Namitsutiti

[FF Freelance] A.T (Agent Target ) ~ Ep. 3

2 Comments


11122327_1605877619655682_633296420_n

Title : A.T (Agent Target ) ~ Ep. 3

Athour : Hae

DON’T BASH, DON’T PLAGIAT, DON’T BE SIDERES, SIDERES KICK. JANGAN LUPA KOMENTAR!

Main Cast : Oh Se Hun (Exo) – Byun Baek Hyun (Exo) – Park Chan Yeol (Exo) – Kim Ha Ni (You/Oc) – Tiffany Hwang (Snsd).

Special Cast : (F4)
-Kim Jong In a.s Kai (Exo), Lu Han (Actor), Do Kyung Soo a.s D.o (Exo), Kim Joon Myeon a.s Suho (Exo).

Genre : Friendship – Family – School Life – Police

Leght : Chapter

Cover : YeonHanArt.

Recomended Backsong : Lucky (Exo).

Annyeong, mohon kritikannya…

Ff ini murni karya pemikiran khayalan athour yang terinspirasi dari komik Conan dan drama Boy Before Flower. Hehehe

Nama cast cuma meminjam, kecuali (oc), sepenuhnya cast milik Tuhan, keluarga, dan managenment.

Warning ! Typo bertebaran! Harap di maklumi, maaf kalau ada salah penulisan kata. Bahasa yang di gunakan juga bahasa sehari-hari anak muda umumnya. Mudah-mudahan bahasa gaulnya ngak nge-Alay.

Semoga dapet fellnya…

Happy Reading

.
.
.
.
.
.
.

Athour Pov

Sebelumnya…

Rose. Bar

Gangnam city. 22.00 pm. KST.

Suara dengungan musik Dj mengalun dengan
kerasnya, Beberapa anak manusia mengerak-
gerakkan badannya di bawah lantai dance dengan
berbagai gaya dengan kesadaran yang mungkin
hanya 10%.

Asap-asap rokok mendominasi di ruangan yang
cukup luas dengan beberapa pasang anak manusia
yang bercumbu tampa rasa malu sedikitpun.
Di sebuah ruang vvip, seorang namja menenggak winenya dengan sekali tenggak. Beberapa yeoja yang di bayar khusus untuk melayaninya tergelanjut manja. Beberapa kancing kemeja terlepas, mengekspos dada bidangnya.

Ha Ni memasuki bar elit di kawasan gangnam dengan wajah malas. Ha Ni mengutuk orang yang menghubunginya dan memintanya datang. Orang itu menganggu ritual khususnya. Tidak masalah harus memanjat pagar untuk keluar asrama. Tapi ritual tadi benar-benar gagal karena orang yang akan Ha Ni damprat setelah bertemu. Ha Ni berjalan pelan menaiki tangga menuju ruang vvip bar. Ia sudah tau orang yang menghubunginya ada disana.

Para yeoja penghibur langsung pergi setelah melihat Ha Ni. Ha Ni melempar topinya secara kasar pada namja di depannya.

“Kau datang.” ucapnya

“Berhenti. Aku malas membawamu pulang.” Ha Ni merebut gelas yang akan di tenggak namja di depannya.

“Hahaha. Aku pikir kau tidak datang. Terimakasih.” ujarnya.

“Cih.” Ha Ni duduk dan melepas jaketnya.

“Tenang saja. Aku bukan pemula dan aku pemabuk hebat.” ucapnya.

“Aku bilang berhenti minum Park Chan Yeol.” teriak Ha Ni.

**

“Kai-ah bukankah itu Se Na.” seru Lu han.

Anggota F4 yang sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing langsung menoleh ke arah yang di tunjuk Lu Han.

Mereka memperhatikan yeoja yang duduk tidak jauh dari posisi mereka. Yeoja itu bersama seorang namja yang duduk di depannya. Se Na yeoja yang membuat mereka penasaran karena selalu gagal untuk di kerjai.

“Dia di bawah umur. Kenapa bisa masuk.” ujar D.o

“Ada yang salah. Siapa dia sebenarnya.” gumam Kai.

“Kita amati dari sini.” ujar Su Ho.

^^Agent Target^^

Chan Yeol terkekeh dan hendak merebut kembali gelas yang ada di tangan Ha Ni, tapi Ha Ni dengan gesit membuang isi gelas itu tepat di wajah Chan Yeol.

