Namitsutiti

[FF Freelance] Pandora: Darktorcrow Chapter 4

5 Comments


4

Tittle : PANDORA

Cast : Park Jimin BTS | Park Jaena OC | Jeon Jungkook BTS | Kim Taehyung BTS | Min Yoon Gi BTS

Genre : Fantasy , misteri , little romance , fiksi , horor

Rating : 15+

Length : Chapter

Author : Okhara (anggi miftasha)

Setiap malam, saat kegelapan datang, dan saat dimana orang-orang pergi untuk tidur, saat dimana ruangan telah hening dan hanya suara angin yang berhembus, saat itulahakan ada hal yang terjadi yang tak akan diketahui oleh siapapun. Apapun itu, bahkan si penulis juga tak tahu. Lagi-lagi hanya Tuhan dan malaikat yang menyaksikan. Tentang sosok hitam yang berjalan di tengah malam. –Pandora–

 

_o0o_

 

“K..kau siapa?!”

 

Perlahan-lahan kaki lelahnya bergerak mundur. Sedangkan kedua bola matanya melirik ke kanan dan ke kiri mengawasi. Tangannya terasa semakin kaku seiring dengan berhembusnya angin dingin yang membawa serta hawa mencekam. Gadis itu telah lelah menangis. Namun ia tetap berusaha memberanikan diri.

 

HHHHHHHhhhh!!

 

“AAAAKKKHHH!!” Gadis berambut sebahu itu meringkuk tiba-tiba. Memeluk tubuhnya secara spontan karna terkejut sesuatu yang hitam baru saja melintas dari hadapannya. Cepat, nampak seperti kabut hitam yang besar. “S..si..siapa?!!” Dia berusaha berteriak. Namun tak ada satupun jawaban. Ia kembali melangkah mundur, sebelum akhirnya berlari menuju ke koridor utama yang cukup jauh dari tempatnya sekarang.

 

Ia terus berlari tergesa-gesa dengan sisa kekuatan yang dimilikinya. Tak khayal jika beberapa kali ia tersandung dan terseok-seok. Tubuhnya pun limbung saking lelahnya. Dibatinnya, koridor ini terasa panjang dari pada biasanya. Nampak seperti jalanan tak berujung. Ia akhirnya berhenti. Membuat gema gedebum langkahnya lenyap. Kepalanya perlahan menengok ke belakang dan mendapati ruang hampa yang gelap disana. Nafasnya terengah-engah. Ia perlu beristirahat sejenak setelah dirasanya suasana cukup aman.

 

Gadis itu menarik lututnya setelah ia berhasil terduduk. Ia menengok ke samping kanan kirinya. Merasa takut dengan kegelapan yang seakan mengepungnya. Tak ada siapapun disini. Selain suara angin yang bernyanyi kecil melintas di luar jendela koridor. Seolah tengah menemaninya.

 

Kemudian, ditenggelam kannyakepalanya di atas lutut, dan menangis sesenggukan seorang diri. Sayup-sayup terdengar jeritan yang membuatnya kembali cepat mendongakkan kepala. Berdiri, dan menengok ke samping kanannya yang nampak gelap gulita. “Nugu?!! Nugu!! –Siapa?!! Siapa!!–.” Triaknya mengarah ke tempat dimana ia mendengar jeritan.

 

“ANDWEE!! –JANGAN!!-.”

 

Gadis itu kembali melangkah mundur. Seraya menyipitkan mata menatap jauh ke depan sana. Samar-samar terlihat postur tubuh seorang gadis yang amat dikenalnya. Ia membelakkan mata, dan hendak memanggilnya. Namun, BUUGGHHH!!

 

“So Min Yoo!!”

 

“Nam Eun Ri !”

 

Mereka saling berpelukkan. Menghembuskan nafas lega satu sama lain di sela-sela pelukan mereka. “Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa berlari?” Gadis yang sebelumnya terduduk dan menangis itu menatap lekat teman gadisnya. Sementara itu, keduat angannya berusaha membersihkan jas almamater yang nampak berdebu di tubuh temannya. “Eun Ri? Kenapa? Ada apa sebenarnya? Kenapa kau masih disini? Ayo! Katakan padaku!”

 

Eun Ri tetap saja menangis. Kepalanya menunduk. Sedangkan kedua tangannya terkulai lemas. Bahu tubuhnya yang kurus nampak berguncang setiap ia sesenggukan. Min Yoo berusaha menenangkan temannya. Mungkin Eun Ri merasa takut. Berbeda dengannya yang mungkin sedikit lebih pemberani. Eun Ri, gadis yang dikenalnya memang sedikit penakut.

 

“Eun Ri, jangan menangis. Ayo, kita keluar dari sini. Aku… mulai takut.” Bisiknya berusaha membuat Eun Ri bergerak. Namun gadis di hadapannya sama sekali tak ingin beranjak. Ia tetap diam dan menangis. “Eun Ri, tenanglah. Aku akan selalu bersamamu.” Min Yoo perlahan memeluk temannya. Merasa cemas karna gadis itu terlihat sangat ketakutan dan sedih. “Katakan padaku, dan lalu kita pergi keluar.”

 

“Aku tidak mau keluar!” Bentak Eun Ri di dalam peluknya.

