Namitsutiti

[FF Freelance] Valentine Luhan

4 Comments


11185431_1629455043965775_1510552262_n

Author             :         Cahaya Hafidzah

Cast                :           Xi Luhan       (EXO – Luhan)

Lee Han Ah  (OC – Hana)

Wendy           (Red Velvet)

Genre             :           Romance, love, sweet friendship.

Length           :           One Shoot

Summary        :           “You will always be my Peterpan while I just your poor Tinkerbell. I know your Wendy is more, more, more beautiful than me. But it’s no matter if that make you happy. No matter what happened and what will happen, I will always love you even its make me hurt! I’ll heal my self to show the best for you. You don’t must to know, I love you so, so, much! You will be my Peterpan (just in my heart) forever… Hope you always Happy!” -TinkerHana-

“Tinker Hana” terinspirasi dari sebuah dongeng yang menceritakan kisah seorang Peterpan bersama Wendy dan Tinkerbell. Dimana sudut pandangnya lebih diarahkan dari sang Tinkerbell. Alur ceritanya berasal dari cerita pribadi author yang dipermak dengan sedikit pemanis. Cerita ini mengajarkan kita untuk menerima sesuatu (cinta) dengan pikiran terbuka yang positif.

Notes              :           “Don’t be a dark reader! Give me some feedback and let’s respect each other.”

 

 

 

 

“Drrrrrt…”

“Drrrrrtt…”

“Drrrrrrrttttttt…”

Dengan malas tangan mulusnya meraih ponsel diatas meja samping tempat tidurnya.

“Drrrrrrttttttt”

Dengan mata setengah tertutup wanita itu menggeser tombol hijau yang membuat getaran sekaligus lagu Peterpan-EXO yang ia pasang sebagai ringtone digantikan oleh suara seorang laki-laki.

“Hey pemalas! Bangun dan bersiaplah, aku tidak ingin terlambat lagi.” Sahut lawan bicaranya dari seberang.

“Hmmm?” Ia mendengus malas sembari tersenyum mengenali suara itu.

“Yak! Bangun! Kau bahkan belum membuka matamu!” Teriak laki-laki itu, spontan mata indahnya menyala malas, beberapa kali wanita itu mengerdip-ngerdipkan matanya berusaha menahan sisa-sisa kantuknya.

“Cerewet! Iya aku akan bersiap-siap”

Wanita itupun terbangun dari kasur empuknya lalu merapikan selimut bekas tidurnya. Ia membuka tirai kamar, seketika matahari musim dingin yang cukup menyala menyilaukan pandangannya. Terlihat jejak-jejak embun yang mengendap di jendela kacanya. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menahannya beberapa saat dan menghembuskannya pelan-pelan. Ia pun bergegas untuk bersiap-siap. Ia tidak ingin kesekian kalinya menjadi penyebab keterlambatan temannya yang baru ia kenal 6 bulan lalu, Xi Luhan, ialah satu-satunya yang ia kenal sejak pertama kali ia menjejakkan dirinya di Seoul. Ia berasal dari Daegu dan melanjutkan pendidikan di Seoul lalu ia bertemu Luhan, mereka tinggal bersama disebuah rumah susun sederhana bahkan mereka selalu ke kampus bersama.

 

 

***Hanna Prov***

 

 

“Kau ingin makan apa? Aku akan mentraktirmu.” Tanya Luhan menoleh kearahku sembari membuka helm yang baru saja dipakainya.

“Waaah, kenapa kau tiba-tiba mentraktirku?” Aku meliriknya dengan tatapan menggoda.

“Apa aku salah sebagai sahabat ingin mentraktirmu? Ini akan baik untuk hubungan kita kedepannya.” Ucapnya sembari meletakan helm hitamnya pada spion motornya.

“Kau berekspektasi sekali. Aku bahkan belum beranjak dari tubuh Hunnie.” Balasku keheranan. Luhan juga baru sadar jika ia masih mengangkang diatas matic hitam yang kami beri nama Hunnie, yang berarti Luhan dan Hanna.

