Namitsutiti

[FF Freelance] Falling in Love with a Nerd Boy Chapter 10

2 Comments


10609552_1543687595920547_4329693910521810431_n

Author : Rose Lyn
Chapter : 10
Credit poster by HRa – RCFF
Title : I’m Falling in Love with a Nerd Boy
Cast :
Xi Lu Han [Actor]
Park Hae Yeon [Original Character]
Etc.
Genre : School life, Friendship, Romance, Comedy (gagal), dll.
Leght : Multichapter
Rated PG +15 (bisa berubah sesuai mood saya)
Note : SIDERS ADALAH PENCURI!!!
Tolong tinggalkan jejak kalia
Summary :
Perjuanganmu membuatku luluh. Apakah aku jatuh cinta padamu, Nerd?

***

“Lu Han, k..ka..u mau apa?”.

Lu Han duduk disalah satu kursi dan menuntun Hae Yeon untuk duduk disampingnya.

Hae Yeon dengan muka super paniknya yang takut akan hal yang terjadi pada detik berikutnya, membuat jantungnya berdegup setengah mati.

‘bagaimana kalau Lu Han..?’

Astaga, bahkan pemikiran liar mulai berkeliaran. Membuat hati Hae Yeon makin tak tenang. Dengan segala rasa yang tersisa, Hae Yeon mencoba untuk tidak gugup dan berusaha bersikap sebiasa mungkin. Bahaya, jika Lu Han mengetahuinya.

Seperti lampu hijau.

Lu Han tersenyum dihadapan gadis itu. menghadapkan Hae Yeon kearahnya dan menggenggam kedua tangan gadis itu.

“Hae Yeon –ah”.

Hae Yeon merubah raut wajahnya. Terlihat sedikit lebih serius. meski pemikirannya masih belum bisa dikendalikan.

Sial. Hae Yeon mengumpat. Pemikirannya tak bisa lepas dari bayangan Lu Han yang menciumnya dengan begitu intens. Ini terlihat sedikit menyesakkan dadanya.

Astaga, Lu. Lihat, kekasihmu sudah kau nodai. Aku akan beritahu Chan Yeol dan kau mungkin saja akan langsung ditendang olehnya tongue emotikon author mah jahat. Biar yang penting Chan Yeol bahagia ^^

Lu Han serius. dengan segala apa yang sudah dia rancang semalam. Dia serius akan hal itu. Lu Han berdiri dari duduknya. Masih tanpa melepas genggamannya dari tangan gadis itu. dan tersenyum padanya.

Ini membuat Hae Yeon malah perpikiran jauh lebih buruk dari sebelumnya. Dia berpikiran kalau Lu Han akan mengikat tangannya dan…?? kalian tahu, anak kecil tidak boleh tahu.

*Author juga masih 15 tahun ‘kan? Iya, kenapa? Author juga masih anak kecil!! Iya juga ya. Ntar aku beritahu deh wink emotikon

Lu Han berlutut dihadapan gadis itu. membuat Hae Yeon setengah mati menahan nafasnya.

Lu Han akan apa?

Lu Han melepaskan genggamannya. Lelaki itu melepas kacamata bulatnya dihadapan gadis itu. Lu Han mengeluarkan sesuatu dari balik blazernya. Menatap sendu mata gadis itu.

“Hae Yeon –ah, Will you marry me?”.

Astaga.

Ini sebuah kejutan atau sebuah bom. Ini tepat meledak dan sedikit memberikan kesan shock yang dialami Hae Yeon.

Hae Yeon terpaku atas apa yang Lu Han lakukan padanya. Ini sedikit romantis, tapi tidak dengan tempatnya.

Hae Yeon cemberut. Gadis itu berdiri dari tempatnya dan menepis dengan cepat tangan Lu Han.

“Lu Han tidak romantis, Hae Yeon tidak suka”.

Hae Yeon merajuk? Ya, lebih tepatnya seperti itu.

“Hae Yeon –ah, bukankah Lu Han sudah berlutut dan mengatakan kata-kata romantis?”.

“Iya, tapi tempatnya tidak romantis”.

“Astaga”.

Lu Han mengacak rambutnya asal. Apa yang gadis itu katakan memang benar. tapi, tidak juga dengan hal yang baru saja gadis itu lakukan padanya.

