Namitsutiti

YOLO

26 Comments


s-copy

Credit poster by :  deerkkamjong07 @ ARTFANTASY


 

Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah keterpautan jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad._Kahlil Gibran

Summary : Ini semua gara-gara si brengsek-aku menyebutnya begitu-Kai/Ya Luhan! Dasar anak kecil pembual!/Jangan bertingkah seperti itu! Kau benar-benar seperti yeoja!/Hufffthh … Jiyeon Noona galak seperti ahjuma-ahjuma. Tetapi Lulu tetap suka hehe …/Ya Noona~ Lulu ingin … eunggg~ menciumu hehe … awww, pipi Lulu malu~/


 

Luhan’s Special Day: 20 April 2015

Present :

YOLO

“Damn Hair”

Luhan 15 VS Jiyeon 17

Backsong :

  • MADTOWN-YOLO
  • Super Junior-슈퍼주니어_백일몽 (Evanesce)
  • BTOB-Catch Me

‘Bonus pictures Luhan lihat di page Luhan’s Special Day’


 

Luhan-3-luhan-35390922-884-832

Tittle » YOLO

Author » Namitsu Titi

Rate » T

Genre » Romance, Fluff

Cast » Park Jiyeon [T-ARA], Xi Luhan

Support Cast : Oh Sehun

Disclaimer » Semua cast milik orang tuanya masing-masing dan Tuhan YME. Popularitas Cast milik agency dan diri nya masing-masing. Tapi, alur cerita milik saya.
.
© 2015 Namitsu Titi

.

~Happy Reading~

.

.

.

.

Mobil mewah berwarna kuning terang berhenti di depan gerbang sekolah SMA bergengsi di Seoul. Dikarenakan warna mobil yang jarang ditemui itu, sukses membuat siswa-siswi yang bergelombolan untuk pulang melirik penuh minat sekaligus penasaran. Bisikan-bisikan kecil mulai terdengar dengan topik kira-kira siapa pemilik mobil tersebut. Apakah dia seorang gadis cantik bak puteri atau seorang lelaki tampan mempesona layaknya pangeran? Tapi yang pasti, mereka berasumsi bahwa pemiliknya mempunyai selera yang unik-karena memilih warna mobil yang seperti itu. Beruntung ini di sore hari bukan siang bolong. Mungkin jika begitu, mereka akan menganggap benda berwarna kuning ini adalah kendaraan pribadi milik tuan matahari. What-?!
Berhenti membahas soal mobil, sebaiknya kita beralih pada pemiliknya.

 

“Maaf, Tuan, kita sudah sampai.” Seorang pria setengah baya mengingatkan majikannya yang masih tertidur pulas dengan raut wajahnya yang lucu dan sepintas seperti bayi mungil. Setelah sekian detik mununggu tak ada jawaban, pria itu mengeluarkan suaranya lagi dengan lembut, “Tuan, bangunlah, kita sudah sampai.”

 

“Eunghh ….” Nah, akhirnya bangun juga. Lelaki tampan sekaligus dibumbuhi kesan cantik dan imut itu menggeliat, menggerakkan tubuhnya yang lumayan terasa pegal. Kedua tangannya mengucek-ngucek (?) matanya guna menyesuaikan fungsi retinanya secara normal dari sisa-sisa tidur nyenyaknya-meskipun tidur dalam posisi duduk.

 

“Ugh … Ahjussi, benarkah kita sudah sampai?” pria yang dipanggil ahjussi itu mengangguk membenarkan seraya tersenyum. Sekejab saja, lelaki mungil itu langsung membulatkan matanya lalu mengerjab-ngerjab imut saking senangnya. “Uwahhh … benarkah? Benarkah? Dan benarkah, Ahjussi?” sekali lagi sang pria paruh baya mengangguk. “Yeyyy … akhirnya sampai~” lanjutnya girang.

 

“Ah, iya-” lelaki itu segera menurunkan jendela kaca mobilnya, kemudian menyembulkan kepalanya bersemangat, “-wow! Sekolahnya keren!” lelaki bersurai blonde itu berdecak kagum begitu pandangannya tertuju pada gedung mewah di depannya. Benar-benar sekolah SMA impiannya.