“Katakan saja kau ingin makan apa.” Sahut Luhan bersemangat sembari melepas helm yang ku pakai.

“Kau lupa dengan makanan favoritku?” Aku membiarkan Luhan menebak.

“ummm?” pikirnya sejenak lalu ia menyahut “Kajja!” Tiba-tiba ia menyeretku dari atas motor, aku membiarkan kakiku melangkah mengikuti arahnya. Beberapa saat tubuhku sudah terduduk manis dibangku kantin tepat pada pojok kanan belakang, tempat favoritku dan Luhan.

“Okey, cankaman!” Setelah menuntunku untuk duduk, Luhan berlalu menuju ahjumma kantin meninggalkan aku yang masih bingung dengan apa yang membuatnya sesemangat ini.

Tak lama ia datang dengan dua porsi mie kacang hitam dan 2 gelas jus strawberry lalu menatanya diatas meja.

“Cah mogo!” Serunya menyodorkan sumpit kearahku.

“Ada apa denganmu hari ini? Kenapa begitu bersemangat? Bahkan kau mengikuti selera makanku.” Tanyaku sembari meraih sumpit ditangannya.

“Aku sedang bahagia sekarang. Jadi aku ingin merasakan kebahagiaanmu juga saat kau menyantap makanan kesukaanmu ini.” Komentarnya sembari melahap mie.

“Kau ada-ada saja.” Aku pun mulai makan. Kami terdiam sejenak setelah akhirnya Luhan bersuara.

“Aku berhasil mendekati Wendy. Kami berkencan tadi malam dan….. Dia telah mejadi milikku.”

Deg!

Seketika mataku bulat sempurna, aku sangat terkejut. Aku mengontrol diriku agar tetap tenang dengan terus melahap makanan yang ada di depanku. Aku pura-pura tidak mendengarnya.

“Yak! Lee Han Ah!” Ia mengagetkanku.

“Mwo?” Sahutku pura-pura kaget.

“Kau tidak mendengarku?” Ia mengeryitkan dahinya.

“We?” Ucapku dengan ekspresi bingung sembari mengangkat ringan alisku.

“Aku telah mendapatkan Wendy.” Gumamnya dengan sumringan khasnya.

“Eoh? Jinjayeo? Gerum, chukkaeyeo! Semoga kau bahagia.” Aku mengerdipkan mata kiriku seolah aku ikut senang dengan berita buruk itu. Akhirnya ia medapatkan wanita idamannya selama ini.

 

Apa aku salah jika aku jatuh hati kepada sahabatku sendiri? Apa itu dilarag? Aku merasa nyaman dengannya, kami selalu menghabiskan waktu bersama. Manusia mana yang tidak memiliki perasaan kepada seseorang yang selalu ada saat ia menghela nafasnya? Wanita mana yang tidak tertarik dengan lelaki tampan yang selalu menampakkan diri disetiap kedipan matanya? Tak mengapa jika aku tidak bisa menjadi miliknya, asalkan ia tidak memiliki wanita lain. Itu sudah cukup membuatku bahagia. Tapi nyatanya ia menemukan kebahagiaannya sendiri. Harusnya aku sadar, aku hanya sahabatnya yang tak patut jika aku memaksanya untuk selalu bersamaku, yang tak bisa aku campuri urusan asmaranya. Congrats, dear! Your Wendy is coming and you’ll be the only her Peterpan. :’)

 

***

 

“Aku sangat senang. Aku berkenalan dengan orang tuanya saat aku menjemputnya tadi.” Ucap Luhan yang saat ini terbaring dengan penuh senyum di kasurku, menopang kepala dengan tangannya. Aku menyimak Luhan di meja belajar yang berada di samping kanan tempat ia terbaring. Luhan baru saja melewati kencan pertamanya dan menceritakan kebahagiaannya kepadaku. Terlihat jelas matanya yang begitu berbinar memandangi langit-langit kamarku.

