Namitsutiti

Dangerous Fantasy [Part 4]

23 Comments


cover-ff-79

Credit poster by popowiii artwork | SHINING VIRUS

Tittle » Dangerous Fantasy

Author » Namitsu Titi

Rate » T, 16+

Genre » Friendship, School-life, and Romance

Cast » Park Jiyeon [T-ARA], Xi Luhan

Support Cast : Oh Sehun, Kim Jongin, Park Chanyeol

Disclaimer » Semua cast milik orang tuanya masing-masing dan Tuhan YME. Popularitas Cast milik agency dan diri nya masing-masing. Tapi, alur cerita milik saya.
.
© 2015 Namitsu Titi
.

A/n : Kemarin yang nanya-nanya,dan jawabannya tidak di jelaskan di FF, ini jawabannya ya 😀

  • Kisah awal dimulai saat kelas 2 SMP-bertepatan dengan keluarnya Jiyeon. Seterusnya-setelah empat tahun pada part 1, kisah berlanjut mulai awal-awal kelas 3 SMA.
  • Mengenai Ayah Luhan, Luhan hanya bisa merasakan kebersamaan dengan sang ayah sampai kelas satu SMA. Di part 1, Ayah Luhan muncul, tapi pada saat Luhan masih SMP, sebelum empat tahun kemudian.
  • Hubungan Jiyeon dan Sehun? Ayolah, mereka hanya berteman dekat. Salahkan saja Sehun yang selalu ingin nempel-nempel dengan Jiyeon.
  • Luhan hanya beberapa kali bertemu Jiyeon, begitu juga saat SMA dikarenakan sebelumnya mereka tidak pernah sekelas. Terlebih lagi, letas kelas mereka memang berjauhan. Meskipun jarang bertemu, Luhan tidak pernah sekalipun melupakan Jiyeon karena … lihat di part ini :v

Baiklah, semoga mengerti dengan penjelasannya ya 😀

~Happy Reading~

 

‘Greppp …’

Luhan menurunkan tangannya dari pundak Jiyeon, kemudian beralih ke belakang tubuh Jiyeon dan mendorong punggung Jiyeon ke arahnya, memeluknya.

Jiyeon melebarkan bola matanya, mendapat perlakuan tiba-tiba Luhan, bahkan ia hampir menahan napasnya.

Anniya, kau terlalu banyak bicara setelah aku menegurmu. Tapi aku senang kau sudah kembali dan terima kasih untuk kekhawatiranmu padaku. Terima kasih sudah mengkhawatirkan keadaanku. Jeongmal gomawo,” gumam Luhan pelan, di atas bahu Jiyeon, menimbulkan sensasi geli untuk Jiyeon

N-ne, Luhan.”

Ruangan ini kembali hening. Luhan dan Jiyeon juga tak berniat menjauhkan tubuhnya satu sama lain. Pelukan Luhan yang nyaman dan hangat, begitu juga sebaliknya.

“Luhan?”

“….”

“Luhan? Apa kau tidur?” Jiyeon sedikit menggoyangkan bahunya.

“Tidak, Jiyi. Aku hanya sedang … memikirkan sesuatu.”

“Mengenai?” tanya Jiyeon setelah terdiam sejenak. Jiyeon baru menyadari kalau Luhan memanggilnya Jiyi sedari tadi, membuatnya tersenyum tipis.

“Hmmm … perasaanku.”


“Aku … sungguh tak mengerti dengan perasaaku. Selalu saja susah tidur saat teringat perasaan ini. Dan aku … tak bisa berpikir jernih ketika berdekatan dengan … dirimu, hingga aku menyimpulkan kalau aku terobsesi padamu, karena saat itu hatiku terasa kosong, hanya menginginkanmu saja. Tapi makin kesini, aku tak tahu kalau keinginanku yang seperti itu semakin kuat, ingin sekali memilikimu-”

“siapapun namja yang mendekatimu, rasanya sungguh tak rela meskipun kalian hanya mengobrol biasa. Terlebih lagi saat kau dekat dengan Sehun. Walaupun sudah meyakinkan hatiku kalau kalian hanya berteman, tapi ternyata … tak pernah mau menerima itu.” Luhan melepaskan pelukannya, kedua tangannya masih memegang pundak Jiyeon, menatap dalam manik hitam Jiyeon. “Jiyeon, perasaanku ini … cinta atau hanya obsesi?”

