Namitsutiti

[FF Freelance] Pandora: Darktorcrow bagian 2 Chapter 5

3 Comments


5

Tittle : PANDORA

Cast : Park Jimin BTS | Park Jaena OC | Jeon Jungkook BTS | Kim Taehyung BTS | Min Yoon Gi BTS

Genre : Fantasy , misteri , little romance , fiksi , horor

Rating : 15+

Length : Chapter

Author : Okhara (anggi miftasha)

_o0o_

Lalu, apa jadinya jika kejahatan membunuh kebaikan? Sedangkan bayangan hitam masih terus menghantui. Memasuki mimpi-mimpimu saat tidur di malam hari. Membunuh, membinasakan dan semakin menenggelamkanmu di dalam mimpi buruk. -Pandora

 

_o0o_

Hari Pertama

“Kau hanya perlu ikut kami pergi ke Dunia Athena. Akan ada peri-peri khusus yang akan menyempurnakan kekuataan pyramid itu. Dan akan membuatnya tersimpan lekat sehingga tidak mudah lagi untuk di keluarkan. Aku tahu, Promotheus V dan anak buahnya Min Suga sudah menemukanmu. Luka di lenganmu itu menguatkan dugaan kami. Kau tak ingin matikan?”

Jaena mengangguk pasrah dengan penjelasan Ho Seok. “Aku akan pergi dengan kalian.”

“Kau yakin?”

“Aku yakin.”

Jaena berpaling menatap Jimin. Lelaki itu nampak memasang wajah sama pasrahnya dengannya. Mungkin sudah tak ada jalan lain. Jaena mengerut cemas. Ia tak ingin meninggalkan Jimin seorang diri disini, sementara ia harus ikut ke dunia lain dari sisi bumi ini –Tentu saja yang dimaksud adalah Negri Athena. “Apa aku bisa mengajak Jimin Oppa?” Tanya Jaena kepada kedua lelaki yang berdiri di samping ranjangnya.

Seok Jin sedikit tersentak, sedangkan Ho Seok bergumam panjang. “Aku tidak yakin. Perjalanan ke Negri Athena bagi manusia biasa bisa sampai setengah abad.”

“MWO?!!” Kejut Jimin tak percaya. “Aku akan menua dan mati di tengah-tengah perjalanan!”

“Makanya, aku bilang aku tidak yakin!” Bentak Ho Seok. Lelaki itu membuang muka kesal karna Jimin kerap kali memaksakan kehendak tanpa berfikir panjang. Dia mulai mengira bahwa Jimin bukan orang yang cerdas mengambil keputusan. Asal semua akan baik-baik saja, mungkin begitu pikirnya. Ia menundukkan kepala, mengelus dagunya dengan jemarinya seraya berfikir. “Sebenarnya…”

Darktorcrow!” Seok Jin berseru tiba-tiba. Membuat Ho Seok, Jimin, dan Jaena terkejut secara bersamaan. Ho Seok mengernyit. “J-Hope! Apa kau melupakan makhluk itu?!”

Jimin mengerut. Sementara itu, Ho Seok hanya mengangguk santai. “Tentu saja aku ingat. Kau juga sudah melihatnya kan?” Kini arah pandangnya tertuju kepada Jaena. Menyuguhi gadis itu dengan rasa keyakinan yang besar.

“A..aku? Ti..tidak.”

“Makhluk dengan wajah tengkorak menyeramkan dengan mata menyala hitam. Dia sudah memberimu tanda di lehermu.”

Jaena mengerutkan dahi. Lalu tercekat terkejut dan meraba lehernya cemas. Rasa-rasanya dia memang pernah melihat makhluk yang sama cirinya yang telah disebutkan Ho Seok. Tapi soal mata… “A..aku pernah melihatnya saat aku berada di ruang UKS, dia mendekatiku tapi dia.. dia bermata.. kuning.”