 

“Kenapa? Bukankah kau takut? Aku juga takut.”  Ungkap MinYoo lagi. Sembari menepuk-nepuk punggung tangannya.

 

“Karna aku… Karna aku…”

 

“ Ke..kenapa?”

 

“Aku sudah mati, So Min Yoo.”

 

Pergerakan tangan Min Yoo terhenti. Ia tercekat seketika dengan mata terbelalak terkejut. Namun entah kenapa tubuhnya terasa kaku bergerak. Ia tak ingin percaya dengan ucapan ini. Tapi jika benar gadis di pelukannya ini sudah mati. Jadi…

 

“Tidak mungkin.” Gumam Min Yoo. “Tidak Mungkiin!!”

 

“Kau akan terus bersamaku bukan?” JLLEEEBBB!!

 

“AAKKKHHH!!!”

 

Min Yoo perlahan melepas pelukannya. Merasakan tulang punggungnya retak dan terbelalak menatap mata Eun Ri sudah berubah menyala merah. Tangan Eun Ri menjadi panjang. Min Yoo kembali terbelalak. Menyaksikan darah menetes di sekitar kakinya. Punggungnya terasa nyeri. Begitu sadar, ia mengetahui bahwa Eun Ri yang telah mati tengah menusuk punggungnya dengan tangan kosong. Min Yoo merintih sakit. Dan berubah takut begitu Eun Ri yang begitu dikenalnya berubah menjadi sosok hitam menyeramkan dengan deretan tulang gigi bertaring penuh darah. Wajahnya serupa dengan tengkorak. Dan asap hitam nampak berterbangan di sekitar jubah hitamnya yang melayang-layang mengerikan. “A..akkkh..!”

 

Tubuh Min Yoo mengejang hebat begitu jiwanya di tarik paksa oleh makhluk itu. Terlihat gumpalan asap hitam keluar cepat dari dalam mulutnya. Kemudian, ia tersungkur jatuh. Dengan darah mengalir deras dari bawah tubuhnya yang tak lagi bernyawa. Matanya nampak terbelalak. Dan punggung berlubang yang menampakkan daging dan darah, serta tulang-tulang retak di dalamnya. Min Yoo, ia tewas.

 

_o0o_

KRIIIING!! KRIIING!!

“Nde!” Jimin berteriak sekali lagi, setelah mendengar suara bel kamar apartemennya berbunyi sekian kali. “Tunggu ya, akan kubukakan pintu.” Jimin tersenyum simpul ke arah gadis di hadapannya. Lalu berjalan keluar. Ia baru saja meminumkan obat kepada Jaena yang kembali demam. Entah kenapa sejak kemarin demamnya kembali naik. Gadis itu nampak lelah akhir-akhir ini.

Annyeong!”  Sapa seseorang setelah Jimin membukakan pintu. Di hadapannya, nampak Seok Jin tersenyum kecil. Sedangkan di sisi lain, Ho Seok terlihat menyengir lebar. Wajahnya yang terlihat konyol membuat Jimin spontan menjitak kepalanya.

“Yaak, sembunyikan wajah konyolmu itu! Masuklah.”

“Hei! Kau tak tahu betapa bahagianya aku menemukan kamar apartemenmu ini? Gedung ini cukup tinggi eoh?!” Ho Seok berjalan mengekor di belakangnya. Mendahului Jin yang terkekeh geli.

“Kau terus mengurus adikmu seharian ini? Kau sampai membolos masuk kuliah. Tugasnya banyak.” Keluh Seok Jin dan duduk di sofa ruang tamu.

“Aku terlalu cemas. Dia terus-terusan menangisi hal yang tak ku mengerti. Tubuhnya juga demam tinggi. Dia juga tak masuk sekolah.” Jelas Jimin seraya sibuk menyeduhkan minuman untuk kedua temannya di dapur di samping ruangan itu.

Seok Jin bergumam mengerti seraya mengerlingkan matanya yang lalu mendapati foto terpajang di meja nakas. Ia mengamatinya sejenak sebelum akhirnya terbelalak dan langsung menepuk-nepuk pundak Ho Seok cepat-cepat. Meminta lelaki itu agar ikut melihatnya.

“A..arraseyo. Aku sudah tahu.” Ucap Ho Seok membuat perhatian Jimin teralih.

“Em, itu aku dan Jaena saat masih kecil.”  Susul Jimin menghampiri mereka dengan dua gelas cangkir dengan uap mengepul di atasnya.

“Aku sudah tahu.” Jawab Ho Seok lagi.

Jimin terkekeh. Melihat tampang Ho Seok yang mendadak tenang menonton foto tersebut sembari menyeruput teh yang telah diseduhnya.

“Oppa…” Jimin menoleh. Begitu pula Ho Seok dan Seok Jin. Dari pada Jimin, kedua lelaki itu justru tak berhenti menatap tercengang ke arah Jaena. Bahkan setelah gadis itu melangkah gontai mendekati mereka, tatapan kagum itu sama sekali tak berubah. “Aku juga mau teh.” Ujarnya lagi.

Jimin tersenyum simpul, lalu beranjak mendekati adiknya. “Baiklah, tunggulah di kamar, akan kuantarkan. Oh, ini ada dua teman Oppa yang berkunjung. Sapalah mereka dan berhati-hatilah dengan dia.” Tunjuk Jimin pada Ho Seok yang lalu tertawa kecil. Sedangkan Ho Seok nampak hendak melayangkan protes.

