Namitsutiti

[FF Freelance] White Devil 1.11

3 Comments


379215

Title : White Devil 1.11

Author : Rin MauLi

Cast : Jung Hanna (OC) | Lee Seunghoon (WINNER)

Genre : Fantasy, Hurt

Length : Oneshot

Disclaimer : The Story is pure Mine!, but the cast’s nothing

Rate : T+14

A/N : mohon maaf atas segala kekurangan^^ , kalo udah baca wajib komentar oke


Ketika daun menyalahkan angin yang membuatnya berguguran,

Ketika awan menyalahkan hujan yang membuatnya musnah,

Ketika polosnya kertas putih menimbulkan hitam kelam dan merah pekat yang menyakitkan.

Ketika berbuat baik itu diharamkan bagimu, apa yang akan kau lakukan? Menerimanya begitu saja atau membangkang?

Hidupku yang seperti ini adalah takdirku, dan mengenal orang sepertimu adalah juga takdirku.

_________________
==White Devil 1.11==
_________________

Pagi hari ini, mentari kembali menyinari belahan bumi yang kupijaki,
Tepat 5 hari sudah untuk tahun ini, musim panas melanda Korea Selatan. Itu artinya, aku harus berusaha lebih keras untuk melindungi diri dari hal buruk yang kutau bakal menyakiti kulitku saat sinar matahari menusuk langsung.

Aku menutup jendela kamar dan mulai bersiap.
Mantel hitam yang menjulur sepaha, kupakai untuk melindungi almamater dan baju sekolahku. Tidak lupa, aku juga memakai kaus kaki tebal yang panjangnya hampir selutut. Sementara rambutku, kubiarkan tergerai begitu saja, seingatku, ini sudah yang ke 11 harinya aku malas menyisir rambut.

Ah, kamarku jadi benar-benar terang sekarang. Aku yakin, ini terlalu siang untuk seorang pelajar menengah atas.

Setelah memastikan kelayakan penampilanku. aku lantas memejamkan mata, memusatkan fikiran menuju sekolah. Di ruang pribadi siswa nomor 1.11 tepatnya. Ya, karena itu memang ruang –pribadi siswa- ku.

Tidak sampai 1 menit, pemandangan kamarku sudah berganti dengan pemandangan ruang pribadiku di sekolah swasta favorit ini, yang tidak berbeda dari ruang pribadi siswa lain.
Hal ajaib yang sudah menjadi bagian dari hidupku ini tergolong jarang kugunakan, hanya pada saat-saat darurat saja. Seperti saat ini, aku jelas tidak mungkin memaksakan diri membelah pagi yang terik dan membiarkan kulitku meleleh. Meskipun tidak permament, tapi aku yakin itu sanggup membuat seisi sekolah semakin menjauhiku.

Tak berselang lama sejak kedatanganku diruang ini, sepasang telingaku menangkap suara ketukan dari luar. Bukan itu saja, ternyata Bell masukpun sudah berbunyi. Maka, tidak ada alasan lagi kan untuk aku tetap disini?

“Ada apa?” aku lansung bersuara saat selesai mengunci ruangku, sementara yang kuajak bicara sedang menunduk sekarang.

“d-dia bilang, d-dia ingin- i-ngin ber-bicara deng-”

“kapan?”

“p-pulang sekolah d-dikursi taman be-lakang”

“itu saja yang ingin kau sampaikan?”

“n-nde”

“baik, terimakasih”

siswi berkacamata yang sedang berlari itu namanya Min Ririn, sama seperti banyak murid lain, wajahnya selalu pucat, dan suaranya selalu gemetar saat berbicara denganku. Itu yang aku tau.

*

Busan SHS berangsur sepi sejak bell pulang berbunyi, angin yang sedikit lebih kencang dari biasanya, menyambutku yang baru keluar dari kelas.
Andai aku mengerti caranya bersyukur, aku sudah melakukan itu sekarang. Bagaimana tidak?, matahari sore ini melemahkan sinarnya hingga menjadi sangat redup, dengan begitu aku bisa menemuinya sekarang, tanpa khawatir kulitku akan meleleh.

*

“Kau datang?” mataku fokus ke manik matanya yang sedang menatapku.

“Aku akan di drop out jika tidak menuruti perintahmu.” aku duduk disampingnya tanpa ia persilakan.