Epsilon !”  Seok Jin menyahut. Semua mata kini tertuju padanya. Diselingi gumaman takmengerti dari Jimin. “Ada satu hal buruk lagi yang harus kita tuntaskan sebelum berangkat ke Negri Athena. Setan-setan itu kabur ke dunia ini dari tempat asalnya, Negri Astron. Ceritanya cukup panjang. Ayo! Sekarang tunjukkan padaku dimana kau melihatnya!”

Eomeoo… Apalagi ini?” Jaena mengusap jidatnya bingung.

“Kita harus mencari setan-setan itu!” Seru Ho Seok. “Mereka akan terus membunuh jika tidak dihentikan.”

Jaena yang melamun kembali tersentak. Rupanya Jimin baru saja menepuk pundaknya.

“Baiklah. Aku mengerti. Jaena, antarkan mereka dimana kau melihat makhluk itu.”

Jaena memanggutkan kepalanya sekali dengan cepat. Meski gadis itu ragu, tapi dia tahu dengan pasti dimana makhluk itu  mungkin berada dan mungkin masih bebas berkeliaran.

“Di gedung sekolah.”

_o0o_

Darktorcrow terbagi menjadi tiga saat mereka terbentuk. Delta si mata merah, Zetasi mata hitam, dan Epsilon si mata kuning. Ahh… ketiganya bahkan memiliki cara tersendiri untuk mencari mangsanya.” Seok Jin merenggangkan badannya setelah mobil mereka terbebas dari lampu merah. Perjalanan menuju kesekolah Jaena tak begitu jauh dan Seok Jin memanfaatkan perjalanan itu untuk sedikit bercerita mengenai makhluk sadis itu.

“Jika Delta si mata merah membunuh dengan tragis, maka yang bermata kuning atau Epsilon, membunuhnya dengan lebih tenang. Sedangkan si mata hitam Zeta, memberikan tanda pada mangsanya sebelum ia membunuhnya.”

“Kehadiran Zeta dapat ditandai dengan munculnya darah merah kehitaman yang kental yang muncul di setiap penjuru ruangan. Dan dia biasa mengikuti kemanapun mangsanya pergi. Meski begitu, tak ada yang bisa membuatmu lebih tenang dari setiap cara mereka membunuh. Karna pada dasarnya, nyawamu akan tetap lenyap karna dimangsa Darktorcrow. Penjaga kegelapan dari dunia Astron.”

Jimin tercekat, kembali memeluk Jaena karna saking khawatirnya. Dia tak tahu. Keberadaan Jaena di sekolah rupanya sangat terancam. Dan Jimin baru mengetahui itu semua sekarang. Masa bodoh dia lelaki. Dia berhak menangis karna cemas. Jaena mendongakkan kepalanya. Menatap satu persatu pria yang berada di dalam satu mobil dengannya. Terlebih lagi kepada Jimin.

“Apa yang harus kita lakukan?” Tanya Jaena membalas pelukan Jimin. Suaranya terdengar bergetar. Gadis itu hendak menangis.

“Sayangnya, Darktorcrow tidak bisa dilenyapkan. Tapi karna Zeta yang menemukanmu secara tak sengaja, dia telah memberimu tanda. Artinya, dia akan mengikutimu. Dan saat itu, kau akan membantu kami memancingnya bersama dengan 2 Darktorcrow lain dan menyegel mereka masuk kembali ke dalam blackhole.

“TIDAK ! Kau pikir Jaena mampu melakukan itu? Pikiranmu bodoh Seok Jin !” Jimin mengelak. Membentak dengan keras hingga urat lehernya terlihat. Jika Ho Seok mengira bahwa Jimin bicara tanpa berfikir, maka Jimin akan menuduh Seok Jin. Ia begitu kesal karna Seok Jin lagi-lagi berbicara tanpa berfikir, seperti biasanya. Bukankah idenya itu sama saja menjerumuskan Jaena ke lubang dengan perangkap yang sama?

“Sudahlah, kita sudah sampai. Kita selesaikan dulu misi ini.” Ho Seok sengaja memarkirkan mobilnya di luar gerbang. Tepat dimana biasa Jimin berhenti untuk mengantar Jaena kesekolah.

