Namitsutiti

[FF Freelance] Falling in Love with a Nerd Boy Chapter 8

3 Comments


10609552_1543687595920547_4329693910521810431_n

Author : Dinda Shakinah [Rose Lyn]
Credit poster by HRa – RCFF
chapter : 8
Title : Falling in Love with a Nerd Boy
Cast :
– Xi Lu Han [Actor]
– Park Hae Yeon [Original Character]
– And other cast.
Genre : School life, Friendship, Romance, Comedy (gagal), dll.
Leght : Multichapter
Rated PG +15 (bisa berubah sesuai mood saya)
Note : SIDERS ADALAH PENCURI!!!
Summary :
Perjuanganmu membuatku luluh. Apakah aku jatuh cinta padamu, Nerd?

*****

Dentuman musik terasa semakin mengusik. Para penghuninya bahkan sama sekali tak sakit telinga. Mereka semua malah asik meliak-liukkan tubuh mereka. para muda dan mudi ini saling menciptakan kegairahan sang lawan menari. Dan tak hentinya kadang pada lawan saling meraba tubuh mereka masing-masing.

Sungguh pemandangan menjijikkan.

Se Hun tak habis pikir, kenapa dirinya menyeret kakinya untuk datang ketempat seperti ini. Bahkan seumur hidupnya sekalipun, lelaki itu tak suka, apalagi sudi untuk menginjakkan kakinya ditempat ini.

Persetan dengan lelaki bernama Kim Jong In itu. tiba-tiba menelpon dan bilang suruh kemari. Membuat Se Hun terus mengumpat semasa dalam perjalanan. Apa tak ada tempat yang lebih baik ketimbang dengan tempat menjijikkan ini?

Se Hun terus mengedarkan pandangan, berharap segera menemukan sosok Jong In, lalu menariknya keluar dari tempat ini.

Se Hun bersumpah, jika Hae Yeon mengetahui lelaki itu datang kemari, pasti Hae Yeon tak sudi menatap kearahnya lagi.

Hey! Memang Hae Yeon suka padamu?

Skakmat. Kalau dipikir lagi ini sama sekali tidak berpengaruh. Walaupun Hae Yeon tahu, Se Hun ragu jika gadis itu seperti itu. karena pasalnya Se Hun bukan Lu Han, jika Lu Han pasti Hae Yeon akan seperti itu.

“Sudah lama?”.

Seseorang menepuk bahunya. Se Hun menoleh dan mendapati sosok Jong In dihadapannya. Menatap datang kearah lelaki itu dan memmberikan tatapan. Mati-kau-karena-telah-mengajakku-bertemu-ditempat-seperti-ini.

Seolah mengerti dengan arti tatapan Se Hun, lelaki itu justru malah menampilkan cengiran bocah yang membuat Se Hun ingin menonjokkan sekarang juga.

“Maaf, aku bingung harus mengajak bertemu dimana?”.

“Cepat bilang ada apa, sebelum aku melarikan diri dan kabur dari tempat seperti ini”.

Jong In mengangguk dan duduk disamping Se Hun. Sebelum memulai pembicaraaan, lelaki itu memesan segelas wine pada pelayan. Saat pesanannya datang, Jong In meminumnya sedikit demi sedikit agar rileks dan bisa bicara leluasa.

“Kau meminum wine, meski umurmu belum cukup dewasa?”.

Jong I menatap Se Hun tak suka.

“Kenapa? Aku sudah cukup dewasa untuk tahu apa ini”.

Se Hun menggelengkan kepalanya. Merasa pusing memiliki teman seperti Jong In. Hey! Bahkan Se Hun tak sudi memanggil lelaki itu dengan sebutan teman. Teman dari mana, dia tu menyebalkan sekali, pikir Se Hun.

“Cepat bicara, aku ada urusan lain”.

“Aish, baiklah Tuan Oh Se Hun pemaksa. Sebenarnya aku ingin membicarakan masalah Hae Yeon denganmu, menurutmu bagaimana?”.