 

“Kyaaa!!! Kyeopta~!!!” histeris beberapa siswi yang berdiri tak jauh dari depan lelaki imut yang kini mengerjab bingung dengan tingkah mereka. Tak hanya itu, sorot mata mereka seakan ingin menerkamnya dikarenakan saking menggemaskannya yang tentu saja mereka menganggap makhluk imut di depannya ini adalah seorang perempuan.

 

“Ugh~” keluh lelaki cantik itu dan dengan cepat mengakhiri aksi penyembulannya. Ia mengusap-usap telinganya yang berdengung dari teriakan yang berhasil masuk menyentuh saraf pendengarannya.

 

“Ugh, ada apa dengan mereka? Kenapa berteriak dan menatapku seperti itu? Ahjussi, apakah Ahjussi tahu, mereka kenapa?” tanyanya. Ia memberikan point bahwa gadis-gadis di luar sana aneh. Ia sungguh tak mengerti, saat dirinya tengah asyik menikmati bangunan mewah di hadapannya dalam beberapa detik, dirinya langsung disembur dengan penyambutan tak mengenakan seperti itu. Berteriak dan menggumamkan ‘kyeopta’. What kyeopta?! Apakah mereka berteriak bukan kepadanya? Tetapi mengapa tatapan mereka tertuju padanya yang seolah-olah ingin menelannya hidup-hidup? Awh, ia jadi pusing memikirkannya.

 

“Ne, Tuan Luhan, mereka kagum kepada Anda,” sahut ahjussi itu tanpa menghilangkan senyumnya.

 

“Mwo, kagum? Ya! Tapi mengapa mereka berteriak kepadaku dengan kata cantik, Ahjussi? Lihat Ahjussi, aku ini tampan!” lelaki cute bernama Luhan itu merengut kesal.

 

Pria yang berstatus sebagai sopir itu tergelak mendengar ucapan tuannya. “Ne, ne, Tuan Luhan tampan. Mungkin karena mereka melihat Tuan tidak dalam jarak dekat jadi mereka mengatakan demikian,” ujarnya mencoba ikut membela tuannya meskipun dalam hati menyetujui teriakan siswi-siswi di luar sana. Jika tidak seperti itu, tuannya akan berisik dengan mengatakan, ‘Lulu tampan bukan cantik! Lulu tampan bukan imut! Manly! Manly! Pokoknya Lulu tampan! Titik!’ berkali-kali sampai ada yang mengiyakannya.

 

Luhan menyunggingkan senyum puasnya dan berlaga sok tampan juga cool. Dan dilihat dari sisi manapun, tingkahnya kini di mata orang lain malah terkesan imut.
Walaupun masih kesal, Luhan melirik lagi ke luar karena belum mendapat apa yang diinginkan dan tujuannya berada di sini-tentunya mengabaikan gadis-gadis yang masih memujanya di luar sana.

 

“Hyaaa~ itu Jiyeon Noona! Ahjussi, lihat, Jiyeon Noona sudah muncul!” sekarang giliran Luhan yang berteriak heboh tatkala bola matanya yang sekilas menyerupai seekor rusa cantik menangkap sosok yang ditunggunya. Saking senangnya, Luhan sampai melonjak-lonjak dalam duduknya. “Ughh … Noona semakin cantik saja hihi ….,” gumamnya ramai (?)

 

“Ehhh, Tuan, hati-hati,” Supir Luhan mengingatkan. Pria itu mendadak khawatir melihat Luhan akan turun dari mobil dengan cara berantakan. Tuannya hampir terkantuk atap mobil sementara matanya terus tertuju pada seorang gadis yang dipanggil noona.

 

Begitu turun dari mobil dalam keadaan baik-baik saja, Luhan langsung melambai-lambaikan tangannya semangat pada Jiyeon. Sontak saja, siswi-siswi di sekitarnya menjerit bahagia. Selain senyuman lucu khas anak kecil, mereka juga bisa melihat sosok Luhan secara penuh.

