Namitsutiti

[FF Freelance] Ssstt.. Secret!

3 Comments


11178650_846169245418859_405485147_n

Tittle    :           Ssstt.. Secret!

Cast     :           Park Jimin | Kim Sang In (OC)

Genre  :           School life, romance

Length :           One Shoot

Rating :           T 15+

Author and cover by A. Miftasha

 

#SINOPSIS

Kita punya rahasiakan? Sampai kapan akan di sembunyikan? Kau ingin menunggu dirimu dan aku tua dan semua orang tidak akan pernah tahu? PABO ! Aku sama sekali tidak menyesal ! Karna aku mencintaimu ! -Kim Sang In-

 

Kau pikir aku tidak mencintaimu karna banyak gadis menyukaiku? Memangnya aku mau menyembunyikan ini? PABO ! Bahkan aku menyesal telah menyembunyikannya! Karna aku lebih mencintaimu ! -Park Jimin-

_o0o_

Sreek… Srekkk..

 

“Aigoo, lelahnya.” Ujarnya sembari berjalan gontai melewati lorong koridor gedung sekolah. Wajahnya yang tertunduk rupanya membuat keseimbangan tubuh gadis berambut panjang itu menjadi tak terkendali. Sedikit merasa limbung, lalu dengan cepat ia bersandar ke tubuh dinding dan menghela nafas panjang. “Benar-benar lelah.” Keluhnya lagi.

 

“Tapi aku…”

 

“Kau tidak bisa menerimaku?”

 

Terdengar sayup-sayup sebuah percakapan di balik sana. Sang In, gadis berambut panjang itu dengan mengendap-endap mengintip ke balik dinding. Matanya terbelalak memandang dua sosok yang tengah berdiri disana. Bibir mungilnya sedikit terbuka karna terkejut dengan apa yang telah didapatinya. “Jimin?”. Perlahan, Sang In mencoba untuk mendengarkan percakapan itu lebih dalam. Sepertinya ini pembicaraan yang cukup serius.

 

“Nde. Aku tidak bisa menerimamu.”

 

“Apa kau menyukai seseorang?”

 

Jimin yang slalu bersikap dingin itu berwajah cemas. Sedang gadis di hadapannya terlihat tak ingin berhenti memojokkannya. Jimin berdecak malas. Perlahan dan hati-hati, gadis itu menarik lengan Jimin lembut. Mendekatkan wajahnya untuk lebih dekat ke wajah Jimin. Seakan gadis itu akan menciumnya.

 

“Yaak! Apa yang ingin kau lakukan? Aku kan sudah bilang aku tidak ingin menerimamu untuk jadi kekasihku!”

 

Tak hanya gadis di hadapan Jimin, tapi Sang In yang masih sibuk mengintip ikut terperangah dengan bentakan namja itu. Dengan wajah kesal Jimin berbalik dan meninggalkan gadis itu dengan langkahnya yang cepat. Sang In kembali ke posisi awalnya dan mendesah panjang. “Rupanya ada gadis lain yang menembak Park Jimin lagi.”

 

Benar, ini bukan yang pertama kalinya Sang In menyaksikan penolakan itu. Tapi tetap saja gadis-gadis di sekolahnya terus mengejar-ngejar sosok Jimin -yang sama sekali tak ada minat dengan mereka-. Parahnya mereka berusaha mendekati laki-laki itu dengan menghalalkan segala cara. Sungguh, Sang In tak ingin terlibat sama sekali dengan hal itu.

 

***

 

Sang In tak kunjung merasa tenang dengan pemandangannya yang satu ini. Gadis-gadis di depan kelasnya kini semakin lama semakin bertambah. Beberapa sudah sibuk berdandan dan yang lainnya sibuk merapikan barang bawaan mereka yang terlihat sudah terbungkus rapi dengan macam-macam hiasan. Terlihat manis memang, tapi Sang In merasa muak dengan itu semua.

 

“Pasti untuk Park Jimin lagi. Menyebalkan!”

 

Dengan geram gadis itu segera bangkit dari bangkunya. Berusaha menerobos dengan brutal kerumunan gadis-gadis yang tengah berdiri di depan kelasnya agar bisa keluar dari tempat mengerikan itu. Beberapa gadis mulai kesal dengan tingkahnya dan dengan sengaja menginjak kakinya sama brutalnya. “Yaakk! Kenapa kau menginjak kakiku?”

 

Mwo? Naega?

 

Nde! Siapa lagi?”

 

“Anni. Bukan aku.” Kata gadis itu dengan sikap arogan dan kembali mengipas-kipasi wajahnya. “Neo? Bukankah kau mau pergi? Pergi sana! jangan menghalangi kami. Jimin tidak bisa melihat kecantikanku jika kau menghalangiku.”

 

Sang In menyengirkan bibir seolah ia jijik dengan ucapan gadis sok cantik itu. “Haah… Jimin tak ada di kelas. Kau tak melihatnya eoh?”

 

“Dia akan datang, tenang saja. Dia kan baru saja latihan basket. Kenapa kau menganggu aku sih?! ”

 

Omo, lebih baik kau..”

 

“Ada apa ini?”

 

Suara triakkan gadis-gadis disertai ocehan-ocehan rayuan mulai terdengar bising di sekeliling luar kelas. Semua, tak terkecuali gadis di hadapan Sang In yang kini sudah ikut menghambur ke arah Jimin yang datang dengan menggendong bola basketnya. Bahkan karna desakan itu, kini bolanya terjatuh dan menggelinding tepat di kaki Sang In.

