Namitsutiti

[FF Freelance] Pandora: Behemoth & Secret Chapter 6

1 Comment


ff

Tittle : PANDORA

Cast  : Park Jaena OC | Jeon Jungkook BTS | Jung Ho Seok BTS | Kim Seok Jin BTS| Min Yoon Gi BTS | Kim Taehyung BTS

Genre : Fantasy , misteri , little romance , fiksi , horor

Rating : 15+

Length : Chapter

_o0o_

Ketakutan…

Ini bukan saatnya orang untuk sibuk menggigit jari dan bergumam takut. Bangkit, mencoba merubah sesuatu agar tak lagi timbul rasa takut itu. Entah kau akan mati atau tidak. Jangan biarkan dirimu terus terpuruk. -Pandora

_o0o_

Kastil Astron.

“Aku tidak suka !” PRRAAANG!

Suga terperanjat. Menatap bingung tuannya yang baru saja melempar segelas darah yang baru dihidangkan. Lelaki yang ditatapnya kini menjerit kecil. Mencengkram erat-erat rambut kepalanya dengan keras. Suga sendiri tak mengerti. Sudah lama ia tak pernah lagi melihat tuannya sedang bertransformasi menjadi manusia.

“SUGAA!!”

Suga mundur selangkah. Ia sendiri takut mendekati tuannya yang tiba-tiba bermuka merah. Lelaki itu terus merintih kesakitan. Hingga tubuhnya terjatuh dari bangku di meja makan. Berguling-guling tak jelas dan berteriak hebat. Beberapa pelayan dengan wajah setengah tengkorak sama bingungnya dengan Suga. Mereka hanya memilih diam dan menatap kasian ke arah Taehyung.

Surai putih itu mendadak memudar. Berganti coklat seperti hangus terbakar. Manik mata yang mulanya berwarna emas kecoklatan, berubah menjadi coklat kehitaman yang pekat. Suga terbelalak. Meski sudah berubah menjadi manusia, Taehyung masih merintih kesakitan. Mungkin karna sudah setengah abad ini lelaki itu tak pernah berubah lagi.

“Sugaa…” Kini teriakkan itu berubah menjadi rintihan. Suga segera menghampirinya dan membantunya berdiri. Sementara para pelayan yang slalu dikatai bodoh Taehyung merapikan meja makan dan kursinya. Suga mendudukan Taehyung lalu hendak menanyakan keadaan lelaki itu. “Wajahku rasanya panas.”

“Ini karna tuan sedang kembali ke wujud tubuh manusia. Anda tahu harusnya saat ini anda mengungsi di bumi untuk sementara waktu. Negri Astron sangat panas bagi manusia biasa.”

“Aku tidak mau.” Tolak Taehyung seraya menyeka air keringatnya yang mulai muncul.

“Maaf, tapi dalam kondisi seperti ini anda…” BRRAAAK!

Suga mendongak, mendapati tuannya sudah berlari keluar dari ruang makan. Harusnya Suga bisa terbang untuk mengejar Taehyung. Tapi mengingat lelaki itu hanya berlari sebagai manusia, tak sopan rasanya jika harus mengejar Taehyung dengan kekuatan sihir. Di matanya sekarang, Taehyung adalah manusia biasa.

“Tuan…”

Perlahan, didekatinya tubuh Taehyung yang terlihat rapuh di sisi peti mati milik Promotheus Rapmon, kakaknya. Tangan manusianya yang lemah terlihat mencengkram erat sisi terbuka peti. Taehyung menangis sesenggukan di sana. Suga tahu saat-saat seperti ini adalah saat yang paling dibenci Taehyung. Rasa manusiawinya seakan bertambah. Tangis yang harus dihindari, kini seolah menjadi obat pelipur laranya. Taehyung menjadi semakin rapuh di tubuh manusia itu.

“AKU BENCI MANUSIA!”

“Tuan..”

“Kau juga manusia kan? Kenapa kau tak berubah sepertiku? Bukankah ini tahun akhir ?!” Bentak Taehyung melirik sinis ke arah Suga. Dia merasa iri. Tepatnya, dia merasa ini bukan takdir yang adil. Suga harusnya juga berubah di tahun terakhir Negri Astron, karna lelaki itu juga setengah manusia sepertinya. Tapi entah kenapa hanya tubuhnya yang bertransformasi. “Atau gara-gara clan istimewamu itu? Ciih.