 

“Huwaaa … dia benar-benar cantik!”

 

“Ne! Tubuhnya juga bagus! Tinggi lagi!”

 

“Ugh! Pipinya menggemaskan! Uahhh … bibirnya kecil tipis! Imuttt sekali~!”

 

“Arrrh … aku jatuh cinta pada rambutnya! Terlihat sangat lembut! Kyeoptaaa~~~”

 

“Hah? Kok, dadanya rata?!” sela seorang siswa yang sedari tadi menatap takjub pada Luhan sebelum menyadari kejanggalan itu.

 

“EOH???” siswi-siswi yang berisik itu langsung saja manatap bagian dada Luhan yang memang errr datar. Kemudian menatap wajah Luhan yang masih saja tertuju pada Jiyeon seakan tak mendengar teriakan menggelegar sejak tadi. Seperti membandingkan, mereka menatap wajah Luhan dan dadanya secara bergantian dengan pandangan cengo, terkejut, serta bingung. Lebih baik abaikan mereka dan mari beralih pada lelaki cantik bermarga Xi.

 

Luhan, lelaki berumur lima belas tahun yang masih duduk di bangku kelas tiga SMP ini menatap kagum seorang gadis bernama Park Jiyeon dengan mulut terbuka. Namun sayangnya gadis berambut panjang itu tengah menatap lurus sebuah gadget hitam di tangannya dengan wajah kesal. “Noona~” Luhan bergumam pelan, penuh kerinduan. Setelah tiga tahun tidak bertemu dengan seseorang yang dicintainya, perasaan rindunya itu langsung membuncah begitu saja.

 

Terlebih lagi, kini Jiyeon Noona-NYA terlihat lebih dewasa. Rambutnya juga berbeda. Dulu rambutnya hanya sebahu dan berwarna hitam, kini dibiarkan memanjang dengan warna blonde seperti miliknya. Tubuhnya juga terlihat lebih tinggi-sekitar 165 cm-tidak mungil seperti tiga tahun yang lalu. Berarti proses pertumbuhannya menaik cepat seperti dirinya 170 cm-yeah, meskipun teman-teman sebayanya sudah mencapai 178 cm, meskipun masih SMP.
Sekarang Jiyeon Noona semakin cantik dan manis pokoknya!

 

“Noona! Jiyeon Noona!” Luhan berteriak memanggil Jiyeon yang semakin lama semakin mendekatinya meskipun Jiyeon sendiri belum menyadari bahwa ada seorang bocah yang tanpa sengaja akan dihampirinya.

 

“Jiyeon Noona~~~” teriak Luhan lebih keras. Ia melambai- lambaikan tangannya semangat walau Jiyeon tidak melihatnya. Dan, sepertinya suara nyaring Luhan kali ini berhasil menarik perhatian Jiyeon.

 

***

 

~Jiyeon POV on~

Aku sedang kesal-kesalnya menatapi ponselku-aku menghubungi Sehun tetapi dia tidak menjawab panggilanku dan membalas pesanku-tiba-tiba seorang siswi yang ada di dekatku menyentuh bahu kananku dengan tepukan. Masih dengan kesal, aku menoleh pada yeoja itu, “Apa?” tanyaku ketus. Ingat, aku sedang kesal!

 

“Ya, Jiyeon-ah, ada yang memanggilmu,” jawab yeoja itu nampak antusias. Yeoja itu langsung menunjuk-nunjuk seseorang yang katanya memanggilku dengan semangat.

Aku mengikuti arah pandangnya dan terdiam sejenak. Errr-dia namja atau yeoja? Bingungku. Belum sempat aku berpikir panjang-panjang, yeoja tadi mendorongku hingga kini aku sudah berdiri di depannya.

“Jiyeon Noona~” panggilnya.

Eh? Dia mengetahui namaku? Aku tidak menjawabnya. Aku hanya menatapnya aneh dan agak risih juga dengan senyumannya yang mirip namja-namja tukang tebar pesona.

