Namitsutiti

[FF Freelance] Falling in Love with a Nerd Boy Chapter 9

3 Comments


10609552_1543687595920547_4329693910521810431_n

Author : Dinda Shakinah [Rose Lyn]
Credit poster by HRa – RCFF
chapter : 9
Title : Falling in Love with a Nerd Boy
Cast :
– Xi Lu Han [Actor]
– Park Hae Yeon [Original Character]
– And other cast.
Genre : School life, Friendship, Romance, Comedy (gagal), dll.
Leght : Multichapter
Rated PG +15 (bisa berubah sesuai mood saya)
Note : SIDERS ADALAH PENCURI!!!
Tolong tinggalkan jejak kalian.
Summary :
Perjuanganmu membuatku luluh. Apakah aku jatuh cinta padamu, Nerd?

*****

“Lu Han?”.

Lihat! Lelaki itu. lelaki yang sedari tadi dicari oleh seorang diva. Sedang tidur dengan muka tak berdosanya.

Astaga. Pastikan lelaki ini mendapat jeweranmu, Yeon.

Hae Yeon mendengus kesal. Ya, tentu saja. Gadis ini telah mencari berkeliling dan apa balasannya? Lelaki ini disini. Sedang tertidur. Diatas meja.

Catat itu, diatas meja. Apa guru tak marah?

squint emotikon orang cerdas mah bebas.

Hey! Sebenarnya yang patut disalahkan disini siapa?

Hae Yeon berjalan kearah Lu Han. Duduk dikursi samping lelaki itu. memandang wajah Lu Han dengan bercampur rasa yang ada.

Entah itu kesal, dengki, marah, senang dan berbagai ekspresi yang terpendam.

Dalam ruangan sepi nan tenang. Kira-kira, gadis itu berani apa? kalau biasanya Lu Han yang berpikiran mesum, apa kali ini sang tuan putri itu juga akan melakukan hal yang sama?

Hah, jangan harap, Lu.

Tuan putri sang diva sekolah yang kau pacari. Memilik kapasitas otak yang cukup memadai seperti yang kau punya, tapi,, tak memiliki otak mesum seperti yang kau punya.

*author bicara kan siapa kepada siapa?

Hahaha,, apa kau tak melihatnya? Sedari tadi Lu Han menelan salivanya kasar, saat Hae Yeon telah menyerukan namanya.

Lu Han tak tidur?

Percaya apa kau padaku? aku mah apah atuh, author mah cuman melebihkan saja,, xixixi..

Lu Han, kau lihat? Gadis mu itu, sedang menunggu. Menunggu kau bangun tentu saja.

Hae Yeon menghela nafasnya kasar. Pemikirannya setidaknya sedikit lebih tenang ketimbang yang tadi. Menemukan pujaan hatinya disini, membuat hatinya damai.

Huh,, kalau seorang Xi Lu Han tahu, Hae Yeon memanggil lelaki itu dengan ‘pujaan hati’, lelaki itu pasti akan besar kepala seperti bola basket, atau lebih besar lagi. squint emotikon

“Lu, kau tahu, aku mencarimu”.

Hae Yeon berbicara. Berbicara pada sosok Lu Han yang tengah tertidur dihadapannya, padahal tidak. Hae Yeon tersenyum dan memainkan jarinya keanak rambut Lu Han.

Gadis itu tak memiliki niat untuk mengganggu tidur sang kekasih. Gadis itu hanya ingin sedikit memperhatikan sang kekasih. Setidaknya saat lelaki itu tak menyadarinya.

“Lu, aku masih penasaran, siapa dirimu yang sebenarnya? Kita sudah bersama, bahkan ketika kita belum lahir, dan,, ya, kita bahkan hampir tidur bersama. Tapi,, kau masih belum mau berkata jujur padaku, hem?”.

Hae Yeon tertawa. Dirinya terlihat seperti orang gila yang sedang berbicara sendiri. Atau mungkin, jika Lu Han tak memakai kacamata dan memiliki seorang fans, gadis itu pasti dikatakan penguntit.

