Namitsutiti

[FF Freelance] Hello Alien

1 Comment


h

Tittle: Hello Alien

Cast: Kim Taehyung BTS | Yoon Haneul (OC)

Rating: Teen 15+

Length: One Shoot

Genre: Little romance, mistery

written by OKHARA & covered by Amalia Latifah

_o0o_

Rumah besar dengan segala perabotan mewah menjadi pemandanganku saat ini. Semua ini nyata. Termasuk kenyataan miris yang mengatakan bahwa aku akan tinggal di sini seorang diri. Bukan karna aku takut! Tapi bagaimana caranya orang yang mengidaphipomnesia –kelemahan dalam daya ingat– sepertiku tinggal sendirian? Bisa-bisa aku benar-benar akan melupakan segalanya. Benar-benar amnesia.

Sejak pertama kali aku menginjakkan kaki disini, hal pertama yang kulihat adalahtirai merah marun besar yang menutup sebuah jendela seluas 2×3 meter di ruang tengah. Satu-satunya objek di rumah ini yang membuatku tak sabar menunggu malam. Memandang langit dari jendela sebesar ini pasti menyenangkan. Alasan mengapa aku meminta orang-orang itu untuk memindahkan sofa panjang tepat di depan jendela. Semata-mata karena aku ingin menghabiskan waktuku di sini.Memandang langit.

Selanjutnya, aku akan menemui ruang aula yang luasnya hampir setengah dari luas sebuah lapangan sepak bola. Terlalu luas jika hanya aku yang berdiri di sini sendiri. Harusnya ini menjadi tempat dimana aku dapat menjamu para tamuku dalam sebuah pesta. Tapi sayangnya, aku hanya sebatang kara. Semua ini hanya warisan yang telah lama tertinggal. Dan aku sendiri yang akan mengurusnya.

Didalam ruang aula ini, tergantunglah sebuah cermin besar dimana aku bisa melihat seluruh penampilanku. Dari ujung kepala hingga ujung kakiku. Entah bagaimana mendiang kakekku mendapatkan ini. Cermin ini benar-benar antik saking kunonya. Dan aku berani menaksir harganya sudah dapat membeli dua buah mobil alpard sekaligus. Ini benar-benar menakjubkan.

Kini kakiku melangkah keluar. Memasuki sebuah ruangan lain yang kutahu ini adalah kamar tidur. Dari sekian banyaknya ruangan, baru kali ini aku melihat kamar tidur seluas ini. Bisa saja aku bermain sepak bola di sini. Atau melempar bola voli setinggi-tingginya. Itu tak masalah. Selagi aku masih memiliki banyak uang untuk memperbaiki langit-langit yang retak.

“Luar biasa,” pujiku seraya berjalan keluar dari kamar tidur –yang telah kuakui sebagai kamat tidurku–. Menatap satu persatu barang-barang antik yang terpajang di setiap penjuru ruangan dengan kagum. Memanggut-manggutkan kepala dan dengan gaya jutawan menyentuh sebuah vas bunga yang diameternya lebih dari 15 centimeter. Mengusapnya dengan hati-hati. “Sayang, ada satu yang membuatku tidak puas,” ujarku yang kali ini melangkah menuju tirai raksasa itu. KRAAAKKK!!

 

“Rumah ini gelap!”

_o0o_

Aroma daging asap dengan saus keju memenuhi ruang dapur. Bahkan rumah sebesar ini, aku memasak makananku sendiri. Selain penjaga, apa rumah ini tidak memiliki pelayan yang bisa kusuruh-suruh? Aku tidak sanggup melakukan semua sendirian. Lihat saja, daging yang kupanggang hampir separuhnya hangus. Aku tidak pandai soal memasak.

“Dimana piringnya? Aku yakin aku meletakkannya di sini,”

Aku sibuk berdebat dalam hati. Pikiran dan ingatanku tak pernah sejalan. Padahal mereka adalah satu di dalam kepalaku. Dan inilah yang membuatku geram. Meski telah berhasil mengingatnya, aku tetap akan menyalahkan diriku sendiri. Bodoh.

PRAANG!!

 

Yaak! Eomma! Kenapa kau… hei?” aku menepuk jidatku dengan sendok. “Apa yang kuteriakkan? Aku sendirian di sini, Eomma sudah meninggal sebulan lalu.”

Aku terkekeh. Geli dengan sikap pikunku sendiri. Namun sedetik kemudian, tawaku lenyap seketika. “Tunggu, jika Eomma sudah meninggal, siapa yang memecahkan kaca?”

Aku berbalik. Melangkah mengendap-endap menuju ruang tengah. Kudapati semua gelap kecuali jendela raksasa itu. Yang di sana terpantul cahaya rembulan yang sedang penuh. Aku lupa sejak kapan aku membuka tirai itu. Tapi setidaknya, cahayanya membantuku untuk melihat ruangan luas yang lengang ini. Rupanya, aku juga lupa menyalakan lampu di ruang tengah saat malam menjelang.

KLIK!

 

Kudapati vas berdiameter lebih dari 15 centimeter itu telah pecah berserak di lantai. Aku tak mengeluh. Karena aku tahu vas ini tak ada apa-apanya ketimbang cermin besar di dalam aula itu. Paling harganya tidak lebih dari sebuah seperangkat alat kecantikan. Aku bisa membelinya lagi jika mau. Ini benar-benar barang yang murah.

Selesai membersihkan dan merapikannya, aku memutuskan untuk duduk di sofa panjang di depan jendela. Menatap langit yang tengah menyuguhkan pemandangan indahnya. Dimanabulan tengah berdiam diri menjaga langit. Sepertinya, bulan itu berusaha mengajakku bicara. Aku tahu. Dia sama sepinya. Tanpa bintang. Hingga membuatku serasa tersihir karna terus menatap kesendiriannya. Yang membuatku lama-lama tersadar akan bau hangus yang semakin tajam tercium.

“Astaga! Daging asap!” pekikku yang langsung menghambur ke dalam dapur. Yang langsung mendapati ruangan ini penuh dengan asap tebal dan membuatku terbatuk-batuk. Tak begitu parah. Tapi kedua mataku menjadi pedih karnanya. Dasar pelupa.

_o0o_

Malam menyelimuti langit. Sama seperti selimut tebal yang saat ini menjagaku dari dinginnya angin malam. Aku sendirian. Di atas sofa dan berusaha keras untuk terlelap. Aku bukan tipe orang yang mudah terlelap dalam keheningan. Biasanya, aku akan menyalakan musik keras-keras sampai aku tertidur. Tapi, sampai batrai mp3 player kosong pun, aku tetap tidak bisa tidur. Entah kenapa.

