Namitsutiti

[FF Freelance] A.T (Agent Target ) ~ Ep. 2

Leave a comment


11122327_1605877619655682_633296420_n

Title : A.T (Agent Target ) ~ Ep. 2

Athour : Hae

DON’T BASH, DON’T PLAGIAT, DON’T BE SIDERES, SIDERES KICK. JANGAN LUPA KOMENTAR!

Main Cast : Oh Se Hun (Exo) – Byun Baek Hyun (Exo) – Park Chan Yeol (Exo) – Kim Ha Ni (You/Oc) – Tiffany Hwang (Snsd).

Special Cast : (F4)
-Kim Jong In a.s Kai (Exo), Lu Han (Actor), Do Kyung Soo a.s D.o (Exo), Kim Joon Myeon a.s Suho (Exo).

Genre : Friendship – Family – School Life – Police

Leght : Chapter

Cover : YeonHanArt.

Recomended Backsong : Call Me Baby (Exo).

Annyeong, mohon kritikannya…

Ff ini murni karya pemikiran khayalan athour yang terinspirasi dari komik Conan dan drama Boy Before Flower. Hehehe

Nama cast cuma meminjam, kecuali (oc), sepenuhnya cast milik Tuhan, keluarga, dan managenment.

Warning ! Typo bertebaran! Harap di maklumi, maaf kalau ada salah penulisan kata. Bahasa yang di gunakan juga bahasa sehari-hari anak muda umumnya. Mudah-mudahan bahasa gaulnya ngak nge-Alay.

Semoga dapet fellnya…

Happy Reading

.
.
.
.
.
.
.

Athour Pov

Blue@ Restaurant
Gangnam City. 20.00 pm. KST

Sebuah rumah makan khas negara tembok miring yang masuk dalam keajaiban dunia ( Pisa miring, Italia) nampak begitu sepi. Hanya ada dua keluarga yang sedang menikmati makan malam mereka. Sepertinya restaurant disewa khusus malam ini.

Mereka larut dalam oboralan yang menurut yeoja bergaun hijau dan namja berpakaian kasual dengan hodie abu-abu sangat membosankan, mereka nampak acuh, bahkan menunjukan terang-terangan kebosanan mereka tentang oboral khas orang tua itu.

“Sepertinya mereka membutuhkan waktu berdua?” ucap Nyonya Kim dengan senyum mengoda.

Sedangkan yeoja bergaun hijau itu memutar bola matanya malas melihat sikap ibunya.

“Ah. Kau benar Ji Hyun. Mereka butuh privasi berdua.” ucap Nyonya Oh sambil menyikut lengan putranya yang nampak asyik bermain dengan sedotan.

Nyonya Oh memberi kode dengan tatapan matanya, membuat Se Hun menghela nafas pelan. Ia malas sangat malas sebenarnya, tapi karena paksaan ibunya yang mengomel tampa henti seperti alaram kebakaran membuatnya mau tak mau ikut makan malam ini. Walaupun Ibunya sempat protes karena pakaian yang ia pakai. Untungnya sang ayah datang dan mengatakan mereka tidak punya banyak waktu dan bergegas.

“Kalian bisa pergi ke belakang restaurant ini, disana ada danau kecil atau kalian ingin pergi ke tempat lain.” Tuan Oh menyerahkan kunci mobilnya di atas meja makan.

“Jangan malu-malu, kita juga pernah muda.” ucapan tuan Kim membuat gelak tawa lainnya. Bahkan Ha Ni tertawa hambar dengan lelucon garing dari ayahnya.

***

Angin berhembus pelan namun terasa menusuk tulang untuk Ha Ni yang kini berdiri diam sambil berpegangan pada dermaga kecil di dekat danau. Angin menyapu lembut permukaan kulitnya, membuat beberapa anak rambut panjangnya yang tidak di ikat bergerak. Ia memandang air tenang danau yang jernih dengan pemandangan bulan di dalamnya. Bulan dalam air. Bulan yang membentuk sempurna itu membuat malam ini lebih hangat.

“Eh?” Ha Ni menoleh begitu sebuah hodie tersampir di bahunya.

“Aku tidak mau di salahkan jika kau masuk angin.” ucap Se Hun dan berjalan pelan meninggalkan dermaga dengan kedua tangan yang ia masukan ke dalam saku celananya.

“Apa kau tau tentang rencana ini, rencana orang tua kita?” Se Hun menghentikan langkahnya dan langsung memundurkan tubuhnya secara refleks saat berbalik mendapati Ha Ni tepat berdiri di belakangnya.

“Kenapa kaget huh.” ujar Ha Ni

“Apa itu sebuah pertanyaan?” ucap Se Hun

Diam. Ha Ni malas berbicara karena ia paham orang seperti apa yang ada di hadapannya.

“Jangan diam huh. Aku tidak bisa bertelepati.” Se Hun mendorong dahi Ha Ni setelah selesai berbicara. Dan itu membuat Ha Ni melototkan matanya.

“Yak!” teriak Ha Ni tidak terima di perlakukan seperti itu.

“Dengarkan aku, Aku tidak akan mengulangi ucapanku.” ujar Se Hun sukses membuat Ha Ni tegang.