“Tch, Silakan berasumsi sesukamu Jung Hanna, tapi aku memanggilmu kemari memang ada hubungannya dengan riwayat burukmu selama setahun bersekolah disini”

Mata minimalisnya beralih menelisik coretan tinta di sebuah buku yang paling menyebalkan bagiku,

“Alfa, Merusak tanaman, datang terlambat, berkelahi, pergi di jam sekolah, membunuh anjing penjaga, tidur di kelas, tidak berseragam lengkap,- wooah, mengerikan sekali track recordmu sebagai siswi disini, bahkan aku belum menyebutkan keseluru-”

“Lee Seunghoon, AWAS!”

“apa?”

“ah tidak”

“aish, kau ini kenapa sih?”

Dari nada bicaranya aku tau, Seunghoon sedang bingung. Tidak berbeda, akupun sedang kebingungan sekarang, Seunghoon harus segera pergi dari tempat ini, tapi bagaimana mungkin aku megusirnya.
Oh bagaimana ini?
Penundaan bahaya itu tidak akan berlangsung lama.

“kau bahkan tidak menanggapi ucapanku? A, jika saja kau bukan siswi pintar penghasil piala dan medali untuk sekolah ini, kau pasti sudah enyah dari dulu Jung Hanna.”

Akh, sial, kenapa jadi benar-benar sakit?

“Ya Hanna-ya, jangan diam saja!. Jadi bagaimana, kau masih ingin berbuat onar, dan memaksa abeoji-ku untuk menendangmu dari sekolah ini? Atau.. setujui niat baikku untuk membuatmu tetap disini, dengan syarat… kau mau berteman denganku?”

Jangan keluar darah, aku mohon.

“ah, jangan berfikir macam-macam ya, aku hanya berharap, aku juga bisa menjadi anak pintar dan membanggakan abeoji-ku jika berteman denganmu. Kau mau kan?”

“Seungh-Seunghoon-ah, a-ku memilih yang kedua”

Kulihat jelas, tidak ada rona bahagia di wajah Seunghoon, justru ekspresinya kacau sekarang, ada apa?

“Hanna, Hidungmu? Berdarah?”

Sialan, kenapa dia keluar, bahkan bersamaan dengan rasa sakit luar biasa di sistem organku.

“Agk ap-po” aku tak tahu bagaimana bisa suara kelemahan itu keluar dari bibirku.

“Hanna, kau kenapa? kau sakit? Aku antar ke UKS ya?, aku mohon jangan menolak!”

“Tidak!, aku hanya harus pulang sekarang”

Lee Seunghoon? Dia terlihat khawatir. Mataku tidak rusak, kan?

Ranting besar itu akan benar-benar patah tidak kurang dari satu menit lagi.
Tepat!, aku harus berlari sekarang. Dan aku yakin Seunghoon pasti akan mengejarku. Jadi ranting pohon cemara itu tidak akan melukainya.

“Jung Hanna!, tunggu!”

**

Yeah berhasil!

Sungguh, Aku sendiri tak mengerti, mengapa rasa bahagia itu selalu muncul saat aku berhasil menyelamatkannya. Menyelamatkan satu pria bernama Lee Seunghoon. Pria ceroboh yang benar-benar ceroboh.

Aku selalu bertanya-tanya, bagaimana bisa ada manusia yang seolah tidak menyayangi nyawanya, seperti dia?. Aku tau dan aku ingat semuanya.

Seunghoon pernah terjatuh dari stage saat ia menjadi salah satu penari latar di konser besar artis sekelas BIGBANG, Seunghoon sering mengiris tangannya sendiri saat ingin memasak makanan untuk ayah tercintanya, Seunghoon sering terpeleset saat keluar dari toilet kamarnya. Seunghoon pernah 3x tertabrak kendaraan bermesin karena lengah dengan rambu-rambu, Seunghoon yang tidak bisa berenang hampir hanyut terbawa ombak saat mandi dipantai, Seunghoon pernah digigit binatang buas karena tersesat di hutan saat kemah, dan banyak lagi hal-hal buruk yang seolah akrab mengintainya.
Termasuk tadi, aku yakin Seunghoon akan cidera parah bahkan bisa lebih buruk, jika saja aku tidak menunda patahnya cabang besar pohon itu.