“Luhan, tidakkah kau tau tentang diriku saat ini?”

“Sepertinya aku harus mengurangi jajanku untuk membayar bis. Aku tidak bisa bersama mu terus, kan?

“Kajima… Kau tetap yang terbaik karena kau sahabatku.” Sahutnya sembari melirik kearahku aku hanya diam.

“Sahabat? Bisakah kau hapus kata sahabat dari kamus hidupku, Tuhan?”

“Bahkan sahabatmu ini sudah tidak bisa merangkulmu diatas motor untuk lagi. Kau memiliki dekapan lain, apa aku harus terus berada di sampingmu?”

Aku terus berdebat dengan hatiku sendiri.

 

***Author Prov***

 

“Lee Han Ah, sebentar lagi Wendy ulang tahun. Tanggal 13 February tepat saat malam valentine. Bisakah kau membantuku?” Luhan mengusik konsentrasi gadis duduk disampingnya.

“Bicarakan nanti saja, kau tak lihat jika kita sedang dalam penjara?” Sahut Hanna dengan tetap memandang kearah dosen yang terkenal killer itu.

“Bantu aku memilih kado untuk Wendy.” Luhan tetap berbisik.

“Iya Luhan, kita biacarakan nanti.” Protes Hanna.

“Apa yang biasa disukai wani—“

“Yak! Aku bilang jangan bicarakan sekarang! Nanti Luhan nanti!” Pekik Hanna sembari menoleh tajam kearahnya. Semua orang memandang kearah mereka. Ia menjadi kikuk dan menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.

“Ada apa?” Tatapan tajam dosen killer itu membuat Hanna semakin kaku.

“Jusunghamnida…” Ucap Hanah tertunduk kepada semua orang yang ada dalam ruangan.

Setelah kelas berakhir. Ia cepat-cepat menyusul dosennya yang baru saja keluar. Ternyata Hanna berniat ke toilet.

“Kenapa akhir-akhir ini aku malas bertemu Luhan?” Lirihnya di depan cermin toilet. Lalu ia berkumur dan mencuci kelopak matanya.

“Hhhhmmmmm.” Lenguhnya.

“Belakangan ini aku mungkin tidak seceria dulu jika bertemu Luhan. Ada rasa kesal dan jengkel saat aku menatap wajahnya. Iya, jujur aku cemburu, aku tidak suka melihatnya dengan Wendy, aku iri dengan Wendy karena ia mempunyai tempat di hati Luhan, ia benar-benar beruntung.  Tapi percayalah aku juga tidak ingin memiliki rasa iri itu, aku juga tidak ingin merenggangkan diriku seperti ini. Aku rasa ini adalah naluri alami ku. Terang saja, wanita mana yang sanggup menghadapi pujaan hatinya yang tak sekalipun melirik perasaannya bahkan pujaan itu menggenggam wanita lain di hatinya. Apakah aku salah jika aku seperti ini?”

”Ya, kau salah Lee Han Ah! Sikapmu ini akan membuat Luhan kecewa terhadapmu, hubunganmu dengannya akan rusak!”

“Baik aku akan berusaha terbiasa melihat Luhan dan Wendy. Aku tidak ingin jika aku dan Luhan terpecah hanya karena perasaan konyolku yang sama sekali tak penting untuk Luhan ketahui.” Ucapnya dan bergegas pergi.

Lagi-lagi Hanna berdebat dengan dirinya sendiri.

~

Hanna kembali ke kelas, ternyata kelas telah berakhir. Ia tak mendapati Luhan disana.

“Neo odiga?” Ia menelpon Luhan.

“We?” Sahut suara halus itu diseberang.

“Mianhaeyeo, aku tidak sengaja membentakmu.” Ucap Hanna sambil membereskan buku-bukunya.

“Kwencana.” Singkatnya.

“Yak! Jangan seperti itu, kau ingin aku bentak lagi?”

“Heheh, aku di kantin, di bangku favorit kita.”

“Tunggu, aku kesitu.”

