Namitsutiti

[FF Freelance] Pandora: Rebirth Chapter 1

4 Comments


11149074_840675115968272_1048299528_n

Tittle : Pandora

Cast : Park Jaena | Park Jimin BTS | Jeon Jungkook BTS | and member BTS

Rating : Teen

Genre: Romance, fantasy, horror, misteri, fiksi

length: chapter

author & cover by Okhara

_o0o_

Setiap orang memiliki sejarah hidupnya sendiri. Begitu pula dengan takdir. Tak ada yang tahu, hanya Tuhan. Bahkan para malaikat hanya mampu diam menyaksikan. Begitulah hidup. –Pandora–

 

***

17 tahun yang lalu…

 

Langit kelabu dengan gumpalan awan hitam menyisir langit hingga tak menyisakan satupun bintang. Disana, disebuah rumah dengan jajaran pagar berkayu, nampak seorang lelaki berumur 30-an tengah berjalan mondar-mandir. Raut wajahnya menyiratkan resah. Sementara hujan lebat masih saja turun. Menambah kegundahan yang semakin menambah kalut pikirannya. Ia terlalu cemas.

 

Disisinya, seorang lelaki kecil dengan pedang mainan di tangan menatapnya heran. Ia tak jua mengerti. Padahal ia telah berulang kali bertanya. Berulang kali pula lelaki dewasa itu berdecak menjelaskan. Tapi memang dasarnya saja ia yang masih kecil. Tak mampu memahami masalah yang sedang terjadi.

 

Di dalam sana, teriakkan itu kembali terdengar. Anak kecil itu melepas pedang mainannya dengan terkejut. Merapatkan diri hingga lelaki dewasa di sampingnya memeluknya erat. Mencoba membuatnya tenang dengan menepuk-nepuk punggungnya.

 

“Appa, apa yang sebenarnya terjadi?” Anak laki-laki kecil itu bertanya lagi.

 

“Eomma, dia sedang melahirkan. Tenanglah. Dia akan baik-baik saja.”

 

Anak kecil itu mengangguk kecil. Tapi tak ikut tersenyum ketika Ayah-nya menyunggingkan senyum padanya. Ia mungkin sedang ketakutan. “Lalu Ayah menunggu siapa?”

 

Ayahnya hendak menjawab, namun mobil bersirine nyaring itu lebih dulu datang. Mengangkut barang-barang asing yang baru kali ini laki-laki kecil itu lihat. Ayahnya bergegas mengantar orang-orang berbaju putih itu masuk. Sedangkan ia masih bergeming di depan rumah. Ia tidak tahu. Ia tak juga paham.

 

Setelah itu, petir menggelegar kencang. Seiring dengan suara tangis bayi yang sontak membuatnya terbelalak. Lelaki kecil itu segera mengambil pedang mainannya yang terjatuh. Dan berlari terburu-buru ke arah kamar tidur kedua orang tuanya. Disanalah, ia mendapati Appanya menggendong sesuatu. Dan lalu berbalik menatap kehadirannya.

 

“Dia sudah lahir. Dia sudah kembali.”

 

Lelaki kecil itu perlahan berjalan mundur. Terkejut melihat Appanya menggendong sesuatu yang nampak bercahaya. Sesuatu yang memiliki sayap putih nan bersinar.

 

_o0o_

 

“HAAH!!”

 

“Oppa? Oppa?!! Jaljinasesseo? –baik-baik saja?–” Gadis berambut panjang itu mengguncang-guncangkan tubuh lelaki di sampingnya dengan cemas. “Kau bermimpi buruk lagi? Kau kenapa? Cerita padaku.” Paksa gadis itu setelah ia terbangun.

 

“Jaena-ya? Hhfft… kukira itu kenyataan. Ternyata hanya mimpi.”

 

“Kau… bermimpi tentang apa? Kenapa sampai berkeringat?” Jaena, gadis itu perlahan menyeka keringat lelaki itu. Lalu mulai beranjak untuk mengambilkan segelas air minum.

