Namitsutiti

[FF Freelance] Pandora: Friend, Family, Love & Lost 2 Chapter 8

2 Comments


q

Tittle : PANDORA

Cast  : Park Jaena OC | Jeon Jungkook BTS | Jung Ho Seok BTS | Min Yoon Gi BTS | Kim Taehyung BTS

Genre : Fantasy , misteri , little romance , fiksi , horor

Rating : 15+

Length : Chapter

 

***

“Ma..ti..” Bisik seseorang yang tak lain adalah si sosok gadis asing itu.

 

“TIDAAAAAAK!!!!!!!!!” Triak Jaena sekali lagi. Dan saat itulah ia tak merasakan apapun lagi. Selain cahaya terang berwarna kebiruan yang membuat dirinya tak lagi sadar.

_o0o_

SPLLAASSHH…

 

“Akkkhh!!”

Cahaya terang berwarna kebiruan itu berhasil memaksa kedua matanya tertutup rapat. Dahinya saling bertautan karna rasa takut. Sementara angin kencang di luar seolah berhasil menerobos masuk ke dalam kamarnya. Menghempas tubuhnya dan membuat kondisinya semakin berantakan.

Jaena akhirnya terjatuh. Mulai tak sadarkan diri dan berangsur-angsur cahaya kebiru-biruan itu lenyap. Berganti gelap yang hening atas jatuhnya kesadarannya. Gadis itu mulai berpikir, bahwa –mungkin – dia telah mati.

 

_o0o_

Pukul 9 pagi.

 

“Jaena? Park Jaena?!”

“AH!”

Gadis itu sontak terbangun. Menatap sekitarnya panik dengan bayangan-bayangan semu yang mulai bermunculan di pandangannya. Membuat kepalanya mendadak pening.

“Hei? Kau tak apa?”

Jaena memaksakan diri untuk menganggukkan kepala. Meski sebenarnya rasa pusing yang luar biasa ini terus menjalar di kepalanya. Mengaduknya hingga gadis itu merasa mual sendiri. Gadis itu masih berusaha bertahan agar tak jatuh. Agaknya ia mulai penasaran dan ingin mencari tahu siapa si pemilik suara itu. Dan setelah dirasa pusingnya memudar, Jaena menoleh ke samping. Mendapati sosok lelaki yang memasang wajah cemas menatapnya. Merasakan tangan kekar itu berusaha menompang tubuh Jaena yang mulai limbung kembali. Namun ia masih belum mengenalnya.

“Aku.. ada dimana?”

Tepat saat itu, Jaena mengenali lelaki di sampingnya. Jung Ho Seok, ia tersenyum getir sekarang. Menampakkan garis-garis lengkung pada sudut bibir sekaligus dahinya yang tersirat cemas. Jaena masih menunggu. Seraya memijat-mijat kecil keningnya.

“K..kau ada di rumah Jungkook.”

“HA?”

Jaena mengernyit heran. Seolah ia tengah mengalami amnesia ringan. Bukankah aneh ia tak mengingat apapun tentang kepergiannya ke rumah Jungkook? Untuk apa dan dalam rangka apa ia bahkan tak menyadarinya.

“Jaen?” Kini seorang yang lain mulai menyapanya. Melongokkan kepala dari balik pintu dengan suara lirih hampir berbisik. Jaena tercekat. “Kau tak apa?”

“Jungkook?”

Jungkook menampakkan diri sepenuhnya dengan ragu-ragu dan berjalan menghampiri Jaena dengan langkah perlahan. Seperti ketakutan yang membuatnya merasa perlu was-was terhadap Jaena. “Kau.. Jaena kan?”

Kali ini Jaena mengernyit. Sedangkan Ho Seok menatap Jungkook mengancam. Bukan apa. Tapi ini bukan saatnya untuk mengatakan hal aneh yang mencurigakan kepada gadis itu. Ini akan memperburuk rasa pusing di kepala gadis itu.

“Apa maksudmu? Aku Jaena!”

“Ahh.. kukira..”

