Namitsutiti

[FF Freelance] Falling in Love with a Nerd Boy chapter 4

4 Comments


10402931_1509967382625902_3215039116876729864_n

Author : Dinda Shakinah [Rose Lyn]
Credit poster by HRa – RCFF
chapter : 4
Title : Falling in Love with a Nerd Boy
Cast :
– Xi Lu Han [Actor]
– Park Hae Yeon [Original Character]
– And other cast.
Genre : School life, Friendship, Romance, Comedy (gagal), dll.
Leght : Multichapter
Rated PG +16 (bisa berubah sesuai mood saya) -YADONG sedikit TERDETEKSI!! jangan coba-coba.
Note : SIDERS ADALAH PENCURI!!!

Summary :
Perjuanganmu membuatku luluh. Apakah aku jatuh cinta padamu, Nerd?

*****

Lu Han berjalan kikuk dibelakang gadis itu. Mereka barusaja selesai menonton film Hobbit kesukaan Hae Yeon. Mereka berdua kini jalan diarea sekitar sana. Melihat jalanan yang ramai, mengingat bahwa disana dekat dengan taman.

Lu Han berdehem sesekali. Mencoba mengingatkan gadis itu kalau, dirinya -Lu Han- sedang berada dibelakangnya.

Bukan Hae Yeon tak peduli. Atau pun gadis itu berpura-pura tak tahu. Tapi situasinya kini adalah dia -Hae Yeon- sedang merajuk.

Lagi?

Hey, memangnya kapan gadis itu merajuk? tadi. Ah, iya benar. Setelah gadis itu dicium Lu Han, bukan. Dia berlari dan terjatuh. Lalu dibawa keruang kesehatan. Kemudian terbawa suasana. Mereka berciuman. Dan berakhir dengan bunyi bel masuk yang membuat mereka harus berhenti ditengah kegiatan mereka. Aku ingat. Jangan coba ingatkan.

Lu Han terkekeh dengan sifat Hae Yeon kali ini. Bagi orang lain memang menganggap terlalu kekanakkan. Dan kalian mau tahu apa tanggapan Lu Han?

Dia tidak kekanakkan. Melainkan menggemaskan. Kenapa Lu Han berbicara seperti itu?

Kalian bertanya padaku? Ok, akan aku jawab.

Gadis itu memiliki kebiasaan buruk ketika marah. Dan membuat Lu Han berasumsi, bahwa ketika gadis itu tengah merajuk. Maka semuanya akan jauh lebih menggemaskan.

Hae Yeon akan mengomel dengan sangat panjang. Gadis itu akan berkata segalanya. Sampai kedasar hal yang tak seharusnya oranglain ketahui. Gadis itu terlihat seperti sedang mengungkapkan perasaannya kalau sedang marah. Maka dari itu, itulah yang membuat Lu Han berkata bahwa dia sangat menggemaskan.

Menurut Lu Han, semua yang ada pada gadis itu adalah sesuatu hal yang akan membuat banyak orang tersenyum. Bahkan saat ini, lelaki itu tak menghentikan sedikitpun senyumannya.

Lu Han membenarkan letak kacamatanya. Lelaki itu berjalan lebih cepat agar bisa mensejajarkan langkah kakinya dengan Hae Yeon. Sedangkan gadis itu hanya melirik kearah Lu Han sejenak dan kembali menatap jalan didepannya. Mereka berjalan dalam diam.

Kini, tangan Lu Han mulai terasa gatal. Lelaki itu tak sanggup bila berlama-lama tidak memegang tangan gadis itu kembali. atau biasanya hae yeon lah yang menggandeng tangan lelaki itu. Lu Han merasa tak tenang sekarang.

Lu Han mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Mencoba mengumpulkan kekuatan, untuk menjadi berani dalam keadaan ini.

Ayolah, Lu. Kalau masalah perdebatan antara jawaban yang salah dan benar dengan seorang guru killer saja kalau berani. Masa hanya masalah Hae Yeon saja, nyalimu jadi ciut. Dimana letak ke -gentleman mu, coba.

Lu Han menyelipkan tangan kirinya, diantara gempalan tangan kanan Hae Yeon. Lu Han sedikit membuka paksa gempalan itu, agar telapak tangannya bisa terselip dengan sempurna disana.

Hae Yeon yang merasa tangannya itu dipaksa. Gadis itu mencoba menghempaskan tangan Lu Han tapi lelaki itu malah mencengkamnya kuat.