“Walaupun kita seperti ini karena rencana kedua orang tua kita, tapi aku ingin bersikap seperti pria dewasa lainnya. Aku bukan type pria yang pandai berkata, jadi Kim Ha Ni maukah kau menikah denganku, hidup bersama manusia es seperti yang kau dan lain julukan padaku?” ujar Se Hun

Ha Ni diam disana tapi raganya entah kemana. Ia merasa sekitarnya mendadak hening dan seakan waktu berhenti.

“Hei seorang Oh Se Hun baru saja melamarmu.” jeritnya dalam hati.

***

Namsan Tower.

“Hun, Aku ingin permen kapas?” renggek Ha Ni.

“Jangan bodoh. Kau bukan anak tk.” ujar Se Hun membuat Ha Ni memajukan bibir bawahnya.

Hari ini adalah akhir pekan, mereka berjalan-jalan di icon negara Namsan tower, banyak orang yang juga menikmati waktu libur mereka. Apalagi ini musim semi. Tempat itu selalu ramai orang-orang, entah penduduk lokal maupun turis mancanegara. Sebenarnya Ha Ni dan Se Hun bisa pergi bersama karena rencana yang di buat ibu mereka.

Se Hun benar-benar kesal pada bundanya, dengan dalih meminta di jemput seusai belanja yang ada malah menemukan sosok calon istrinya yang menatapnya bingung.

“Oh Se Hun?” Ha Ni kaget saat Se Hun lah yang menjemputnya. Eommanya pamit pergi sebentar dan berpesan Ha Ni untuk menunggunya.

“Sudah ku duga, cepat masuk.” ucap Se Hun.

“Tapi Eomma-”

“Ibumu sudah pulang.” potong Se Hun.

Ha Ni yang masih bingungpun akhirnya masuk ke mobil Se Hun.

“Kenapa kesini?” tanya Ha Ni saat mereka tiba di kawasan Namsan tower.

“Otakmu benar-benar pentium 1, cepat turun.” Se Hun turun lebih dulu dari mobilnya di susul Ha Ni yang berteriak sambil mengejarnya.

“Yak. Oh Se Hun!”

“Oh Se Hun. Tunggu!”

“Hun, kenapa kita kemari?” Ha Ni kembali bertanya setelah berhasil menyamai langkah kaki Se Hun.

“Hun.” panggil Ha Ni karena Se Hun hanya diam sedari tadi.

Se Hun menoleh malas. “Apa kau masih belum mengerti, kenapa Ibumu meninggalkan mu di supermarket dan aku di suruh Bunda menjemputnya belanja.” ucap Se Hun.

“Oh. Hehe. Iya aku paham. Cha kita jalan-jalan.” Ha Ni mengaitkan tangannya di lengan Se Hun.

“Hun, Kau lihat kaos couple itu. Ayo kita beli.” Ha Ni menunjuk sebuah toko tak jauh dari mereka berdiri.

Se Hun menghela nafas pelan, tangan kanannya memegang satu cup buble tea sedangkan tangan kirinya berkaitan dengan tangan Ha Ni. Sedari tadi Ha Ni tidak berhenti merenggek ini dan itu, membuat telinga Se Hun panas.

“Berhenti merenggek nona Kim.” ucap Se Hun.

“Hun. Ayo lah.” Ha Ni menunjukan aego terbaiknya. Berharap Se Hun akan luluh.

“Tidak. Jangan norak.” ucap Se Hun.

***

@.Apartement

Se Hun tersenyum tipis ketika mengingat memory beberapa waktu lalu sebelum menikah. Ha Ni istrinya adalah juniornya sewaktu kuliah dulu. Ha Ni secara terang-terangan menunjukan kalau menyukai nya. Ha Ni akan selalu menganggunya tiap hari, bahkan memberinya bekal. Se Hun tidak masalah dengan keberadaan Ha Ni, karena Ha Ni membantunya dari gadis-gadis yang mencoba mendekatinya. Se Hun tidak menyangka, sosok Ha Ni tidak mudah menyerah.

Selama dua tahun mereka tidak bertemu karena Se Hun lulus. Jujur Se Hun merindukan sosok Ha Ni. Se Hun kaget saat mereka di pertemuan kembali, Ha Ni lolos ujian negara dan masuk kepolisian bahkan di tempatkan di kantor dan tim yang sama. Ha Ni mengikuti jejaknya. Se Hun salut dengan Ha Ni. Dan ketika orang tuanya menjodohkannya dengan Ha Ni, Se Hun tidak menolak. Lebih baik dengan Ha Ni ketimbang dengan gadis lain yang mungkin akan ibunya jodohkan.

Se Hun ingat, saat itu Ha Ni menangis tersedu-sedu setelah pengucapan janji suci membuat semua orang khawatir.

Flashback

“Berhentilah menangis.” entah sudah berapa kali Se Hun mengucapkan kalimat itu.

Se Hun menghela nafas pelan, kepalanya terasa berat. Ha Ni menoleh dengan berniangan air mata, “Kau kenapa?” tangannya memegang tangan Se Hun yang sedang memijit pelipisnya.

“Berhentilah menanggis. Aku tidak suka melihatnya. Kau mengerti.” Se Hun membersihkan sisa air mata di pipi Ha Ni dengan kedua ibu jarinya.

“Aku bahagia. sangat bahagia.” ujar Ha Ni

“Ini seperti mimpi. Aku menikah dengan mu ini seperti mimpi.” ujar Ha Ni lagi.

“Aaaawww.” keluh Ha Ni saat Se Hun mencubit kedua pipinya.