“Aku bilang berhenti bodoh.” ujar Ha Ni dengan mata berkilat marah.

Chan Yeol menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Terdengar suara isakan pelan. Ha Ni membuang nafasnya kasar dan memandang malas namja yang sedang terisak di depannya.

“Apa yang harus aku lakukan Ha Ni-ya? Kau tau aku tersiksa.” gumam Chan Yeol.

Ha Ni terdiam membiarkan Chan Yeol berbicara.

“Orang akan jijik padaku, ibuku pasti akan terkena serangan jantung mendadak, ayahku bisa saja membunuhku.” ujar Chan Yeol. Kepalanya ia sandarkan pada sofa hitam. Memejamkan matanya dan menghembuskan nafas perlahan.

“Aku sudah menahannya tapi tidak bisa. Kau tau ini menyakitkan.” ujarnya pelan.

“Aku tidak bisa melarangmu oppa, kau sudah besar dan tau mana yang harus kau lakukan.” ujar Ha Ni

“Orang tidak akan menyangka bukan? Kalau seorang Park Chan Yeol-” Chan Yeol mencondongkan tubuhnya ke depan dan memberi kode Ha Ni untuk mendekat. Ha Ni mendekatkan wajahnya ke arah Chan Yeol.

“Gay.” bisik Chan Yeol di akhiri suara kekehan.

Ha Ni mendorong kepala Chan Yeol.

“Yakkk.” keluh Chan Yeol

“Apa reaksi Baek Hyun oppa saat kau menyatakan perasaanmu?” tanya Ha Ni.

“Aku belum mengatakannya.” ujar Chan Yeol sambil memainkan gelas kosong di tangannya.

“Aku akan membuat janji dengan temanku. Kau kenal Lee Jin Ki kan? Kau berkonsultasilah padanya.” ujar Ha Ni berdiri sambil memakai jaketnya. Ha Ni membuang nafasnya pelan dan melirik arah barat.

“Semua salahmu bodoh.” umpat Ha Ni.

“Hah? Apa?” tanya Chan Yeol.

“Ayo pulang.” ujar Ha Ni. Chan Yeol yang bingungpun akhirnya menyusul Ha Ni yang sudah melangkah menuruni tangga.

**

“Apa kalian yakin itu Se Na?” tanya D.o

“Kalau di lihat lagi sedikit berbeda.” ujar Lu Han.

“Dan lagi, mana bisa ia kabur dari asrama dan masuk ke sini dia masih di bawah umur.” ujar Su Ho.

“Jangan ambil gambarnya.” seru Kai saat Lu Han akan memotret Se Na.

“Ya-”

“Aku bilang jangan.” potong Kai dan merebut ponsel Lu Han.

“Kita ikuti saja.” ujar Kai

***

“Kau naik apa?” tanya Chan Yeol

“Sapu terbang.” jawab Ha Ni membuat Chan Yeol terkekeh.

“Aku antar pulang.” ujar Chan Yeol.

“Tidak. Terimakasih.” ujar Ha Ni.

Saat Ha Ni berbalik hendak menuju halte, beberapa orang dengan pakaian serba hitam berjalan kearahnya.

“Kau mengenal mereka?” tanya Ha Ni.

Chan Yeol yang hendak membuka pintu mobil menoleh. “Astaga. Ha Ni-ya.” jeritnya.

“Wow. Tidak ku sangka kita berjumpa disini tuan police.” ujar salah satu dari mereka.

Ha Ni memutar bola matanya malas. “Aku tidak ikut campur.” ujarnya.

“Cha. Bantu aku.” ujar Chan Yeol dan mencegah Ha Ni yang akan pergi.

“Kau tidak lihat mereka ber-8, aku akan kalah.” ujar Chan Yeol.

“Aku malas berkeringat.” ujar Ha Ni.

“Hei. Jangan berbisik-bisik. Ah nona kau cantik sekali.” namja bertubuh gembul itu mendekat.

“Yak. Kalian hanya berurusan denganku.” Chan Yeol maju dan menyembunyikan Ha Ni di belakang tubuhnya.

“Hahahahahaha…. ” semua namja berpakaian hitam itu tertawa.