“L-Lu …,” lirih Jiyeon kaku. Jiyeon balas menatap tatapan dalam Luhan. Jiyeon ingin menjawab pertanyaan Luhan, tapi ia juga bingung akan menjawab apa. Jiyeon masih terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan Luhan tentang perasaan apa yang menjadi kegelisahan Luhan sejak tadi. Sejujurnya Jiyeon sudah merasa was-was ketika Luhan mengatakan ‘perasaanku’. Jiyeon mengira bahwa ‘topik’ yang akan dibicarakan Luhan adalah mantan kekasihnya, tapi ternyata … dirinya. Tak ayal hal tersebut membuat hati Jiyeon menghangat.
Dirinya dan Luhan memiliki perasaan yang sama, hanya saja kejelasan belum terpenuhi.

“Aku mengerti, aku akan menemukan jawabannya sendiri, jadi berhentilah memikirkan jawabanmu.” Luhan tersenyum, sebelah tangannya mengelus pucuk kepala Jiyeon. Luhan tak tega membiarkan pikiran Jiyeon terus mencari, sementara dirinya juga belum mengerti dengan maksud hatinya.
Luhan yakin, ia akan segera menemukan jawabannya, hanya saja waktu yang akan menentukan.

Luhan berdehem, menggeser tubuhnya sedikit menjauh, kemudian tanpa seizin Jiyeon, ia merebahkan kepalanya di paha Jiyeon. Luhan tersenyum lebar, tanpa menurunkan tatapan intensnya. Mau tak mau, Jiyeon tersenyum malu dengan tingkah Luhan. Bahkan Jiyeon sempat mengipas-ngipasi wajahya yang terasa panas. Jujur, ia gugup dipandangi seperti itu oleh Luhan. Astaga.

“Jiyeon?” panggil Luhan lembut, masih belum bisa berhenti tersenyum.

“Hm?” sahut Jiyeon dengan gumaman.

“Apa … kau keberatan kalau aku … menaruh ketertarikan padamu?” tanya Luhan serius, namun tidak menghilangkan senyumannya.

Jiyeon mengerutkan keningnya, tapi tak lama ia menggelengkan kepalanya. Luhan tersenyum lebar melihatnya. “Aku bukan orang jahat, yang membenci seseorang yang menyukaiku. Jadi, kenapa aku harus keberatan?”

“Terima kasih. Aku bahagia mendengarnya,” timpal Luhan. Sekarang Luhan merasa kalau sakitnya sudah tak terasa lagi. Tentu saja karena ia sangat bahagia kini.

“Jiyeon?”

“Apa?”

“Apa aku boleh mengungkapkan sesuatu yang terus membayangiku tentang dirimu?”

“Um. Aku senang jika itu pujian, hehe.”

“Huh? Tentu saja. Kau tahu, aku tak bercanda saat mengatakan kalau aku selalu tak berpikiran jernih ketika berdekatan denganmu. Aku sangat suka bersentuhan denganmu,” katanya blak-blakan, menunjukkan senyum polosnya.

Jiyeon pura-pura mengernyit jijik, kemudian berkata, “Aku benar-benar tak menyangka wajah cute sepertimu ternyata mesum.”

“Haha … aku juga baru tahu, kau bukan orang yang cerewet dan bersuara ceria seperti anak kecil. Nada bicaramu terdengar lebih dewasa daripada diriku.”

