerit disana. Tapi suara itu, seakan menjadi satu-satunya suara yang dapat mengalihkan kefokusanku hanya dalam waktu singkat. Hingga akhirnya Seok Jin berhasil merebut bola dari tanganku.  Dan lagi-lagi membuatku kehilangan satu point.

“Yaak! Kau melamun?” Jimin mendorong bahuku ringan hingga membuatku tersadar penuh. Aku menoleh dengan tampang melongo dan kembali mengedarkan pandangan ke setiap jajaran para gadis itu. Tak mengacuhkan Jimin.

“Oppa !”

“Ah.. gadis itu lagi?” Jimin mulai menebak, dan lalu terkekeh begitu aku terperanjat terkejut. “Pacarmu kah?”

“HA?! Pacar apanya? Kenal saja tidak.”

Jimin masih tertawa ketika aku berusaha mengelak tuduhannya dan menatap kesal ke arah gadis aneh itu. Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia selalu mengalihkan perhatianku? Itu membuatku kesal!

_o0o_

Cangkir yang kubawa terlihat masih mengepulkan asap panas. Dengan aroma khas yang mampu membuatku seketika menyesap aromanya nikmat. Mocca, minuman favoritku. Meski tengah musim semi, aku tak pernah absen untuk menikmatinya walau hanya secangkir. Toh ini minuman favoritku.

Kantin memang akan sepi di jam pelajaran seperti ini. Tak heran jika anak basket sepertiku mengunjunginya di jam-jam seperti ini. Toh ini adalah hari istimewa tim basket.

Karna akan ada turnamen basket musim semi sebentar lagi, akhirnya sekolah memberi kebebasan jam kosong kepada anggota tim basket. Momen langka bukan? Teman-temanku bilang, jam kosong ini sebagai hadiah karna sekolahku terpilih menjadi tuan rumahnya. Lagi pula, ini bagus untuk memperpanjang waktu latihan. Kami akan malu jika kalah di kandang sendiri. Inilah prinsip baru yang akhir-akhir ini sering dikoar-koarkan ketua tim basket kami, Seok Jin. Kupikir ini ada benarnya juga.

“Oppa?”

Oh… suara itu lagi. Entah sejak kapan aku mulai menghafal suara nyaring itu. Kecil, melengking, dan…lembut. Seolah suara itu sudah terekam permanen di telingaku. Meski aku tak melihat siapapun, aku bisa mendengarnya lagi, bahkan sangat jelas. Tunggu, jelas kataku?

“Oppa!! Jadi itu benar kau?”

Aku mengernyit dan sesegera mungkin memutar tubuhku. Melotot mendapati gadis aneh itu sudah tersenyum sumringah di belakangku. Rambutnya yang terikat terombang-ambing begitu ia berlari menghampiriku. “Mau apa kau?” Aku berusaha seketus mungkin menghadapinya. Aku benar-benar anti dengan gadis perusak mood  ini.

“Hai ! Aku Lee Yoon Na. Nama kita sama ya?”

Apalagi ini? Dia mengenalkan diri tanpa aku menanyakannya. Dan apa dia bilang? Nama kita sama? Dia sedang bercanda?

“Lalu?”

“Oppa.. aku menyukaimu.” DEG!

Aku terbelalak dan nyaris menyemburkan isi cangkir yang baru saja ku teguk. Dia bilang apa tadi? Menyukaiku katanya? Semudah itukah? Dia benar-benar aneh. Aku tergelak begitu menatap wajahnya yang berubah lugu dan polos. Seolah dia adalah gadis yang tidak tahu menahu tentang apapun. “Kau bercanda? Hahahaha. Kau lucu sekali.”

“Oppa… aku serius.” Ujarnya nyaris memohon.

“Tapi aku tidak menyukaimu. Kau murid kelas 1 kan? Ini jam pelajaran. Cepat masuk kelas, jika ada guru pengawas yang….”

“Aku memang sengaja mencari Oppa. Untuk… menyatakan perasaanku ini.”

Aku menelan ludah tak habis pikir. Dia serius? Tapi kenapa… Ayolah, dia hanya sebagian dari banyaknya gadis yang mengagumiku. Dia tak lebih dari seorang fans saja. Kecuali jika… “Tidak. Maaf, aku tidak menyukaimu.” Jawabku lagi.

“Baiklah. Aku masuk kelas dulu Oppa, annyeong!” Gadis itu berbalik. Berlari meninggalkanku yang menganga lebar karna sikapnya barusan. Bukankah aku baru saja menolaknya? Tapi kenapa dia setenang itu? Ah, setidaknya dia tak akan datang padaku lagi. Aku sudah menolaknya.

_o0o_

Di Jepang, orang-orang menyebutnya hanami. Sebuah festival dimana orang-orang pergi berpiknik untuk menikmati mekarnya bunga sakura. Langkahku beberapa kali terselip dengan puluhan pasang kaki yang melintas mendahului. Sepanjang jalan Yeuido memang ramai di musim semi. Tentu saja untuk ber-hanamiria. Dan mungkin bisa dibilang aku termasuk dalam kategori ini.

