Namitsutiti

[FF Freelance] Falling in Love with a Nerd Boy chapter 7

3 Comments


10609552_1543687595920547_4329693910521810431_n

Author : Dinda Shakinah [Rose Lyn]
Credit poster by HRa – RCFF
chapter : 7
Title : Falling in Love with a Nerd Boy
Cast :
– Xi Lu Han [Actor]
– Park Hae Yeon [Original Character]
– And other cast.
Genre : School life, Friendship, Romance, Comedy (gagal), dll.
Leght : Multichapter
Rated PG +15 aja
Note : SIDERS ADALAH PENCURI!!!
Preview chapter :
Summary :
Perjuanganmu membuatku luluh. Apakah aku jatuh cinta padamu, Nerd?

*****
.

Lu Han dan Hae Yeon berjalan. Berdua.

Menjadi perhatian seantero sekolah. Hei! Siapa yang tidak kenal Lu Han, murid kesayangan Jung saem. Dan juga, Hae Yeon, gadis dengan penuh pedona yang nyata. Apa aku sudah pernah menjelaskannya?

Dalam kehidupan ini, semua orang berhak memilih. Hae Yeon memilih lelaki itu -Lu Han- untuk terus berada disisinya. Begitupun sebaliknya.

Kini, kehidupan antara mati keduanya begitu terlihat. Hae Yeon sasarannya. Sedangkan Lu Han dan lelaki disebrang sana saling melempar tatapan, ‘Dia milikku’.

Dan gadis itu -Hae Yeon- tak bisa berkutik. Yang ada dipikirannya hanyalah, ‘Bagaimana ini?’. Apa ini posisi sulit? Ya, sahabat dan kekasih tercintanya -Lu Han- melawan lelaki populer -Se Hun- . Ini seperti terlempari bom atom dalam kolam berenang yang kecil. Hae Yeon dihadapkan padapada kenyataan bahwa, lelaki populer banyak pendukungnya.

Pikiran burukpun kini berkecambuk dalam otaknya. Tatapan tak percaya dengan apa yang benar-benar ada dalam pikirannya. Perlahan menjadi kenyataan.

Mereka dikerumuni siswa lain.

Kenyataan pahit selanjutnya, mereka semua menatap tak suka kearah Lu Han. Dan berikutnya, kenapa semuanya laki-laki? Hei! Apa makhluk hawa yang lain sedang punah sementara dalam detik itu? Apa kenyataannya separah ini?

Hae Yeon menarik lengan seragam blazer coklat yang Lu Han kenakan. Tatapan waspada ditunjukkan pada sekitar. Takut, jikalau mereka menyerang secara tiba-tiba dan menyakiti Lu Han -nya.

“Lu, sebaiknya jangan ladeni dia. Ayolah, aku tak ingin kau kenapa-napa”.

Bisik Hae Yeon secara perlahan. Pendengaran Lu Han bisa menangkap suara lirih nan terlihat waspada. Lelaki itu nenolehkan kepalanya sebentar kearah Hae Yeon.

Gadis itu berkeringat dingin.

Astaga, Lu Han baru ingat. Hae Yeon tidak bisa berada dalam posisi dimana dia terpojokkan. Gadis itu tak memiliki pasokan bernafas yang lega, bila sudah seperti itu.

Tatapan Lu Han berganti khawatir. Gadisnya mengalami phobia sedari kecil dengan keadaan seperti ini. Dan kini, untuk kedua kalinya Lu Han -lah yang harus menyelamatkannya.

“Kau tak apa?”.

Lu Han bertanya. Nadanya terdengar begitu khawatir. Dan gelengan kepala Hae Yeon membuat hatinya mencelos.

Lelaki itu nenyebabkan gadisnya seperti ini. Dan Lu Han merasa bersalah dengan hal ini.

“Baiklah, ayo pergi”.

Lu Han melingkarkan tangannya pada pinggang gadis itu. Berusaha memegang Hae Yeon, takut jikalau gadis itu terjatuh tiba-tiba.

Baik Se Hun maupun Jong In, bahkan semua keturunan adam itu menatap marah kearah Lu Han. Melempar pandangan ingin membunuh lelaki itu detik berikutnya. Tatapan geram dengan suasana yang mencengkam. Deathline yang tersebar ditwitter berikutnya, dengan hastag ‪#‎HaeYeonpilihRumahsakitatauPemakaman

Hey! Kira-kira, siapa yang akan menang, jika kedua belak pihak saling melempar pukulan? 1 : Banyak, siapa yang menang? Sungguh bodoh bila melawan orang sebanyak ini. Rumah sakit adalah jalan selanjutnya, bila Lu Han memenangkannya. Tentu saja dengan banyak luka disekujur tubuhnya, nanti.

“Pengecut!”.

Desis Se Hun sedikit keras. Semua yang berada disana, tentu mendengarnya.