 

Jimin menatapnya bingung karna kerumunan gadis-gadis yang kini dengan lancang menyentuh-nyentuh lengannya yang terlihat berotot. Sang In mengakui bahwa Jimin adalah lelaki yang gagah dan tampan. Tapi bukan berarti Jimin dengan relanya di sentuh oleh belasan gadis di hadapannya ini. Bahkan dengan murahnya pula ia tersenyum dengan gadis-gadis itu. Sang In merasa muak.

 

Dengan kesal ia mengambil bola basket Jimin dan hendak melemparnya tepat ke kepala namja yang sedang berupaya kabur dari kerumunan itu. Tapi niatnya urung, karna merasa kesal dengan gadis-gadis yang nyatanya sangat terlihat cantik ketimbang dirinya. Sang In mengalah.

 

***

 

“Aku lelah, ingin pulang…” Rengek seorang gadis sembari mengayun-ayunkan kakinya yang terlihat mengambang karna dirinya sedang berada di atas ayunan. “Ingin pulang ke rumah Amma dan Appa.” Lanjutnya.

 

Wajahnya memerah padam. Entah, mungkin menahan tangis. Tapi tak ada pilihan lain selain pulang ke rumahnya itu. Karna itu adalah satu-satunya tempat dimana dia bisa pulang dan berendam di air hangat di dalam kamar mandinya yang luas. Sang In kembali menghela nafas. Entah sudah beberapa kali. Dia ingin segera kembali pulang. Sang In mendongakkan kepalanya memandang langit yang memang sudah sangat gelap.

 

“Aku pulang.”

 

Rumah yang telah ditinggalinya ini tidak benar-benar sepi. Dari depan pintu masuk ia mendengar suara berisik gedebum dari dalam. “Ah, sudah pulang?” Ujar seseorang disertai berhentinya suara gedebum berisik itu.

 

“Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak main bola di dalam rumah ini. Jika kaca pecah lagi, kita akan kedinginan.” Ujar Sang In sembari melangkah masuk ke dalam kamar. Seseorang yang di ajaknya bicara itu hanya tersenyum jahil.

 

“Setidaknya aku bisa memelukmu sampai pagi.”

 

Mwo? Sireo ! Jangan bercanda. Cepat tidur!”

 

“Tapi kau kan istriku. Istri dari Park Jimin.” DEG!

 

DERR!

 

Sang In menarik nafas dan menghembuskannya perlahan setelah berhasil membanting pintu kamar dengan keras. Meninggalkan lelaki di luar sana yang sedang terkekeh dengan puas. Sang In merasa dirinya malu. Lelaki di luar sana benar jika menganggapnya seorang istri. Sang In adalah gadis SMU yang sudah menikah. Dan parahnya lelaki yang menjadi suaminya itu adalah Jimin. Park Jimin.

 

Lelaki yang popular, gagah, dan tampan. Laki-laki yang bahkan memiliki banyak kesempatan dalam berselingkuh karna penggemarnya yang banyak. Bahkan Sang In tak bisa membayangkan jika gadis-gadis yang arogan itu tahu bahwa Jimin sudah menikah dan itu dengan dirinya. Sang In menelan ludah.

 

Tapi mungkin Jimin yang dikenalnya bukanlah laki-laki yang seperti itu. Dia laki-laki yang dingin tapi jahil. Senang sekali membuat Sang In memerah karna godaan laki-laki itu yang secara tidak langsung juga menyebalkan. Jimin tahu, Sang In tidak menginginkan pernikahan ini. Apalagi dengan laki-laki seperti Park Jimin. Mungkin itu salah satunya yang membuat hubungan mereka menjadi tak baik.

 

Berusaha mungkin mereka berdua menyembunyikan status pernikahan ini. Semua karna kedua pihak orangtua mereka, yang demi bisnis rela menikahkan anaknya yang masih berusia remaja. Dengan gemas gadis berambut panjang itu mengacak-acak rambutnya dengan keras. Mengutuk nasibnya yang tidak berjalan senormal anak SMU lain. Bahkan Jimin pun juga slalu berusaha menjaga jarak dengan gadis itu di sekolah. Seolah tak kenal meskipun mereka kebetulan adalah teman sekelas. Kehidupan ini benar-benar rumit.

 

Omoo!! Kenapa ini harus terjadi padaku?”

 

Sepanjang malam Sang In tidak bisa tidur dengan lelap. Dia hanya terus mengotak atik ponselnya tanpa mempunyai tujuan yang jelas. Matanya membulat ketika menyadari sebuah pesan telah tersimpan di handphonenya dan sama sekali belum di bukanya entah sejak kapan.

 

“Nde? Sejak kapan ada pesan masuk? Kenapa aku tidak tahu? Aissh, pabo.” Ujarnya sembari membuka pesan yang belum terbuka itu.

 

Selamat tidur Kim Sang In. Mimpilah yang indah. Maaf telah membuatmu merasa tak nyaman tadi. Jimin.

 

Pesan itu tertulis sejak beberapa jam yang lalu. Pengirimnya adalah lelaki yang sekarang menjadi suaminya. Sang In tersenyum getir dan beranjak dari tempat tidurnya. Dengan mengendap-endap, Sang In memasuki sebuah kamar dengan gambar bola di daun pintunya. Sang In mendesis, ketika menatap posisi tidur namja di atas ranjang itu sangat berantakan.

 

“Dasar bodoh! Kenapa tidak menutup jendela eoh?”

 

Meskipun tidak benar-benar ingin menjadi istri, setidaknya Sang In mau memperhatikan kehidupan Jimin yang berantakan ini. Gadis itu menutup jendela dan berdecak memandang Jimin. Perlahan ia duduk di samping ranjang Jimin. Menatap lelaki itu dengan lamat dan berdecak kesal. “Bagaimana mungkin laki-laki sepertimu punya banyak penggemar wanita. Cantik-cantik pula. Hfft..”