“Noona, aku Xi Luhan~” katanya sambil menyengir.

Entah kenapa aku semakin merasa risih padanya. Aku menamakannya kesan pertama yang buruk.

Eh, tadi bilang namanya Xi Luhan? Aku seperti pernah mendengarnya.

Luhan

Luhan

Lu-what the-?!

Apakah bocah menyebalkan itu?! Oh, ya Tuhan, kenapa aku bertemu lagi dengannya~~?!

~Jiyeon POV off~

 

“Ya! Apa yang kau lakukan di sini?!” sembur Jiyeon tiba-tiba. Ia menatap super sinis makhluk imut di depannya. Sedangkan Luhan, dia terlonjak kaget dan langsung menundukkan kepalanya. Jantungnya berdebar kaget sekaligus rindu.

 

“N-ne, Noona, Lulu mau menjemput Noona,” jawabnya malu bukan takut. Pokoknya, semarah-marahnya Jiyeon Noona, Luhan tidak menciut sedikitpun!

 

“Eoh?!!!” respons Jiyeon berjengit.

 

“Ayo Noona, kita pulang~” ucapnya yang sudah kembali riang. Dan tidak sopannya, Luhan langsung menarik pergelangan tangan Jiyeon.

 

Jiyeon memberontak, tapi tetap saja tak bisa melepaskan tangannya dari Luhan. Wajah Luhan memang cute tetapi tenaganya tetaplah kuat. Membuat Jiyeon berkali-kali mendengus sebal.

 

***

 

Luhan tak henti-hentinya melirik Jiyeon melalui sudut matanya. Bukan apa-apa, ia hanya merasa heran. Dulu saat keduanya berada dalam jarak dekat, Jiyeon selalu mengoceh tanpa henti yang semuanya berisikan betapa menyebalkannya Luhan dan hal-hal yang tidak disukai Jiyeon terhadap Luhan hingga membuat telinga Luhan terasa panas. Tapi kini, sejak tadi hanya ada keheningan di dalam mobil.

 

Merasa bosan, Luhan menyalakan ponselnya dan memasang headsetnya. Karena pada dasarnya Luhan selalu berisik-ikut bernyanyi-ketika mendengarkan musik, Luhan mulai membuka suaranya tak tanggung-tanggung.

 

Nuga nae sarmeul gyeoljeonghae haedapji ttawi
Chiwodwo l’ll show you right now
YOLO jeollo iriro jeoriro
Ja sumswieo (ooh la la la la) sumswieo (ooh la la la la)
YOLO jeollo iriro jeoriro
Ja sumswieo (ooh la la la la) sumswieo (ooh la la la la)
Let me breathe out
Uriga saneun bangsik jeolda eobseo gasik
Almanhan sarameun alji-

(MADTOWN-YOLO)

“Eoh, kita sudah sampai Noona~”

 

***

 

YOLO … jeollo iriro jeoriro. Sumswieo. Sumswieo-”

 

“Diamlah,” interupsi Jiyeon yang mulai gerahmendengar Luhan terus menyanyikan lagu yang sama sejak di mobil.

 

“Eoh? Kenapa memangnya, Noona?” Luhan memiringkan kepalanya bingung.

 

Jiyeon berhenti dan mendelik pada Luhan, “Aku bosan mendengarnya, Luhan!”

 

“Huffhh … arraseo,” desah Luhan dengan wajah cemberut.

 

Tanpa menekan bel, Jiyeon membuka pintu rumahnya. Sementara Luhan mengekor di belakang Jiyeon.

 

“Eomma … aku pulang~”

 

“Ne, selamat datang Jiyi, Lulu,” imbuh Ibu Jiyeon yang kebetulan tengah menuruni anak tangga.

 

“Nah, Jiyi, Eomma keluar sebentar, ne? Dan Lulu, kalau Lulu merasa lapar, mintalah pada Jiyeon Noona untuk menyiapkan makanan.”