Jiyeon tertawa kecil, “Tentu saja. Seseorang akan tahu bagaimana dia jika sudah mengenalnya dekat, seperti kita sekarang.”
.
.
.
.
Luhan berjalan memasuki kelasnya dengan kedua tangannya yang ia masukkan ke dalam kantung celananya. Luhan merasa tak pegal sama sekali meskipun bibirnya terus menyunggingkan senyuman semenjak ia masih di rumah saat akan berangkat sekolah. Mungkin jika orang-orang melihat Luhan sejak kapan dan berapa lama Luhan tersenyum, mereka akan memandang Luhan miring. Bahkan Luhan tidak terlihat bahwa ia baru sembuh dari sakitnya, seolah-olah Luhan baik-baik saja sebelumnya. Tentu Luhan akan terlihat seperti ini-dipenuhi aura kebahagiaan-karena telah terjadi sesuatu padanya dan Jiyeon kemarin sore-berhasil mengungkapkan perasaannya meski menggantung.

Luhan menaruh tasnya di kursi, menggeser kursinya sedikit agar ia bisa mendudukinya karena jarak kaki meja dengan kursinya berdekatan.

Chanyeol, yang numpang duduk di kursi Jongin, sebelah Luhan, menolehkan kepalanya pada Luhan saat ia merasakan seseorang menduduki kursi di sampingnya. “Ah, Luhan, kau sudah sembuh?” sapa Chanyeol, menghentikan pergerakan tangannya mengerjakan tugas IPA yang ia lupakan.

Luhan memperlihatkan senyumnya yang secerah tadi, “Ne, Chanyeol. Aku sudah sehat.” Chanyeol mengangguk, mengerjakan tugasnya lagi.

“Hmmm, Chanyeol, apa kau melihat Jiyeon?” tanya Luhan sembari melihat ke sekeliling, mencari keberadaan Jiyeon.

“Tidak. Mungkin dia belum berangkat,” jawab Chanyeol tanpa menoleh pada Luhan.

“Oh, baiklah. Aku akan mencarinya.” Luhan bangkit dari duduknya, berjalan keluar menjauhi kelasnya.

Mendengar perkataan Luhan, Chanyeol berhenti menulis. Chanyeol melemparkan pandangannya pada Luhan, mengikuti punggung pemuda itu hingga tidak terlihat lagi.

Chanyeol menyenderkan punggungnya ke kursi, ia merasa cukup iri dengan kedekatan Luhan dan Jiyeon. Chanyeol sudah lama bersama dengan Jiyeon, tapi hubungannya tak sedekat ketika Jiyeon bersama Luhan.

Saat kelas satu, Chanyeol sering bertemu dengan Jiyeon-mengingat keduanya berada di club yang sama. Kemudian di tahun kedua pun, Chanyeol dan Jiyeon berada di kelas yang sama, hingga sekarang, tingkat akhir. Sejak itu, Chanyeol selalu berusaha untuk dekat dengan Jiyeon, tapi Jiyeon sendiri terlihat seperti membatasi dirinya.

Ketika awal-awal kelas tiga, tiba-tiba saja Jiyeon bersikap seolah-olah dia ingin menjauh dari Chanyeol. Berdekatan dengan Chanyeol saja seperti sesuatu yang dibenci Jiyeon.

Apakah Jiyeon tak terima jika saat itu Chanyeol menolak pernyataan cintanya?

Chanyeol sepertinya harus membicarakan tentang ini, mengapa Jiyeon selalu ketus padanya.
.
.
.
.
Semenjak Luhan menginjakkan kakinya di depan kelasnya, pandangan matanya tak berhenti mengelilingi sekitarnya. Sementara punggungnya masih bersender di tembok luar kelasnya. Luhan memang sangat tahu, Jiyeon selalu datang lima menit sebelum bel masuk berbunyi, tapi tetap saja, pagi ini terasa berbeda dari sebelumnya-kini menunggu kedatangan Jiyeon secara terang-terangan dan tidak sabaran.