“Olah raga di malam hari itu menyehatkan.” bisik Chan Yeol.

Ha Ni membuang nafasnya kasar. “Anak buah Mr.Lee kah mereka?”

“Nee. Mereka marah padaku karena kemarin aku menghancurkan markasnya.” ujar Chan Yeol.

“Kita selesaikan malam ini tuan police. Yaaa……” seorang namja maju dan melayangkan tinju ke arah Chan Yeol.

Ha Ni mendorong tubuh Chan Yeol kesamping dan tangan kanan Ha Ni kini memegang tangan namja gendut yang hendak memukul Chan Yeol.

“Duk!” Ha Ni menendang tepat di selangkangan. Namja itu meringgis.

Sedangkan Chan Yeol ia berusaha menghajar empat orang yang mengepungnya. Sungguh melelahkan.
Ha Ni juga melakukan hal yang sama. Berulang kali menghindar saat satu pukulan atau tendangan datang padanya.

“Yak.” Chan Yeol berhasil menendang orang yang akan menghajarnya tepat pada wajahnya.

Ha Ni dan Chan Yeol merapat, mereka saling memungungi dan berada di tengah kepungan.

“Menyenangkan bukan. Olah raga malam.” bisik Chan Yeol.

“Diam.” ujar Ha Ni dan Chan Yeol terkekeh.

“Siap.” ujar Chan Yeol. Dan saat orang-orang itu maju Chan Yeol mengangkat tubuh Ha Ni dan memutarnya kearah samping.

“Dukkk.”

“Dukk.”

“Huhhh.” Chan Yeol mengatur nafasnya yang memburu. Delapan orang berpakaian hitam anak buah Mr. Lee itu berlari kabur.

“Dukkk.”

“Yak. Kenapa menendangku.” keluh Chan Yeol saat Ha Ni menendang bokongnya.

“Sialan kau kuping gajah.” ujar Ha Ni.

“Hahahahahaha…. ”

“Berhenti tertawa…. ” teriak Ha Ni

***

“Kau tidak apa-apa hyung?” tanya Kai sambil menoleh ke belakang.

“Perutku sakit sekali.” aduh Suho yang kini bersandar pada tubuh D.o

“Yakin. Tidak perlu kerumah sakit?” tanya Lu Han yang menyetir.

“Aku ingin pulang dan tidur.” ujar Suho.

“Bersabarlah. Sebentar lagi kita sampai rumahmu.” ujar D.o

Suho mengangguk lemah dan memeluk D.o yang berada disebelahnya. Suho membuang nafas perlahan. Dia tersenyum tipis.

“Makanya hyung. Jangan coba minum lagi. Sudah tau kau punya penyakit usus.” ujar Kai.

“Nee. Mianhae membuat kalian khawatir.” ujar Suho pelan.

Suho bernafas lega bisa mencegah teman-temannya saat akan mengikuti Se Na. Ia juga berterimakasih karena Kai melarang Lu Han memotret tadi.

“Kau harus berterimakasih padaku nuna.” ucap Suho dalam hati.

***

Next day…

Shinwa High School.

Member F4 berjalan pelan di koridor. Banyak para siswa yang heboh dan meneriaki nama mereka. Lu Han dan D.o memberikan senyum hangat mereka. Sedangkan Suho sibuk dengan buku yang di pegangnya. Kai melihat sekelilingnya. Mata tajamnya melihat sosok yang berjalan mendekat. Ia tersenyum tipis.

“Oh Se Na.” panggil Kai saat seorang yeoja dengan rambut kuncir kuda lewat.

“Apa?” Se Na menatap Kai yang juga kini menatapnya.

“Ikut denganku” ucapnya dan menarik pergelangan tangan Ha Ni.

Semua murid yang melihat itu heboh. Tiga member F4 saling berpandangan dan mengangkat bahu mereka.

*

“Yak. Lepas.” ujar Ha Ni.

“Diam. Atau kau ku cium.” ancam Kai membuat Ha Ni terdiam.

Kai membawa Ha Ni menuju lantai atas gedung SMA Shinwa. Kai menghempaskan tangan Ha Ni begitu sampai.

“Aishhhh…. ” keluh Ha Ni karena pergelangan tangannya memerah. Dia bisa saja melawan tapi malas karena ia paham kenapa Kai membawanya kemari.