Hae Yeon sedikit terhenyak dengan nasib tangannya. Pasalnya, bila Lu Han telah seperti itu, artinya adalah lampu merah untuk gadis itu.

Matilah kau Yeon. Tadinya Lu Han menciummu dengan panas di ruang kesehatan. Eh tunggu, salah. Itu karena kalian berdua yang terbawa suasana. Dan sekarang.. Tunggu, bukankah sebelum nya.. Bukam, tapi biasanya Lu Han akan selalu minta dicium pipi oleh Hae Yeon. Itu kebiasaan Lu Han sedari mereka kecil. Jadi, bagaimana kalau lelaki itu bisa saja membuatnya kehilangan nafas dan berakhir di sudut tempat. Lalu-

“Jangan berpikiran kotor tentang ku, Yeon”.

Menjijikkan. Begitu saja sudah tahu.

“Dan jangan mengumpat”.

Menyebalkan.

“Aku merasakan aura suram disekitarku”.

Ya, aku hantunya. Aku ingin mencekik mu, Lu.

“Bagaimana ini? aku merasa seseorang melihatku dengan tatapan membunuh”.

Hae Yeon melihat Lu Han denga tatapan mengintimidasi. Atas hal yang membuat gadis itu tak nyaman. Alasan apalagi, yang terdengar masuk akal. Hae Yeon mengalihkan pandangannya dengan sungut yang ada dikepalanya. Gadis itu ingin meledak rasanya. Bila harus terus berhadapan dengan lelaki super duper menyebalkan, menurutnya ini. Xi Lu Han.

“Tapi kau berkata seolah kau tak takut dengan semua itu”.

Lu Han terkekeh. Gadis ini sebenarnya bagaimana. Tanggapannya sensitif sekali.

“Tentu saja aku tak takut. Aku bisa membuat orang itu meneriaki namaku sepanjang saat. Aku bisa saja memegang kendali atas dirinya. Aku bisa saja membuat orang itu tak berani melakukan hal itu lagi. Dan aku bisa membuat orang itu tak berdaya dibawah kendaliku”.

“Ck. Kenapa percaya diri sekali, kau?”.

“Karena aku tahu siapa orangnya. Aku tahu dia kini menatapku seolah ingin tahu”.

PLETAK.

Hae Yeon mendaratkan pukulan jitunya diatas kepala Lu Han. Dan membuat lelaki itu meringis kesakitan.

Hae Yeon menatapnya dengan bengis. Gadis itu mencoba menahan amarah yang tengah menggebu didalam dirinya.

“Menyebalkan kau. Kau mengataiku?”.

Lu Han menggeleng dengan polosnya. Lelaki itu lalu menampilkan senyuman mengejek miliknya. Dia suka melihat Hae Yeon marah.

“Aku tak mengatakan seperti itu”.

“Kau membaca pikiranku”.

“Oh jadi kau orangnya?”.

“Kalau iya kenapa?”.

“Bersiaplah berakhir dengan ku”.

“Akan ku adukan pada Se Hun atau Jong In dan kau yang berakhir dengan mereka”.

Hae Yeon menunjuk Lu Han tepat dihadapan lelaki itu dengam telunjuknya. Gadis itu mencoba membuat Lu Han patah hati, karena Se Hun dan Jong In termasuk dalam deretan lelaki populer yang jatuh cinta padanya.

Lu Han mendesis. Lagi-lagi nama itu. Apa tidak ada yang lebih baik dari mereka? batin Lu Han.

“Jangan membuatku marah, atau pikiran kotormu itu akan menjadi kenyataan”.

“Pikiran kotor apa? aku sedang tak berpikir apapun”.

“Ck. Kau masih mengelak setelah ketahuan”.

“Ya! Memangnya aku habis mencuri. Pakai ketahuan segala”.

“Kau memang seorang pencuri”.

“Apa? memangnya aku mencuri apa?”.

“Hatiku”.

BLUS.

Sial!

Pipi Hae Yeon merona saat ini. Gadis itu cepat mengalihkan pandangannya kearah lain. Agar Lu Han tak mengetahuinya.

Tapi sialnya, lelaki itu sudah mengetahuinya dan kini malah terkekeh geli dengan apa yang terjadi pada Hae Yeon.

“Begitu saja sudah merona. Bagaimana kalau kita benar-benar berakhir disudut tempat. Dan bisa saja, wajahmu akan jadi seper-“.

“Ya! Kau gila. Kau ingin berakhir ditangan ayahku atau Se Hun atau Jong In, huh?”.