“Tidak bermimpikan.” Se Hun tersenyum manis dan itu pertama kalinya untuk Ha Ni bisa melihat senyum manis dari sosok Oh Se Hun.

Flashback end.

“Hun, Kau mendengarku?” sebuah benda persegi panjang berwarna perak di atas meja makan itu bersuara membuyarkan lamunan Se Hun.

Se Hun sengaja menglospeakernya. Ia tidak mau telinganya berdengung mendengar celotehan istrinya.

“Ya.” jawabnya sambil membuka lemari pendingin dua pintu dan mengambil satu kotak susu.

“Jangan lupa matikan lampu dan kunci pintu.
Matikan mesin air panas. Tutup pintu kamar. Dan
jangan pergi sebelum kau sarapan.”

“Iya.” jawab Se Hun sambil menuangkan susu di dalam gelas.

“Aku sudah menyuruh bibi Jung untuk berangkat lebih awal untuk membuatkan mu sarapan dan sebelum pulang membuatkan mu makan malam. Jadi nanti kau tinggal hangatkan saja dan kalau kau pulang terlambat beri tahu bibi Jung. Satu lagi, Kau harus menghabiskan makanan itu, jangan singkirkan sayurannya.”

Tangan Se Hun berhenti saat hendak menyingkirkan brokoli di piringnya. Se Hun menghela nafas pelan. Mungkin istrinya cenayan. Pikir Se Hun.

“Hei. Jangan coba-coba untuk tidak memakannya. Sayuran-

“Aku mengerti.” potong Se Hun dan memasukan sendok berisi brokoli ke dalam mulutnya. Ekspresi wajahnya langsung berubah seketika.

“Ok. Mungkin bibi Jung sedang berbelanja. Jadi ingat pesanku tadi sebelum kau berangkat. Selamat beraktivitas suamiku. Bye”

Sambungan terputus. Se Hun langsung berlari ke arah wastafel dan langsung memuntahkan isi di dalam mulutnya.

“Huweekkk!”

***

Shinwa High School.

“Ok. Mungkin bibi Jung sedang berbelanja. Jadi ingat pesanku tadi sebelum kau berangkat. Selamat beraktivitas suamiku. Bye” Ha Ni menyimpan ponsel di saku kemejanya.

Ha Ni harus memastikan Se Hun akan baik-baik saja selama di tinggal olehnya. Walaupun Ha Ni tau Se Hun pasti bisa mengatur dirinya sendiri. Tapi Se Hun, adalah tipe orang pemalas dan suka seenaknya saat dirumah. Membuat rumah mereka cepat berantakan dan Ha Ni akan berteriak karena kesal.

“Baiklah Ha Ni. Semuanya akan segera di mulai.” ucap Ha Ni.

Ha Ni berjalan pelan melewati koridor Shinwa High School, sungguh ia kagum dengan bangunan sekolah itu. Sekolah kalangan elit tentu saja kelihatan berbeda. Murid-murid yang lewat pun kelihatan berkelas dengan seragam, sepatu dan acsesoris yang di pakai. Seperti kemarin Ha Ni berjalan menuju mading, kali ini untuk melihat berada di kelas mana.
Kenapa tidak sekalian saja kemarin ini di tempel. Pikir Ha Ni.

Ha Ni mencari nama samarannya ‘Oh Se Na’ . Penentuan kelas di sesuaikan dengan nilai jadi karena Ha Ni tau kemampuan otaknya, Ia mencoba mencari nama penyamarannya di kelas 10-7.

“Kenapa tidak ada?” gumam Ha Ni setelah mengecek nama dari kelas 10-6. Tadi di kelas 10-7 juga tidak ada namanya.

“Tidak mungkin kan?” gumamnya tapi matanya kini teralih menatap kertas bertuliskan.

“Daftar murid 10-1.”

“Mwo?” matanya membulat saat melihat nama Oh Se Na tertera di sana, bahkan ada di urutan no 2.

“Astaga.” ucap Ha Ni.

“Mereka mengerjai Ku.” ucap Ha Ni dalam hati.

***

“Yak. Kalian semua sengaja mengerjaiku hah! Apa-apaan, kelas 10-1.” Ha Ni berceloteh pada layar ponselnya yang kini menampilkan seseorang. Ya panggilan 3G.

Ha Ni kesal karena di tempatkan di kelas 10-1. Mungkin bagi siswa lain akan merasa senang dan bangga berada di kelas unggulan. Tapi tidak untuk Ha Ni.

“Jangan berteriak. Kalau ada yang tidak sengaja dengar bagaimana?” Baek Hyun menjawab.

“Yak. Suaramu tidak disana tidak disini tetap seperti kaleng.” suara Chan Yeol .

“Semua orang sedang sibuk di aula untuk upacara penerimaan murid baru.” ucap Ha Ni.

“Ha Ni fokus. Kita hanya memiliki waktu dua bulan.” gambar berganti dengan Tiffany.

Ha Ni menghembuskan nafas secara kasar. Kenapa hidupnya jadi berubah begitu menyebalkan.

Di waktu yang sama di tempat berbeda, mereka bertiga sedang menatap layar laptop yang menampilkan yeoja yang sedang kesal.

Se Hun memperhatikan sosok istrinya dengan seksama. Mungkin istrinya juga akan berteriak jika ia tau Se Hun memuntahkan sayuran yang di makan tadi pagi.

