Namitsutiti

[FF Freelance] 12.20

2 Comments


11160345_1606490289594415_566967130_n

Title : 12.20
Author : Hae
Main Cast : Lu Han (Actor) || Jeong Jang Mi (Oc/You) || Oh Se Hun a.s Lu Se Hun (Exo).
Genre : Romance || Sad
Leght : Oneshoot
Cover : Seftriani Sefi ~ grup Request poster by Cha Artwork.
Recomended Backsong : First Love versi Mandarin (Exo)

Summary : Jika kau menyukai sesuatu, biarkan. Jika datang kembali padamu, itu milikmu. Jika tidak, berarti bukan. (Dong Hae Suju)

Annyeong, mohon kritikannya…

Ff ini murni karya pemikiran khayalan athour yang idenya muncul dari mimpi-_-. Jujur author lagi ngak mood buat ff ataupun edit ff lama author. Tapi tiba-tiba mimpi gitu, ya udah author buat ff aja sekalian special buat gege Lu. Jadi maaf kalau ini hasilnya buruk.
Nama cast cuma meminjam, kecuali (oc), sepenuhnya cast milik Tuhan, keluarga, dan managenment.

Warning ! Typo bertebaran! Harap di maklumi, maaf kalau ada salah penulisan kata. Bahasa yang di gunakan juga bahasa sehari-hari anak muda umumnya. Mudah-mudahan bahasa gaulnya ngak nge-Alay.

Semoga dapet fellnya…

DON’T BASH, DON’T PLAGIAT, DON’T BE SIDERES, SIDERES KICK. JANGAN LUPA KOMENTAR!

^^12.20^^
—— ———— ——-

.
.
.
.
.
.
.

^^Happy Reading^^
.
.
.
.
.
.
.

Author pov.

Beijing. China
00.30 am

Angin berhembus pelan membawa debu jalan dan guguran bunga. Langit gelap masih setia menemani langit Beijing. Ibu kota negara yang terkenal dengan kepadatan penduduk dan kebesaran tembok yang masuk dalam warisan budaya UNESCO. Sang rembulan dengan bentuk sempurna dengan rombongan bintang kini menjadi penghias langit gelap kota Beijing.

Sebuah mobil dengan lebel ‘Taksi’ baru saja sampai di depan gedung apartement sederhana di pinggiran kota. Seorang gadis dengan celana jeans biru dongker, kaos putih polos dengan kemeja kotak-kotak putih dan hitam baru saja turun. Dia membenarkan tas ranselnya sambil menunggu supir taksi menurunkan barang bawaan berupa koper di bagasi. Dia menatap lurus kedepan. Menatap gedung yang akan menjadi tempat tinggalnya untuk 1 tahun ke depan.

“Tidak buruk.” gumamnya

“Ah. Xie xie (Terimakasih)” ucapnya sambil mengambil koper coklat besarnya dari tangan supir taksi. Gadis itu menyerahkan beberapa lembar Yuan dan kembali mengucapkan terimakasih sambil membungkuk. Dan mobil ber-roda empat itu sudah hilang dari pandangannya.

Gadis itu menghembuskan nafas kasar dengan bibir yang di kecurutkan sambil melirik jam putih di tangan kirinya. Dia menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa memprediksi dengan benar waktu tibanya di Beijing.

Dengan langkah pelan dia menarik kopernya memasuki gedung di depannya.

.
.
.
.
.
.
.

“Huh. Untung di lantai 3.” gumamnya sambil mengatur deru nafas yang memburu. Dia baru saja menaiki tangga darurat.

“Kenapa juga liftnya macet. Sial.” dumalnya sambil mengibaskan kedua tangan di depan wajah dan bersandar pada salah satu pintu.

Lorong dengan kanan-kiri sebuah pintu nampak begitu mencekam. Membuat bulu kuduknya meremang, di angkat satu lengannya dan mengusap belakang lehernya.

“Huh. Efek kebanyakan nonton filem horor.” gumamnya lalu membuka tas ransel yang ditempatkan di depan dadanya. Mengambil botol air mineral untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering. Belum sepenuhnya air itu masuk ke dalam tenggorokan, pintu yang menjadi sandarannya tiba-tiba terbuka.

“Bukkkk!”

“Uhhhukkk … Uhhhukkk.”

“Aww. Apeun (Sakit)” ringgisnya karena bokongnya sukses mendarat pada lantai dan air mineral membasahi wajah dan pakaiannya.

“Dangsin-eun gwaenchanh-a? (Kamu tidak apa-apa)” sebuah suara menyadarkannya. Tunggu kenapa suara itu mengunakan bahasa tanah kelahirannya. Ini Beijing kan bukan Seoul? Pikirnya.

“Gwaenchanh-a?” suara itu kembali menyadarkannya.

Dia mendongkak untuk melihat dan betapa takjubnya saat melihat seorang namja di depannya kini tersenyum menatapnya. Bagaikan di sihir senyum itu mampu membuatnya menjadi lemas dan susah untuk bernafas. Dunia mendadak berhenti, gelap dan hanya ada sebuah cahaya yang menerangi namja di depannya.

“Nona?” sebuah tangan menari-nari di depan wajahnya membuatnya tersentak.

“Eoh. Dangsin-eun hangeul-eul malhal su issneunga? (Kamu bisa berbicara hangul).” ujarnya sambil berdiri di bantu namja di depannya.

Namja itu tidak menjawab hanya tersenyum. Senyum yang sungguh amat manis dimatanya.

“Lama-lama aku bisa diabetes.” ucapnya dalam hati.

“Aku mendengarmu berbicara hangul. Apa kau orang Korea?” tanya namja itu.

Dahinya menyerit dan matanya menyipit. “Ne. Aku orang Korea.” jawabnya.