Apa Jiyeon tidak akan berangkat sekolah?’ pikirnya, namun setelahnya ia membuang napas. Kenapa ia bertanya seperti itu? Sudah jelas Jiyeon akan datang. Ayolah Luhan, kau terlalu terburu-buru menyimpulkan. Jelas-jelas kau tahu, kapan Jiyeon akan tiba di sekolah.

Luhan melirik jam tangannya lagi. Tiga menit lagi jam masuk berbunyi. ‘Ck. Jiyeon, di mana-‘

“Luhan!” panggil Jiyeon riang. Jiyeon tanpa sadar tersenyum begitu lebar melihat sosok tampan Luhan yang sudah berdiri di depan kelasnya. Awww …, dia tampan sekali~~
Mendengar suara merdu seseorang yang sangat dinanti dan dirindukannya, Luhan langsung mengangkat kepalanya semangat, menoleh ke arah Jiyeon yang tengah berjalan ke arahnya.

Luhan tersenyum penuh perasaan, “JI-” karena tanpa sengaja padangannya juga tertuju pada seorang pemuda di samping Jiyeon, teriakannya dengan cepat menurun cukup drastis, “-yeon!” begitupula dengan senyumannya.

Luhan, dia tipe lelaki posesif dan ingin memilikinya sendiri terhadap seseorang yang disukainya. Karena itu, kini Luhan tengah berjalan mendekati Jiyeon dan Sehun. Lihatlah, Luhan sudah mulai berani menunjukkan sikap posesifnya. Kenapa? Toh, Jiyeon sudah mengetahui perasaannya, jadi mengapa ia harus menahan apa yang ingin dilakukannya?

Luhan berhenti di hadapan mereka, memperlihatkan senyumnya hanya pada Jiyeon-tanpa melirik Sehun sedikit pun.

 

‘Sret ….’

 

“Eh?!” Jiyeon tersentak kaget meskipun dalam hati bersorak senang.

Sementara Sehun, dia, “Aww … Hyung!” Sehun sungguh merutuki sunbae-nya itu yang begitu tega. Bagaimana tidak, Luhan tanpa permisi, berdiri di antara dirinya dan Jiyeon plus menyenggol keras bahunya hingga ia terhuyung ke belakang.

“Ah, Sehun, mianhe. Aku tak melihatmu. Apa itu terasa sakit?” tanya Luhan dengan wajah tanpa dosanya. Luhan malah terlihat tersenyum atas apa yang baru saja dilakukanya.

“Apa?! Hyung bilang tidak lihat, eoh? Ya Tuhan, bahkan aku lebih tinggi dan tampan dibanding Hyung, tapi Hyung tak melihat aku sebesar ini di samping Jiyeon Nunna? Aish … aish … menyebalkannn~!” gerutu Sehun habis-habisan. Tangannya terus mengusap bahunya yang terasa berdenyut hingga ke tulang. “Nunna~ Luhan Hyung jahat~” adu Sehun, tampangnya sungguh memelas ketika matanya bertubrukan dengan manik hitam Jiyeon yang menatapnya kasihan.

Awalnya Jiyeon memang memandang Sehun iba, tapi perlahan kekehan renyah Jiyeon terdengar. “Sudah, Sehun, maafkan Luhan saja, ya! Haha.” Sehun semakin merengut sebal.

Ya! Nunna dan Luhan Hyung sama saja! Kalian menyebalkan!” Sehun mendengus, berjalan menjauh dari dua orang menyebalkan di depannya-menuju kelasnya yang terhalang beberapa kelas dari kelas Luhan dan Jiyeon.

“Kau jahil sekali, Lu,” tegur Jiyeon setelah Sehun hilang dari pandangan keduanya.

“Biar saja, siapa suruh selalu nempel-nempel padamu,” tukas Luhan membela diri. “Ayo masuk,” ajak Luhan begitu tiba di depan kelasnya. Tangan kirinya masih bertahan merangkul bahu Jiyeon sampai tak ada celah di antara keduanya.