Dan di detik-detik terakhir…

“Oppa? Yoon Gi Oppa?!”

“HA?!”

Entah aku harus mengeluarkan ekspresi seperti apa untuk melampiaskan rasa keterkejutan ini. Rasanya baru kemarin hal tidak menyenangkan itu terjadi padanya. Tapi kenapa dia bisa datang lagi dan tersenyum sebahagia itu di hadapanku? Apa aku telah melakukan sesuatu yang membuatnya bahagia? Aku baru tahu, mendapat tolakkan cinta itu akan sebahagia itu rasanya.

“Aku selalu memiliki ikatan batin yang benar terhadapmu.” Ujarnya dan kembali tersenyum riang. Menatapku seperti aku ini adalah makhluk paling indah di hadapannya. “Yoon Gi Oppa?”

“Hhh…” Nafasku terhembus panjang. Mengangguk kecil pasrah dengan tebakannya sendiri. “Lalu kau mau apa?”

Gadis itu tertawa kecil. Sekarang akulah yang terlihat konyol. Aku bertanya dan dia tertawa. Apa itu sebuah lelucon? Kukira aku sedang berupaya mengusirnya tadi. Tapi rupanya, hal itu justru membuatnya bahagia. Benar-benar gadis aneh.

Yaak.. Kenapa kau tertawa?”

“Aku tak menyangka kita bisa bertemu.” Aku menganga lebar mendengar penuturannya. Sementara dia kembali tertawa. “Bukankah ini jodoh?”

“Bhhfftt… hahahaha. Hei, itu konyol!” Hardikku dengan tipuan gelakku. Gadis itu memanyunkan bibir. Membuang muka seraya melipat tangan. “Oh, baguslah kalau kau marah.” Aku kembali melangkah. Melewatinya yang masih membuang muka.

“Oppa!”

Spontan langkahku terhenti. Mendengar gadis itu memanggilku dengan suaranya yang sudah kukenal baik. Sampai-sampai aku merasa kesal mendengarnya. “Mwoya?! –apa lagi?!–.” Ketusku. Alih-alih mendapat jawaban, gadis itu justru berlari menghampiriku. Aku baru saja melakukan ancang-ancang berlari, tapi gadis itu lebih dulu meraih lenganku. Memeluknya erat dan meremas lenganku dengan erat. “Yaaak!”

 

“Aku tidak bisa membiarkanmu jalan sendirian. Aku harus berjalan bersamamu.” Dia terus beralasan dan aku sama sekali tak mendengarnya. Aku berontak. Berusaha melepas genggamannya dari lenganku. Tapi gadis ini cukup kuat. Nyatanya aku cukup lelah hanya untuk berusaha melepas tangannya. “Oppa.. ayo kita kencan.” Ujarnya lagi yang langsung membuatku membeku.

“Apa kau gila?! Pergilah sendiri!”

“Bagaimana bisa aku kencan seorang diri? Ini hanami  bukan?”

“Aku ingin pulang. Aku harus latihan basket!”

“Akan kutemani !”

Andwae!! –Tidak boleh !!–

“Ku antar saja ya?”

Shirheoo ! –Tidak mau !–”

Gadis itu berdecak dan mulai melepas genggamanku. Dan inilah kesempatan terbaik. Satu detik saja aku telah berhasil berbalik badan dan berlari kencang menembus kerumunan. Meninggalkan gadis itu yang mulai berteriak memanggil-manggil namaku. Oh, ayolah, dia seperti gadis yang tidak waras.

“Oppa ! Yoon Gi Oppa!”

Triakkannya terdengar lantang begitu kusadari ia berada tepat di belakangku. Mengerikan mengetahuinya cukup lincah berlari di antara kerumunan ini. Bahkan tangannya mulai menggapai-gapai tubuhku. Sampai di tikungan jalan Yeuido, aku tak lagi melihatnya. Apa dia benar-benar lenyap? Atau mungkin dia sudah terinjak-injak dengan kerumunan itu?

“Ketemu !”

Oh, jadi dia masih berada di sekitarku dan memutar jalan? “Aissh.. Igeo Ijjashigi. –Ah..Bocah sialan ini.–“ Rutukku berkacak pinggang. Dia tertawa lagi sebelum akhirnya menarik sebelah lenganku. Menariknya seolah menyeretku untuk ikut berjalan dengannya. Sungguh, aku mulai lelah.

Orang-orang sibuk tertawa dan menikmati bekal mereka di setiap sisi taman. Aku tak begitu mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi melihatnya, cukup membuatku iri. Aku tak peduli dengan siapa aku berjalan sekarang. Aku hanya berupaya untuk menikmatinya sendiri. Sementara itu, Yoon Na terus berbicara sendiri. Entah apa yang sedang dibicarakannya. Aku tak mengerti karna aku tak mendengarkannya.

“Gomawo Oppa, sudah mengajakku kencan.”