Hanna bergegas meninggalkan kelas.

 

***HannaProv***

 

“Luhan?”

“Eoh? Hana, duduklah. Kenalkan ini Wendy.”

“Wendy.” Wanita cantik itu mengulurkan tangannya.

“Hana.” Aku meraih uluran itu lalu duduk dihadapan mereka.

Semua terdiam beberapa saat sebelum akhirnya Luhan membuka mulut. Entah mengapa aku kehilangan bahan pembicaraan saat itu, mulutku terkunci dengan sendirinya. “Harusnya aku tak disini.”

“Caaah, ayo kita makan.” Ajak Luhan sembari menyodorkan sumpit kepada Wendy lalu diraihnya dengan senyum.

“Wah, aku tidak sadar jika sudah ada makanan.” Sahutku kikuk. Aku mengambil sumpit dengan menahan tanganku yang tiba-tiba ingin bergetar.

 

Apa yang ada di hadapanku ini? Peterpan ku sedang tersenyum bahagia dengan sang Wendy, tepat di depanku. Haruskah aku ikut tersenyum?

Yang biasanya aku menuju kantin berdua dengannya, sekarang kami datang dengan terpisah.

Yang biasanya setiap hari hanya aku dan dia yang menduduki bangku ini, sekarang rasanya malah aku yang menjadi pengganggu. Seorang wanita duduk di sampingnya.

Yang biasanya aku berbagi cerita dengan Luhan dan Luhan berbagi cerita denganku, sekarang aku yang menjadi pendengar setia mereka. Melihat tawa renyah dari dua orang yang sedang jatuh cinta dan membiarkanku jatuh kepada lukaku sendiri.

Yang biasanya meja ini hanya tersedia 2 porsi mie kacang hitam dan 2 jus strawberry, sekarang sudah ada menu baru dari orang lain. Bahkan Luhan sudah tidak menyiapkan sumpit untukku. Detik inilah aku sadar bahwa Luhan sudah memiliki wanita lain. Aku harus menerima kenyataan bahwa Peterpan ku benar-benar bahagia dengan sang Wendy.

“Melihatnya tersenyum bahagia dengan mata yang berbinar, itu sudah cukup membuatku bahagia. Aku harus membuang jauh-jauh harapanku dulu untuk mendapatkannya bahkan tidak perlu untuk mengingatnya lagi karena sekarang ia telah memiliki wanita lain yang berhasil memenangkan hatinya.”

 

***

 

“Setiap wanita seleranya tidak sama, kau harus menanyakan langsung kepadanya.”

“Itu tidak akan menjadi kejutan jika aku menanyakan langsung.”

“Babo! Aku tidak menyuruhmu untuk langsung bertanya tapi kau harus memancingnya agar kau mendapat gambaran.”

Saat ini aku dan Luhan sedang membahas kejutan ulang tahun Wendy.

“Ani… Sudah terlambat jika aku menanyakannya sekarang, besok adalah harinya yang ada ia malah curiga.” Ketusnya putus asa. “Aku ingin jawaban darimu. Menurutmu apa yang dia suka?” Lanjutnya lagi.

“Naega we? Othoke ara? Nae molla!” Aku mengeryitkan dahi dan mengangkat bahuku.

“Aku lebih percaya dengan jawabanmu.” Luhan terus merengek.

Akhirnya aku menyerah. Aku memberikan ide untuk memesan kue dengan miniature wajah Wendy di permukaannya, satu bucket bunga dan tak lupa dengan kadonya.

“Aku yang mengurus kue, kau mencari bunga dan mempersiapkan kadonya.” Seruku kepada Luhan.

“Ani… kita harus pergi bersama.” Luhan menarik tanganku untuk bergegas pergi.

~

(di perjalanan)

“Aku sudah mengirim fotonya lewat e-mail, bisakah kau membuat gambar seperti itu?”

“Baiklah. Gumawoyeo.”

 

“Aku sudah menelpon temanku yang bekerja disana. Kita bisa mengambilnya besok pagi.” Kataku kepada Luhan.