Namja itu mengangguk mengerti dan lagi-lagi tersenyum manis. “Selamat datang di Beijing. Aku Lu Han.” namja itu mengulurkan tangannya.

“Eoh. Kau orang China? Aku Jeong Jang Mi.” ujarnya kaget sambil menerima uluran tangan Lu Han. Dingin. Itu yang Jang Mi rasakan. Lu Han hanya menganggukan kepalanya.

“Senang berkenalan denganmu nona Jeong.” gumam Lu Han

“Ani. Panggil aku Jang Mi.” ujar Jang Mi

“Ne. Senang berkenalan dengamu Jang Mi-ssi.”

“Ani. Jangan seformal itu. Jang Mi tampa embel ssi.” ujar Jang Mi membuat Lu Han tertawa.

“Kenapa?” tanya Jang Mi heran. Tidak ada yang lucu tapi kenapa namja di depannya tertawa.

“Tidak. Kau lucu.” ujar Lu Han.

“Hah? Aku hanya tidak suka jika ada yang memanggilku dengan embel-embel ssi. Lagi pula ini di Beijing bukan Korea.” gumam Jang Mi.

“Apa kau penghuni baru kamar 12.21?” tanya Lu Han.

“Dari mana kau tau?” tanya Jang Mi

“Kamarku 12.20. Dan kamar mu berada di sebelah kiri kamar ku.” ujar Lu Han.

“Eoh?” gumamnya sambil mengedarkan arah pandangnya.

“Selamat malam Jang Mi.” ujar Lu Han tersenyum sebelum menutup pintunya.

“Pabo!” gumam Jang Mi sambil menepuk dahinya sendiri dan segera menarik koper dan masuk ke dalam apartementnya. 12.21.

***

^12.20^

.
.
.
.
.
.
.

Sang surya mulai muncul perlahan dengan sinar orangenya di bumi timur. Langit cerah dengan warna biru laut menyambutnya. Burung-burung kecil berterbangan dan mendarat di atap-atap rumah ataupun tangkai pohon. Mengeluarkan suara merdunya untuk pagi ini . Angin menyapu lembut debu jalanan dan kertas kecil yang tergeletak di jalan.

.
.
.
.

Sebuah tirai putih bergerak pelan tertiup angin. Dan sinar mentari menerobos melalui jendela kamar. Gadis yang masih dalam alam fantasinya terusik dan menarik selimutnya.

“Kring~Kring~Kring.”

Benda persegi panjang berwarna putih itu bergetar di atas meja kecil samping tempat tidur membuat gadis itu mengerang kesal.

“Iya. Iya aku bangun oke.” gumamnya sambil mematikan progam alaramnya.

Matanya masih terasa berat karena baru bisa menutup mata dua jam yang lalu. Jang Mi kesulitan hanya untuk memejamkan matanya. Bayangan namja bernama Lu Han yang tersenyum manis selalu muncul dalam benaknya. Membuat Jang Mi kesal sendiri. Dengan pelan ia turun dari ranjang dan memakai sandal rumahnya. Menguap sambil mengulung asal rambutnya dan masuk ke dalam kamar mandi.

Di dalam kamar mandi sambil menyikat giginya Jang Mi menatap pantulan dirinya. Kenapa pipinya bisa bersemu merah hanya dengan mengingat wajah Lu Han. Jang Mi mengeleng sambil terus mengosok giginya.

Setelah 15 menit di habiskan untuk membersihkan diri. Jang Mi mulai merapikan barang bawaannya dan memasukan pakaiannya ke dalam lemari. Untungnya Jang Mi sudah menyuruh orang dua hari sebelumnya untuk membersihkan apartementnya. Tidak terasa hari sudah semakin siang dan matahari berada tepat 90° di atas bumi. Jang Mi belum mengisi perutnya sama sekali jadi ia putuskan untuk keluar membeli makan dan beberapa kebutuhan dapurnya sekalian pergi ke tempat kerja untuk mengurus beberapa berkas yang belum terselesaikan.

.
.
.
.
.
.
.
.

^12.20^

Langkah kaki Jang Mi berhenti di depan pintu apartement 12.20. Apartement Lu Han. Dan tampa sadar bibirnya tertarik membentuk sebuah lengkungan yang membuat sudut pipi kirinya terdapat lubang kecil.

Jang Mi memutuskan untuk berjalan kaki menuju tempat tujuannya. Karena jaraknya tidak terlalu jauh dari apartementnya. Panasnya sinar matahari tidak mengurangi semangatnya. Dia berjalan pelan bersama pelajan kaki lainnya melewati beberapa bangunan di sebelahnya. Kota Beijing tidak jauh berbeda dengan kota Seoul.

“Aku pasti betah disini.” gumam Jang Mi sambil tersenyum dan mendongkak memandang langit dengan gumpalan putih yang berjalan di atas dengan warna dasar biru muda. Kedua tangan ia letakan di atas dahinya untuk menghalau sinar mentari.

“Jeong Jang Mi. Hwaiting!” serunya

***

.
.
.
.

Kaki jenjang dengan sebuah flat coklat muda dan hitam itu, dengan pelan menaiki anak tangga. Kedua tangannya kini mengenggam paper bag.

“Yeoboseyo?” ujarnya setelah ponsel di saku jaketnya bergetar. Ia berhenti sejenak untuk mengatur barang bawaannya.

“Kau sudah tiba di Beijing, sayang?” suara lembut terdengar di sebrang telephone.

“Ne. Mianhae bunda, Jung Mi lupa mengabari.” ujarnya pelan.

“Ne. Gwaenchanh-a. Yang penting kau sudah selamat sampai tujuan.”

“Jaga kesehatan bun, Aku titip salam untuk Ayah dan Il Hoo.” ucapnya sambil membuka pintu apartement.

“Ne. Kau juga jaga kesehatan dan jangan makan sembarangan.”

