Namitsutiti

[FF Freelance] Falling in Love with a Nerd Boy chapter 1

5 Comments


10402931_1509967382625902_3215039116876729864_n

Author : Dinda Shakinah [Rose Lyn]
Credit poster by HRa – RCFF
Title : Falling in Love with a Nerd Boy
Cast :
– Xi Lu Han [Actor]
– Park Hae Yeon [Original Character]
– And other cast.
Genre : School life, Friendship, Romance, Comedy (gagal), dll.
Leght : Multichapter
Rated PG +15 (bisa berubah sesuai mood saya)
Note : SIDERS ADALAH PENCURI!!!

Summary :
Perjuanganmu membuatku luluh. Apakah aku jatuh cinta padamu, Nerd?

*****

“Hae Yeon -ah”.

Suara itu menyeruak masuk kedalam pendengaran Hae Yeon
Gadis yang masih bergelut manis dibawah selimutnya itu sangat malas, ketika mendengar namanya dipanggil. Gadis itu menarik selimutnya. Berusaha menenggelam kan kepalanya disana, agar tak mendengar panggilan itu.

“Hae Yeon -ah, bangun. Nanti kita bisa terlambat”.

Tangan itu sedikit menepuk-nepuk selimut Hae Yeon. Berharap gadis itu segera bangun dan bergegas untuk pergi kesekolah.

Gadis itu menggeliat didalam selimutnya. Suara lelaki itu membuatnya lebih malas memikirkannya. Hae Yeon malas bila harus dibangunkan pagi hari, untuk sekolah. Bahkan gadis itu berniat untuk pindah kesekolah yang masuk siang hari. Tapi jelas, itu mana ada. Kecuali ada keadaan tertentu.

“Sebentar lagi, Lu. 5 menit saja, aku mohon”.

“Nanti kita akan terlambat. Kau tahu, Cho saem tak akan pernah mengijinkan murid yang terlambat menghadiri kelasnya”.

Lelaki itu, Lu Han. Berusaha dengan susah payah membangunkan ratu tidur dari alamnya.

Hae Yeon mengingatnya. Cho saem adalah guru favoritnya. Dia tak bisa melewatkan sedikitpun tentang pelajaran itu. Sastra adalah kesukaannya. Maka Hae Yeon tak ingin membuat nilainya hancur pada pelajaran kesayangannya itu. Gadis itu tahu pasti, bahwa Cho saem juga akan mempertimbangkan nilai absen a
dalam pelajarannya.

Hae Yeon bangkit dari tidurnya. Gadis itu sedikit menguap, kemudian mengusap wajahnya kasar. Gadis itu malas bangun pagi. Tapi demi nilai dalam pelajaran favoritnya hari ini, Hae Yeon melawan rasa malas itu.

Gadis itu sedikit menatap tak suka kearah Lu Han. Tapi hatinya terus mengucap kata Terimakasih berulang kali untuknya nya.

Lelaki dengan kacamata bulat, kancing yang dipasang semua dan blazer coklat sekolahnya. Lelaki itu nampak tak enak dipandang pagi-pagi. Seharusnya yang dipanjang saat pagi hari adalah lelaki yang keren dan populer. Tapi Lu Han? Astaga, bahkan dia jauh dari kata keren. Tapi tidak dengan populer. Karena lelaki itu sungguh populer dalam urutan siswa terpintar disekolah mereka. Setidaknya, itu sedikit mengurai panggilan ‘Nerd’ nya.

“Cepat mandi. Aku akan menunggumu dibawah”.

Ucap lelaki itu, lalu tersenyum kearah Hae Yeon dan meninggalkan gadis itu didalam kamarnya.

Hae Yeon tersenyum menatap punggung itu yang mulai menjauh dari pandangannya. Hatinya serasa damai setelah melihat senyumannya. Gadis itu bangkit dari tempat tidurnya dan beranjak pergi kekamar mandi.

“Terimakasih, Lu”.