 

Dirapatkannya selimut tebal ke atas dada namja yang tertidur itu. Jimin bergerak sesaat lalu kembali tenang. Melihatnya, sebuah simpul manis terbentuk dari kedua sudut bibirnya. Sang In tersenyum.

 

“Kau benar. Aku istrimu dan kau suamiku. Kita sudah merahasiakan ini sejak dulu. Dalam waktu dekat ini bukankah usia pernikahan kita sudah genap dua tahun?” Tanya Sang In lirih pada Jimin yang tertidur. Gadis itu dengan lembut mengusap dahi Jimin.

 

Sedetik kemudian sebuah pergerakan mengejutkan Sang In. Sebuah tarikan tangan -yang tentu saja berasal dari Jimin- yang berusaha memeluk dirinya. Sang In terpekik terkejut. Tapi dengan lekas Jimin memeluknya erat.

 

“Apa yang kau lakukan!!”

 

“Memelukmu.” Ujar Jimin datar. “Kau kesini bukankah untuk memelukku?”

 

Mwo?! Anni! Lepaskan dasar mesum!”

 

Jimin tersenyum geli dan lalu mengacak kepala Sang In gemas. “Lalu apa yang kau lakukan kemari gadis mesum?”

 

“Aku tidak! Kau…”

 

“Tak apa. Kau kan istriku.” PLAAK!

 

Jimin mengaduh ketika dengan cepat Sang In memukul dadanya. Dengan cepat gadis itu berlari meninggalkan kamar Jimin dan membanting pintu kamarnya. Gadis itu merasa syok. Entah sejak kapan Jimin bersikap seperti itu padanya. Dia tahu, selama ini Jimin slalu menggodanya. Tapi… jika slalu seperti itu, mungkinkah mereka akan…

 

“Tidaaakk!! Aku tidak mau melakukannya!! Meskipun sudah menikah aku masih anak SMU !! Amma, Appa!! Aku ingin pulang !!!”

 

Dibalik pintu kamar Sang In, seseorang tersenyum dengan gemas. Jimin, membekap mulutnya dengan punggung tangannya untuk menyembunyikan tawanya. Jimin juga tidak mengerti. Kenapa dia slalu bahagia jika terus-terusan menggoda Sang In. Istrinya saat ini. Bukankah jika terus-terusan begitu, itu akan membuat Sang In menjadi membenci dirinya? Tidak. Justru itu akan membuat Sang In terus bermuka merah dan akan terlihat manis di matanya.

 

***

 

Suasana di sekolah nampak begitu kurang baik karna angin kencang terus menerpa setiap penjuru gedung sekolah. Pohon-pohon seolah ingin tumbang terdorong dengan angin-angin kencang itu. Namun tidak bagi Jimin. Kini langkahnya terus berlari seiring dengan triakan gadis-gadis yang rela diterpa angin demi menonton dirinya yang sedang bermain dengan bola basket.

 

Lelaki itu menghentikan aktifitasnya mendribel bola. Mengurungkan niatnya untuk melempar bola ke dalam ring. Karna kini kedua manik matanya menatap lekat seorang gadis yang sedang berjalan dengan terburu-buru di sepanjang koridor di hadapannya. Sang In, gadis itu dengan kesusahan berjalan dengan menahan ujung rok seragamnya agar tidak tertiup angin. Wajahnya terlihat cemas karna angin terus berhembus dengan kencang. Jimin tersenyum simpul dan melanjutkan mendribel bolanya dan hendak memasukkannya ke dalam ring.

 

Sekali lagi angin bertiup lebih kencang. Menerbangkan semua tak terkecuali meniup rok-rok para gadis di sekolah itu. BUUAAGGG!!

 

“Aigooo..” Semua menatap Jimin yang tiba-tiba saja terjatuh dan gagal memasukkan bola ke dalam ring. Gadis-gadis itu tentu saja meneriaki Jimin dan terlihat cemas. Tapi tidak dengan Jimin.

 

Ia memang kesakitan, tapi matanya tak bisa lepas dari apa yang baru saja dipandangnya. Sang In, rok gadis itu baru saja terbuka karna tertiup angin. Alhasil beberapa lelaki di sekitar gadis itu tak sengaja melihatnya dan mulai bersiul untuk gadis itu. Jimin melihat semuanya.

 

Dari kejauhan, telihat Sang In berlari dan menundukkan kepalanya dengan malu. Dia berlari amat kencang meninggalkan koridor yang adalah saksi bisu kejadian memalukan yang baru saja di alaminya.

Melihatnya, Jimin ikut merasa cemas. Seraya menilai gadis itu rupanya masih saja terlihat polos. Sangat polos untuk ukuran anak SMU sekalipun. Yang padahal gadis itu sudah menikah.

 

***

 

“Pabo.. pabo… pabo !”

 

Triak seorang gadis tepat di hadapan Jimin. Melihat itu, Sang In hanya terkekeh kecil. Baru kali ini dilihatnya seorang gadis meneriaki Jimin dengan kata-kata seperti itu. Pasti gadis itu sudah kelelahan karna telah berulang kali di tolak oleh Jimin. Gadis itu tak lagi menangis, tapi menatap Jimin dengan remeh dan penuh amarah. “Kau.. kau penyuka sesama jenis!”

 

“Yaak! Jangan karna aku menolakmu, kau mengataiku seperti itu!”

 

“Pergi kau pergi!!”

 

“Aku memang mau pergi dasar gadis aneh!”

