Namitsutiti

[FF Freelance] Falling in Love with a Nerd Boy chapter 6

4 Comments


10402931_1509967382625902_3215039116876729864_n

Author : Dinda Shakinah [Rose Lyn]
Credit poster by HRa – RCFF
chapter : 6
Title : Falling in Love with a Nerd Boy
Cast :
– Xi Lu Han [Actor]
– Park Hae Yeon [Original Character]
– And other cast.
Genre : School life, Friendship, Romance, Comedy (gagal), dll.
Leght : Multichapter
Rated PG +17!!!! (bisa berubah sesuai mood saya) -YADONG TERDETEKSI!! jangan coba-coba.
Note : SIDERS ADALAH PENCURI!!!
Summary :
Perjuanganmu membuatku luluh. Apakah aku jatuh cinta padamu, Nerd?

*****

Lu Han berada diatas tubuh Hae Yeon. Lelaki itu terus menghujami Hae Yeon dengan ciuman panas yang menggebu. Nafas mereka sedikit lagi habis dan seseorang harus mengakhiri ini sebelum mereka berdua pingsan ditempat.

Tangan Lu Han tak bisa diam. Tangannya sudah menyikap kemeja gadis itu hingga naik sampai perutnya. Memperlihatkan celana dalamnya.

Wajah lelaki itu beralih keleher jenjang Hae Yeon yang terekpos karena lelaki itu telah membuka dua kancing teratas dan sedikit memperlihatkan bra hitamnya.

Ciumana lelaki itu dileher Hae Yeon seolah membuat kupu-kupu bertrbaran diperutnya. Merasakan sensasi aneh yang menggerogotinya. Panas dan dia butuh udara.

Lu Han tak meninggalkan bekas dileher gadis itu. Lu Han cukup berpikir untuk tidak ingin habis ditangan Chan Yeol. Tentu saja, itu semua ada batasnya.

“Eunggghh,, Lu..”.

Lu Han tak bisa berhenti. Lelaki itu ingin menyelrsaikan ini segera. Tolong jangan melarangnya. Dia sudah sesak.

Tangannya berada dipunggung gadis itu. Merabanya perlahan membuat Hae Yeon merinding. Gadis itu tak tahu apapun. Yang dia tahu, sepertinya ini akan berakhir pagi hari dengan keadaan keduanya yang full naked.

Tangan kanan Lu Han merangkak kedepan. Berada diatas dada kiri gadis itu. Meremasnya pelan dan perlahan. Lengkuhan halus dari bibir Hae Yeon kembali terdengar. Menyerukan nama lelaki itu disana.

Lu Han melepaskan satu persatu kancing kemeja gadis itu. Hingga kancing ke empat dia berhenti. Pandangannya tak lupit dari wajah Hae Yeon yang merona dan juga dadanya. Lu Han menghembuskan nafasnya perlahan, membuat Hae Yeon bergidik pasrah. Badannya ternodai.

Lu Han membuat tanda kepemilikan disana. Hanya satu, dua dan tiga didada gadis itu. Tangan kanannya masih setia berada didada kiri gadis itu. Masih tetap meremas dan alarm itu berbunyi. Memenuhi pikiran Lu Han dan dia tak boleh kelewat batas.

Lu Han menghentikan semua aktifitasnya. Menatap intens kewajah Hae Yeon yang,, yah seperti itu lah. Dan sesuatu dibawah sana masih sesak. Lu Han tak bisa meneruskan hal ini. Atau dia akan menjadi gila dan menghujami gadisnya dengan sadis. Tidak, Lu. Kalian belum menikah. Tinggal beberapa bulan lagi, kelulusan akan kalian dapatkan. Bersabarlah dan kau bisa berbuat sesuka hatimu.

Lu Han mengancingkan kembali kemeja yang dikenakan Hae Yeon. Mmbenarkan letaknya dan membaringkan tubuhnya disebelah gadis itu. Menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.