Suga menatap Taehyung tak percaya. Dia kesal, lagi-lagi tuannya menyangkut pautkan clan Ares yang juga mengalir di darah manusianya. Tapi untuk saat ini ia tak patut melayangkan protes dan lalu pergi meninggalkan tubuh manusia yang terlihat menyedihkan itu. “Aku juga tidak tahu.” Hanya kalimat itu yang mampu diucapkannya saat ini. Dia tak kuasa mengatakan hal lain yang mungkin saja bisa menyakiti hati Taehyung.

“Tubuhku terasa terbakar.” Taehyung kembali merintih sakit. Hingga akhirnya tubuh itu merosot dan jatuh ke lantai yang hitam. Suga terkejut, dan lekas membawa tubuh Taehyung pergi dari sana. Ini tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi.

_o0o_

Bumi.

 

Kedua pria itu sudah duduk bersila di sisi lain. Mengintari sofa yang terdapat tubuh Jimin di sana. Jungkook dan Jaena akhirnya juga ikut duduk. Menyilakan kaki dan saling melempar pandang.

“Siap?” Tanya Seok Jin kepada Jaena dan Jungkook.

“Ju..Jungkook ikut juga?” Seok Jin mengangguk. “Ta..tapi dia..”

“Aku siap.” Sela Jungkook. “Aku bersedia ikut menyelamatkan Jimin Hyung.”

Seok Jin tersenyum puas dan kembali menunduk membaca sebuah mantra. Diikuti Ho Seok yang mulai berkomat-kamit dengan cepat. Jaena bingung dan merasa aneh. Di tatapnya ke arah Jungkook yang mulai ikut berkonsentrasi dengan ini. Hingga akhirnya cahaya putih itu muncul dan membawa mereka ke suatu tempat yang lain.

Jika dilihat, ini hanyalah sebuah ruang gelap dengan batu-batuan berukuran sedang yang melayang tak menentu. Beberapa di antaranya, mengeluarkan cahaya biru yang terang. Ah, ini mirip dengan dunia angkasa. Dan apakah bintang biru ini adalah bintang yang paling terang dan panas?

“Ayo.” Seok Jin membuyarkan lamunan Jaena yang perlahan mulai berniat menyentuh batu itu. Berbeda dengan Jaena yang nampak takjub dan merasa tak percaya dengan pandangannya sendiri, Jungkook justru terlihat was-was melewati batu-batu yang melayang-layang di sekitar mereka. Jika ini bintang, bukankah ini panas?

“Dimana kita?” Tanya Jaena kepada Seok Jin yang sibuk memperhatikan jalan. Seok Jin yang bertampang serius menautkan dahinya berfikir. Lalu menoleh kepada Jaena yang sedang menatapnya. “Kau yakin Oppa ada disini?”

“Ini perjalanan ke Negri Athena.”

“Jadi kita belum sampai ?!” Kejut Jaena yang langsung melirik Jungkook. “Kau bilang manusia biasa melakukan perjalanan ini sampai setengah abad. Bagaimana dengan Jungkook?”

“Ada sebuah rahasia yang harus kuceritakan. Kepada Jungkook khususnya. Orang tuamu baik-baik saja Jungkook?” Tanya Seok Jin langsung terarah pada lelaki itu. Jungkook terkesigap lalu bergumam mengiyakan.

Nde. Mereka sehat.” Jawab Jungkook antusias.

“Aku merindukan sepasang suami istri itu.” Kali ini bukan hanya Jungkook, Jaena bahkan heran mengapa Seok Jin mengatakannya. Sementara itu, Ho Seok hanya tersenyum melihat ketiganya. “Kau tahu? Cerita tentang dimana peri-peri turun ke bumi? Salah satu dari mereka adalah orang tua Jungkook. Ayah dan Ibunya adalah jelmaan sepasang peri yang dulu pernah tinggal di Athena. Mereka berdua memutuskan untuk pindah ke bumi setelah pensiun melakukan tugasnya sebagai peri di Athena.”