“Kalau mau protes pada suamimu saja.” ujar Chan Yeol membuat Se Hun menoleh.

Chan Yeol hanya memberikan senyum tiga jarinya saat Se Hun menatapnya.

“Ahh. Kalian menyebalkan.” ucap Ha Ni dan menutup panggilan.

“Bagaimana kau bisa memiliki istri ajaib begitu?” tanya Baek Hyun.

Se Hun yang tau pertanyaan tertuju padanya hanya diam. Malas sekali menjawab pertanyaan seperti tadi.

“Jadi apa kalian sudah tau apa arti teka-teki itu?” tanya Se Hun.

“Sungguh kepalaku pusing memikirkan petunjuk itu. RUBI-H? Entah apa yang di pikirkan korban hingga menuliskan kalimat itu.” ujar Baek Hyun

“Aku sudah ke rumah sakit tempat korban di otopsi, ini data yang aku dapatkan.” Chan Yeol menaruh sebuah map coklat di atas meja yang langsung di ambil oleh Se Hun.

“Bagus Hyung.” Se Hun membaca bekas di tangannya dengan teliti.

“Korban sebelum meninggal mengkonsumsi obat tidur dengan dosis berlebih.” ujar Chan Yeol.

“Jadi korban juga overdosis?” tanya Baek Hyun.

“Tidak. Korban memang sering mengkonsumsi obat tidur, Ia menderita insom akut. Mungkin saat tubuh korban lemas pelaku membunuhnya. Tapi yang membuatku heran kenapa tidak ada sidik jari lain di pisau itu, dan cctv asrama juga rusak saat itu. Sudah jelas bukan kalau ini pembunuhan. Hebat sekali pelaku menghilangkan jejak serapi itu.”

“Pihak keluarga mengatakan korban bunuh diri jadi pihak polisi tidak bisa berbuat banyak. Kasus itu di tutup dan Shinwa High School menutupnya secara rapi. Hingga masyarakat luar tidak banyak yang tau.” ucap Se Hun.

“Korban mengenal si pelaku.” gumam Baek Hyun.

“Mungkin.” ujar Chan Yeol

“Orang terdekat.” gumam Baek Hyun

“Ada satu kontak number yang sering di hubungi korban seminggu sebelumnya. Aku juga menemukan nomer kontakmu. Apa korban menghubungimu?” tanya Tiffany. Chan Yeol dan Baek Hyun langsung menatap Se Hun.

“Ya. Dia menanyakan kabarku.” jawab Se Hun.

“Jadi dia benar-benar cinta pertamamu?” tanya Baek Hyun antusias.

“Mungkin.” jawab Se Hun.

“Ya. Jawaban macam apa itu.” ujar Baek Hyun.

“Kau sudah menemukan dimana keluarga korban sekarang tinggal Hyung?” tanya Se Hun.

“Nee. Mereka tinggal di Australia sekarang. Mereka pindah ke luar negeri setelah kejadian itu. Alamat pastinya nanti ku kirim setelah aku mendapatkannya secara tepat dan benar.” jawab Baek Hyun.

Se Hun mengangguk mendengar jawaban Baek Hyun.

“Bahkan keluarga korban langsung pindah.” gumam Chan Yeol

“Nona selidik kontak number itu. Dan beri datanya padaku.” ucap Se Hun

“Ok.” ujar Tiffany.

***

@. Kantin.

“Kau tidak pesan makanan?” tanya Tao saat melihat Ha Ni yang hanya memesan orange jus.

“Sedang diet ya?” tanya Eun Ji sambil memakan kentang gorengnya. Tao mengambil kentang dari piring Eun Ji lalu memakannya.

“Kenapa wanita selalu diet?” gumam Tao.

“Tidak. Aku sudah kenyang.” jawab Ha Ni.

“Kenyang hati.” dumal Ha Ni dalam hati.

“Yakkkkk!”

Suasana kantin tiba-tiba ramai, banyak para murid terutama murid yeoja berlari menuju pintu utama kantin. Suara riuh dengan beberapa dari mereka yang berteriak. Ha Ni dan Tao bingung sendiri. Sedangkan Eun Ji menghela nafas pelan.

“Ada apa?” Ha Ni menoleh untuk melihat tapi sayang tertutup oleh beberapa murid di depan sana.

“Ini yang membuatku malas di sekolahkan disini.” gumam Eun Ji

Ha Ni dan Tao mengangkat alisnya, dan mengerutkan dahi. Pertanda kalau mereka bingung.

Eun Ji menoleh ke belakang sebentar sebelum menjelaskan sesuatu.

“Mereka seperti itu karena ada F4.” ucap Eun Ji.

“F4?” tanya Ha Ni.

“Hmm…. ” Eun Ji mengangguk dan kembali memakan kentang gorengnya.

“Maksud mu, kumpulan empat murid namja Shinwa High School yang berciri khas memakai kaca mata?” tanya Tao.

“Itu kau tau.” ujar Eun Ji.

“Tunggu. Maksudnya seperti F4 genk Goo Jun Pyo, Boy Before Flower?” tanya Ha Ni. Sepertinya ia mulai paham.

“Heem. Empat orang namja tampan dan kaya.” ucap Eun Ji.