 

Jimin meninggalkan gadis di hadapannya dengan wajah kesal. Wajahnya merah entah merasa kesal atau malu karna di bilang penyuka sesama jenis. Tapi entahlah, Sang In tidak ingin terlibat. Meskipun mereka sudah menikah, gadis itu tidak bisa memaksakan kehendak Jimin. Seseorang memiliki hati untuk merasakan cinta sejatinya. Bukankah begitu?

 

Lihat saja, sekarang ada gadis lain yang mendekati Jimin dan bahkan sudah mengobrol akrab dengannya.

 

“Dasar laki-laki hidung belang.” Ujar Sang In dan berlalu dari hadapan Jimin.

 

Sang In melangkahkan kakinya menuju ke perpustakaan. Langkahnya mendadak menjadi pelan sepelan keong berjalan. Raut wajahnya berubah menjadi sedih. Ia tidak tahu mengapa. Mungkinkah kedekatan Jimin dengan gadis yang barusan itu mempengaruhi perasaannya? Kenapa perasaannya jadi tak enak?

 

Sedetik kemudian, Sang In kembali ke kelas. Menunda diri pergi ke perpustakaan. Kembali menengok Jimin yang rupanya sudah asyik tertawa dengan gadis tadi. “Atau mungkin itu gadis yang disukainya? Dia terlihat bahagia.” Sang In membalikkan tubuhnya. Mengolah bibirnya agar bisa tampak tersenyum. “Biarlah, toh dia juga merasa bahagia bukan?”

 

Sang In menundukkan kepalanya dan berjalan lurus menuju ke perpustakaan. Seperti tujuan awalnya. BUUAAKK! “Aiisshh.. aigoo..”

 

“Kau? Tak apa-apa?”

 

Nae? Ah, gwenchana.” Ujarnya pada seorang laki-laki berambut hitam di hadapannya. Laki-laki itu tersenyum dengan lembut ke arahnya. Dan menjulurkan tangannya untuk berkenalan.

 

“Jungkook imnida.”

 

“Sang In.”

 

“Ne. Sampai jumpa lagi Sang In.” Lelaki itu dengan cepat meninggalkan Sang In yang masih berdiri terpaku memandang punggung laki-laki itu. Gadis itu tersenyum lembut.

 

“Mungkin aku juga perlu mendapatkan cinta sejatiku. Aku tidak peduli dengan pernikahan ini. Mungkin Jimin juga tidak mencintaiku. Ini sama saja menanam tanpa benih kan?” Ujarnya lirih dan kembali melangkah menuju ke perpustakaan.

 

***

 

“Aku pulaang…! Wah, bau apa ini?”

 

Jimin, laki-laki itu memasuki rumah dan mencium bau masakan lezat dari dalam rumahnya. Dengan segera lelaki itu menghampiri Sang In yang rupanya sedang sibuk memasak dengan celemek di pinggangnya. HUUPP.

 

“Yaak! Apa yang kau lakukan Park Jimin?!!”

 

“Memelukmu eoh.”

 

Benar, Jimin sedang memeluk punggung gadis itu. Ini bukan yang pertama kalinya memang, tapi Sang In tidak suka diperlakukan seperti ini. Karna dia tahu laki-laki itu hanya ingin menggodanya saja. “Lepaskan.” Pintanya singkat, jelas namun tegas.

 

“Nde? Waeyo?!”

 

Kenapa katanya? Apa dia bodoh? Tunggu, bodoh atau polos? Batin Sang In dalam hati. “Jangan lakukan itu lagi padaku eoh. Cepat makan. Sudah matang semuanya.”

 

“Ah, Ne. Ayo, makan bersama.”

 

“Anni. Aku kenyang.”

 

“Lalu kenapa memasak?” Hening. Sang In tidak tahu ingin mengatakan apa. Dia juga tidak mengerti, kenapa sepulang sekolah tadi dia pergi belanja dan langsung memasak ini. Padahal biasanya, dia memasak untuk Jimin jika laki-laki itu sedang berulang tahun atau jika dengan tidak sengaja ia memasak kelebihan. Tidak seperti biasanya dia melakukan ini. Padahal perasaannya sedang tidak baik.

 

“Aku mau tidur. Cepat makan.” DEER.

 

Di balik pintu, Sang In bersandar pada dinding pintu dengan banyak pertanyaan menggantung di atas kepalanya. Nafasnya tiba-tiba merasa berat dengan debaran aneh setiap ia mengingat sentuhan Jimin padanya. Tapi bukan itu yang membuatnya resah saat ini, tapi tentang isi pikiran Jimin.

 

“Sebenarnya kau menganggapku apa Jimin?!” Sang In membulatkan matanya. Dia tersadar beberapa detik lalu telah berteriak mengucapkan kalimat itu. “Aigoo.. kenapa aku malah mengatakan itu? Apa dia mendengarnya? Ah, sepertinya tidak.”

 

Tidak. Jimin mendengarnya. Sejak Sang In berhasil menutup pintunya, Jimin mengikuti gadis itu. Terduduk dan menguping di depan pintu kamar Sang In. Bahkan Jimin terkejut ketika mendengar triakkan gadis itu. Meski tidak terlalu jelas, tapi Jimin tahu. Yang harusnya kalimat itu dikatakan oleh Jimin pada gadis itu. “Harusnya aku yang bertanya, kau menganggapku apa Sang In?”

 

BRRAAKKK! Bughh.

 

Eoh? Apa yang kau lakukan?” Tanya Sang In yang tiba-tiba membuka pintu kamarnya.

 

“Nae..naega? Ah, mencari… anni, melihat semut untuk tugas sainsku.” Jimin menjawab dengan asal. Di dalam hatinya, dia merutuk karna telah ketahuan menguping. Sang In mendesis pelan, lalu berpaling menuju ke arah lemari pendingin dan mengambil beberapa cemilan.

