Namitsutiti

[FF Freelance] Pandora: Friend, Family, Love & Lost Chapter 7

1 Comment


3

Tittle : PANDORA

Cast  : Park Jaena OC | Jeon Jungkook BTS | Jung Ho Seok BTS | Min Yoon Gi BTS | Kim Taehyung BTS | Park Jimin BTS

Genre : Fantasy , misteri , little romance , fiksi , horor

Rating : 15+

Length : Chapter

_o0o_

Kadang seseorang memerlukan orang lain untuk membantunya, mendapatkan sesuatu dan merasakan sesuatu. Dengan hal itu kau akan mendapatkan segalanya. Tapi apa jadinya jika hal tersebut sama halnya ketika kau menanam kematianmu sendiri? Apa kau mengerti? –Pandora-

_o0o_

Malam semakin larut ketika Ho Seok memasuki kamar Jimin untuk mengecek bagaimana keadaan lelaki itu. Entah bagaimana jadinya jika lelaki itu masih ada di sini bersamanya sekarang. Pasti dia akan mendapat banyak omelan karna hampir saja membuat adiknya dan Jungkook dimakan Behemoth. Sudah cukup mengerikan mengingat Seok Jin juga kehilangan sebelah tangannya karna Behemoth berjenis Cerberus itu. Menelan tangannya dan membuat Seok Jin harus dirawat intensif di Negri Athena.

Ho Seok menghembuskan nafas panjang. Meyakinkan pada dirinya bahwa semua bisa teratasi dan akan baik-baik saja. Tapi mengingat hanya dia seorang diri disini, menjaga dan melindungi Jaena dan Jungkook, dia berubah cemas. Nyawa Jimin juga belum diketemukan. Entah sedang berada di mana kesadaran Jimin itu berlabuh. Hingga tega meninggalkan raganya begitu saja, terlelap dengan mimpi tersesatnya.

Ho Seok membenahi letak selimut Jimin yang lagi-lagi tertiup angin. Entah kenapa juga angin bertiup kencang malam ini. Tak seperti malam sebelumnya ketika mereka sedang beristirahat di hari pertama setelah melakukan penyerangan di sekolah Jaena. Malam ini justru terasa menyeramkan. Jungkook bahkan enggan pulang ke rumahnya. Dan membiarkan dirinya kedinginan di teras balkon berdua dengan Jaena. Lebih dari itu… sepertinya mereka sedang menikmati masa-masa remajanya. Mereka berdua, apakah saling jatuh cinta?

“Jimin, cepat pulang. Bulan baru dinegri Athena sebentar lagi akan berganti. Tak ada waktu lagi untuk mengulur waktu. Jaena sedang terancam. Meski Darktorcrow telah teratasi, mereka, cepat atau lambat pasti akan kembali.” Ho Seok menatap keluar balkon. Menatap Jaena yang tengah bersandar di bahu Jungkook. Nampak sedang membicarakan sesuatu. “Kudengar Promotheus V sedang bertransformasi menjadi tubuh manusianya. Itu akan membahayakan Jaena.”

Lelaki itu berjalan mundur. Meninggalkan tubuh Jimin yang hanya diam tak bergerak sedikitpun. Memandang ruangan gelap di luar kamar dan kembali menghembuskan nafasnya panjang. Tanpa sengaja ia menatap bingkai foto yang berada di meja nakas. Foto Jaena dan Jimin yang berdiri berdampingan. Meski ia tertawa konyol dan menggandeng tangan Jaena dengan erat, Jimin kecil nampak gagah dengan setelan jas hitamnya. Sedangkan gadis kecil di sampingnya nampak tertawa riang dengan gaun putih yang dikenakannya.