Ha Ni kembali menoleh kebelakang, dan disana berdiri empat orang namja yang sedang berjalan pelan menuju salah satu meja. Para murid saling berbisik dan murid yeoja sibuk heboh sendiri. Empat namja dengan kaca mata. Ha Ni memperhatikan empat namja itu seksama. Sungguh. Ha Ni kagum bahkan tampa berkedip memandangnya

“F4 ?” ucap Ha Ni dalam hati.

“Kau tidak tau mereka?” tanya Eun Ji yang mendapat gelengan kepala dari Ha Ni.

“Kalau aku tau sedikit.” ujar Tao.

“Aku tidak bertanya padamu. Pabo!” ujar Eun Ji.

“Siapa yang pabo. Enak saja.” ujar Tao.

“Se Na, teman sebangku mu menyebalkan.” ujar Eun Ji.

Sedangkan Ha Ni, sedari tadi terus menatap empat namja yang duduk tak jauh dari tempatnya.

“Apa sekarang aku sedang berperan sebagai Gen Jan Bi?” ucap Ha Ni dalam hati.

Eun Ji yang paling tau mencoba menjelaskan. “Baiklah, Aku jelaskan. F4 terdiri dari kumpulan anak-anak orang kaya di negara kita. Mereka adalah Kim Jun Myeon. Kau lihat namja yang duduk sambil membaca buku itu Jun Myeon atau Suho, Dia leadernya group F4, keluarganya saat kaya, ayahnya menjabat sebagai menteri keuangan negara kita. Sebelahnya namja yang berambut pink adalah Lu Han atau Prince Beijing. Dia keturunan China-Korea, soal kaya atau tidak jangan di tanyakan lagi. Dan sebelahnya lagi yang matanya bulat adalah Do Kyung soo atau D.o , Kau tau Xoxo Restaurant? Itu milik keluarganya. Keluarganya banyak memiliki restaurant yang tersebar di negara kita selain xoxo. Dan namja yang berkulit tan itu adalah Kim Jong In tapi dia lebih suka di panggil Kai. Ah kalau di drama Boy Before Flower mungkin dia lah Goo Jun Pyo nya versi nyata. Sifatnya lebih angkuh dari yang lain. Pokoknya intinya dia menyebalkan. Tapi mereka memiliki ciri khas yaitu semua membernya memakai kaca mata.” jelas Eun Ji.

“Kenapa kau bisa tau mereka sedetail itu?” tanya Ha Ni.

Eun Ji menghela nafas pelan. “Karena sebelumnya aku juga bersekolah di Shinwa Junior High School.”

“Mereka benar-benar keren.” gumam Tao.

“Astaga. Apa lagi ini. Sepertinya akan bertambah berat.” ucap Ha Ni dalam hati.

***

“F4?” suara Tiffany terdengar di hadset putih yang terpasang di telinga kanan Ha Ni.

“Heem. Aku belum tau pasti mereka ada hubungannya tidak dengan kasus itu.” Ha Ni menjawab sambil mengambil salah satu buku di rak perpustakan. Matanya sesekali mengawasi group F4 yang sedang duduk tidak jauh dari posisinya.

“Apa kau berpikiran yang sama dengan ku?” tanya Tiffany.

“Nee. Itu mungkin saja. Eonni buka saja di internet, siapa itu F4. Dan jangan tercengang setelahnya.” Ha Ni memutuskan sambungan dan bergegas keluar dengan satu buku yang akan di pinjamnya. Ia tidak boleh terlalu lama disini. Berbahaya.

***

Shinwa High School.

“Kring. Kring…. ” bel istirahat kedua berbunyi. Semua murid berhamburan keluar dari kelasnya.

“Kau meminjam buku?” tanya Tao saat melihat Ha Ni mengeluarkan buku dengan cap Shinwa.

“Kenapa?” tanya Ha Ni.

“Kenapa tidak mengajak ku, Aku juga ingin meminjam. Ayo sekarang antar aku.” Tao menarik tangan Ha Ni.

“Yakk.”

“Jangan protes.” ucap Tao.

Ha Ni memajukan bibir bawahnya, teman barunya memiliki sifat yang sama dengan suaminya. Menyebalkan.

Langkah Tao dan Ha Ni berhenti saat melihat keributan di depan mereka. Banyak para murid yang berkumpul dan saling berbisik.

“Habislah sudah. Aku yakin dia tidak akan selamat.”

“Kita lihat apa yang akan terjadi.”

“Kasihan sekali dia.”

Ha Ni dan Tao saling melempar pandangan satu sama lain. Ucapan beberapa orang di sekitar mereka membuat keduanya bingung.

“Ayo kita pergi dari sini.” entah datang dari mana Eun Ji. Eun Ji berusaha menarik kedua temannya untuk menjauh dari sana.

“Ya. Tunggu.” protes Tao.

“Ayo.” Eun Ji masih berusaha menarik kedua temannya.

“Yak! Se Na!” seru Eun Ji saat Se Na atau Ha Ni malah berjalan mendekat kearah kerumunan.

“Apa sih?” ucap Tao yang bingung.

°

“Maafkan aku. Aku tidak sengaja.” seorang yeoja bersujud sambil menangis di depan seorang namja yang menatapnya geram.

“Aku akan membersihkannya. Bila perlu aku akan mengantinya.” Yeoja itu mengeluarkan sarung tangan dari sakunya dengan bergemetar.

“Singkirkan tangan kotormu.” ucap Kai.