“Kalau ayahmu, dia pasti akan segera menikahkan kita. Dan Se Hun atau pun Jong In aku yang akan membuat mereka berakhir ditanganku”.

“Haha.. Orang seperti kau melawan Se Hun dan Jong In? Impossible”.

“Tidak mungkin darimana? mereka semua tak berani mendekatiku”.

“Huh? kata siapa? mereka bukannya tak berani mendekatimu. Itu semua kare-“.

“Apa kare apa?.

“Entah”.

“Ck. Menyebalkan”.

“Kau juga menyebalkan”.

Hampir saja Hae Yeon ketahuan. Tentang apa yang membuat mereka semua -para fans Hae Yeon- tak mendekati Hae Yeon-Lu Han bila sedang berduaan. Dalam keadaan apapun.

Hae Yeon tak ingin Lu Han salah paham bila mengetahui semua ini. Tapi Hae Yeon juga tak bisa merahasiakan ini semua lama-lama. Hae Yeon takut Lu Han akan mendengarnya dari oranglain. Hae Yeon akan mencari waktu yang tepat, agar dia bisa menjelaskan semuanya pada lelaki itu.

Aku akan menjelaskannya, segera Lu.

*****

Hari ini Lu Han memasuki kamar Hae Yeon lagi. Lihat hampir seumur hidupnya Lu Han melakukan itu. Umurnya sudah hampir 19 tahun dan selama itu pula, Lu Han selalu masuk kesana untuk membangunkan gadisnya.

Lu Han tersenyum saat mulai memasuki kamar itu. Lelaki itu menemukan gadis nya sedang tertidur pulas. Lu Han tak pernah tega membangunkan gadis itu, tapi karena ini semua adalah hal yang paling menyenangkan. Lu Han dengan suka rela melakukan.

Mebangunkan seseorang dari tidur, menyenangkan apanya? Ya, bagi Lu Han itu menyenangkan. Kalian tahu. Pemandangan gratis.

Lu Han bisa melihat gadis itu menguap. Lalu menggeliat. Setelahnya membusungkan dada. Astaga, Maaf Lu Han khilaf. Melihat gadis itu memakai tank top ketat dengan hot pans. Atau melihat gadis itu memakai kemeja kelonggaran miliknya yang Lu Han pinjamkan, sewaktu Hae Yeon menginap dirumah lelaki itu. Hae Yeon tak pernah mengembalikannya. Dia bilang sebagai kenang-kenangan. Kau tahu kemeja itu berwarna putih. lalu apa hubungannya.

Kemejanya menampilkan bra gadis itu, karena transparan. Astaga, Lu.

Lu Han juga terkadang menemukam gadis itu hanya memakai kemeja tanpa memakai celana. Alhasil, Lu Han dapat melihat celana dalam miliknya. Lu, kau mesum.

Ya, hal seperti itulah yang membuat Lu Han harus menghela nafas panjang sambil meneguk air liur nya kasar. Dia takit kehilangan kendali lalu menyerang gadis itu. Lu Han bisa saja gila karena hal ini. Tapi, dia mencintai Hae Yeon. Kalian tahu maksudku, kan?

Lu Han duduk dipinggiran tempat tidur. Lelaki itu memandangan wajah polos Hae Yeon saat tidur. Begitu damai dan pendiam. Itu masuk dalam salah satu daftar menyenangkan saat membangunkan gadis itu.

Lu Han membelai pipi Hae Yeon perlahan. Lelaki itu mengulas senyum kemudian. Dan dia menepuk-nepuk pipi Hae Yeon setelahnya.

“Yeon, bangun. Ayo bangun cepat”.

“Eunghhh..”.

“Ayo buka matamu, bibi sudah menunggumu dibawah”.

“Baiklah”.

Tak ada protes hari ini. Kalau biasanya Hae Yeon akan selalu mengomel saat Lu Han membangunkannya. Dan berkata 5 menit lagi. Tapi kini dia menurut dan langsung menyikap selimutnya. Masih dalam mata yang terpejam.

Lu Han yang melihatnya hanya meneguk air liurnya kasar. Dan matanya, melongo keluar. Lihat, ini membuat sesuatu dibawah sana sedikit sesak.

Lu Han mengalihkan pandangannya kearah lain. Berusaha untuk tidak berfantasi liar dan membuat pengendaliaan hancur begitu saja.

Sial! umpatnya dalam hati.