Berbeda dengan orang normal kebanyakan, Ho Seok dapat melihat di dalam foto itu, Jaena kecil memiliki sayap bidadari yang indah di belakang punggungnya. Sayap yang sama yang pernah dimiliki Dewi Pandora sebelumnya. Satu hal yang membuat ia dan Seok Jin sama-sama tercengang saat pertama kali melihat foto itu. Jaena, benar-benar titisan Dewi Pandora.

_o0o­_

JIMIN

Ruang hampa, dengan pemandangan penuh bernuansa putih membuat Jimin mendadak pusing. Matanya terasa kabur setelah beberapa kali ia berjalan kesana kemari dan tak mendapat apapun kecuali ruang hampa dengan cahaya putih.

Ia menengok ke belakang, seperti ia mendapati hal yang sama sejak beberapa saat lalu ketika ia memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat ini. Jika ini labirin, dia akan memilih memanjat dan mencari jalan dari atas ketinggian itu. Tapi ini bukan labirin. Tak ada satupun dinding maupun batu sekalipun. Ia mulai lelah. Tenggorokannya juga terasa kering dan ia mulai mual dengan kondisi yang seperti ini.

“Sebenarnya, dimana ini?” Ujarnya yang langsung terdengar menggema di ruang hampa itu. “Aku tidak melihat pasir jika ini adalah gurun sahara, juga bukan labirin yang punya dinding. Tapi ini seperti jalan tak berujung!!” Gerutunya. “Sudah berapa lama aku ada disini? Apa ini ulah Seok Jin dan Ho Seok?!”

Jimin kembali melangkah. Meninggalkan tempat yang tanpa sadar adalah tempat yang selalu sama ketika ia memutuskan untuk pergi.

_o0o_

 

Pukul 8 pagi.

“Ahh..”

Jungkook menghembuskan nafas begitu sampai di bangkunya sendiri setelah sampai di ruang kelas. Ia menoleh, mendapati Jaena sudah kembali melanjutkan tidur di bangkunya seorang diri. Sekolah nampak lebih sepi daripada biasanya dan hanya terlihat beberapa murid menggerombol membicarakan sesuatu yang tak lain adalah kejadian tiga hari lalu saat pembunuhan itu terjadi. Dari pendengaran Jungkook yang tak sengaja tertangkap, kasus itu sama sekali belum bisa diprediksikan oleh pihak kepolisian bahwa ini adalah kasus pembunuhan.

Tak ada apapun yang mencurigakan dan tak ada satupun jejak dari si pelaku. Semua kematian ini terlihat bersih tanpa ada satupun penyebab yang terjadi. Bahkan pihak kepolisian mulai merasa bahwa kejadian ini tak wajar. Beberapa gedung sekolah telah dilacak dan tak ada satupun yang terlihat ganjal. Jika memang ini bukan ulah manusia, itu akan terlihat lebih mengherankan. Bagaimana cara hantu dengan ektoplasma setipis dan seputih salju membunuh sampai seperti itu? Dan kenapa harus kedua anak berprestasi yang selalu terlihat ramah pada siapapun menjadi korbannya?Sedangkan yang sering mem-bully disekolah nampak tentram-tentram saja?

Hei, pelaku pem-bully-an! Batin Jungkook serius. Jika dia murid biasa, dia akan langsung menebak bahwa itu adalah salah satu tindakan bullying. Eh? Terlalu sadis jika itu tindakan bullying. Lagi pula polisi akan menemukan mereka. Lalu ia tergelak sendiri. Darktorcrow yang membunuh kedua gadis itu. Tak ada alasan lain selain karna makhluk-makhluk itu kelaparan.

“Hei? Park Jaena?” Panggil Jungkook hampir berbisik. Jaena yang dipanggil hanya bergumam kecil lalu kembali terlelap. “Semua sedang membicarakan kematian Eun Ri dan Min Yoo.” Bisik Jungkook lagi.

“Dengarkan saja Jungkook, jika ada kabar terbaru, cepat beritahu Ho Seok Oppa.”