“Ne. Bye. I love you mom.” ucapnya sambil menaruh barang bawaan di conter dapur.

“Bye. Love you too.”

Setelah sambungan terputus ponsel putihnya kembali di masukkan kedalam saku jaketnya. Jang Mi membuka satu persatu barang yang ia beli di supermarket sebelum pulang. Hampir 2 jam ia berada di luar untuk mengurus segala sesuatu tentang kepindahannya.

“Ah. Iya lupa kue bronis ini untuk Lu Han.” gumamnya sambil tersenyum saat menemukan satu kotak dalam paper bagnya.

^^12.20^^

.
.
.
.
.
.
.

Dengan sedikit merapikan tatanan rambut, tangan Jang Mi mulai menekan tombol bel pada pintu apartement Lu Han.

“Apa tidak ada orang.” gumamnya saat ia sudah beberapa kali menekan bel. Tapi tidak ada tanda-tanda pintu di depannya akan terbuka. Jang Mi menghela nafas pelan.

“Ya sudahlah nanti malam saja.” gumamnya dan meninggalkan pintu bernomor 12.20.

“Blush…. ”

Baru satu langkah, Jang Mi merasakan adanya angin kencang yang berhembus di belakangnya. Jang Mi merasakan bulu kuduknya berdiri. Dengan pelan Jang Mi menoleh ke belakang. Kosong. Tidak ada siapapun. Dan dengan cepat Jang Mi kembali masuk ke dalam apartementnya.

Entah kenapa ia jadi parno sendiri.

***

^12.20^

.
.
.
.
.
.
.

Jang Mi tersenyum melihat pantulan dirinya di depan kaca riasnya. Dress putih dengan renda melekat sempurna di tubuh rampingnya. Tidak lupa Jang Mi menjepit poninya kesamping untuk membuatnya nampak lebih angun. Setelah merasa puas Jang Mi melangkah pasti meninggalkan apartementnya. Jang Mi tidak mengerti kenapa ia begitu repot-repot begini, berjam-jam ia habiskan hanya untuk memilih pakaian yang di rasa cocok untuk mengantar kue bronis pada Lu Han sebagai tetangga baru. Tadi siang ia tidak seperti itu saat mengantar kebeberapa tetangga yang lain. Aneh. Pikir Jang Mi.

Tangannya hendak menekan bel apartement Lu Han tapi pintu di depannya tiba-tiba terbuka sendiri. Membuat Jang Mi menyerit heran namun tidak lama ia putuskan untuk masuk.

“Permisi. Ada orang?” seru Jang Mi

“Lu Han.”

Jang Mi berjalan pelan memasuki apartement Lu Han dan bau mint menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya. Jang Mi melihat sekeliling apartement Lu Han. Apartementnya sedikit berbeda dari miliknya. Ini lebih luas dan juga banyak barang-barang mewah dengan dominasi warna putih begitupun dengan temboknya.Jadi Jang Mi simpulkan bahwa Lu Han itu orang kaya.

Jang Mi nampak asyik melihat-lihat apartement Lu Han. Lu Han orang yang cukup rapi dan berselera baik dalam menata setiap barang di apartementnya. Jang Mi melihat deretan foto dan piagam yang ada di atas lemari panjang yang tingginya hanya sepingangnya. Matanya menyipit dan tersenyum samar.

“Pantas bisa berbicara hangul. Dia pernah tinggal di Korea untuk pertukaran mahasiswa.” gumam Jang Mi saat melihat sebuah piagam.

“Hkem…. ”

Sebuah deheman membuat Jang Mi tergejolak kaget. Dan terdengar suara kekehan di belakangnya. Jang Mi sudah tau siapa pemilik suara itu. Lu Han.

“Maaf. Aku tidak bermaksud lancang. Tapi tadi pintunya terbuka sendiri.” ujar Jang Mi sambil membungkukan kepalanya dan mencoba menjelaskan. Semoga Lu Han tidak marah.

Lu Han tersenyum melihat tingkah yeoja di depannya.
“Ah apa yang kau bawa?” tanyanya saat sadar Jang Mi membawa sesuatu di tangannya.

“Oh ini bronis keju. Untukmu.” Jang Mi menyodorkan kotak yang ia bawa kepada Lu Han.

“Dari mana kau tau aku sangat suka keju?” gumam Lu Han.

“Hah? Benarkah? Padahal aku hanya asal membelinya karena memang aku sangat suka bronis yang banyak kejunya.” ujar Jang Mi.

“Kebetulan sekali kita sama-sama sangat menyukai keju. Duduklah akan aku buatkan minum.” ujar Lu Han

Jang Mi mengangguk dan duduk di sofa ruang tamu di apartement Lu Han. Sedangkan Lu Han kini menyibukkan dirinya di dapur.

“Jus stroberry.” seru Lu Han sambil membawa nampan dengan dua gelas berisi jus dan piring berisi bronis yang di bawakan Jang Mi.

“Eoh. Darimana kau tau aku suka jus stroberry?” tanya Jang Mi saat Lu Han sudah duduk di sampingnya.

“Benarkah? Wah. Kita memiliki kesamaan lagi. Aku juga sangat suka jus stroberry.” jawab Lu Han sambil mengelus puncak kepala Jang Mi dengan senyum manisnya.

Jang Mi hanya terdiam, kaget dengan prilaku Lu Han. Jang Mi berusaha mengatur detak jantungnya dan juga kegugupannya.

“Apa tadi siang kau kemari?” tanya Lu Han sambil menyalakan tv di depannya.

“Eoh?” Jang Mi menoleh dengan tampang polosnya.

“Aku hanya menebak saja.” gumam Lu Han.

Jang Mi mengangguk pelan. Entah kenapa suara tiba-tiba menghilang.

“Aku tidak ada di rumah jika pagi hari. Setelah matahari terbenam baru aku di rumah.” ujar Lu Han sambil memakan bronisnya.