“Jungkook.. Ibumu.” Ho Seok mengalihkan pembicaraan. Menatap kehadiran seorang wanita 40an yang masih terlihat cantik dengan sanggul rapi di kepalanya. Ia tersenyum hangat. Rupanya, ia datang untuk membawakan secangkir teh yang harumnya tak asing bagi Jaena. Sangat harum. Meski lama tak pernah terhidangkan lagi, ia masih mengenalinya.

“Kau sudah siuman?” Tanyanya terarah pada Jaena. Jaena mengangguk pelan. Sudah beberapa bulan ini ia tak pernah lagi bertemu dengan Ibu Jeon, orang tua Jungkook. Setelah mendengar cerita bahwa kedua orangtua Jungkook adalah peri, rasa-rasanya Jaena merasa canggung. “Ini. Jangan lupa minum tehnya. Kata Jungkook kau pingsan karna berjalan-jalan di taman semalam. Bagaimana bisa kau keluar selarut itu? Syukurlah kau hanya terbentur karna terserempet mobil. Tapi itu bukan hal yang baik juga. Kau harus pandai-pandai menjaga diri.” Ujar Ibu Jeon panjang lebar.

Jaena mengernyit. Keluar malam-malam? Apa dia benar-benar melakukan itu semalam? “Ba..baiklah. Aku minta maaf… pada kalian semua.”

“Tak apa. Ingat, Ibumu akan cemas jika kau seperti itu. Ah, ini teh melati. Kau ingat? Ayah Jungkook baru saja datang dari Indonesia dan membawa ini sebagai buah tangan. Kau bawa juga untuk kakakmu ya? Dan… pacarmu ini.”

Ha? Pacar? Batin Jaena heran karna Ibu Jeon baru saja menyebut Ho Seok adalah pacarnya.

“Ahh.. maaf, aku teman Jimin. Dia harus kuliah pagi ini. Jadi…”

“OPPA!” Pekik Jaena tiba-tiba. Ibu Jeon yang mendengarnya ikut terkejut seperti yang lain. Jaena lekas bangkit. Meninggalkan ranjangnya dan ketiga orang di sana mulai berteriak memanggil-manggilnya. Ini parah. Jika semua orang ada disini, siapa yang menjaga Jimin di rumah?

“JAENAAA!!”

Triak Ho Seok di sepanjang jalan mengejar Jaena. Jarak rumah Jungkook dan gedung apartemen Jaena memang tak begitu jauh. Namun jika harus berlari seperti ini, cukup melelahkan juga. Mengingat kepala Jaena masih meninggalkan rasa pusing yang menyerangnya entah kenapa.

BRRAAAKKK!!

 

Nafas Jaena tersengal-sengal setelah berhasil mendobrak pintu kamar apartemennya. Sesegera mungkin ia berlari menuju ke kamar Jimin. Untuk menilik apakah lelaki itu masih di sana atau tidak.

“Oppa?”

Raut muka Jaena berangsur-angsur mulai melega. Tak lagi menunjukkan adanya kerutan kecemasan karna kepanikannya terhadap Jimin. Dia sudah mendapatkan jawaban atas kegelisahannya beberapa saat yang lalu. Jimin, ia masih di sana. Terbalut selimut dengan rapi di dalam sebuah lingkaran cahaya berwarna kebiruan yang entah sejak kapan berada di sana.

“Hhh..hh.. aku sudah memasang.. memasang hh.. pagar pengaman untuk..nya.” Jaena menoleh. Menatap Ho Seok yang tengah memaksakan dirinya tersenyum ke arahnya. “Karna aku sudah berjanji untuk melindungi kalian. Bukankah janji harus ditepati?”

Gadis yang masih terbalut piama itu membalas senyumnya. Menggumamkan kalimat ‘terimakasih’ yang hampir tak bersuara. Sejenak Ho Seok tertegun. Lalu terkejut ketika tubuh Jaena kembali pingsan.

_o0o_

2 hari kemudian..