Jungkook hendak menyela, tapi Guru Jum sudah lebih dulu masuk dengan seorang anak lelaki yang sama sekali asing di mata Jungkook. Murid barukah? Bisa-bisanya di masa kritis seperti ini sekolah justru menerima murid baru.

Sementara itu, Jaena tak lagi terbangun dari tidurnya. Gadis itu masih keukeuh untuk tidur dan tak ingin lagi melakukan apapun selain menyandarkan kepalanya pada sisi meja. Hingga akhirnya tanpa sadar seseorang duduk di sampingnya tanpa permisi. Jangankan meminta ijin, menyapa Jaena bahkan tidak. Gadis itu merasa terganggu karna tak biasanya dia mendapat teman duduk sebangku.

“Huuh..” Desahnya hendak mengecek siapa yang berani duduk di sampingnya. “Nugu..” Mata Jaena berubah terkejut. Ucapannya terpotong begitu menatap siapa yang berani duduk di sampingnya ini. Seorang lelaki dengan surai karamel hangus terbakar juga menoleh menatapnya. Keduanya sama-sama terdiam. Terlebih, laki-laki itu sama sekali tak menjelaskan siapa dirinya ini. Meskipun tatapan Jaena sudah berusaha mengintimidasinya.

“Jaena?” Kini suara Jungkook yang terdengar. Jaena melongok sesaat, menatap Jungkook yang nampak cemas disana. “Dia murid baru.”

“Ha?” Keterkejutan yang sama ketika Jungkook pertama kali menatap kehadiran lelaki itu.Keadaan sekritis ini sekolah mau menerima murid baru?  “Kau murid baru?” Tanya Jaena tak percaya.

“Ya.” Ujar lelaki itu singkat.

“Siapa namamu?”

“Kim Taehyung.” DEG!

Bibir Jaena masih terbuka tercekat. Rasa-rasanya dia tak begitu asing dengan nama itu. Tapi entah siapa dan dimana dia tak begitu ingat. Lelaki itu membuang muka. Tak lagi menatap Jaena yang masih nampak penasaran dengan kehadirannya. Jaena berpaling lagi untuk menatap Jungkook. Lelaki itu juga sama menatapnya. Ah, ini mirip seperti adegan dimana sepasang detektif saling melempar pandangan untuk memberi kode rahasia. Yang pastinya memberi maksud yang tak akan pernah diketahui oleh siapapun termasuk lelaki bermarga Kim ini.

Sampai pelajaran berakhir, Jaena tak pernah sekalipun melihat Taehyung mengeluarkan buku. Lelaki itu hanya diam menatap ke arah mana Guru Jum berada. Entah ketika ia berada di meja guru, di depan papan tulis, atau ketika beliau tengah menerangkan sesuatu. Taehyung seperti orang kebingungan. Guru Jum sepertinya tahu tentang hal itu. Nyatanya ketika pulang sekolah ia menemui Jaena dan memberinya suatu amanat. Salah satunya dengan berbagi catatan pelajaran dengan Taehyung. Guru itu bilang, Taehyung tinggal sendirian di kota ini. Ia pasti juga akan kesulitan mendapat teman.

“Tidak.” Ujar Jungkook ketika Jaena memutuskan untuk pergi ke rumah Taehyung dengan membawa beberapa buku catatan pelajarannya.

“Aku bisa pergi denganmu bukan?”

“Aku tidak mau dan kau jangan pergi ke sana.”

“Tapi kenapa?”

Jungkook menghembuskan nafas panjang. Diketuknya jari-jarinya dengan gusar di sepanjang pagar pembatas di halte. Dia berfikir keras. Berusaha mendapatkan alasan terbaik agar Jaena tak begitu peduli dengan anak baru yang terlihat mencurigakan di matanya. “Ini bukan pilihan yang terbaik.” Jaena masih menanti alasannya. “Kau baru kenal dengannya bukan?”