Semua orang disana terdiam setelah seorang Kai bersuara. Suaranya benar-benar menakutkan untuk di dengar.

“Maafkan aku.” ucap yeoja itu.

“Kau akan menganti sepatuku. Apa kau tau berapa harganya? Bahkan jika kau menjual dirimu pun itu tidak cukup.” ucap Kai

“Maaf.”

“Baiklah. Aku akan memaafkanmu.” ucap Kai dengan wajah datar.

Yeoja itu mendongkak dan tersenyum menatap Kai. Semua orang yang ada disana kaget saat namja yang paling berkuasa di sekolah itu berkata akan memaafkan yeoja yang sudah membuatnya marah. Tidak seperti biasanya. Mungkin mereka belum tau seperti apa sebenarnya Kai yang arogan itu, dan mereka juga tidak tau apa yang ada dalam pikiran Kai sekarang.

Keributan terjadi karena masalah sepele sebenarnya. Yeoja tadi tidak sengaja mengotori sepatu Kai dengan es creamnya.

“Jilat sepatuku. Baru aku akan memaafkan dan melepaskanmu.” ucap Kai dingin.

Semua murid yang melihat itu kembali heboh. Mereka saling berbisik.

“Tapi-”

“Terserah kalau kau tidak mau.” ucap Kai

“Iya. Maafkan aku.” Yeoja itu menunduk serendah-rendahnya dan mendekatkan wajahnya pada sepatu Kai.

“Berdiri.” seperti pahlawan Ha Ni menarik yeoja itu dari posisinya.

“Kau. Apa kau tidak pernah di ajarkan etika oleh orang tuamu? Apa kau tidak tau apa itu kata maaf?” ucap Ha Ni.

“Jangan ikut campur.” ucap Kai.

Semua murid kaget saat seorang yeoja yang notabennya murid kelas 10 berani menolong target F4, menolong korban F4 sama juga akan menjadi target berikutnya. Mungkin yeoja itu cari mati. Pikir mereka.

“Dengar. Tidak semua hal bisa kau dapatkan.” ucap Ha Ni. Ha Ni jengkel setengah mati saat melihat adegan tadi. Ia tidak suka dengan orang yang tidak bisa memaafkan orang lain padahal orang itu sudah beberapa kali meminta maaf, masalahnya juga hal sepele. Ha Ni tidak tahan melihatnya, apalagi semua orang hanya diam menontonnya.

“Kau berceramah. Yang benar saja.” ucap Kai sambil memasukan kedua tangannya ke celananya. Memandang Ha Ni remeh.

“Kenapa? Kau bukan Tuhan. Aku tidak takut denganmu.” ucapan Ha Ni sukses membuat Kai mengepalkan kedua tangannya di dalam saku.

“Kau-”

“Kai.” seru sebuah suara dari arah depan.

“Hei. Ada apa ini. Bubar.” ucap Lu Han dan semua murid disana langsung pergi.

“Kai. Sebentar lagi kelas Mrs. Han di mulai. Ayo kau tidak mau mendapat nilai buruk karena terlambatkan.” ucap Su Ho.

“Kau selamat kali ini.” ucap Kai sebelum pergi dengan yang lainnya.

“Pukkk!”

Sebuah sepatu berhasil mendarat sempurna di belakang kepala Kai. Kai menoleh dan dapat di lihatnya yeoja yang sok pahlawan tadi menatapnya tajam dengan berkacak pinggang, sebelah sepatunya kini tergeletak di bawah kakinya, Kai menahan amarahnya. Ia akan maju kalau tidak Su Ho menahannya.

Lu Han yang melihatnya terkekeh, sedangkan D.o melihatnya tanpa berkedip.

“Ayo Kai.” ucap D.o

“Ayo, kita urus nanti.” ucap Lu Han.

“Yakkk. Se Na. Kau gila.” Eun Ji dan Tao mendekat setelah F4 pergi.

“Terimakasih.” ucap yeoja yang di tolong Ha Ni.

” Nee. Sekarang kau bisa kembali ke kelas.” ucap Ha Ni.

“Astaga Se Na-ya. Kau benar-benar mengali kuburanmu sendiri.” ucap Eun Ji.

“Se Na tadi kau keren sekali.” ucap Tao.

***

@.Drom F4

“Oh Se Na. Murid 10-1.” ucap Lu Han sambil memakan apelnya.

“Pintar juga ternyata.” ucap Su Ho yang sedang bermain bola biliar bersama D.o .

“Ya. Dia berada di posisi kedua murid dengan nilai tertinggi saat penerimaan murid baru.” ucap D.o

“Ck. Tapi sungguh yeoja tadi benar-benar menarik. Sekali lihat saja aku sudah bisa menilai. Dia bukan gadis sembarangan.” ujar Lu Han.

“Diamlah.” ucap Kai.

“Hahaha. Kenapa kau merasa di rendahkan. Apa tadi sakit Kai-ah?” gurau Lu Han.

“Aku rasa dia belum tau siapa yang dia hadapi.” ujar Kai

“Tapi kalian akan kaget kalau tau dia siapa?” ujar Su Ho.

“Maksudmu?” tanya Lu Han. Yang lain kini menatap ke arah Su Ho.

Su Ho tersenyum sebagai jawaban.

“Lihatlah. Jangan panggil aku kai kalau tidak bisa membuatnya bersujud meminta ampun padaku.” ujar Kai.