Sial. Umpat Lu Han dalam hati. Lelaki itu tak akan pergi, jikalau gadis -nya baik baik saja. Tapi itu malah sebaliknya, Hae Yeon tidak baik dan Lu Han tak ingin Hae Yeon menjadi semakin buruk.

“Maaf, lain waktu mari kita lanjutkan. Hae Yeon sedang tidak baik, aku tak ingin dia kenapa-napa”.

Lu Han berbicara dengan santainya. Tersenyum terpaksa dan berlalu dari sana dengan Hae Yeon.

Se Hun mengepalkan kedua tangannya. Bahkan keadaaannya tak jauh beda dengan yang lainnya. Merasa kalau Lu Han sudah berani berkata pada mereka. Bagi mereka, Lu Han hanya sekedar anak adam yang terlahir dengan jiwa ke -nerd -tannya. Mereka beranggapan, bahwa tiada yang pantas mendampingi Hae Yeon kecuali diri mereka masing-masing. Saling bersaing itu terntu saja. Tapi, memusnahkan satu tikus, lebih baik bersama dari pada sendiri.

Bukan karena takut, tapi mereka memilih untung dihukum bersama. Bila mereka berhasil memusnahkan tikus yang dilindungi seorang putri. Mereka lebih memilih jika mereka tak bisabisa memiliki Hae Yeon, maka yang lainnya pun juga tak boleh.

Seperti drama picisan, kan?

*

Lu Han mengantar Hae Yeon pulang. Kali ini tidak hanya memastikan gadis itu sampai dengan baik baik saja hingga depan rumah atau pun sudah masuk kedalam. Lu Han mengantar Hae Yeon hingga gadis itu berbaring diatas tempat tidur.

Dengan wajah yang masih tak bisa dikatakan baik-baik saja. Tapi gadis itu terus menolak, jika Lu Han tetap berasa disisinya.

“Pulanglah, aku baik. Terimakasih”.

Lu Han tak suka dengan ungkapan gadis itu. lihatlah, terselip nada masih sedikit cemas disana. Gadis itu tak pandai berbohong, apalagi pada Lu Han.

Lu Han ikut duduk disamping ranjang gadis itu. menatap Hae Yeon intens dan mengelus rambut gadis itu perlahan. Menyalurkana rasa kasih sayang yang teramat dalam.

Lu Han tersenyum.

“Yeon?”.

Hae Yeon menatapnya. Dengan sejuta tanda tanya yang mendalam. Dan rasa ingin tahu yang cukup banyak. Dan lagi, Lu Han tersenyum. Meraih tubuh mungil itu untuk masuk dalam dekapannya. Cakupan kehidupan yang sudah Hae Yeon tempati pada ruang lingkup hati lelaki itu. menbawa damai tersendiri, ketika tubuh mereka saling berdekapan.

Dan penuh cinta.

Lu Han menepuk punggung gadisnya. Menciumi puncak kepalanya. Dan menyandarkan dahu, pada bahu gadis itu.

Geli. Itu kesam pertama yang dirasakan Hae Yeon. Kasing sayang Lu Han yang terpancarkan, membuat lelaki itu baik dari siapapun didunia ini, menurutnya. Tidak, meski itu pun termasuk kakaknya.

Dalam peristiwa kehidupannya, setiap rintangan yang dihadapinya. Pasti Lu Han lah yang menemaninya. Tidak pergi darinya seperti kakaknya –ChanYeol- yang lebih memilih untuk sekolah diluar negeri. Membuat dia terkadang merasa sendiri.

Dengan hadirnya lelaki itu –Lu Han- membuat hidupnya jauh lebih berarti. Membuat waktunya tak terbuang sia-sia. Bahkan hanya dengan memandang wajahnya. Hanya kata luluh yang bisa mencairkan hatimu dalam keadaan terburukpun.

Dan Hae Yeon, mencintai lelaki itu. sama halnya dengan Lu Han. Dalam keadaan apapun, lelaki itu pernah berjanji tak akan ada kata perpisahan diantara mereka. jika Lu Han harus bersekolah keluar negeripun, Hae Yeon harus ikut. Itu lah tekad bulat Lu Han selama ini.

Dan untuk selamanya akan seperti itu. Lu Han sendirilah yang akan memastikannya.

“Jangan khawatir, mereka tak akan bisa menyakitiku”.

“Bagaimana kau bisa yakin seperti itu? dulu aku yang menyuruh mereka agar tak mendekatimu, sekarang aku harus melakukan apa?”.

“Ssstt..”.

Lu Han menghantikan Hae Yeon berucap/ mengecup bibir gadis itu sekilas dan kembali pada posisinya semula.

“Kau tak perlu khawatir. Aku bukan lelaku pengecut yang akan terus menerus sembunyi dibelakangmu. Ya, jika dulu kau yang menyuruh mereka menjauh, kini biar aku yang menyuruh mereka menjauh. Dari kita, tentunya”.

Hae Yeon mengangguk pelan. Dan Lu Han dapat merasakan. Jantung mereka yang saling berpacu, membuat Kegugupan sendiri diantara mereka.