 

Surai caramel gelap itu kembali terhempas tertiup angin. Menari-nari sejenak sebelum akhirnya kembali jatuh. Lelaki itu tersenyum aneh. Membuka matanya perlahan dan menatap langit biru di luar jendela. Kondisi kelas masih sepi setelah kedatangannya. Ia benar-benar bukan murid yang terlihat normal seperti kebanyakan. Ya, dia memang berbeda.

Tepat setelah lima murid yang lain masuk ke dalam kelas, seseorang kembali menggeser pintu agar terbuka lebih lebar. Terlihatlah Jungkook bersama Jaena yang dahinya nampak terbalut dengan perban yang tipis. Beberapa teman menghampiri Jaena dan menanyakan kondisinya. Lalu berpaling pergi keluar. “Bagaimana dengannya? Kenapa dia tak menanyakan keadaanmu?”

“Jangan membuatku kesal Jungkook.” Ingat Jaena. Gadis itu berjalan pelan menghampiri bangkunya yang terletak di ujung kelas di samping jendela. Tepat di samping lelaki berambut kecoklatan itu.

“Ah!” Kejutnya yang langsung membuat Jaena berhenti menarik bangkunya. “Biar kubantu. Kau baik-baik saja?”

Di sisi lain, Jungkook membelakkan matanya lebar-lebar. Dia memastikan lagi betul-betul bahwa selama 2 hari ini lelaki aneh itu sama sekali tak menanyakan keberadaan Jaena yang absen sekolah. Lalu, bagaimana bisa sekarang si aneh menampakkan raut muka semacam itu? Jungkook geram sendiri.

“Aku tak apa. Kecelakaan kecil.”

“Ah, begitu.”

Sekali lagi Jungkook menatap Taehyung. Si lelaki yang akhir-akhir ini membuat dirinya terusik. Ia entah kenapa tak menyukai lelaki itu. Ada sesuatu yang sulit diterima dirinya. Dan bahkan ia sama sekali tak bisa menjelaskan alasannya.

Setelahnya, Jungkook mulai enggan mendengarkan pembicaraan keduanya yang terdengar tak penting. Ia lantas menggeser tempat duduk. Memilih berkutit dengan buku catatannya dan sesekali mencuri pandang ke arah mereka.

_o0o_

Jam istirahat.

“Hahaha, jadi kau suka ramyun? Karna Oppa aku jadi suka.”

“Benarkah? Aku ingin sekali bertemu dengan Oppa-mu.”

Jungkook menoleh cepat. Setelah sekian lama ia hanya menguping, akhirnya pembicaraan inilah yang mampu menarik segala perhatiannya. Jaena ikut menoleh membalas tatapannya dengan bingung. Ia tahu, sejak tadi Jungkook terus diam di sepanjang pelajaran. Sahabatnya terlihat lain hari ini, tak biasanya ia menjauh seperti itu darinya.

“Ada apa Jungkook? Kau tak ingin ikut mengobrol?”

Ah, bahkan Jaena terlihat bahagia dan nyaman-nyaman saja disana. Gadis itu sama sekali tak nampak terusik dengan teman sebangkunya. Jungkook kembali geram.“Tidak.”

Jaena hanya mengedikkan bahu pada lelaki di hadapannya. Yang akhirnya membuat senyum Taehyung mengembang dan ikut mengedikkan bahu.

“Jaen, aku ingin berkeliling sekolah. Kau mau ikut?” Ajak Taehyung yang kembali menyita perhatian Jungkook.

 

“Kurasa aku perlu juga berjalan-jalan. Jam istirahat masih panjang.”

Yaaak! 10 menit lagi bel masuk. Disini saja!” Peringat Jungkook menghentikan langkah Jaena yang hendak mendorong bangkunya. “Ma..maksudku, kau masih belum sehat betul.”

“Aku akan menjaganya. Dia tidak sedang berjalan-jalan sendirian bukan?” Taehyung menimpali.

Sesaat Jungkook terdiam. “Terserah.” Ketus Jungkook akhirnya.