“Jadi ini yang namanya Park Jaena?”

Seok Jin memberikan seluruh pandangannya untuk menatap Jaena. Gadis itu nampak tersipu. Menundukkan kepala menyapa kepada kedua pria yang nampak ramah di hadapannya.

“Annyeong, Park Jaena imnida.”

“Dia sangat mirip.” Bisik Ho Seok pada Seok Jin. Jaena cukup bisa mendengarnya. Dahinya pun bertautan kecil. “Maksudnya, kau mirip dengan Jimin. Hahahaha.” Gelak Ho Seok salah tingkah. Seok Jin nampak melototinya.

“Aku Kim Seok Jin, dan yang bodoh ini Jung Ho Seok.” Seok Jin tersenyum puas setelah memperkenalkan diri. Sementara Jimin yang samar-samar mendengarnya ikut terkekeh geli. “Kau tak ingin duduk?”

“Aku akan segera kembali ke kamar Oppa. Mian, tubuhku masih…” Jaena menundukkan kepala.

“Oh, Arra. Kau sedang demam? Cepat sembuh oke?”

“Khamsahamnida.” Jaena kembali tersenyum dan berbalik untuk berjalan masuk ke kamar Jimin.

Ho Seok dan Seok Jin saling pandang. Keduanya seolah saling bertukar pikiran. “Molla.” Ucap Ho Seok akhirnya seraya menyudahi tatapan bingungnya. “Aku terasa canggung.”

“Aku pun begitu.” Ujar Seok Jin yang kembali menatap punggung Jaena yang baru saja masuk ke dalam kamar. Namun ia justru terbelalak terkejut mendapati satu hal aneh yang membuatnya mendadak curiga. “Ho Seok! Aku melihatnya!”

“Mwo? Lihat apa?!!” Ujar Jimin skeptis yang ikut memandang ke arah dimana Jaena baru saja berjalan. “Lihat apa kau Seok Jin-ah?!”

“M..mwo? Anniya. Aku tak lihat apa-apa.”

“Sedari tadi aku juga melihatnya. Sudah sangat nampak.” Gumam Ho Seok kembali menyeruput isi cangkirnya. Lalu beranjak dari sofa. “Katakan sekarang Jin.”

“Hei..hei, apa yang sebenarnya kalian lihat?” Jimin masih bingung. Sedangkan Seok Jin nampak gusar.

“Katakan sekarang. Waktunya semakin dekat.”

“A..apa yang sedang kalian bicarakan?!” Jimin meletakan cangkir teh milik Jaena panik dan ikut bergantian menatap Seok Jin. Ia sama sekali tak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi sekarang. Pembicaraan ini terdengar serius. Bahkan Ho Seok yang biasanya nampak konyol, kali ini terlihat fokus.

“Kau yang memiliki hak itu Jeans!”

Mata Jimin terbelalak. Ia hampir tertawa mendengar Ho Seok menyebutkan nama lain kepada Seok Jin.Tunggu, tapi ini bukan saatnya untuk tergelak. Bukankah mereka tadi hanya mengintip sesuatu dari Jaena? Tapi kenapa…

“Ahh.. Aku memiliki satu rahasia yang harus kau ketahui, Park Jimin.”

Jimin kembali terduduk. Menghadap lurus ke arah Seok Jin yang bertatapan menerawang. “Baiklah. Katakan dan jangan bercanda. Tak akan kumaafkan jika kali ini kalian berdua sedang bercanda.”

“Aku berjanji. Dan kau juga harus berjanji.”

Jimin tertawa kecil. “Baiklah, cepat katakan.”

“Dia.. dia bukan manusia biasa. Adikmu, bukan manusia biasa.” DEG!

_o0o_

GREEEEPPP!

Kedua mayat perempuan itu telah terbalut rapi dengan selimut putih. Para perawat yang membawanya nampak kelelahan karna darah tak kunjung berhenti mengalir. Bahkan kedua tubuh itu nampak membusuk. Bau anyir darah menyengat disertai bau busuk yang laindari bagian tubuh tersebut menyebar ke setiap penjuru ruangan. Ini seperti khasus pembunuhan. Hingga sekolahan dengan terpaksa membawa serta pihak kepolisian untuk menuntaskan masalah ini. Dan itu harus dilakukan sesegera mungkin.

Para dokter kembali berunding. Beberapa diantaranya nampak mendiskusikan hal ini dengan para guru. Khususnya dengan pihak kepolisian. Para murid telah dihimbau untuk tidak mendekati wilayah di sekitar TKP. Karna khawatir akan ada hal lain yang tak terduga yang mungkin saja bisa terjadi.

Sama seperti murid lainnya, Jungkook juga memutuskan untuk menunggu pemeriksaan dengan berkumpul bersama teman-teman sesama OSIS-nya. Dibandingkan dengan teman-teman OSIS yang nampak serius membicarakan kejadian tragis ini, Jungkook terlihat lebih pendiam. Meski duduk di sekeliling teman-temannya, ia sama sekali tak berniat memperhatikan, mendengarkan saja tidak. Tangannya sibuk bermain rumput, sedangkan matanya menatap menerawang ke sebrang sana. Tempat dimana biasanya orang-orang keluar masuk halaman sekolah. Ya, gerbang utama gedung sekolah.