Aku juga telah mengurungkan diri untuk tidur di dalam kamar tidur yang luas itu.Yang kasurnya bisa menampung lima orang sekaligus. Kukatakan sekali lagi. Aku bukan tipe orang yang mudah terlelap dalam keheningan. Parahnya, rumah ini kelewat hening. Bodohnya, aku baru sadar dimana letak rumah ini berada. Di sebuah lahan kecil yang lumayan jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Berbatasan dengan pedesaan. Yang kanan kirinya terdapat hutan dengan pohon-pohon tinggi yang teduh kala matahari menyengat. Mungkin menyenangkan. Apalagi, aku tahu ada sebuah danau buatan tak jauh dari sini. Danau itulah yang menjadi penghubung lahan ini dengan pedesaan. Menakjubkan bukan? Sayang, aku sendirian.

 

_o0o_

Pagi menjelang. Membawa serta aroma khas tanah basah yang ada di pekarangan belakang. Awalnya aku malas untuk bangkit. Tapi syukurlah, jendela raksasa yang tirainya sengaja tak kututup sepanjang malam kembali membantuku. Terik sinar matahari yang menembus kaca jendela telah berhasil membuatku menggeliat. Setidaknya untuk mengusir rasa malasku.

Aku lantas bangkit. Berdiri di samping tirai menatap keluar jendela. Sebuah pemandangan baru kembali kudapati dari sini. Sebuah pemandangan akan indahnya hutan yang cahayanya tampak remang-remang memasuki celah-celah dedaunan. Indah. Aku tak akan menemukan yang seperti ini di kota. Atau mungkin di salah satu program acara televisi yang selalu tersiar setiap saat. Pemandangan ini terlalu langka. Dan aku hanya akan mendapatkannya lewat jendela raksasa ini.

“Eomma, Appa..”

Aku merindukan mereka. Meski aku sering lupa, setiap menyebut kedua nama itu aku selalu teringat. Lantas kembali memutarkan film-film lama menyenangkan tentangku dan keduanya. Yang kemudian kembali mengingatkanku pada kejadian sebulan lalu dimana aku melihat sendiri bagaimana malaikat pencabut nyawa menjemput Ibuku. Membuatnya pergi menemui Ayah.

Tanpa sadar air mataku menetes. Ini selalu begini. Aku tidak peduli apakah ini menjadi salah satu sindrom atau bukan. Yang pasti, setelah ini, aku akan menangis dengan keras. Menekuk lutut, memeluk tubuhku sendiri. Hingga tanpa sadar aku terlelap di ujung ruangan. Seperti orang yang mengidap kelainan jiwa. Dan ketika aku menyadarinya, aku akan lupa, dengan apa yang telah aku lakukan sebelumnya. Bodoh.

KRRRIIIKK..

 

Refleks kepalaku menoleh. Mendapati ruangan masih hening dan sepi seperti sebelum-sebelumnya. Tapi suara berdecit itu lama kelamaan semakin mengangguku. Menyuruhku untuk mencari tahu. Arahnya, berasal dari ruang aula yang besar itu.

“Siapa?” aku melangkahkan kaki. Memasuki ruang aula yang sayup-sayup menggemakan suaraku. Aku masih sendirian. Tidak ada siapapun sampai aku terkejut sendiri mendapati diriku dengan gaun piyama di depan cermin besar itu. Rambutku sedikit awut-awutan. Menuntunku untuk mencoba merapikannya. Namun dengan segera aku memutuskan untuk lebih baik mandi.

_o0o_

Sampai sekian menit aku menghabiskan waktu berendam diri dalam bath-tub. Bentuknya lucu. Tidak persegi, oval atau persegi panjang. Bath-tub ini berbentuk segitiga. Aneh bukan?

Hampir saja aku tertidur jika aku tak mendengar suara pecahan itu. Kenapa barang-barang di rumah ini selalu pecah sendiri? Atau pintu-pintu akan berdecit tanpa angin yang berhembus? Lagipula tak ada siapapun. Penjaga hanya berada di dekat pagar. Tidak akan masuk ke dalam rumah kecuali aku meminta. Ini terlalu membingungkan jika hanya aku saja yang berpikir. Berdebat sendirian bagiku seperti sedang berusaha bunuh diri. Aku akan gila memikirkannya.

“Kali ini apa? Sebuah sfinks?”

Kutatap patung berukuran sedang yang kepalanya berbentuk manusia sedangkan tubuhnya berbentuk singa itu dengan kesal. Bagaimana bisa kepala patung ini pecah? Seperti baru saja terlempar sesuatu. Mengerikan melihat patung kepala manusia ini tergeletak di atas lantai. Tapi membereskannya sendiri lumayan berat bagiku.

“Ahjusshi, Ahjusshi?” aku memanggil-manggil orang di dalam pos itu dengan cukup keras. Namun tak ada seorangpun yang menjawab panggilanku. Aku kembali menatap patung kepala yang ada di tanganku. Berat. Rasanya aku ingin menghanyutkan patung kepala ini ke dalam sungai. Tapi sungguh sial, bagaimana jika orang-orang mengira aku adalah pembunuh dengan kedok psikopat? Membunuh lalu memenggal-menggal bagian tubuh sebagai upaya mutilasi untuk menyembunyikan bukti?

“Kenapa tak ada seorangpun?” aku kembali menatap patung penggalan kepala itu lekat-lekat. Menimang-nimangnya lalu kembali berderap masuk ke dalam rumah. Kubiarkan saja kepala ini kuletakkan di depan pos penjaga. Meninggalkan sebuah notes kecil dan meletakkannya di atas patung kepala itu.

Bantu aku membersihkannya, kepalanya lepas.

 

_o0o_

Dua hari kemudian…

 

Ini adalah ketiga kalinya aku memutuskan untuk tidur di sofa. Aku benar-benar terserang insomnia dan mengalami gizi buruk karena makanan yang kutelan semuanya hangus. Parahnya aku sering lupa mematikkan kompor setelah memasak. Atau setelah aku tahu makananku telah hangus kumasak. Aku selalu lupa mematikannya hingga berulang kali membuat dapurku sendiri hampir terbakar. Akusangat ceroboh.

Kuselimuti tubuh dengan selimut tebal yang telah kuambil dari kamar tidur sejak tiga hari yang lalu. Kemudian melamun memandang langit yang menampakkan setengah dari bulatan bulan yang biasanya penuh. Tak mempedulikan bagaimana tirai raksasa berwarna merah marun itu berterbangan karna tertiup angin. Aku terlalu lelah meski aku tak bisa tertidur sama sekali. Aku kesepian. Hingga membuatku hampir gila sendiri.

PRRAAANG!

 

Aku tak menghiraukannya. Ini sudah ke-enam kalinya barang-barang itu jatuh sendiri. Yang setelah kuselidiki pecah karna bahannya sudah rapuh. Hanya beberapa. Hanya barang-barang murahan berkualitas rendah yang mudah pecah karena lapuk dimakan usia. Atau aku mulai terbiasa?

BUUKK!!

 

Kali ini aku mendengarnya lagi. Sesuatu yang bergebum dari arah pekarangan belakang. Aku tak ingin menebak itu apa. Yang jelas, aku sangat lelah hingga mataku terasa berat sendiri. Aku bisa tidur akhirnya.

_o0o_

“HAA!”