“MWO?! Apa itu benar?” Jungkook tak percaya sendiri. Kedua orangtuanya adalah jelmaan dari peri di negri Athena.

“Sayangnya, ingatan mereka tentang peri dihapus. Ini dimaksudkan agar keberadaan Athena terjaga rahasianya. Bukannya tidak mempercayai mereka, tapi bukankah aneh jika mereka bisa melihat hal-hal menakjubkan di sekelilingnya? Orang-orang akan menganggap mereka sepasang suami istri yang aneh jika tidak.” Seok Jin menjelaskan panjang lebar.

“Jadi itu yang membuatnya bisa ikut ke dunia ini? Astaga, aku tak percaya kau anak sepasang peri Jeon Jungkook!” Jaena menepuk-nepuk pundak Jungkook bangga. Jungkook sendiri nampak tersipu dengan tingkah Jaena yang tertawa memandangnya. Wajah gadis itu nampak bersinar dan cantik. Inikah kekuatan Pandora yang dimilikinya? Yang tak lain akan membuat Jaena semakin berbeda dengan gadis lain kebanyakan. Gadis itu semakin terlihat istimewa.

“Kita sudah sampai.” Ujar Ho Seok dan berhenti di sebuah tempat dengan awan-awan hitam di sekelilingnya. “Kita memang menuju ke Athena. Tapi karna misi ini untuk mencari Jimin, kita harus mampir ke tempat ini.”

Jaena dan Jungkook saling pandang. Lalu menyapu pandangan ke seluruh penjuru tempat yang masih nampak sama. Melihat Seok Jin dan Ho Seok memasuki sesuatu yang semu, Jaena dan Jungkook awalnya tak mau ikut. Tapi bukankah lebih mengerikan ditinggal begitu saja?

Sebuah kerangkai besi ukuran raksasa itu menjadi pemandangan awal mereka. Penjara itu nampak sepi. Tak terlihat berisi selain ruang hampa yang terlihat gelap pekat. HHHRR…Jungkook melangkah mundur tiba-tiba mendengar geraman mirip seekor anjing tiba-tiba terdengar dari penjara besi itu. Jika dilihat, ini memang sama seperti kandang anjing. Tapi…

“Ini adalah kandang Behemoth. Hewan raksasa yang biasa disebut Cerberus. Perhatikan langkahmu dan jangan biarkan kedua matamu menatap sosoknya yang tinggi besar.” Ingat Ho Seok yang membuat Jungkook mulai berhalusinasi. “Kurasa Behemoth sedang tidur.”

“Kenapa dia ada disini?” Tanya Jaena.

“Ssstt! Perhatikan suaramu juga.” Hardik Seok Jin setengah berbisik. “Dia adalah penjagablackhole. Tapi semenjak dia sering memangsa peri, dia dikurung di dalam kandang ini. Mungkin ini alasan mengapa Darktorcrow bisa keluar dengan bebas.”

“Dia juga memangsa Darktorcrow?” Jaena skeptis. “Memangsa manusia juga?”

“Bahkan mereka juga memangsa kami Jaena-ya.” Ho Seok menyela. Lalu melirik sinis ke arah kandang besi raksasa itu. “Bukankah lucu jika ia memangsa manusia? Dia belum pernah melihatnya karna belum pernah ada sejarah manusia datang kesini.”

Jungkook yang mendengar itu menghembuskan nafasnya panjang dengan lega. Setidaknya makhluk itu akan berfikir panjang jika ingin melahapnya. Mungkin saja tubuh manusia itu beracun bagi Behemoth. Terlebih, makhluk itu tak akan pernah tahu, apa manusia itu? Sejenis makanankah? Ahh, ini konyol. Bagaimana mungkin Jungkook berpersepsi bahwa manusia dikategorikan sebagai salah satu jenis makanan juga? Jika begitu, Jaena dan Jimin mungkin sudah melahapnya dari dulu. Dasar naif.

“Hei? Kau melamun? Lihat! Lihat di sana!” Kejut Jaena yang memaksa Jungkook menatap sesuatu yang berputar hebat dari kejauhan. “Kita tidak bisa mendekatinya, kalau tidak, kita bisa tersedot masuk kesana.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan?”