Aku mengernyit, lalu berubah geram dengan akuannya barusan. Kalimat itu cukup membuatku tertarik untuk menoleh padanya. “Yak! Kau yang mengajakku kencan dengan paksa. Ini penculikan!”

“Nyatanya kau mau menggandeng tanganku terus-menerus.” Yoon Na menatap ke bawah, tepat di mana kedua tangan kami menyatu. Menyadari itu, aku langsung menghempasnya dengan satu kekuatan penuh. Dan kali ini aku tak kabur. Tapi menjelaskan semua kekesalanku pada gadis itu.

“Hei, dengar ya. Aku tidak mengenalimu dan jangan ikuti aku lagi. Jangan pernah muncul di manapun aku berada. Jika kau berani muncul, aku akan berteriak kalau kau adalah penguntit!”

“Aku sudah bilang kalau ini adalah ikatan batin.”

“MWO?” Aku terkejut gadis itu begitu tenang meski aku telah mengancamnya. Dia benar-benar aneh dan menyebalkan. Kupertegas, me-nye-bal-kan !

“Ahh, daripada kau marah-marah dan terkejut seperti itu, ayo kita lihat pertunjukkan tradisional itu !” Yoon Na kembali menarik tanganku. Dan lagi-lagi aku mematuhinya karna masih belum tersadar dari rasa keterkejutanku. Entah kenapa, tubuhku sulit dikendalikan. Apa dia punya sihir?

_o0o_

Matahari semakin terik dan rasanya sudah berada tepat di atas kepalaku. Aku menilik jam tangan lagi. Pukul 1 siang tepat. Ah, kesempatan bagus untuk terbebas darinya dan segera pergi ke sekolah untuk latihan basket. “Yaak, aku ingin pulang sekarang.”

“Ah, Oppa akan latihan basket?” Tanyanya yang sama sekali tak kurespon. “Kau ingin aku mengantarmu?”

Aigoo.. –Aduhh–, mana ada yang seperti itu? Harusnya aku yang mengantarmu..BHHP!” Aku membekap mulut seketika setelah sadar kalimat apa yang baru saja kukatakan. “Ma..maksudku..”

“Ahhh.. Oppa ingin mengantarku? Kheurom! Kajja! –Kalau begitu, Ayo pergi!–.”

Oh, Tuhan, tolonglah aku. Aku menggerutu dalam hati. Memohon agar gadis ini melepaskan tanganku. Atau setidaknya dia mendadak sakit perut dan pergi ke kamar mandi. Lalu aku akan pergi sendiri dan batal mengantarnya pulang. Tapi sayang, dia baik-baik saja selama perjalanan kembali ke rumahnya.

_o0o_

“Terimakasih sudah mengantarku pulang Yoon Gi Oppa.” Tuturnya menundukkan kepala dengan sopan ke arahku. Aku mengangguk dan bergumam kecil, lalu berbalik untuk berjalan pulang. Gadis ini benar-benar menguras tenagaku. “Oppa!”

“Mwoya?” Aku menoleh singkat dan terus berjalan tanpa melihatnya lagi.

“Hati-hatilah di jalan!” Triaknya sekali lagi. Sungguh demi apapun, aku tidak tahu mengapa senyumku mengembang kecil mendengarnya.

Gara-gara mengantarnya, aku hampir saja terlambat latihan basket. Seok Jin sudah berkacak pinggang melihatku masuk ke dalam lapangan dengan sepasang sepatu yang belum terikat dengan benar. Aku sedang buru-buru saat ini. Dan laki-laki menyebalkan itu telah memberiku hukuman. Aku akan pulang paling terakhir hari ini. Semua gara-gara gadis aneh itu!

“Kau baik-baik saja?” Tanya Jimin disela-sela aktivitas pemanasan.

“Kurasa.” Ujarku skeptis. “Kau tahu? Kau pasti akan tergelak jika aku menceritakan bagaimana aku bisa datang terlambat hari ini.”

“Em, apa itu? Terdengar menarik.” Aku menoleh. Mendapati Jimin sudah lebih dulu nyengir karna rasa antusiasnya yang tinggi. Melihat itu, enggan rasanya aku menceritakan hal ini padanya. Dia pasti akan menghinaku habis-habisan setelah tertawa. Dia bukan teman yang cukup baik. Lebih tepatnya, dia teman yang pandai membuatku masuk ke dalam lubang yang lebih dalam.

“Tidak jadi.” Aku berlari. Menghindari triakkan protes Jimin karna keputusanku. Ini lebih baik ketimbang nanti Seok Jin menambahi hukumanku karna membuat Jimin tertawa saat latihan. Terdengar mengerikan bukan? Tapi memang seperti itu adanya.

_o0o_

Bola memantul begitu aku mendribelnya dengan berlari kencang. Semangat dan kondisiku sedang baik saat ini. Dari tim senior Seok Jin, timku lebih unggul karna aku sering memasukan bola ke dalam ring lebih banyak. Ini kebanggaan buatku. Bahkan Jimin tak henti-henti memuji disetiap permainanku.