“Baiklah, maafkan Lu Han. Hae Yeon sekarang pakai cincinnya ya?”.

“Tidak”.

“Kenapa?”.

“Sudah Hae Yeon katakan, tempatnya tidak romantis, Hae Yeon tidak suka”.

Lihat, bahkan muka Lu Han sudah dilipat-lipat seperti ketas tak terpakai. Menyebalkan jika sudah berhadapat dengan jiwa Hae Yeon yang seperti ini. Jauh dari kata kekanak-kanakan.

Ini jauh lebih buruk.

“Hae Yeon?”.

“Tidak”.

Bahkan beribu Lu Han memberikan Aegyo terbaiknya, gadis itu tak akan merubah pendiriannya.

Sudah kukatakan, jiwa Hae Yeon yang seperti ini jauh lebih sulit dihadapi ketimbang dengan anak bocah berumur 4 atau 5 tahun sekaligus yang minta dibelikan mainan. Setidaknya mereka masih bisa diracuni dangan embel-embel yang lainnya.

Beda dengan yang ini squint emotikon

“Hae Yeon, nanti Lu Han belikan es krim ya?”.

“Hae Yeon bukan anak kecil”.

“Lolipop?”.

“Nanti gigi Hae Yeon sakit”.

“Coklat?”.

“Eum..”.

Hae Yeon berpikir. Jiwanya anak-anak, tapi tubuhnya jauh lebih menggiurkan ketimbang anak-anak.

Ini memang sulit. Pada kenyataannya, Hae Yeon menyukai coklat lebih dari apapun. Jadi, tidak salah jika Lu Han mengeluarkan senjata pamungkasnya sekarang ‘kan?

“Tidak”.

Astaga.

Salah bila Lu Han sudah berharap dengan jawaban apa yang akan dikeluarkan gadis itu. karena detik berikutnya, gadis nya itu sudah pergi keluar. Melenggang jauh, tanpa pemberitahuan.

Tanpa babibu lama yang membuatnya berpikir jauh lebih baik, Lu Han segera pergi mengikuti langkah kaki Hae Yeon keluar dari perpustakaan.

Bahkan dengan sedikit berlari, Lu Han dan Hae Yeon terlihat seperti sedang bermain kejar-kejaran.

Dan sekarang, keduanya nampak seperti menjalani masa kecil kurang bahagia.

“Hae Yeon, menikahlah denganku!!”.

Lu Han berteriak dikoridor. Membuat semua penghuni disekitar sana memperhatikan mereka dengan seksama. Mereka bahkan berpikir, ‘Lu Han kemana?’.

Bahkan, otak mereka tak sempat digunakan untuk berpikir, ‘bukankah itu Lu Han?’, atau ‘Hey, kenapa Lu Han tampan?’, dan pertanyaan serupa lainnya.

“Itu Lu Han?”.

“Bukan, kau gila. Tidak mungkin Lu Han bisa tampan dalam persian detik, itu mustahil”.

“Hey, tapi itu seperti Lu Han”.

“Kau bodoh ya? Lu Han tadi masih memakai kacamatanya, kau tak lihat, dia bakan seribu kali jauh lebih tampan dari Lu Han”.

Dan masih banyak kata yang mereka ungkapkan untuk mereka.

Bahkan ada seorang yang tak jauh berbeda penampilan dengan Lu Han, lelaki pemakai kacamata yang kutubuku. Tentu lelaki itu pasti fansnya Hae Yeon. Dia sudah mimisan mendengar apa yang diucapkan Lu Han.

Dia –Jeon Jung Kook– siswa tahun ajaran kedua, itu artinya adik kelas mereka. dia terlihat kasihan dengan darah yang mengalir dihidungnya. Terlihat lebih malang, jauh dari sebelumnya.

Seseorang disana, berjalan dengan langkah sexy –nya dihadapan Jung Kook. Gadis itu, menghampiri Jung Kook dengan sejuta rasa penasaran yang dominan.

“Hey, kau baik?”.

Jung Kook mengangguk, tanpa melihat sang empunya sipenanya.

“Jung Soo Rim, salam kenal”.

Dengan terkaget, Jung Kook melihat sang empunya sipenanya itu padanya. Gadis ini memperkenalkan diri didepan seorang Nerd seperti dirinya?

“Jung Kook”.