 

Lelaki itu nampak berfikir keras. Lalu memijat keningnya perlahan. “Jaena, kau percaya dengan hantu?”

 

Jaena mendesah. Lalu berjalan menghampirinya. Menyodorkan segelas air minum dan langsung di teguk habis dirinya. “Tentu saja. Aku hanya tidak percaya dengan bidadari. Semua itu khayalan Oppa. Eh? Kenapa Oppa bertanya itu? Oppa bermimpi hantu?”

 

“Kurasa begitu.”

 

“Yaak! Jimin Oppa! Harusnya kau tidak cerita begitu padaku. Mimpimu akan jadi kenyataan!”

 

“Yaak!! Jangan menakut-nakutiku! Dasar kau ini!”

 

Jaena terkekeh geli. Sementara Jimin kembali meringkuk di atas ranjangnya. Mungkin ini akan menjadi aktifitas terakhirnya untuk menceritakan tentang mimpinya kepada Jaena adiknya. Jimin kesal sendiri. Adik perempuannya yang lebih nampak berani kerap kali menakut-nakutinya. Bahkan berulang kali ia merasa percaya dengan ucapan adiknya itu. Padahal dia sadar, bahwa Jaena sedang mengerjainya.

 

“Oppa?! Oppa! Yak! Kenapa malah melamun? Kau tak ingin mengantarku pergi sekolah?”

 

“Aiissh… Ne, arraseyo.”

 

_o0o_

 

Sejak kecil, sejak umur Jaena menginjak umur 7 tahun lebih tepatnya, Jaena dan Jimin hanya hidup bertiga dengan ibunya. Ayahnya meninggal karna kecelakaan pesawat terbang. Membuat tanggung jawab Jimin sebagai kakak menjadi lebih besar. Ibu-nya yang kini menjadi single-parent tak begitu kuat menanggung hidup. Ia kerap sekali jatuh sakit. Membuat Jimin selaku kakak, bertanggung jawab pula sebagai tulang rusuk keluarga. Dan lalu membiarkan ibunya pindah ke Busan tinggal dengan neneknya.

 

Jaena tahu, ia tak mungkin terus menerus meminta dan berharap dimanjakan ibunya. Apalagi ia telah lama menyadari kondisi ibunya. Untuk itu, satu-satunya tempat dimana ia bisa meminta kasih sayang adalah kepada satu-satunya kakaknya. Park Jimin.

 

Tiap kali merasa takut maupun tengah merasa senang sekalipun, satu-satunya yang ia tuju adalah Jimin. Seolah tak ada orang lain yang begitu diharapkannya selama ini selain kakak laki-lakinya yang berparas tampan itu. Jimin, lelaki itu juga telah berjanji pada Ayahnya. Menjaga Ibu dan juga adiknya. Bahkan tanpa berjanjipun, Jimin sendiri sudah ingin menjadi pelindung bagi adiknya. Ia sangat menyayangi Park Jaena.

 

Motor besar yang dikendarainya kini berhenti tepat di depan gerbang tinggi. Jaena beranjak turun, melambaikan tangan seraya tersenyum senang kearah Jimin. Lelaki itu berdecak. Menyadari sesuatu. “Jaena-ya! Kau tak pakai jasmu lagi? Kau bisa kena hukuman nanti.”

 

“Gerah Oppa.. aku..” BBUUG.. “Eh?”

 

Jaena menoleh, mendapati sosok lain berdiri di belakangnya seraya menyampirkan sebuah jas almamater berwarna coklat muda ke balik punggungnya. Jaena kini yang berdecak. Melirik Oppa-nya yang asyik terkikik geli.

 

“Selaku anggota OSIS, aku harus memberikan peringatan pertama sekaligus melindungimu.” Ujar lelaki itu tenang. Namun sedetik kemudian ia ikut terkekeh.