*****

Hae Yeon telah selesai mandi dan siap dengan setelan seragam sekolahnya. Lu Han yang telah menunggu cukup lama itupun mulai menguar senyumnya. Ketika melihat gadis itu menuruni anak tangga.

Hae Yeon melambaikan tangannya kearah lelaki itu dan melemparkan senyumannya.

“Annyeong”.

Lu Han kembali tersenyum menanggapinya. Jantung lelaki itu berdegup kencang. Sesuatu hal yang membuatnya bahagia adalah ketika melihat senyuman terukir diwajah gadisnya.

Dibilang gadisnya? apakah Lu Han bisa menyebutnya seperti itu? Nyinya Park telah menitipkan putri kesayangannya tersebut, agar Lu Han bisa menjaganya dengan baik. Lu Han bisa menyebut Hae Yeon sebagai gadinya, dikarenakan telah mendapat lampu hijau dari kedua orangtua Hae Yeon sendiri. Maka tak salah, bagi lelaki itu menyebutnya seperti itu.

“Eomma, aku berangkat”.

“Kau tak makan dulu?”.

“Tidak. Lu Han sudah menungguku terlalu lama”.

“Baiklah. Hati-hati dijalan ya”.

“Ok”.

Hae Yeon berpamitan kepada Nyonya Park. Gadis itu mengecup sekilas kedua pipi ibunya. Lalu melambaikan tangannya.

“Ayo, Lu Han”.

Gadis itu menarik tangan Lu Han untuk keluar dari rumahnya. Lu Han hanya mengikuti laju langkah Hae Yeon. Setelah itu keduanya hilang dibalik pintu.

Nyonya Park hanya tersenyum, menanggapinya. Melihat kelakuan anak perempuan semata wayangnya. Nyonya Park bahagia, bahwa Lu Han membawa dampak baik untuk putrinya. Nyonya Park tak salah memilih seseorang untuk menjaga putrinya. Lu Han memang orang yang tepat. Menurutnya.

*****

“Nerd, kau tahu nanti malam film Hobbit akan ditayangkan dibioskop”.

Lu Han mengangguk kan kepalanya. Pasalnya lelaki itu tak terlalu update tentang hal yang berbau seperti itu. Lelaki itu memiliki jadwal kesehariannya. Dia tak punya banyak waktu untuk menonton televisi sepanjang hari. Dia lebih sibuk dengan buku-buku tebalnya. Menurut Lu Han, membaca itu lebih masuk akal ketimbang hal seperti drama-drama menyebalkan yang mengumbar tangis.

“Ayo, kita nonton bersama”.

Hae Yeon nampak bersemangat membicarakannya. Matanya berbinar dengan membayangkan dirinya duduk dengan Lu Han dan menonton film tersebut. Memakan satu popcorn berukuran jumbo berdua. Ah sepertinya itu terdengar luar biasa.

Tunggu. Yeon, kenapa kau jadi memikirkan berduaan dengan si nerd itu.

“Tentu. Nanti malam, kita harus melihatnya”.

Lu Han juga ikut antusias saat ini. Menonton berdua dengan seorang Park Hae Yeon. Bintang sekolah yang dipuja seluruh lelaki disana. Astaga, itu suatu keajaiban.

Lu Han akan rela meninggalkan buku-buku super tebalnya iti dirumah demi seorang Hae Yeon. Dia lebih mementingkan kebutuhan Hae Yeon. Lelaki itu telah diberi wewenang penuh atas Hae Yeon.

Lelaki itu tersenyum, kemudian menatap wajah Hae Yeon. Gadis itu masih memasang senyuman diwajahnya. Terlihat begitu bahagia, ketika mendengar jawaban lelaki itu.

“Kalau begitu jam 7 aku jemput dirumahmu”.

Hae Yeon makin melebarkan senyumannya, ketika Lu Han berbicara seperti itu. Gadis itu senang, karena Lu Han juga ikut antusias dengan apa yang dia inginkan. Hae Yeon tak menyangka bahwa Lu Han begitu mengertinya. Lelaki itu selalu ada untuknya. Dia selalu ada disamping Hae Yeon tanpa mengharap sesuatu dari gadis itu. Hae Yeon menyukainya.