Nde.. tapi aku hanya ingin berbuat baik saja. Dia sepertinya kesulitan dan tak paham apapun tentang pelajaran di kelas.” Bus yang akan mereka tumpangi akhirnya datang. “Dia pendiam sekali Jungkook. Kau juga harus berteman dengannya.”

“Itu tidak akan terjadi.” Jungkook semakin kuat dengan kata hatinya. Dia tak menyukai kehadiran anak baru berwajah dingin itu. Tapi, entah kenapa juga.

“Penampilan luar tak selalu menilai bagaimana karakternya.” Jaena tak mau kalah. Gadis itu mendengus kesal. Lalu menoleh ke sisi jendela membuang muka.

“Lebih baik kau pikirkan rencana kita berikutnya untuk pergi ke Athena. Jimin hyung juga belum ditemukan. Kau harus ingat itu.” Mendengar itu, Jaena mendecik kecil. Lalu menyandarkan punggungnya resah. Jungkook mungkin benar, keselamatan Jimin lebih dari kata penting. Ia juga harus memikirkan rencana.

_o0o_

BUUUGH !

 

“Menyebalkan!” Ketus Jungkook lirih setelah berhasil membanting tasnya di sofa. Jaena mengernyit kecil lalu berlalu masuk ke kamar. Ho Seok yang menyadari pertengkaran kecil itu tiba-tiba keluar dengan tampang penasaran menghampiri Jungkook dan berbisik lirih.

“Kau ditolak?” Ho Seok terkekeh.

“Ha? Annieyo. Aku hanya tidak suka dengan anak baru di sekolahku itu.”

MWO?! Keadaan genting seperti itu sekolahmu menerima murid baru?!” Jungkook menoleh cepat. Rupanya Ho Seok berpikiran sama dengan apa yang dikejutkannya dengan Jaena di sekolah beberapa jam yang lalu. “Lalu, apa hubungannya denganmu dan Jaena?”

“Jaena… dia ingin pergi ke rumah lelaki itu. Siapa nama lelaki itu? Ahh.. aku lupa. Jaena ingin mengajaknya berteman.”

Ho Seok memukul pundak Jungkook gemas. “Bukankah itu hal yang baik? Kecuali jika kau memang sedang cemburu.” Jungkook membuang nafasnya kasar. Bukan itu yang dipikirkannya. Tapi tentang ini…

*Flashback

 

Bunga-bunga kering setandus musim gugur berulang kali luruh terhempas angin. Meninggalkan kelopak kecoklatannya yang hinggap secara tenang di atas buku bacaan yang tengah dipangku lelaki berambut hitam pekat itu. Jungkook mendongak. Mencari-cari asal bunga-bunga itu berguguran. Kepalanya menyapu sekitar dengan cepat. Hingga akhirnya gerak matanya terhenti tepat di tubuh jangkung milik seseorang yang tengah menatapnya tajam di balik pepohonan yang tengah meranggas itu.

 

Jungkook menutup bukunya ketika pria itu berjalan mendekat ke arahnya. Lelaki itu tak menyapanya. Begitu pula dengan dirinya. Mereka berdua hanya saling menatap. Tanpa arti dan tanpa satu pembicaraan yang berarti sekalipun. Jungkook mengerling. Membuang muka ke arah lapangan halaman belakang sekolah dengan tampang malas.

 

“Kau siapa?” Akhirnya lelaki yang masih berdiri itu mengajaknya bicara.

 

“Jeon Jungkook. Bukankah kau tahu kita sekelas?”

 

“Bukan. Bukan itu.” Lelaki itu mengelak dengan penekanan pada kata ‘bukan’nya. “Bukan ‘siapa’ itu yang kumaksud.”

 

“Lalu?” Jungkook menoleh padanya. Masih dengan tampang malas. “Kenapa dengan ‘siapa’ pada diriku?”

 

“Apa kau bukan manusia?” DEG!