“Neomu gumawoyeo.” Balas Luhan sembari menggengam lembut tanganku yang saat ini menjangkau pinggulnya di atas motor. Spontan membuat tubuhku bergetar, aku hanya diam.

“Aku berencana memberikan cincin padanya. Bagaimana menurutmu?” Tanya Luhan sembari menoleh kearahku.

“That’s good.” Singkatku di dekat telinganya.

~

(di toko perhiasan)

“Bagaimana ini? Kau bahkan tidak tau ukuran jarinya.” Kesalku kepada Luhan.

“Truwa!.” Ia menarik jariku dan memasang cincin mas putih yang ingin ia berikan kepada Wendy. “Apa itu pas?” Lanjutnya bertanya.

Aku terdiam memandang cincin itu. Rasanya, aku tidak ingin membiarkan itu pergi dari jari manisku.

“Bagaimana?” Luhan mengulang pertanyaannya.

“Kau menggunakan jariku untuk percobaan? Itu tidak akan sama Lu-“

“Ini pasti akan cocok dengannya juga.” Luhan menimpali ocehanku.

“Jadi kalian memilih yang mana?” Pelayan yang sedari tadi terlihat bingung dengan pertengkaran kami tiba-tiba menyahut.

“Jusunghamnida. Aku mengambil yang ini, berikan kotak yang terbaik.” Ucap Luhan kepada pelayan tersebut.

“Eissss, jeongmal.” Gerutuku.

 

 

***

 

Sorenya semua telah siap. Tak henti-hentinya Luhan tersenyum puas.

“Lalu bagaimana dengan skenarionya?” Tanyaku kepada Luhan yang spontan membuat senyum manisnya berubah serius.

“Hmmm. Setelah jam kampus?” Usulnya. “Tapi bagaimana?” Lanjutnya sembari menggaruk kepalanya.

“Wendy sering mengunjungimu, ia pasti sudah dikenal oleh teman-teman kelas, sepertinya kita harus melibatkan mereka juga.” Sahutku.

Dengan panjang lebar aku menjelaskan skenario itu pada Luhan, ia hanya menyahutnya dengan anggukan.

“Baik, aku akan mengirim pesan kepada mereka.” Ucap Luhan meraih ponselnya dalam saku mantelnya.

“Oh iya, bagaimana dengan bunganya? Kau sudah menuliskan sesuatu pada bucketnya?”

“Eoh?” Spontan ia menoleh kearahku. “Apakah harus begitu?” Lanjutnya bertanya.

“Yak! Itu perlu. Eissssss.” Desisku dengan menyentil dahinya. “Baiklah, aku yang akan menulis. Kau hubungi saja teman-teman kelas.”

Aku mengambil tas dan mengeluarkan kertas note dan pena. Aku terdiam sesaat, aku berpikir keras untuk menuliskan sesuatu disini. Sebenarnya ini bukan yang hal sulit, menulis kata-kata indah adalah keahlian ku. Tapi yang terjadi adalah aku merasa sakit dengan apa yang aku tulis. Aku menulis ini atas nama orang yang aku cintai dimana yang aku tulis itu tidak tertuju kepadaku tapi untuk orang lain. Seharusnya kata-kata ini tertuju untuk Luhan. But, nevermind…

“Happy birthday, dear. No matter what happened and what will happen I’ll always Love you. There’s only you & me, no others. You’re the one and only my Wendy. I love you so, so much.” –Your Peterpan-

 

“And I’m your Tinkerbell” lirihku.

 

***

 

Now is the day! Aku sudah siap dengan beberapa tameng di hatiku untuk menyaksikan sebuah pertunjukan yang mungkin akan membuatku terlihat menyedihkan. Suatu hal yang tak pernah aku harapkan itu terjadi namun aku tidak dapat menolaknya. Bahkan aku yang menyusun pertunjukan itu untuk orang yang aku cintai.

“Aku sangat gugup!”