“Jaena.”

Gumamnya setelah berulang kali menahan rasa kekhawatirannya. Syukurlah, setidaknya gadis itu tidak berada di sekolah. Mungkin ada hal lain yang akan terjadi jika gadis itu ada disini. Mengingat akhir-akhir ini gadis itu nampak sedikit paranoid. Jungkook tak tahu mengapa. Yang dia tahu, selama 5 tahun berteman dengan Jaena, gadis itu sama sekali tak memiliki riwayat memiliki kekuatan indra ke-enam. Atau kekuatan indigo lainnya. Jungkook menatap ke atas gedung sekolah. Entah kenapa, akhir-akhir ini sekolah mengeluarkan aura lain yang bahkan manusia biasa sepertinya saja bisa merasakannya.

Kematian Lee Seonsaengnim, lalu kematian kedua gadis yang dikenal baik sebagai sepasang sahabat, So Min Yoo dan Nam Eun Ri. Ini memang bukan hal yang aneh lagi jika setiap hari mereka berdua selalu pulang terlambat. Min Yoo adalah gadis berprestasi. Dia selalu pulang terlambat karna sibuk membaca di perpustakaan. Sedangkan Eun Ri yang memang bertempat tinggal tak jauh dengan Min Yoo, selalu menunggu gadis itu agar mereka bisa pulang bersama-sama. Lalu, bagaimana mungkin mereka bisa terbunuh? Dan untuk apa mereka dibunuh?

“Tunggu, kejadian itu…” Jungkook kembali mengingat. Tapi tak sampai mengingatnya, kerumunan kembali terjadi. Para dokter, polisi, hingga para guru mulai muncul keluar dari dalam sekolah. Tentu saja dengan kedua mayat yang dibawa dengan masing-masing kasur troli. “Uufftt..” Keluh Jungkook merasakan bau menyengat tercium begitu mayat-mayat itu dibawa melewati dirinya.

“Mereka mungkin benar-benar dibunuh. Habislah, sekolah kita ada pembunuh bersembunyi!” Pekik seorang gadis yang langsung membuat para murid di sekelilingnya berkicau riuh. Mereka nampak cemas.

“Mungkinkah dia psycho? Dia melubangi punggung Min Yoon hingga tulang-tulangnya retak!” Sahut yang lain. “Eun Ri bahkan kehilangan darahnya. Hanya Min Yoon yang berdarah banyak. Bahkan tak mau berhenti hingga baunya… Aaaa.. kasian sekali mereka.”

Jungkook merasa mual dengan pembicaraan ini. Sudah cukup mengetahui kematiannya saja. Tidak dengan bagaimana kondisi kematiannya. Ini pasti ada hubungannya dengan beberapa kematian yang terjadi secara berturut-turut. Tak terkecuali dengan Nyonya Lee, dan juga lelaki bernama Man Joo Ni. Ya, lelaki yang meninggal secara mendadak di ruang UKS beberapa hari yang lalu.

“Jungkook! Ayo, ikut aku. Kita harus mengumumkan bahwa sekolah akan diliburkan selama 3 hari karna kejadian ini. Cepat!” Triak Sun Jung. Salah satu kerabat dekatnya yang sama-sama adalah anggota OSIS. Jungkook mengangguk dan lalu ikut berlari di belakang Sun Jung.

“Cha Sun Jung! Listriknya mati!” Triak Jungkook setelah mereka sampai di ruang penyiaran yang tak jauh dari letak ruang osis berada.

“Nde, kau benar. Disini lampunya juga mati. Pasti terjadi pemadaman listrik semalam.”

Pemadaman listrik? Batin Jungkook aneh. Bukankah sekolah memiliki stabilizer? Kenapa tidak berfungsi? Dan bukankah harusnya listrik sudah menyala saat ini?

“Akan kunyalakan!” Triak Jungkook yang tak lagi mendapat jawaban. Ia mulai berjalan keluar untuk mencari penjaga sekolah yang mungkin saja ada di sekitar gedung. Dan memintanya untuk mengecek keadaan stabilizer yang berada di sekolah. Jungkook tahu pasti, kualitas stabilizer di sekolah ini pasti tinggi. Tidak mungkin rusak begitu saja.

Langkahnya terdengar menggema di setiap penjuru ruangan. Koridor nampak sepi karna tak nampak satupun murid yang terlihat disini. Mereka mungkin enggan masuk ke gedung sekolah setelah adanya kejadian ini. Pasti mereka takut dengan dugaan adanya pembunuh yang bersembunyi. Psycho, atau mungkin…

TEP..

Jungkook menghentikan langkahnya. Ia mungkin bodoh memikirkan ini, namun jika memang… “Hantu? Haha, yang benar saja.” Jungkook kembali melangkah. Meninggalkan bayangan hitam yang entah sejak kapan mulai mengikutinya dari belakang yang kemudian berangsur-angsur menghilang. Tertiup angin yang melintas lewat jendela koridor.

_o0o_

Cahaya bersinar dengan warna putih menyala terang muncul tepat di hadapannya. Gadis itu mengangkat tangannya, berusaha melindungi penglihatannya dari sinar terang itu. Ia tak ingin mendadak buta karna cahaya silau ini. Setelah dirasa cahaya itu meredup, gadis itu menurunkan kembali tangannya. Perlahan, dengan langkah berhati-hati, ia berjalan menuju ke tempat di mana cahaya itu berasal. Ia tidak tahu pasti, tapi jalan panjang ini seolah sedang menuntunnya. Begitu pula dengan kata hatinya.