Berbeda dengan Jimin yang terlihat kesal, Jaena justru mengernyit bingung. Dilihatnya gedung sekolah terlihat sepi. Tak ada satupun orang yang berlalu lalang. Dia tahu ini memang sedang jam KBM – Kegiatan belajar mengajar– . Tapi kenapa tak sedikitpun tercium tanda-tanda kehidupan disini? Atau mungkin mereka sudah dimakan Darktorcrow? Terlalu naif.

Jaena melepas pelukannya dari Jimin. Ia selangkah lebih maju. Menyapu pandangan ke setiap sudut sekolah dengan teliti. Hingga menemukan terpasangnya garis kuning melintang di salah satu bagian jendela yang menunjukkan sebuah jalan lorong menuju koridor utama. Hal tersebut mengganjalnya. Membuatnya curiga

 

“Garis polisi?” Gumamnya menyipitkan mata. Samar-samar terlihat olehnya sesuatu yang tak asing. Jaena mengernyit penasaran, lalu berlari sendiri meninggalkan Ho Seok, Seok Jin, dan Jimin yang saling melempar pandangan karna bingung dengan suasana sekolah yang sepi.

“Hei ! Kau mau kemana ?!” Triak Ho Seok melepaskan semua rasa kesalnya dengan berteriak kencang memanggil gadis itu.

“Jaenaaa !!” Jimin ikut berteriak dan langsung menyusul adiknya. Ho Seok berdecak kecil. Namun akhirnya ikut berlari juga menyusul kedua kakak beradik itu dengan Seok Jin.

Kajja! Aku melihat seseorang berada di atas sana.” Usul Seok Jin.

_o0o_

“Apa yang kau lakukan disini…”

“Jungkook! Aku melihat Jungkook!” Pekik Jaena memotong ucapan Jimin yang hendak memarahinya. Ho Seok dan Seok Jin sudah terlihat tepat di belakang mereka. Hingga akhirnya Jaena berhenti mendadak dengan kedua bola mata terbelalak terkejut.

Di matanya, terlihat makhluk berjubah dengan wajah menyeramkan itu melayang-layang mendekati Jungkook. Wajah tengkorak yang menyeramkan itu terlihat memancarkan sinar lewat matanya yang berwarna kuning. Jungkook membuka mulutnya lebar-lebar dengan tenang, hingga asap hitam keluar dari dalam mulutnya. Seperti tak ada paksaan, Jungkook menurut saja ketika nyawanya di tarik keluar. Lelaki itu sama sekali tak melakukan sebuah perlawanan yang berarti. Memasrahkan dirinya hanyut ketika jiwanya di tarik paksa.

Gosinloous !!” Triak seseorang kencang menyebut mantra dan cahaya putih terang muncul menerbangkan makhluk hitam itu hingga terlempar jauh. Jaena menoleh sekilas dan mendapati Seok Jin baru saja berhasil membuat makhluk itu kabur dengan sebuah mantra yang diucapkannya.

Jungkook tersungkur lemas. Sementara Jaena telah berhasil menangkap tubuh lemahnya. “Jaena?” Panggil Jungkook dengan mata sayu tak berdaya. Jaena panik, namun juga kesal.

“Jungkook! Jungkook!Sadarlah!” Jaena memeluk Jungkook dan menepuk-nepuk pundaknya. Bukannya membalas pelukan Jaena, Jungkook justru menatap kedua orang yang kini berdiri di hadapannya. Dia tak mengenalinya. Namun setelah melihat Jimin, ia sepenuhnya tersadar.

“Jimin Hyung? Jaena?”

PLLAAK!  “Dasar bodoh! Kenapa di hadapan darktorcrow kau malah diam saja?!” Bentak Jaena cemas.

“Dar..Dark apa maksudmu?” Dengan mata itu Jungkook menatap Jaena tak mengerti. Gadis itu berdecak cemas. Dan kemudian memeluknya lagi. Jaena tahu itu hampir saja terjadi pada Jungkook. Entah bagaimana jika tadi ia tak lekas menyadari keberadaan Jungkook yang sekilas melongokkan kepalanya ke sisi jendela yang lain. Mungkin saat ini, ia tak akan lagi bisa berbicara dengan Jungkook. –Tentu saja karna pria itu mati dibunuh Darktorcrow–.