“Bekerja?” tanya Jang Mi

Lu Han hanya mengangguk pelan dan tersenyum manis. Membuat Jang Mi benar-benar merasa sesak dan kesulitan bernafas.

“Kau kuliah atau bekerja?” tanya Lu Han memulai obrolan.

“Bekerja.” jawab Jang Mi.

“Dimana?” tanya Lu Han.

Jang Mi menoleh dan menatap Lu Han yang kini juga menatapnya.

“Rumah sakit SH milik Lu. Crop.” jawabnya

“Kau dokter?”

“Bukan.” jawab Jang Mi sambil mengelengkan kepalanya.

“Perawat?” tanya Lu Han lagi.

“Bukan. Aku ahli gizi.” jawab Jang Mi membuat Lu Han mengangguk paham.

“Lalu kau?” tanya Jang Mi.

“Aku juga sama denganmu.” jawab Lu Han.

“Hah? Kau-” belum sempat Jang Mi menyelesaikan kalimatnya ponsel di saku dressnya bergetar.

“Hallo. Ah benarkah? Kalau begitu tunggu sebentar.” ujar Jang Mi sambil tersenyum sungkan pada Lu Han yang kini mengangkat bahunya.

“Lu Han sepertinya aku harus kembali. Temanku dari Korea datang dan dia di bawah.” ujar Jang Mi.

“Ne. Aku mengerti.” jawab Lu Han.

“Terimakasih. Selamat malam.” Jang Mi membungkuk.

Lu Han mengantar Jang Mi sampai di depan pintu apartementnya.

“Terimakasih untuk kue bronisnya. Jangan sungkan untuk main ke tempatku. Dan satu lagi sepertinya aku lebih tua darimu.” ujar Lu Han.

“Ah. Maaf.” ujar Jang Mi.

“Panggil aku gege. Akan kelihatan lebih baik dan akrab?” ujar Lu Han.

“Ne. Terimakasih Lu, ah maksudku terimakasih gege dan maaf.” Jang Mi kembali membungkuk membuat Lu Han tidak bisa berhenti tersenyum.

“Selamat malam Jang Mi. Mawarku.” gumam Lu Han pelan sebelum menutup pintu.

“Jang Mi. Mawarku.” gumam Jang Mi yang masih bisa mendengar ucapan Lu Han barusan. Senyum terukir di wajah manisnya. Entah kenapa ia merasa sangat senang.

***

^^12.20^^

.
.
.
.
.
.
.
.

Jang Mi menghentikan gerakan tangannya yang hendak membuka apartementnya saat setangkai bunga mawar putih tergeletak di bawah kakinya.
Jang Mi tersenyum dan mengambilnya. Di hirupnya aroma wangi bunga mawar putih di tangannya.

“Untuk Jang Mi. Mawarku yang cantik.” Jang Mi tersenyum lebar setelah membaca note kecil yang ada pada tangkai bunganya. Dia sangat senang dan dia tahu siapa pengirimnya. Hampir setiap hari menjelang petang bunga ini akan ada di depan apartementnya.

Jang Mi masuk dan meletakan bunganya di vas bersama bunga yang lain. Jang Mi tidak bisa berhenti tersenyum. Korden di jendela apartement Jang Mi tiba-tiba bergerak karena adanya angin yang cukup kencang. Buru-buru Jang Mi menutup jendelanya. Entah kenapa ada rasa yang berbeda beberapa hari ini. Entah rasa apa Jang Mi masih tidak tau.

^^12.20^^

“Apa kau suka bintang?” tanya Lu Han sambil menoleh dan menatap Jang Mi.

Jang Mi mengeleng sambil menatap hamparan langit tampa menoleh ke arah Lu Han.

“Kenapa?” tanya Lu Han

“Karena aku suka bulan.” jawab Jang Mi menoleh dan tersenyum yang juga di balas senyum yang tak kalah manisnya.

“Tapi aku suka bintang.” gumam Lu Han.

“Eoh?”

“Maukah kau belajar mencintai bintang.” ucap Lu Han.

Hening. Mereka menatap satu sama lain. Hingga Jang Mi mengangguk pelan dan tersenyum manis.

Seminggu berlalu, hubungan Lu Han dan Jang Mi semakin dekat. Seperti saat ini mereka sedang mengobrol di balkon kamar mereka yang memang bersebelahan. Jang Mi juga sering berkunjung ke apartement Lu Han di malam hari, membawakan makan malam dan akhirnya mereka akan makan malam bersama.

“Sepertinya aku mencintaimu.” gumam Jang Mi lirih.

“Masuklah. Dan selamat malam mawarku.” ujar Lu Han dan melangkah masuk ke dalam kamarnya.

“Gege.” panggil Jang Mi.

Lu Han menghentikan langkahnya dan menoleh. Jang Mi tersenyum .” Wo ai ni.” ujarnya dan berlari masuk kedalam kamarnya.

Lu Han hanya tersenyum dan mengeleng pelan.

***

Cinta, kita tidak tau kapan datangnya. Pada siapa dan mengapa? Cinta adalah satu kata penuh makna namun tidak berwujud. Cinta, tidak bisa kita lihat namun bisa dirasakan. Dan cinta bisa membuat rasa yang sakit bahkan lebih sakit dari mengoreskan pisau pada kulitmu sekalipun.

Banyak pria yang menginginkan menjadi cinta pertama untuk wanitanya. Dan wanita menginginkan menjadi cinta terakhir untuk prianya.

Dan yang dinamakan cinta itu harus rela berkorban dan menjadi korban. Seperti halnya hukuman mati. Di tembak atau di gantung. Cinta yang berliku dan menempuh jalan yang sulit maka itulah yang di sebut cinta penuh pengorban dan perasaannya akan sangat dalam.