Seolah bertanya dengan pertanyaan yang sama, Jaena melempar pandangan ke arah Seok Jin dan Ho Seok yang berada tepat di belakang mereka. Ho Seok nampak terkejut. Lalu bergumam lirih dan  menepuk Seok Jin dengan pelan.

“Apa?” Seok Jin nampak tak sabar.

“Lebih baik, kita pulang sekarang.” Ucapan Ho Seok membuat Jaena dan Jungkook hampir terjengkang saking terkejut. Jaena hendak melayangkan protes, tapi Ho Seok menyela lebih dulu. “Aku tidak tahu saat melihat kandang itu gelap dari depan. Kupikir makhluk raksasa itu sedang tertidur atau apa. Namun setelah melihatnya dari sini…” Ho Seok menoleh ke belakang. Tepat dimana kandang besi raksasa itu berada. Semua pasang mata menatap ke arah yang sama yang ditunjukkan Ho Seok. Namun masing-masing terbelalak terkejut mengetahui kandangnya rusak di bagian belakang. Menganga seperti dikoyak paksa. Dan terlihat jelas bahwa kondisi kandang itu… kosong.

“Kandangnya kosong?” Tanya Seok Jin ragu. “Lalu dimana…”

“Tepat di hadapan kita.” Ujar Ho Seok hampir berbisik. Perlahan dan penuh hati-hati, ketiga orang yang sedang menoleh ke arahnya kini kembali menatap ke depan. Mendapati sosok hitam keunguan menggeram-geram di hadapan mereka. Tubuh besar seekor anjing, dengan tiga kepala yang saling berbagi leher. Cakar-cakar kuku tajam yang besar seolah siap menerkam apapun. Mengoyaknya sampai habis tak tersisa.

Gigi-gigi raksasa nan tajam itu, berulang kali meneteskan air kental yang diduga adalah air liur si hewan. Begitu pula dengan hidungnya yang hitam dan besar. Mengendus-endus dan sesekali meneteskan darah. Entah hewan apa itu namanya, Jungkook sendiri mulai kehilangan imajinasinya. Berubah menjadi suatu ketakutan yang tinggi. Hingga kedua kakinya bergetar melampaui batas kesanggupannya untuk berdiri.

BEHEMOOOOTH!!”  Triak Seok Jin dan langsung menarik Jaena pergi. Begitu pula Jaena, Gadis itu juga menarik Jungkook untuk segera keluar dari dunia ini. Merasa tak sabar, Ho Seok menggendong paksa keduanya dan membawanya terbang secepat yang ia mampu. Ia merasa lengah tak mengetahui keberadaan Behemoth yang kabur dari kandangnya.

Hewan berkepala tiga itu masih mengejar. Jungkook mengatupkan matanya rapat-rapat saking takutnya. Sedangkan Jaena terus menatap ke belakang dan mendapati Seok Jin terbang seorang diri di belakang mereka. Jaena mendesis kesal. Mencoba meraih tangan Seok Jin yang semakin tertinggal di belakang. Lelaki yang akhir-akhir ini dipandangnya sebagai kesatria mendadak pudar. Ia melihatnya sama seperti Jimin sekarang. Seorang kakak yang sudah banyak membantunya sampai saat ini. Ia tak mau kehilangan lagi.

GRRAAPPP!

 

“Aaaaakkhh!!”

“JEAAANSSS!!” Triak Ho Seok menyadari hewan itu berhasil menggigit kerah baju Seok Jin dari belakang. Jaena ikut berteriak terkejut. Sedangkan Jungkook semakin erat mengatupkan matanya. “Siaal !”

Ho Seok akhirnya menurunkan Jaena dan Jungkook di depan gerbang tempat dimana mereka pertama kali masuk. Lalu dirinya seorang diri masuk kembali ke dalam sana untuk menyelamatkan Seok Jin. “JEAANS!!” Triaknya panik melihat Behemoth itu hendak menelan hidup-hidup temannya. “Gonsinloous!!”  BRRAAKKK! Gosinlooous!!!”