***

“KAU BERCANDA!”

“YAK JANGAN BERTERIAK!”

“Kau juga berteriak bodoh.”

Ha Ni menghela nafas pelan, “Aku menghubungimu bukan untuk berdebat kaepsong.”

“Yak. Jangan mengatai ku.”

“Terserahlah. Aku serius.” Ha Ni memainkan kuku jari-jarinya.

Terdengar helaan nafas dari ujung telephone. “Baiklah. Hei tapi kau cari masalah. Melemparinya dengan sepatu. Ck kalau aku langsung mencekik mu.” sahut Baek Hyun.

“Sebelum kau mencekik ku, Aku lebih dulu mengcokel matamu.” ujar Ha Ni lalu memindahkan ponselnya ke telinga kiri.

“Hei. Dengarkan aku. Mungkin setelah ini mereka akan membalasmu.”

“Hahaha. Kau tidak tau aku punya kemampuan lain.”

“Ya. Terserah kau lah. Baca e-mail yang baru ku kirim.”

“Ok. Gomawo. Aku tutup dulu. Teman sekamar ku sudah datang. Bye.”

Ha Ni menetup sambungan telephone dan tersenyum ke arah Eun Ji yang baru masuk ke kamar asrama.

“Baru pulang?”tanya Ha Ni

“Nee. Aku ikut kelas tambahan.” jawab Eun Ji sambil melempar tasnya.

***

Next day…

Athour pov

Shinwa High School.

“Se Na-ya. Kalau terjadi hal buruk. Teriakan namaku. Aku pasti langsung datang membantu mu.” ujar Eun Ji

“Ck. Apa kau itu superhiro. Yang benar saja.” ujar Tao

“Diam. Aku tidak berbicara dengan mu.” ujar Eun Ji.

“Nee. Kau tenang saja. Aku bisa jaga diri.” Ha Ni tersenyum manis berusaha menyakinkan Eun Ji.

“Kau tidak lihat semua murid memperhatikan kita sedari tadi. Ini pertanda buruk.” bisik Eun Ji.

“Aku kelas dulu, Ayo Tao.” Ha Ni menarik tangan Tao.

“Daaa yeoja pesek.” ujar Tao.

“Yak. Aku tidak pesek!” teriak Eun Ji.

Tao menjulurkan lidahnya dan Eun Ji langsung berlari masuk ke kelasnya. Ia malu karena semua orang memperhatikannya.

“Tunggu.” Ha Ni mencegah Tao yang akan membuka pintu kelas.

Tao menyeritkan dahinya menatap Ha Ni yang sibuk membuka tasnya dan mengambil sesuatu.

“Untuk apa pa-” ucapan Tao terhenti saat Ha Ni membuka pintu kelas.

“Byurrrr!”

Ha Ni tersenyum sambil memegang payung kuningnya. Tao mengangga melihatnya. Bukan hanya Tao semua murid yang ada di kelaspun sama tercengangnya. Tidak menyangka kalau gadis itu tau ada jebakan di atas pintu kelas. Air berbau busuk dengan warna pekat itu tidak berhasil menguyur Ha Ni.

“Ayo masuk, dan tutup mulutmu.” ujar Ha Ni.

Tao yang sadar segera menyusul Ha Ni yang sudah berjalan kearah meja mereka. Semua murid terdiam.

“Tadi apa? Bau sekali.” gumam Tao

Ha Ni tersenyum tipis dan-

“Brakkk!” Ha Ni menendang kursi yang biasa ia duduki. Kursinya patah. Ada seseorang yang sengaja mengergaji bagian bawah kursi.

Lagi. Semua orang tercengang melihatnya.

“Tao ambilkan aku kursi baru.” ujar Ha Ni.

Tao langsung berlari menuruti perintah Ha Ni. Ha Ni tersenyum lebar menghadap kamera cctv di kelasnya dan melambaikan tangannya.

Di waktu yang sama di tempat berbeda.

@.Drom F4

“Yakkk.” semua anggota F4 berteriak heboh saat Ha Ni dan temannya akan masuk ke dalam kelas.

Mereka menatap layar tv di depan mereka dengan serius. Seseorang memberitahu mereka bahwa Ha Ni dan temannya akan membuka pintu kelasnya.

Kai tersenyum sinis. Dan menghitung dalam hati. “1-2-3”

Mata Kai langsung melotot saat melihat adegan di depannya. Layar lcd yang langsung terhubung dengan kelas 10-1.

“Astaga. Bagaimana bisa?” ujar Lu Han.

“Hahahaha. Debaek!” seru lainnya.

Kai mengeram. “Lihat saja. Masih ada satu kejutan.” gumam Kai.

“Hahahahaha…. ” semua anggota F4 tertawa berbahak-bahak kecuali Kai. Saat melihat Ha Ni melambaikan tangan kearah kamera. Bahkan Lu Han ikut melambaikan tangannya.

“Kenapa dia bisa tau.” gumam Kai.

“Sudah aku bilang. Dia bukan gadis sembarangan.” ujar Lu Han.

“Sepertinya gadis itu punya kemampuan khusus.” ujar D.o

“Sungguh. Baru pertama ada orang yang gagal kita kerjai.” ujar Suho.

“Bahkan dia tau kalau kita melihat dari sini.” gumam D.o

“Sial. Awas kau Oh Se Na.” geram Kai.