Mataku terbelalak lebar. Sontak tubuhku bangkit secara tiba-tiba. Terkejut entah karena mimpi buruk semalam, mungkin. Aku bangun terlalu siang. Membuatku gagal menyaksikan hutan remang-remang itu lagi. Sekarang hari sudah semakin panas. Aku ingin melakukan sesuatu untuk mengusir bengkak pada wajahku. Pergi ke pekarangan.

Sinar matahari di sini benar-benar menyenangkan. Tidak terlalu panas, tidak juga terlalu terik. Terasa hangat dan menyegarkan. Aku melangkah lebih jauh agar semakin bisa kurasakan hangatnya mentari. Tapi… Nyut!

 

“HA!” aku kembali terkejut. Setelah kurasakan kakiku menginjak sesuatu yang lunak dan lembut. Sebuah tangan! Daaan… seorang manusia!! “Astaga, siapa ini? Aku tidak benar-benar membunuh orang dan memotong-motong tubuhnya kan?”

Aku mundur lebih jauh. Menyentuh kedua pipiku dengan kedua tangan dan memasangwajah panik. Aku benar-benar lupa dengan apa yang telah kulakukan semalam, sehari sebelumnya, atau dua hari sejak kedatanganku. Aku juga berusaha mengingat apakah aku datang kemari sebelumnya atau tidak. Apakah aku menemui seseorang sebelumnya atau tidak. Aku benar-benar benci dengan kelemahan otakkuini.

“Kau masih hidup? Hei!” aku tak ingin mendekatinya sebelum ia benar-benar memberiku tanda bahwa ia masih hidup. Tapi jika dilihat, semua anggota tubuhnya lengkap.Kecuali… mata! Jika dia tidak membuka matanya, aku akan beranggapan bahwa matanya telah tercongkel dan aku tidak tahu siapa yang telah melakukannya.

“Hei! Kau, bangun! Siapa kau?”

Dia seorang lelaki. Aku menunggunya lagi sembari berulang kali membangunkannya. Semenit kemudian kulihat ia menggeliat. Saat dia membuka mata, tangannya dengan cepat menutup wajahnya. Menghalau sinar. Sikapnya membuatku berpendapat bahwa dia manusia normal.

“Kau siapa? Kenapa kau ada di sini?”

“Kau siapa? Kenapa kau ada di sini?” ia membeo. Persis seperti kalimat yang telah kuucapkan. Dengan nada bingung.

Sekali lagi aku memandangnya yang masih berbaring di tanah dengan aneh. Ia sama sekali tak ingin bangkit. Dia –mungkin- sama sepertiku. Saat terbangun dari tidur, tubuh akan merasa malas. “Siapa namamu?”

“Siapa? Nama..?”

“Ya,namamu.”

“Kim…Kim Taehyung,”

“Kim…Taehyung?” aku mengangguk mengerti. Lalu tersentak dan segera mendekatinya. Membantunya untuk bangkit. “Ayo kubantu berdiri.”

Senyumnya tampak kaku. Namun lantas menyambut uluran tanganku. Dan aku tak peduli bagaimana ia terus menatapku. Kubantu dirinya untuk berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah. Kepalanya langsung mendongak saat kuajak ia memasuki ruang tengah. Menatap si jendela raksasa yang kukagumi dengan tampang melongo. Mungkin ia juga sama kagumnya.

“Kau kagum?”

“Emmm…”

Kudengaria hanya bergumam panjang seraya kakinya terus melangkah menuju ke sisi jendela. Memandang hutan yang telah terik akan sinar matahari. “Kau berasal dari mana? Kenapa bisa tidur di sana?”

“Tidak tahu,” pria itu menggeleng. Pandangannya masih terfokus keluar jendela. “Siapa namamu?”

“Haneul, Yoon Haneul,” jawabku dengan jelas. Supaya aku tak mengulangnya lagi nanti.“Kau punya rumah? Kau ingat keluargamu?”

Kalimat terakhirku membuatnya menoleh cepat. Mendapati sofa panjang di belakangnya yang terdapat tumpukan selimut besar yang berantakan. Ia menatapku. Seperti ingin menjawab sesuatu. Tapi urung. Saat akhirnya dentuman jam dinding membuatku dan dia sama-sama menoleh. Terkejut.

“Yoon Haneul, sudah jam 12 siang,” ujarnya yang lalu tersenyum lebar. Membuat perasaanku aneh.

_o0o_

Malam semakin larut ketika langit enggan lagi memberikan tempat bagi sinar matahari. Meskisekedar menerangi. Atau mengijinkan sinarnya sekedar memantul pada rembulan. Initak seperti biasanya. Bulan yang bulat itu seakan lenyap ikut terbenam juga. Langitjadi semakin gelap. Saat bintang-bintang yang kecil itu tak ada satupun yang tampakjua. Langit benar-benar lengang. Sama seperti ruangan ini.

“Jadikau tak ingat apapun?” pria yang kuajak bicara hanya mengangguk kecil. Akunyengir dengan tampang tak enak menyadari bagaimana keadaan posisi kamisekarang ini. Aku duduk di sofa panjang sementara ia duduk di sebuah bangkujauh dari sofa. Ia duduk persis di samping pintu besar yang menunjukkan ruangaula. Entah kenapa ia memilih tempat duduk di sana. “Ah, kau ingin makansesuatu? Sedari tadi siang kau tak makan apapun?”

“Aku…ingin daging.”

“Kaujuga suka daging?” tanyaku antusias. Pasalnya, aku juga suka makan daging. “Ayokita ke dapur, kumasakkan daging untukmu.”

Akulantas bangkit dari sofa. Berjalan menuju dapur dan segera menghampiri lemaries. Mencari sebuah kotak khusus yang biasa kugunakan untuk menyimpan daging. PLLAK!

 

“Oh,astaga, aku lupa. Aku kehabisan daging. Kita harus berbelanja,” aku menepukjidatku berulang kali karena kecerobohanku.

Ianyengir. Mungkin geli  –atau mungkin jugakecewa – karena aku gagal memasakkan apa yang telah kutawarkan sebelumnya.Jujur saja aku merasa malu dan mendadak canggung. Aku benar-benar tak bisamengingat hal-hal kecil seperti ini. Ini memalukan.

“Takusah. Aku tidak lapar,” ujarnya tiba-tiba saat aku hendak masuk ke kamar untukmengambil uang.

“Sungguh?”

“Ya,”ia menoleh. Memandang jendela. “Lagipula di luar gelap, sebentar lagi jam 12malam,” ia tersenyum. Detik itu juga aku menyadari matanya yang kecoklatan itutampak mengkilat. Terkena sinar lampu ruangan.

“Oo..ohh,baiklah. Besok aku akan belanja,” ia mengangguk dan hanya tersenyum.

_o0o_

Paginyaaku berusaha mati-matian mengingat apa yang hendak kulakukan. Sesuatu yang telahkujanjikan pada tamuku sebelumnya. Bahkan awalnya aku sempat histeris karenabenar-benar tak ingat bahwa aku sedang memiliki tamu. Pria itu hanya menutuptelinganya saat aku menjerit. Dan aku sangat malu saat mengingatnya.