 

“Baik, Ahjuma, gomawo~”

 

Setelah Ibu Jiyeon berlalu, Jiyeon kembali mengayunkan kakinya menaiki anak tangga. Baru saja beberapa langkah, Jiyeon menghentikan ayunan kakinya karena merasa diikuti. “Ya Luhan! Kenapa kau mengikutiku?!” kesalnya.

 

“Ugh, terus Lulu harus ke mana?” tanyanya sedikit memelas.

 

“Ke ruang tengah saja sana!” menurut, Luhan berbalik dan menuruni beberapa anak tangga.

 

‘Ting … tong ….’

 

“Eoh, sekalian buka kan pintu!”

 

“Ne~”

 

‘Klek ….’

 

Luhan menaikkan sebelah alisnya tinggi-tinggi begitu mendapati tamu seorang lelaki tampan berkulit pucat. Lelaki itu menunjukkan senyum ramahnya namun Luhan tetap diam dengan bibir yang sedikit mengerucut.

 

“Nugu?” tanya Luhan agak ketus.

 

“Ah, annyeong, Sehun imnida, temannya Jiyeon. Apakah dia ada di rumah?” Sehun bertanya sambil melihat-lihat ke dalam.

 

“Eunggg … hanya teman?” Sehun mengangguk, menahan tangannya untuk tidak mencubit pipi yeoja-eehhh, yeoja?!-di hadapannya ini.

 

“Ne! Hanya teman.”

 

“Eummm … baiklah, Lulu percaya-” Luhan menyodorkan tangannya pada Sehun dan disambut dengan baik oleh lelaki albino itu, “-Luhan imnida. Hehe ….”

 

***

 

“Ne Luhan, kenapa ada di Rumah Jiyeon, heum?” tanya Sehun setelah mendudukkan butt-nya di sofa ruang tamu.

 

“Oh, Lulu lagi main hihi … ah, Lulu baru sadar, apa yang dibawa di dalam kantung kresek itu? Eunggg … seperti-”

 

“-Bubble Tea,” sela Sehun, menyunggingkan bibirnya.

 

“MWO?” kaget Luhan dengan mulut membulat penuh antara terkejut juga senang. Bola matanya berbinar-binar lucu-aih, imutnyaaaaa~

 

BUBBLE TEA?

 

OH MY~ BUBBLE TEA~~~~

 

Itu adalah minuman favorite Luhan yang sudah tidak dirasakannya lagi selama tiga tahun, dan sekarang minuman itu sedang ada di depan mata~~~

 

Sejurus kemudian, Luhan langsung memasang wajah seimut mungkin, puppy eyes beserta aegyo, ia perlihatkan semaksimal mungkin di hadapan Sehun yang duduk di sampingnya, “Eunggg … Hyungie, Hyungie tahu tidak? Lulu itu sangat sukaaaaa sekali Bubble-”

 

“Yak! Xi Luhan! Jangan bertingkah seperti itu! Kau benar-benar seperti yeoja!” sergah Jiyeon yang baru saja sampai di ruang tamu dan langsung mendapatkan pemandangan menjijikan menurutnya.

 

“Ugh … Jiyeon Noona mengganggu,” gumam Luhan pelan yang hanya bisa di dengar Sehun.

 

Sementara Sehun? Kini lelaki pucat itu tengah menatap horror Luhan dengan beberapa tenggukan di tenggorokannya.

 

J-jadi Luhan itu NAMJA!!!

 

Luhan memanggil Jiyeon ‘noona’? Selain itu, Jiyeon mengatakan, ‘… kau benar-benar seperti yeoja!’

 

Huweee … Sehun hanya bisa menelan dalam-dalam kekecewaannya. Tch, ternyata wajah menipu jenis kelamin!

.

.

***

.

.

**Part 1-END**

 

 

“Ahjumma, di mana Jiyeon Noona? Kenapa Noona tidak ikut makan malam bersama?” tanya Luhan yang merasa janggal. Kini Luhan memang sedang di Rumah Jiyeon lagi karena Ibu Jiyeon mengundangnya untuk ikut makan malam bersama.