Hae Yeon beranjak dari tempatnya dan menuruni tempat tidurnya. Gadis itu masih belum bisa membuka matanya.

Lu Han tak tahan. Pertahanannya mulai runtuh. Lelaki itu segera menarik tangan gadis itu dan membuatnya jatuh kembali diatas tempat tidur. Lu Han beralih keatas gadis itu. Mengurungnya. Membuat Hae Yeon membelakakan matanya tak percaya.

“Apa yang kau lakukan?”.

Lu Han mengeluarkan seringaiannya. Lelaki itu kemudian mendekatkan wajahnya dihadapan gadis itu. Menatapnya intens. Dan matanya, kini menatap kearah bibir gadis itu.

“Yeon, kau membuat pertahananku runtuh”.

“Apa maksudmu?”.

“Kau hanya memakai kemeja tanpa mengenakan bawahan. Kau tahu, celana dalam berwarna merah. Itu terlihat seksi, sayang”.

“Ya! Kau gila apa?”.

Lu Han tak peduli. Lelaki itu mendekatkan bibirnya kearah gadis itu dan semakin memiringkan senyumannya. Tinggal sedikit lagi bibir mereka bertemu.

CEKLEK.

“Hae Yeon, aku datang! Kau tak merindukan ,, ku?”.

Lu Han dan Hae Yeon terperanjat. Seseorang memasuki kamar itu dan memergoki mereka dalam keadaan yang akan membuat orang itu salah paham. Dan bodohnya Lu Han tak menguncinya.

Lu Han dan Hae Yeon melihat kearah sana. Menemukan seorang lelaki dengan rambut merah tua-coklat nya. Lelaki itu menatap keduanya tak percaya.

“Kalian.. sedang.. Eomma! Lu Han menodai adikku”.

Lelaki itu segera menutup pintu dan berlari menuruni anak tangga dengan cepat. Lu Han segera berdiri dan ikut keluar kamar. Meninggalkan gadis itu yang kini menatap keduanya dengan pandangan tak mengerti.

“Dasar laki-laki”.

*****

Lelaki berambut merah tua-coklat itu berlari menuruni tangga. Dia mencari ibunya didapur. Lelaki itu tergesa-gesa, karena apa yang baru saja dilihatnya membuat dia tak percaya dengan lelaki bernama Lu Han itu.

“Eomma!”.

Ny. Park terperanjat. Beliau memegang dadanya yang shock akibat ulah teriakan anak pertama nya itu.

Wanita paruh baya itu membalikkan badannya menghadap pantri dan menemukan anak lelakinya itu. Kalian sedang bingung? benar.

Hae Yeon anak tunggal dari keluarga Park, itulah kenyataannya. Tapi Hae Yeon tidak pernah tahu akan hal itu. Jadi, setahun Ny. dan Tn. Park menikah, mereka belum memiliki anak. Lalu, kakak dari Ny. Park mengalami kecelakaan. Membuat anak tunggal kakak Ny. Park terlantar. Ny. Park mengadopsi anak laki-laki mereka dan menambahkan marga suaminya disana. Jung Chan Yeol berubah menjadi Park Chan Yeol.

Mereka merawat Chan Yeol hingga dewasa. Menutupi kenyataan bahwa lelaki itu tak memiliki orang tua lagi. Tiga tahun kemudian, Ny. dan Tn. Park memiliki seorang putri. Jadi,, ya begitulah. Kalian mengerti.

Hingga kini keduanya -Chan Yeol dan Hae Yeon- sama-sama tak mengetahui kenyataan itu. Ny. dan Tn. Park tak akan pernah membahas hal itu untuk selamanya. Toh, mereka berdua sama saja saudara dengan atau tidaknya pengadosian itu.

Chan Yeol duduk dengan segera dikursi pantri. Lelaki itu sedikit mengatur nafasnya yang berantakkan.

Ny. Park hanya menatap tak mengerti putra nya ini. Beliau hanya menunggu lelaki itu berbicara sebelum menyelanya.

“Eomma, Lu Han..”.

“Ada apa dengan Lu Han?”.

“Dia.. itu sudah.. huh.. dia sudah .. menodai..”.

“Ada apa?”.

Chan Yeol menghembuskan nafasnya kasar dan bersiap untuk bercerita. Lelaki itu tak percaya dengan apa yang Lu Han lakukan pada adik tersayangnya itu. Chan Yeol mengutuk lelaki itu.

“Dia sudah menodai-“.

“Aku sudah menodai bajunya, Bibi”.