“Akuini, pengidap hipomnesia,”

 

Hi..hipomnesia?” ulangnya ragu. Lalukembali menggigit daging pada garpunya.

“Kupikiritu sindrom, ternyata memang kelemahan daya ingat,” aku tertawa garing. Mencobamencairkan suasana. Tapi sepertinya gagal. Dia sama sekali tak merespon. “Bagaimanadenganmu?”

“Akujuga tak ingat apapun,” aku tersentak. Seperti menyadari sesuatu. “Ada apa?”

“Kalaubegitu, kau amnesia? Apa kepalamu terbentur saat terjatuh?”

“Terjatuh?”lagi-lagi ia mengulang ucapanku. “Mengapa aku terjatuh?”

Benarjuga. Bagaimana mungkin dia masuk ke dalam pekarangan belakang tanpa terjatuh?Masuk akal jika ia memanjat dinding lalu menjatuhkan diri. Tapi, untuk apa diadi sana dan terjatuh?

“Kaujuga tak ingat apa tujuanmu datang ke sini?”

“Sudahkukatakan aku tak ingat. Tiba-tiba aku ada di sana.”

Bodohnya,rumah sebesar ini tak ada satupun CCTV. Padahal perabotan di sini semuanyamahal. Apalagi pemiliknya hanyalah seorang gadis. Yang tinggal sedikitberjauhan dengan para penjaga. Tunggu, benar! Para penjaga. Sejak dua harilalu, aku tak pernah lagi mendapat laporan dari para Ahjusshi itu. Terakhirkali, mereka hanya bilang telah membuang patung yang kepalanya patah itu. Lalu,tak ada lagi setelahnya.

“Akukeluar dulu oke?”

Kutinggalkania sendiri di dalam rumah. Sementara aku berderap keluar untuk menemui parapengawal itu. Pos lagi-lagi tampak sepi. Entah kemana orang-orang itu.“Ahjusshi-ahjusshi itu memang tukang kabur,” kesalku. Lantas berbalik untukkembali masuk ke dalam rumah.

Kosong.Ruangan yang awalnya sedikit beraura karena kedatangan lelaki bernama KimTaehyung itu tiba-tiba lenyap. Hening menyelimuti ruang sekitarku. Tak ada anginatau sedikitpun suara. Lengang. Hingga tiba-tiba kudengar suara berdecitseperti ketika aku mendorong pintu besar yang terdapat di aula. Benar, adaseseorang yang membuka pintu aula.

 

“Taehyung?”

Kosong.Yang kudapati hanyalah pintu aula itu terbuka dan ruangan yang luasnya hampirsetengah dari lapangan sepak bola itu kosong. Gelap dan keheningan menjadihiasan di dalamnya. Kakiku lantas berjalan masuk ke dalam. Menyusul keheningandengan melenyapkan sedikit darinya. Menciptakan bunyi bergesek dari kakiku yangsengaja kuseret. Aku sedikit ragu masuk ke sini sendirian. Apalagi tirai-tirairaksasa dari setiap jendela itu masih tertutup rapat. Menghalangi sinar masukuntuk meneranginya.

“Taehyung?”PUKK. AAAAKKKHHH!!”

 

Refleksaku berbalik cepat dan mendapati Taehyung nyengir menatapku. Aku menghembuskannafas sepanjang-panjangnya. Berdominan dengan rasa lega setelah tahu Taehyungmasih ada di sini. “A…ahjusshi, para pengawalku maksudnya, mereka tidak adasemua. Mungkin sedang keluar,” tuturku gugup.

“Memang,apa perlumu dengan mereka? Hei, apa itu piano?” Taehyung menunjuk sebuah bendabesar yang tertutup kain hitam. Jujur saja aku baru sadar ada benda sebesar itudi ujung ruangan ini. Mungkin benar itu piano. Tapi, sejak kapan?

“Kaubisa memainkannya?” tanyaku yang langsung mendapat anggukan semangat dariTaehyung.

Taehyungmembuka covernya. Matanya langsung bersinar begitu mendapati itu benar sebuahpiano. Aku ikut tersenyum. Lalu berbalik berniat untuk membuka salah satutirai. Semata-mata agar Taehyung lebih mudah melihat tuts-tuts piano itu.“Mainkan sebuah lagu untukku,” pintaku.

Priaitu tak juga mengangguk. Tapi jemarinya sudah siap berada di sana. Menekanbeberapa tuts dan memainkan sebuah lagu yang kutahu adalah salah satu laguklasik lama. Salah satu lagu yang sering kakek mainkan untukku dulu.

“Sepertisimfoni,” lirihku pelan. Menatap Taehyung bermain piano yang langsung di sorotisinar cahaya matahari. Ia terlihat seperti pemain tunggal dalam pertunjukkanpiano. Aku terkesima melihatnya.

“Jadi,kau menyukainya?” tanyanya tiba-tiba yang langsung menghancurkan khayalanku.Aku terkekeh. Mengangguk malu. “Ini terdengar seperti klasik lama. Tapiseseoranglah yang telah mengajariku.”

“Seseorang?”

“Ya.Dia adalah pria yang baik,”

“Gurupianomu? Kau kursus privat ya?”

Taehyungmenggeleng. Senyumnya sirna kala itu juga. “Bukan, yang kutahu, dia sudah tewas.”

“Tewas?”kejutku yang entah kenapa jadi mengulang ucapannya.

“Ijinkanaku memainkannya lagi,” Taehyung menatap piano itu sendu. Entah kenapa aku bisamerasakannya juga. “Aku merindukan pria itu.”

_o0o_

Hari-hariberikutnya aku selalu datang kemari. Datang mengunjungi aula yang luas ini.Memaksa Taehyung memainkan lagu yang sama berkali-kali. Entah sudah harikeberapa ini sejak kedatangannya yang misterius. Ia juga tak kunjung ingatdengan apa yang terjadi pada dirinya. Sementara berangsur-angsur ingatankumulai menguat karena ada seseorang yang selalu membimbingku. Ya, Taehyung, priaitu tak pernah bosan mengingatkanku.

Dansesuatu yang membuatku masih lupa sampai saat ini. Para pengawal itu, kenapatak pernah terlihat?

“Akubosan Haneul,” keluh Taehyung setelah ia memainkan lagu itu untuk yang kelimakalinya.

“Akujuga,” lirihku. Aku selalu setuju dengan ucapannya. Aku selalu patuh. “Kauingin apa sekarang?”

“Bagaimanajika kita pergi ke hutan?”

Matakumembulat.  Menoleh ke jendela denganheran. “Ke hutan? Malam-malam begini?” ujarku tak percaya. Ia mengangguk“A..aku tidak mau,”

“Baiklah,aku tak memaksa,” Taehyung tersenyum. “Kau ingin ke sofa?”

Kaliini aku mengangguk. Selama ini aku dan dia selalu menghabiskan malam denganmemandang langit bersama. Duduk di satu sofa yang sama. Berbagi selimut. Lalutertidur tanpa sengaja sampai pagi. Yang perlahan-lahan menciptakan debarananeh di dadaku. Sesuatu yang bergejolak ketika aku bersama Taehyung. Entahlahini apa.