Dengan melawan ketakutannya, Ho Seok berusaha mungkin membuat anjing berkepala tiga itu jatuh tersungkur dan menurunkan Seok Jin dari terkamannya. Lelaki itu mulai lelah mengeluarkan segala kekuatannya dan membentuk bola-bola cahaya untuk menyakitiCerberus, anjing berkepala tiga yang adalah salah satu jenis Behemoth paling menyeramkan. Dia bersyukur tidak melawan Scylla, Nagini, Kraken, atau Chimaera yang memiliki kepala singa, ular, dan kambing sekaligus. Setidaknya untuk membuat Seok Jin terlepas sudah yang paling melegakan di sepanjang hidupnya.

“Akkh..” Triak Seok Jin mendapati tangan kirinya digigit dan tubuhnya terpelanting ke bawah. Darah berwarna merah segar itu mengucur dari lengannya yang buntung. Dia tak percaya hewan itu memakan sebelah tangannya begitu saja. “Astagaa..” Rintihnya dan kembali mendongakkan kepalanya. Mendapati Cerberus kini mengejar Ho Seok yang dengan sekuat tenaga terus berusaha menyakiti makhluk itu.

Auman keras itu juga didengar Jungkook dan Jaena yang masih menunggu di luar. Menatap bagaimana kilat-kilat cahaya memantul dari balik awan-awan hitam itu. Hingga akhirnya…

Evolugaarr!!!!”  PRRAAANG!!

 

Jaena terhenyak. Mendapati awan-awan itu terbelah karna sinar merah terang yang muncul setelah suara teriakkan itu terdengar. Darah berceceran dimana-mana. Sebuah kepala berukuran raksasa menggelundung dengan bebas ke arah Jungkook. Alhasil lelaki itu menjerit terkejut. “AAAAAA!!! A..apa ini?”

“Ke..kepala anjing raksasa?” Kejut Jaena yang ikut menatap kepala itu. “A..apa yang terjadi?”

Dari kejauhan, nampak sosok Ho Seok tengah menggendong Seok Jin dengan penuh darah di lengan kirinya. Terlebih keduanya nampak menjijikan dengan darah-darah kehitaman yang menempel di bajunya. Jaena hanya mengangguk patuh begitu Ho Seok menyuruhnya ikut berlari dari tempat itu. Gadis itu segera menarik Jungkook yang tanpa henti menatap kepala anjing raksasa itu. Laki-laki itu benar-benar selalu sibuk dengan imajinasinya sendiri.

“Cepat! Mereka akan bangkit beberapa saat lagi dengan kepala empat!”

“Apa?!”  Kejut Jaena tak habis pikir.

“Alasan mengapa mereka tidak boleh dibunuh adalah ini. Dua orang sudah pernah membunuhnya, dan membuat hewan itu berkepala tiga. Dan sekarang aku membunuhnya, mereka akan berkepala empat setelah ini.” Ho Seok kemudian mengucapkan mantra dan mereka kembali ke dunia bumi.

_o0o_

“Aku dimana?”

Lelaki dengan rambut coklat caramel gelap itu menyapu pandangannya ke setiap penjuru ruangan yang sama sekali asing di matanya. Ia tak begitu ingat bagaimana ia bisa berada disini. Namun begitu ia melihat Suga, ia sadar bahwa ia sudah berada di tempat lain sekarang ini.

“Aku membawamu ke sebuah apartemen di bumi. Dan…Tuan, makanlah ini. Setidaknya agar tubuhmu kembali kuat.”

“Tubuh seperti ini? Kuat dengan makan-makanan sampah ini?”

Suga berdecak. Menimang-nimang kembali roti selai yang ia bawa. Dia sudah susah payah membawa tuannya pergi ke bumi untuk meminimalkan hal-hal buruk yang akan terjadi pada tuannya ini. Meleleh dan hangus besar kemungkinan. Tapi Taehyung sama sekali tak mengindahkan pilihan terbaik Suga. Lelaki itu masih bersikeras untuk tidak menerima tubuh manusianya saat ini. Lelaki itu terus menggerutu, merutuk takdir setengah manusianya –lagi.

“Tuan ingin minum darah? Akan kusiapkan.” Suga sudah beranjak dan berbalik. Namun Taehyung kembali menghentikannya.