Hae Yeon kini yang mendadak tak mengerti. Sedikit kecewa saat Lu Han menghentikan aktifitasnya. Padahal hampir saja dia hilang keperawanan karena lelaki ini.

“Jangan berbikiran aneh. Atau aku kembali menyerang mu”.

“Kenapa berhenti?”.

Lu Han berbalik menghadap kearah gadis itu. Kerutan didahinya membuat dia harus memutar otak. Gadis ini bodoh atau apa. Memangnya nanti dia mau hamil diluar nikah. Kalau Lu Han sih tak apa, secepatnya dia akan menggelar pesta pernikahan. Kalau gadis itu, Orangtua Hae Yeon pasti akan memarahi mereka berdua. Karena bertidak jauh dari batas sebelumnya.

“Kau gila. Kau mau aku dibunuh Park Dobi itu? Kalau aku mati nanti siapa yang akan bertanggung jawab pada kehamilanmu?”.

Hae Yeon tersenyum. Mendengar apa yang dikatakan Lu Han, membuat hatinya lega.

Hae Yeon kira, Lu Han hanya berbohong soal pernyataan cintanya. Dan kemudian hari, lelaki itu akan meninggalkannya karena kehamilannya.

Gadis itu tak salah. Memilih Lu Han sebagai pelabuhan dihatinya membuat dia nyaman. Berlabuh ditempat yang tepat. Bukankah itu istimewa?

“Maaf telah meragukanmu..”.

“… Aku kira kau hanya pembual besar yang nantinya akan meninggalkanku. Aku kira kau hanya mempermainkanku. Tapi saat mendengar pernyataanmu, ternyata aku telah berlabuh dihati yang tepat”.

Lu Han terhenyu. Yang dikatakan oleh gadis nya membuat dia melayang diangkasa. Ribuan kupu-kupu bertebangan diperutnya. Membuat lelaki itu mengulas senyum manisnya.

Membawa Hae Yeon dalam dekapannya. Memeluknya erat seolah ini adalah hari terakhir. Lu Han suka ini. Hae Yeon yang terbaik. Lu Han mencintainya. Sangat.

“Terimakasih telah berlabuh dihatiku. Ku mohon jangan tinggalkan pelabuhanmu”.

Hae Yeon mengangguk dalam dekapannya. Bibirnya kembali melebarkan senyuman. Memberikan kecupan penuh rasa cinta dipuncak kepala gadisnya. Memluknya lebih erat lagi. Dan mulai memejamkan mata perlahan.

“Sweet dream”.

“Too”.

Malam indah yang dilalui mereka. Diawali dengan pengakuan yang membuat keduanya serasa sama-sama bersalah. Saling berucap maaf. Berpelukan. Berciuman. Ean berakhir dengan harapan mimpi indah yang datang. Hari esok, pasti akan jauh lebih menyenangkan. Untuk kedua sejoli ini. -Hae Yeon dan Lu Han-.

*******

Pagi datang. Sinar matahari menembus gorden dan menyinari mereka. Siapa lagi kalau bukan -Hae Yeon dan Lu Han- Mereka masih sama-sama tak berkutik. Mungkin karena mengingat ini adalah hari minggu dan memutuskan untuk tidur lebih lama.

Lu Han mengulas senyumnya. Dia masih belum membuka mata. Tapi senyumannya seolah menandakan bahwa dia telah bangun.

Lelaki itu membuka matanya perlahan. Dan hal pertama kali dia temukan adalah wajah gadisnya dalam dekat. Lelaki itu tak menyangka, ini semua berakhir dengan bahagia. Bukan rasa marah yang semakin melanda keduanya. Melainkan jalinan kasih sayang yang semakin besar. Pengakuan cinta dan juga lamaran. Tidak romantis memang. Tapi setidaknya itu benar akan terwujud. Lu Han akan menyiapkannya mulai dari sekarang. Mengingat ini adalah bulan April dan mereka akan menikah sekitar bulan Juli atau awal Agustus.