 

“Ne Jeon Jungkook. Neo pabo!” Jaena mengerling. Tak memperdulikan Jungkook yang kini berteriak kesal padanya. “Oppa, hati-hati di jalan. Jangan pulang terlambat dan lekaslah jemput aku!” Pinta Jaena yang lalu melambaikan tangan atas berlalunya Jimin dari hadapannya.

 

Jungkook kini mengambil alih. Tangannya dengan sigap menarik lengan Jaena dan mengajak gadis itu memasuki halaman sekolah.

 

Jaena kembali berdecak. Ia hendak memprotes. Namun niatnya urung begitu ia melihat suasana sekolah yang tiba-tiba nampak berbeda. Semua berjalan lambat. Seolah waktu sedang diberhentikan, seperti sihir. “M..mwo?” Jaena bergumam. Lalu menolehkan kepalanya ke belakang. Benar saja. Semua orang disini berjalan dan bergerak dengan amat lambat, slowmotion. Kepalanya sontak menoleh pada Jungkook yang terlihat membuka tutup mulutnya dengan amat lambat. Seperti sedang berbicara sesuatu. “Jungkook?”

 

“JAENA!”

 

Sedetik kemudian, Jaena dibuat terperanjat. Matanya mengedip beberapa kali dan mendapati semua berubah normal kembali. “JAENA!! Kenapa kau Melamun begitu?” Jungkook menepuk-nepuk pipi gadis itu beberapa kali. “Kau tak apa?”

 

“N..ne. Yaak… kukira waktu sedang berhenti tadi.” Gumam Jaena.

 

“Huh? Kau mengatakan sesuatu?”

 

“Huh? A..apa? Oh, tidak. Aku tidak apa-apa.” Jaena bingung sendiri. Kepalanya terasa berputar kecil. Atau mungkin kejadian tak terencana tadi akibat rasa pusing ini dan dia tak menyadarinya? Tapi, mengapa terasa begitu nyata?

 

_o0o_

 

Jimin menutup pintu kamar apartemennya setelah ia mengenakan jaket kulitnya. Tiba-tiba matanya terbelalak begitu ia ingat telah terlupa membawa kontak motornya. Ia pun bergegas kembali masuk.

 

Langkahnya terburu-buru mendekati meja nakas. Mengambil kunci motor yang tergeletak disana dengan segera. Tanpa sadar, ia tengah menatap bingkai foto yang sengaja dipajang di sana. Foto seorang gadis kecil dengan gaun putih dan di sampingnya berdiri seorang anak laki-laki tampan yang adalah dirinya. Jimin tersenyum simpul. Menatap wajah Jaena kecil yang meringis lucu disana. Lalu ia kembali berbalik dan berjalan pergi. Meninggalkan bingkai foto itu yang memang akan selalu terletak disana.

 

Meski sedang mengendarai motornya, pikiran Jimin tak bisa fokus pada jalanan. Matanya tetap menatap lurus ke depan, namun tidak dengan pikirannya. Sekelibat potongan mimpi semalam mampir ke otaknya. Membuat alis Jimin bertaut kecil. “Jika dipikir, aku sering sekali memimpikan itu. Sebenarnya mimpi apa itu?”

 

Jimin kembali melesatkan motornya setelah lampu merah berganti hijau. Meninggalkan lamunan pertanyaannya dan masuk ke gerbang parkiran kampusnya. Kawasan Hongik Daehakgyo –atau biasa disebut Hongdae– memang selalu ramai di jam seperti ini. Akan banyak pelajar kalangan mahasiswa yang berlalu lalang, dan tak hanya dalam hitungan jari. Sangat ramai dan akan nampak padat.

 

Lelaki berambut coklat caramel itu mempercepat laju langkahnya. Matanya baru saja menangkap dua sosok familiar di depan sana. Setelah dirasa cukup dekat, Jimin berlari kecil. Menepuk dan ikut nimbrung seraya menyapa kedua temannya tersebut.