“Tunggu! Kau itu… Mana bisa kondisi seperti ini aku minum darah?”

“Lalu, apa yang bisa anda makan selama menjadi manusia? Makanan sampah anda tak suka, darah juga tak bisa. Lalu apa?” Suga menatap tuannya pasrah. Membiarkan Taehyung kembali berfikir tentang dampak kedepannya jika ia tak memakan apapun selama menjadi manusia.

“Haah… Aku akan makan makanan sampah ini, untuk sementara.”

Suga tersenyum puas. Lalu menyuapi Taehyung dengan sepotong roti.

Langit senja begitu indah hari ini. Warna merah dengan gurat sepia membuat Taehyung takjub dengan dunia ini. Bumi memang selalu menjadi tempat yang indah. Dan Taehyung tak pernah memungkiri itu meski ia benci menjadi manusia –atau dengan manusianya sendiri–.

Suga berjalan di sampingnya. Kali ini mereka tak mengenakan jubah menyeramkan. Hanya sebuah mantel coklat yang berbeda motif yang di dapat Suga dari sebuah toko yang mereka kunjungi beberapa saat lalu. Setidaknya mereka berdua harus berpura-pura menjadi manusia sampai tahun akhir ini berganti. Taehyung sepertinya sudah mulai terbiasa.

“Apa…ibuku dan ibumu bahagia sebelumnya tinggal di bumi?” Tanya Taehyung memecah keheningan.

“Entahlah.” Suga ikut menatap ke tempat dimana mata Taehyung terarah. Terlihat sepasang kekasih sedang berjalan bergandengan menyusuri sepanjang pinggiran Sungai Han. Mereka nampak bahagia dengan tawa itu. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi mungkin hal tersebutlah yang mendasari mengapa Taehyung sampai bertanya demikian.

“Kau tahu siapa yang mewarisi rambut coklat menjijikkan ini?” Suga menoleh. Menatap Taehyung yang nampak menyentuh rambutnya dengan sejumput jari. “Ibuku yang mewarisinya. Mata coklat ini juga dia yang mewarisi. Begitu pula dengan darah manusia ini.” Ucapnya penuh kebencian.

“Tuan, aku tak pernah berfikir bahwa menjadi manusia itu menyenangkan. Tapi melihat bagaimana mereka memiliki sesuatu bernama cinta, aku jadi penasaran.”

“Apa itu? Sebuah kekuatan besarkah?” Taehyung berubah antusias.

“Ahh… itu hanya perasaan dari seorang manusia untuk manusia yang lain. Hal yang sama yang pernah dirasakan Promotheus Rapmond dan Dewi Pandora, yang akhirnya membuat mereka saling mengutuk dan mati.”

“Oh, perasaan menjijikkan itu?” Taehyung terkekeh kecil, lalu kembali melangkah meninggalkan jalanan itu. “Aku sampai heran, perasaan seperti itu bisa menjadi jurus mematikan.”

“Kupikir juga begitu. Tapi rasanya indah sekali. Hal yang membuat Promotheus Rapmon mabuk dan menjadi buta. Tapi kudengar rasa cinta itu tak hanya dirasakan hanya oleh sepasang manusia berlawan jenis saja. Cinta terhadap sesama dan keluarga juga ada.”

“Ha?!” Taehyung kembali tergelak.

“Sama seperti cinta Tuan Besar Promotheus ayah anda kepada ibu anda yang hanya seorang manusia, perasaan anda terhadap Tuan Promotheus Rapmon juga adalah rasa cinta terhadap keluarga. Nyatanya, anda sampai sekarang terus mencari keberadaan pyramid itu.”

Taehyung tercekat. Ia tak begitu paham dengan pemikiran manusiawi Min Suga. Tapi jika itu benar… “Bagaimana bisa kau tahu?”

“Ibuku yang manusia juga mengajarkan itu padaku. Tentunya sebelum cinta membunuhnya.” Taehyung mengernyit tak mengerti. “Rasa cinta yang berlebihan, ya, itu adalah faktor utama yang membuat cinta begitu mematikan. Ayahku yang adalah makhluk Ares terlalu mencintai ibu. Sejak saat itu ia merasa protektif dengan ibu. Hingga akhirnya membunuh ibu demi memilikinya seutuhnya. Mengerikan bukan?”