Cinta dengan seribu alasan dan cinta tampa alasan. Adalah dasar untuk kita memahami dan mengerti arti cinta sesungguhnya.

^^12.20^^

.
.
.
.

@. Hospital.
10.00 am.

Jang Mi melangkah menuju tempat divisi rawat nginap. Dia ingin memberi data mengenai beberapa pasien yang sudah berkonsultasi padanya. Juga ingin meminta daftar pasien lainnya. Dengan jas putih kebesarannya ia melangkah dengan pasti.

“Ah. Nona Jeong.” sapa salah satu perawat.

“Nona Lau boleh aku minta daftar pasien barunya.” ujar Jang Mi.

“Sebentar Nona. Nona duduklah.” ucap sang perawat.

“Kau ini masih selalu formal padaku.” dumal Jang Mi sambil duduk di kursi yang tadi di duduki oleh Lau.

Pandangan mata Jang Mi tertarik pada salah satu koran yang tergeletak tak jauh darinya. Di ambil lah koran tersebut. Dan seketika matanya membulat. Dadanya sesak. Tangannya bergetar yang kini mengenggam erat koran.

“Kenapa?” tanya Lau yang baru datang dengan berkas di tangannya. Menatap orang di depannya dengan bingung.

“Koran ini. Berita ini.” gumam Jang Mi dengan nafas tersegal-segal.

“Nona Jeong. Kau baik-baik saja?” tanya Lau.

Jang Mi mengeleng pelan. Keringat dingin mulai muncul di dahinya. Wajahnya mendadak pucat.

“Berita ini.” gumam Jang Mi.

“Berita. Oh berita itu. Itu koran seminggu yang lalu. Aku lupa belum menyingkirkannya karena memang berita itu hingga saat ini masih hangat di perbincangkan. Putra salah satu pejabat kemiliteran termasuk pemilik rumah sakit ini dan dokter disini mengalami kecelakaan dan dokter Lu meninggal di tempat.” jawab Lau dengan wajah sedihnya.

Jang Mi terdiam. Entah kenapa perkataan Lau begitu memukul hatinya. Beberapa gambaran melintas di benaknya. Gambar mobil yang tercetak di halaman koran dengan bentuk yang tidak utuh adalah mobil taksi yang di tumpanginya seminggu yang lalu. Jang Mi ingat karena ia tau plat mobil taksi itu. Karena sesudah turun dari taksi. Jang Mi memandangi mobil taksi itu hingga hilang dari pandangannya. Dan foto seorang pemuda yang tersenyum manis yang di sebutkan sebagai korban yang tewas seperti yang bilang Lau membuat Jang Mi merasa dunianya mendadak gelap. Jang Mi langsung berdiri dan berlari.

“Nona Jeong.” seru Lau yang bingung dengan sikap Jang Mi.

***

Jang Mi tidak peduli beberapa kali orang mengumpat dan memarahinya karena ia menabraknya. Jang Mi berlari dengan kencang sambil menangis. Semua benar-benar tidak ia mengerti.

“Tidak. Tidak mungkin.” gumam Jang Mi.

Dengan nafas memburu Jang Mi langsung berlari masuk ke dalam gedung apartementnya. Jang Mi langsung mengedor pintu apartement Lu Han.

“Gege.” teriaknya

“Gege.” teriak Jang Mi dengan tangisnya.

Bayang kejadian beberapa hari lalu berputar di benaknya.

“Gege. Hisk….” Jang Mi merosot dan menangis.

Flashback…

“Oh. Jang Mi?” Lu Han tersenyum sambil mengebulkan kepalanya dari pintu apartementnya yang di buka sedikit.

“Em. Apa gege sudah makan malam?” tanya Jang Mi.

“Belum.” jawab Lu Han.

“Ah. Kebetulan aku bawakan makan malam untuk gege.” seru Jang Mi dengan riang.

“Benarkah? Masuklah!” Lu Han membuka lebar pintu apartementnya.

@.

“Makan mu itu seperti anak kecil saja.” Lu Han membersihkan noda yang terdapat di sudut bibir Jang Mi.

Jang Mi terdiam sambil menatap Lu Han yang tersenyum dan mejilat bekas saus yang di jarinya. Bekas noda yang terdapat pada sudut bibir Jang Mi. Jang Mi menelan makannya dengan susah payah.

@.

“Gege tinggal sendiri?” tanya Jang Mi saat keduanya sedang menonton sebuah filem bersama.

“Tidak. Aku bersama mu sekarang ” jawab Lu Han sambil menarik kepala Jang Mi untuk bersender di bahunya.

Lu Han mengaitkan jemarinya pada jemari Jang Mi. Jang Mi mendongkak dan menatap Lu Han. Menatap mata rusa itu. Lu Han memainkannya jemarinya dan tersenyum manis kearah Jang Mi.

“Mianhae.” ujar Lu Han pelan.

“Untuk?” tanya Jang Mi.

“Maafkan aku mawarku.” ujar Lu Han sambil mengecup pungung tangan Jang Mi.

@.

“Sedang masak apa?” Lu Han berdiri di samping Jang Mi yang sedang sibuk untuk membuat makan malam mereka.

“Astaga. Ge kau mengagetkan ku.” Jang Mi meninju pelan perut Lu Han.

“Haha. Maaf tapi kau serius sekali.” Lu Han menarik Jang Mi dan memeluknya dari samping. Menaruh dagunya pada bahu Jang Mi.

“Ge, nanti masakan ku gosong.” ujar Jang Mi.

“Sebentar saja. Biarkan aku memelukmu.” ujar Lu Han. Jang Mi terdiam dan akhirnya membalas pelukan Lu Han.

Flashback End.

“Gege. Hisk … Hisk.” Jang Mi menenggelamkan kepalanya di kedua lututnya. Ia menangis dan kepalanya terasa berat dan semuanya menjadi gelap.