“Bagaimana apanya?”.

“Si nerd itu, kita apakan? Hae Yeon selalu melindunginya, membuat kita tak berdaya bila sudah dihadapannya”.

Se Hun blank. Dia tak tahu harus berbicara apa. lelaki itu tak tahu apapun. Dia mencintai Hae Yeon dengan begitu besar, tapi sulit bila harus memisahkan antara Hae Yeon dan Lu Han. Membuat Hae Yeon terluka saja, Se hUn tak mampu. Apa lagi bila dia sendiri yang harus turun tangan membereskan Lu Han. Itu sama saja dengan menusuk Hae Yeon dengan pisau dari belakang.

Lu Han-Hae Yeon-Se Hun, teman akrab sedari kecil. Namun semenjak Se Hun pergi sebentar ke Amerika untuk urusan keluarga, Hae Yeon mulai menjauh darinya. Gadis itu lebih sering bersama Lu Han. Bahkan mereka selalu bersama seperti amplop dan perangko.

Mengetahui perasaan Lu Han dan Se Hun sama-sama mencintai Hae Yeon membuat mereka berdua saling tak ingin menatap. Keduanya bersikeras ingin saling memiliki Hae Yeon. Tapi Hae Yeon, tentu justru memilih Lu Han.

Park Dobi itu juga. Malah membuat dia merasa dalam keadaan sulit. Disatu sisi lelaki itu mendapat restu untuk menjadi adik ipar, tapi disisi lain Hae Yeon tak mencintainya. Cinta bertepuk sebelah tangan yang menyedihkan.

Se Hun mengusap wajahnya kasar dan berdiri dari tempat duduknya.

“Berhenti saja. Aku tak ingin melukai Hae Yeon. Lebih baik aku yang terluka, ketimbang melihat gadis itu tersiksa. Rasanya jauh akan lebih sakit”.

Se Hun berlalu dari sana secepatnya. Lelaki itu sungguh muak, bahkan ingin berteriak dan memukuli para lelaki hidung belang yang meraba tubuh sang wanita. Hey! Bukankah wanita harus dihargai. Bukankah wanita harus dilindungi. Tapi jangan salahkan sang lelaki Se Hun, siwanita juga butuh uang mereka. maka dari itu mereka rela tubuhnya diperdaya.

Jong In masih diam ditempat. Se Hun benar. Hae yeon pasti terluka. Rasanya pasti tak akan jauh berbeda. Merelakan Hae Yeon dengan Lu Han memanglah tak mudah. Tapi melihat Ahe Yeon tersenyum bahagia adalah segalanya.

“Benar. pasti akan sangat sakit”.

*

Malam hari pun datang. hembusan angin menerpa perlahan. Kulit terasa dingin, saat angin mulai menyapa.

Lu Han dan Hae Yeon disini. Dihalaman rumah Hae Yeon. Duduk berdua sambil berpelukan.

Lu Han memeluk gadis itu. dan hey! Gadis itu berada dalam pangkuannya.

Kepala Hae Yeon menengadah keatas, melihat jutaan bintang yang terjuntai menemani romantisme yang terjalin diantara keduanya. Dan kepala Lu Han yang lebih suka menelusup kecekungan leher gadis itu.

Hembusan hangat nafas Lu Han, sedikit membuat bulu kuduk Hae Yeon meremang. Merasa sensasi dingin dan hangat secara bersamaan. Geli, juga bagian dari dominasi yang ada.

Apa kalian penasaran? Tentang pakaian yang dikenakan?

Tenang saja.

Hae Yeon memakai sweater berlengan panjang warna pink dan celana training berwarna senada. Sedangkan Lu Han.. hanya kaus kebesaran biru dan celena ¾ nya yang berwarna sedikit gelap dan jangan lupakan tentang kacamata yang dipakai lelaki itu.