 

“Dimana ini?” Jaena menatap dirinya di sebuah satu-satunya kaca. “Siapa kau?” Jaena menatap lekat ke dalam kaca. Jika ini kaca, pasti dia akan memantulkan gambaran wajahnya.Tapi ini…

 

“Kau sudah terlahir kembali.”

 

“Apa maksudmu? Kau siapa?”

 

“Tanganmu terluka. Akan kusembuhkan.”

 

“K..kau bisa melihat lukaku?!” Kejut Jaena karna baru kali ini ia menemukan orang yang dapat melihat lukanya. “Tunggu! Kau benar ingin menyembuhkanku? Kau menipuku! Jangan sekali-kali…”

 

“Aku bukan orang jahat yang kau temui beberapa malam yang lalu Jaena, dia adalah musuhku, musuh kita. Aku tidak mungkin menyakitimu.”

 

“Ji..Jinjjayo?”

 

“Nde.” Gadis cantik di dalam cermin itu tersenyum ramah. Jika diamati, wajahnya sekilas mirip sepertinya. Mata bulat, kulit seputih salju, dan rambut hitam yang panjang.“Lihat, tanganmu sudah sembuh sekarang. Kau harus menjaganya dengan baik.”

 

“Huh?!” Jaena sontak menatap lengan kanannya. “MWO?!! Lukaku hilang!! Ba..bagaimana bisa?”

 

“Semua bisa saja terjadi. Berjanjilah, jaga pyramid itu baik-baik sampai titisan berikutnya muncul.” Gadis itu perlahan-lahan menghilang. Dan berganti menampakkan gambaran dirinya sendiri. Jaena melangkah mundur dengan terkejut.

 

“Dia hilang?! Tu..tunggu, Py..pyramid apa?”

 

***

 

“HAAH!!”

“Jaenaa..”

Jaena terbelalak mendapati Jimin memeluknya erat. Suara lelaki itu terdengar parau. Tidak, tapi terdengar sesenggukan. “Oppa? Musun Illiseo? –Apa yang terjadi?–.”

Jaena masih menatap dirinya bingung. Gadis itu baru saja terbangun dan tiba-tiba mendapati Jimin tengah menangis. Apa ada sesuatu yang telah terjadi selama dia tertidur? Dan lagi… “Kalian?” Jaena menatap Ho Seok dan Seok Jin yang bersamaan membungkukkan badan –penuh hormat. “Heei? Ada apa ini?”

“Jaena, maafkan aku…” Jimin berujar dan kembali memeluknya. Membiarkan dirinya sesenggukan dalam dekapan eratnya kepada gadis itu. Ia tahu, jika apa yang sedang dialami gadis itu ternyata akan serumit ini. “Aku tidak tahu jika luka itu benar-benar ada.” Jaena tersentak. Jimin percaya dengan luka di tangannya itu? Bagaimana bisa? “Dan mereka, akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Khususnya pada dirimu.”

“Oppa.. aku bermimpi aneh, aku bertemu dengan orang-orang aneh, ada apa sebenarnya? Oppa tahu?! Ada apa ini?” Jaena panik, dan berulang kali ia menatap Ho Seok dan Seok Jin bergantian.

“Ada sesuatu yang bersemayam di jiwamu. Sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak sampai memikirkannya. Untuk itu, Ho Seok dan Seok Jin akan melakukan sesuatu untukmu, begitu pula untukku.” Jaena tercekat, seolah tahu apa yang selama ini membuat hatinya merasa janggal. “Ada sebuah benda penting tersimpan disana. Sebuah pyramid suci dari seorang Dewi. Karna kau… adalah titisannya.”

“A…apa ini sebuah lelucon?! Bagaimana ada yang seperti itu? Dunia ini sudah modern!”

“Ketahuilah Jaena! Waktunya sudah hampir habis, bulan purnama akan tiba! Kau harus percaya yang seperti itu ada! Dan saat ini sedang terjadi pada dirimu!”

Jaena membelakkan matanya. Terkejut menatap Jimin membentaknya dengan derai air mata kecemasan. Mungkin saja ini benar. Atau mungkin… ini sebagai jawaban atas pertanyaannya yang selama ini mengalami hal-hal aneh di luar kepala. Tentang hal-hal mengerikan atau aneh sekalipun.

“Dan kami adalah Tim J. Aku dan Ho Seok bukanlah manusia seperti kalian. Kami adalah bagian dari pasukan khusus yang ditugaskan di bumi untuk mencari titisan Dewi Pandora. Selama berabad-abad kami berada disini. Mencarimu bukanlah hal yang mudah. Mengingat berabad-abad yang lalu terjadi peperangan di setiap penjuru negara. Tapi ketika kami tahu bahwa kau semakin dekat, kami langsung menyamar menjadi seorang mahasiswa dan berteman dengan Jimin. Ini adalah skenario yang kami buat.” Seok Jin menjelaskannya panjang lebar.