Lu Han masih betah berlama lama seperti ini. Lelaki itu menelusupkan kepalanya mendekati wajah Hae Yeon. Sangat dekat jaraknya, bahkan hidung mereka telah bersentuhan.

Lelaki itu menggerakkan hidungnya kekanan dan kekiri. Mencoba membangunkan Hae Yeon dengan cara yang sehalus mungkin.

Hingga lengkuhan halus keluar dari bibir Hae Yeon.

Gadis itu membuka mata. Menemukan sosok Lu Han dalam jarak sedekat ini. Dengan senyuman yang menghiasi wajah lelaki itu dipagi hari.

Hae Yeon juga ikut tersenyum. Kemudian bangkit dari posisinya.

Ketika gadis itu hendak pergi kekamar mandi untuk mencuci muka. Tapi tangan Lu Han lebih dulu menariknya hingga gadis itu terjatuh lagi pada posisinya semula.

Hae Yeon menatap tak suka kearah Lu Han dan hanya dibalas cengiran bocah polos yang sepertinya tak punya dosa. Enak saja!

“Apa? Wajahku kusut. Aku ingin mencuci muka”.

“Sayang, ini masih terlalu pagi. Aku tak merelakanmu untuk meninggalkanku sendirian”.

Hae Yeon merenggut kesal. Lihat kepalanya sudah ingin mengeluarkan tanduk.

“Lu, aku hanya kekamar mandi sebentar. Dan bahkan jaraknya hanya beberapa langkah dari sini”.

Kini ganti Lu Han yang merajuk. Lelaki itu mengerucutkan bibirnya sebal karena gadisnya ini tak peka terhadap apa yang biasanya pada pemuda-pemudi yang sudah menjalin cinta. Morning kiss. Itu maksudnya.

“Give me morning kiss, please”.

Hae Yeon memutar bola matanya malas. Lihat, bahkan lelaki itu bisa bersikap kekanakkan. Ini sisi dari diri Lu Han yang lain. Nerd. Jenius. dan kini kekanakkan. Banyak sekali sifatnya. Dan dia tak mungkin menghafal semuanya bukan.

Tidak. Ini bukan jawaban untuk soal ujian. Tak mungkin dia menghafal hal yang tak penting. Membaca buku dan menghafal rumus jauh lebih masuk akal, ketimbang menghafal sifat Lu Han yang selalu berubah.

“Ayo, Yeon. Morning kiss, please”.

Hae Yeon menyerah dan pasrah. Gadis itu mendekatkan wajahnya pada wajah lelaki itu. Memejamkan mata dan bibir mereka saling bertemu.

Awalnya hanya menempel. Tetapi Lu Han lebih dulu menarik tengkuk gadis itu dan memberikan lumatan-lumatan kecil. Dan tangan yang lainnya, selalu tak bisa diam.

Tangan itu bereaksi. Didada Hae Yeon. Meremasnya pelan dan terdengar bunyi lengkuhan.

Hae Yeon tak bisa membiarkan ini. Kenapa Lu Han mulai berotak mesum? Baiklah sepertinya sifat lelaki itu bertambah satu lain. Yaitu Mesum. Dasar laki-laki.

Hae Yeon mendorong tubuh Lu Han menjauh. Memvuat tautan mereka terlepas dan raut kekecewaan diwajah lelaki itu.

“Wae?”.

“Lu, kau lupa apa yang kau katakan semalam?”.

“Tentang apa?”.

Lu Han terdiam. Lelaki itu berpikir sejenak tentang kejadian semalam. Adegan ciuman. Diatas tempat tidur. Itu. Dan pembicaraan.

Astaga. Dia ingat. Dia tak ingin Chan Yeol menghabisinya.

Kau bodoh, Xi Lu Han.

“Bagaimana?”.

Terlihat raut wajah menatang dari gadis itu. Membuat Lu Han semakin mengerucutkan bibirnya. Gadis itu menyebalkan sekali, pikirnya.