Soo Rim tersenyum manis. Dan Jung Kook sedikit gugup, berada dihadapan seorang sesexy Soo Rim seperti ini.

Bahkan didalam hati, Jung Kook berharap, agar gadis ini tidak melihat sewaktu Jung Kook mimisan dalam detik berikutnya.

“Aku menyukaimu”.

Dan dia berlalu begitu saja.

Terkejut? Bahkan jauh lebih dari itu. Jung Kook makin derasnya mimisan atas kata-kata yang dilontarkan Soo Rim padanya.

“Itu apa?”.

BRAAKKK

Jung Kook jatuh seketika dan tak sadarkan diri. Pesona Soo Rim separah itu kah? Begitu terpengaruhnya kah Jung Kook akan hal itu?

Astaga, periksakan dirimu kedokter Jung Kook!!!

*

Lu Han berhasil. Menahan tangan Hae Yeon agar berhenti. Dan kemudian, banyak orang yang mengerumuni mereka.

Lu Han kembali berjongkok dihadapan Hae Yeon. Mengeluarkan wajah tampang super cute yang sudah dia buat sedemikian rupa agar Hae Yeon luluh pada detik berikutnya.

Astaga, pipi Hae Yeon sudah memerah, apa kau tak melihatnya Lu?

Sorakan tiba-tiba terdengar.

Hae Yeon tak suka berada diposisi ini. Dimana dirinya berada diantara banyak orang dan merasa berdesakan.

Itu menyebalkan, pikirnya.

Mungkin sebagian orang mengatakan mereka romantis. Atau serasi. Lalu, mengagumi mereka berdua yang sama sama tampan dan cantik. Bahkan ada yang menyindir bahwa lelaki yang kini berjongkok dihadapan Hae Yeon jauh lebih tampan dari Lu Han.

Apa mereka tak bisa lihat? Itu Lu Han.

Lu Han sedikit panas mendengar sindiran itu. tapi lelaki itu bahkan kini mulai mengeluarkan senyum miringnya. Membuat yang lainnya semakin gila berteriak dibuatnya.

Batin Hae Yeon berteriak, ‘Mati kau nanti, Lu Han’.

Sial, Lu Han memang tampan. Dan kau tak akan bisa menutupi ketampanan dibalik wajah cantiknya.

“Ekhem”.

Semuanya terdiam, mendengar degeman Lu Han.

Lu Han menghela nafasnya perlahan. Lelaki itu mendongak menatap Hae Yeon. Mereka saling bertukar pandang. Membuat yang lainnya iri dan kini suilan pun terdengar mengiringi keromantisan mereka.

Lu Han menggenggam tangan Hae Yeon dengan sebelah tangan dan tangan yang satunya lagi dia gunakan untuk mengeluarkan kotak cincin itu kembali dari dalam saku blazernya.

“Sudahkah romantis bila seperti ini?”.

Lu Han tersenyum.

Melelehkan hati setiap kaum hawa disana. Dan tak luput pula Hae Yeon juga ikut tersihir.

“Aku Xi Lu Han”.

Dan semuanya mulai mengangakan mulutnya. Berasa tak percaya dengan apa yang Lu Han katakan.

*hey, aku yang menulisnya, kenapa tak percaya?
Kau juga yang menulis, agar mereka tak percaya, thor. squint emotikon

Mereka semua mulai berbisik-bisik. Membuat Lu Han semakin tersenyum penuh artian.

“Aku Xi Lu Han, kali ini aku ingin menyampaikan sesuatu..”.

Lu Han menghela nafas perlahan dan semakin menatap dalam Hae Yeon.

“Park Hae Yeon, maukah kau menikah denganku? Aku tak ingin memberikan janji, jika suatu hari nanti aku ingin melakukan apa. aku tak ingin memberi janji palsu seperti para pejabat pemerintah, yang aku berikan adalah bukti. Bukti bahwa aku benar-benar mencintaimu. Aku ingin kau menjadi ibu dari anak anak ku kelak. Jadi, maukah kau menikah denganku?”.

Mati aku! Mati aku!

Astaga, Lu Han. Kau membuat Hae Yeon malu setengah mati dengan pengungkapanmu. Dan kini apa yang akan selanjutnya kau lakukan? Kalian kurang sedikit akan menjalani masa ujian, apa kau tak lihat kau masih memakai seragam. Lalu saat ini kau melamar Hae Yeon. Bukankah itu tindakan bodoh. Bagaimana bila guru menghukum kalian dan kalian dikeluarkan dari sekolah?