Darah dihidungku mengering, seiring rasa sakit sistem organku yang mulai resesif. Seunghoon tidak terlihat lagi sekarang.
Kupejamkan mataku, dan 5 detik selanjutnya, aku sudah berada dikamarku.

Tanpa kontrol, cepat-cepat kuhempaskan tubuh lemasku ke kasur hitam yang setia menemaniku selama hampir 1.11 tahun hidup dibumi dengan wujud seorang wanita.

Kuraba dadaku, dan fikirku melayang.
Organ tubuh mana lagi yang akan mati karena aksi penyelamatanku hari ini? Jantung, ginjal, pankreas, atau Paru-paru kiriku?


‘Namaku Jung Hanna,
aku adalah Iblis yang diturunkan kebumi dalam wujub wanita cantik. Aku bukanlah seekor Gumiho, yang tidak pernah tua. Sekali lagi, aku iblis berwujud manusia. Sama seperti manusia sungguhan, aku pernah bayi, aku pernah balita, dan seterusnya hingga sekarang, tapi aku menua dalam selang waktu yang lebih lama dari manusia sejati.
sama seperti Iblis lain, aku ditakdirkan untuk selalu berbuat jahat. Wujud manusia ini hanyalah sebagai pengecoh, toh tidak ada yang tau bahwa akulah salah-satu yang telah menciptakan kekacauan di districh ini.
Sejak kecil, aku mampu membuat pengendara celaka dan berakhir dengan kematian, aku mahir mengadu domba umat manusia tak beriman dan berujung pada permusuhan pelik antar sesama, aku bisa menciptakan wabah penyakit menjijikan untuk penduduk, aku dapat membunuh 20 binatang dalam sehari untuk kuminum darahnya, dan masih banyak hal jahat lain yang telah kulakukan selayaknya Iblis.
Aku bahagia saat itu karena merasa telah menjalankan takdirku dengan baik.

Tapi semuanya hancur saat remaja bermata sipit itu datang kerumahku tanpa rasa takut sama sekali, dia malah tersenyum ramah dan mengajakku bermain dan belajar menyanyi padahal sebelumnya dia bilang dia tersesat hingga sampai kerumahku. Dan ntah kenapa aku sama sekali tidak punya niat berbuat jahat apalagi membunuhnya. Itu pertama kalinya aku takbisa berkutik didepan manusia sungguhan. remaja sialan itu justru membuatku terbawa olehnya. Kekonyolannya adalah hal yang membuat aku bisa tersenyum untuk pertama kalinya.

Dari pertemuan itu, aku merasa kehilangan jati diri, aku tidak yakin dia memiliki sihir, tapi nyatanya, sejak itu, aku mengikuti kemanapun ia pergi. Hingga aku tersadar ternyata diluar sana tersimpan kehidupan yang indah, sangat berbeda dengan kehidupanku sejatinya. Ada rasa iri di batinku, aku ingin hidup seperti mereka.

Hingga setahun kemudian, aku memutuskan untuk menjadi selayaknya manusia normal. Aku mulai menyisir rambut, Berbaur di keramaian tidak dengan keadaan transparan, tidak lagi membunuh hewan untuk meminum darahnya, bahkan aku bersekolah di sekolah yang sama dengannya.

Karenanya aku seperti keluar batas, dan menyimpang dari takdirku. Namun karenanya aku mengerti arti pengorbanan dan kasih sayang,
karenanya juga, aku merasakan sakit ditubuhku untuk pertama kali. Sakit yang lancang menerkamku, sakit yang membunuh satu-persatu sel dan organ tubuhku saat aku berbuat baik pada manusia, dan saat aku menyelamatkannya dari kematian. Bahkan kemampuan ajaibku satu persatu menghilang karena makin jarang melakukan hal jahat.
semua ini benar-benar karenanya, Lee Seunghoon.’

**

Ponselku berdering tepat setelah aku selesai membaca tulisanku sendiri, tulisan di buku hitam yang kutulis saat pertama kali aku bisa menulis.

Dari Lee Seunghoon. Oh, apakah berlebihan jika aku merasa sangat senang hanya karena melihat tulisan namanya?

“Jadi besok ulang tahunmu?, ah baiklah, akan kuusahakan”

**
–1.11–
________________

Disini aku sekarang.