Tak bisakan selesaikan saja sedikit, setidaknya sampai batas kemarin. Atau lebih sedikit saja. Lu Han berhenti berpikiran mesum, atau aku akan mengambil Se Hu darimu. ngga nyambung thor. Maaf, terbawa suasana couple HunHan.

“Baiklah. Aku akan persiapkan pernikahan kita secepatnya. Setelah Lulus, kau langsung menikah dengan ku. Tanpa penolakan dan harus”.

Lu Han berkata dengan sekali hembusan nafas. Tanpa tambahan dan pengurangan. Lelaki itu sudah tak bisa lagi bila harua melihat tatapan para lelaki disekolah yang sepertinya ingin memiliki gadis nya itu. Lu Han ingin sekali mencongkel mata mereka dan menghancurkannya. Agara mereka tak dapat melihat Hae Yeon sedikitpun.

Sampai kapanpun, Lu Han akan memperjuangkan gadisnya.

“Aku tahu, Lu deer ku tersayang. Sekarang biarkan aku mandi atau setidaknya hanya cuci muka saja. Ok?”.

Lu Han mengangguk dan mendapatkan hadiah sebuah kecupan dibibirnya.

“Mandilah. Aku akan bawakan baju untukmu”.

“Eum”. Hae Yeon mengangguk dan berjalan menghilang dibalik pintu kamar mandi.

Lu Han pun segera menelpon sekretarisnya untuk membeli pakaian wanita beserta dalamannya. Lu Han memberikan berapa ukuran gadis itu dan setelah selesai, Lelaki itu turun untuk menyuruh para pelayannya menyiapkan makanan untuk mereka berdua.

Jangan tanya kenapa Lu Han tahu ukuran gadis itu. Kalian tahu Lu Han diberikan tanggung jawab oleh Ny. Park untuk menjaga putrinya kan? Lu Han sering keluar masuk kamar Hae Yeon dengan begitu mudahnya. Jelas saja Lu Han tahu, karena aktifitasnya disana juga termasuk mengobrak-abrik lemari gadia itu dan melihat semua jenis pakaian yang digunakannya. Termasuk pakaian dalam dan ukurannya. Kalian mengerti maksudku?

******

Hae Yeon mengenakan sweater hitam dan celana jeans senada yang seukuran dengan tubuhnya. Lu Han benar-benar membawakan baju untuknya.

Hae Yeon berjalan menuruni tangga. Tangan kanannya memegangi pegangan disana. Hingga anak tangga terakhir gadis itu berhenti.

Pandangannya mencari sosok yang sedari tadi menyita pemikirannya. Membuat dia hampir saja tenggelam didalam bath tub karena melamunkan lelaki itu. Dan akibatnya sekarang, hidungnya kemasukkan air. Menyedihkan.

Gadis itu nampak tak baik setelah insiden itu. Dia berlari menuju dapur dan menemukan beberapa pelayan yang tengah sibuk menyiapkan makanan.

“Annyeong,, ahjumma”.

Hae Yeon membungkuk sopan dan menyapa. Beberapa pelayan itu pun langsung menatap Hae Yeon dengan tatapan tak yakin. Berujar dalam hati, apa yang mesti mereka lakukan.

“Nado annyeong, nona muda”.

Setelah lama berdebat dengan pemikiran mereka. Para pelayan itu pun hanya mempunyai pilihan untuk menjawab sapaan nona muda mereka itu. Dan disertai membungkukkan badan formal dihadapan gadis itu. Membuat Hae Yeon terkekeh perlahan.

“Jangan seformal itu padaku. Aku jadi tak enak hati. Panggil saja aku dengan nama. Hae Yeon atau kakakku biasa memanggilku Yeon. Panggil saja seperti itu. Itu jauh lebih baik ketimbang panggilan nona muda yang kalian ucapkan tadi”.