Lu Han melepas pelukannya. Membaringkan tubuh gadisnya diatas tempat tidur dan menarik selimut hingga sebatas dada.

Mengecup kening gadis itu sekejam dan kembali tersenyum.

“Tidurlah, besok aku akan menjemputmu. Jangan menangis sendiri. Jika ingin menangis, menangislah sekarang dihadapanku. Jangan menangis dibelakangku, aku tak ingin seperti itu”.

Hae Yeon mengerti. Semua yang Lu Han katakan, gadis itu menurutinya. Hae Yeon juga tak ingin berbohong pada Lu Han lagi. Gadis itu tak ingin Lu Han marah. Gadis itu sangat menyayangi Lu Han sepertinya. Bahkan terlalu sayang, hingga banyak rasa takut yang menyelimuti hatinya.

“Aku mengerti”.

“Aku pulang. Tidurlah yang nyenyak, aku mencintaimu”.

“Aku juga”.

*

Dalam kisah cinta, kedua belah pihak pasti saling mencintai. Dalam kehidupan nyata, bila salah satu dari mereka tak saling mencintai, itu artinya cinta bertepuk sebelah tangan. Dalam kenyataan pahit, Se Hun tak bisa terus seperti ini. Menunggu Lu Han membuang gadis itu dan memungutnya.

Mustahil, jika Lu Han membuang Hae Yeon begitu saja. Dan tak ada alasan yang pasti, bila Lu Han bemar-benar melakukannya.

Bohong, jika Se Hun ingin melihat gadis itu terluka. Melihat airmatanya mengalir saja, Se Hun tak mampu. Dalam arti kata lain, Se Hun tak ingin Lu Han menyakiti Hae Yeon. Tapi dalam keadaan lain, lelaki itu ingin Hae Yeon terluka karena Lu Han dan menghampirinya.

Tapi membayangkan nya saja sudah membuat Se Hun sesak, apalagi bila itu benar terjadi.

Se Hun menghela nafasnya. Tangannya menggenggam sebuah ponsel. Seseorang barusaja menghubunginya dan mengatakan bahwa Lu Han baru saja mengantar Hae yeon dengan keadaan buruk gadis itu.

Chan Yeol, siapa lagi orang terdekat Hae yeon yang berada pada pihaknya, kecuali Park Dobi bertelinga lebar ini.

Se Hun juga sendiri tak habis pikir, apa yang dilakukan kakanya Hae Yeon? Mengatakan bahwa lelaki itu tak menyukai melihat Lu Han dan lebih memilih agar Se Hunlah yang menjadi adik iparnya. Lelucon macam apa.

Iya, jika membuat Hae Yeon melupakan Lu Han berpaling padanya semudah membalikkan telapak tangan, lelaki itu tak akan segan-segan untuk tidak melakukannya. Tapi pada kenyataannya, melakukan hal itu seprti menunggu kiamat. Dan cinta gadis itu pada Lu Han baru bisa kandas. Tau mungkin tidak sama sekali.

Lu Han dan Hae Yeon dekat sedari kecil dan kini, kabar bahwa mereka adalah sepasang kekasih pun sudah menyebar luas. Tak ada yang menyangkal bahwa Hae Yeon mungkin sudah buta dan memilih lelaki seperti Lu Han yang kadar penampilannya seperti wajan usang. Tapi tidak menutup kemungkinan ada pemikiran lain yang terselip disana. Mungkin saja Hae Yeon ingin Lu Han mengerjakan seluruh perkerjaan rumahnya, karena Lu Han memang terkenal dengan kecerdasannya. Tapi juga sebuah palu besar memecahkan pemikiran tersebut, karena Hae Yeon juga tak mendapatkan nilai terancam dalam raport nya. Ya bisa dikatakan bahwa, Hae Yeon bukan anak yang cerdas sekali ataupun bodoh. Nilainya baik-baik saja, setidaknya hanya dua angka yang selalu menghiasi. A dan B, seperti golongan darah saja.

Se Hun menengadahkan kepalanya keatas. Entah apa yang membuatnya seperti ini. Dia seperti ingin menangis, tapi ia coba untuk tahan.

“Yeon –ah, kenapa sakit sekali rasanya?”.

 

 

To Be Continue..

Btw, Lu Han namanya ngga pake Xi kan? Makanya jarang ada ff yang nulis Lu Han dengan nama Lu Han aja, plus anaknya marganya pake Lu. Udah segitu doank dan terimakasih sudah menjadi readers setia.

 

Advertisements

3 thoughts on “[FF Freelance] Falling in Love with a Nerd Boy chapter 7

  1. Adduhhh kasihan sehunn hueee…next chap-nya ditunggu HWAITING!!!

    Like

  2. Next next yaaa thor

    Like

  3. ternyata sehun segitu suka sama hae yeon kasihan bngt dong sehun.. yg sabar ya sehuniie

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s