“Lu..”.

“Hem?”.

“Ini sudah malam, apa kau tak kedinginan?”.

Lu Han menggelengkan kepala. Anak rambut lelaki itu mengenai kulit permukaan leher Hae Yeon, membuat gadis itu terasa geli dan harus sedikit menjauhkan bagian lehernya dari lelaki itu.

“Aku masih betah dalam keadaan seperti ini”.

Hae Yeon menghela nafas panjangnya. Gadis itu enggan untuk berdebat atau melakukan sedikit protes akan hal ini. Gadis itu tahu, bahwa Lu Han lebih keras kepala dibanding dirinya. Salah satu dari mereka harus saling mengalah, atau hubungan mereka akan retak dan tak bisa diperbaiki dimasa selanjutnya.

“Ekhem!”.

Mati kau.

Lu Han dan Hae Yeon melihat keasal suara. Aura suram mulai terlihat dimana mana. Bayangan hitam kutukan menyeramkan seperti kebangkita voldermor dari kematian. Dan seorang lelaki berdiri dengan bersendekap dada.

Lelaki itu berjalan mendekat kearah LuYeon, yang masih dihiasi tatapan terkejut mereka akan sosok dihadapannya.

Chan Yeol, menarik tubuh adiknya menjauh dari Lu Han. Meletakkan tubuh adik kecil –baginya dibelakang tubuhnya. Menatap garang Lu Han dengan emosi yang sepertinya akan meledak seperti gunung berapi.

“Kau, beraninya menyentuh adikku. Kau kira adikku ini gadis bar yang seenaknya kau sentuh, hah?”.

Sial.

Mulut Par Dobi yang satu ini harus digunting agar tak berani menyebut Hae Yeon dengan sebutan gadis bar. Dan yang perlu Lu Han lakukan selanjutnya adalah mencuci otak si mesum Park Dobi dalam mesin cuci dengan sabun sebanyak mungki agar cepat bersih.

Hey! Kau juga mesum, Lu. Jangan lupakan itu.

Lu Han ingin sekali menggigit asal makhluk asal yang tersesat dan tak diundang ini. Menyebalkan sekali, lelaki bertelinga besar yang kebetulan merupakan kakak dari sang kekasih yang kerjaannya selalu mengganggu aktifitas masa keromantisannya dengan Hae Yeon.

Seharusnya kau tak pernah kembali saja, Park Dobi.

“Oppa, kau jahat sekali mengataiku seperti itu”.

Hae Yeon berkata merajuk pada Chan Yeol. Dan helaan nafas hanya terdengar dari sang empu.

Chan Yeol menatap Hae Yeon, ada cairan penghalang dimata gadis itu.

Dia pasti terluka mendengarnya.

Oyy, kau bodoh atau bagaimana. Jelasnya terluka. Kau mengatak=i adikmu sendiri seperti itu. gadis mana yang tak sakit hati bila kau sebut seperti itu. jika gadis itu memang gadis bar, tentu dia tak akan pernah sakit hati. Tapi Hae Yeon, itu adikmu sendiri Park Chan Yeol.

“Tidak, maafkan Oppa. Kau bersama dengannya membuatmu telihat seperti gadis bar. Sekarang lebih baik kau masuk dan istirahat, sayang. Oppa tak mau melihatmu terluka. Sudah jangan sedih, ayo Oppa temani”.

Chan Yeol menuntun adik kecilnya untuk masuk kedalam rumah. Mengantarkannya untuk segera tidur agar lebih mudah bangun pagi dan supaya tidak terlamnbat.

Lu Han yang melihatnya hanya tersenyum. Melihat kakak beradik yang akur. Dulunya sewaktu kecil –seingatnya, si Park Dobi ini kerjaannya hanya membuat Hae Yeon menangis. Dengan terus menjahili adiknya, lalu tertawa seperti penjahat. Dan kini, Amerika membuat lelaki itu lebih dewasa.