Jimin mengajakku berhigh-five dan saat itulah…

“Oppa!”

“Ha?”

“Kau hebat!”

“HUAA!!” Triakku terkejut. “Sejak kapan kau ada di sana?!!” Jeritku dan langsung membuat seluruh anggota tim basket menoleh ke arahku.

“Dia datang lagi. Hahaha.” Jimin berbisik dan lalu tergelak menghinaku. Aku berdecak. Lalu menoleh ke arah Seok Jin yang sudah berkacak pinggang –lagi– untuk memarahiku. Aku yakin hari ini aku akan mendapatkan kesialan yang bertubi-tubi.

“Seok Jin Hyung, aku akan menjelaskannya nanti!” Triakku dan berlari ke arah Yoon Na yang sudah melambaikan tangan dengan bahagia. Entah seberapa besar prosentase kadar kebahagiaannya saat menyadariku berlari kearahnya. Dia pasti sedang berada di puncak dari semua rasa bahagianya.

“Oppa!”

“Bukankah aku sudah mengantarmu pulang tadi? Apa yang kau lakukan disini ?!” Hardikku setengah berbisik. “Seok Jin Hyung akan membunuhkuuu!” Bisikku gemas.

“Aku merindukan Oppa, dan ingin menemanimu latihan. Bwayo! -Lihat!- Kubelikan kau jus jeruk. Ini untuk semangatmu !” Ungkapnya seraya menimang-nimang sebuah plastik berisi botol minuman.

“Aku ! Tidak ! Suka! JERUK!” Ucapku dengan penekanan penuh di setiap kata.

“Oppa, aku tahu kau suka sekali secangkir Mocca. Tapi kau kan sedang latihan, ini, minum saja ini.”

Aku memukul jidatku gemas dan menoleh ke belakang. Benar saja, semua anggota tim basket memandangku. Aku terlihat konyol dan menyedihkan sekarang. Bahkan si ketua Kim Seok Jin sudah bermuka merah saking kesalnya padaku. Rupanya kesabarannya sudah habis.

“Kau tunggu disini ! Aku akan menasehatimu! Awas kau!” Ancamku. Dia mengangguk ceria dengan senyumnya yang mengembang lebar. Oh Tuhan, inikah cobaanmu? Kenapa dia begitu bahagia dengan semua yang kukatakan dan aku lakukan? Apa aku sebegitu indahnya di matanya?

“Hyung, maaf. Ayo kita la…”

“Jangan bawa pacar saat latihan! Hukumanmu ditambah!” Ketus Seok Jin dan berhasil membuat kedua bola mataku terbelalak lagi.

“Habis kau!” Ejek Jimin berbisik di telinga kananku. Sedetik kemudian, aku tersadar bahwa ini adalah hari paling sial sepanjang hidupku.

_o0o_

“Bersihkan camp dan lap semua bola. Jangan pulang sebelum semuanya beres.” Ingat Seok Jin. Aku mengangguk lemas seraya menatap satu persatu barang yang nampak berceceran di hadapanku. Aku baru tahu anggota tim basket sejorok ini. Semua terlihat melelahkan sebelum aku mengerjakannya.

“Nde. Hati-hatilah di jalan.”

Seok Jin bergumam, lalu berlalu dari hadapanku. Aku tak lantas mengerjakannya. Tapi memilih duduk bersila berupaya menenangkan diri. Nafasku terdengar lelah, sementara kepalaku terasa berdenyut menghadapi ini semua.

“Jika kau tak segera membereskannya, kau akan dimarahi lagi.”

Aku mendongak seketika. Mendapati Yoon Na sudah sibuk memunguti handuk-handuk dengan bau kringat itu di hadapanku. Rambutnya sudah terikat ke atas. Lengan jaketnya juga sudah terlingkis ke atas. Aku tak begitu mengerti apa yang sedang dikerjakannya sekarang. Mungkinkah dia sedang membantuku?

“Hei? Kenapa melamun? Ayo! Kubantu kau membereskannya.”

“Kenapa kau belum pulang?” Ujarku seraya memungut bola tak jauh di sampingku. Mengambil handuk dan mengelapnya dengan pelan.

“Bukankah Oppa yang mengancamku untuk tidak pulang?”

“Eh?” Kepalaku menengadah lagi. Memandangnya yang sudah menyunggingkan senyum penuh kemenangan. “Ta..Tapi aku tak menyuruhmu untuk membantuku melakukan itu semua.” Ujarku seraya memajukkan dagu untuk menunjuk semua yang sedang ia kerjakan. Kurasa ia sudah hampir selesai dengan pekerjaannya. Dia cukup cekatan.

“Oppa, pindahlah kesini. Aku akan membersihkan bagian yang disini.” Pintanya sama sekali tak mengacuhkan ucapanku tadi.

Yaak!  Yoon Na! Kau mendengarku tidak?” Dia mendadak berhenti. “Aku tidak menyuruhmu membantuku.”