“Hampir saja aku kehilangan dirimu, Jeon Jungkook. Apa yang kau lakukan disini?”

“Ponselku tertinggal di ruang penyiaran. Terimakasih.”

Jaena menghela nafas. Dalam hati ia merutuki sikap Jungkook yang kelewat ceroboh. Lelaki itu tak biasanya pelupa. Terkecuali saat pikirannya sedang benar-benar penuh dengan sesuatu. Tapi, apa yang terjadi hingga lelaki itu bisa berada sendirian di sini? Dan kenapa sekolah menjadi sesepi ini? Jaena memeluk Jungkook semakin erat karna merasa cemas sebelumnya. Syukurlah dia datang diwaktu yang tepat. Sehingga makhluk yang telah diketahuinya bernama Darktorcrow itu bisa dilumpuhkan sementara waktu oleh Ho Seok.

Jaena mendongak, saat mendengar suara gedebum sepatu milik Seok Jin dan Ho Seok melewati hadapannya. Kedua lelaki itu menuju ke sisi koridor yang lain, seolah mengejar sesuatu yang tak lain dan tak bukan adalah untuk mencari keberadaan Darktorcrow  yang berhasil kabur. Dan ini bukan saat yang tepat untuk menonton kedua kesatria itu bertarung, Ia harus segera memindahkan tubuh Jungkook dari tempat yang entah mengapa berbau busuk ini.

“Ayo, biar kuangkat tubuh Jungkook.” Jimin menompang tubuh Jungkook dan membiarkan Jaena  mengumpulkan kesadarannya karna baru saja melamun. Berbeda dengan Jimin yang memilih memikirkan Jungkook dan membawanya pergi, Jaena justru terdiam menatap dua sesuatu yang asing di hadapannya. Awalnya nampak semu dengan bayang-bayang yang menyerupai Ektoplasma –ini diduga sebagai transformasi hantu yang kedua sesudah orbs–  sosok tubuh manusia yang semakin lama semakin mirip postur tubuh dua orang gadis.

Jaena mengerut tajam, sebelum akhirnya tersentak terkejut melihat keduanya berwajah menyeramkan. Gadis itu lekas melompati garis polisi dan memilih diam tanpa kata berjalan di sisi Jungkook yang tengah dipapah oleh Jimin. Dan berjanji tidak akan menoleh ke belakang, mendapati dua sosok dengan tubuh berseragam berlumur darah dan rambut panjang awut-awutan.

Jaena rasa, dia baru saja melihat hantu.

_o0o_

Hujan turun. Melenyapkan bunyi detak jarum jam yang sedari tadi menjadi latar suara dari semua keheningan ini. Jimin sibuk memandang keluar jendela. Memandang langit yang nampak kabur karna embun yang menempel pada jendela. Sementara itu Ho Seok telah lama tertidur, dan Seok Jin berada di sampingnya tidur dengan keadaan gelisah. Jimin membalikkan badannya, menatap satu persatu teman yang selama ini dikenalnya cukup baik. Entah kenapa, seharian ini ia malah merasa bersama orang lain. Tak lagi merasa bahwa kedua orang ini adalah teman yang ia kenal seperti sebelumnya.

“Sebenarnya, siapa kalian ini?” Jimin bergumam amat lirih. Memandang Seok Jin yang kembali mengacak rambutnya kasar karna sulit bermimpi. Meski mereka telah mengatakan siapa mereka sebenarnya, Jimin tak juga percaya. Ia mengira bahwa ini semua adalah mimpi –atau mungkin juga gurauan–. Mimpi yang sama dengan latar yang berbeda. Beberapa kali di akhir tidur malamnya, ia terus bermimpi aneh. Berkaitan erat dengan seorang bayi yang selalu ditontonnya di dalam mimpi.