 

“Taehyung? Apa maksudmu?” Kini Jungkook yang terlihat bingung. Taehyung menatapnya lagi dengan tajam. “Kau bercanda?”

 

“Hahaha. Tentu saja.” Taehyung tertawa kecil. Meski begitu, Jungkook tahu ini hanyalah tawa palsu lelaki aneh itu. Mengapa aneh? Lihat saja ekspresinya. Dia mudah sekali merubahnya hanya dalam satu detik. “Siapa gadis yang duduk di sampingku itu?”

 

“Oh, Park Jaena?” Jungkook menggeser tubuhnya agar Taehyung bisa ikut duduk di sampingnya. “Kenapa? Kau suka?”

 

“Tidak. Hanya merasaa…”

 

“Apa?” Jungkook was-was.

 

“Dia pendiam.”

 

“Dia tak biasanya punya teman sebangku. Aku sahabatnya.”

 

Kali ini Taehyung tertawa kecil lagi.“Kenapa tidak duduk sebangku denganmu? Bukankah kalian bersahabat?”

 

“Bukankah sudah kubilang dia tak biasanya punya teman sebangku? Itu tak merubah apapun meski aku adalah sahabatnya. Lagipula…” Jungkook menoleh padanya lagi. “Dia sepertinya kurang suka denganmu. Wajahnya cemberut disepanjang pelajaran hari ini.”

 

“Dia hanya tak biasa punya teman sebangku bukan?” Jungkook tersentak. Tak disangka Taehyung mengatakan itu juga padanya. “Bukannya tak suka denganku, tapi karna dia tak terbiasa dengan teman sebangku. Lagipula…” Taehyung kemudian bangkit. “Aku akan membuatnya terbiasa punya teman sebangku. Begitu pula denganku.” DEG!

 

Jungkook mengacak rambutnya kesal. Ho Seok yang melihat itu akhirnya mengangguk mengerti setelah mendengar semua cerita Jungkook. “Jadi kau… cemburu begitu?” Ho Seok menggaruk tengkuknya dengan bingung. Dia tak begitu mengerti dengan cinta. Tapi tanda-tanda yang seperti ini bisa dipastikan bahwa Jungkook pasti sedang merasa cemburu. Apalagi, Ho Seok sudah memergoki mereka berciuman di balkon teras kemarin malam.

“Aku pulang.” Jungkook bangkit dengan segera dan mengambil tasnya dengan kasar. Berjalan keluar dengan langkah kesalnya dan membanting pintu. Ho Seok hanya menatap kepergian lelaki itu dengan bingung. Cinta memang masalah yang rumit.

***

Ini Bumi. Satu-satunya tempat dimana kehidupan yang nyata terjadi. Semuanya ada di sini. Mulai dari yang terkecil hingga yang paling besar. Mulai dari adanya perasaan hingga terciptanya rasa dendam. Tentang keluarga, teman dan cinta. Tak ada yang lebih hakiki daripada Bumi selain dunia kematian. Hakikat bumi yang mencangkup kehidupan makhluk hidup memang benar adanya. Dan itu tidak bisa dipungkiri.

Lalu, bagaimana dengan Athena? Dengan Astron juga? Orang-orang pasti akan menganggapnya gila jika itu benar-benar ada.

“Suga?” Taehyung meletakkan mantelnyadan menghampiri Suga yang sudah siap di meja makan dengan semangkuk ramyun danbeberapa kudapan khas Korea seperti bulgogi dangolbi. “Apa ini?”

“Orang-orang disini sering memakan ini. Aku melihatnya di sepanjang jalan. Jadi aku membelikannya untukmu.”

“Uangmu?” Tanya Taehyung seraya menarik mangkuk dan menghirup aromanya dengan waspada.