Amerika, setidaknya berdambak baik untuk Chan Yeol. Membuat Chan Yeol lebih posesif, pada adiknya, melindungi Hae Yeon tentunya. Lu Han cukup berterimakasih pada Tuhan, karena setidaknya lelaki itu mendapat hidayah dan cukup bisa diandalkan untuk menjaga Hae Yeon.

“Aku harus pulang”.

Lu Han berjalan pergi dari sana. Lu Han tahu dimana letak jalan pulang. Dia bukan seorang kekasih yang baru saja sekali mampir dirumah kekasihnya. Bahkan sudah ada seumur hidupnya, lelaki itu berkunjung kesini. Lu Han dan Hae Yeon begitu dekat, jangan tanyakan lagi seberapa dekat mereka, karena kalian tahu, mereka benar-benar dekat.

*au,, author bikin bingung ‪#‎Maaf, hilaf

*

“Hae Yeon bangun, ini sudah pagi”.

Chan Yeol menepuk perlahan kedua pipi Hae Yeon. Membuat gadis itu perlahan membuka matanya. Menatap sayu kakaknya yang kini tengah tersenyum cerah padanya.

Ini mencurigakan, batin Hae Yeon mulai berteriak.

“Mandilah, eomma menunggu dibawah”.

Hae Yeon mengangguk dan segera berlalu kedalam kamar mandi.

“Tidak biasanya, dimana Lu Han? Kenapa tak membangunkanku? Apa Lu Han juga bangun kesiangan?”.

Hae Yeon menggidikkan bahu setelahnya dan sesegera berbenah diri. Selang beberapa menit, Hae Yeon telah siap dengan seragam yang telah melekat pada tubuhnya. Gadis itu turun kebawah.

Chan Yeol melambaikan tangannya pada Hae Yeon, ketika indra penglihatannya menangkap sosok Hae Yeon yang sedang menuruni tangga. Tanpa perasaan curiga, gadis itu bahkan telah duduk disamping Chan Yeol, tanpa melihat sekitar.

Hae Yeon menyiapkan rotinya sendiri. Mengolesinya dengan selai dan langsung secepatnya memasukkannya kedalam mulutnya. Setelah habis, gadis itu langsung meminum segelas susu.

Kepala gadis itu menengadah sedikit keatas dan..

UHUKKK..

Susu yang berada didalam mulutnya keluar begitu saja. Mengenai wajah Chan Yeol dan berubah menjadi masam seketika.

Sudah dalam dugaan.

Ada Se Hun disini. Dengan tatapan mata yang tajam mengintimidasi dirinya. Hae Yeon bersumpah akan mencongkel mata itu jika lelaki itu tak kunjung berhenti menatapnya.

Oh, Lu Han, Kau dimana? Tolong aku.

Tanpa rasa bersalah Hae Yeon berdiri dari tempatnya. Dan segera meninggalkan ruang makan dengan cepat. Gadis itu memakai sepatunya dan berjalan keluar.

Salah satu tangannya masuk kedalam saku blazernya, mengambil ponselnya didalam sana. Gadis itu menekan tombol pemanggil cepat nomor 1 dan langsung terhubung pada sang empu.

“Ya!”.

Ponsel nya direbut paksa oleh seseorang. Dan kini, orang yang merebutnya adalah orang yang telah membuat moodnya berada dalam kadar buruk yang berlebihan. Hae Yeon ingin sekali memintas Chan Yeol menjadi sangat kecil agar lelaki itu tak bisa bertindak seenaknya padanya.

Dasar, kakak durhaka. Tuhan pasti akan menghukummu.

Dan kini, oh astaga, Hae Yeon ingin menendang mereka berdua. Sosok Oh Se Hun berada dibelakang Chan Yeol. Muka apa yang pantas dia pasang sekarang. Tak ada yang pantas kecuali muka datar yang tak akan pernah dia tunjukkan pada Lu Han.

