Namitsutiti

[FF Freelance] Pandora: Graffe Chapter 2

1 Comment


x

Tittle : Pandora

Cast : Park Jaena | Park Jimin BTS | Jeon Jungkook BTS | and member BTS

Rating : Teen

Genre: Romance, fantasy, horror, misteri, fiksi

length: chapter

author & cover by Okhara

_o0o_

 

Hitam. Seolah kesendirian ini yang mampu digambarkannya. Kelam, begitu langit mendung melengkapinya. Jika begini, bumi laksana nyanyian sunyi. Manusia adalah makhluk yang tak bisa hidup sendiri. –Pandora–

 

***

 

Mendung menyisir langit hingga nampak kelabu. Sekali lagi, gemuruh menggelegar. Nampak cahaya kilat membelah langit. Tak ada pula yang tahu. Bagaimana wanita paruh baya itu berlari. Seiring dengan suara decitan sepatunya yang menggema kesetiap sudut ruang. Nafasnya tersengal panik. Sementara itu, sekelibat bayangan hitam masih mengikutinya. Merembet kesetiap tubuh dinding.

 

Wanita itu memekik kecil. Merasa lelah dengan pelariannya yang tak kunjung usai. Koridor nampak seperti permainan labirin sekarang. Ia tak memiliki pilihan lain. Selain membiarkan tubuhnya terjatuh di atas lantai.

 

Darah kental itu, entah darimana datangnya setelah wanita itu menyadari terciumnya bau anyir yang busuk. Ia mendadak bungkam. Sosok makhluk bermata satu berwarna hitam kelam tanpa kehidupan yang berarti, berhasil muncul di hadapannya. Makhluk itu menatapnya tanpa ekspresi. Hanya terlihat seringainya, karna wajahnya hanya terbentuk dari kulit terkelupas dan tulang tengkorak yang hangus. Giginya yang berderet hitam nampak seperti tulang-tulang berlumur darah.

 

Wanita itu terbelalak menatapnya. Sedangkan makhluk mirip iblis itu melakukan sesuatu yang membuat jeritannya berubah menjadi suara angin yang rusuh. Ia kini tumbang. Masih dengan sisa kesadarannya, dirasakannya sekujur tubuhnya mengalami kelumpuhan parah. Sedangkan ‘Makhluk’ itu juga tak kunjung pergi. Seram.

 

Ia bahkan memilih untuk mati sekarang juga.

 

_o0o_

 

Langit kembali tersenyum. Menyapa dedaunan yang bergerak berarak. Menampakkan awan-awan cerah ketika Jaena menatap langit. Ia menoleh ke belakang sekali lagi. Menyunggingkan senyum datar sembari melambaikan tangannya ke arah yang dituju. Lelaki itu, Jimin, masih berada disana. Tersenyum ceria dan juga melambaikan tangan padanya.

 

Jaena fokus pada langkahnya lagi. Kini matanya tak sengaja menangkap sosok Jungkook yang tengah berlari membelah kerumunan. Tunggu, kerumunan apa itu?

 

“Jungkook!” Panggilnya lantang meskipun tahu suaranya tak akan terdengar diantara kerumunan ini. Jaena mencoba meloloskan diri. Kini ia berada tepat di barisan paling depan di kerumunan tersebut. Matanya sontak terbelalak. Terperanjat dengan pandangannya sendiri seraya membekap bibir. Ia memekik kecil. “Eomona! –ya ampun!–.”

 

“Jaena? Park Jaena?!”

 

Jaena masih bergeming, meski ia telah mendengar suara Jungkook yang mendekatinya sekalipun. Matanya mendadak memanas. Hingga akhirnya ia mengeluarkan bulir air mata yang awalnya tak disadarinya.

 

“Ia tewas.”