Jaena dan Taehyung berlalu. Sementara Jungkook hanya melirik kepergian mereka dari kejauhan dengan pandangan yang sayu. Tidak biasanya ia membiarkan Jaena seperti ini. Merasa tak peduli.

Jungkook terlalu bimbang. Ia juga merasa aneh semenjak beberapa hari lalu menemukan Jaena nampak seperti mayat hidup berjalan-jalan sendirian di dekat taman di salah satu persimpangan jalan yang memisahkan jarak antara rumahnya dan apartemen Jaena. Dan bagaimana bisa gadis itu keluar sendiri di tengah malam seperti itu? Syukurlah saat itu Jungkook melihatnya dari balik jendela kamarnya.

Jungkook mendesis. Memijat keningnya yang sama sekali tak merasa pusing. Ia hanya sulit berfikir jernih. Ia sontak teringat. Saat itu Jaena menggumamkan suatu kalimat aneh yang sama sekali tak dimengertinya. Jungkook berusaha menyadarkan Jaena kala itu, ketika lelaki itu berfikir mungkin Jaena tengah mengalami ‘tidur berjalan’ dan atau tengah ‘mengigau’. Tapi yang dilihatnya saat itu bukan seperti Jaena. Dan lebih mirip dibilang ada sesuatu yang memasuki tubuh Jaena. Entah ruh atau apa.

“Jaena..” Ujar Jungkook lirih. Ia lantas berdiri. Menuju keluar kelas untuk mencari keberadaan gadis yang jidatnya terbalut perban bersama pria aneh yang tidak disukainya. Ia harus melindungi gadis itu meski sebelumnya ia sempat ragu. Malam itu benar-benar telah membuat pandangannya sedikit aneh mengenai Jaena.

_o0o_

Flashback

 

“Eh?”

 

Malam itu angin bertiup lumayan kencang. Membuat dahan-dahan pepohonan saling bergesekan dengan ribut. Namun hal itu tak lantas membuat lelaki yang bersandar di pinggiran jendela menyingkir. Ia masih berusaha menyipitkan matanya. Mencari kefokusan memperhatikan sosok di kejauhan yang begitu familiar. Jungkook tersentak. Tepat ketika ia menyadari tubuh seorang gadis itu mendongak ke atas langit.

“Jaaaeen!!”  Triaknya setelah bersusah payah berlari membelah keheningan malam. Ia menghampiri gadis itu. Menyentuh bahunya dan mengguncangnya tak sabar agar gadis itu kembali menundukkan kepala dan menyadari kehadirannya. “Apa yang kaulakukan disini? Dengan siapa kau kemari? Jaaen!”  Jungkook masih berusaha menepuk-nepuk pundak Jaena yang tak juga menunduk menatapnya.

Gadis itu terus mendongak ke atas. Dengan mata terpejam dan tubuh mengejang kaku. Wajahnya yang pucat nampak bersinar aneh di mata Jungkook. Gadis ini seperti bukan Jaena ketika akhirnya Jungkook mendengar gadis itu mulai menggumamkan kata-kata aneh.

’’Mou la dums mimoshimaaa.. Mou la dums mimoshimaa..”

“Jaaaen! Sadarlah! Kau mengigau ya? Hei?!”  Pekik Jungkook lagi cemas. Gadis itu bergumam terus menerus menyebutkan kalimat yang sama tanpa henti. Jungkook merasa sangsi. Tak ada siapapun disini selain angin yang semakin bertiup kencang. Menghempas rambut gadis itu hingga naik ke atas dan membuatnya terlihat menyeramkan. Jungkook mundur selangkah. Dan beberapa saat kemudian tubuh Jaena melemas dan limbung terjatuh.

“JAENAA!!” Pekik Jungkook dan langsung menompang tubuh Jaena. Ditepuk-tepuknya beberapa kali pipi Jaena. Namun gadis itu tak kunjung sadar. Jungkook mulai kehilangan akal karna tak ada satupun orang yang bisa dimintai bantuan. Jungkook berusaha sendiri mengangkat tubuh Jaena. Menggendongnya dengan susah payah hingga ia berhasil bangkit.