“Siapa kau sebenarnya?” tanya Kai.

“Hah?” Ha Ni tidak mengerti apa yang di maksud kai dan kini sibuk dengan tangannya yang memerah.

“Aku tanya siapa kau sebenarnya?”

“Aku. Oh Se Na.” jawab Ha Ni membuat Kai membuang nafasnya kasar.

“Aku melihatmu di club semalam.” ujar Kai.

“Truz?” ucap Ha Ni.

Kai memiringkan wajahnya menatap Ha Ni lekat. “Itu kau kan?”

“Apa sih. 10 menit lagi pelajaran jam pertama di mulai.” ujar Ha Ni.

“Ok. Salahku melarang Lu Han memotretmu semalam. Kita buktikan lewat cctv asrama perempuan.” ujar Kai dan berlalu pergi.

***

@Drom F4.

“Bagaimana bisa?” Kai berdiri saat melihat rekaman cctv asrama putri. Kai secara khusus meminta data rekaman asrama putri untuk hari kemarin dan semalam.

“Berarti gadis semalam bukan Se Na.” ujar D.o

“Dia tidak keluar kamar sama sekali setelah sepulang sekolah.” ujar Lu Han.

Mereka sedang melihat rekaman cctv asrama putri khusus kelas 10, juga rekaman cctv bagian depan asrama dan belakang asrama. Mereka manatap serius layar lcd didepan mereka.

“Juga tidak ada hal yang mencurigakan di area belakang dan pagar depan. Tidak ada murid yang mengendap mencoba kabur.” ujar Suho.

“Kalau itu Se Na, Ia pasti akan kabur lewat belakang asrama bukan.” ujar Suho lagi.

“Sial.” umpat Kai.

“Tapi aku penasaran.” ujar Lu Han.

“Dia selalu lolos saat kita kerjai.” gumam Lu Han.

“Kalau gadis semalam Se Na. Ia bisa sampai club lewat mana coba? Artinya dia bukan Se Na. Mungkin hanya mirip.” ujar D.o

“Aku setuju denganmu.” ujar Suho.

“Kali ini dia tidak akan lolos.” ujar Kai dengan senyum sinisnya.

@.Kantin.

“Apa yang Kai katakan padamu?” tanya Eun Ji.

“Tidak ada.” jawab Ha Ni sambil meminum jusnya.

“Sungguh? Mianhae tadi aku duluan dan meninggalkanmu membuatmu jadi berurusan dengan F4.” ujar Tao sambil memakan raymunnya. Membuatnya sedikit menyemprotkan air, Eun Ji menjitak kepala Tao.

“Makan jangan sambil berbicara bodoh.” ujar Eun Ji.

“Aishh. Kau ini kenapa sih. Kau suka padaku?” tanya Tao.

“Amit-amit deh.” ucap Eun Ji.

“Ngaku deh.” ujar Tao.

“Amit-amit. Idih.” ujar Eun Ji

“Huh. Aku tidak apa-apa. Tidak ada yang di permasalahkan.” ujar Ha Ni memakan kentang gorengnya.

“Se Na-ya?” panggil Tao setelah menelan mienya.

“Apa?” tanya Ha Ni.

“Ah. Tidak. Hari ini kita pulang ke rumah masing-masingkan? Bagaimana kalau kita liburan saja di tempatku.” ujar Tao.

“Hanya Se Na?” ujar Eun Ji cemberut.

“Iya. Kau juga.” ucap Tao.

“Anni. Kita bermain ke mall saja bagaimana. Kalau menginap minggu depan saja. Dirumahku tidak ada siapapun. Nanti siapa yang menjaga rumah.” ujar Eun Ji.

“Ya. Terserah si.” ujar Tao.

“Bagaimana Se Na?” tanya Eun Ji.

“Nee. Aku ikut saranmu Ji-ya.” ujar Ha Ni.

“Ok. Toss.”

“Toss.” kedua tangan mulus itu saling bertepuk. Dan mereka tersenyum manis.

***

“Aku tau Eonni. Jangan salahkan aku. Salahkan si kuping gajah.” gerutu Ha Ni sambil menutup loker setelah mengambil sepatu olah raganya.