Hey! Biarkan saja, mereka kan memang sepasang kekasih. Apa salahnya menguntit pasangan sendiri?

“Lu, apa kau benar-benar tidur?”.

Hae Yeon sekali lagi berbicara ngawur. Gadis itu tentu tahu, bahwa Lu Han tidur. Pastinya.

Lu Han, kau iblis berwajah malaikat yang menyebalkan! Kenapa kau berbohong pada kekasihmu?

Lu Han terkekeh dalam hati. Mengerjai Hae Yeon agar berkata jujur itu memang mudah. Apapun bisa lelaki itu lakukan, agar Ahe Yeon percaya, bahwa Lu Han memang telah melakukan sesuatu, tapi pada kenyataannya itu semua hanya kebohongan semu yang bertujuan hanya untuk mengerjainya.

Jika Hae Yeon tahu, aku ingin kau dicincang habis olehnya, Lu.

“Lu..”.

Hae Yeon memulai pembicaraan lagi. Membuat Lu Han yang tadinya ingin bangun, menjadi kembali berpura-pura tidur. Karena Lu Han ingin mendengar semua yang ingin di ucapkan kekasihnya.

“Aku berangkat bersama Se Hun”.

Aku tahu.

“Kau pasti diusir Oppa, kan?”.

Tentu saja, lelaki itu yang selalu melakukan segala cara agar kau bisa pergi dengan si tuan Oh itu.

“Jangan marah kalau mendengar ini”.

Lu Han menahan nafasnya sebentar. Lelaki itu tak ingin sedikitpun memotong apa lagi tak mendengar hal seperti ini. Kejujuran seorang Hae Yeon itu berharga, asal kau tahu saja itu.

“Sehun, dia,,”.

Kenapa? Apa dia menyakitimu?

“Dia mengucapkan maaf, padamu. Lelaki itu melepaskan cintanya, aku, untukmu. Apa kau mendengarku? Bodoh memang, aku berbicara sendiri pada seseorang yang tengah tertidur. Aku terlihat seperti orang gila. Tapi tak apa, selama aku hanya gila didepanmu. Setidaknya aku tidak akan menanggung malu”.

Hae Yeon menundukkan kepalanya. Gadis itu lelah. Dia sudah banyak bicara. Bahkan lawan main bicaranya tak mengungkap sedikitpun kata. Gadis itu bersandar pada kursi dan menutup matanya.

“Aku tidur tidak ada salahnya kan? Setidaknya, jika kau membolos, maka aku juga bis..”.

Chu.

“Kau terlalu banyak bicara, Nyonya Xi”.

Hae Yeon membuka matanya cepat. Bulatan dimatanya bahkan terlihat jelas. Ini apa?

Hae Yeon mengeram kesal. Lelaki itu pasti mengerjainya. Hae Yeon tahu akal bulus seperti ini. Bahkan ini sudah ketiga kalinya lelaki itu mengerjainya demi mengambil keuntungan untuk mendapatkan sebuah kejujuran.

“Xi Lu Han, kau menyebalkan!”.

*
“Hae Yeon –ah, buka pintunya, aku mohon”.

Dorr dorr dorr

Lu Han terus mengedor pintu kamar Hae Yeon. Mereka bertengkar? Ya, jangan tanyakan lagi. Kau tidak amnesia ‘kan, sewaktu Lu Han mengerjai Hae Yeon dan Hae Yeon mengetahuinya.

Sudah kukatakan, seorang Xi Lu Han tidak ada apa-apanya bila sudah berhadapan dengan Hae Yeon –sang kekasih tercinta dan apalah namanya.

Chan Yeol, lelaki itu berdiri didepan pintu kamarnya. Yang letaknya didepan kamar Hae Yeon, sedikit kekanan. Lelaki dengan telinga besar yang tak lain adalah kakak sang kekasih kini, menatap Lu Han dengan tatapan meremehkan. Tersenyum dalam hati dengan sejuta kemenangan.

Lelaki itu bersendekap dada. Tersenyum kecut, lalu berjalan menghampiri Lu Han yang hampir frustasi dibuat oleh adiknya.

“Bagaimana?”.