“Apa maumu?”.

“Jangan menelpon sikacamata itu lagi dan pergi berangkatlah dengan Se Hun sekarang, nanti kau terlambat sayang”.

“Oppa, berhenti mengatur hidupku. Kau tak pantas melakukannya. Aku bukan anak kecil”.

“Hae Yeon berhenti membantah dan turuti perintah Oppa. Se Hun cepat”.

Se Hun berjalan dahuluan kedepan. Masuk kedalam mobilnya dan menunggu. Chan Yeol menuntun adik kecilnya untuk memasuki mobil Se Hun. Tersenyum, saat adiknya duduk dengan manis disamping Se Hun. Dan memasukkan ponsel Hae Yeon kembali kedalam saku blazernya.

“Jadilah adik yang pintar dan membanggakan. Jangan membantah perintah Oppa, Oppa tak suka seperti itu. dan hati-hati”.

Chan Yeol memberikan kecupan singkat dipipi adiknya. Kemudian menutup pintu mobilnya. Dan mobil pun berjalan perlahan.

Hanya dengusan nafas kasar yang Hae Yeon lakukan. Dan tak ada salah satu dai mereka yang mau memulai percakapan.

Seperti kuburan saja. Batin Hae Yeon mulai tak suka.

Jika biasanya Hae Yeon dan Lu Han akan berjalan kaki sampai kehalte, atau mereka akan berada dalam satu mobil –Lu Han, pasti Lu Han akan banyak bertanya. Seperti menyapanya ‘Hai’ atau sekedar bertanya ‘Apa tidurmu nyenyak’ atau ‘Apa kau bermimpi buruk?’ dan sebagainya.

Bahkan menurutnya Se Hun tak lebih inisiatif seperti Lu Han. Bagaimana bisa lelaki seperti ini bisa membuatnya berpaling dari Lu Han. Meski lelaki ini mendapat restu secara langsung dari kakaknya, tapi hatinya terus berkata tidak. Dan oh, Hae Yeon baru ingat. Bukankah eommanya dan Nyonya Xi telah merencanakan sesuatu. Dan Hae Yeon harap itu adalah sebuah perjodohan. Lagi pula, Lu Han sudah berkata akan menggelar pernikahan setelah mereka lulus. Bukankah itu sebuah keberuntungan. Seperti Dejavu, Hae Yeon mendapatkan jackpot dalam sekali melempar. Dan Se Hun sepertinya tak memiliki kesempatan.

“Seharusnya kau tidak seperti ini. Carilah gadis yang benar-benar mencintaimu. Layaknya aku mencintai Lu Han. Kau mungkin memang mendapat restu kakakku, tapi Hatiku, tak bisa memilihmu”.

Mobil mulai berhenti ditempat parkiran. Mereka telah sampai. Hae Yeon melepas sabuk pengamannya dan menatap Se Hun.

“Se Hun, aku tahu kau lelaki yang baik. Kau bahkan jauh lebih baik dari yang aku kira. Tapi,, cinta bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Aku tidak bisa mencintaimu seperti yang kau inginkan. Aku sudah memiliki Lu Han, dan aku tak bisa berpaling darinya. Kita tumbuh dari kecil bersama, tapi Lu Han –lah yang lebih dulu membuatku jatuh cinta. Lelaki itu tak pernah meninggalkan ku dalam keadaan terpurukku sekalipun. Hatiku masih tak terima ketika kau dan kakakku meninggalkanku dan memilih untuk pergi ke Amerika. Tapi saat kau kembali, kau ingin memilikiku..”.

“.. Se Hun, aku menyayangimu. Sebagai seorang sahabat dan tidak lebih. Aku tidak bisa berada disisimu sebagai seorang gadis yang mencintaimu. Tapi aku bisa berada disisimu, sebagai seorang sahabat. Se Hun, mari bersahabat”.