“Jungkook?”

“Huh? Hyung?”

Ho Seok berlari tergesa setelah sekian lama berputar-putar di sekitar apartemen mencari Jaena. Gadis itu mendadak hilang dan mendapati jendela apartemen di dalam kamar gadis itu terbuka lebar. Ini aneh, mereka berada di lantai 10. Bagaimana bisa gadis itu keluar? Sedangkan pintu masuk masih terkunci rapat.

“Ada sesuatu yang terjadi padanya. Dia bukan Jaena!”

“HAH!” Pekik Jungkook.

“Kau melamun? Gurunya sudah datang Jungkook.”

Jungkook menoleh sekali lagi. Gadis itu, Jaena menatapnya skeptis. “Kau? Sudah kembali ya?”

“Em. Ah ya Jungkook, akhir pekan nanti aku akan pergi ke rumah Taehyung. Kau ikut ya?”DEG!

 

Kedua mata gadis itu nampak menyipit karna tarikan di bibirnya. Ia tersenyum menatap Jungkook. Sebenarnya dia sendiri sedikit merasa aneh karna Jungkook banyak melamun dan diam hari ini. Tapi berhubung Jungkook satu-satunya sahabat yang dimilikinya, ia tak ingin berlama-lama membiarkan Jungkook diam seperti ini. Ini bukan seperti dirinya.

_o0o_

Langit mendung. Hujan turun tepat ketika Jaena menginjakkan kaki di lantai apartemennya. Jungkook juga ikut serta bersamanya. Mengekor di belakang ikut masuk setelah melepas kedua sepatunya.

Gadis itu melirik sekilas ke arah Jungkook. Laki-laki itu benar-benar aneh hari ini. Apa ia mulai berusaha menjaga jarak padanya? Tapi karna apa? Karna Taehyung? Jaena memang tahu Jungkook sedikit dingin dengan kehadiran laki-laki itu. Entah kenapa pula. Tapi hari ini Jungkook memang tampak lain.

“Jungkook?”

“Um?”

“Kau marah padaku? Jika memang tak ingin ikut ke rumah Taehyung bilang saja.” Jungkook terdiam. Nampak berpikir. “Dia baik. Saat berbicara denganku juga…”

“Aku tidak tahu. Aku tak berpikir begitu.” Jungkook menghela nafas. “Aku tidak ingin akrab dengan laki-laki itu.”

Jaena menoleh dengan tampang terkejut. “Hei! Kenapa bicara seperti itu?!”

“Hei..hei.. kenapa ribut-ribut?” Kali ini Ho Seok datang dengan celemek dan dua sarung tangan terbalut di kedua tangannya. Sementara di kepalanya telah terpasang kain sebagai penutup kepala. Laki-laki itu sepertinya nampak sibuk. Tapi kehadirannya telah berhasil membuat Jaena dan Jungkook saling terdiam. “Eh? Ke..kenapa?”

“Kau sedang apa?” Tanya Jaena sembari menatap penuh dari ujung kaki hingga ujung kepala Ho Seok. Laki-laki yang ditatap justru menggaruk-garuk tengkuk dengan cengiran kudanya yang konyol. “Kau bersih-bersih?”

“Bukannya harus begitu? Sudahlah. Cepat kalian makan. Aku memasak enak. Yaaa… semoga.” Ho seok berbalik, kembali menuju ke kamar Jaena. “Ah, Jaena. Aku ingin bertanya sesuatu.”

Jaena tercekat. Sepertinya ini hal serius.

“Jungkook-ah, bisakah aku berbicara empat mata dengan Jaena? Kau tak keberatan kan?”

Jungkook terkesigap. “Ti..tidak Hyung.”

Jaena menatap Jungkook sejenak, setelahnya ia mengikuti Ho Seok masuk ke dalam kamarnya tanpa rasa curiga. Gadis itu menunggu sedikit lama karna Ho Seok sedang melepas sarung tangan dan celemeknya. Setelah itu, lelaki itu menatap Jaena datar.