Aku hanya diam mendengar Luhan yang tidak berhentinya mengoceh sejak pagi tadi. Saat ini aku sedang memasang bucket bunga di hempitan belakang celananya agar nanti ia bisa memberikannya kepada Wendy. Saat ini aku, Luhan dan yang lainnya sudah siap di dalam aula menunggu kedatangan Wendy. Sepertinya bukan hanya Luhan ang gugup, aku juga sudah lebih dari gugup menjalani peranku sekarang.

“Ok, siap!” Ucapku sembari menepuk pelan punggung Luhan. “Apa Nanmoo sudah menjemput Wendy?” Tanyaku kepada teman-teman yang lain.

“Dia datang, dia datang!” Tiba-tiba salah seorang teman kelasku datang dari luar aula dengan tergopoh-gopoh.

“Matikan lampunya!” Seruku sembari cepat-cepat membakar lilin diatas kue yang di pegang Luhan.

Lalu Luhan berdiri 5 meter dari arah pintu. Aku hanya bisa memandang punggungnya yang dihiasi sebuah bucket bunga mawar itu.

“Kreeek…” Pintu dibuka oleh Nanmoo dan Wendy pun masuk.

“Saengil chukka hamnida… Saengil chukka hamnida… Saranghaende uri Wendy. Saengil chukka hamnida.”

Seruan mereka jelas merasuki pendengaranku. Aku memisahkan diri dari mereka. Entah aku harus tersenyum, menangis, tertawa atau berteriak. Entahlah, nyatanya aku terdiam.

Aku memandang kosong kearah mereka. Terlihat senyum manis Luhan dari jauh dan Wendy yang sedang meniup lilinnya. Setelah itu ia meraih bucket yang aku pasang dibelakang punggungnya lalu memberikan itu kepada Wendy. Dan… Wendy mencium bibir Luhan singkat lalu mendekap mesra tubuhnya.

“Yeaaaay! Chukaeyeo…” Seru yang lainnya.

“Selamat ulang tahun, chagi…” Ucap Luhan dengan penuh senyum. Ia memberikan Kue kepada Nanmoo dan mengeluarkan kotak merah muda dari dalam kantongnya.

“And happy Valentine’s too…” Ucapnya lagi sembari meraih tangan Wendy.

Akhirnya, cincin itu terpasang manis di jari lentik Wendy. Dan mereka berciuman. Spontan aku tertunduk. Aku tidak sanggup lagi membendung air mataku. Ternyata sangat sakit melihat orang yang kita sayang memiliki kebahagiaan dengan orang lain. Aku hanya bisa menyaksikan mereka dari belakang layar. Bahkan Luhan pun lupa dengan keberadaanku saat ini.

 

*** Author Prov ***

 

“Tok! Tok! Tok!”

Wanita itu tersentak kaget. Ia memastikan waktu pada ponselnya, saat itu waktu menunjukan 01:00 AM. Wanita itu memang tidak bisa tidur malam ini.

Ia mendekat kearah pintu dengan sedikit waspada.

“Kreeeek…”

Ia terkejut mendapati Luhan berdiri di hadapannya, terlebih yang membuat ia kaget adalah Luhan tiba-tiba memeluknya. Tubuhnya terasa kaku tapi ada kenyamanan tersendiri yang ia rasakan, ia membalas pelukan Luhan.

“Gumawoyeo Hanna-yah…” Lirihnya didekat telingaku.

“Luhan?” Tanya Hanna memastikan bahwa yang memeluknya adalah orang yang ia kenal.

“Kenapa kau belum tidur?” Tanya Luhan dalam dekapannya.

“Eoh? Aku mendengar ketukan pintu jadi aku terbangun.” Alasannya.

“Eissssss…” Luhan melepas pelukan dan menyentil dahi Hanna. “Kau pikir siapa yang ingin kau bohongi? Seorang Hanna tidak akan terbangun hanya karena ketukan pintu.” Ejek Luhan.