“Namaku J-Hope, dandia Jeans. Itu nama asli kami di dunia kami, Negri Athena. Negeri dimana Dewi Pandora lahir dan tinggal.” Ho Seok menghela nafas. “Ada banyak alasan mengapa kami datang ke bumi mencarimu. Salah satunya, membantumu melindungi pyramid itu sampai bentuknya sempurna.”

“Apa pentingnya pyramid ini? Ahh..” Jaena menyentuh jidatnya merasa kepalanya semakin berat. Dia bingung dan merasa kesal karna mengetahui hal-hal aneh ini. Apa itu artinya hidupnya akan semakin rumit?

“Jaena, pyramid itu memiliki kekuatan abadi yang perlu kau lindungi. Ada seseorang yang menginginkannya untuk keperluan yang penting. Itu akan memperkuat dirinya. Selain itu, dia adalah orang yang jahat.”

Jaena menatap Ho Seok tercekat. Matanya kembali menatap Jimin. Laki-laki itu juga menatapnya, cemas. Dan sesekali membelai rambutnya lembut. “Oppa… kenapa pyramid ini tidak dikeluarkan saja dari tubuhku? Aku tidak mau melindunginya. Aku tidak akan sanggup.”

“Kau mendengarnya? Lepaskan saja pyramid ini dan bawalah. Kalian bisa menjaga pyramid itu sendiri bukan?” Jimin menatap tajam Seok Jin dan Ho Seok bergantian. Tapi mereka malah terperanjat terkejut. “Keluarkan saja pyramid itu dari tubuh Jaena.”

“Ti..tidak bisa. Itu tidak bisa!” Ho Seok menyela.

“Kami tidak bisa melakukannya.” Seok Jin menimpali.

“Kenapa ?! Kenapa ?!! Bukankah kalian orang sakti?!” Jimin menarik kerah Seok Jin dengan geram. Mengguncangnya hingga membuat Seok Jin meringis sakit. “Cepat lakukan! Bukankah kalian temanku?! Kau juga harus membantu adikku!”

“Tenanglah.. aku memang tidak bisa me..melakukannya!”

“Cepat lakukan! Kenapa kau tidak bisa melakukannya?!!”

“Dia akan mati jika kami mengeluarkan pyramid itu !!” Bentak Ho Seok merasa kesal karna Jimin tak mau mengerti. Ini memang sulit. Tapi setidaknya, Jimin harus mengikuti alur cerita ini. Mereka pikir, semua akan baik-baik saja setelah Jimin dan Jaena mengetahuinya. Tapi ternyata…

“Lalu apa yang harus aku lakukan?” Jaena tenang. Matanya yang teduh menyiratkan bahwa dia telah pasrah dengan takdir yang baru saja diketahuinya. Dia merasa perlu bertanggungjawab.

“Kau hanya perlu ikut kami pergi ke Dunia Athena. Akan ada peri-peri khusus yang akan menyempurnakan kekuataan pyramid itu. Dan akan membuatnya tersimpan lekat sehingga tidak mudah lagi untuk di keluarkan. Aku tahu, Promotheus V dan anak buahnya Min Suga sudah menemukanmu. Luka di lenganmu itu menguatkan dugaan kami. Kau tak ingin mati kan?”

Jaena mengangguk pasrah dengan penjelasan Ho Seok. “Aku akan pergi dengan kalian.”

_o0o_

“Menyala!” Pekik Jungkook lega setelah listrik di gedung sekolah telah kembali menyala. Tangannya dengan cepat menyambar microphone dan segera mengumumkan pengumuman dari pihak sekolah. Berbeda dengan biasanya jika pengumuman liburan diumumkan. Pernyataan ini lebih mirip seperti peringatan. “Apa aku mengucapkannya salah ya? Rasanya tidak ada hiruk pikuk kebahagiaan? Padahal ini liburan.” Gumam Jungkook.

Jungkook melangkah keluar. Menengok kanan kirinya yang sepi. Tanpa sadar, kakinya melangkah menujuke koridor yang disana terdapat garis kuning kepolisian yang terpasang melintang. Ia merasa jijik. Begitu melihat darah masih berbekas di sana. Meski sudah dibersihkan, baunya masih saja menyengat. “Aku harus memutar jalan.”

Sekolah nampak seperti pemakaman karna tak ada seorangpun  yang terlihat. Mereka pasti salah, mengira bahwa sekolah ini ada pembunuh bersembunyi. Nyatanya, sampai dia keluar dari gerbang sekolahpun dia tak mendapati apa-apa. Menemui suatu kejanggalan bahkan tidak.

“Masih siang.” Pikirnya dan langsung terbesit untuk segera mengunjungi Jaena. Setidaknya gadis ini harus tahu dengan pengumuman liburan 3 hari itu. “Tunggu, dimana handphone-ku?”

Jungkook menepuk-nepuk ke setiap saku bajunya. Hingga kembali mengaduk-aduk isi ranselnya. Tapi ponselnya tak juga ketemu. “Jangan-jangan… astaga…!” Pekiknya yang teringat bahwa ponselnya tertinggal di ruang penyiaran.

Dengan langkah terburu-buruJungkook kembali memasuki gerbang sekolah dan berpas-pasan dengan seorang penjaga sekolah. Sepertinya dia orang terakhir yang meninggalkan sekolah. “Cepat pulang, karna sebentar lagi pihak kepolisian akan datang.” Begitu pesan terakhirnya. Sepertinya yang akan berjaga di sekolah ini adalah dari pihak kepolisian. Jungkook harus cepat-cepat mengambil ponselnya.