 

Jaena semakin kaku mendengar penuturan Jungkook. Laki-laki itu menepuk pundaknya tegar. Seraya menghembuskan nafas dan ikut menatap ke arah tubuh yang telah tersungkur tak bernyawa itu. Para polisi dan beberapa dokter ahli autopsi nampak berbisik kecil. Lalu beralih untuk segera mungkin memindahkan mayat tersebut.

 

“Lee Seonsaengnim…” Lirih Jaena di tengah-tengah rintihan tangisnya. Tubuh yang tergeletak di tengah-tengah jalan menuju koridor utama itu adalah Nyonya Lee. Wanita paruh baya yang adalah wali kelas Jaena dan Jungkook. Satu-satunya guru yang dikenal baik perangainya oleh Jaena. Entahlah, bagaimana ceritanya hingga pagi ini Jaena menemui beliau dalam keadaan seperti ini. Tak lagi bisa menyapanya, tersenyumpun bahkan juga tidak.

 

Satu hal yang ada dipikiran Jaena. Kematian ini lebih membuatnya syok ketimbang kejadian kemarin di ruang UKS.

 

_o0o_

 

Di sisi lain – tak jauh dari susunan atmosfer bumi

 

Awan berubah kelam begitu ia melintasinya. Ia meringis kecil. Lalu terkekeh begitu menengok awan itu kembali terang setelah ia usai melewatinya. “Dunia ini lucu.” Gelinya.

 

Orang di sampingnya menautkan dahi heran. “Bagaimana bisa Tuan?”

 

Lelaki dengan jubah berwarna rawa itu menoleh. Tawanya telah sirna. Mengernyit lalu tersenyum nanar. “Aku merindukan dunia yang seperti ini. Hancur begitu kupijak.”

 

Orang yang satunya sekarang mengernyit. Menatap heran majikannya karna tak paham dengan ucapannya. Ia hanya ikut tersenyum. Tersenyum karna melihat langit mendung terbentuk karna majikannya melewatinya. Ia mendadak paham.

 

“Kita sampai.” Ujar majikannya. Seraya memasuki gerbang kastil dengan sisi kegelapannya.

 

“Selamat datang Promotheus V .” Sapa seseorang yang diyakini sebagai penjaga gerbang bagian dalam kastil. Lelaki berjubah rawa itu berubah geram.

 

“Panggilan menggelikan! Sudah kukatakan jangan sebut nama itu!!”
“Tapi tuan…”

 

“Sudah, jangan panggil dengan nama itu. Kau tahu kan? Kim Taehyung, itu namanya sekarang.” Ujar seseorang yang sedari tadi berdiri di belakang laki-laki berjubah berwarna rawa itu. Ia menepuk pundak si penjaga gerbang sejenak. Dan lalu ikut berlalu dengan tuannya yang tengah mengoceh sumpah serapah. Ia menggeleng pelan. Mengaku pasrah dengan kelakuan tuannya yang kelewat temperamental.

 

Lelaki dengan jubahnya itu melepas jubahnya. Melangkah perlahan menuju ke sisi jendela. Keadaan kastil akan selalu nampak sama. Gurat kelabu dengan siluet-siluet hitam menyeramkan nampak mengelilingi kastil seperti biasanya. Terlebih, aura-aura kegelapan memperlengkap atmosfer ini.

 

Sementara lelaki itu menatap kegelapan disana, suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar nyaring dari balik pintu. Ia sontak membalikkan badan. Mendapati pengawalnya, Min Suga, berdiri seraya membawa segelas air berwarna merah pekat.

 

“Ini lagi?” Ia mengernyit. Menatap gelas itu lalu mengambilnya antusias. Tanpa waktu panjang, ia meneguknya habis tak tersisa.

 

“Apalagi yang bisa anda makan selain… darah?”

 

Suga kini berpaling. Hendak melangkah keluar dari ruangan mengerikan ini. Namun tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia lantas berjalan mendekatinya. “Promotheus.. Ah, maksudku Tuan Kim Taehyung. Selanjutnya bagaimana?” Lelaki yang dipanggilnya Kim Taehyung itu tersenyum sinis. Matanya kembali melirik Suga. “Bukankah anda sudah menemukannya? Lalu, bagaimana?”