“Kau belum makan kan? Aku membawakan mie kacang hitam, ayo makan.” Luhan menggapai kresek yang ia letakan dibawah dan membawanya masuk ke kamar Hanna. Dengan sigap ia menuju dapur, ia mengambil mangkok, sumpit dan sendok agar mereka bisa makan. Hanna terperangah, ia hanya memandang Luhan heran.

“Luhan, aku sudah makan.” Kata Hanna sembari mendekati Luhan yang telah siap dimeja makan mungilnya.

“Kau berkicau di SNS bahwa kau lapar.” Komentar Luhan.

“Eoh?” Hanna baru saja sadar jika ia memang memposting sesuatu di SNS 30 menit yang lalu.

“Cepat duduk!” Luhan menarik tangan Hanna dan menuntunnya untuk duduk dihadapannya. Ia menyodorkan sumpit kepada Hanna, senyuman terukir jelas di wajah imut gadis itu.

“Luhan, kenapa kau tidak menjadi pacarku saja?” Hanna menatap Luhan dalam.

“We?” Luhan heran karena Hanna hanya diam.

“Eoh? Anieyo…” Hanna pun mulai menyantap makanan yang ada dihadapannya.

 

***Hani Prov***

 

“Kenapa kau belum tidur? Tidak biasanya kau masih terjaga selarut ini.” Aku memulai pembicaraan.

Saat ini aku dan Luhan sedang berada dilantai paling atas. Usai menyantap mie kacang hitam yang dibawanya, ia mengajakku ke lantai yang tidak beratap itu, hanya ada sebuah meja usang yang biasa dijadikan tempat aku dan Luhan bersantai saat sore.

“Aku baru saja balik dari rumah Wendy, aku melihat postinganmu jadi aku mampir untuk membeli makanan.” Ucapnya santai sembari duduk di lantai tak beralas itu. Aku pun menyusul duduk disisi kanan meja.

“Wah, apakah kau tidak dimarahi mengunjungi rumah gadis hingga malam begini?”

“Tidak, buktinya tadi aku mengunjungi kamarmu. Tidak masalah kan?” Sahutnya tak kalah santai.

“Eisss…” Desisku.

“Wendy benar-benar terkesan dengan kejutan tadi. Apalagi dengan isi surat di bucket itu.” Kata Luhan yang membuatku tersenyum lirih. “Ia juga kaget karena cincin itu cocok dengan ukuran jarinya.” Aku semakin terdiam dan menerawang ke langit.

“Semua ini karena kau Hanna, gumawoyeo…” Ucapnya dengan penuh senyum, lalu ia menarik tanganku yang terpaku rapi dalam mantelku. Ia mengeluarkan sebuah benda berwarna merah, ia memakaikan benda itu dipergelangan kiriku.

“Eoh?” Aku benar-benar kaget dan melirik cepat kearahnya.

“Aku harap kau selalu mengingatku setiap waktu. Ini kado valentine untukmu.” Gumamnya menggenggam tanganku usai memasang jam tangan mungil itu ditanganku.

Aku benar-benar terhipnotis. Rasanya aku sangat ingin mencium Luhan, ia benar-benar jahat membuat hatiku senyaman ini. Tapi aku menahan diriku karena aku tidak ingin mengecewakannya. Aku tidak ingin melakukan hal yang sembrono. Dan aku hanya memeluknya dari samping, sangat erat.

“Saranghae…” Ucapku halus didekat telinga kirinya. “Chingu-yaah…” Tambahku lagi.

Oh Tuhan… Sekali lagi, tolong hapus kata sabahat dari dunia ini.

“Kau tak seharusnya memberiku sesuatu untuk mengingatmu. Hatiku akan langsung mengenalimu, pikiranku akan langsung menanda wajahmu yang setiap hari gerak-gerikmu terekam jelas oleh mataku.”

Aku melepas pelukanku dan berpindah disisi kanannya.

“Aku ingin tidur dipundakmu, bolehkan aku meminjamnya hingga pagi nanti?” Gumamku nyaris tak terdengar.