Entah kenapa juga, Jimin sama sekali tak mengenali bayi yang ditimang ayahnya kala itu. Mungkinkah Jaena? Tapi tak begitu rupa Jaena sewaktu bayi. Jimin ingat betul. Bagaimana Jaena berkulit putih pucat seperti bayi korea kebanyakan. Tapi di mimpinya, adalah seorang bayi dengan kulit kuning terang dengan symbol aneh di atas jidatnya. Saat itu pula, Ayahnya mengatakan bahwa ia telah kembali. Siapa yang kembali sebenarnya? Jimin mulai berpersepsi bahwa titisan Dewi Pandora yang dimaksudkan.

Selanjutnya, mimpi aneh yang dilihatnya terakhir kali. Ia sedang berjalan di sebuah ruangan yang bernuansa putih. Dia tak ingat bagaimana ia bisa berada disini, atau barangkali ia pernah mengunjunginya. Dia terus berjalan. Mengikuti ke arah mana jalan itu membawanya. Hingga di hadapannya, ia melihat Jaena sedang berdiri di depan kaca. Senyumnya mengembang begitu menyadari bahwa ia tak sedang sendiri. Namun ketika berjalan menghampirinya, gadis itu berbalik. Menyunggingkan senyum dengan wajah yang sama sekali tak dikenalnya. Bukan Jaena, pikirnya saat itu. Jimin kembali berpersepsi bahwa itu adalah Dewi Pandora.

Kakinya melangkah perlahan, melewati sofa tempat dimana kedua temannya tertidur. Perlahan ia meraih ganggang pintu, membukanya dan decitan kecil berbunyi. “Jaena?”

Gadis itu juga tertidur dengan posisi duduk di samping ranjang yang di sana terbaring tubuh seorang lelaki, dia Jungkook. Mereka memutuskan untuk membawa Jungkook kemari untuk meminimalkan terjadinya hal-hal yang mungkin akan membahayakannya lagi. Setidaknya untuk Jaena yang bersikeras ingin menjaga Jungkook, dan bahkan gadis itu tega berbohong kepada kedua orang tua lelaki itu.

Jimin mendekatinya, menyentuh pundak dan lalu menggendong gadis itu keluar dari kamar tidurnya. Membawanya masuk ke kamar gadis itu sendiri dan membaringkannya di sana. “Tidurlah Jaena.” Bisik Jimin ketika melihat Jaena sedikit terusik. “Kau juga perlu istirahat.”

“Aku akan menjaga Jungkook..” Rintihnya.

“Aku juga ingin menjaganya, kita bergilir menjaganya oke? Sekarang giliranku.” Tipu Jimin.

“Baiklah. Tapi kau harus berjanji menjaganya.”

Jimin mengangguk dengan senyum lebar. Mengacungkan dua jari dan Jaena kembali tertidur. Gadis itu amat lelah rupanya, nyatanya dia nampak terlelap di kasurnya sendiri. Biasanya dia mengalami susah tidur jika tidur di ranjangnya sendiri.

Lelaki itu kembali berada di kamarnya, sesuai janji dadakan itu, ia menunggui Jungkook. “Aku yang akan menjagamu sekarang. Semoga besok kau bisa bangun dengan keadaan sehat. ”Ujar Jimin dan duduk di sofa tempat dimana Jaena terduduk tadi. Lalu bersandar tenang disana. Memejamkan mata untuk mengulur waktu. Tanpa sadar, dia terlelap sendiri.

_o0o_

Matahari menyingsing. Seiring dengan gurat fajar yang ikut menyembul menyapa. Saat itulah, Jaena terbangun. Merenggangkan kedua tangannya dan bangkit dari ranjang. Tepat di hadapannya, terpajang cermin besar tempat dimana ia biasa bercermin. Rambutnya yang tersampir ke belakang, membuat leher jenjangnya terlihat. Disanalah, ia menemukan hal ganjil serupa symbol segi tiga berwarna hitam. Ia menduga inilah tanda yang dimaksud Ho Seok sebelumnya. Bahkan semalam ia melihat hal yang sama di leher Jungkook. Mereka senasib, atau lebih tepatnya, buronan Darktorcrow.