“Aku masih punya beberapa. Entah bagaimana Promotheus Rapmon mendapatkan dan menyimpan mata uang ini untuk membeli semua ini. Dia benar-benar mengkhawatirkan kondisi anda ketika anda berubah menjadi man.. Ah, begitulah maksudku.”

“Em.” Taehyung tak ingin berbicara lagi. Dia hanya fokus melahap semua makanan yang rupanya sangat lezat ketika bertemu dengan indra pengecapnya itu. Selain rasa cinta yang mematikan dari seorang manusia, makanan ini juga sama menariknya. “Apa namanya?Ramyun-kah?” Taehyung menunjuk-nunjuk isi mangkuknya yang tinggal tersisa kuah kentalnya. “Ini enak.”

“Entahlah. Aku tidak bisa memakannya Tuan.”

Taehyung terkekeh lagi. “Manusia tidak buruk. Rupanya salah satu dari mereka ada yang berasal dari negri Athena. Itu hebat bukan?”

“HA?!” Suga menganga lebar. Dia tak mengerti pasti apa yang sedang dibicarakan Tuannya ini. Tapi soal manusia dari Athena…

“Pasti ada sepasang peri yang turun ke bumi setelah pensiun. Mereka melanjutkan kehidupannya dengan menjadi manusia. Melahirkan anak peri baru yang sama sekali tak menyadari siapa dirinya. Hahaha. Itu menarik sekali.” Suga masih melongo menatapnya.

“Lalu?”

“Kau akan tahu nanti. Ini benar-benar menarik !” Ujar Taehyung lagi seraya tersenyum lebar.

***

“Oppa?”

Jaena mendongak cepat setelah lama tertidur di samping ranjang tidur Jimin. Gadis itu menguap lebar. Lalu kembali menatap Jimin dengan pandangan sayu. Lelaki itu masih di sana. Dengan posisi yang sama tanpa bergerak sedikitpun.

Tangannya perlahan mengusap kepala Jimin. Memainkan rambut-rambut kepala halus pria itu diantara jemari-jemarinya. Jaena mengeluh lagi. Seraya menyandarkan kepalanya lelah di samping tangan Jimin. Menggenggamnya erat dan mengecup tangan lelaki itu lekat. Dia merindukan pria itu. “Sedang apa kau di sana? Jangankan itu, di mana saja aku tak tahu.” Ujarnya dengan suara bergetar. “Cepat kembali Oppa.”

Jaena bangkit. Melepaskan genggamannya dan berjalan keluar menghampiri Ho Seok yang tengah tertidur di sofa. Lelaki itu nampak lelah dengan kain celemek yang masih terpasang di sekitar pinggangnya. Seharian ini pria itu belajar untuk menggantikan Jimin mengurus rumah. Entah apa yang telah dilakukan pria itu seharian ini. Hingga dapur nampak seperti kapal pecah dengan bungkus-bungkus makanan instan yang tersebar di sepanjang lantai.

“Dasar pengawal bodoh, dia bahkan hanya memasak untuk dirinya sendiri.” Ujar Jaena kesal seraya memungut satu-persatu sampah bungkus ramyun instan yang tersebar di bawah meja makan. Saat mendongak, ia tak sengaja menatap jam dinding yang sudah menunjukkan jam malam. Pukul 12 tepat. Jaena tak begitu peduli dengan waktu tengah malam. Karna sedari dulu dia sudah terbiasa dengan jam-jam malam seperti ini.

Gadis itu menoleh. Mendapati tirai jendela sudah terikat dengan rapi. Menahan angin agar tidak berterbangan masuk ke ruang tamu. Ia lantas berjalan menuju ke almari di dekat pintu kamar mandi. Mengambil satu selimut dan lalu memakaikannya pada Ho Seok yang tertidur disofa.