Ruang ganti sudah sepi karena Ha Ni paling telat untuk berganti baju. Jam pelajaran ke lima adalah olah raga. Pelajaran yang paling malas. Ha Ni tidak suka mengeluarkan banyak keringat.

“Untung Baek Hyun langsung bertindak. Kalian berdua saudara kembar atau bagaimana. Dia selalu tau.” ujar Tiffany di ujung telephone.

Ha Ni memakai kedua sepatunya dan menali sepatu sebelah kiri sambil tangan kanan membenarkan hadset di telinganya.

“Mungkin. Oia Eonni sepertinya aku tau siapa pembunuhnya.” ujar Ha Ni.

“Mwo!” teriak Tiffany.

“Yakk. Eonni kau bisa membuatku tuli tau.” gerutu Ha Ni.

“Siapa. siapa?” heboh Tiffany.

“Hehehe. Rahasia donk. Belum tau pasti si. Tapi mulai sekarang aku akan mengawasinya.” ujar Ha Ni berdiri dari duduknya.

“Baek Hyun tau?”

“Tidak. Tapi mungkin iya.” ujar Ha Ni.

“Aish. Kau ini. Oke. Besok kau liburkan? Kita bisa bicarakan ini dengan tim.” ujar Tiffany.

“Oke. Sudah ya eonni. Aku sudah telat ini. Jam olah raga sudah di mulai.” ujar Ha Ni.

“Oke. Baca e-mail yang baru ku kirim. Itu data lengkap si korban dan orang yang terakhir ia temui. Mungkin bisa membantumu.”

“Thanks eonni. Bye.”

Ha Ni melepas hadsetnya lalu menjepitnya di pakaian dalamnya.

^^

Matahari bersinar tidak terlalu terik. Sebuah keuntungan untuk murid kelas 10-1 yang saat ini berkumpul di area lapangan utama. Para murid berbaris bergerombol . Terutama murid yeoja berebut untuk ada di depan. Sedangkan guru olah raga mereka menjelaskan materi sebelum praktek di mulai.

Ha Ni mengibaskan kedua tangannya di depan wajah. Ia malas, Ia tidak terlalu peduli apalagi saat tau siapa guru olah raganya. Ia bersama murid namja lain berbaris di belakang. Malas untuk sekedar maju ke depan.

“Bagaimana sudah paham. Kalau begitu kita langsung praktek.” ujar namja guru olah raga dengan senyum manisnya.

Semua murid semangat terutama murid yeoja. Ha Ni memutar bola matanya malas. Sungguh dia ingin muntah.

“Hei. Menurutmu aku dengan guru baru itu tampan siapa?”

“Ini lagi Tao, pakai narik-narik rambutku segala. Kebiasaan.” dumal Ha Ni dalam hati.

“Jelek semua.” jawab Ha Ni.

“Yakkk!” teriak Ha Ni saat Tao menarik rambutnya dengan kencang.

“Hehehe. Maaf.” ujar Tao dengan senyum tiga jarinya.

“Kau. Iya yang berteriak sini maju.” seru guru olah raga.

Sambil mengulung asal rambutnya Ha Ni maju ke depan. Guru olah raga itu tersenyum manis.

“Nyonya Oh benar?” ucapnya dengan senyum manis yang membuat siapapun terpanah.

Ha Ni melotot saat guru olah raganya menyebutnya nyonya Oh.

“Hehehe. Jangan takut. Aku tidak akan mengigit kok.” ujarnya.

Ha Ni memutar bola matanya malas.

“Karena kau tidak mendengarkanku saat menerangkan. Malah asyik pacaran. Jadi kau ku hukum 6x putaran lapangan basket.” ujar guru

“Sialan kau Byun Baek Hyun.” umpat Ha Ni dalam hati.

Baek Hyun tersenyum manis sambil mengedipkan satu matanya. Membuat beberapa murid heboh.

***

“Huh…. ” Ha Ni meluruskan kakinya dan bersandar pada salah satu pohon di dekat lapangan. Sungguh setelah ini ia akan mencekik guru olah raganya.

“Capek ya.” Baek Hyun datang menyerahkan botol mineral yang langsung di terima oleh Ha Ni.

“Dia berada di kelas 3-A. Kelas khusus bersama F4 dan murid anak kolong merat lainnya.” ujar Baek Hyun yang duduk di samping Ha Ni.