Lu Han menolehkan kepalanya keasal sumber suara. Lelaki itu menghembuskan nafasnya perlahan. Kali ini hatinya harus lebih bersabar, menghadapi dua keturunan yang hampir sama-sama keras kepala pasti akan membuat kepala pening dalam hitungan detik.

Lu Han mencoba tersenyum, meski sedikit dipaksakan.

“Hae Yeon marah padamu, aku rasa tak ada harapan”.

Kau salah besar, jika beranggapan demikian.

Lu Han berteriak dalam hati. Ingin rasanya menonjok Chan Yeol yang mukanya sudah ada didepan mata. Wajah tampang tak berdosanya itu membuat Lu Han seakan naik darah dalam sekian persen detik berikutnya. Bahkan kalau bisa, lelaki itu ingin melenyapkan Chan Yeol. Agar tak ada bibit-bibit hama yang menghalanginya untuk berada disisi Hae Yeon.

Sayangnya, semua yang ingin Lu Han lakukan itu adalah hak pelanggaran yang akan membuat dirinya berada dalam keadaan dimana Hae Yeon akan membencinya dimasa depan. Gadis populer itu, terlalu mencintai kakak laki-lakinya, dan itu artinya tak ada harapan untuk menjauhkan Chan Yeol dari Hae Yeon. Itu sebuah harapan semu yang mustahil dilakukan.

“Tidak, bukan seperti itu Hyung. Hae Yeon hanya sedikit marah dan dia tak mau membukakan pintu kamarnya untukku”.

“Benarkah?”.

Lihat! Betapa Lu Han menahan tangannya agar tak melayang jauh diluar kendali. Tampang mengejek yang Chan Yeol keluarkan untuknya seakan terlihat seperti bendera perang yang tengah berkibar didepan wajahnya.

Seharusnya, disaat bendera tengah berkibar Lu Han harus mulai bersiap menyerang tanpa harus aba-aba. Tapi kau tahu, cinta lebih mengalahkan semuanya. Hae Yeon menyayangi Chan Yeol dan mau tak mau Lu Han juga harus belajar untuk hal itu.

Chan Yeol, aku ingin membunuhmu.

“Pergilah, aku tak ingin berdebat. Hae Yeon sedang marah dan aku tak ingin kau menemuinya. Gadis itu sensitive masalah perasaan”.

Chan Yeol terdengar seperti menasehati.

Hey, kapa lelaki itu bisa berubah drastis seperti ini?

Dan bodohnya, itu seprti sebuah mantra yang mengatur Lu Han untuk segera kembali kerumahnya. Lu Han mengangguk dan berlalu.

Chan Yeol menghembuskan nafasnya perlahan, merasa sedih melihat Lu Han yang didiamkan adik tersayangnya.

Chan Yeol, kau tidak sakit ‘kan?

Kau merasakannya? Apa hawa peperangan antara Lu Han dan Chan Yeol berakhir begitu saja? Kenapa bisa?

“Kau beruntung memilikinya, Lu”.

*

Hae Yeon membuka matanya perlahan. Merasakan hawa dingin yang mulai menyentuh kulitnya secara perlahan, tapi juga menusuk disaat-saat tertentu.

Gadis itu tersenyum dan kembali memejamkan mata. Meski niatnya tak ingin memikirkan Lu Han, membuat dia bisa mati berdiri ditempat. Gadis itu bahkan tak sanggup mendiamkan Lu Han seperti tadi. Saat Lu Han menggedor pintu kamarnya.

Gadis itu tak tega setengah hati.

Tapi mau bagaimana lagi, gadis itu hanya ingin Lu Han mengerti, bahwa dia tak ingin dikerjai seperti itu. gadis itu tak ingin Lu Han seperti itu. gadis itu takut, jika suatu saat Lu Han hanya main-main saat berhubungan dengannya.

Bukankah itu terlihat menyedihkan?

“Hae Yeon –ah?”.

Seseorang bersuara. Membuat Hae Yeon melihat kearahnya.

Chan Yeol. Lelaki itu tersenyum tatkala Hae yeon melihat kearahnya. Lelaki itu ikut mendinginkan diri dibalkon bersama adiknya itu.