 

“Kau belum selesai makan? Jangan lupa bereskan eoh.”

 

“Ne.” Jimin bangkit, dan menatap punggung istrinya dengan penuh keraguan. Tapi ia cepat bertindak ketika Sang In akan segera memasuki kamarnya. “Ah, Sang In-ah, bolehkah aku ti.. Ah! Maksudku bertanya. Apa kau masih merahasiakan hubungan kita di sekolah.”

 

Hening. Namun dengan cepat Sang In mengangguk. “Ne.” DEERR.

 

Lagi-lagi, Sang In membanting pintu. Jimin menghela nafas lega karna dirinya baru saja ingin mengatakan, bolehkan ia tidur bersama Sang In dalam satu kamar yang sama. Tapi itu tidak mungkin, Sang In tidak menyukai dirinya. Karna status pernikahan ini adalah nasib sial bagi gadis itu. Jimin kembali merutuki dirinya sendiri lagi. Mengatakan bahwa dia tidak becus membahagiakan Sang In sebagai istrinya.

 

Tapi lain dengan sosok yang berada di balik pintu kamar Sang In. Gadis itu memejamkan matanya dan tanpa sadar meremukan cemilan yang baru saja di ambilnya. Hatinya amat sakit. Jimin, Jimin tidak suka dengan status hubungan ini. Tapi kenapa ia tidak menceraikan dirinya? Dan malah mempertahankannya dengan menyembunyikannya? Apa ini gara-gara bisnis keluarga. Jimin benar-benar jahat!

***

 

Para gadis kembali memadati halaman kelas sejak Jimin memasuki ruang kelasnya. Gadis-gadis cantik itu seperti biasa membawakan bekal dan sebagainya untuk Jimin seorang. Bahkan Jimin telah menerimanya meski hanya sebagian. Dipikirannya, tak baik jika menolak pemberian. Apalagi kebanyakan adalah masakan kesukaannya. Meskipun berbeda rasanya dengan masakan kemarin malam. Masakan murni buatan tangan istrinya.

 

Sang In juga menyaksikannya. Menyaksikan bagaimana Jimin melahap bekal dari gadis lain dengan lahap dan bahkan menyimpannya satu untuk siang nanti. Sang In merasa payah, kesal, tapi juga sedih. Seolah dia tak berguna menjadi seorang istri. Tunggu, istri batinnya? Bahkan Jimin pun hanya bermain-main dalam menyebutkan statusnya itu.

 

“Katakan pada seonsaengnim aku membolos.” Sang In tak berpikir panjang dan langsung mengatakannya pada sekertaris kelas. Sekertaris kelas yang terlihat culun itu hanya menatap kepergiannya dengan tatapan cengo. Sang In benar-benar sedang dilanda kekacauan. Pikirannya buyar, senyumnya tak nampak, wajahnya kelam sekelam nasibnya. Sang In merutuk dirinya sendiri.

 

Gadis itu terduduk di ujung koridor dengan sepasang earphone di kedua telinganya. Ia tak benar-benar mendengarkan lagu itu, tapi sibuk melamun. Dia sadar dengan apa yang telah dirasakannya akhir-akhir ini bukanlah rasa kebencian atau apa. Tapi sebuah rasa ketakutan. Entah itu suatu ketakutan karna takut kehilangan dan dicampakan atau apa. Yang pasti semua menyangkut pada laki-laki itu, Park Jimin.

 

“Omo.. aku hanya ingin menikah dengan orang yang mencintaiku. Bukan menikah dengan orang yang mempermainkanku! Kenapa aku harus menikah dengan orang sejahat Jimin?!!”

 

Sang In menangis. Bahkan saat dia berdiri dan meninggalkan koridor pun air matanya masih saja mengalir. Dengan gontai gadis itu melangkah menuju ke kantin sekolah. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat seseorang berdiri tepat dihadapannya. Jungkook.

 

“Neo? Ah?! Kau menangis? Waeyo?” Jungkook mengguncangkan pundak gadis itu. Tapi Sang In tidak menjawabnya dan justru menangis. “Aku sedang membolos. Kau membolos ya?”

 

“Ne. Aku kesal.”

 

“Ah, Arra. Kau mau ikut aku? Aku akan ke atap sekolah.” Jungkook tersenyum dan semakin mengembangkan senyumnya ketika akhirnya Sang In mengangguk setuju. Mereka berdua pun berjalan bersama menuju ke atap sekolah.

 

***

 

Angin semilir tak begitu bertiup dengan kencang seperti hari sebelumnya. Semua terasa damai dan tenang di sini. Jungkook benar, atap sekolah adalah tempat terbaik untuk membolos. Tapi akan menjadi nasib sial jika terkunci di dalam. “Kau kesepian eoh?” Tanya Jungkook tiba-tiba.

 

“Ah, mungkin. Aku memang sedang ingin sendiri.”

 

“Apa kau punya masalah? Masalah besar mungkin?”

 

“Em. Nde.”

 

“Bagaimana kalau…” Jungkook memundurkan langkahnya. Melihat keanehan itu, Sang In ikut berbalik dan mendapati empat laki-laki lain berada bersama Jungkook. “Bersenang-senang dengan kami?” Lanjut Jungkook disusul tawa riuh teman-temannya yang lain.

 

“A..apaa..apa-apaan ini? Jung..Jungkook kau?”

 

“Aku melihat rokmu saat terbang. Indah sekali ternyata. Berbeda dengan yang lain Sang In-sshi.” Kata seseorang yang lain. Sang In merasa bingung dengan situasi ini. Apa yang terjadi dengannya, apa yang akan dilakukan kelima namja ini, apa yang akan terjadi setelahnya?