‘Kau membuatku bahagia, Nerd’.

*****

Hae Yeon mulai menguap. Gadis itu sungguh bosan mendengar penjelasan panjang lebar dari Jung saem. Gadis itu tak pernah menyukai pelajaran fisika yang diterangkan didepan kelas. Gadis itu lebih suka mengalihkan pandangannya kearah lain. Daripada melihat Jung saem menerangkan pelajaran fisika itu.

Hae Yeon mengalihkan pandangannya kearah lain yang membuat perasaannya nyaman. Lu Han. Objek penglihatan gadis itu saat ini.

Hae Yeon menatap Lu Han yang tengah duduk disampingnya. Lelaki itu nampak serius dengan pelajaran yang sedang diterangkan tersebut.

Hae Yeon tak bisa membayangkan, bagaimana lelaki itu bisa fokus dengan pelajaran menyebalkan baginya. Gadis itu tak mengerti bagaimana cara kerja otak Lu Han yang memproses dengan cepat pelajaran itu.

Dengan rumus dan penjelasan berbelit. Astaga, Hae Yeon membenci itu. Tapi tidak dengan matematika. Bagi Hae Yeon, matematika jauh lebih mudah ketimbang dengan fisika. Setidaknya matematika tak memiliki penjelasan yang berbelit dan menyusahkan.

Pada kenyataannya, Hae Yeon lebih suka matematika daripada fisika.

“Hae Yeon?”.

Lu Han melambaikan tangan didepan wajah Hae Yeon. Tapi gadis itu, tak kunjung sadar dari dunianya. Hae Yeon terlalu serius memperhatikan Lu Han, hingga bel tanda istirahat berbunyi pun dia tak tahu.

“Hae Yeon?”

Lelaki itu masih melambaikan tangannya. Tapi sang pemilik wajah, masih terlarut dalam dunianya. Hingga ia lupa akan kenyataan.

Lu Han telah frustasi. Dia tak tahu harus bagaimana. Hingga sebuah ide terlintas dipikirannya.

Lu Han mencubit kedua sisi pipi gadis itu. Hingga sang empu terteriak.

“Aduh, sakit”.

Lu Han hanya menampilkan cengirannya ketika gadis itu telah sadar. Hae Yeon menatap Lu Han tak suka. Karena berani-beraninya lelaki itu membuat pipinya memerah. Dan lelaki itu, hanya menatap tanpa dosa.

“Ayo, kekantin”.

Ajakan itu tak digubris oleh Hae Yeon. Gadis itu masih menatap jengah Lu Han. Lelaki itu tak sadar atau tak tahu, jikalau dirinya ini tengah merajuk.

“Ayo cepat, aku lapar”.

“No”.

“Baiklah, aku pergi sendiri”.

“Ya!”.

Hae Yeon manahan tangan lelaki itu yang ingin beranjak pergi meninggalkannya kekantin. Hae Yeon menampilkan tatapan memelas yang dimilikinya. Berusaha menyadarkan Lu Han, bahwa gadis ini sedang merajuk. Dan Hae Yeon butuh lelaki ini untuk membujuknya.

“Ada apa? Ayo kekantin”.

Lelaki itu tak lelah mengajak Hae Yeon kekantin. Dia terus saja berucap ‘Ayo kekanti’ dengan tampang polos yang dimilikinya. Bahkan lelaki itu merasa tak bersalah telah melakukan aksi mencubit pipi Hae Yeon hingga memerah.

“Kau menyebalkan”.

Hae Yeon mulai nampak berkaca-kaca. Kini Lu Han dibuat bingung oleh gadis itu. Apa yang membuat Hae Yeon seperti itupun dia tak tahu. Jadi dia harus bagaimana sekarang?

“Nerd, kau jahat. Kenapa kau malah seperti itu”.