Tapi menurutmu, apa yang bisa dilakukan oleh seorang Xi Lu Han?

Terima.

Terima.

Terima.

Lihat, satu banding persekian banyak. Kau kalah telak, Yeon. Jangan harap bisa kabur dari sini sebelum kau meneriman ungkapan Lu Han.

Tuhan, aku malu sekali. Batin Hae Yeon bersuara.

Demi langit dan Bumi, Hae Yeon ingin mencekik Lu Han sekarang juga. Kalau perlu, gadis itu akan mengajak kakaknya untuk ikut ambil adil dalam mencekik Lu Han.

“Lu Han, bisakah kita bicarakan ini dirumah”.

Yaaaa..

Terdengar deru suara yang mulai mendominasi udara disekitar Hae Yeon. Gadis itu mulai semakin tak suka berada dalam keadaan ini.

Lu Han tersenyum dan mengangkat bahunya acuh.

“Mereka tak akan melepaskanmu, sebelum kau menerimaku”.

Benar.

Hae Yeon kalah dan ini semakin menjadi menyebalkan.

“Lu, eomma dan appa akan marah jika kau seperti ini. Mereka tak akan merstuimu, jika kau tak meminta ijin dari mereka dulu”.

Alasan bagus, dan luar binasa. Eh, biasa maksud saya^^

Lu Han sedikit berpikir. Lelaki itu tahu hal apa yang terbaik untuk melangkah kedepan. Dan kemudian, raut wajahnya sedikit menampakkan tak suka. Sedikit enggan menatap Hae Yeon.

“Baiklah”.

Huhuhuhu…

Semua menjadi bubar. Sebagian dari mereka mulai kembali pada tempat mereka semula. Sebelum mereka disini.

Lu Han berdiri. Menarik gadis itu kedalam pelukannya. Meletakkan dahu Lu Han pada bahu gadis nya.

“Kau harus membayarku dengan ciuman panas nanti”.

Astaga. Mati aku.

*

Lu Han disini. Lelaki itu tak membawa kedua orangtuanya bersamanya.

Antar keluarga Park dan seorang Xi Lu Han sendirian.

Masih kekeningan yang menyelimuti mereka semua. Bahkan tak ada yang memulai pembicaraan sejak sepuluh menit yang lalu, keluarga Xi datang.

Dan Lu Han tak ingin berlama-lama lagi. Lelaki itu berdehem, ingin memulai apa yang ingin dia katakan.

“Abeonim, saya ingin melamar Hae Yeon, apakah boleh?”.

Setengah mati Lu Han mengatakannya. Jantungnya sudah berdegup kencang sedari tadi. Lelaki itu merasa sedikit sesak. takut, jikalau Tuan Park tak menyetujui lelaki itu melamar putri kesayangannya itu.

Raut wajah Tuan Park merasa sedikit tak yakin dengan apa yang baru saja dikatakan Lu Han. Wajahnya tak bisa biasa saja, jikalau sudah menyangkut masalah putrinya.

“Kau ingin melamar Hae Yeon?”.

Tanya Taun Park sekali lagi. Lu Han hanya bisa mengangguk sebagai jawabannya.

“Bagaimana bisa begitu, kalian masih sekolah”.

Kali ini Chan Yeol bersuara. Lelaki itu baru beberapa bulan disini dan tiba-tiba adiknya sudah dilamar. Hey, Xi Lu Han kau ingin menjauhkan Hae Yeon dariku? Bahkan Chan Yeol sedikit tak suka benaran pada Lu Han. Lu Han seperti memiliki niat demikian.

Chan Yeol tak terima bila adiknya tiba-tiba menikah. Disini, Chan Yeol yang akan menentukan. Lelaki itu tak peduli, ini adik kecilnya dan dia tak ingin adik terkasihnya belum lulus tiba-tiba sudah dilamar.

Hey, mana tata kramamu?

Chan Yeol tak habis pikir, apa yang dimakan Lu Han tadi pagi, hingga membuat otaknya miring dan langsung melamar Hae Yeon tanpa tata krama.

“Bukan, Hyung. Aku akan menikahi Hae Yeon ketika kami lulus sekolah menengah”.