 

“Selamat pagi.” Sapanya.

 

“Dasar bodoh! Kau mengejutkan kami!” Ujar salah satunya.

 

“Yaak! Ho Seok! Kau sedang pms? Kenapa marah-marah begitu?” Kali ini lelaki di samping kanan Jimin tertawa. Menganggap ucapan Jimin lucu. “Seok Jin! Kau sepertinya terlihat bahagia. Waeyo?”

 

“Aku menang main catur semalam. Kau sendiri kenapa tidak ikut? Seminggu ini kau selalu sibuk?”

 

“Adikku. Kau tau sendiri dia baru saja kembali dari Busan setelah sebulan tinggal disana. Sekarang dia tinggal hanya berdua denganku. Bagaimana bisa aku meninggalkannya.”

 

“Ne. Dia benar.” Ho Seok mulai angkat bicara. “Adikmu perempuan?” Jimin mengangguk ragu. “Cantik?”

 

“YAAK!!” BUUAAGGH~ “Tentu saja dasar playboy!” Jimin berubah geram. Ia merasa kesal tiap kali Ho Seok menanyai sosok seorang gadis padanya. Temannya yang satu ini memang lumayan playboy. Tak heran saat menanyakan cantik tidaknya adiknya, Jimin memukul gemas kepalanya. “Kuperingatkan jangan dekati dia!”

 

“Bagaimana denganku?” Tanya Jin antusias. Sedetik kemudian, Jin juga mendapatkan pukulan dari Jimin.

 

“Andwae. Dia harus tumbuh dewasa dulu. Umurnya baru saja menginjak 17 tahun. Sebelum itu, dia tak boleh pacaran.”

 

Ho Seok mendengus. Sementara Jin dan Jimin terkekeh geli. Mendadak senyum Jimin sirna. Ia kembali teringat sesuatu. “Mimpi… lagi-lagi aku bermimpi tentang itu lagi.”

 

“Mimpi? Yaak! Kau ini seperti perempuan saja Jiminie. Mimpi apa memang?” Ho Seok selangkah lebih maju.

 

“Aku memang belum pernah bercerita tentang ini pada kalian. Tapi akhir-akhir ini mimpi itu seolah menghantuiku.”

 

“Mi..mimpi soal apa?” Tanya Jin penasaran.

 

“Appa. Mendiang Appa-ku menggendong sesuatu yang bersinar dan bersayap. Aku selalu melihat itu di dalam mimpi.”

 

DEG!

 

Jin dan Ho Seok kali ini saling pandang. Keduanya mengangguk pelan, hingga Jimin yang terlihat bertatap menerawang sama sekali tak menyadarinya. “Lalu, apa yang digendongnya, kau tahu?”

 

“Entahlah. Kejadian yang kapan saja aku tidak tahu. Aku lupa.” Jimin mendesah. Lalu segera menepuk pundak kedua temannya setelah mereka bertiga sampai ke depan pintu kelas. “Sudahlah. Ayo kita masuk!”

 

_o0o_

 

Jaena kembali menyeka keringatnya. Terik matahari lumayan membuatnya berkeringat kali ini. Terbukti karna seragam olahraganya telah lembap dengan keringat. Serta rambut panjang hitamnya yang basah. Jaena menghela nafas.

 

“Minumlah.” Seseorang baru saja menyodorkan sebotol air mineral padanya. Saat mendongak, didapatinya Jungkook telah berdiri di belakangnya. “Tenang saja. Ini gratis.” Jungkook nyengir kuda. Terlihat gigi putih itu terhias rapi di dalam bibirnya. Jaena tersenyum puas.
“Kau nampaknya jadi tambah baik hati padaku eoh Jeon Jungkook?” Jaena mulai meneguk airnya. “Ahh, segar! Gomawo eoh?”