 

Taehyung menyeka cairan darah yang tersisa di bibirnya. Lalu menyeringai kecil. “Kita akan menemuinya. Besok.”

 

_o0o_

 

Sepanjang pelajaran berlangsung, hanya kelas Jaena dan Jungkooklah yang nampak senggang. Gurat kesedihan menghias di wajah para siswa. Tak terkecuali Jaena dan Jungkook. Gadis itu bermata benggak. Ia yang paling tak bisa berhenti menangis.

 

Mereka semua –tak terkecuali Jaena dan Jungkook– sedang menunggu keberangkatan untuk berlayat ke kediaman Lee seonsaengnim.

 

“Jangan menangis, kita semua memang sedih disini. Jika kau terus menangis, semua akan bertambah sedih. Kita harus saling menguatkan satu sama lain Jaena.” Jungkook menggenggam tangannya erat. Gadis itu hanya memanggut kecil. Membiarkan Jungkook menyeka air matanya –lagi.

 

Semua murid telah berkumpul di area parkir dan segera menaiki bus sekolah dan berangkat ke rumah duka. Jungkook dan Jaena duduk di bagian depan. Gadis itu nampak lebih baik sekarang. Ia tak lagi menangis –atau mungkin menyimpan tangisnya untuk ditumpahkan di rumah duka –.

 

Jaena menoleh sesaat. Memandang jendela berembun yang berada di samping kanannya. Melihat pepohonan nampak basah karna hujan. Ya, hujan tengah turun saat ini. Entah sejak kapan langit kelam itu bergerumul dan menjatuhkan hujan ini. Mungkin akibat karna Jaena terus menangis sejak pagi tadi. Hingga ia tak menyadari bahwa hujan telah turun.

 

Jungkook di sampingnya berusaha memejamkan mata. Kejadian ini memang sangat mendadak. Apalagi sayup-sayup ia mendengar kabar bahwa kematian ini tak ada sebabnya. Lee seonsaengnim adalah wanita paruh baya yang sehat. Ia tak memiliki riwayat penyakit apapun selain semangat mengajarnya yang berlebihan. Apakah semangat itu yang membuatnya tewas? Tentu tidak.

 

Jungkook membuka matanya. Mendapati kondisi di dalam bus sekolah masih terlihat sama. Kecuali gadis di sampingnya. Ketika ia menoleh, Jaena, gadis itu memang tak lagi menangis. Namun matanya membelalak menatap lurus ke arah luar jendela. Mimik wajahnya menyiratkan ketakutan. Membuat Jungkook mengernyit heran. “Ada apa Jaena?”

 

“K..kau..” Bisik gadis itu. Ia terdengar tak sedang berbicara dengannya. Karna gadis itu masih saja menatap luar jendela dengan tampang bersicengang.

 

“Kau lihat apa sih Jaen?” Jungkook mengira gadis itu sedang bercanda. Ia ikut melihat ke sisi jendela. Tapi tak ada apapun selain butiran air yang mengembun. Membuat semua pemandangan di luar nampak kabur.

 

Jaena tak menghiraukan semua ucapan Jungkook. Gadis itu masih saja menatap ngeri keluar jendela. Ada sosok gadis yang meratap-ratap disana, kehujanan. Dia tak tampak seperti iblis dengan darah-darah. Hanya saja, bagaimana gadis ini bisa menggelantung di sisi bus yang sedang berjalan cepat? Apa dia sedang melihat hantu sekarang? Jaena mendadak ketakutan saat sosok itu berhenti meratap-ratap. Sosok itu justru ikut menatapnya dengan kedua bola mata yang berukuran besar, dan tengah melotot ke arahnya.