Dahi mereka semua berkerut. Beberapa dari mereka melongo tak percaya. Tuhan memberikan sifat kebalikan majikan mereka pada gadis ini. Sebenarnya ini pantas disebut apa? Deja boo?

“Maaf kan kami. Tuan muda telah memerintah kami untuk memanggil anda seperti itu”.

Ucap salah satu pelayan, membuat Hae Yeon tak suka.

“Tuan muda? Lu Han maksud kalian?”.

Semua pelayan itu menganggukkan kepala. Menyetujui apa yang gadis itu tanyakan. Dan Hae Yeon mendengus kesal.

“Tenang saja. Karena aku nona muda kalian, jadi tolong patuhi perintahku untuk memanggilku dengan nama saja”.

“Tapi nona, bagaimana nanti kalau kami dipecat”.

“Tidak akan. Lelaki itu tak berani memecat kalian. Akan aku jamin. Mengerti?”.

Mereka semua mengerti. Tapi hati mereka berkata, bahwa Hae Yeon seenaknya sendiri. Mereka terpaksa menyetujui ini, hanya dihadapan gadis itu saja. Tapi jika ada Lu Han, mereka akan kembali memanggil seperti apa yang Lu Han perintahkan. Mereka tak ingi dipecat hanya karena masalah panggilan.

“Yeon?”.

“Oh,, Lu”.

Hae Yeon berhambur kepelukan lelaki itu. Dan Lu Han dengan senang hati menangkap tubuh mungil kekasih barunya ini. Lelaki itu mengangkat tubuh Hae Yeon hingga sejajar dengannya. Membuat kaki gadis itu melayang, tanpa menyentuh lantai.

Mereka tertawa seiring berjalannya waktu. Membuat beberapa pelayan saling menganga atas apa yang mereka lihat barusan. Seorang Xi Lu Han tertawa.

Ya, mereka tak pernah melihatnya sedikitpun. Hanya karena seorang gadis bernama Hae Yeon, Seorang Xi Lu Han menunjukkan jati dirinya yang lain.

Banyak rahasia yang dimiliki lelaki itu dan Dia menunggu waktu yang tepat untuk menceritakan segalanya pada gadis itu. Lu Han berjanji setelah kelangsungan pernikahan itu, Lu Han akan menceritakan semuanya. Segalanya. Aoa yang ada dan dengan fakta nyata. Lu Han hanya butuh waktu, seperti Hae Yeon wakty itu.

“Kau ingin makan sesuatu yang spesial?”.

Lu Han bertanya, lalu menurunkan tubuh gadis itu.

Hae Yeon berpikir sejenak. Hingga sesuatu terlintas dipikirannya.

“Es Krim”.

“Apa?”.

Lu Han tak habis pikir. Kenapa gadis itu malah ingin makan es krim dipagi hari. Membuat perut sakit saja.

Lu Han menggeleng. Membuat Hae Yeon mengkerucutkan bibirnya.

“Kenapa?”.

Lu Han menghela nafasnya. Gadis ini tak bisa diajak kompromi. Dan Lu Han baru ingat, bahwa Hae Yeon tidak suka pada bagian pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, sehingga mungkin dia tak tahu hal ini.

“Dengar sayang, ini masih pagi”.

“Lalu kenapa dengan pagi? Aku hanya ingin makan es krim. Sungguh, Lu. Aku mohon”.

Lu Han kembali menggeleng kan kepalanya.

“Sayang, ini masih pagi dan bisa membuatmu sakit perut”.

“Aku tidak peduli. Pokoknya es krim. Jangan mendebatku atau aku pulang sekarang”.

Lelaki itu frustasi. Seorang Hae Yeon tak akan pernah bisa didebat. Orang manapun tak akan pernah bisa mendebat Hae Yeon. Bahkan ayah dan ibunya saja kalah bisa urusab debat-mendebat dengan gadis itu.

Lu Han menghembuskan nafasnya perlahan. Tak ada hal lain yang bisa dia lakukan kecuali mengabulkannya.