“Aku menginginkannya. Semua yang kulakukan ini karna aku menginginkannya.”

“Kau tak perlu berpura-pura agar aku menyukaimu!!” Aku tercekat. Aku sadar aku baru saja membentaknya cukup keras hingga ruangan ini menggema. Yoon Na tak terkejut. Tapi geraknya yang sedang menyapu lantai terhenti tiba-tiba. “Maksudku, kau tak perlu memaksakan diri untuk itu.” Ucapku lagi tenang.

“Lebih baik kita selesaikan dulu pekerjaan ini.” Wajah gadis itu nampak datar. Tak lagi bahagia atau ceria seperti biasanya jika ia merespon apa yang baru saja kulakukan.

_o0o_

“Kau mau pulang sekarang?” Kali ini aku yang mengajaknya bicara. Ini terdengar aneh. Tapi melihatnya sedari tadi diam, aku merasa bahwa itu bukanlah dirinya. Apa aku sudah menyakiti hatinya?

“Ah, Oppa mau mengantarku lagi?” Tanyanya spontan dan langsung memperlihatkan senyum sumringah di bibirnya. Jujur, aku terkejut. Dia tak terlihat menyedihkan lagi.  Jadi ini akal-akalannya saja? Betapa bodohnya aku.

“Kukira kau sedang sedih.” Ujarku.

“Mana mungkin aku sedih? Aku kan sedang bersamamu. Ayo, antar aku pulang dan lalu…”

“Boleh aku meminta sesuatu padamu?”

“Eh? Apa itu?” Dia kembali tersenyum. “Apapun asal membuatmu senang.”

Aku ikut tersenyum. Entah ini akan terasa menyakitkan atau tidak. Tapi… “Bisakah kau, menjauhiku Lee Yoon Na?” Dia tercekat. Sementara aku berhenti melangkah untuk menatapnya. Dia tak nampak sedih atau apa. Tapi keterkejutan itu terlihat jelas di wajahnya. “Bisakah..kau melakukan itu untukku? Aku sangat terganggu.”

Aku tidak tahu apakah dia akan nampak bahagia seperti biasanya. Atau mungkin akan berpura-pura sedih seperti beberapa saat yang lalu. Tapi aku cukup serius mengatakan ini. Aku berharap dia mengerti.

“A..Ehm, aku tidak tahu.” Dia berujar lirih. Mendongakkan kepalanya membalas tatapanku. Wajahnya terlihat merah. Sedangkan di dahinya nampak bulir-bulir keringat hendak jatuh ke pipinya. “Ah, panasnya. Aku ingin segera pulang. Oppa, kau jangan dekat-dekat aku. Bauku bau keringat.”

Aku mengernyit dan melangkah mundur dengan tenang. Dia tak mendengarkanku lagi?

“Oppa, aku pulang dulu ya? Aku pulang sendiri saja. Ini sudah malam sekali. Annyeong! –Sampai jumpa!–.”

Yaak! Yaaak! Lee Yoon Na !” Triakku kencang agar membuatnya berhenti berlari. Apa dia baik-baik saja?Kenapa tiba-tiba sekali? Aku tak begitu yakin ia akan sampai di rumah dengan keadaan yang baik-baik saja. Lebih baik aku mengikutinya. Lagi pula, jarak ke rumahnya tak begitu jauh.

Gadis itu tak nampak berlari lagi. Langkahnya gontai dan sesekali terlihat menyeka keringat. Dia tak terlihat ceria, lebih tepatnya dia sedang kelelahan. Aku masih mengikutinya. Hingga tiba-tiba langkahku berhenti mendadak ketika Yoon Na menghentikan langkahnya. Kukira dia mengetahui keberadaanku. Rupanya dia hanya duduk di sebuah bangku di pinggir jalan.

Dengan hati-hati, aku bersembunyi di samping gerobak kios yang sudah tutup. Mengintip dirinya dari jarak jauh dan memastikan dia akan pulang ke rumah baik-baik saja. Tapi yang kulihat ini benar-benar tak nampak seperti dirinya. Gadis itu, Lee Yoon Na. Dia tak terlihat ceria. Tampangnya sedih dan datar.

“Yoon Gi Oppa.” Kudengar dia berbisik lirih. Dan aku tahu pasti dia sedang mengeja namaku, memanggilku. Aku tahu ini kejam. Tapi melihatnya seperti itu… “Aku mencintaimu.” Ujarnya lagi dan langsung membuatku tercekat. Dia mengatakan apa? Aku tak salah dengarkan?

Gadis itu kembali bangkit. Berjalan lagi seolah tak mengetahui apa-apa. Sementara aku masih berdiri disini. Memutuskan untuk tak lagi mengikutinya. Aku akan gila jika terus-terusan menguntitinya yang jelas-jelas kupandang aneh selama ini. Kuharap, dia benar-benar mengabulkan permintaanku ini, untuk menjauhiku.