 

“Em.” Jungkook ikut duduk di sampingnya. Menarik nafas sembari melempar pandangan ke arah lapangan. Entah kenapa lelaki itu terlihat sedang berfikir. Namun apa yang sedang dipikirkannya, Jaena tak mampu menebak. Menanyakannyapun merasa enggan.”Kira-kira sudah berapa lama ya? Kita saling kenal dan dekat?” Tanya Jungkook akhirnya. Membuat Jaena sontak tersadar.

 

“Mo..molla, waeyo?” Herannya seraya mengernyitkan dahi.

 

“Kupikir…aku…” Jungkook terhenti tiba-tiba. Pandangannya kini menatap Jaena terkejut yang tengah menatap dengan tatapan aneh. Lalu berubah bingung. “Jaena? Gwenchanayo?”

 

“Berhenti? Baru saja waktunya berhenti!” Pekik gadis itu tak percaya. Sementara Jungkook mengernyit heran. “Jungkook! Kau tak merasakannya?”

 

Jungkook menggeleng. Lalu beralih pada pemandangan di sekitarnya. “Waktu berhenti apa maksudmu?”

 

“Mollayo, aku baru saja melihat waktu sedang berhenti berjalan.” Jaena tertegun sesaat. “Mungkin ini efek sakit kepala. Kepalaku terasa berputar-putar sekarang.”

 

“Kita ke UKS saja. Ayo!”

 

Jaena memanggutkan kepala. Lalu mengikuti bimbingan Jungkook yang mengantarnya ke ruang UKS. Ia langsung berbaring begitu sampai disana. Sedangkan Jungkook ijin keluar untuk meminta ijin untuk jam istirahat panjang bagi Jaena kepada wali kelas mereka.

 

Gadis itu memandang langit-langit ruang UKS dengan tatapan menerawang. Kepalanya memang dilanda rasa pusing. Tapi perasaannya yang baru saja mengalami dimana waktu berhenti masih merasa tak percaya. Jaena benar-benar mengalaminya. Ia tak mungkin salah. Ini terasa nyata.

 

Beberapa saat kemudian, gerombolan murid datang membawa seorang murid yang sepertinya tengah pingsan. Beberapa dari mereka nampak sangat panik. Jaena heran sendiri. “A..apa itu?” Gumamnya lirih setelah anak pingsan itu dibaringkan di ranjang tepat di sampingnya. Gadis itu masih menatapnya aneh. Namun tiba-tiba berubah merasa curiga.

 

Bulu tengkuknya terasa berdiri. Jaena mengamatinya lagi. Di samping anak lelaki yang pingsan itu, satu sosok bayangan hitam terlihat melayang-layang mondar-mandir di sekitar kerumunan. Jaena menyengir ngeri. Mencoba menggeleng-gelengkan kepalanya dan menganggap ini adalah efek dari pusing kepalanya.

 

“Kenapa gurunya lama sekali? Kita harus mencarinya! Ayo!”

 

Kini gerombolan itu mulai pergi keluar. Meninggalkan lelaki pingsan yang tak kunjung sadar itu sendirian di ranjangnya. Sementara itu, Jaena semakin bergidik ngeri. Karna kali ini, bayangan hitam itu terlihat lebih jelas. Nampak seperti kain hitam melayang berupa sosok berjubah dengan asap-asap hitam di sekelilingnya. Seramnya, sesuatu itu tak nampak di cermin almari ruangan.

 

Jaena mengernyit. Menyaksikan sosok hitam itu mendekati tubuh lelaki pingsan itu. Mendekatkan kepala tanpa rupa itu ke sisi wajah si lelaki. Apa yang hendak dilakukan makhluk itu? Jaena penasaran. Sebegini besarnyakah imajinasinya? Kenapa senyata ini?

 

“HOOOAAAAAAGHHHKKK…!!”