“Ada apa?”

Pria di hadapannya masih terdiam. Seperti berusaha mengumpulkan sesuatu di dalam pikirannya. “Jadi, sekarang katakan padaku, siapa kau?” DEG!

Jaena terhenyak. Mengerutkan alisnya heran. “A..apa maksudnya?”

“Kau bukan dirimu. Siapa kau? Aku tak akan menyakitimu jika kau mau mengaku.”

Gadis itu menjadi kalang kabut dengan pertanyaan Ho Seok yang semakin berbicara dengan nada tinggi mengintimidasinya. Jaena mundur selangkah. Tanpa sadar tubuhnya menabrak sesuatu di belakangnya. Jaena semakin terkejut. Mendapati di belakangnya telah berdiri Jungkook dengan sebuah tali dan mengikat kedua pergelangan tangannya dengan kasar. “Jungkook?! Jungkook! Ada apa ini?! Oppa!” Triak Jaena panik.

“Maafkan aku Jaena-ya. Tapi ada sesuatu yang mengikat jiwamu.”

“Bukan jiwaku! Tapi kedua tanganku yang kau ikaat!! Yaaak! Lepaskaan!”

GRREEPPP!!

 

“AAHHKK!!” Pekik Jaena setelah Ho Seok berhasil memutar kepala gadis itu dengan kasar. “Oppa! Appo..ssh.”

“Katakan padaku. Siapa dirimu? Muncullah dengan ruh-mu! Jangan bersembunyi di hati Jaena!” Ancam Ho Seok. “Aku tak segan-segan melenyapkanmu.”

Jaena meronta hebat. Di belakangnya Jungkook dengan segera mengambil sebuah kursi dan mendudukkan Jaena di sana. Kembali mengikat tubuhnya hingga gadis itu semakin sulit bergerak.

“Apa-apaan ini? Apa yang terjadi pada kalian?!! AAARGHH!!” Jaena menggerakan kepalanya hebat menyadari Jungkook berusaha menarik rambutnya. Bukan menarik, tapi sedang berusaha mengikat rambut Jaena agar tidak menghalangi wajahnya. Sekarang, tampaklah lebih bebas wajah gadis itu. Hingga remang-remang sinar mentari mampu menyinari wajahnya. Gadis itu sedikit mengernyit silau.

“Harusnya, apa yang terjadi dengan dirimu?” Ketus Ho Seok seraya mengambil cermin oval yang besar entah dari mana. “Jaena, jika itu memang dirimu, akan kuberitahu sesuatu. Adaruh hitam yang sedang berusaha menguasai hatimu. Entah bagaimana makhluk itu bisa masuk ke tubuhmu dan memonopoli pikiranmu. Tapi aku akan mengeluarkannya dan menghancurkannya.”

“Apa?! Mana mungkiin?!!”

Kini Jaena memandang dirinya sendiri di dalam cermin tepat di hadapannya. Dia telah terikat kencang di atas bangku, dengan rambut yang diikat asal oleh Jungkook. Jaena terbelalak. “AARGGHHHHH!!” Triak Jaena tanpa sadar. Pandangan matanya perlahan memudar. Dan nampak di dalam cermin seorang gadis dengan wajah pucat kebiruan dengan mata hitam yang kelam.

Jaena bergidik ngeri. Menyaksikan gadis di dalam cermin meronta minta dilepaskan. Itu bukan dirinya lagi. Rambut basahnya yang panjang tergerai sampai ke ujung tangannya dengan cakar-cakar tajam di setiap jarinya. Tubuh setan itu tampak berkerut, mirip seperti tulang yang hanya terbalut kulit pucat yang membusuk. Jaena memejamkan matanya seram begitu setan di dalam kaca menatapnya dan berteriak hingga mulutnya berdarah-darah, menampakkan taring-taring hitam yang menjijikan. Apalagi mata itu, mata pembunuh yang siap membunuh siapapun yang mengusiknya.