Jaena bangkit. Berjalan gontai menuju jendela. Di tengoknya jauh disana bahwa hari sudah menjelang pagi. Ia pun bergegas untuk pergi ke kamar Jimin. Menemui Jungkook dan juga Oppanya.

Namun baru saja ia membuka pintu, ia sudah mendengar keributan dari kamar Jimin. Lebih tepatnya suara Ho Seok dan Seok Jin yang sibuk berdebat. “Ada apa?” Tanya Jaena seraya melongokkan kepala dari balik pintu lalu masuk dengan wajah sama paniknya dengan Ho Seok. “Ada apa ini?” Ditatapnya satu persatu pria yang berada di ruangan itu. Terlebih lagi kepada Jungkook yang berwajah tegang. Laki-laki itu seperti baru saja di tampar. Mukanya merah dan matanya melongo tak sadar.

“Benarkah itu Jaena?”

“A..apanya?” Jaena memalingkan pandangan dari Jungkook untuk menatap Jimin yang masih tertidur dengan lelap bersandar di sofa.

“Kau bukan…” Jungkook menatapnya skeptis.

“Kau sudah menceritakannya?!” Jaena tercekat dan melempar tuduhan kepada dua pria yang kini memasang wajah terkejut. “Sudah kubilang jangan ceritakan apapun pada Jungkook sebelum aku yang bercerita! Aiish.. Oppa! Ireonaaa!! –banguuun!!. Hei, kenapa dia tak bergerak sedikitpun? Oppa?!” Jaena berulang kali mengguncangkan tubuh Jimin. Tapi tak ada respon yang berarti. Terusik saja tidak. Tubuh Jimin bahkan limbung sendiri. Terjatuh ke atas kasur.

Kali ini Jungkook yang terperanjat. Sedikit mendorong tubuh menjauhi Jimin dengan wajah ketakutan. “Hei..hei ! Biar kujelaskan.” Sela Ho Seok meredakan rasa keterkejutan Jaena melihat Jimin terjatuh begitu saja.

“Kenapa Oppa-ku? Dan kenapa Jungkook seperti itu padanya?”

“Dia bukan Jimin.” Ungkap Seok Jin terus terang tanpa basa-basi dan tiada cerita pengantar. Ho Seok menepuk jidatnya payah. Merutuki Seok Jin yang terkesan terlalu jujur. “Dia hanya boneka.”

“MWO ?! Ma..mana mungkin ?!!” Jaena menghampiri Jimin. Mendongakkan kepala pria itu dan menepuk-nepuk pipinya agar terbangun. “Oppa? Gwenchanayo ? –kau baik-baik saja?–. Ada apa ini ?!” Bentak Jaena panik seraya memeluk tubuh Jimin yang terlihat tak bernyawa.

“Itu tipuan Min Suga. Sialsekali aku lengah.” Seok Jin mengacak rambutnya. “Dia datang semalam dan menukar tubuh Jimin dengan boneka ini. Jika dilihat dia memang seperti..”

“Dia Jimin bodoh !”Ho Seok menyela. Sedikit menggeser tubuhnya dan mendekati Jaena. Meraih tangan Jimin untuk mengecek detak jantungnya. “Aku merasakan detak jantungnya. Dia tersesat di dalam mimpinya, Min Suga menculik jiwanya.”

“Ha?” Jaena menganga lebar. Melempar pandangan sekilas ke arah Jungkook yang nampak termangu. Jadi ini yang diributkan mereka sepagi ini. Lalu, dimana Jimin sesungguhnya?

“Kupastikan seratus persen ini adalah Jimin. Tubuhnya hangat dan dia bernafas.” Ho Seok melengkapi dugaannya. Sedangkan Seok Jin mulai menghela nafas. “Sesuai rencana, kita berangkat sekarang.”

“Ke..kemana?” Jaena kikuk.

“Ke negri Athena.” Kata Ho Seok lagi. “Cepat!”