 

Tanpa menunggu lagi, beberapa dari mereka mulai berjalan mendekati Sang In. Tertawa dengan riuh dan tersenyum penuh hasrat. Sang In memandang lelaki itu satu persatu dengan perasaan was-was. “Yaak! Jangan sentuh aku! Jungkook ada apa ini?!!”

 

Hanya Jungkook satu-satunya yang ia kenal. Yang memiliki tampang lebih baik dari teman-temannya. Harusnya dari awal Sang In tahu, jangan menerima ajakan orang yang baru dikenal. Semua gara-gara kebodohannya yang nekad membolos pelajaran. Dengan kejadian ini, hidupnya akan lebih menjadi kacau. Sang In mulai menangis. Rasa takutnya membuat dirinya tidak bisa berkata-kata lagi.

 

“Kau bukankah sudah menikah? Pasti pernah melakukannya kan?” Tanya seseorang yang lainnya lagi. Kini tangan namja itu beralih menyentuh bahunya.

 

“YAAAKK!! LEPASKAN AKU!!”

 

“Tidak mau. Kau cantik sih.” Ujar yang lain sembari membelai rambut Sang In. Sang In menggeleng jijik. Tidak, tidak boleh! Yang boleh menyentuh rambutku hanya suamiku!

 

“Sang In, jangan jual mahal. Tenanglah.” Seseorang mulai menyentuh bahunya lagi. Jangan! Yang menyentuh bahuku untuk menenangkanku hanya suamiku!

 

“Ayo, Sang In.” Sebuah pelukan akan mendarat di tubuhnya. Dengan lantang Sang In berteriak.

 

“ANDWAE! YANG BOLEH MENYENTUHNYA HANYA SUAMIKU ! JIMIIIIINNNNN!!!” Semua terkejut dan tertawa dengan senang.

 

“Benar kau sudah menikah, baiklah. Kalau begitu…”

 

BRRAAAKKKK!!!

 

“Hey kau!!” BUAAAGGG!! Dengan keras dalam sekejap mata, sebuah pukulan mendarat ke pipi Jungkook yang masih tertawa dengan teman-temannya yang lain. Jimin memukul temannya yang lain pula.

 

Dua di antara lima orang itu dengan segera ambruk dan tak bisa bangkit lagi. Yang lain berusaha memukul Jimin, namun naas. Pukulan Jiminlah yang malah menumbangkan mereka. Semua mendapat masing-masing dua bogem mentah Jimin dan ambruk. Mereka belum juga merasa kapok. Dan berupaya membalas Jimin. Bahkan beberapa mencoba membawa kabur Sang In.

 

“Jangan sentuh istriku !!!” Triaknya disusul tinjuan ke perut laki-laki yang mencoba menarik tangan Sang In. Dia limbung, dan terjatuh. Tak lama kemudian, Ho Seok dan Seok Jin yang adalah teman setim basket Jimin datang menolong. Tanpa basa-basi mereka ikut bertarung dengan gerombolan laki-laki mesum itu. Semua babak belur, juga Jungkook yang akhirnya ikut kabur.

 

Sang In sudah menangis dengan hebat di pelukan Jimin. Jimin yang awalnya memang sudah merasa cemas ikut menitihkan air mata. Dia sama takutannya dengan gadis itu. Syukurlah, dia tidak terlambat mendengar triakkan gadis itu yang terdengar memanggil namanya dan segera datang menolongnya. “Tak apa, aku sudah di sini, di sampingmu.”

 

“Aku.. aku takut. Jeongmal, sangat takut.” Rintih Sang In masih berada di pelukan Jimin.

 

“Nde. Aku juga takut. Jangan lagi pergi keluar kelas jika sedang pelajaran. Itu membahayakan. Banyak anak nakal yang membolos Sang In-ah. Aku akan melaporkannya pada guru nanti. Kau ku antar pulang eoh? Istirahatlah di rumah.”

 

“A..anni, aku tidak mau. Aku..aku akan disini sampai pulang sekolah.” Pintanya. Jimin hanya diam seolah dirinya juga sedang berfikir. “Jebaaal…

 

“Baiklah.”

 

***

 

“Kau ingin makan sesuatu? Aku bisa memasakannya untukmu.” Tawar Jimin setelahnya mereka berada di rumah. Ini adalah yang kedua kalinya mereka berdua pulang sekolah bersama. Yang pertama kalinya adalah ketika pertama kalinya mereka satu rumah sebagai suami istri. Gosip langsung menyebar mengatakan bahwa mereka berpacaran. Itu akan merepotkannya dan Jimin yang memang terpandang popular di kalangan para gadis. Maka dari itu, Sang In memutuskan untuk tidak lagi berangkat atau pulang bersamanya. Jika itu bukan Jimin tidak masalah. Tapi karna itu Jimin, beberapa gadis mulai mencemohnya dan tidak suka jika Jimin punya kekasih.

 

Tapi masalah yang satu ini berbeda. Sang In harus tetap bersamanya. Atas kemauan dirinya dan juga Jimin. Lelaki itu masih bersamanya, mengotak-atik isi dapur. Tapi perasaan lelaki itu sama sekali tak tenang. Semenjak kejadian di atap sekolah, istrinya hanya memilih diam. Itu membuat dirinya menjadi semakin khawatir.

 

Jimin mendekati Sang In, menyentuh kedua pipi gadis itu dan menatapnya sayu. “Kau benar baik-baik saja? Jangan diam saja Sang In, aku jadi tidak tahu kalau kau tak mengatakannya padaku.” Gadis yang mendengar kalimat panjang itu hanya menggeleng sesaat. Jimin menghela nafas dan terdiam untuk beberapa menit. “Baiklah jika kau mau pulang ke rumah Appa dan Amma. Aku, aku mengijinkanmu.”