“Baik, kita sampai pagi di sini.” Luhan mengangguk setuju. “Haruskah kita menyaksikan matahari terbit pagi ini?” Lanjut Luhan, aku hanya tersenyum dipundaknya tepat dibawah lehernya yang jenjang.

 

Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mendekap, sangat erat dan menyandarkan kepalaku dengan nyaman. Aku terus tersenyum dipundaknya, teat dibawah leher jenjang itu. Memandang langit bebas berdua dengan Luhan dimalam yang begitu dingin namun terasa hangat, setidaknya itu dapat mengobati hatiku. Aku memejamkan mataku untuk mengilhami kebahagiaan sederhana ini.

 

Meski hari ini adalah hari yang melelahkan untuk hatiku, tak mengapa jika itu untuk orang yang aku sayangi. Bahkan jika itu menyakitkan, aku akan tetap mendengar cerita indahnya bersama orang lain.

Luhan bercerita jika Wendy menyukai senyumnya yang terukir  indah di permukaan kue itu, Wendy berkata Luhan tepat memilih foto padahal itu adalah foto yang aku tentukan.

Luhan berkata cincin itu terpampang indah di jari manis Wendy dimana cincin itu sempat singgah di jariku meski hanya dijadikan percobaan.

Luhan tak henti-hentinya memuji tulisanku di bucket bunga itu karena Wendy sangat tersentuh. Tidakkah ia tau jika tulisan itu tertuju padanya? “Itu untukmu Luhan, dari aku!”

Sudah cukup! Kata “sahabat” menghambat hubungan kami. Tapi untuk apa aku memaksa menunggu untuk merubah kata itu menjadi sebuah ikatan yang lebih serius? Aku rasa dengan menjadi sahabatnya saja aku sudah merasa bahagia jadi aku tidak perlu mengharap lebih. Karena cinta bergantung pada perasaan bukan oleh sebuah status. Hanya berikan yang terbaik untuk orang tersayang dan jangan mengharap lebih dari mereka. Lakukan itu dengan ikhlas maka dengan sendirinya kau akan merasa bersyukur dan yakinlah kau akan jauh lebih bahagia.

“Selamat hari Valentine, I love you so much… my best… friend !”

Bisikku ke telinga Luhan sembari mempererat pelukanku, ia membalas dengan mengusap lembut pucuk rambutku.

 

“You will always be my Peterpan while I just your poor Tinkerbell. I know your Wendy is more, more, more beautiful than me. But it’s no matter if that make you happy. No matter what happened and what will happen, I will always love you even its make me hurt! I’ll heal my self to show the best for you. You don’t must to know, I love you so, so, much! You will be my Peterpan (just in my heart) forever… Hope you always Happy!” -TinkerHanna-

 

Aku akan menjadi kekuatanmu saat kau lemah. Aku akan menjadi suaramu saat kau tak dapat bicara. Aku akan menjadi mata untukmu saat kau tak bisa melihat. Akan ku berikan semua yang terbaik yang aku punya. Because I love you, Xi Luhan.

 

***END***

 

Advertisements

4 thoughts on “[FF Freelance] Valentine Luhan

  1. Ya.ampun… freind zone.. 😦 Ini gue banget min!! Kaya ada, rasa celekit-celekit gitu. 😥

    Like

  2. Addduhhhh nyeseekkk bgttt sumpaahh smpe nangisss arrghhh, hana gk slh sihh suka shabat tpi yahhh emang trkdg sahabat yah ttep sahabat, sesuka apapun, apalgi klo sahabat sndri dh ktmu jodohnya adduhh, udhhh lahhh, mungkin bkn jodohmu hana, gpp jdi tinker bell-nya luhan, krn tinker bell slalu ada bwt peterpan

    Like

  3. Makasih udah upload FF ku min. Makasih jg utk feedbacknya tmn2. Setelah ku baca ulang FF ini sebenarnya masih berantakan dikit, hehe. Tp makasih deh ya 🙂

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s