“Aku tau. Aku acungkan jempol untuk si korban. Ia menulis teka-tekinya dengan keren.” ujar Ha Ni setelah meminum minumannya.

“Kau benar. Tapi bagaimana kau bisa tau. Ritualmu gagal kan?” tanya Baek Hyun.

“Saat aku keluar dari kamar asrama korban. Tidak berselang lama dia datang. Sungguh aku kaget. Setelah aku pikir semua berhubungan. Berhubungan dengan teka teki itu.” ujar Ha Ni.

“Karena itu aku berada disini.” ujar Baek Hyun.

“Ini tidak adil. Kenapa kau jadi guru.” Ha Ni mendorong tubuh Baek Hyun.

“Hahahahaha…. ” tawa Baek Hyun.

“Ya. Ampun. Huukukk. Aku tidak mau mati muda. Aku belum menikah.” keluh Baek Hyun saar Ha Ni mencekiknya.

Semua murid 10-1 sedang beristirahat di kantin. Hanya beberapa murid yang sedang bermain bola basket di lapangan.

*

“Se Na kelihatannya dekat dengan guru olah raga itu.” ujar D.o yang kini melihatnya dari jendela drom F4.

“Apa?” Lu Han ikut mendekat ke jendela.

“Waw. Apa mereka pacaran?” tanya Lu Han.

“Siapa yang pacaran?” tanya Suho yang baru datang bersama Kai.

“Itu.” ujar Lu Han sambil memberi kode dengan matanya.

Suho dan Kai mendekat ke jendela. Kai mengepalkan tangannya. Entah kenapa ia tidak suka melihat pemandangan di bawah sana.

“Oh Se Na.” gumam Kai

***

Next day…

Matahari mulai menampakan dirinya di garis horizontal di sebrang timur. Sinarnya mulai naik kepermukaan dan menyinari bumi , memberi energi yang merupakan sumber utama.
Burung-burung gereja mulai berkicau di atap, ranting ataupun jendela.
Awan putih bergerak dengan intonasi lembut membentuk gerombolan. Langit cerah dengan biru lautnya kini terpampang jelas.

Hiruk pikuk kota metropolitan terlihat dengan ramainya kendaraan di jalan dan beberapa langkah kaki yang ingin cepat mencapai tujuannya. Oksigen dan karbondioksida saling berebut posisi untuk menjadi terkuat.
Angin berhembus pelan membuat dedaunan dan kelopak bunga bergerak pelan.

Matanya bergerak perlahan mencoba terbiasa dengan sinar yang menerpa wajahnya lewat cela kecil jendela.
Matanya masih terasa berat, badannya masih ingin berbaring dengan selimut tebal. Ia baru tidur beberapa jam yang lalu setelah lembur. Biasanya saat ia lembur akan ada yang membuatkan makanan atau kopi lalu berteriak memperingatinya untuk cepat tidur dan menyuruhnya melanjutkan besok. Tapi karena sekarang ia sendiri, jadi ia lupa dan terlalu asyik sampai jam menunjukan pukul 3 pagi.

“Dorrr…. ”

Bunyi menyentak seperti letusan membuat tubuh Se Hun sampai jatuh ke lantai.
Dia kaget. Kamar yang hening-heningnya, sunyi sepi tiba-tiba ada bunyi letusan.

“Gempakah? Atau Korea selatan kembali perang dengan Korea utara.” ucap Se Hun dalam hati.

Se Hun membuang nafas pelan untuk membuatnya tidak panik. Ia memejamkan matanya masih pada posisi di bawah lantai, Se Hun hendak merangkak karena takut ada sesuatu yang kebakar atau sesuatu yang berbahaya, tapi ternyata tidak saat ia membuka matanya. Diantara sengatan sinar matahari yang datang dari celah jendela kamar, Se Hun bisa mendengar suara orang-orang yang melantunkan nyanyian sakral.

“Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday uri Se Hunie, happy birthday to you…. ”

Se Hun membutuhkan waktu hingga dua detik untuk benar-benar membuka mata dan mendongak. Se Hun melihat ada sekumpul orang yang tengah berkerumun hendak mendekatinya, bersamaan dengan senyuman. Se Hun dibuat terkejut karena kedua orang tuanya dan orang tua Ha Ni ada di hadapannya sekarang.