_o0o_

Seminggu kemudian…

Matahari kembali bersinar terang. Angin membawa serta aroma wangi bunga-bunga dari taman sekolah yang terletak di sudut gedung. Sejenak aku menghirupnya dalam. Seraya mengumpulkan semangat untuk latihan terakhirku. Pagi besok adalah hari pertandingan kami.

Kepalaku menoleh cepat. Mendapati pembatas pagar berjaring besi itu lagi-lagi kosong. Seminggu ini aku tak pernah melihatnya lagi. Gadis berisik berambut panjang. Mungkin dia memang benar-benar menjauhiku. Aku tak pernah merasakan kehadirannya lagi. Mendengarkan suaranya saja bahkan tidak.

Kami tak pernah benar-benar bertemu di jam sekolah. Entah dia sedang bersembunyi atau tidak. Tapi mengingat dia sering muncul tiba-tiba di sekitarku, rasanya aneh jika dia lenyap begitu saja ditelan bumi. Ada rasa yang mengganjal seolah ada yang tak lengkap di sekitarku. Aku mulai berpikir rasanya begitu hampa.

Beberapa hari yang lalu, aku duduk seorang diri di kantin menikmati secangkir mocca. Seraya menilik kanan kiri memeriksa sesuatu. Kupikir aku sedang memeriksa, tapi Jimin bilang, aku terlihat sedang menunggu dan mencari sesuatu. Ini terdengar gila, atau aku benar-benar sudah gila? Aku ingin memastikan sesuatu dan bodohnya, aku benar-benar melakukannya.

Kala itu dengan sengaja aku menyusup ke aula ketika pelajaran olahraga murid kelas 1. Awalnya aku hanya iseng dan mengulur waktu sebelum latihan basket dimulai. Dan di sana, aku kembali melihatnya. Lee Yoon Na. Dia sedang diomeli guru olahraga karna tak becus melempar bola basket ke dalam ring. Dia terlihat konyol. Tertawa garing dengan menggaruk kepalanya –yang mungkin saja tidak gatal–. Dan lagi-lagi senyumku mengembang kecil melihat tingkah polosnya itu.

Guru itu berkata bahwa seminggu lagi dia harus melaksanakan remidi. Setelah itu, beliau berlalu meninggalkan Yoon Na. Senyumnya redup seketika. Berganti dengan wajah datar yang sebelumnya pernah dipasangnya saat bersamaku dulu. Tepatnya ketika aku memintanya menjauhiku. Aku mulai berpersepsi bahwa gadis itu pandai menyembunyikan perasaan. Dia memperlihatkan kebahagiaan, tapi rupanya… dia sedih.

“Kau benar-benar aneh Yoon Na, misterius.”

Setelah hari itu, aku tak pernah melihatnya lagi. Menjalani latihanku seperti biasanya. Dengan kehampaan yang mulai menjalari pikiranku. Panggilannya, senyum dan tawanya terasa lenyap dariku semenjak malam itu. Aku benar-benar sudah menyakiti hatinya.  Mungkin pertandingan besok, dia tak akan muncul di lapangan untuk mendukungku -atau benar-benar tak akan datang-. Aku merasa kesal dengan kenyataan itu. Ah,pikiran bodoh.

_o0o_

Sorak ramai penonton sudah memenuhi lapangan indoor sekolah. Spanduk, poster, dan macam-macam terlihat berwarna-warni memenuhi ruangan. Kukira hanya akan ada nama sekolah yang dibawa-bawa mereka –atau mungkin nama tim basket kami–. Rupanya ada juga yang membawa poster dengan tulisan huruf hangeul namaku. Cukup besar, dan ada beberapa. Diantaranya, aku juga melihat nama-nama lain. Kim Seok Jin, Park Jimin, Jeon Jungkook, bahkan setiap anggota memiliki pendukungnya sendiri. Aku baru tahu keberadaan kami cukup populer di sekolah. Entah itu dari teman sekelas atau murid kelas lain.

Di sebrang, pendukung dari sekolah lain juga telah memenuhi ruangan. Sekolahku cukup hebat soal lapangan. Luas dengan fasilitas yang luar biasa lengkap. Jelas saja ketika baru mengijakkan kaki di lapangan ini, mereka nampak tertegun. Bahkan sampai lupa untuk meneriaki nama timnya sendiri.

“Ini adalah lawan kita yang pertama. Untuk maju ke final, kita harus menang ! Jangan mau kalah di kandang sendiri !” Seru Seok Jin yang langsung mendapat anggukan dan sorak semangat para anggota tim. Terkecuali aku.

Mataku masih sibuk menyapu ke arah penonton. Memperhatikan satu persatu deretan para gadis yang bersorak-sorak dengan lagu yel-yel untuk mendukungku. Aku juga memperhatikan rentetan teman sekelasku yang beberapa membawa spanduk namaku. Setelah itu, turun untuk melihat para murid kelas satu yang datang mendukung. Nihil. Aku tak dapat menemukannya.