“Ayo,”ajaknya yang langsung bangkit dan menggenggam tanganku. Berjalan menyusuri aulauntuk keluar. Berjalan menghampiri sofa di depan jendela raksasa itu.

Akududuk di sampingnya seperti yang sudah-sudah. Setelah itu kurentangkan selimutsehingga menutup sebagian tubuhku dan tubuh Taehyung. Lalu melamun panjangmenatap langit. Sibuk dengan pikiran kami masing-masing.

“Akumenyukainya,” bisikku kagum memandang langit dan langsung mendapat anggukandari Taehyung.

“Akujuga.”

“Apakau pernah naik pesawat? Rasanya menyenangkan dapat melihat awan begitu dekat.Menembus dan membelah mereka,” jelasku seraya menggerakan tangan seolah akutengah benar-benar menembus awan. Ia tertawa. Dan terlihat tampan.

“Akupernah menyentuh bintang,” aku mengernyit. “Maksudku, saat aku kecil, akupernah membuat bintang dari kertas. Lalu memasangnya di langit-langit tempattidur. Aku bebas menyentuhnya,” jelasnya lagi dengan gerakan menggapai-gapaisesuatu.

“Kauingat masa kecilmu?”

“Yaa…hanya sebagian yang kutahu,” ia nyengir. Lalu kembali murung.

“Kuharapkau cepat ingat,” tuturku lembut. Seraya mengusap pundaknya simpati.

“Terimakasih,”ia tersenyum. “Yoon Haneul, kau… gadis yang baik dan cantik.”

Akutersentak. Merasakan pipiku memanas dengan cepat sekarang. Aku tak salahdengarkan?

“Rasanya,aku menyukai Haneul,” ujarnya. “Boleh, kita mengadakan makan malam di aula?”

Akusemakin mengernyit. Lalu tersadar bahwa itu ide yang bagus. Wajahku berubahceria. “Tentu saja! Kenapa tidak?”

_o0o_

Akubenar-benar kehabisan semangat saat kudapati pos penjaga itu kembali sepi.Posisi benda di ruangan itu tak ada yang berubah sedikitpun. Selain debu danbeberapa sampah juga hewan-hewan kotor seperti tikus masuk ke sana. Kemanaperginya orang-orang ini?

Setelahputus asa aku kembali masuk ke dalam. Mendapati Taehyung sedang menatap langitsenja. “Kau kenapa?” tanyaku saat melihat wajahnya sedih. Ia tampak merenung.

“Akumerindukan sesuatu, tapi aku juga menginginkan sesuatu.”

“Apaitu?” tuturku penasaran. Ia menoleh. Memandangku lalu tersenyum lembut.

“Takapa. Kita harus bersiap-siap untuk dinner.”

Akutersenyum lebar. Lalu mengangguk patuh.

.

Disinilahaku sekarang. Dengan mengenakan gaun merah bersimpul manis dan sepatu berhaktinggi yang elegan. Sepasang gelang kukenakan di tangan kiriku. Sebagaipemanis. Setelahnya aku merapikan rambutku dengan menyanggulnya. Agar tampaklebih elegan.

Taehyungmengenakan setelan jas yang merupakan salah satu koleksi di rumah ini. Selamaini ia menggunakan pakaian koleksi di rumah ini. Mulai dari kaos, kemeja sampaijas yang mahal ini. Dan dia selalu tampak tampan dengan semua pakaian ini. Diabenar-benar membuatku terpesona.

“Ayo,”ajaknya yang langsung mempersilahkan lengannya untuk kugandeng.

Kami memasuki aula yang telah ia hias sedemikian rupa. Mendapati sebuah meja berdiridi tengah-tengahnya. Di dekat piano. Dengan hiasan lilin di atas meja. Sertabunga dan dua piring berisi steak daging kesukaan kami berdua. Jujur saja akuyang memasaknya. Dan kali ini tidak hangus sama sekali.

Semua tirai jendela telah terikat dengan rapi di setiap jendela. Mempertontonkanpemandangan langit malam yang bersemu romantis. Bulan yang bulat tak lagi sendiri. Ada bintang-bintang kecil yang menemani. Aku senang melihatnya.

“Kenapa tidak di sofa saja? Di depan jendela raksasa pasti lebih menyenangkan,” tuturkusedikit kecewa saat kami berdua menatap langit dari salah satu jendela di aula tersebut. Ia hanya tersenyum meresponku.

“Masalahnya kita sedang dinner, setelah ini kita akan pergi ke sofa bersama-sama. Seperti sebelumnya,” hiburnya. Aku hanya mengangguk dan lalu melangkah menuju ke mejamakan. Diikuti dirinya. “Lagi pula disini juga banyak jendela,”

Kami telah duduk berhadapan kini. Dalam diam. Saling menatap dan lalu menundukdengan malu-malu. Terasa canggung berpakaian seperti ini dalam acara khususyang kami buat sendiri. Ia nampak berbeda. Begitupula denganku.

“Kau mau berdansa denganku?” tawarnya sedikit kaku. Aku menatapnya sejenak. Sebelum akhirnya mengangguk dan tersenyum malu-malu.

Ia melingkarkan tangannya di pinggangku dan aku melingkarkan kedua tanganku di lehernya. Melangkah sedikit demi sedikit. Berdansa mengikuti iringan musik yang lembut. Aku sengaja memutarnya lewat mp3 player karena ini adalah hasil rekamanku saat Taehyung memainkan sebuah musik klasik dengan piano. Membuatku terbuai dalamindahnya malam ini. Malam romantis yang kami susun di hari sebelumnya.

“Kau lihat? Kau sangat cantik,” pujinya saat kami tengah berdiri berhadapan dengan cermin raksasa di dalam aula itu. Aku hanya tersenyum. Menatap bayangan dirikuterpantul indah di dalam cermin itu. Sementara seorang lelaki tampan tengahberdiri di belakangku. Menyentuh kedua bahuku. “Aku menyukaimu,”

Nafasku seolah berhenti dalam sekejap. Senyum yang awalnya mengembang kini sirna dari bibirku. Sementara jantung di dalam dadaku berdetak dengan cepat. Seiringdengan mengucurnya keringat dingin dari atas dahiku. Taehyung, apa aku tidak salah dengar?

“Kau menyukaiku?”

“Benar, aku menyukaimu, Yoon Haneul.”

Aku tersenyum. Yang langsung disambut pelukan hangat Taehyung dari belakang.

_o0o_

Kesiangan.

Lagi-lagi aku bangun kesiangan saking asyiknya begadang menatap langit semalaman.Taehyung? Dimana laki-laki itu? Sejak aku terbangun yang berhasil kuingat hanyadirinya. Namun sekalipun tak kurasakan tanda-tanda kehadirannya.

Lantas senyumku mengembang lebar. Disusul guratan merah pada wajahku. Aku menepuk kedua pipiku sendiri dengan gemas. Mengingat-ingat betapa indahnya mimpi semalam. Tunggu, itukah mimpi? Atau sebuah kenyataan manis?