 

“Ahjuma juga tidak tahu, Lu. Tadi sudah Ahjuma panggil tetapi tidak menyahut-nyahut. Kamarnya juga terkunci.”

 

“Eoh? Apakah mungkin Jiyeon Noona sudah tidur?”

 

“Eum, mungkin. Biasanya dia memang sering tidur lebih awal.”

 

“Eunggg … Ahjuma, mianhae, apa boleh seusai makan malam, Lulu ke kamar Jiyeon Noona?”

 

“Ne. Nanti Ahjuma kasih kunci kamar cadangannya.”

.

 

***

.

‘Klek ….’

 

‘Krakkk ….’

 

“Eoh?” Luhan mengernyitkan dahinya bingung saat tanpa sengaja kakinya menginjak sesuatu. Luhan segera menengok ke bawah kakinya.

Ponsel berwarna hitam

 

tergeletak begitu saja di lantai dalam keadaan baterai yang terlepas dari ponselnya. Layar ponselnya juga retak. Luhan beranggapan bahwa ponsel tersebut di lempar keras ke pintu oleh pemiliknya.

 

“N-noona, kau baik-baik saja?” Luhan bertanya, suaranya terdengar bergetar saking khawatirnya.

 

Tak ada jawaban.

 

Lantas, Luhan menaiki ranjang Jiyeon dengan perlahan. Luhan tidak bsa melihat wajah gadis itu karena memunggunginya.

 

‘Grep ….’

 

Luhan memeluk lembut tubuh Jiyeon-menyamping. Sebelah tangannya melingkari perut Jiyeon. “N-noona, hiks … kau tak apa?” Luhan terisak kecil di belakang kepala Jiyeon.

 

Luhan dapat merasakan bahwa tubuh Jiyeon bergerak. Sedetik kemudian, Jiyeon membalikkan tubuhnya menghadap Luhan dan langsung mencium kasar bibir Luhan.

 

Noona, kau menangis? Ada apa denganmu?

 

 

**See in the part END**

 

Pesanku untuk Jiyeon dan Luhan: Jangan terlalu lama-lama berduaan di dalam kamar, please~~~~ :v :v XD
.
.
Happy birthday LUHAN! My little deer^^
Semoga selalu diberi kesehatan dan tetap semangat!
Saranghae, Luhan! Dimanapun sekarang, kami sebagai fans akan selalu mencintaimu dan mendukungmu!
#HappyLuhanDay 20 April 2015

Finished : 20 April 2015 at 2.15 PM

Aku juga ucapkan happy birthday buat temanku MBP (dia seorang Fanboy EXO-sekaligus teman sekelas di tahun ini) yang ke-18. Semoga sehat selalu dan semoga apa yang diinginkan hari ini maupun esok, segera tercapai. Maaf telat mengucapkan, harusnya kemarin, 19 April 2015.

Buat temen-temen (readers) aku berharap kalian berkenan untuk meninggalkan beberapa kata tentang FF ini, di hari spesial untuk biasku hehe

EXO-L, Telekinetics, Queens, maupun fandom lain yang membaca FF ini, aku berharap kalian memberikan respon tentang FF ini.

Tidak memiliki akun wordpress juga tidak masalah, karena yang harus diisi adalah: Nama dan kolom komentar. Email dan alamat blog tidak perlu.

Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk membaca FFku yang tak seberapa ini.

I Love Luhan and Love Readers
Jeongmal gomawoyo

Xi Luhan (cr photo : Twitter)


 

 

 

CDBSSBfUMAAx2bg005YuRyrjw1eon5vi09yzj30ws1aonpd81acc165jw1ep48fjp62lj20nl0zggug


Advertisements

26 thoughts on “YOLO

  1. Bagus penasaran nih next…

    Like

  2. Good Thor….
    Next…

    Like

  3. keren chingu (Y) wlau lulunya krang meanly tpi ttep keren.. Cma skedar tanya jiyiny nangis knapa? Kok gk d critain.. Mkasih

    Like

  4. lulu…. kk kyeopta..hah

    Like

  5. endingnya sukses bikin penasaran

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s