 

“Tidaaak!!” Pekik Jaena yang sontak membuat Jungkook ikut terkejut.

 

“Yaak! Yaak!! Ada apa Jaena?! Kita sudah sampai !” Jungkook mengguncang-guncangkan tubuhnya. Berharap gadis ini tersadar dari lamunannya.

 

“Aku..aku..” Jaena menoleh cepat ke sisi jendela, yang tak tampak apapun lagi selain embun. Gadis meratap-ratap yang kehujanan itu tak lagi ada. Hilang begitu saja. “Tidak apa.” Jaena menghembuskan nafasnya. Bukan nafas lega atau apa. Hanya agar membuat senyumnya mengembang saja.

 

“Kau teringat Lee Seonsaengnim?” Jaena mengangguk saja dengan pertanyaan itu. Mungkin benar, Jungkook tak melihat apa yang dilihatnya. Atau mungkin, ini hanya khayalannya saja? Entahlah.

 

Ruang layat itu nampak hening dengan beberapa orang yang tengah menunduk memanjatkan doa. Beberapa dari mereka nampak berbaris untuk memberi penghormatan terakhir untuk tubuh di dalam peti putih itu. Jaena sudah hendak mengeluarkan air matanya lagi. Mencium bau harum aroma bunga yang di tebar di sekitar peti dan foto Nyonya Lee yang terpajang di sana. Seolah meyakinkannya bahwa sosok hangat itu telah tiada di dunia ini.

 

“Berjanjilah, jangan menangis di depannya. Beliau tak akan senang Jaena.” Ingat Jungkook. Gadis itu lagi-lagi hanya memanggut. Entah dia bisa menahannya atau tidak. Yang terpenting, ia ingin segera melihat wajah Lee Seonsaengnim untuk yang terakhir kali.

 

Kini gilirannya, setelah murid terakhir di depannya. Perlahan Jaena mengintip ke dalam peti. Seraya mengumpulkan sisa kekuatannya yang paling terakhir. “Eomo! –Ya Ampun! –” Pekiknya yang malah terkejut dan bukan malah sedih. Di dalam peti itu, Nyonya Lee memang berada disana. Mengenakkan gaun cantik berwarna putih yang nampak mewah. Namun, banyak darah menyelimutinya. Bahkan gaun putih yang dikenakannya itu telah berubah kotor dengan bercak darah di setiap sisinya. Apa-apaan ini? Pikirnya.

 

“Ada apa lagi Jaena?”

 

“Jungkook, kenapa orang disini tidak membersihkan darah Lee Seonsaengnim?”

 

Jungkook mengernyit. Lalu maju selangkah untuk ikut mengintip. “Huh? Kukira Lee Seonsaengnim nampak cantik. Darah apa maksudmu?”

 

Jaena kini yang mengernyit. Darah sebegini banyaknya Jungkook tak melihatnya? Apa laki-laki itu tak bisa melihatnya? Atau apa seperti ini orang-orang meninggal hendak dikebumikan? Kenapa dulu mendiang ayahnya tak nampak seperti ini? Darah, seolah darah itu nampak lebih banyak dari semula. Jaena mundur selangkah. Menyaksikan Lee Seonsaengnim justru terlihat menyeramkan.

 

“Kurasa kita harus duduk.” Ajak Jungkook yang cemas dengan perubahan mimik wajah Jaena. “Jangan pikirkan apapun lagi. Darah, jendela, dan semua yang kau pikirkan. Berdoalah untuk guru Lee.” Jungkook mendudukkan Jaena jauh dari kotak peti. Gadis itu segera menundukkan kepala. Memanjatkan doa. Seraya mengubur dalam-dalam pikiran negatifnya yang kelewat mengerikan.

 

_o0o_

 

Langit berubah gelap. Sedangkan angin berhembus membawa serta aroma tanah basah yang khas seusai turun hujan. Sinar rembulan remang-remang menyelusup kebalik tirai jendela. Beserta angin yang berhembus menerbangkannya hingga membelai kesetiap sisi jangkauannya. Seolah merayap-rayap menyentuh bingkai di meja nakas tak jauh dari jendela.