“Yoon Gi ! Min Yoon Gi !” Suara Seok Jin yang galak mengejutkanku. “Apa yang kau lihat? Dengarkan, kau di posisi utama. Jangan lengah, dan cetak banyak angka ! Aku tak bisa terus menerus mengawasimu. Kau dan Jungkook harus bekerja sama.”

“A..arraseyo !” Sahutku kikuk. Aku menoleh pada Jungkook lalu berhigh-five untuk menyulutkan semangat kami.

“Oke. Ayoo! Ayo! Tumpahkan segala semangat dan ambisi kalian !” Seru Seok Jin ketika kami berjalan masuk ke lapangan. “Bermainlah dengan baik anak-anak!” Seru Seok Jin selaku ketua tim basket kami. Pelatih di pinggir lapangan ikut menyoraki kami. Tak kalah dengan para pendukung yang mulai menyoraki nama tim unggulannya masing-masing. Tercium semangat berkobar dari semua peserta. Terkecuali aku, yang masih sibuk mendongakkan kepala mencari seseorang.

“Yoon Gi !” Kepalaku sontak menoleh. Mendapati Jungkook bersiap melempar bola. Aku sampai lengah dan baru sadar bahwa permainan sedang berlangsung. Aku berlari sekencang mungkin sembari mendribel bola dan melemparnya ke arah Seok Jin. Ia berhasil mencetak angka. Kami berhasil satu point.

Dan lagi-lagi mataku mendongak keatas. Nihil?

“Jimin !” Triakku memberikan bola padanya. Saat itulah aku melihat Seok Jin mengernyit padaku. Dia terlihat kesal karna berulang kali aku menghindar untuk mencetak angka. Aku tak pernah berpindah ke tempat yang cukup strategis untuk melempar bola. Aku bermain pasif. Semua anggota tim ku juga merasakannya. Dan aku tak tahu mengapa. Aku hanya menyadari bahwa aku berulang kali mendongak ke atas.  Mencari seseorang.

Aku kembali berlari. Menerima bola dan menggiringnya perlahan dan kembali memberikannya kepada Jimin. Aku tak sanggup melakukan blok. Terlalu sulit karna aku sering sekali melamun. Aku takut dan merasa tak yakin. Kepercayaan diriku terasa memudar. Aku kembali mendongak. Menatap jajaran penonton mulai risih dengan sikapku yang tak fokus. Tidak, dimana dia? Dimana Lee Yoon Na?

“Apa yang sedang kau lakukan ?!!” Seok Jin menghardikku cukup keras saat breakberlangsung. Semua teman-teman memandangku kecewa. “Kau bangga namamu berada disana? Kau tak seharusnya bangga sebelum menang!”

“Maafkan aku, aku tak bermaksud..”

“Kau mencari pacarmu?” Tuduh Seok Jin menyela ucapanku. Aku terbelalak. “Aku tahu kalian sedang bertengkar akhir-akhir ini sehingga dia tak pernah terlihat lagi di sekitarmu. Tapi tolonglah, fokus dengan pertandingan ini Yoon Gi !” Ingatnya. “Kau tak bisa membiarkan tim-mu kalah hanya karna gadis itu. Selesaikan pertandingan dan temui dia.” Ujarnya seraya memanyunkan dagu menunjuk sesuatu. Aku menoleh cepat ke belakang. Mendapati seseorang berdiri seorang diri di sudut bangku penonton.  Aku sendiri tercengang hebat.

“Yoon Na ?!”

“Apa kau sedang mencari selingkuhanmu? Kau terus menerus mendongak ke sana sedangkan pacarmu ada di sana. Fokuslah Yoon Gi ! Kau bisa mengacaukan tim-mu dan membuat pacarmu terus menerus menggerutu tak sabar sepanjang permainan di sana.”

Aku terbelalak. Sepanjang permainan? Sejak kapan gadis itu disana? Astaga, bodohnya aku.

“Akan kuperbaiki kesalahanku! Akan kumenangkan pertandingan ini!”

Semangatku kembali tersulut. Kembali berhigh-five dengan Jimin dan Jungkook. Setelah itu, aku kembali menoleh ke arah Yoon Na. Gadis itu masih di sana. Di ujung bangku penonton. Dia tak ikut duduk. Melainkan berdiri seorang diri seraya mengatupkan tangan dengan wajah cemas. Entah kenapa, dia terlihat manis dan menggemaskan di sana. Astaga, apa yang terjadi dengan diriku? Atau mungkin, aku mulai…

Aku akan menemuimu setelah ini. Batinku dalam hati.

Permainan kembali berlangsung . Menyulut sorak penonton yang kembali bersemangat. Terlebih dengan pendukung dari tim sekolahku. Kurasa, aku bermain cukup baik hingga berhasil mencetak poin lebih dari 4 kali berturut-turut. Entah mengapa rasanya mudah.

Yoon Na, kenapa kau tak berteriak?

Aku sedikit cemas tak mendengarnya berteriak seperti biasanya. Dia terus memasang wajah tegang dan berulang kali terlihat menggerutu aneh.