Lu Han datang dengan tangan yang diletakkan lelaki itu sakunya. Berjalan dengan santai. Gadis itu kemudian duduk disamping Chan Yeol dan mengulas senyum seadanya.

Chan Yeol berdesis menatap tingkah laku lelaki itu. Chan Yeol menatap tak suka kearahnya.

Beraninya dia menodai adiknya dan sekarang mengulas senyum seperti itu. bantinnya.

“Dia bohong, eomma”.

“Tidak bibi, Hyung hanya melebihkan sesuatu”.

“Melebihkan? apa maksudmu?”.

“Tidak, Hyung. Kau salah paham”.

“Apanya yang salah? Aku melihat semuanya, kau bilang itu melebihkan”.

“Bukan itu maksudku”.

“Lalu maksudmu apa?”.

Keduanya sama saja. Sama-sama keras kepala. Tak ada yang mau mengakhiri perdebatan tak masuk akal keduanya. Merekea sama-sama memegang pendirian mereka masing masing. Dan salah satu dari mereka tak ada yang mau mengalah.

Melihat itu, Ny. Park hanya menggelengkan kepalanya. Pasalnya, wanita paruh baya itu tak ingin ikut terlibat dalam urusan anak muda. Karena mengingat umurnya yang hampir memasuki kepala 4 itu.

“Huh, mereka benar-benar”.

*****

Hae Yeon berjalan menuruni tangga. Gadis itu berjalan malas. Dia tak mempedulikan kegiatan pagi yang terjadi antara kedua lelaki menyebalkan seperti mereka berdua. Pagi-pagi sudah berisik, itu pikirnya.

Hae Yeon berjalan gontai kearah meja makan. Gadis itu duduk seperti biasa ditempatnya dengan malas.

Kedua lelaki itu menatap Hae Yeon. Chan Yeol menatap adiknya tak percaya. Gadis itu tadi barusaja diserang Lu Han dan dia.. terlihat seperti tak terjadi apapun antara mereka.

Chan Yeol berdehem. Membuat Lu Han menatap lelaki itu. sedangkan Hae Yeon, gadis itu menyantap makanannya tanpa memperdulikan kedua lelaki itu yang sedang menatapnya.

Dia tak peduli.

“Yeon, kau jangan dekat-dekat dengannya”.

Hae Yeon menatap kakaknya malas. Gadis itu menggidikkan bahunya acuh. Gadis itu memasukkan kembali potongan roti itu kedalam mulutnya.

Lu Han tersenyum senang dengan jawaban yang diberikan gadisnya itu. Chan Yeol menatap bengis adiknya. Menyebalkan, pikirnya.

“Yeon, kau milikku. Jangan mau ditipu olehnya. Dia hanya modus saja. Setelah itu dia akan membuangmu seperti sampah”.

“Ya! Kau menyumpahiku, Oppa? Lu Han tak akan seperti itu. Aku sudah mengikatnya dan dia tak akan pernah meninggalkanku”.

“Tentu saja, Sayang. Dan Hyung, gadis ini milikku. Kau tak boleh mengeclaim nya menjadi milikmu. Karena dia milikku”.

Chan Yeol tak memperdulikannya. Lelaki itu tak peduli Lu Han mengoceh apapun tentang adik tersayangnya. Karena Chan Yeol akan berusaha mati-matian menjaga adiknya apapun keadaannya.

“Aku tak peduli. Dia adikku. Dan dia milikku. Kalau kau ingin memilikinya, kau harus meminta ijin dariku. Dan jawabannya seperti sudah ada didepan mata. Kau tak ku terima sebagai adik iparku. Aku lebih menyukai Se Hun ketimbang kau”.

“Oppa, kau menyebalkan”.

“Aku juga menyayangimu, sayang. Muah.. “.
To Be Continue…

Udah pusing mikirnya. Segitu ajin.

maaf, otak rada error. bagian terakhir, rada gaje.
Sekian dan terima bakpao.

Advertisements

4 thoughts on “[FF Freelance] Falling in Love with a Nerd Boy chapter 4

  1. Wuaahhh itu slh paham yammpunn, untung di chanyeol blom blg, next chap-nya ditunggu HWAITING!!!

    Like

  2. sebagai kakak aku memaklumi kalau chanyeol bersikap seperti itu. wkwkwkw

    Like

  3. Eh ada chanyeol..

    Like

  4. huaaa jadi chanyeol lbh suka sehun?? waeeee?? luhan kan lbh perfect kl dandan dikit

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s