 

PRRAAANG!!

 

Bunyi mengejutkan itu sontak membuatnya membuka mata mendadak. Rasa pusing menjalar sejenak karna hal ini. Ia mengaduh sesaat sebelum akhirnya bangkit untuk melihat apa yang terjadi.

 

Jimin meraih-raih saklar lampu yang tersembunyi. Lalu tersentak setelah lampu menyala semua. Bingkai foto yang selalu berdiri disana seolah lenyap dari asalnya. Tersungkur jatuh dengan pecahan-pecahan kaca yang berada di sekelilingnya. Jimin menghampirinya cemas.

 

Ia menatap kesal kepada tirai yang tak berhenti menerbangkan diri. Seolah tahu bahwa dialah pelaku dari munculnya suara berisik dan pecahnya bingkai foto ini. Jimin menatap bingkai itu sayang. Padahal gambar seorang gadis kecil dengan gaun putih, dan di sampingnya, dirinya waktu kecil masih ada disana. Tampak baik-baik saja. Tapi entah kenapa ia merasa sedih karna ini. Ia merasa kesal melihat tirai itu tak tampak berdosa. Ia hendak mengikat tirai itu, menghukumnya. Namun suara bel pintu terlebih dahulu terdengar.

 

“Ndee..” Jawabnya seraya meletakkan bingkai itu di meja.

 

Pintu lekas dibukanya. Memperlihatkan tubuh lesu adiknya dan seorang lelaki yang tengah menompang tubuh gadis itu. Jimin tersenyum nanar. Lalu menangkap pelukan adiknya. Jaena nampak kalut. Dan seolah tahu dengan kekalutannya, Jimin membelai rambut gadis itu pelan. Menenangkan.

 

“Terimakasih telah mengantarnya, aku ketiduran tadi.” Jimin berujar dan masih membelai rambut Jaena.

 

“Ne, kurasa aku harus pulang sekarang Hyung. Dia sudah aman bersamamu.”

 

“Apa yang terjadi? Dia masih sedih?”

 

Jungkook mengangguk. Menatap tubuh Jaena yang lelah dengan cemas. “Dia sangat terpukul dengan kepergian wali kelas. Aku juga begitu. Aku pamit Hyung.”

 

Jungkook kini berlalu. Menghembuskan nafasnya lega melihat Jaena sudah berada bersama Oppa-nya. Ia tak seharusnya memulangkan Jaena dengan keadaan seperti ini. Ini akan membuat Jimin semakin cemas. Setelah bersusah payah mempercayakan Jaena kepada dirinya. Jangankan melindunginya, menghibur gadis itu saja Jungkook belum bisa melakukannya dengan benar. Jungkook menggeleng sesaat, merutuki dirinya yang teramat bodoh membiarkan gadis itu bertampang sedih seharian ini.

 

Neo pabo, Jungkook.” Lirihnya.

 

Di dalam sana, Jaena perlahan menyesap susu hangat yang dibuatkan Jimin secara mendadak. Lelaki itu juga ada di sampingnya. Menyelimutinya dengan selimut hangat dan berdiam diri menemaninya. Jaena urung diri, sebelum ia hendak menceritakan pengalaman anehnya hari ini. Tentang gadis meratap di luar jendela bus, dan bercak darah yang dilihatnya di peti Nyonya Lee. Ia pikir ini bukanlah waktu yang pas untuk diceritakan. Ia juga perlu menenangkan diri.

 

“Kau sudah lebih baik sekarang? Kau ingin tidur?” Tanya Jimin sembari menerima cangkir susu yang kosong dari Jaena. Gadis itu mengangguk.

 

“Oppa..aku tidur di kamar Oppa saja eoh?” gadis itu meringik. Meminta dengan tampang manjanya. Berusaha menutupi rasa kalutnya seharian ini.