Berbaur di keramaian berbagai warna manusia. Aku sadar, sebagian besar mereka menatapku tak bersahabat, mereka bahkan mengeluarkan umpatan yang menerobos kasar ke lorong telingaku. Jujur, aku geram, manusia seperti itulah yang menjadi teman bangsa kami, mereka memanglah manusia, tapi hati mereka tak jauh dari setan.
Serius, walau hampir sekujur tubuhku terasa mati sekarang, aku masih bisa membunuh mereka semua dalam sekejap.

Tapi lagi-lagi fikiranku tentang Seunghoon menghentikanku. Ini adalah hari bahagia Seunghoon, tidak mungkin aku merusaknya, dan lagi, tidak mungkin Seunghoon tidak masuk di list tersangka jika pembantaian nyawa manusia benar-benar terjadi disini.

**

Aku terus berjalan di area rumah Seunghoon, tapi hingga kini aku belum melihatnya.
Dan lebih menjengkelkan lagi adalah saat aku sadar ponselku tertinggal dirumah. Bagaimana jika Seunghoon menghubungiku? Ish~

**

Aku terus melangkahkan kaki tak tau arah, sementara mataku hanya setia menatap sepatu hitam yang baru hari ini ku kenakan.
Namun, dua detik selanjutnya semua berubah, dimulai saat telingaku mendengar teriakan keras dari suara yang paling aku nantikan sejauh ini.

“LEE SEUNGHOON AWAAAS!!”

#‎Cyiit~
#‎Bruk

-inikah penyelamatan terakhirku untukmu?-

**

 

 

. “HANNA-YA! JUNG HANNA!! AKU MOHON, BERTAHANLAH!”

. “Ada pengakuan yang harus kau dengar dariku, Hanna.. maka bertahanlah, aku mohon”

. “Aku mencintaimu Hanna, aku mencintaimu yang tetap bersemangat menjalani hidup di tengah lingkungan yang menjauhimu. Aku mencintaimu yang selalu cantik dengan pakaianmu yang selalu berwarna hitam. Aku mencintaimu yang tidak menyombongkan kecerdasan luar biasamu, Aku mencintaimu yang tetap tegar menjalani hidup sebatang kara. Aku mencintai segalanya darimu. Hari ini seharusnya adalah hari bahagia kita, karena aku akan mengumumkan ke semua orang bahwa kita adalah sepasang kekasih, dengan begitu mereka tidak sembarangan lagi bersikap tak wajar padamu. JUNG HANNA, IREONAA~”

.. “Ini sungguh aneh nak benar-benar keanehan yang baru pertama kali kutemui sebagai dokter, bagaimana bisa seorang manusia bertahan hidup dengan sistem organ yang seluruhnya tidak berfungsi, manusia macam apa gadis itu? Bahkan kerbau pun akan mati jika kehilangan 2 organ saja”
. “Maksud dokter?”

.. “aku sendiri tidak percaya ini bisa terjadi, tapi sampai saat ini, hanya sebagian pembuluh darah di paru-paru kirinya yang masih berfungsi, tidak ada satu dokterpun yang bisa berbuat sesuatu untuk manusia yang sejatinya telah mati seperti gadis itu”

. “Tidak, Tidak mungkin, tidak mungkin!! Akh, kenapa dokter sialan itu pergi? Dokter pengecut!. Tuhan, Tuhan hanya Kau lah sang penyelamat, tolong selamatkan dia Tuhan, aku mohon”

Mataku terbuka, kupandang samar-samar ruangan serba putih ini, aku menemukannya. Matanya memerah, dan cairan bening itu membasahi pipi bersihnya. Aku benci melihatnya yang seperti itu. Seunghoon-ku tidak boleh menangis.

“L-Lee Seunghoon” sekuat sanggupku, akhirnya suaraku dapat keluar

“JUNG HANNA, aku tau kau akan sadar, aku tau dokter itu pendusta!, Saranghamnida Jung Hanna” kulihat Seunghoon menghampiriku dengan semangatnya.

Baru saja aku ingin bersuara kembali, namun tak bisa.
Secepat kilat, Bibirku terhalang oleh sentuhan lembut basah dari bibir Seunghoon. Tidak hanya itu, samar sekali kurasakan tangannya memeluk tubuh ringkuhku yang masih dalam posisi berbaring.
Keadaan ini bertahan cukup lama, dan aku yang memang takberdaya, hanya pasrah menerima perlakuannya.