“Baiklah sayang, boleh. Asal jangan banyak-banyak, mengerti?”.

Mata Hae Yeon berbinar. Gadis itu mengangguk kan kepalanya dengan cepat dan mengecup pipi Lu Han.

“Lu Han yang terbaik”.

Hae Yeon mengacungkan dua jempolnya. Mengatakan yang terbaik atas segala hal yang telah lelaki itu lakukan untuknya. Lu Han adalah segalanya. Dan Hae Yeon bersyukur karena memilikinya.

Lu Han tersenyum melihat gadisnya bahagia. Lu Han melakukan banyak hal, agar gadisnya bahagia. Merasa nyaman bersamanya. Dan akan selalu terus berada disisinya dalam keadaan apapun. Lu Han hanya ingin selalu Hae Yeon bahagia. Selalu.

******

“Aduh, perutku”.

“Lihat apa yang terjadi. Sudah kukatakan jangan makan banyak, tapi kau malah melanggar perintahku. Ini akibatnya”.

Hae Yeon memegangi perutnya yang sakit. Ini bukan sakit seperti ingin mengeluarkan sesuatu. Tapi sepertinya lambungnya bermasalah.

“Yeon, kau memiliki maag. Kenapa susah sekalu dibilangi”.

“Sekarang kalau sudah seperti ini, aku harus bagaimana?”.

“Kenapa kau selalu keras kepala”.

“Tidak bisakah kau menurut padaku?”.

Dan masih banyak lagi. Lu Han memarahi gadis itu habis-habisan. Membuat mata gadis itu berkaca-kaca. Lu Han yang tak tega melihatnya mulai memilih untuk diam.

Lu Han duduk ditepi tempat tidur dan mengelus rambut gadis nya itu perlahan. Lelaki itu menyakiti Hae Yeon kembali.

“Maaf, aku sudah memarahimu”.

Hae Yeon menggelengkan kepalanya. Airmata gadis itu telah lebih dulu turun perlahan. Dan isak tangis pun mulai terdengar.

“Maaf kan aku, Lu. Aku tahu, aku salah. Tolong jangan marah, hikss.. Maaf, aku memang keras kepala. Aku membahayakan diriku sendiri, hanya karena es krim”.

Hae Yeon berucap dengan airmata yang terus mengalir. Terlihat seperti anak kecil yang protes karena tak pernah dibelikan mainan.

Lu Han membawa gadis itu dalam dekapannya. Mengusap rambut Hae Yeon kembali. Dan menciumi puncak kepala Hae Yeon. Lu Han sering melakukan ini. Dan ini adalah hal yang tak bisa Lu Han hilangkan dari kebiasaannya.

“Sttt… tak apa. Aku mengerti. Sekarang tidurlah. Nanti akan aku bangunkan kalau dokternya sudah datang”.

Lu Han menidurkan Hae Yeon ditempat tidur. Menarik selimut. Dan mencium kening Hae Yeon lama.

“Jangan nakal saat tidur. Ok?”.

Hae Yeon mengangguk dan dibalas seulas senyum oleh Lu Han.

“Good girl”.

******

Malam tiba. Lu Han dan Hae Yeon maaih dirumah lelaki itu yang asal-usulnya masih misterius.

Mereka dalam keheningan malam yang hanya dipenuhi suara bising televisi yang ada dihadapan mereka. Duduk bersebelahan dan mata keduanya fokus pada layar televisi.

Sesekali Lu Han memperhatikan gadisnya yang tidak peka sama sekali. Lelaki itu sedang ingin bermesraan saat keadaan seperti ini. Tapi dia hanya diam membisu tanpa melihat kearahnya.

Dasar kekasih durhaka.

“Yeon?”.

“Heum..”

Lu Han mendengus. Sebenarnya apa yang gadis itu lihat dilayar datar itu? bahkan wajahnya jauh lebih enak dipandang ketimbang televisi itu.