 

Jimin mengangguk senang. Tersenyum setelah mendapatkan adiknya yang seperti biasanya lagi. Merengek manja meminta sesuatu padanya. Jujur, Jimin sebenarnya tak tega melihat cekungan dalam dan bengkaknya pada kedua mata Jaena. Gadis ini benar-benar telah menangis seharian tadi.

 

_o0o_

 

Kastil Astron – Istana negri Astron. Beberapa ratus kilometer dari rasi bintang tanpa nama.

 

Langit di luar bumi memang gelap. Inilah angkasa raya. Namun siapa yang tahu di luar sini ada kehidupan. Kehidupan yang tak akan pernah dimengerti hanya oleh orang awam. Pakar astronomi bahkan tak mampu menebak. Ini gaib. Seolah hanya Tuhan dan para malaikat yang tahu. Kehidupan yang berada diluar jangkauan pikiran manusia. Dimana hidup saling membunuh untuk mendapatkan sesuatu. Tempat dimana para peri hitam berlarian berebut kehidupan. Tempat hidupnya para makhluk yang menganut paham hedoisme –paham yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan yang paling utama dalam hidup–.

 

Tak ada hak yang hakiki sama seperti halnya kebanyakan di dunia. Dunia yang ini busuk. Dunia yang penuh dengan sorak ramai cacian. Dunia hitam penuh kegelapan. Orang-orang akan menganggapnya layaknya neraka. Lava panas dan hiasan darah akan terlihat di setiap sisi dunia yang sekiranya kecil ini. Namun cukup mengerikan hanya jika manusia melihatnya sekali sekejap mata. Dunia karma bagi orang-orang jahat yang tinggal di muka bumi. Negeri Astron.

 

“Anda sudah bersiap Tuan?” Min Suga membuka jendela ruangan Taehyung. Memperlihatkan pemandangan kegelapan di luar sana. Taehyung bergumam lalu bangkit seraya mengenakan jubah panjangnya.

 

“Aku ingin menengoknya dulu.”

 

Taehyung berjalan cepat. Melintas ke sepanjang koridor kastil yang berbentuk heksagonal –segi enam–. Bingkai-bingkai foto terpajang berjajar disana. Tepatnya terpajang di sepanjang koridor menuju kamar seseorang yang ingin ditemuinya. Ia melirik sejenak. Menatap ke sebuah foto yang amat dibencinya. Ia berpaling lagi ke depan, meninggalkan tatapan bencinya pada foto terakhir itu.

 

Suga ada di belakangnya. Menanti seraya ikut melirik sekilas ke arah bingkai foto tak jauh dari ruangan yang dituju tuannya. Ia mengamati sejenak. Mengangguk seraya memberi hormat kepada mendiang yang terlihat pada foto tersebut.

 

“Min Suga, tetaplah disini. Aku tidak akan lama.”

 

“Baik Tuan.”

 

Taehyung melangkah masuk, setelah membuka gerbang besar yang menutup ruangan tersebut. Tak ada apapun di dalam sana. Selain sebuah peti berukuran panjang dengan hiasan berlian hitam di setiap sisi petinya. Di samping peti tersebut, sebuah dinding tergambar rasi bintang dengan goresan darah. Nampak kering dan berlumut kecoklatan.

 

Entah sudah berapa tahun, setelah terakhir kalinya ia mengunjungi tempat ini. Ia sadar, hanya lilin-lilin abadi di sekitar peti ini yang menemani sosok yang berbaring di dalam peti. Selain sihir pengawet yang mampu membuat tubuh ini akan terus tampak segar. Agar tak membusuk dan kering. Sudah 2 abad ini berlalu semenjak kematiannya.