***

Jang Mi membuka matanya perlahan. Butuh waktu lama untuk ia bisa membuka mata sepenuhnya. Kelopak matanya terasa berat dan seperti di lem. Jang Mi berusaha menoleh dan melihat dimana ia berada tapi sayang ia tidak bisa. Tubuhnya lemah dan terasa sakit.

“Je. Ya Tuhan terimakasih. Akhirnya putriku sadar.” seru nyona Jeong saat melihat jari-jari putrinya bergerak dan kelopak matanya terbuka.

“Sebentar. Bunda panggilkan dokter. Jangan paksa dirimu bergerak sayang.” nyonya Jeong menciumi dahi Jang Mi sambil menekan tombol di sisi ranjang Jang Mi.

Tak lama setelahnya seorang dokter dan perawat datang untuk memeriksa keadaannya. Dokter itu secara cekatan memeriksa Jang Mi. Jang Mi meneteskan air matanya dan ia ingin berteriak saat tau siapa orang di depannya.

“Keadaan putri anda jauh lebih baik nyonya. Ia berhasil melewati masa sulitnya. Jika kondisinya makin membaik maka semua alat di tubuhnya akan kami lepas.” ujar dokter

“Terimakasih dokter. Terimakasih dokter Lu.” ujar nyonya Jeong yang tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Ia menangis, menangis bahagia karena putrinya sudah sadar dari tidur panjangnya.

Jang Mi hanya bisa diam dan air mata terus mengalir dari sudut matanya. Sungguh ia tidak mengerti.

***

.
.
.
.
.

3 hari berlalu…

Angin berhembus pelan membuat Jang Mi memejamkan matanya membiarkan agin bermain dengan semurai hitamnya dan menerpa wajahnya. Air mata kembali menetes di pipi mulusnya. Jang Mi memandang kebawah sambil mencekram kuat korden di hadapannya. Jang Mi mencoba mengingat kejadian kecelakaan yang menimpanya. Tapi gagal Jang Mi tidak ingat apapun.

Seorang berjas putih sedang berjalan di bawah sana sambil membaca berkas di tangannya. Namja yang membuatnya sama sekali tidak mengerti.

Kesehatan Jang Mi sudah lebih baik maka dari itu semua alat yang terpasang pada tubuhnya sudah di lepas. Bundanya menceritakan bahwa taksi yang di tumpanginya mengalami kecelakaan saat menuju apartement. Dan mobil yang menabrak mobil taksi yang di tumpanginya adalah putra pemilik rumah sakit ini. Bundanya juga bilang hanya Jang Mi lah korban satu-satunya yang selamat. Jang Mi mengalami luka parah dan koma.

“Nona Jeong.” dokter Lu masuk dengan senyum khasnya.

Jang Mi mengeleng pelan. Senyum itu. Senyum yang membuat hatinya terasa sesak dan sulit bernafas.

“Waktunya pemeriksaan.” ujar dokter Lu. Seorang perawat membantu Jang Mi untuk berbaring di ranjangnya. Jang Mi hanya bisa diam.

“Lu Han gege.” panggil Jang Mi.

“Eoh?” dokter Lu menatap Jang Mi heran.

“Apa gege tidak ingat dengan ku.” tangis Jang Mi pecah. Ia menutupi wajahnya dengan tangan kanan yang tidak di infus.

“Nona tenanglah.” ujar sang perawat tapi tangis Jang Mi makin menjadi.

Dokter Lu hanya mengeleng pelan lalu menyuntikan obat penenang kepada Jang Mi. Hingga Jang Mi berhenti menangis dan dengan perlahan ia tertidur.

“Dia mengenal ku? Tentu saja aku dokternya dan aku juga memakai tanda pengenal. Tapi kenapa dia bilang aku tidak ingat dengannya?” ucap dokter Lu setelah keluar dari kamar rawat Jang Mi.

***

Next day….

.
.
.
.
.

Author pov.

“Gege benar-benar tidak ingat aku?” tanya Jang Mi saat dokter Lu memeriksanya untuk pemeriksaan rutin.

“Maaf. Nona Jeong. Tapi sungguh aku tidak mengerti apa yang anda tanyakan. Apa sebelumnya kita pernah bertemu? Jujur saja aku baru pertama bertemu denganmu saat kau menjadi pasienku.” ujar dokter Lu.

“Tapi nama dokter Lu Han kan?” tanya Jang Mi.

“Namaku memang Lu Han nona Jeong.” jawab dokter Lu membuat tangis Jang Mi kembali pecah.

“Kenapa gege jahat sekali. Kenapa gege tidak ingat aku. Aku Jang Mi. Jang Mi mawarmu.” ucap Jang Mi sambil menangis.

Lu Han terdiam. Dia bingung dengan ucapan yeoja yang merupakan pasiennya.

“Tenanglah. Dan jelaskan padaku.” Lu Han menyuruh suster yang bersamanya untuk keluar lebih dulu dan Lu Han menarik kursi di dekat Jang Mi.

Setelah Jang Mi sudah lebih tenang. Jang Mi menceritakan semuanya pada Lu Han. Semua yang membuatnya bingung. Lu Han mengangguk mengerti. Kemudian mengenggam tangan Jang Mi.

“Maaf nona tapi itu bukan aku.” ujar Lu Han pelan.

Jang Mi menatap Lu Han. Lu Han menghembuskan nafas perlahan.

“Memang benar namaku Lu Han. Tapi yang kau ceritakan bukan aku. Melainkan adik ku. Adik ku yang telah menabrak taksi yang kau tumpangi. Adik ku yang kau kenal nona. Adik ku yang tinggal di apartement 12.20. Dia adik ku Lu Se Hun.” ujar Lu Han.

Jang Mi mengeleng pelan. Sungguh ia semakin tidak mengerti dengan semua ini. Semua yang terjadi padanya.