 

Gadis itu masih menundukkan kepalanya, menangis. Entah sejak kapan gadis itu mulai menangis dan Jimin harus kembali memeluknya. “Waeyo?”

 

“Aku kesal !” Pekik Sang In disela-sela tangisnya. “Itulah mengapa aku membolos pelajaran. Aku kesal pada Jimin!”

 

“Ke..kesal.. padaku?” Jimin melepas pelukannya. “Waeyo?”

 

Waeyo katamu? Harusnya kau tau hampir dua tahun ini kau mempermainkan aku! Aku tidak suka dengan pernikahan ini karna kita tidak saling mencintai ! Aku masih SMU dan kau, kenapa banyak gadis mendekatimu dan kau tak pernah tegas?!!” Sang In membentak Jimin dengan air mata yang masih mengalir deras.

 

“Akan kukatakan semuanya. Jika dulu kau tak melarangku untuk mengatakan bahwa kita sekedar bertunangan, mungkin hidupku akan sedikit lebih baik! Tapi kau malah menyuruhku menyembunyikannya dan setiap hari aku harus rela melihat gadis-gadis itu menyentuhmu untuk menutupi rahasia ini ! Aku muak Park Jimin!! Aku ini istrimu, bagaimana dengan lahapnya kau memakan semua bekal yang dibuat perempuan lain dan kenapa tidak meminta aku untuk membuatkannya?! Kau mau sampai kapan menyembunyikan ini? Aku tidak kuat melihat gadis-gadis itu slalu mendekati suamiku.” Lanjut Sang In dan terdengar lirih di kalimat akhirnya.

 

Jimin masih terkejut. Tapi apapun itu, dia merasa bahagia karna selama ini Sang In sudah banyak menyimpan kesakitannya. Menganggapnya sebagai seorang suami, sebagai miliknya. Benar, Sang In, istrinya, merasa cemburu.

 

“Kau kira aku suka menyembunyikan ini? Kau kira aku suka disentuh dengan gadis-gadis bodoh itu? Memang untuk apa aku menolak mereka semua untuk jadi kekasihku? Itu karna kau Sang In! Karna aku sudah memiliki yang lebih dari segalanya, yaitu KAU!” Jimin berujar dengan tenang tapi tetap memberi penekanan. “Harusnya aku marah padamu.”

 

“Wa..waeyo?” Tanya Sang In yang seketika mendongakkan kepalanya.

 

“Gerombolan laki-laki itu yang melihat rokmu terbuka saat angin kencang, mereka menggodamu. Kenapa kau diam saja dan tidak membentak mereka eoh?! Kau ini jangan terus bersikap polos, kau harus melawannya. Kau kira aku tidak sakit eoh? Setidaknya aku ini suamimu, kau harus mengatakannya padaku. Siapapun yang menyakitimu, bilang padaku!”

 

Sang In membulatkan matanya. “Ka..kau melihatnya?”

 

“Ne. Aku lihat.” Seketika Jimin memeluk gadis itu. “Mianhae, aku menyuruhmu untuk menyembunyikan ini karna semua demi kau. Dengan menyembunyikan apapun status kita, itu semua agar kau bisa hidup layaknya anak SMU yang lain. Aku rela didekati gadis-gadis itu juga demi kau, agar mereka tidak curiga kenapa aku terus memperhatikanmu. Secara tidak langsung, aku juga melindungimu. Ahh, aku menyesal menyembunyikannya. Itu karena…” Jimin mempererat pelukannya. “Karna aku yang lebih mencintaimu.”

 

Suara detak jarum jam serasa melambat karna kini kedua jantung dua insan itu berdetak lebih kencang. Sang In menikmatinya. Menikmati alunan detak jantungnya, pelukan suaminya, dan kalimat bahwa ia mencintai dirinya. Sang In tersenyum dalam tangisnya.

 

“Aku begini juga karna aku mencintaimu. Maafkan aku.”

 

***

 

2 hari kemudian…

 

“Jadi, kau sudah menikah dengan Sang In?” Tanya Seonsaengnim sembari menatap lekat mata Jimin. Jimin terkekeh pelan.

 

“Anni. Aku tidak menikah dengannya.” Jimin mengatakannya sembari melirik kelima namja yang sedang diintrogasi di ruang pengawas. Seonsaengnim yang mendengarnya mengerutkan dahinya heran. “Tapi aku akan menikah dengannya. Kami sudah berencana, setidaknya setelah Sang In dan aku lulus, kami akan bertunangan dan setelah lulus dari universitas, kami akan menikah. Aku akan mengundang seonsaengnim jika mau datang ke pernikahanku.”

 

Kelima namja itu terkejut dengan apa yang di ucapkan Jimin barusan. Mereka berlima saling pandang dan lalu menunduk malu. Mereka menjadi ketakutan. Jimin, rupanya laki-laki itu masih berpacaran dengan Sang In. Bukan menikah.

 

“Jadi, kau hanya calon suaminya begitu?” Tanya seonsaengnim lagi.

 

“Ne. Kami dijodohkan dan aku mencintainya. Apakah itu salah seonsaengnim?” Tanya Jimin kembali melirik lima brandalan di samping kanannya.

 

“Ah, Anni. Tapi kau harus tetap fokus dengan sekolahmu. Baiklah, terimakasih karna sudah menolong Sang In. Yaa, karna dia calon istrimu juga kan? Sekarang kau boleh keluar.”

 

“Khamsahamnida seonsaengnim.”