 

“Lama tak berjumpa, Promotheus Rapmon.” Taehyung menyeringai, namun berubah menjadi senyuman nanar. “Harusnya aku memanggilmu Kakak. Tapi…” Taehyung berhenti sejenak. “Aku menggunakan nama lainku lagi. Aku telah berganti nama, Kim Taehyung.”

 

“Aku telah menemukannya. Menemukan yang telah kucari beratus-ratus tahun yang lalu. Aku akan memberikannya padamu secepat mungkin.” Taehyung tersenyum lagi. Kali ini terlihat senang. “Aku akan memanggilmu Kakak setelah aku menghidupkanmu kembali. Berjanjilah, kau akan hidup menemaniku.”

 

Taehyung tanpa sadar meneteskan air matanya. Mengusapnya perlahan dan memandang cairan bening itu di tangannya. Ia mendadak kecewa. “Rasa manusiawi ini tak pernah lenyap dariku. Aku memang tak membencinya karna ini adalah takdirku. Bukankah kau yang mengatakannya?”

 

“Kau beruntung karna kau tak dilahirkan sebagai setengah manusia sepertiku.” Taehyung tercekat dengan perkataannya sendiri. Lalu tertawa kecil. “Namun aku bersyukur, dengan begitu, aku bisa mencari pyramid itu untukmu. Secara bebas tanpa batasan.”

 

Beberapa detik setelahnya, terdengar dentingan keras dari jam dinding raksasa di menara kastil. Taehyung terkesigap. Lalu kembali menatap lelaki di dalam peti lekat-lekat. “Aku pamit, Promotheus Rapmon.”

 

Setelah itu, ia beranjak pergi. Meninggalkan peti itu seperti pada awalnya. Berjalan keluar dan menemui Min Suga yang masih berada disana. Menunggunya penuh pengabdian. “Kita berangkat.”

 

_o0o_

 

Bumi – Tempat tinggal makhluk hidup berada. Hewan, tumbuhan, termasuk manusia.

 

Jam berdenting tepat ketika kedua jarumnya menunjuk ke satu arah yang sama. Pukul 00.00. Tepat saat itu, terdengar suara auman keras yang melengking hingga menembus ke dinding kamar apartemen. Gadis yang masih terjaga itu menautkan dahinya heran. Ia tak pernah tahu di gedung apartemen ini ada penghuni yang memelihara anjing sejenis itu. Serigala juga tidak. Hanya ia pernah tahu tetangga di samping kamarnya memelihara ikan-ikan di aquarium. Lalu, apa ikan itu bisa mengaum sekencang itu? Tentu tidak.

 

“Oppa..oppa.. ireona.” Bisiknya pada lelaki di sampingnya. “Oppa??”

 

“Ne, Jaena-ya? Mwoya?” Jimin terbangun juga. Namun masih memejamkan matanya mengantuk. “Kau belum tidur, hm? Tidurlah.”

 

“Oppa, aku mendengar auman anjing disini. Apa penghuni apartemen ini ada yang memelihara anjing?” Tanya Jaena skeptis. Entah kenapa ia sangat penasaran dengan hal itu.

 

“Hm? Anjing? Yaaak… tentu saja tidak. Bukankah itu dilarang?” Jimin mengelus kepala Jaena sesaat, lalu kembali terlelap.

 

Jaena merubah posisi tidurnya. Seraya memikirkan jawaban dari Jimin. Kakaknya benar. Tidak mungkin ada orang yang memelihara anjing di apartemen ini. Kecuali mereka sengaja menyembunyikannya.

 

Gadis itu kembali mempertajam pendengarannya lagi. Seraya menguap lebar menatap langit-langit kamar. Namun tak ada suara apapun yang didengarnya selain suara deru hujan yang deras. Hujan lagi-lagi kembali turun tanpa tanda-tanda. Jaena bangkit. Beranjak dari ranjang untuk sekedar pergi ke kamar mandi. Ia menguap lagi, mengantuk. Namun entah kenapa sedari tadi ia belum juga tertidur. Inikah insomnia?