“Istirahatlah. Lain waktu kita bicara lagi.” Lu Han meninggalkan kamar rawat Jang Mi.

***

^^12.20^^

“Wow. Benarkah?” tanya seorang namja berjas putih yang duduk di sebelah Lu Han.

Lu Han baru saja menceritakan apa yang baru ia dengar beberapa menit lalu dari bibir tipis Jang Mi pasiennya. Sungguh Lu Han saja bingung. Tapi ia yakin orang yang di maksud Jang Mi adalah Se Hun adiknya. Mereka adalah saudara kembar. Se Hun sudah meninggal beberapa lalu saat kecelakan yang juga membuat Jang Mi hampir kehilangan nyawanya.

“Ya. Dan aku rasa itu memang Se Hun.” ujar Lu Han

“Kau benar. Bukankah orang yang mengalami koma akan mengalami perjalan lain dalam tidurnya.” ujar Xiumin

“Kalau itu Se Hun. Tapi kenapa ia mengaku bahwa dirinya adalah aku?” tanya Lu Han.

“Soal itu aku tidak tau. Tapi mungkin saja kau dan gadis itu berjodoh.” ujar Xiumin sambil terkekeh.

“Sialan kau. Aku sudah menikah. Dan aku punya Lian. Kau ini.” ujar Lu Han sambil meninju bahu Xiumin.

“Tapi Lu. Pasien mu Jang Mi yang juga korban kecelakaan mobil adikmu. Dia melakukan perjalanan di alam tidurnya bersama Se Hun tapi Se Hun mengatakan bahwa ia adalah kau. Se Hun memang sangat menyukai mawar putih. Bunga kesukaan ibu kalian. Se Hun jugalah yang tinggal di apartemen 12.20 tapi kenapa bisa kebetulan begini.” ujar Xiumin.

“Itulah. Aku juga bingung.” guman Lu Han.

“Dokter Lu. Dokter istri anda.” seorang perawat berlari menghampiri Lu Han dan Xiumin dengan nafas tersegal-segal.

“Tao. Ada apa. Bicara yang jelas. Istriku kenapa?” ujar Lu Han panik.

“Lu tenang. Tao kenapa?” tanya Xiumin.

“Dokter Zhang bilang. Istri anda kritis. Dan beliau ingin bertemu anda.” ujar Tao.

@.

“Lian aku mohon bertahanlah. Sayang kau pasti sembuh.” Lu Han mengenggam tangan kurus istrinya dengan erat.

“Aku lelah gege. Aku ingin istirahat. Terimakasih sudah mencintaiku dan menjadi suami yang baik. Terimakasih untuk waktu dua tahun ini. Maaf aku banyak menyakiti dan menyusahkanmu. Maaf aku tidak bisa mempertahankan bayi kita waktu itu. Gege aku lelah. Aku ingin pulang.” ucap Lian dengan susah payah. Tubuhnya sangat lemah karena kanker darah yang di deritanya.

“Tidak sayang. Jangan meminta maaf. Kau adalah istri terhebat yang aku miliki. Aku mohon bertahan.” ujar Lu Han dengan tangisnya.

Xiumin, Zhang dan keluarga besar Lu hanya bisa terdiam. Mereka masih berkabung atas meninggalnya putra bungsu mereka. Dan sekarang menantu keluarga mereka.

“Gege. Tersenyumlah. Dan teruskan hidupmu. Aku yakin akan ada wanita yang jauh baik dariku. Kau harus berjanji.” ujar Lian sambil menghapus pelan air mata di pipi suaminya.

“Lian.”

“Gege. Aku pulang.” ujar Lian sebelum akhirnya menutup matanya dan tangan yang membelai pipi Lu Han terlulai lemah.

“LIAN. LIAN BANGUN AKU MOHON. JANGAN TINGGALKAN AKU.”

***

^^12.20^^

“Jadi dokter Lu sudah menikah?” tanya Jang Mi pada bundanya yang kini mengupas buah apel untuknya.

“Ne. Bunda dengar dari beberapa perawat disini begitu. Istrinya juga di rawat disini. Oia besok ayahmu dan Il Hoo datang. Mereka akan menjemput kita untuk pulang ke Korea.” ujar nyonya Jeong.

Jang Mi hanya mengangguk sambil memakan buah apelnya. Sudah hampir seminggu dokter Lu tidak lagi menjadi dokternya. Tugasnya di gantikan dokter Xiumin. Keadaan Jang Mi sudah lebih baik. Dan dia di perbolehkan pulang. Dan keputusan keluarganya adalah membawa Jang Mi kembali ke Korea. Jang Mi ingin bertemu dengan dokter Lu. Dia ingin berpamitan sekaligus menanyakan dimana makam Se Hun. Tapi situasi tidak mendukung. Jang Mi juga takut bertanya pada dokter Xiumin ataupun perawat dan petugas rumah sakit.

“Mungkin aku bukan takdirmu.” gumam Jang Mi. Dadanya terasa sesak saat mengetahui bahwa dokter Lu sudah menikah. Sungguh Jang Mi masih bingung dengan semua yang terjadi padanya tentang mimpi yang seperti nyata.

“Se Hun.” gumam Jang Mi. Ia ingat kata dokter Lu yang di dalam mimpinya adalah Lu Se Hun.

***

^^12.20^^

.
.
.

“Barang-barangnya sudah semua, sayang?” tanya nyonya Jeon sambil merapikan beberapa barang bawaannya di tas.

“Sudah Bunda.” jawab Jang Mi sambil memakai jaketnya.

“Yakin tidak perlu naik kursi roda nuna?” tanya Il Hoo

“Tidak. Aku sudah sehat. Kau tidak lihat.” ujar Jang Mi.