“Kenapa Oppa kemari?”.

Hae Yeon menatap kakak laki-lakinya itu dengan sejuta rasa penasaran yang bergemuruh dalam hatinya. Menunggu jawaban Chan Yeol yang menurutnya kini penting, karena itu topik permasalahannya.

Chan Yeol menatap adiknya. Dengan senyuman hangat yang ditunjukkan lelaki itu.

“Apa tak boleh, berada disini bersama Hae Yeon?”.

“Bukan, bukan seperti itu. Oppa boleh berada disini bersama Hae Yeon”.

Lihat, logat mereka sewaktu kecil keluar. Sangat menggemaskan squint emotikon

“Hanya saja, Hae Yeon ingin tahu, alasan terkuat apa yang membuat Oppa berada disini. Bukankah sedari dulu, Oppa tidak pernah mau masuk kekamar Hae Yeon?”.

Raut muka Hae Yeon sedikit terlihat sedih. Matanya sedikit berkaca-kaca. Menatap Chan Yeol dengan tatapan seolah berkata, ‘Jangan lakukan itu lagi, Hae Yeon sedih’.

Dan Chan Yeol menatap adiknya sendu. Merasa bersalah atas apa yang dahulunya pernah terjadi. Rasa sesak menyelimutinya saat ini. Ingin rasanya Chan Yeol menangis, meminta maaf karena terlalu sering mengabaikan adik kecilnya itu.

Ya, Chan Yeol terlalu jahat.

“Maafkan, Oppa. Oppa berjanji, tak akan melakukannya lagi”.

Hae Yeon mengangguk dan tersenyum kearah lelaki itu. sedikit membuat hati suram Chan Yeol lebih tersinari matahari pagi yang cerah.

Hey! Ini sudah senja squint emotikon

Mereka dua kembali. Menatap matahari tenggelam dihadapan mereka. saling berkelut dengan jalan pemikiran masing-masing. Seolah tak ingin mengganggu satu sama lain.

Hingga akhirnya, Hae Yeon ingin bertanya. Pertanyaan yang seharusnya gadis itu pertanyakan sedari awal.

“Oppa”.

“Ya?”.

“Kenapa Oppa tak menyukai Lu Han?”.

Seperti bom atom yang jatuh tepat didepannya. Hatinya seakan hampir saja hancur tanpa sisa.

Adik kecilmu ini tengah bertanya, Chan Yeol. Alasan apa yang membuatmu tidak menyukai kekasih adikmu sendiri, hem?

Bagus. Lelaki itu bahkan tak bisa apapun saat ini. Tubuhnya tercengang. Bahkan terlalu tak bisa merespon apa yang baru saja Hae Yeon pertanyakan padanya. Itu seakan pertanyaan tersulit dalam sejarah hidupnya.

Chan Yeol tak menyukai pelajaran fisika, bahkan pertanyaan ini jauh lebih tidak Chan Yeol sukai daripada fisika.

Hey, kau tidak menyukai Lu Han, kenapa? Hanya itu pertanyaannya. Kau juga tidak perlu bergelut dengan rumus dan angka kenapa ini sulit?

Chan Yeol menghembuskan nafasnya perlahan. Bersiap menjawab pertanyaan tersulit baginya, kenapa adik kecilnya. Terlihat seprti ingin berbagi cerita sedih.

“Oppa, iri dengannya”.

Hae Yeon mengangkat alisnya tak mengerti. Sedikit bingung dengan kosakata yang Chan Yeo katakan padanya. Gadis itu belum mencerna seluruhnya apa yang dikatakan Chan Yeol padanya.

Chan Yeol menghadap adiknya. Menuntun gadis itu dan dirinya duduk dibawah. Dan Chan Yeol kembali bersiap untuk menceritakan apa yang ingin diketahui gadis itu.