“Taehyung?”

Akumelangkahkan kaki dan segera mencari keberadaannya. Hendak menanyakan mimpiindah semalam. Benar-benar mimpi, atau bukan?

“KimTaehyung?” kupanggil ia berulang kali namun hanya keheningan yang kudapat.Dimana pria itu?

“Taehyung!Kau ada dimana?”

Aku sudah menginjakkan kaki di pekarangan belakang sekarang. Membiarkan terik sinarmatahari memanggang kulitku barang sebentar. Aku cemas karena setiap kumasuki ruangan di dalam rumah, aku tak menemukan Taehyung. Aku segera berderap melangkah masuk. Keluar lagi lewat pintu utama untuk mencari para penjaga. Barang kali mereka tahu dimana Taehyung.

Aigoo, dasar bodoh!” runtukku gemas. Parapengawal itu menghilang sejak berminggu-minggu yang lalu. Aku tidak tahu dan aku tidak peduli. Aku kesal mereka pergi begitu saja. Aku akan melaporkan inipada pengacara. Dan mencari pengawal baru yang lain.

HHIIKKKH!!”

 

Akuterperanjat. Menoleh cepat ke arah hutan saat kudengar sebuah pekikkan aneh serupa triakkan seekor kuda. Aku mundur selangkah. Kembali kudengar suara gedebum keras menyusul dan lantas membuatku ikut berteriak. Terkejut.

“Taehyung!” bodohnya aku langsung berlari menuju hutan. Menembus rumput-rumput, menyelip pohon, mencari dimana suara itu berasal. Aku cemas itu Taehyung. Tiba-tiba ingatanku kembali menguat. Bukankah Taehyung bilang ia ingin pergi ke hutan?

Sekuattenaga aku berlari memasuki hutan. Tak peduli seberapa jauh aku telahmelangkah. Aku hanya terfokus dengan suara-suara aneh itu. Hingga pada akhirnyaaku berhenti di sebuah tanah lapang. Aku bingung. Harusnya aku menemukan danaudi sini, lalu, kenapa tempat ini yang kutemui? Dan lagi…

“Astagaa…”aku membekap mulut dengan cepat setelah benar-benar menyadari apa yang kulihat. Sesosok makhluk hijau dengan sesuatu yang panjang di atas kepalanya.Yang berbentuk bulat di bagian ujungnya. Ada dua buah. Sementara -sesuatu yang mungkin saja- sebuah tentakel tampak melayang-layang di sisi kanan dan kiritubuhnya. Aku berjalan mundur dengan waspada. Berharap sesuatu yang mungkinsaja monster atau setan atau mungkin juga iblis itu tidak mengetahui keberadaanku.

Selainitu aku dapat mencium pekatnya bau darah. Tentakel itu meneteskan beberapa kalibulir darah. Tampak merah dan mengerikan. Dia seperti sedang memakan sesuatu. Aku mendengar suaranya yang tengah mengunyah dengan keras. Seperti bunyi retakan. Mungkin tulang. Dan entahlah apa yang dia makan.

HHHWWRR!!”

 

Aku tersentak. Melangkah mundur semakin cepat saat kusadari ia telah selesai melakukankegiatannya. Aku segera berbalik. Berlari dan kemudian mulai berpikir bahwa tempat ini sudah tak aman lagi. Bodohnya, aku berlari menuju rumah.

“Eommaaa..Appaa…” rintihku hampir berbisik seraya memeluk diri dalam balutan selimut. Akududuk di sofa seorang diri dan tak lagi mengingat tujuanku yang tengah mencarikeberadaan Taehyung. Aku merasakan tubuhku bergetar. Aku ketakutan.

Sesekalikudengakkan kepala menatap jendela raksasa di hadapanku. Jendela yang langsung mempertontonkan pemandangan hutan tepat di hadapanku. Aku menunggu. Sesuatu halmungkin saja akan terjadi dari dalam hutan. Mungkinkah monster itu muncul danmelihat jendela ini lalu memburuku? Aku takut.

Detik berikutnya aku memantapkan diri untuk turun dari sofa dan berlari menuju ke ujungjendela. Menarik tirai raksasa dan menutup jendela rapat-rapat. Membuat ruangan ini gelap. Aku kembali beringsut ke atas sofa. Memeluk lutut dan menenggelamkan kepalaku dalam pelukan dalam-dalam. Tubuhku semakin dingin.

HHH..”


Sesuatu tampak menggelitik leherku. Suara desahan nafas yang membuatku gatal inginberteriak dan menyingkir. Sayang, tubuhku kaku saking takutnya. Apa itu? Kini sesuatu yang lengket tampak menyentuh lenganku. Aku merintih kecil. Merasakan hawa dingin di sekitar tubuhku.

“Eommaa…Appaaa…”

Akumemejamkan mata semakin rapat. Membiarkan sesuatu itu menjelajahi punggungku. Mengenairambut. “Yaakk… mwoya? Kenapa… haaa?Apa iniii??” rintihku dan sontak mendongak kecil. Merasakan sesuatu mengalirdari atas kepalaku. Terasa berat, lengket dan menjijikan. “Eomo!”

Aku tersentak. Mendapati cairan kemerahan itu menetes dari atas kepala ke lenganku.Darah. Darah yang bercampur lendir. Sementara desahan nafas berat yang kudengar semakin lama semakin terasa. Tepat dekat di telingaku. Aku menoleh perlahan. Merasakan sesuatu menjajarkan diri tepat di samping wajahku.

“AAAAAAKKKKKHHHH!!!!!” jeritanku tak hanya cukup untuk menumpahkan semua rasa takutku saat kudapati monster itu telah berada di sampingku. Menatapku dengan mata bulat besarnya yang ganas. Giginya yang hampir semua taring tampak berukuran besar. Wajahnya bergaris-garis dengan darah di setiap garisnya. Sementara giginya yang bermulut raksasa itu terus meneteskan darah berlendir. “TIDAAAAKKKKK!!!!!”

.

“Hei? Kau kenapa?”

Aku tersentak. Mendapati ruangan gelap di sekitarku. Sementara seorang lelaki tampak duduk tepat di sampingku. Aku terkejut. “Taehyung?”

“Kau kenapa? Tidurmu selalu begini ya?”

Sepatah katapun tak berhasil kujawab. Nafasku ngos-ngosan. Aku seperti baru saja mengalami sesuatu yang mengerikan. Terdengar bodoh sepertinya. Tapi rasanya benar-benar nyata. Bukan sekedar mimpi.

 

“Monster! Aku melihat monster!”

“Dimana? Apa dekat sekali?” Taehyung berubah panik. Celingukkan mencari sesuatu. “Kau melihat dimana?”

“Di belakang sofa!” aku berteriak lantang seraya menunjuk ke belakang Taehyung. Laki-laki itu ikut menoleh ke belakang dengan terkejut. Lalu menatapku lagi saat mendapati semuanya kosong.

“Kau menakutiku?” tanyanya dengan tampang malas. Dia mengira aku tengah bercanda.