“Oppa sedang apa disitu?” tanya Ha Ni sambil membawa kue berlilin, melangkah mendekati Se Hun yang masih berada di lantai karena jatuh tadi. Ha Ni menyiapkan kejutan kecil-kecilan untuk Se Hun. Ide itu muncul saat ia dan dua temannya Eun Ji serta Tao menghabiskan sore mereka di mall. Ha Ni juga sengaja tidak pulang malamnya beralasan menginap dirumah Eun Ji. Se Hun hanya mengiyakan tampa bertanya apapun membuat Ha Ni sempat jengkel.

“Ke-kenapa kalian bisa ada di sini? Eh, tunggu, aku-” Se Hun menggeleng-geleng, Ia sebenarnya excited karena seluruh keluarganya ada di depannya sekarang.

Ha Ni tersenyum dan mengeleng melihat tingkah suaminya. “Ini tanggal berapa oppa?” tanyanya

“Tanggal 12 april.” jawab Se Hun dengan raut datar membuat Ha Ni cemberut. Apa suaminya ini belum paham? Atau pikunkah?

“Kamu ulang tahun, sayang.” ujar nyona Oh dengan senyum manisnya.

Detik berikutnya Se Hun ikut tersenyum. Ia baru sadar kalau hari ini ia berulang tahun, saking seriusnya dengan beberapa kasus yang sedang di tangani membuat Se Hun lupa kalau 12 april adalah hari ulang tahunnya.

Nyonya Oh mendekati Se Hun, “Selamat ulang tahun, putraku sayang.” ucapnya sambil mencubit pipi Se Hun hingga teriakan yang bersatu dengan tawa itu terdengar.

Nyonya Oh membantu putranya untuk berdiri. “Kamu tambah dewasa.”.

“Jadilah suami dan kepala keluarga yang baik. Selamat ulang tahun.” tuan Oh menepuk bahu putranya dan mereka berpelukan.

“Terimakasih sudah menjaga putriku Se Hun. Semoga panjang umur. Selamat ulang tahun” ucap tuan Kim dan memeluk hangat menantunya.

“Nee. Ayah.” ucap Se Hun

“Aigo. Menantu kesayanganku selamat ulang tahun eoh.” nyonya Kim menciumi kedua pipi Se Hun gemas.

“Oppa tiup lilinnya, Aku pegel.” ucap Ha Ni membuat yang lain terkekeh.

“Yaakkk. Oppa.” teriak Ha Ni saat Se Hun memeluk tubuhnya dan mengangkat kakinya melingkar ke pingang Se Hun. Berjalan pelan hingga mereka duduk di atas ranjang dengan posisi Ha Ni di atas pangkuan Se Hun. Ha Ni sendiri berusaha menjaga kuenya supaya tidak jatuh.

“Kita tiup bersama.” ucap Se Hun.

“Sebutkan permintaan dulu.” ujar Ha Ni. Se Hun tersenyum dan mengelus puncak kepala istrinya. Mereka lupa bahwa bukan hanya mereka yang ada disana.

“Semoga di tahun ini kebahagian selalu menyertaiku serta keluargaku. Dan segera beri kami momongan untuk lebih melengkapi keluarga kecil kami.” ucap Se Hun lalu meniup lilinnya. Sedangkan Ha Ni terdiam meresapi ucapan terakhir Se Hun. Ia mengedipkan matanya berkali-kali. Ia tidak salah dengarkan.

Se Hun meniup kedua kelopak mata Ha Ni membuat Ha Ni tersentak.

“Cie yang udah tua pantes pikun.” ujar Ha Ni.

“Aahhhh…. ” keluh Ha Ni saat Se Hun mencubit hidungnya. Se Hun mengambil kue yang ada di tangan Ha Ni dan menaruhnya di nakas samping tempat tidur.

“Juli nanti juga ada yang tambah tua.” ujar Se Hun. Ha Ni memajukan bibir bawahnya. Suaminya kenapa berubah jadi manis begini.

“Cute banget, sih. Inget bulan ulang tahun istrinya.” ujar Ha Ni. Se Hun terkekeh sambil menyentil dahi istrinya.

“Apaan, sih?” Ha Ni pura-pura ngambek.