Lihat. Lihat. apa-apaan ini? Lu Han hanya mengangakan mulutnya tak mengerti. Gadis itu masih berkaca, membuat Lu Han bingung tujuh keliling.

Nampak wajah lelaki itupun, begitu bodoh. Hingga membuat Hae Yeon ingin melemparnya dengan sepatu ketsnya dirumah.

Hae Yeon menghentakkan kakinya kasar, lalu menepuk jidat Lu Han.

“Aku sedang merajuk, tak tahukan kau akan hal itu? Astaga, barusaja aku memujimu. Tapi aku tarik semua itu”.

Hae Yeon menghentikan aksi mata berkaca-kacanya dan menatap Lu Han sedikit kesal.

Sang empu yang ditatap itupun hanya mengulas senyum. Lalu menekan-nekan pipi Hae Yeon dengan telunjuknya.

“Kau memikirkanku, ternyata”.

“Tidak”.

“Kau bahkan memujiku”.

“Tidak”.

“Jangan berbohong”.

“Tidak”.

“Oh, sekarang Hae Yeon pandai berbohong”.

Hae Yeon malu. Dia tadi keceplosan mengatakan hal apa yang membuatnya melamun dan melupakan kenyataan. Gadis itu nampka begitu bodoh dihadapan Lu Han saat ini. Bahkan pipinya telah merona.

Lu Han yang melihatnya hanya bisa tersenyum lebar dan mengecup pipi gadis itu.

CHU~

Ciuman itu tentu saja membuat kedua mata Hae Yeon membelakak. Gadis itu nampak terkejut, sekaligus semakin malu.

Hae Yeon berbalik badan dan mulai berlari menjauhi Lu Han. Sebelum berlari gadis itu berteriak terlebih dahulu.

“Eomma, Lu Han berani menciumku”.

Entah tujuannya kemana pun dia tak peduli. Asal dua tidak melihat Lu Han untuk saat ini.

Lu Han semakin mengulas senyuman mautnya yang untung saja tak terlihat oleh siapapun. Karena didalam kelas, semua penghuni telah pergi. Hanya tinggal dirinya seorang.

“Tunggu aku, Yeon”.

Lu Han juga ikut berlari mengejar gadisnya. Dia tak menyangka bahwa Hae Yeon akan seperti ini padanya. Hae Yeon sedikit jahat karena meninggalkannya sendirian didalam kelas. Tapi Lu Han tak bisa menutupi. Bahwa gadisnya begitu menggemaskan dengan pipi merona seperti itu.

Lu Han harus sering-sering mengerjai gadis itu agar pipinya merona seperti itu. Lagi. Lagi. Dan lagi. Lu Han tak akan bosan mengerjai Hae Yeon, jika hasilnya membuat seluruh kerja otaknya berpengaruh.

Astaga Yeon, kau membawa dampak besar untuk Lu Han.

 

 

 

To Be Continue.

Sorry for typo’s.
untuk ff nya kris – that’s true love, masih dalam proses mengetik.
sekian.

 

 

 

Advertisements

5 thoughts on “[FF Freelance] Falling in Love with a Nerd Boy chapter 1

  1. Awww… keren author ffnya
    😀 oh iya, si Hae Yeon kok mau ya berteman baik sama Lu, kan si Lu di sini nerd sementara dirinya populer kakaaaa. Cieeee yang mau nonton ahahaaa aku curiga kalo Hae Yeon udah naruh rasa ke Lu hihii XD
    dan hey!!! aku cemburu tauk, Lu, kamu main cium-cium Hae Yeon, aihh jinjja XD

    Keep hwaiting author~~ 😉

    Like

  2. Seru thor ceritanya..
    Jarang banget cewek popular mau berdekatan dengan nerd

    Like

  3. Bagus Thor…

    Like

  4. hihihi lucu bngt hae yeonnya.. dah gitu dia gak malu berteman sama seorang nerd yg guateng gitu..

    semangat

    Like

  5. Keren thor😍

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s