 

“Terserah,aku juga melihatnya di dalam hutan!”

Taehyungberdecak. Lalu menggelengkan kepala dengan putus asa. “Haneul, tidak ada monster di sini. Semua baik-baik saja, lihatlah. Itu hanya mimpi buruk.”

Aku terdiam. Memahami baik-baik perkataannya. Mungkin benar. “Oke, oke,” ujarku manggut-manggut dan melepas nafas panjang. Sedetik kemudian, Taehyung memelukku. “Eh?”

“Jangan membuatku cemas Haneul, aku mencintaimu,”

Aku tersentak kaget. Sedetik kemudian aku teringat. Benar, semalam, setelah berdansa, Taehyung telah mengungkapkan perasaannya padaku. Dan kami jadian.

_o0o_

Hari-hari berikutnya aku semakin parah dalam bermimpi buruk. Aku selalu berteriak didalam kegelapan. Aku tak lagi ingin berlama-lama di atas sofa. Tak ingin lagimenemui pemandangan indah yang langka tentang hutan di pagi hari di luarjendela raksasa. Semua mimpi buruk itu menyiksaku. Semua kurasakan seperti nyata. Namun berulang kali Taehyung menasehatiku. Katanya, aku tak perlu khawatir, karena dia selalu ada di sisiku.

 

“Akul apar,” kali ini aku mendengar Taehyung merintih. Amat lirih namun aku bisamendengarnya.

“Bukankah kau sudah makan tadi?” ia mendongak. Terkejut aku dapat mendengar rintihannya. Namun aku hanya tersenyum sebagai tanda bahwa aku sedang berusaha mencairkan suasana. Berupaya untuk tidak membuatnya cemas. “Makanlah sesuatu, aku akan memasakannya untukmu,” ia terdiam, cukup lama. “Kenapa? Kau tak mau aku memasak?”

“Tidak,tidak apa-apa, tak usah.”

Aku merengut. Sedikit kecewa karena jawabannya. “Hari ini lagi-lagi pengacara tidak menjawab pesanku. Padahal dia sudah bilang akan datang kemari dengan psikiater.Tapi sampai sekarang tak kunjung tiba,” ujarku lagi, parau. Sungguh, aku ingin menangis karena keanehan yang kurasakan. Tapi Taehyung tak mengatakan apapun selain memelukku erat. Cemas.

“Aku semakin cemas,” aku melirik matanya. “Aku tidak bisa merasakan diriku sendiri, otakku sangat kacau,” ujarku, lalu menangis.

“Aku akan menghiburmu,” aku melirik ke arahnya. Ia tersenyum lembut. Lantas menggerakan kedua tangannya untuk menghapus air mataku. “Kau hanya tertekan karena terus berada di kamar. Keluar dan duduk di sofa seperti biasanya. Memandang langit bersamaku. Atau mungkin kita pergi ke aula dan mendengarkanku bermain piano?” tawarnya. Namun aku hanya menggeleng. Lalu menyandarkan kepala ke dada Taehyung. “Lalu kau ingin apa? Kau takut pergi keluar, takut tertidur, dan takut juga melakukan hobimu, kau hanya terus berada di dalam kamar dan tak melakukan apapun. Apa kau tak bosan? Kau menyiksa dirimu sendiri Haneul,”

“Akutak ingin melakukan itu semua, aku ingin berada di dalam kamar.”

“Itu keinginanmu?” aku mengangguk. “Bagaimana dengan makan malam? Berdansa mungkin? Seperti dulu?” kini aku terpaku. Mulai tertarik dengan tawarannya. “Setidaknya itu akan membuatmu bahagia Haneul, berdandanlah dengan cantik, kau berantakan sekali.”

Mata Taehyung terlihat rapuh menatapku seperti ini. Dia menata rambutku dengan jemarinya. Mengusap kedua pipiku yang tampak lembab. Lalu tersenyum nanar kepadaku. “Kau tahu? Kondisimu ini menyiksaku Haneul,”

“Maafkan aku, maafkan aku Taehyung,”

_o0o_

Semilir angin menciptakan bunyi gemerisik di atas genting. Ialah suara dedaunan yang saling bergesek satu sama lain. Menembus ke celah-celah jendela. Memasuki ruangan menerbangkan tirai-tirai marun raksasa. Suasana hening kala itu. Kecuali ruangan yang luasnya setengah dari luas lapangan sepak bola. Aula. Ruangan itu telah dirombak menjadi apik oleh si pemilik. Menjadi ruangan yang romantis dimana di sekelilingnya ditaburi kelopak-kelopak bunga mawar. Sementara alunan musik romantis terdengar akibat jemari-jemari yang menari diatas tuts piano. Membuat suasana hati yang kacau berangsur tenang.

Akumengulum senyum. Memandang Taehyung yang tengah berkonsentrasi memainkan lagunya. Lagu yang sama dan tak pernah sekalipun membuatku bosan. Justru membuatku semakin tenang. Aku enggan berdandan malam ini. Hanya mengenakan piyama tidur putihku dan membiarkan Taehyung mengenakan setelan jasnya. Dia terlihat tampan, sementara aku pucat.

“Haneul?”

Akumendongak. Tak sadar Taehyung telah berhenti memainkan pianonya. Ia menatapku dari jauh. Dengan tampang yang sama nanarnya dengan tadi pagi.

“Adaapa? Kau sudah selesai?”

“Tersenyumlah,sejak lagu kelima kau tak juga tersenyum,”

“Apa maksudmu? Aku tersenyum,” entah aku atau Taehyung. Tapi rasanya aku sempat tersenyum tadi.

Taehyung menggeleng. Lalu menghampiriku dengan tenang. “Kemarilah,”

Aku memaksakan diri untuk bangkit. Menerima uluran tangannya yang rupanya mengajakku untuk berdansa dengan lagu keheningan. Ia menghembuskan nafas berulang kali dan itu membuatku semakin merasa bersalah. Wajahnya selalu nanar. Tampak sedih dan tersiksa.

“Kau kenapa?”

“Kau pucat,” begitu katanya. Lalu kami terdiam cukup lama. Membuatku bosan dan semakin malas bergerak.

Akuberhenti. Lantas membuatnya memandangku bingung. “Aku tidak tahu, rasanya tubuhku lelah,” kulepas genggamannya dan berjalan menuju cermin. Memandang diriku yang lusuh dalam balutan piama. Taehyung menghampiriku. Mengusap kepalaku lalu memelukku. Tepat di belakangku.

“Akutahu, maka dari itu aku ingin mempercepat semuanya,” aku mengernyit. Tak mengerti. “Sudah jam 12 Haneul. Jam 12 waktunya makan,”

“Taehyung?” aku menatap kedua matanya lewat pantulan cermin. Merasakan dadaku bergemuruh hebat saat ia mengecup puncak kepalaku. Turun ke pipi kananku. Lalu ke leher. Sedetik kemudian kurasakan sakit yang teramat sangat. Sesuatu menusuk punggungku. Amat sakit hingga mulutku mengeluarkan darah. Tubuhku semakin lemah dan gontai. Namun Taehyung terus menahan tubuhku untuk tetap berdiri.