Tidak, Tidak bisa terus begini, aku tau aku akan segera lenyap.
Dan sebelum itu terjadi, aku harus menyampaikan hal itu pada Seunghoon. Aku harus menghentikan hal terbahagia di hidupku ini sekarang, sebelum semuanya terlambat.

Seunghoon makin agresif, namun airmatanya tetap menderas.

Setengah mati, kugerakkan tubuhku, berharap Seunghoon segera melepaskanku.

“M-Maaf, aku hanya terlalu senang. apa ada yang sakit?”

Bola coklat pekatnya menatapku hangat, ada rasa lega dan sedikit kecewa yang merangkak di hatiku yang kata dokter telah mati, setelah Seunghoon mengentikan aktivitasnya,

namun, sadarku datang, aku harus mulai berbicara sekarang.

“S-Saengil Chukka Hamnida Seunghoon-ah.. k-kado mu ada di dalam tas selempanganku, berjanjilah untuk meminumnya sampai habis”

Kulihat Seunghoon mengangguk. Aku senang, dia tidak tau, itu adalah ramuan yang telah kucampur dengan 11 tetes darahku, yang berfungsi untuk meminimalisir syndrom ceroboh Seunghoon, dan juga bisa menyembuhkan amnesia Seunghoon, dengan begitu dia akan ingat pertemuan pertamanya denganku.

Tuhan, tolong pertahankan ucapanku yang lancar seperti tadi, hanya sekali lagi.

“dan didalam tas itu juga ada sebuah buku, yang mengungkap semua tentang diriku..

jaga dirimu baik-baik Seunghoon, bukan pintar satu-satunya yang dapat membuatmu berhasil, tapi putihnya hati yang menyeimbangi bakatmu, hiduplah dengan lebih baik setelah ini. Terimakasih untuk semuanya. selamat tinggal, Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu”

Terimakasih Tuhan, aku bisa pergi dengan tenang sekarang.

“HANNA-YA~”

**

Pagi ini sinar matahari bersahabat, menghias langit jernih berwarna biru polos diatas sana. Tidak terlalu terik, juga tidak terlalu redup.

hangatnya menemani Mahasiswa bersweater hitam itu mengendarai tunggangan besinya dengan baik.

Dan kini, jari kemerahannya menekan rem hingga motornya sempurna berhenti melaju.

Mahasiswa YG-University itu turun dari motornya, dan ia mulai melangkahkan kaki kearah anak kecil yang sedang memeluk lutut kanannya.

“Lututmu berdarah dik?.. sudah jangan menangis. Oppa antar pulang ya, kau tidak harus sekolah dengan kondisi seperti ini”

Anak perempuan berseragam sekolah dasar itu, mendongak ke sumber suara, tangisnya seketika terbarter dengan senyuman menang yang tergurat sempurna.

“o’ oppa.. Coreographer WINNER kan? Lee Seunghoon oppa? apa aku benar-benar sedang melihat Seunghoon oppa saat ini? Kyaaa~”

mahasiswa yang ternyata bernama lengkap Lee Seunghoon itu tersenyum dengan tatapan kosong, ia mengurut sebentar bahu kirinya, merasakan aliran darahnya yang teratur, menikmati keadaan tubuhnya yang kian membaik, terutama setelah melakukan hal baik.

 

“He’m, kau benar adik cantik, ayo”

 

 

 

–Lee Seunghoon, ragaku memang telah lenyap..
dan aku tau kesedihanmu saat hanya bisa merengkuh pakaianku saat itu.
Tapi dibalik semua takdir yang memisahkan kita. cintaku akan selalu hidup, bersama darahku yang akan terus mengalir di tubuhmu.
Percayalah.

 

==White Devil 1.11==

 

END

Advertisements

3 thoughts on “[FF Freelance] White Devil 1.11

  1. ya ampunn author keren banget ffnya, yaa ceweknya ga ada hiksss
    Tulisannya juga bagus banget, aku sukaaaaaa 😀
    bikin lagi ya thorr, yang happy gituh hehe 😀

    keep writing dan hwaiting thor! XD

    Like

  2. Bayangin seunghoon yg ceroboh, bkin ketawa sendiri, adduhhh hana kesian gr” cinta ma seunghoon jdi hilang huhuhuhuu…

    Like

  3. keren thoor….

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s