“Opp, iri padanya, karena dia selalu bisa menjagamu, berada disampingmu dan terlihat tanpa memiliki beban sedikitpun dipikirannya. Bahkan Oppa lebih iri lagi, saat kau mencintanya. Oppa merasa Hae Yeon milik Oppa. Oppa tak ingin Hae Yeon terluka. Karena nyatanya, Lu Han jauh lebih baik dalam menjaga Hae Yeon..”.

Raut muka Chan Yeol mulai berubah. Terlihat sedih dan tersiksa.

“.. Oppa tahu, lelaki itu tulus mencintai Hae Yeon. Bahkan cintanya jauh lebih besar ketimbang cinta Oppa pada Hae Yeon. Oppa merasa gagal, karena Oppa malah meninggalkan Hae Yeon sendirian dan lebih memilih pergi ke Amerika. Oppa hanya merasa takut, saat Hae Yeon lebih membela Lu Han daripada Oppa. Oppa takut, Hae Yeon tidak menyayangi Oppa lagi seperti dulu. Oppa takut saat Hae Yeon malah lebih menyukai Lu Han berada disisi Hae Yeon daripada Oppa. Oppa, takut Lu Han mengambil Hae Yeon dari Oppa. Oppa takut..”.

“Sssttt”.

Hae Yeon memeluk kakak laki-lakinya. Menyalurkan rasa hangat lewat pelukan antar dua bersaudara itu.

Kakak laki-lakinya bahkan sudah menangis saat mengatakannya. Membuat hati Hae Yeon terenyuh dan ikut merasakan betapa besar cinta kasih Chan Yeol padanya. Membuat Hae Yeon juga ikut menangis bersamanya.

Ini bahkan terlihat seprti drama picisan, tapi ini bahkan jauh lebih romantis dari sebuah drama picisan.

Kini tiada beban yang terasa berat Chan Yeol pikul. Lelaki itu berbagi kesedihan dan penat yang membelenggunya. Membuat dirinya setidaknya jauh lebih baik dari sebelumnya.

“Oppa, jangan merasa seperti itu. pada kenyataannya, Hae Yeon mencintai Oppa, jauh lebih baik ketimbang Hae Yeon mencintai Lu Han”.

“Sungguh?”.

“Ya”.

Anggukan mantap gadis itu berikan untuk kakaknya.

Mereka terlihat bahagia bila sudah seperti ini. Saling berbagi kasih dan terbuka. Bukankah itu menyenangkan.

Dibalik pintu sana, Tuan dan Nyonya park hanya tersenyum. Melihat kedua anaknya itu saling terbuka dan nyatanya mereka saling menyayangi. Keluarga kecil itu pasti akan jauh lebih harmonis mulai dari sekarang.

“Ini hebat, Yeobo”.

“Benar”.

*

“Hae Yeon”.

Lu Han berteriak. Memanggil Hae Yeon yang masih terus berjalan tanpa memperdulikannya. Mereka terlihat seperti pasangan bertengkar.

Bahkan para siswa dan siswi yang lain berpikiran demikian. Kau jahat author. Biar saja, yang penting saya menulisnya dan happy ^^

Hingga detik detik berikutnya, Lu Han sudah mendapatkan tangan Hae Yeon. Lelaki itu menarik Hae Yeon cepat, agar mengikutinya. Tersenyum kecut dibalik artian semuanya.

Lu Han membawa Hae Yeon kedalam perpustakaan kemarin. Gawat, ini terlalu sepi.

Pikiran Hae Yeon mulai berkecambuk liar. Gadis itu takut sesuatu yang buruk akan terjadi.

Hae Yeon kau mesum? Tidak, hanya pemikiran alamiah secara gadis yang nalurinya peka akan hal sepi.

“Lu Han, k..ka..u mau apa?”.

 

To Be Continue..

 

Advertisements

3 thoughts on “[FF Freelance] Falling in Love with a Nerd Boy Chapter 9

  1. Hayuluhh luhannn nahhh, lgian iseng, haeyeon ngambek kan -_- next chap-nya ditunggu HWAITING!!!

    Like

  2. Ohh jadi bgtu alasan chanyeol ga menyukai luhan..

    Like

  3. nahlo dia mau ngapain coba sama hae yeon??? luhan tenangkan dirimuuu

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s