“Sa…kit..”

“Oh,Emm.. Haneul? Maaf aku tidak sengaja,” Taehyung melepas bibirnya dari tubuh bagian belakangku. Mendapati mulutnya berdarah dan matanya membulat hijau. Wajahnya entah sejak kapan berubah menyeramkan. Seperti monster. “Haneul? Kau tertusuk tentakelku!” pekiknya terkejut. Lalu melepas tentakelnya dari balik punggungku yang sudah terlanjur menembus perutku.

Akkkh..”  aku merintih. Tak kuat lagi menahan rasa sakit di sekujur tubuhku. Aku kembali menatap Taehyung yang terpantul di dalam cermin. Dia sudah tak tampak seperti Taehyung sekarang. Dia seperti monster.

“Maaf, aku lapar sekali,” ujarnya parau. “Aku terpaksa melakukannya seperti sepuluh tahun yang lalu. Aku menyukai seseorang, menganggapnya seperti ayahku, tapi aku membunuhnya karena aku lapar. Sekarang aku melakukannya lagi. Terhadap orang yang aku cintai,”

Akuterjatuh. Saat ia melepas sebagian tentakelnya yang sedari tadi menyanggatubuhku. Merasakan darah mengalir dari perut dan juga tubuh bagian kepalaku. Aku tak tahan lagi.

“Haneul,maaf, aku lapar sekali,”

“Siapakau sebenarnya?”

“Tentu saja Kim Taehyung, alien berwujud manusia,”

“Tidak mungkin,” aku merintih. Meneteskan air mata dengan tenang meski ingin sekali rasanya aku menjerit ketakutan.

Aku pasrah. Saat kemudian kurasakan Taehyung –yang kini berubah menjadi makhlukmengerikan– mengangkat  tanganku dan menggigit jariku. Aku tak mampu lagi menjerit. Meskin sakit, namun aku hanya mampu mengernyit. Merasakan perih dan panas lalu mati rasa. Suara gemeletuk menghapus keheningan. Menyadarkanku bahwa Taehyung tengah memakan jari-jariku.

“Aku haus, maaf,” sekali lagi aku merasakan ia menggigit urat nadiku. Menyerap semua darahku dan aku mulai pusing. Pandanganku mengabur. “Aku lapar Haneul !!” Taehyung menjerit. Lalu melepas tanganku dan beralih pada perutku. Menggigit dan mengoyaknya habis-habisan. Saat itulah aku tersadar, semua yang kurasakan, bukanlah sebuah mimpi.

.

Taehyunglah yang telah membunuh kakek. Ialah yang telah memakan dan membuat kakek seolah-olah mati katika berlayar –salah satu pekerjaan kakek adalah pebisnis yang sering keluar dengan menggunakan kapal mewah –. Dia adalah anak angkat kakek. Dialah yang diajarkan kakek secara khusus memainkan lagu piano yang indah itu. Taehyung adalah alien monster yang berjiwa manusia. Kecerdikannya dalam memainkan perasaan, adalah salah satu upayanya untuk mendapatkan mangsa. Dia adalah monster penipu yang tak pernah kenyang.

Semua pengawal menghilang karena dimakannya. Termasuk pengacara kakek yang beberapaminggu lalu datang untuk mengurus pencarian pengawal baru. Ia mati di makan Taehyung saat tak berhasil menemuiku. Ia berlari ke hutan. Terjebak di sebuah ladang dan mendapati alien Taehyung sudah menerkam tubuhnya dengan tentakel-tentakelnya. Mengiris tubuhnya dan memakan setiap bagian tubuhnya. Peristiwa yang telah kulihat beberapa minggu lalu saat kukira itu adalah mimpi. Itu kenyataan.

Gangguan hipomnesia itu juga telah berulang kali menipuku. Taehyung telah menghisap darahku berulang kali hingga membuatku seperti mayat hidup. Pucat, terasa lelah, dan pikiranku kacau karena mengira itu semua adalah mimpi buruk karena kelemahanku dalam mengingat. Bodoh.

Karena kebodohan itulah, aku telah pasrah habis di makan alien dan mati tanpa jasad.

_o0o_

#AuthorPOV

 

13 tahun kemudian…

Rumah bergaya kuno itu kini telah dibangun kembali dengan apik oleh seorang arsitek. Suasananya sangat cocok untuk disebut sebagai sebuah villa. Kanan kirinya terdapat hutan-hutan yang teduh. Di dalamnya ada sebuah danau buatan.

Rumah yang luas itu juga memiliki gaya unik tersendiri. Ada sebuah aula besar dengan cermin raksasa di dalamnya. Bahkan piano antik di dalamnya dapat ditaksir berharga tinggi. Piano itu telah berumur puluhan tahun. Namun suaranya masih terdengar baik. Bahkan sangat baik untuk ukuran sebuah piano tua.

Ditengah-tengahruangan –atau arsitek itu menyebut alun-alun ruangan–, terdapat jendela raksasa dengan tirai merah marun yang sangat luar biasa. Entah bagaimana pendapat orang-orang jika melihat pemandangan di luar sana secara langsung. Pemandangan langka tentang hutan di pagi hari. Bahkan sofa di depan jendela ini sepertinya merupakan sebuah petunjuk. Bahwa pemilik sebelumnya pasti sangat menyukai tempat ini. Menobatkan ini adalah tempat paling favorit.

Barang-barang antik, ruangan luas, kamar mandi dengan bath-tub unik berbentuk segitiga, apalagi? Semua ini terbilang mahal dan penyewa villa harus membayarnya dengan harga yang cukup fantastik. Supaya seimbang, supaya lebih menguntungkan.

.

Annyeong…”

 

Pria dengan setelan jas dan serbet di lengannya mengangguk sopan. Tersenyum ramah dan mempersilahkan kedua pasangan suami-istri itu masuk ke dalam. Sejenak membiarkan mereka terkagum-kagum dengan keadaan di dalamnya.

“Hebat,anda yang menjaga rumah ini?”

Pria itu mengangguk. “Ne, salam kenal.Semoga liburan anda berdua di sini sangat berkesan.”

“Ah,terimakasih,” ujar si wanita. Lalu tersenyum lebar. “Boleh saya tahu siapa nama anda?”

“Saya Kim Taehyung,” TEENG ! TENG ! TENG! Kedua suami istri itu menoleh terkejut. Mendapati jam besar di ruang tengah itu berdentang cukup keras. Memperlihatkan kedua jarum jam itu menunjukkan angka yang sama. Jam 12. “Baiklah, Tuan, Nyonya. Sudah jam 12.”

“Ada apa memangnya?”

“Itu adalah waktu makan,” Taehyung menyeringai. “Waktu makan saya.”

_END_

Advertisements

One thought on “[FF Freelance] Hello Alien

  1. Addduhhh merinding bcanyaa ishhh taehyung gnteng” jdi alien menyeramkan -_- issshh ishhhhh bner” dehhh, udh itu sadis lgi -_- adduhh seremm

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s