“APA?”.

Chan yeol berteriak. Lelaki itu bahkan belum memproses sepenuhnya apa yang diucapkan Lu Han.

Kau ingin mati ditangan Chan Yeol sekarang, Lu?

“Tidak. Aku tidak mau adikku menikah pada waktu itu. dia masih kecil, Lu. Bahkan aku baru saja kembali dari Amerika. Kau berencana menjauhkannya dariku?”.

“Tidak, Hyung, bukan begitu. Aku hanya ingin Hae Yeon selalu ada disisiku ketika aku bangun, itu saja”.

“Kau gila? Alasan logis apa itu hah?”.

Chan Yeol semakin tak terima. Bahkan lelaki itu kini sudah berdiri dan ingin memaki Lu Han sengan berbagai caci maki yang ada.

“Tapi, Hyung..”.

“Dengar, aku tidak mengijinkan Hae Yeon menikah sebelum adik kecil itu menginjakkan kakinya dibangku kuliah. Aku ingin dia mengejar cita-citanya. Apa yang diimpikannya sedari kecil. Aku ingin melihat dia menjadi apa yang dia inginkan dulu, baru kau boleh menikahinya. Sekarang kembalilah kerumahmu, aku tak ingin mendengar pengecualian. Turuti kataku, atau aku akan menjauhkanmu dari Hae Yeon, bagaimanapun caranya”.

“Baik, Hyung”.

Lu Han pulang.

“Yah, Oppa”.

“Apa?”.

“Jangan memulai pertengkaran, oke. Eomma dan Appa kekamar dulu”.

Tuan dan Nyonya Park pergi dari ruang tamu. Dan tersissa hanya kedua kakak beradik yang lebih mirip tom and jerry yang selalu bertengkar dan kadang akur.

“Oppa, kau menyakitinya”.

“Tidak, Yeon. Oppa, hanya memberinya nasihat. Dan benarkan, Oppa ingin kau mengejar cita-citamu dulu sebelum menikah. Dengarkan Oppa, dan jangan membantah”.

“Tapi, Oppa”.

Hae Yeon terlihat memelas. Tapi toh, apa untungnya. Menurut seorang Park Chan Yeol itu tak ada artinya.

“Kau ingin menikah cepat?”.

“Tidak”.

“Lalu?”.

Raut wajah Hae Yeon nampak sedih. Dan Chan Yeol hanya bisa menunggu, apa yang ingin adik kecilnya ini katakan.

“Hae Yeon, hanya tak tega”.

“Yeon, dengarkan Oppa..”.

Chan Yeol duduk disamping Hae Yeon. Lelaki itu memeluk Hae Yeon. Mencoba sedikit memberi ketengan untuk adik kecilnya itu.

“.. Jika Lu Han benar mencintaimu, maka lelaki itu tak apa menunggu selama itu. jadi jangan sia-siakan masa mudamu dengan menjadi seorang gadis yang sudah menikah dan menjadi ibu dimasa muda. Oppa ingin hae Yeon bahagia, jadi dengarkan Oppa, mengerti? Oppa tahu jalan terbaiknya. Jangan membantah sayang”.

Hae Yeon mengangguk dan semakin memeluk erat kakak laki-lakinya itu. gadis ini terlalu sayang kakak laki-laki nya ini bukan. Kalian sudah aku ceritakan.

“Oppa yang terbaik. Hae Yeon tak akan meragukannya”.

To Be Continue..

Sebenarnya, udah mau author End in. Tapi berhubung authornya ingat kalau jati diri Lu Han belum dikemukakan, jadinya batal.

1 chapter lagi, lalu End. Gimana absurd ya. Kalau dibaca sih kayaknya makin absurd ini. Chapter terakhir mah ya rada pe’a, kek authornya. Maklum lah, sesama pe’a. ^^

Oh, ya. Maaf kalau link chapter sebelumnya ngga ada. Soalnya authornya lagi pe’a belum paketan, jadinya belum bisa ambil linknya.

Makasih udah dibaca. Kalau absurd harap lambaikan tangannya. ^^

 

Advertisements

2 thoughts on “[FF Freelance] Falling in Love with a Nerd Boy Chapter 10

  1. Yaaa luhan ditolak 😦

    Like

  2. hihihi akur bngt kakak beradik yg satu ini.. huhuhu

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s