Ho Seok dengan satu tenaganya, menarik sofa hingga berada di tengah-tengah. Seok Jin masih terdiam menunggu apa yang akan dilakukan Ho Seok dengan sofa dan tubuh Jimin yang berada disana. “Kenapa kau melamun ?! Cepat!” Hardiknya geram kepada Seok Jin.

“Em.” Satu anggukan yang diberikan Seok Jin menambah semangat Ho Seok. Mereka berdua bekerja sama. Berlari melingkari sofa dengan jarak tertentu. Menyebutkan mantra berulang-ulang hingga terbentuk lingkaran putih dengan cahaya terang yang sulit dipercaya oleh Jaena dan Jungkook. Entah bagaimana hal tersebut bisa muncul. Jaena yang terkejut secara spontan naik ke atas ranjang. Memeluk Jungkook yang sama tercengangnya dengannya.

Comelus..Camelus..Anmoritainus..Mohust..”

Jungkook dan Jaena saling pandang. Sibuk bertanya-tanya dalam hati. Menerka-nerka apa yang sedang kedua pria itu lakukan dengan sebuah sofa dan bagaimana lingkaran itu terbentuk. “Apa aku masih bermimpi?” Jungkook berbisik pada Jaena. Gadis itu menggeleng.

Anni –tidak–. Ini nyata.”

Ho Seok dan Seok Jin sudah hampir selesai. Mereka telah berhenti berlari. Dan kini duduk bersila di setiap sisi sofa, saling berhadapan. “Apa yang kalian lakukan? Ayo, duduk disini.” Ho Seok meminta kepada dua remaja yang saling berpelukan di atas ranjang. “Tampang kalian itu…” Ho Seok geli sendiri. Melihat keduanya terlihat tak percaya dan enggan menemuinya. “Jaena, kau ingin menyelamatkan Jimin bukan?”

  

Gadis itu mengangguk ragu. Lalu mengajak Jungkook turun dan ikut duduk bersila dengan dua pria disana. Jaena menatap pria yang duduk di atas sofa, sayu. Cemas pasti ada. Tapi ketakutan ini jauh lebih mendominan. Dia tak begitu yakin apakah dia bisa menyelamatkan Jimin atau tidak, mengingat semua hal yang terjadi akhir-akhir ini sulit dinalar dengan otak manusianya sendiri. Tentang Darktorcrow, Dewi Pandora, Promotheus, Min Suga, Negri Astron, dan Athena, dan bahkan mantra-mantra yang baru-baru ini sering didengarnya dari Seok Jin dan Ho Seok saat melenyapkan Darktorcrow di sekolah. Parahnya, kali ini ia melihat lingkaran bercahaya diciptakan hanya dengan berlari mengelilingi sofa.

“Siap?” Tanya Seok Jin kepada Jaena dan Jungkook.

“Ju..Jungkook ikut juga?” Seok Jin mengangguk. “Ta..tapi dia..”

“Aku siap.” Sela Jungkook. “Aku bersedia ikut menyelamatkan Jimin Hyung.”

 

_TBC_

Advertisements

3 thoughts on “[FF Freelance] Pandora: Darktorcrow bagian 2 Chapter 5

  1. Hoaaa..
    Makin kerenn..
    Jimin jiwanya kok diambil sih..
    Wah min suga keterlaluan..

    Like

  2. Aku ketinggalan nihh… Biasanya aku orang pertama yang komen duluan hehe… Aku makin penasaran deh beneran mereka mau ke athena? Katanya orang biasa gg boleh ikut?, itu ko’ jungkook ikut sih? Waahh nanti gimana nasib jungkook sama jimin yang gg sadarkan diri? Aku penasaran sumpah, lanjutin yaah nulisnya

    Like

  3. aduhh kakakk..
    itu laki aku kemana ??
    huhuaaaaaa saya gak mau jadi janda kakkk #plakk
    oke cerita ini makin menrgangkan ajah menurut ku..
    dari awal aku memang udah suka ini (y) alur nya keren .. tata bahasa nya juga bagus (y)
    fighting kak!!

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s