 

Jaena terbelalak dan hendak menjerit mendengar dan melihat lelaki di sampingnya menjerit. Bayangan yang telah berubah seperti hantu jubah hitam melayang itu nampak tengah menyedot sesuatu dari dalam tubuh lelaki itu. Hingga membuat tubuhnya menggelinjang amat hebat. Dengan mulut terbuka dan sesuatu berwarna hitam keabu-abuan keluar dari dalam mulutnya yang menganga lebar.

 

Jaena tak mampu menjerit. Tubuhnya terasa bergetar begitu pula dengan tangannya yang kini mulai mendingin kaku. Ia hendak meminta tolong. Namun ada daya, peristiwa yang dikira hanyalah secuil imajinasinya ini sudah membuat anak lelaki yang pingsan itu kembali terkulai lemas. Jaena bernafas memburu. Ia berusaha menangkan diri dan berusaha melepaskan diri dari pemandangan aneh nan menyeramkan di hadapannya itu.

 

Jaena memejamkan matanya erat. Tangannya mengepal seraya meremas seprai ranjang UKS. Perlahan ia berusaha membuka kelopak matanya kembali. Namun… Jaena malah terbelalak begitu mendapati sosok berjubah hitam itu telah berada tepat di depan wajahnya. Dan terlihat jelas satu mata berwarna kuning menyala itu menatapnya lekat. Hanya ada satu mata. “AAAAAKKKHH!!!!”

 

“JAENAA!!”

 

Jaena membuka matanya. Menoleh dan mendapati Jungkook datang menuju ke arahnya dengan langkah terburu-buru. Wajah lelaki itu nampak cemas melihat kondisi Jaena yang tiba-tiba sudah berkeringat dingin. “Ada apa..kenapa berteriak?”

 

Segerombolan murid tadi kembali datang dengan terburu-buru beserta seorang guru yang berjalan di posisi paling depan. Jaena menoleh cemas ke arah kerumunan tersebut. Nafasnya masih memburu hebat. Gadis itu sama sekali tak menghiraukan Jungkook yang berulang kali menanyakan macam-macam padanya. Ia memilih diam menanti kabar berikut dari arah kerumunan tersebut yang kini tengah dilanda kepanikan.

 

“Kau mengenalnya Jaena?” Bisik Jungkook. Kali ini Jungkook ikut memandang ke arah kerumunan tersebut. Sedangkan guru yang nampak panik tadi mulai terbelalak. Menatap satu persatu murid di samping kanan kirinya dan kembali mengecek denyut nadi lelaki pingsan itu.

 

“Kenapa bisa terjadi?” Guru itu menarik nafas. “Dia tewas.”

 

Jaena terbelalak. Begitu pula Jungkook yang berada di sampingnya. Guru yang sedari tadi membelakangi mereka akhirnya menoleh ke belakang. Menatap Jaena yang memang sudah sejak tadi berada disini. Berharap bahwa gadis itu –mungkin– tahu dengan apa yang telah terjadi sebelumnya pada lelaki ini. Tapi Jaena hanya memilih diam.

 

_o0o_

 

“Kau sama sekali tak tahu menahu tentangnya?” Jungkook masih rewel menanyakan itu pada Jaena. Sedangkan Jaena hanya memasang muka datar seolah dia baru saja terserang syok. “Aku merinding, merasakan jadinya kau tiduran seorang diri untuk beberapa saat di satu ruangan dengan seorang…mayat?”

 

“Kupikir begitu. Aku juga…syok.”

 

Yang diartikan syok oleh Jaena bukanlah kematian tak terduga tadi. Tapi kemunculan sosok berjubah yang mungkin telah mengapa-apakan si laki-laki yang telah diketahuinya bernama Man Joo Ni tadi. Jaena menoleh, menatap Jungkook. Lelaki itu nampak sedang menghitung langkahnya dan seolah tengah berfikir. Lagi-lagi Jaena tak mampu menebaknya. Tapi gadis itu merasa bersyukur karna Jungkook datang di saat yang tepat. “Gomawo..”

 

Jungkook menoleh. “Mwo? Untuk apa?”