***

@.Kantin

“Benarkah? Hahaha. Aku yakin mereka sedang kebakaran kumis sekarang.” ujar Eun Ji saat Tao menceritakan kejadian tadi pagi.

“Kebakaran jenggot pabo!” Tao mendorong kepala Eun Ji dari belakang.

“Aww. Appo.” keluh Tao saat Eun Ji menjitak kepalanya.

Ha Ni tersenyum melihat pertengkaran kecil kedua teman barunya. Ha Ni menghela nafas kasar.

“Apa mereka akan memaafkan ku kalau mereka tau siapa aku sebenarnya.” ucap Ha Ni dalam hati.

“Se Na-ya kau harus berhati-hati. Mereka tidak akan tinggal diam.” ujar Eun Ji sambil memakan wafernya.

“Gomawo. Sudah khawatir pada ku.” gumam Ha Ni dan tersenyum.

“Nee. Aku bangga punya teman sepertimu sungguh.” ujar Eun Ji dengan mengedipkan satu matanya. Tao hanya memutar bola matanya malas melihatnya.

***

@.Asrama Shinwa.
21.00 pm. KST

Angin berhembus pelan menyapu dedu serta dedaunan yang gugur. Hawa dingin begitu terasa.
Sang bulan nampak bersinar di singgah sananya menganti tugas sang mentari.

Dengan jaket hitam serta topi dan tudung jaket yang gunakan untuk menutupi kepalanya Ha Ni berjalan pelan, Ia mengendap-endap dan merendahkan tubuhnya saat melintasi kawasan yang di larang. Kawasan itu adalah kamar asrama korban. Ha Ni tidak peduli jam berapa sekarang. Bahkan mitos yang mengatakan kalau ada makhluk halus disana. Ha Ni penasaran.

“Hei. Ha Ni.” sebuah suara terdengar dari hadset putih yang di pakai Ha Ni.

“Ya.” gumam Ha Ni.

“Apa perlu aku bacakan doa suci dari sini.” ucap Baek Hyun.

“Diam. Jangan ganggu konsentrasi ku.” Ha Ni ia sedang membuka pintu kamar dengan jepit rambutnya. Ha Ni sudah memakai sarung tangan. Ia bersyukur kawasan ini di matikan cctvnya.

“Haha. Baiklah.” ujar Baek Hyun.

“Yakk.” Baek Hyun mendengar teriakan Ha Ni.

“Hei. Ada apa?” tanya Baek Hyun.

“Kau mengagetkan ku.” gumam Ha Ni.

Seorang yeoja berwajah pucat berdiri dengan wajah sendu menatap Ha Ni.

“Hei. Kau bertemu dengannya?” ujar Baek Hyun.

Ha Ni menghela nafas pelan. ” Hei. Aku Ha Ni.” Ha Ni tersenyum sambil mengangkat satu tangannya ke atas.

***

Rose. Bar

Gangnam city. 22.00 pm. KST.

Suara dengungan musik Dj mengalun dengan
kerasnya, Beberapa anak manusia mengerak-
gerakkan badannya di bawah lantai dance dengan
berbagai gaya dengan kesadaran yang mungkin
hanya 10%.

Asap-asap rokok mendominasi di ruangan yang
cukup luas dengan beberapa pasang anak manusia
yang bercumbu tampa rasa malu sedikitpun.
Di sebuah ruang vvip, seorang namja menenggak winenya dengan sekali tenggak. Beberapa yeoja yang di bayar khusus untuk melayaninya tergelanjut manja. Beberapa kancing kemeja terlepas, mengekspos dada bidangnya.

Ha Ni memasuki bar elit di kawasan gangnam dengan wajah malas. Ha Ni mengutuk orang yang menghubunginya dan memintanya datang. Orang itu menganggu ritual khususnya. Tidak masalah harus memanjat pagar untuk keluar asrama. Tapi ritual tadi benar-benar gagal karena orang yang akan Ha Ni damprat setelah bertemu. Ha Ni berjalan pelan menaiki tangga menuju ruang vvip bar. Ia sudah tau orang yang menghubunginya ada disana.

Para yeoja penghibur langsung pergi setelah melihat Ha Ni. Ha Ni melempar topinya secara kasar pada namja di depannya.

“Kau datang.” ucapnya

“Berhenti. Aku malas membawamu pulang.” Ha Ni merebut gelas yang akan di tenggak namja di depannya.

“Hahaha. Aku pikir kau tidak datang. Terimakasih.” ujarnya.

“Cih.” Ha Ni duduk dan melepas jaketnya.

“Tenang saja. Aku bukan pemula dan aku pemabuk hebat.” ucapnya.

“Aku bilang berhenti minum Park Chan Yeol.” teriak Ha Ni.

“Kai-ah bukankah itu Se Na.” seru Lu han.

Anggota F4 yang sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing langsung menoleh ke arah yang di tunjuk Lu Han.

Mereka memperhatikan yeoja yang duduk tidak jauh dari posisi mereka. Yeoja itu bersama seorang namja yang duduk di depannya. Se Na yeoja yang membuat mereka penasaran karena selalu gagal untuk di kerjai.

“Dia di bawah umur. Kenapa bisa masuk.” ujar D.o

“Ada yang salah. Siapa dia sebenarnya.” gumam Kai.

“Kita amati dari sini.” ujar Su Ho.

Tbc…

Advertisements

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s