“Cie yang ngambek. I miss you.” ucap Se Hun

Semua keluarga langsung tertawa saat Se Hun mencolek-colek dagu Ha Ni.

“Iya, iya. Aku juga kangen. Selamat ulang tahun ya, sayang. Aku lupa bilang terimakasih sama Tuhan karena sudah menitipkan malaikat yang tampannya minta ampun kayak kamu sampai malaikatnya sekarang tambah tua sama pikun.” ucap Ha Ni

Se Hun menciumi pipi Ha Ni sampai Ha Ni tertawa geli. “Jangan cerewet lagi sayang. Jangan suka marah-marah, teriak-teriak lagi. Kamu udah dewasa, oke?”

Se Hun memperhatikan wajah Ha Ni yang mengangguk-ngangguk lucu.

“Eh. Yang ulang tahun siapa coba? Kamu juga oppa jangan dingin lagi. Mencairlah sedikit.” ujar Ha Ni sambil meninju bahu kanan Se Hun.

“Iya. Terimakasih istriku tersayang.” Se Hun mengecup dahi istrinya sebelum akhirnya menarik Ha Ni kepelukannya lagi. Mengeratkan pelukannya sampai wajah Ha Ni tenggelam di bahunya.

Keluarga besar mereka hanya tertawa melihat pasangan sok manis di depan
mereka.

***

“Oh Ha Ni.” teriakan Se Hun mengema di seluruh apartement.

“Iya apa sih?” Ha Ni muncul dari arah dapur dengan sepatula merah berbunga yang melekat manis di tubuhnya serta sarung tangan merah. Ia sedang mencuci piring bekas pesta keluarga perayaan ulang tahun Se Hun tadi.

Se Hun membuang nafas kasar. Ia berkacak pingang dan menatap garang istrinya.

“Kenapa kartu kreditnya bisa limited?” ujar Se Hun.

“Oh itu. Hehehe…. ” Ha Ni mengaruk belakang lehernya yang tidak gatal dan berlari hendak menghindari Se Hun.

“Yakkk. Oh Ha Ni. Mau membuatku bangkrut hah.” Se Hun mengejar Ha Ni yang berlari.

“Jangan pelit oppa. Aku tau uangmu itu banyak.” ujar Ha Ni. Se Hun memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.

“Sini kamu.” ujar Se Hun.

“Astaga oppa. Aku hanya memakainya sedikit.”

Mereka kejar-kejaran memutari meja makan.

“Sedikit kepalamu. Sini kamu.”

“Wekkk … Oppa pelit ah.”

“Astaga. Sini kamu.”

“Hahahaha oppa ampun.” ujar Ha Ni saat Se Hun berhasil menangkapnya dan mengelitiki perutnya.

“Hehehe. Oppa. Maaf. Iya iya aku salah.” ucap Ha Ni

“Pletak!”

“Aww. Appo.” keluh Ha Ni saat Se Hun menyentil dahinya.

“Kau harus menerima hukuman.” ujar Se Hun dengan senyum misteriusnya.

“Yakkk. Oppa lepaskan aku.” teriak Ha Ni saat Se Hun mengendongnya ke kamar.

“Kau harus memberi suami mu yang tampan ini hadiah.”

“Tidak sekarang. Aku tidak mau hamil.”

“Sudah kodratnya wanita itu hamil, sayang.” ujar Se Hun.

“Iya. Tapi tidak sekarang. Tahun depan.”

“Oppa emm-”

“Brakk!” pintu kamar di tutup secara kasar.

Tbc…

 

Advertisements

2 thoughts on “[FF Freelance] A.T (Agent Target ) ~ Ep. 3

  1. Hai kak hae….
    couple se-ni… Mereka sweet banget><
    mwo?! Cy gay… hahaha… aku udah nebak -,-
    Siapa pembunuhnya? Dan ritual apa sih yg gagal?
    Apa Hani bisa liat hantu/?
    Next! Semangat kak hae…

    Like

  2. Hai kak hae….
    couple se-ni… Mereka sweet banget><
    mwo?! Cy gay… hahaha… aku udah nebak -,-
    Siapa pembunuhnya? Dan ritual apa sih yg gagal?
    Apa Hani bisa liat hantu/?
    Next! Semangat kak hae…

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s