 

“Tak apa.” Benar. Setidaknya Jaena harus mengucapkan terimakasih padanya. Entah bagaimana jika Jungkook tak datang saat itu juga. Mungkin, makhluk itu…

 

“Yaaak!! Jalanmu lama sekali Jaena-ya!”

 

Jaena mendongak. Mendapati Jimin kakaknya telah berada di ambang gerbang sekolahnya. Ia berdiri seraya memasukkan kedua tangannya di saku celana. Berupaya bertampang keren. Tanpa sadar, Jaena tersenyum simpul. Merasa lega kakaknya menjemputnya tepat waktu. “Kau belajar dengan baik hari ini?” Jimin dengan lembut mengusap puncak kepalanya. Lalu berpaling pada Jungkook. “Gomawo sudah menjadi teman Jaena yang baik Jungkook.”

 

“Ne Hyung. Hati-hatilah di jalan.”

 

“Hati-hati juga padamu…” Jaena terhenti. Begitu melihat cahaya putih bersinar di belakang tubuh Jungkook. Gadis itu sontak menarik tangan Jungkook hingga mereka berdua terpelanting ke samping. Terjatuh bersamaan diiringi dengan teriakkan terkejut Jimin.

 

“Mwo? Ada apa?! Kenapa Jaena?!” Jimin perlahan membantu Jaena bangkit. Sementara Jungkook masih terduduk, meringis ngilu pada sikunya.

 

“Mi..mianhae Jungkook!” Jaena berupaya membantu Jungkook berdiri. Namun tatapannya kembali menatap ke tempat dimana Jungkook tadi berdiri. Dia tak mungkin salah lihat. Dia melihat sebuah cahaya bersinar terang di balik punggung Jungkook. Dia tak mungkin salah. “Oppa, palli. Ayo pulang!” Pintanya menahan takut. Sementara Jungkook memandangnya heran.

 

Jimin, meski merasa bingung akhirnya mematuhinya juga. Mereka segera berlalu. Meninggalkan Jungkook yang menoleh bingung ke belakang tubuhnya. Ia merasa tak beres dengan pandangan Jaena barusan. Ada apa sebenarnya dengan gadis itu? Dia terlihat aneh. Jungkook tak ingin ambil pusing. Ia hanya mengedikkan bahu dan mulai berjalan meninggalkan tempat itu. Seolah tak sedang terjadi apa-apa.

 

Di sisi lain. Dua orang sosok asing tengah berdiri mengawasi dari balik pohon sakura. Yang satunya bertampang datar dan nampak tenang. Sedangkan yang satunya menyeringai seram. “Kau lihat? Kita telah menemukannya. Dia benar-benar sudah kembali”

 

Sosok yang berwajah tenang itu mengangguk. Kemudian ikut menyeringai dengan seram. Akhirnya, mereka menemukannya.

 

TBC

Advertisements

4 thoughts on “[FF Freelance] Pandora: Rebirth Chapter 1

  1. yaaa bagus banget author ffnya. Setiap bagiannya membuatku penasaran. ngeri juga ya kalo jadi jaena brrrr itu sesuatu yang dipegang ayah dan bersinar, bayi kah? what, kenapa ada cahaya dibelakang punggung jungkook… aaa penasaran
    😀

    Semangat ya buat lanjutannya 😀

    Like

  2. Keren loh ffnya, aku suka ff genre fantasi , menurutku genre fantasi emang lebih seru dan bikin penasaran sama dengan ff ini, aku penasaran sama kelanjutannya, keep writing yaahh ^,^

    Like

  3. ou yee .. di part awal ini kek nya gak ada yang perlu di komentari dehh..
    ini kan baru part perkenalan.. belum ke konflik jadi aku gak bisa komen banyak kak 🙂
    tapi ini bagus kok..
    fantasy i like that hhhh

    Like

  4. keren, bikin penasaran
    mungkin mimpi sosok yang digendong appa Jimin adiknya.

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s