Permainan sudah hampir selesai dan kedudukan skor kedua tim seimbang. Tak lama lagi pasti akan berakhir seri. Aku harus melakukan sesuatu untuk membayar kesalahanku di pertandingan awal tadi. Hingga di kesempatan akhir aku berhasil berjalan melewatinya. Ia sedikit terkejut lalu menunduk lemas. “Berteriaklah Yoon Na dan aku akan mencetak satu angka untukmu.”

Gadis itu mendongak, sedangkan aku sudah berjalan menuju ke ring lawan. Ayoo, berteriaklah Yoon Na! Pintaku gemas dalam hati.

Hwaiting Yoon Gi Oppa !! –Semangat Yoon Gi Oppa!–  TRRAAANG!

 

“WOOOAAAAAAA~~ !!!”

Sorak ramai penonton mengiringi berbunyinya peluit yang ditiup wasit. Aku tak begitu menyadari apa yang terjadi. Namun begitu Jimin dan Jungkook berjalan menghampiriku, menubruk dan menggelayut di tubuhku, aku sadar bahwa aku baru saja mencetak skor dengan perbandingan poin yang nyaris saja seri. Aku menoleh, mendapati Seok Jin menghampiriku dan memelukku penuh bangga.

“Kau berhasil.” Begitu ujarnya.  “Kau akan menjadi kapten setelah aku.” Bisiknya lagi. Senyumku mengembang sumringah disusul ucapan selamat dari Jimin yang tak sengaja mendengarnya. Tapi bukan itu.

Kepalaku menoleh cepat ke arah dimana Yoon Na tadi berada. Tapi ketika gerak mataku berhenti, aku tak lagi menemukannya. Gadis itu sudah pergi. Dan dia sedang berjalan menuju ke gerbang keluar gedung lapangan.

 

“Hei, kau mau kemana ?!” Seru Seok Jin di susul tatapan heran teman-teman.

“Tunggu, aku harus menemui gadis itu.. maksudku pacarku.” Ujarku yang langsung mendapat sorak ramai teman-temanku. Entah apa yang baru saja kukatakan tadi. Tapi aku bangga mengatakan itu.

_o0o_

“Yoon Na !” Panggilku padanya yang terus berjalan memunggungiku. Gadis itu berhenti seketika. Menoleh tanpa senyum yang biasanya diperlihatkan padaku. Aku tak begitu mengerti mengapa senyumnya lenyap. Akhirnya, aku yang menyunggingkan senyum padanya. “Annyeong, lama tak bertemu denganmu.”

“Em, annyeong.” Ujarnya dan senyuman tipis terhias di wajahnya. Aku baru sadar, dia benar-benar manis. “Chukkae Oppa.. –selamat Oppa –, Tim-mu menang.”

Aku tertawa kecil. “Selamat juga Yoon Na.” Gadis itu mengernyit. “Kau menang.” Dia memandangku bingung. Sedangkan aku kembali tersenyum geli. “Kau tahu, kehadiranmu memang terlihat gila buatku. Tapi nyatanya kau berhasil membuatku tergila-gila. Ahh.. kurasa begitu.” Aku canggung. Menunduk malu. “Mianhae –maafkan aku–, jika malam itu aku menyakitimu. Aku tidak bermaksud…”

“Oppa, jangan memaksakan diri.” Ujarnya lirih.

“Tidak, aku tidak memaksakan diri. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku…” Sungguh, aku tidak tahu apakah ini harus kukatakan atau tidak. Tapi aku sudah cukup tersiksa merasa kehilangan semenjak dia tak lagi ada di sisiku. Dia seperti candu. Aku membutuhkannya.

“Oppa kenapa?”

CHUP~~

Yoon Na membelakkan matanya terkejut.Sedangkan aku perlahan melepas bibirku darinya. “Aku mencintaimu, dan jadilah kekasihku.” Ucapku setelah menciumnya.

Gadis itu masih diam. Ia justru terlihat bingung. “Maukah kau berada di sekitarku setiap hari dan memanggilku dengan wajah ceria? Aku… Ah, kurasa aku merindukannya. Kau mau kan?” Tanyaku sekali lagi. “Jika kau mau, aku akan memberimu latihan privat untuk penilaian basket remidimu. Aku berjanji.” Ucapku mantab.

Sedetik kemudian, senyumnya mengembang penuh. Dia tertawa dan memelukku erat. “Yoon Gi Oppa!!”

Perasaanku lega dirinya telah kembali seperti biasanya. Aku membalas pelukannya dan berhasil mendapatkan senyum Yoon Na kembali. Aku mencintai gadis itu. Kupastikan itu sekarang.

_END_

Advertisements

One thought on “[FF Freelance] Someone Who Called Me

  1. ya ampuun ini keren bangeet
    alurnya, pemilihan kata semuanya perfect
    gak ada typho jugaa, ^_^
    aahh joha 🙂 (y)

    aish aku iri dengan yoon na :3
    huhuhuuu kapan ada yang gituin aku yaa :v

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s