“Hah, clan Ares memang bodoh.” Suga tercekat. Ia tak menyangka Taehyung justru mengatakan itu danterkekeh. “Hei, aku tak sedang menghinamu. Aku menghina ayahmu.” Taehyung menatapnya geli. “Kau membenci ayah dan clan itu bukan? Jangan berpikir kau sudah tobat sekarang.”

“O..ohh, tentu tidak.”

Taehyung kembali berhenti. Menatap gerombolan anak remaja berpakaian seragam sedang melintas tak jauh dari hadapannya. Mereka juga sedang tertawa bersama. Yang tanpa sadar menunjukkan Taehyung betapa senangnya menjadi seorang manusia. Lelaki itu berdecak meremehkan lalu ikut terkekeh juga. “Kau tahu? Aku membayangkan diriku mati karna rasa cinta itu. Bodoh ya?”

“Ah? Begitukah?”

“Aku menginginkan sesuatu Min Suga.” Suga kembali menoleh. Menatap Taehyung lekat yang kemudian menunjuk sesuatu jauh disana. “Aku ingin berseragam seperti anak-anak itu.”

_o0o_

Angin malam kembali berhembus ketika Jaena sibuk menggulung kembali tira-tirai itu. Ia tak ingin kejadian malam lalu yang membuat dirinya kembali masuk ke dunia aneh yang mungkin saja itu mimpi. Ia memilih untuk tetap terjaga.

Dilihatnya di depan balkon, Jungkook sedang duduk seorang diri. Mengamati gelapnya langit dan membiarkan angin menghempas rambutnya. Jaena mampir sebentar ke ranjang Jimin, membenahi letak selimut yang tertiup angin yang tembus dari celah-celah ventilasi, lalu menghampiri Jungkook di luar sana.

“Hai. Kau melamun? Kau tak ingin pulang?”

Jungkook menggeleng perlahan. Tetap mempertahankan tatapannya menatap langit. Jaena kembali bungkam. Menarik bangku dan ikut duduk di samping Jungkook. “Aku tahu ini berat. Apalagi aku belum menemukan Oppa.”

“Sebenarnya, dunia apa yang kita tinggali ini?” Jungkook menatap Jaena dengan tatapan sayunya. Tatapan yang membuat Jaena terasa dihujami sebilah pisau tajam yang merobek kesadarannya. Gadis itu tak menjawab. Ia justru mendongak menatap langit.

“Harusnya aku yang bertanya. Siapa sebenarnya aku ini?” Jaena menghembuskan nafasnya. Membiarkan Jungkook ikut menerawang bersamanya menatap jauh ke atas langit. “Ceritakan padaku, apa saja yang terjadi hingga kau hampir dimakan Darktorcrow.”

 

“So Min Yoo dan Nam Eun Ri, mereka tewas.” Ujar Jungkook yang langsung membuat Jaena menoleh cepat.

“Mwo?!”

“Benar. Darktorcrow yang membunuhnya. Tapi pihak sekolah berfikir bahwa itu adalah pembunuhan. Teman-teman juga mengira bahwa itu tindakan psycho. Kematian keduanya tak wajar. Aku ingin muntah saat mengingatnya. Bau busuk mayatnya juga masih kuingat.” Terang Jungkook.

Jaena menatap langit. Memastikan bahwa Darktorcrow mungkin masih hidup dan berkelana mencari mangsa. Ho Seok dan Seok Jin memang sudah mengusirnya. Tapi bagaimana jika mereka kembali lagi? Apa makhluk-makhluk itu masih mengincar dirinya dan Jungkook?

“Aku ingin segera ke Athena dan menyempurnakan kekuatan ini. Memperbaiki semuanya dan menemukan Oppa. Menghilangkan kedua tanda di leher kita dan lalu hidup seperti semua tak pernah terjadi sebelumnya.” Jaena berkhayal.