 

Langkahnya yang berjalan mengendap-endap menuju ke kamar mandi tiba-tiba terhenti. Ia terbelalak dan hampir saja berteriak jika tak menyadari yang terbang itu bukanlah sesuatu yang janggal. Namun hanya sebuah tirai transparan di sisi jendela. Rupanya Jimin tak jadi mengaitkannya tadi. Dan membiarkan tirai-tirai itu berterbangan merayap-rayap tepat di belakang sofa.

 

Jaena menghampirinya, mencoba mengaitkannya agar tak lagi berterbangan. Ruangan gelap tanpa penerangan itu tak mengganggunya sama sekali. Bahkan ia mampu melihat bingkai foto yang tergeletak tertidur di meja nakas dengan jelas. Ia lantas mengambilnya, meletakkannya seperti sedia kala. Tentu ia juga tahu, bahwa foto ini baru saja terjatuh dan pecah.

 

Gadis itu kembali melangkah, meninggalkan ruang tamu dan masuk ke kamar mandi. “Oppa?!” Triaknya terkejut mendengar derap langkah bergedebum. Ia segera keluar. Dan tak menemukan siapapun selain ruangan gelap yang tadi. Tanpa berfikir lama, Ia berlari cepat menuju kembali ke kamar. Takut.

 

Bukannya kamar Jimin yang ia dapat, ia justru tersesat di sebuah lorong koridor yang entah bagaimana ia bisa berada disini. Jaena bermimik cemas. Kepalanya celingukan mencari nomor kamar apartemennya. Bibirnya bergetar seraya bergumam memanggil-manggil Jimin. Ia tak begitu ingat bagaimana ia bisa sampai kemari. Yang dilakukannya tadi, bukankah hanya berlari menuju kamar kakaknya? Bagaimana bisa ia sampai di sini?

 

Jaena memeluk lengannya sendiri. Kakinya yang bertelanjang kaki terasa dingin karna ubin-ubin berkeramik ini. Serasa tembus menusuk tulang telapak kakinya. Jaena mencoba berlari lagi. Membiarkan piamanya basah karna produksi keringatnya. Ia merasa sangat ketakutan. “Opppaaaa!!” Pekiknya lagi. Namun tak ada sahutan apapun yang dapat menolongnya. Jangankan sahutan itu, seorangpun bahkan tidak ada yang bisa ditemuinya.

 

“Park Jaena?” Panggil seseorang yang sontak membuat langkah Jaena terhenti. Gadis itu perlahan membalikkan tubuhnya perlahan. Mendapati siluet tubuh asing seorang lelaki, tengah berdiri di depan sana.

 

“Op..pa?” Jaena justru melangkah mundur, setelah sosok itu maju selangkah hingga remang-remang rembulan menerangi dirinya. Dia bukan Jimin, bukan Oppanya. Juga bukan Jungkook. Lalu, siapa dia? “Kau, siapa?”

 

“Bisakah kau memberikan pyramid itu?” Lelaki itu telah menengadahkan salah satu tangannya. Tersenyum kecil menatap Jaena.

 

“Py..pyramid? Apa maksudmu?” Jaena menggeleng. Ia tidak mengerti. Terlebih, laki-laki itu. Ia sama sekali tak mengenalnya. “Siapa kau? Kenapa aku dan dirimu bisa ada disini?”

 

“Aku… Kim Taehyung. Kau ada di lingkaranku sekarang. Selamat datang.” Ujarnya dengan seringaian lebar. Dan mata menyala merah menyala.

 

_TBC_

 

Advertisements

One thought on “[FF Freelance] Pandora: Graffe Chapter 2

  1. kakaaaaaa
    aku merinding sendiri baca chap ini huwaaaaaaaaa :3 😥 *nangis di pelukan jimin 😀
    kakakk ini nge feel banget.. serasa aku ikut ngalamin ini coba ?? aigoooo

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s