“Keluar kau!!” Teriak Ho Seok kepada Jaena. Gadis itu mendongak.

“Aku Jaena!! Hentikan lelucon ini!!”

“Kau bukan Jaena!! Tunjukkan dirimu sekarang!!”

“OPPAA!!” Jaena menangis sekarang. Menatap Ho Seok memelas. Ia ketakutan. “Percayalah, saat ini yang kau ikat adalah aku. Aku Jaena Oppa!! Jebaal.. Hentikan ini. Aku takut melihat cermin itu.”

“Setan itu masih tak mau menampakkan dirinya Hyung.” Ujar Jungkook was-was.

“Eomma..” Lirih Jaena yang terus menunduk dalam tangis. “Aku takut.” Entah harus dengan siapa ia berbicara saat ini. Ho Seok maupun Jungkook tak ada yang mau mempercayainya.

“Jaen..” Lirih Ho Seok. “Tidurkan dan tenangkan dirimu agar aku bisa mengusir setan itu keluar. Dia akan menguasai jiwamu jika kau tak menganggap ini nyata. Aku sudah merencakan upacara ini dengan Jungkook saat pertama menemukanmu malam itu. Percayalah Jaena.”

“Ba..bagaimana caranya? Aku tidak mengerti apapun!”

“Tidurlah.” Jaena menggeleng. “Aku tau kau sering bermimpi buruk karna ruh ini selalu mengikutimu. Dan kupastikan saat ini kau tak lagi bermimpi buruk. Jungkook akan menemanimu dari belakang. Dan aku menemanimu tepat di hadapanmu.”

Gadis itu menatap Ho Seok lekat-lekat. Tangisnya mulai mereda. Perlahan-lahan ia mulai membangkitkan kepercayaan yang diberikan pria itu. Mencoba untuk terpejam dan tertidur. Itu tak akan sulit selama ia mau menenangkan diri. Dan berharap ketika ia terbangun nanti, semua akan baik-baik saja seolah tak ada yang terjadi.

“Kita mulai… Jungkook.”

_o0o_

“Oppa? Jungkook?” Suaranya terdengar menggema. “Ho Seok Oppa?! Jungkook?!” Masih hening. Terdengar senyap seolah tiada tanda kehidupan. Anginpun juga tak ada.

Ruang hampa bernuansa putih ini serasa menghipnotisnya. Jaena kembali melangkah dengan perlahan. Mencari titik jalan dari ruang hampa ini. Sebelumnya ia tak pernah pergi ke tempat ini. Mungkin ini dimensi lain yang telah ditetapkan untuk dikunjunginya selama Ho Seok dan Jungkook melakukan upacara pengusiran setan itu.

Jaena tak begitu ingat dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini. Hingga tanpa sadar ruhhitam itu bisa masuk ke dalam jiwanya, mengingat setiap keganjalan-keganjalan silih berganti kerap menemuinya. Hidup Jaena seolah dipermainkan. Setan-setan yang sering bermunculan di matanya. Yang awalnya sama sekali tak pernah memiliki daya untuk melihat itu semua. Tiba-tiba saja muncul seiring kabar bahwa ia adalah seorang titisan.

Jaena mendesah. Mulai lelah berjalan bertelanjang kaki di ruang antah berantah ini. Hingga akhirnya samar-samar ia melihat siluet tubuh seseorang sedang berjalan tak jauh dari tempatnya berdiri. Jaena memfokuskan pandangannya lagi. “Tidak mungkin.” Lirihnya kecil.

Siluet tubuh itu berlari lagi. Membuat Jaena lantas ikut berlari untuk mengejarnya. Dia tak begitu mengenali siapa orang itu. Tapi jika menurut postur tubuhnya, itu seperti… Jimin.

“Oppa!!” Triak Jaena seraya belari menghampiri sosok yang mirip seperti Jimin. Jaena kenal betul dengan gaya rambut seperti itu. Tubuh itu, dan cara berlarinya pula, Jaena memastikan bahwa dia kenal dengan siluet tubuh itu.