Hae Yeon mengulurkan tangannya. Bendera persahabatan telah Hae Yeon kibarkan. Dan gadis itu berharap, Se Hun mau menerimanya.

Tapi sang empu malah hanya diam tak bergeming. Menatap sedih tangan Hae Yeon dihadapannya. Dan selajutnya, tangan Se Hun telah menjabat tangan gadis itu.

“Mungkin kau benar, aku tak bisa memilikimu seperti Lu Han memilikimu. Tapi aku bisa memilikimu sebagai seorang sabahat. Mungkin tidak jika untuk mencintaiku, tapi setidaknya kau masih mau menjadi sahabatku. Hae Yeon –ah, aku tak ingin mengganggu hubunganmu dengan Lu Han, aku tak ingin kau terluka. Lebih baik aku yang terluka, daripada harus kau. Hae Yeon –ah, bolehkah sekali saja, aku memelukmu?”.

Mata Hae Yeon berbinar. Se Hun nya kembali. Se Hun kecil yang selalu menyanyanginya telah kembali. Hae Yeon mengangguk dan detik kemudian mereka telah berpelukan.

Se Hun merasa sedih dengan nasibnya. Kenapa kali ini sulit merasakannya? Cinta yang dia miliki, teruntuk sahabatnya sendiri, kini harus merasakan pahitnya cinta bertepuk sebelah tangan.

Se Hun mencium puncak kepala Hae Yeon lama dan melepasnya.

“Ayo masuk kedalam kelas, sepertinya jam pertama akan segera dimulai”.

*

Bel istirahat berbunyi. Kini hati Hae Yeon mulai tak tenang. Pasalnya gadis itu tak menemukan Lu Han sampai saat ini. Apa lelaki itu sakit?

Bahkan gadis itu telah menghubungin ponselnya, tapi panggilannya tak aktif. Bukankah tadi pagi masih aktif?

Hae Yeon berjaln tergesah. Pikirannya kalut tentang kejadian kemarin yang masih terekam dalam memorinya. Mustahil jika Se Hun yang melakukannya, atau Jong In yang kini mengambil alih semuanya. Se Hun telah menyerah, berarti Jong In lah alasan terkuat selanjutnya.

Lu Han tak pernah sedikitpun absen, jika menyangkut tentang sekolah. Lelaki itu terlalu rajin untuk sekolah, jadi mustahil sekali.

Pikiran Hae Yeon kini hanya ingin mendatangi tempat yang mungkin saja menjadi tempat dimana Lu Han suka berdiam diri. Mungkin bisa dimulai dari perpustakaan. Hey! Biasanya Lu Han memang hanya keperpustakaan.

Hae Yeon melangkah sesegera mungkin. Dan langsung memasuki perpustakaan dilantai tiga yang jarang ada pengunjungnya. Karena mungkin letaknya yang jauh dan membuat lelah kaki berjalan. Tapi seingat Hae Yeon, Lu Han berkata bahwa perpustakaan itulah yang memiliki fasilitas buku yang lengkap.

Guru Nam, biasanya akan berjaga disini. Tapi sepertinya beliau pergi kekamar mandi atau kekantin untuk makan, mengingat ini sudah memasuki istirahat.

Hae Yeon masuk dengan segera dan mencari sosok yang dia cari.

“Lu Han?”.

 

To Be Continue..

Selamat bertemu dichapter berikutnya. Tinggal satu atau dua chapter lagi. Atau mungkin tiga. Lihat entar aja. Bye.

Advertisements

3 thoughts on “[FF Freelance] Falling in Love with a Nerd Boy Chapter 8

  1. Luhannya kmna?! Apa yg trjdi?! Haeyeon kesian mengkhawatirkn luhan -_- next chap-nya ditunggu HWAITING!!!

    Like

  2. Apa yg terjadi ? Ditunggu kelanjutannya

    Like

  3. luhan kmn?? dia masa ilang tiba2.. yaaa come back my lu-ge

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s