“Kau mewarisi sifat keras kepalaku.” ujar tuan Jeong yang baru masuk ke dalan kamar Jang Mi setelah mengurus administrasi pembayaran.

“Tentu saja. Dia anakmu.” gerutu nyonya Jeong.

Il Hoo dan Jang Mi hanya mengeleng melihat tingkah kedua orang tuanya.

“Nona Jeong ini berkas yang harus kau berikan kepada dokter Kim saat di rumah sakit Seoul untuk jadwal pemeriksaan rutinmu. Dan selamat jalan, semoga sampai Korea dengan selamat. Terimaksih dan mohon maaf untuk saya pribadi serta pihak rumah sakit. Lekas sembuh nona.” ucap Xiumin

“Terimakasih dokter. Maaf selalu merepotkan mu. Saya titip salam untuk keluarga Lu yang sudah berbaik hati membiayai semuanya. Dan untuk dokter Lu sampaikan permohonan maaf saya.” ucap Jang Mi.

“Terimkasih dokter.” ucap tuan dan nyonya Jeong.

“Sama-sama.” ucap Xiumin dengan senyum manisnya.

***

.
.
.
.

“Nuna. Kenapa kau menolak semua yang di tawarkan keluarga Lu untukmu. Beasiswa kuliah S2 di Beijing dan menjadi staf tetap rumah sakit milik keluarga Lu yang ada di Korea?” tanya Il Hoo saat mereka dalam perjalanan menuju bandara.

“Aku ingin melupakan semuanya. Dan tidak lagi berhubungan dengan keluarga Lu. Sudah cukup untuk biaya rumah sakit.” jawab Jang Mi.

“Ayah setuju apapun yang menjadi pilihan mu nak.” ujar tuan Jeong yang menjadi pengemudi.

“Kau bahkan menolak untuk di antar mobil keluarga Lu. Ah kau menyia-nyiakan kesempatan emas.” ujar Il Hoo

“Karena nuna mu berbeda dengan mu Il Hoo. Sudah duduk saja yang benar.” seru nyonya Jeong yang berada di kursi belakang bersama Jang Mi.

“Ayah. Bisakah antar aku ke apartementku.” pinta Jang Mi.

“Untuk apa?” tanya nyonya Jeong.

“Kau tidak meninggalkan barang apapun disana. Kau juga belum pernah kesana.” gumam nyonya Jeong.

“Baiklah.” ujar tuan Jeong.

@.

“Yakin tidak perlu aku temani nuna?” tanya Il Hoo

“Tidak. Kau dan bunda sudah bertanya itu berpuluh-puluh kali. Kalian tunggu disini. Aku tidak akan lama.” ujar Jang Mi.

“Kalau terjadi sesuatu hubungi kami.” ujar tuan Jeong yang mendapat anggukan kepala dari nyonya Jeong dan Il Hoo.

“Kami menunggu disini.” gumam nyonya Jeong.

Jang Mi mengangguk dan dengan perlahan memasuki gedung apartementnya. Apartement yang belum pernah ia tinggali. Begitulah kata ibunya. Tapi salah Jang Mi pernah tinggal disana walaupun hanya dalam mimpi.

Seperti saat pertama kali datang Jang Mi tidak mengunakan lift. Hitung-hitung olah raga dan melatih tubuhnya. Walaupun masih sedikit lemas. Dengan pelan Jang Mi menaiki anak tangga. De Javu.

Jang Mi memandangi pintu dengan nomer 12.20. Jang Mi mengeleng pelan dan melangkah untuk ke apartementnya. Langkah Jang Mi terhenti saat setangkai mawar segar tergeletak di bawah pintu apartementnya. Bukan mawar putih melainkan mawar merah. Jang Mi menunduk untuk mengambilnya.

“Jang Mi. Mawarku yang cantik.” sebuah suara mengema.

Jang Mi memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya perlahan. Ia tidak mau menoleh kebelakang. Dengan pelan Jang Mi membuka matanya dan berdiri. Ia membuka pintu apartement dengan passwordnya. Saat masuk Jang Mi kembali merasa. De Javu.

Vas bunga dengan beberapa bunga mawar yang sudah layu ada di meja ruang tengahnya. Jang Mi mengeleng pelan. Apa semua yang terjadi padanya adalah mimpi? Lalu semua ini apa? Jang Mi berlari keluar apartementnya. Dengan nafas memburu Jang Mi bersandar pada salah satu pintu apartement.

Jang Mi tidak sadar bahwa kini ia bersandar pada pintu apartement 12.20. Kejadian di alam mimpinya kembali dia lakukan. Dan saat Jang Mi sedang mengatur deru nafasnya dan detak jatungnya. Pintu yang disandarnya terbuka.

“Bukkk!”

“”Aww. Apeun (Sakit)” ringgis Jang Mi.

“Nona Jeong. Andakah itu?” sebuah suara membuat Jang Mi mendongkak. Dan betapa kagetnya ia saat melihat orang di hadapnya.

“Dokter Lu.” gumam Jang Mi.

End…

Yeee… Kelar… Huuuu
Aneh kan? Bingungkan? Hahahaha emang. Author juga… Hahahaha Gomawo mohon RCLnya. Kalau ada salah penulisan maklumi ya. Belum aku edit juga.

Dan selamat ulang tahun buat Lu Han gege. Judulnya kenapa 12.20 itu gabungan dari tanggal lahirnya Se Hun sama Lu Han. Jadi kangen HunHan-_-.
Dan kalau dari kalian pengen request cover ff bisa bergabung di group Request poster by Cha Artwork.

Terimakasih.

Advertisements

2 thoughts on “[FF Freelance] 12.20

  1. Kok nggantung ya thor…
    bikin sequelnya dong.

    Like

  2. sungguh terhura mimpi jang mi..
    Bkin squelny dong thor kasian jang mi’ny .. Kerasa bnget feelny.. Good job (Y)

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s