_o0o_

Sementara di kamar Jaena.

Ho Seok berusaha sekuat mungkin menarik cahaya sebanyak-banyaknya untuk melepas pengaruh setan jahat itu dari tubuh Jaena. Jungkook sendiri memikirkan hal lain. Ia membuka semua tirai-tirai jendela di setiap ruangan untuk membantu Ho Seok menarik banyak cahaya. Tentu saja untuk membunuh setan itu.

“AARRGGHHHH!!!”

Jungkook bergidik ngeri di belakang Ho Seok. Melihat bagaimana wajah Jaena berubah menyeramkan dan darah mengalir dari kedua mata gadis itu. “Hyung!!” Jungkook terpekik menyadari tali yang diikatnya perlahan-lahan mulai mengendur dan hendak lepas. Ho Seok tak begitu memperdulikannya. Ia sibuk membaca mantra. Ternyata kondisi seperti ini sangat sulit dilakukan sendiri. Ia membutuhkan Seok Jin untuk mengimbanginya.

“Assh! Sial!” Grutu Jungkook akhirnya. Lelaki itu tanpa ragu-ragu lagi menghampiri tubuh Jaena dari belakang. Dengan mengalahkan rasa takutnya, dan langsung menarik tali agar kencang kembali. Ho Seok yang berkonsentrasi penuh sempat melihatnya. Dan semakin bersemangat menyadari bahwa dia tak sedang sendiri. Ada seseorang yang ikut membantunya saat ini. Ia tak boleh lengah.

“Cepatlah Hyung, aku tidak kuaaat..” Rintih Jungkook yang mulai lelah seiring dengan membesarnya rasa takut yang hinggap. “Tali-tali ini terasa panas.”

“Aku sedang berusahaaa.. akkkh! Lumsshiooo!! -musnah!!- ”

“AAAAHHHKKKK!!!” BRRAAAKKKK!!!

 

Sekejap cermin yang berada di hadapan tubuh Jaena meledak. Ho Seok terkejut hebat. Sementara Jungkook mulai terhempas dan terlempar sampai ke ujung ruangan. Matanya mengerjap beberapa kali akibat efek cahaya yang timbul dari cermin oval itu. “Apa dia sudah mati?”

Ho Seok yang mendengar pertanyaan itu tak lantas menjawab. Ia ingin memastikan betul bahwa setan itu telah mati. Terlebih, kondisi ini cukup buruk mengingat Jaena masih terlelap. Dia pasti sedang berada di dimensi lain saat ini. Sedangkan cermin yang menghubungkannya telah meledak. Entah bagaimana nanti Jaena kembali. Kondisi ini benar-benar buruk. Kritis tingkat lima!

“Hyung?”

Jungkook menghampiri Ho Seok yang berusaha menggapai tubuh Jaena. TEP! “Ah, dia Jaena.” Ujar Ho Seok lega. “Tapi jiwanya masih tersesat. Sama seperti Jimin. Dia belum bisa sadar.”

_TBC_

 

Advertisements

2 thoughts on “[FF Freelance] Pandora: Friend, Family, Love & Lost 2 Chapter 8

  1. ya ampuunn ternyata ituu bukan jaena ?? aigoo aku jadi err merinding kak.. pendeskripsian hantunya nganu(?) banget kak, ane kebayang tuhh errr seremmm
    eih jaena ? ohh tidakk! ini benar2 buruk aishh!!

    eh kak btw yee.. ini si jaena kapan ke athena nya kak ?? nunggu nemuin jimin dulu ya kak ??

    aishh aku udah gak sabar nanti nunggu si jaena udah bisa ngendaliin kekuatannyaa ahhh ^_^ 😉
    ka ??

    Like

  2. yakk jaena ireonaa.. Kook yng sbar jaena cma kna pngaruh jdi baik ma tae.. jjank thor aku ska slain fantasi ada serem”ny gmana gtu.. Tpi kpan lanjutan’ny udah gk sbar.. Smangat trus 🙂

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s