Khamsahamnida Oppa.” Ujarnya tersenyum kecil menatap Ho Seok. Dia tak tahu apa yang akan terjadi jika tak ada lelaki ini. Dia pasti akan semakin kesepian. Mengingat Jungkook sedang kesal dengannya hari ini. “Jangan mati sebelum semuanya usai. Aku akan berusaha.” Lanjutnya lagi. Gadis itu melangkah lagi perlahan. Memasuki kamarnya yang masih gelap karna sudah tiga hari ini tak pernah dipakainya.

KLIIK!

 

“HHAAA!!”

Kedua bola mata Jaena terbelalak lebar mendapati sosok seorang gadis tengah duduk di ranjangnya. Entah siapa dia. Rambut panjang hitamnya yang nampak samar bergerak-gerak seolah tertiup angin. Kaki telanjangnya nampak bersih menyentuh lantai. Dengan gaun putih yang bersih dengan simpul pita di bagian tengah perutnya. Namun, jika ituEktoplasma, berarti yang dilihatnya ini adalah…hantu.

“K..kau hantu?” Jaena mundur selangkah. Dia sadar akhir-akhir ini dia bisa melihat hal-hal gaib seperti ini. Dia tak pernah menceritakan hal ini kepada siapapun termasuk Jungkook sendiri. Jaena hanya merasa dia sering berhalusinasi. Tapi kali ini, dia tak memikirkan apapun yang berarti. Dan tiba-tiba, dia melihatnya lagi.

Sosok itu masih diam. Duduk di ranjang Jaena entah sejak kapan. “Kau ingin apa? Apa yang kau butuhkan? Siapa kau?” Tanya Jaena tak sabar. Dia tak suka hal-hal bodoh seperti ini. Dan perempuan itu tak juga menjawab. Jaena merasa kakinya bergetar. Dia tak begitu takut. Tapi mulai cemas ketika sosok itu perlahan mengangkat kepalanya. Memperlihatkan mata kosong tanpa bola mata di dalamnya.

“Mati.” Ujar perempuan itu akhirnya yang lebih mirip seperti bisikan.

BLAAM! Pintu kamar Jaena tertutup tiba-tiba. Sontak gadis itu menoleh cepat ke arah pintu kamarnya terkejut. Namun ketika ia kembali menoleh ke arah ranjangnya, sosok itu lenyap! Jaena panik. Menoleh ke sekeliling ruangan mencari hantu itu. Tiba-tiba… CREEP!

 

“Akkh..” Darah menetes dari pipi kanan Jaena yang tiba-tiba tergores sesuatu dari belakang. Tanpa sadar, sepasang tangan hitam dengan luka-luka sayatan sudah siap menerkamnya lagi. Kuku-kuku tajam dengan bekas darah yang membusuk seolah siap untuk mengoyak bagian tubuhnya yang lain. Jaena semakin panik ketika menoleh ke arah cermin. Dilihatnya dia tak sedang berada di kamarnya lagi. Melainkan di sebuah tempat yang gelap dengan dinding hitam yang berlumut kelam.

“Di..dimana aku?”

“Ma..ti..” Bisik seseorang yang tak lain adalah si sosok gadis asing itu.

“TIDAAAAAAK!!!!!!!!!” Triak Jaena sekali lagi. Dan saat itulah ia tak merasakan apapun lagi. Selain cahaya terang berwarna kebiruan yang membuat dirinya tak lagi sadar.

Apa yang terjadi dengan dirinya?

_TBC_
Annyeong~~ Ahh, akhirnya terbit^^ ini ada dua bagian. ditunggu dan tolong kritik dan sarannya^^{} khamsahamnidaaaa

Advertisements

One thought on “[FF Freelance] Pandora: Friend, Family, Love & Lost Chapter 7

  1. astagaaaa ini bahayaaaa!!
    aishh msak gak ada yang sadar kalau itu v ??? ommonaaaa
    si jaena juga kenapa itu kakk ?? aduuhhh ini makin penasaran kann aku kaakkk
    aishhh
    si hope kemana jugaa tu orang.. :v

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s