“Setelah itu…” Jungkook mengambil sebelah tangan Jaena dengan lembut. Menggenggamnya erat hingga membuat gadis itu menoleh terkejut. “Aku akan melindungimu seperti biasanya. Menjagamu dengan lebih baik, dan aku akan ikut kursus bela diri demi melindungimu.”

Entah kenapa mendengar penuturan itu, Jaena tergelak sendiri. Ia tak menyangka bahwa Jungkook akan berfikir seperti itu. Satu hal yang membuat dada Jaena bergerumuh hebat. Dipastikan olehnya, jika ini siang, Jungkook akan mengenali raut merah di wajahnya. Gadis itu tengah tersipu malu.

“Kita pasti bisa melewati ini bersama-sama.”

“Benar. Aku berjanji.”

Tanpa sadar untuk sekian detik mereka saling pandang. Menatap penuh arti dari balik kedua bola mata mereka. Jungkook perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Jaena. Mendekatkan bibirnya tepat ke atas di bibir Jaena. Mengecupnya perlahan. Lalu semakin erat hingga terjadi ciuman yang cukup lama diantara mereka. Bergerak sedikit untuk saling menikmati.

BLUUSSSHH!

 

“Ehh?”

Sontak Jaena dan Jungkook melepaskan diri setelah menyadari kedatangan seseorang yang terkesan tiba-tiba. Ho Seok menatap mereka terkejut. Masih dengan posisinya yang baru saja mendarat dari tempat antah berantah yang baru saja dikunjunginya. Ia menatap Jaena dan Jungkook bergantian. Lalu menggantinya dengan senyuman nakal seolah sedang memergoki sesuatu yang sangat menyenangkan.

“Ah..kulihat kalian…”

“TIDAK! ITU TIDAK ADA!” Ujar Jaena dan Jungkook serentak.

“Tapi kulihat kalian…”

“TIDAK ADA!” Bentak Jaena dan Jungkook kembali serentak. Ho Seok semakin menjadi-jadi mengacungkan jarinya menggoda kedua insan yang rupanya sedang merasakan api asmara di kedua hatinya. Ia baru tahu bahwa sebenarnya Jaena dan Jungkook saling cinta.

“Aku tidak menyangka kau seperti ini Jaena-ya. Saat rumah sepi, kau malah berci..”

“Ho Seok Hyung! Jangan berkata seperti itu!” Hardik Jungkook dengan wajah memerah malu.

“Ah..kau juga, alasan mengapa kau tak pulang ke rumah ya?” Tebak Ho Seok mengacung-acungkan jarinya. Lelaki konyol itu tergelak saking gelinya. Manusia begitu menarik saat jatuh cinta. Seperti pasangan Romeo dan Juliet saja.

“Ayolah Hyung.” Pinta Jungkook mulai tak tenang dengan kondisi ini.

“Baiklah. Itu urusan pribadi kalian. Ah, aku sudah mengantar Seok Jin kembali ke Athena untuk memulihkan keadaannya. Aku juga sudah melapor bahwa aku baru saja membunuhCerberus dan mereka memastikan Behemoth itu kini berkepala empat. Kalian tenang saja. Akan kutangani masalah di bumi dan melindungi kalian.”

“Bagaimana dengan Oppa?!”

“Ada tim khusus yang baru saja dibentuk untuk mencari keberadaan Jimin. Dia sepertinya benar-benar tersesat. Lebih dari itu..” Ho Seok berubah serius. “Kudengar Promotheus V sedang bertransformasi ke wujud manusianya. Dia itu dewa setengah manusia.”

Jaena tercekat. Sedangkan Jungkook menatap lelaki itu bingung. Apalagi ini? Seburuk apakah jika Promotheus V berubah menjadi manusia? Entahlah, mereka hanya perlu menunggu waktu.

_TBC_
Annyeong~
akhir-akhir ini semangat bngt nulis^^ terimakasih untuk kalian semua 😀 {}

Advertisements

One thought on “[FF Freelance] Pandora: Behemoth & Secret Chapter 6

  1. huwaaaa kakak..
    kenapa aku baru di tag ? ini ff nya keren lohh..
    astaga..
    tapi aku agak kurang ngeh gituu (efek bacanya langsung part 6) 😀
    oke deh.. aku baca part sebelumnya dulu ya kak ^_^

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s