Lu Han mengalihkan pandangannya dan menemukan film kartun yang ditampilkan.

Astaga.

Lelaki itu tak bisa fokus, hanya apa yang ditayangkan ditelevisi saja dia tak tahu. Pikirannya penuh dengan Hae Yeon dan hanya gadis itu selalu.

Dan bodohnya sekarang, Kartun lebih menarik daripada Lu Han.

Ya, Gadis itu suka film kartun. Lu Han tahu hal itu. Dan itu menggeser kedudukannya saat ini, untuk menjadi yang paling diperhatikan gadis itu. Lu Han mengumpat dalam hati. Mengutuk semua film kartun yang pernah gadis itu tonton.

Lu Han mengambil remote dan mematikan televisi itu, hingga hanya warna hitam yang ada disana.

“Mati lampu?”.

“Apa?”.

“Lu Han, mati lampu. Tolong nyalakan. Lihatlah aku belum selesai melihat filmnya”.

Lu Han menggigit atas bajunya asal. Berusaha untuk tidak mengunpat dihadapan gadis itu. Dia benar-benar mengutuk film itu.

“Sayang, ini bukan mati lampu”.

“Lalu apa? Kenapa mati?”.

Kau bodoh atau apa? Lihat tangan Lu Han sekarang!

“Kau mematikannya?”.

Lu Han hanya diam. Menatap gadis itu datar. Seolah berusaha tak peduli. Kartun menggeser posisinya. Ingat itu.

“Lu Han, tolong nyalakan”.

Lu Han tak peduli. Menulikan pendengarannya jauh lebih baik untuk saat ini. Lu Han tak suka melihat gadis itu merengek. Jelek sekali, pikirnya.

Lu Han menutup matanya perlahan. Tak peduli pada gadis itu. Lu Han mengacuhkannya.

“Lu Han, pleaseeee”.

Lu Han dia sedang memohon apa kau tak tahu?

Lu Han tetap tak ingin peduli. Lelaki itu membuat dirinya menempati sisa sofa disana. Membaringkab tubuhnya dan tak memperdulikan gadisnya yang tengah merenggut kesal.

“Lu Han jahat… hiks..”.

Hae Yeon menangis. Lu Han berusaha tak peduli. Bodoh. Dia benar kalah dari kartun. Hanya sebuah film, Lu. Kau kalah? haha,, siapa suruh.

*kau yang menulisnya, thor.. ‪#‎Peace

“Lu Han jahat.. huwaaa~~”.

Lu Han tak tahan. Jarinya kembali memencet tombol remote dan televisinya kembali menyala.

Saat menyala pun, gadis itu masih tak berhenti menangis. Jadi disini masalahnya apa?

“Kenapa? Aku sudah menyalakannya. Berhenti menangis”.

“Sudah selesai. Filmnya sudah abis. Itu semua salahmu”.

Hae Yeon memukul lengan lelaki itu bertubi-tubi. Tangan Lu Han berusaha untuk menutupi lengannya yang menjadi sasaran.

“Yeon, hentikan”.

“Lu Han jahat”.

“Maaf”.

“Tidak”.

“Yeon, aku mohon”.

“Tidak”.

“Please”.

“Tidak.. Huwaa, Oppa. Lu Han jahat”.
 

To Be Continue.. ^^

/tebar kisseu/

gimana? ancur? ya udin.. jangan lupa RCL nya plis..

Pay.. di chapter selanjutnya. ^^

Advertisements

4 thoughts on “[FF Freelance] Falling in Love with a Nerd Boy chapter 6

  1. Next chap-nya ditunggu HWAITING!!!!

    Like

  2. aku readers baru, dan langsung baca sampai chapt ini.. maaf baru komen di chapt ini.. hehe
    aku suka ceritanya.. suka banget.. 😀

    Like

  3. hae yeon gak sadar umur apa?? di kan dah tua mah aja kyk gitu.. hahahaha part ini lucu dah

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s