 

Jimin dengan langkah lega meninggalkan ruang pengawas meninggalkan lima brandalan yang entah bagaimana nasib mereka selanjutnya. Sekolahan pasti akan memberikan mereka sebuah hukuman yang setimpal, drop out mungkin. Jimin menghentikan langkahnya. Dipandangnya beberapa gadis yang melihatnya dengan tatapan kecewa.

 

“Mwoya? Kenapa menatapku seperti itu?”

 

“Jadi, ini alasan kenapa Jimin slalu menolak kami? Karna kau sudah dijodohkan dengan gadis kuper itu?”

 

“Ne. Mianhae tidak memberitahu kalian. Aku hanya tidak mau kalian membenciku dan Sang In. Kemudian menjadi musuh kami. Oh, dia bukan gadis yang kuper. Dia hanya saja polos dan terlalu bersikap manis.” Jimin terpaksa tersenyum karna gadis di hadapannya masih menghina Sang In.

 

“Aiiissh, aku mengejar-ngejar calon suami orang. Ah, memalukan sekali.” Ujar seseorang diantara mereka dan disusul dengan keluhan kecewa gadis yang lain. “Maafkan kami Park Jimin, Sang In pasti sedih. Kalian sudah menyembunyikannya demi kami. Ah, Jimin sangat manis.”

 

Mau tak mau Jimin terkekeh. “Aku pulang dulu eoh. Pasti ada laki-laki keren yang akan mendekati kalian. Bukankah kalian juga cantik?” Jimin menunjuk satu persatu gadis di hadapannya. “Byee..”

 

Namja itu dengan menggendong bola basketnya pulang ke rumah dengan senyum yang terus mengembang. Triakkan gadis-gadis yang mengucapkan terimakasih menjadi jawaban atas senyumnya. Setidaknya untuk saat ini, esok, dan selanjutnya bisa menjadi langkah awal Jimin untuk keluar dengan menggandeng Sang In sebagai kekasihnya. Meskipun hanya terlihat sebagai pacar.

 

“Sang In, aku bahagia sekali!”

 

***

 

Gadis di dalam ruangan gelap itu, masih meringkuh di dalam selimutnya. Dia sedang tidak benar-benar tidur. Hanya terpejam dan berusaha meredakan semua emosinya akhir-akhir ini. Sudah ketiga harinya dia tidak masuk sekolah dan memilih berdiam diri di rumah. Seolah sedang mengasingkan diri.

 

Tak lama kemudian, sebuah tubuh hangat memeluknya dari belakang. Sang In terkejut. Tapi dengan cepat dia mengenali itu Jimin. “Kau sudah pulang?”

 

“Ne. Istriku sudah merasa lebih baik? Sekolah menjadi sepi tanpamu.” Jimin mencium puncak kepala gadis itu dengan penuh kasih dan lalu memeluknya lagi.

 

“Meskipun ada aku, sepertinya tidak berarti untukmu. Kau masih merahasiakannya kan?”

 

“Ne. Setidaknya sekarang semua tahu kau adalah kekasihku, calon istriku. Semua akan berjalan dengan baik. Tenanglah.”

 

“Ne.” Perlahan gadis itu merapatkan tangan Jimin dan menahannya agar terus memeluk dirinya. Sang In tersenyum. “Jimin, malam ini, besok, seterusnya, bisakah kita tidur dalam kamar yang sama?”

 

Jinjja?!! Yaaakk! Tentu saja aku mau! Ah, baiklah aku akan melakukannya!!”

 

“Yaak! Jiminie! Aku tidak mau! Tidak jadi.”

 

“Mwo? Waeyo? Kita suami-istrikan?”

 

“Omo, jebal. Aku masih anak SMU. Bagaimana jika aku tiba-tiba mengandung nanti? Apa kata teman-teman sekolah?” Sang In mendengus kesal. Jimin yang mendengarnya hanya terkekeh kecil.

 

“Baiklah. Mmm.. selamat hari pernikahan chagii.” Jimin mencium kepala gadis itu lagi. Sang In membulatkan matanya dan berpaling menatap Jimin.

 

“Mwo? Ah! Aku lupa. Omoo… aku harusnya pergi belanja dan memasak untuk kita. Baiklah nanti aku akan keluar dan belanja.”

 

“Akan kubantu, tapi setidaknya kau memberiku hadiah.” Sang In mengerutkan dahinya. Dengan cepat Jimin mengetuk bibirnya. “Cium aku.”

 

“Mwo?”

 

“Orang pacaran saja sudah berciuman, sedangkan kita suami-istri belum pernah melakukannya. Melakukannya pun saat pernikahan dan itu sebentar sekali.” Jimin tak ambil pusing. Didekatkannya bibirnya pada Sang In yang masih terlihat bingung dengan muka cengonya.

 

Untuk beberapa menit dan untuk yang pertama kalinya. Debaran kencang diliputi rasa bahagia menghiasi hati Sang In juga Jimin. Mereka berjanji, mulai saat ini akan terus bersama. Menjadi sepasang suami-istri, meskipun itu rahasia.

 

“Ssst! Ini rahasia kita kan Jimin?”

 

Jimin terkekeh. “Tentu.” Dengan cepat Jimin kembali mencium bibir gadis itu.

 

***END***

 

Advertisements

3 thoughts on “[FF Freelance] Ssstt.. Secret!

  1. Shngguh.. sungguh..
    Epic bangett… ga ampun…
    Jimin sih sweet banget.. ah…
    Kerenn2… wohioo..
    Ceritanya seru.. bikin lagi.. bikin lagii..

    Like

  2. JIMIN saranghae ff ini bener bener buat jantung serasa copot dan meledak… Aaaaa mbak buat sequel nya lagi donk

    Like

  3. aduuh jimin dibalik sikap cuek dan dinginnya ternyata tersimpan perhatian/? Haha sweet banget lah

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s