Langkahnya terhenti sejenak. Memandang ke dalam lobi sekolah yang sepi. Tidak begitu menakutkan, tapi ia merasa khawatir dengan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Dan sebelum kemungkinan itu terjadi, Jungkook segera melangkah masuk.

“Ini dia…” Gumamnya dengan senyum puas  setelah menemukan ponselnya yang tergeletak di atas meja penyiaran. Tidak buruk memang. Tapi untuk pergi keluar, ia harus melewati koridor utama. Koridor yang terpalang garis kuning kepolisian. “Apa aku harus putar jalan?” Jungkook menatap koridor utama yang tak berada jauh lagi dari hadapannya. Tapi lelah juga jika harus memutar arah. Inilah resiko jika sekolah menerapkan jalan berbeda untuk masuk dan keluar dari gedung sekolah. “Lewat sini saja.”

Jungkook menerobos garis kuning. Kakinya mengendap-endap melewati bercak-bercak darah yang tak lagi berbau busuk. Mungkin karna sudah lama didiamkan. Ia pun segera pergi. Namun setelah melewati garis itu, sebuah hawa dingin mencekam tiba-tiba hadir tepat di belakang tubuhnya.

Berbeda dengan film-film horror yang biasa dilihatnya, Jungkook lebih memilih menoleh dengan cepat. Mendapati asap hitam terbang tertiup angin. Ia mengernyitkan dahi. Rasa-rasanya tidak ada yang menghidupkan api. Mana mungkin ada yang berani merokok di sekolah. Terlebih… tidak ada seorangpun berada di sini bersamanya.

“Nugu?” Tanyanya kembali memasuki garis kuning. Mengintip ke jendela luar yang menyuguhkan pemandangan halaman belakang sekolah. “Tidak ada siapapun. Ah, sial… aku takut.” Jungkook beranjak pergi, berlari menjauh dari garis kuning itu. BUUUGHH! “Akkh..”

Lelaki itu meringis kecil merasa lututnya ngilu karna baru saja terjatuh. Ia kembali menengok kebelakang. Mendapati bayangan hitam melintas cepat di sana. “Ha?!” Kejutnya dan berupaya untuk segera bangkit. “Ahh.. ayolah.” Jungkook kesulitan berdiri. Mungkin kakinya terkilir, rasanya cukup sakit dan ngilu. Ah, bagaimana bisa hal sial seperti ini bisa terjadi pada dirinya.

HHHHHHHHhhhh!

 

“A..apa itu?!” Jungkook berteriak terkejut. Mendapati bayangan berjubah hitam melayang-layang dari kejauhan. Sosoknya seperti manusia, bukan, tapi hantu. Matanya menyala kuning. Amat terang. Hingga membuat kecemasan Jungkook semakin menjadi-jadi. “Ayoo bangun Jungkook!” Pekiknya meminta diri sendiri.

Namun naas, bayangan hitam itu semakin dekat. Sementara itu, langit yang semula cerah menjadi mendung. Aneh rasanya jika seseorang sedang menyamar seperti itu. “Jangan mengerjaiku! Aku tidak takut!” Jungkook berhasil bangkit. Menatap tajam mengancam ke arah makhluk melayang yang semakin nyata bahwa itu bukan sebuah rekayasa. Itu benar-benar makhluk yang nyata. “A…apa.. ini?”

Makhluk berjubah dengan wajah menyeramkan itu melayang-layang mendekati Jungkook. Wajah tengkoraknya yang menyeramkan dengan mata berwarna kuning menatapnya lekat. Perlahan-lahan Jungkook membuka mulutnya, hingga asap hitam keluar dari dalam mulutnya. Seperti tak ada paksaan, Jungkook menurut saja ketika nyawanya ditarik keluar. Namun tiba-tiba…

Gosinloous!!” Triak seseorang kencang menyebut mantra dan cahaya putih terang munculmenerbangkan makhluk hitam itu hingga lenyap.

Jungkook tersungkur lemas. Dan kemudian, didengarnya sayup-sayup suara seorang gadis yang amat dikenalnya. “Jaena?”

“Jungkook! Jungkook! Sadarlah!” Jaena memeluk Jungkook dan menepuk-nepuk pundaknya. Bukannya membalas pelukan Jaena, Jungkook justru menatap kedua orang yang kini berdiri di hadapannya. Dia tak mengenalinya. Namun setelah melihat Jimin, ia sepenuhnya tersadar.

“Jimin Hyung? Jaena?”

PLLAAK!  “Dasar bodoh! Kenapa di hadapan darktorcrow kau malah diam saja?!” Bentak Jaena cemas.

“Dar..Dark apa maksudmu?” Dengan mata sayunya, Jungkook menatap Jaena tak mengerti. Gadis itu berdecak cemas. Dan kemudian memeluknya lagi.

“Hampir saja aku kehilangan dirimu, Jeon Jungkook. Apa yang kau lakukan di sini?”

“Ponselku tertinggal di ruang penyiaran. Terimakasih.”

Jaena menghela nafas. Memeluk Jungkook semakin erat karna merasa cemas sebelumnya. Syukurlah dia datang diwaktu yang tepat. Sehingga makhluk yang telah diketahuinya bernama Darktorcrow itu bisa dilumpuhkan sementara waktu oleh Ho Seok.

Niat mereka datang kemari adalah untuk menyingkirkan keberadaan Darktorcrow. Makhluk dari dimensi lain yang berasal dari negeri Astron. Negeri tempat Promotheus V dan Min Suga tinggal. Jaena sudah mengetahui semuanya sekarang. Selama perjalanan menujukemari, Ho Seok dan Seok Jin sudah bercerita panjang lebar. Salah satunya adalah tentang blackhole yang terbuka, yang membuat makhluk-makhluk itu keluar dengan bebas. Meninggalkan negrinya dan mulai memangsa nyawa-nyawa manusia. Entah sudah berapa jiwa yang mereka makan. Jika yang dimakan telah melampaui batas, dapat dipastikan makhluk itu akan mengalami kecanduan dan kekuatannya akan bertambah.

Seok Jin memberi informasi bahwa Darktorcrow itu diciptakan dalam 3 bentuk. Zeta, Darktorcrow bermata hitam, Epsilon, bermata kuning, dan yang paling sadis Delta yang bermata merah. Ketiganya memiliki cara tersendiri untuk mencari mangsanya. Jika Delta si mata merah membunuh dengan tragis, maka yang bermata kuning atau Epsilon, membunuhnya dengan lebih tenang. Sedangkan si mata hitam Zeta, memberikan tanda pada mangsanya sebelum ia membunuhnya.

Kehadiran Zeta dapat ditandai dengan munculnya darah merah kehitaman yang kental yang muncul di setiap penjuru ruangan. Dan dia biasa mengikuti kemanapun mangsanya pergi. Meski begitu, tak ada yang bisa membuatmu lebih tenang dari setiap cara mereka membunuh. Karna pada dasarnya, nyawamu akan tetap lenyap karna dimangsa Darktorcrow. Penjaga kegelapan dari dunia Astron.

Dan di sinilah mereka sekarang, Seok Jin, Ho Seok, Jimin, dan Jaena. Melakukan misi untuk menarik Darktorcrow kembali ke lubang hitam dan menyegelnya kembali. Seok Jin dan Ho Seok yakin. Semua ini adalah ulah si bodoh Promotheus V. Laki-laki yang mengharapkan dapat merebut pyramid dari Jaena untuk menghidupkan kembali kakaknya, Promotheus Rapmon, atau mereka biasa menyebutnya Raja Astron.

Promotheus V pasti membiarkan blackhole yang dilewatinya tetap terbuka agar makhluk-makhluk itu bisa keluar dan memangsa para manusia. Berharap dapat melenyapkan manusia dari muka bumi dan menghentikan terlahirnya titisan Dewi Pandora berikutnya. Dewi yang menjadi ratu di negeri Athena, tempat dimana Seok Jin dan Ho Seok berasal.

Waktu semakin terbatas hingga bulan purnama tiba. Setelah mereka berhasil melenyapkan Darktorcrow, mereka akan segera pergi ke Athena. Membantu Jaena untuk menyempurnakan pyramid-nya.

_TBC_

Annyeoong!!~~
tolong krisarnya lagi yaa 😀 {} aku senang bisa bikin cerita kayak gini :3

Advertisements

5 thoughts on “[FF Freelance] Pandora: Darktorcrow Chapter 4

  1. Wow wow aku kah orang pertama yang komen?? Salah yah ato bener? Bagus makin kesini konfliknya semakin banyak dan itu membuat aku semakin gemes bacanya, mengejutkan juga ternyata hoseok sama seok jin bukan manusia biasa dan untunglah mereka datang tpat waktu, aku bacanya cemas pas bagian jungkook diteror huwaaa lanjutin yah jan lama” updatenya hehe 😀 gg bosen bosennya keep writing yeth..

    Like

  2. Wah.. makin seru banget nih..
    Jin sama jhope mulai menyatakan siapa jati diri mreka..
    Jimin sama jaena udah mengetahui yang sebenarnya trjadi..
    Wow.. makin seru nih.. makin seru..

    Like

  3. waaahh wahhh daebbak (Y)
    lanjut donk thor?? kerenn
    fantasy nya dapet banget
    kepp writing thor >_<

    Like

  4. aa ellahhh
    aku ikutan dag dig dug serr pas last scene ituuhh.. ahh untung aje si j hope ama seokjin oppa tepat waktu yee datengnya.
    coba kalau nggak ?? mau jadi apa dunia ini /? #plakk
    ya ampuuun aku ngerasa ngilu gitu pas jarna di sayat ituu
    hihhh

    ahh iya kak.. ini title nya harus nya chap 3 kan kak ?? bukan chap 4 . :3
    alu nyari chap 3 nya tadi puyeng kaakk
    udah pasrah langsung loncat ke chap 4 .. ehh taunya nyambung :v

    Like

    • eih ?? astagaaa maaf kak..
      ini harus nya komen buat di chap 3 malah nyasar ke sini..
      pantesan title chap 4 :v ternyta mah aku ndiri yang salah masukin komentar :v
      maaf kak maklum buka nya langsung barengan chap 1-5 di tab yang beda2 kkkk
      dan maaf juga kak..
      malah nyampah disini (v)

      Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s