“Tunggu, Lu.” Jiyeon menghentikan langkahnya, menatap Luhan. Sedang Luhan mengerut bingung.

Tanpa melepas tatapannya dari Luhan, Jiyeon mengangkat tangan kirinya, menyentuh tangan Luhan yang bertengger di bahunya posesif. Jiyeon menurunkan tangan Luhan pelan, menggenggam telapak tangan Luhan beberapa detik sebelum melepaskannya. Jiyeon, dia menyeringai senang dalam hati begitu tidak merasakan adanya cincin di jemari Luhan. “Seisi kelas akan heboh jika melihat kita sedekat ini.”

Luhan melenturkan gurat bingungnya, tertawa kecil. “Aku tak keberatan.”

Jiyeon merengut, “Aku setuju dengan Sehun. Kau menyebalkan!” Jiyeon dengan cepat memasuki kelasnya, meninggalkan Luhan yang masih saja berdiri di luar kelas.

Seketika Luhan meradang mendengar Jiyeon menyebut-nyebut nama Sehun, terlebih lagi Jiyeon akhirnya sepihak dengan pemuda pengganggu itu.
.
.
“Luhan?” Jiyeon membalikkan tubuhnya menghadap Luhan, saat ia sudah sampai di tempat duduknya. “Apa ada yang ingin kau katakan?” Jiyeon menatap Luhan heran, lantaran Luhan terus saja mengikutinya hingga ke tempat duduknya. Dilihatnya Luhan menggelengkan kepalanya. Membuat Jiyeon semakin bingung. “Lalu, apa yang sedang kau lakukan?”

Luhan mengangkat sudut bibirnya, “Mengantarmu.”

Jiyeon hampir saja dibuat cengo dengan jawaban Luhan seandainya Jongin tidak menginterupsi dengan ….

Ekhem!!!” Jongin berdehem keras-membuat beberapa siswa menoleh padanya, termasuk Jiyeon dan Luhan-kemudian bersiul-siul menggoda.

Jiyeon menatap Luhan lagi dengan pandangan memprotes, “Kau pikir aku akan pergi ke mana, eoh? Cepat kembali ke kursimu.”

“Tidak mau,” goda Luhan.

“Ya! Sebentar lagi ada guru. Cepat ke mejamu! Atau kau ingin aku menyeretmu ke sana?”

“Tidak perlu. Aku tak akan sampai-sampai di kursiku karena harus mengantarmu ke sini lagi.”

“Ya sudah cepat,” ucap Jiyeon menekan. “Aku tak mengerti, mengapa pagi-pagi kau sudah menyebalkan!” gerutunya.

“Haha … aku juga tak mengerti, kau ketus sekali padaku.”

“Luhan!” sontak saja, teman-teman sekelasnya menoleh padanya, mendengar teriakannya yang cukup keras. Jiyeon memandang mereka malu.

“Baiklah~~” akhirnya Luhan pun pergi diikuti kekehan jahilnya.

Chanyeol melirik Luhan dan Jiyeon iri ketika perkataan Jiyeon menarik perhatian seisi kelas. Kedekatan kedua orang itu begitu terasa. Menghela napas, Chanyeol kembali melanjutkan perbincangan dengan teman-temannya.
.
.
Annyeong, hitam~” sapa Luhan. Luhan mendukukkan butt-nya di samping Jongin.

Hyung, kau berniat menjadi orang menyebalkan, eoh?” protes Jongin kesal. “Kemarin kau sakit apa ‘sih Hyung, sampai-sampai menjadi seperti ini?” tambahnya.

“Haha … kau tahu Jong, aku sudah mengungkapkan perasaanku kepada Jiyeon!”

Jongin berhenti memainkan ponselnya, beralih pada Luhan cepat. “K-kau, serius!” Luhan mengangguk semangat. “Woahh! Berarti sekarang kau tidak hanya akan ‘merasakannya’ dalam ‘mimpi’mu, kan?”

Mendengar kata ‘merasakannya’ dan ‘mimpi’ yang Jongin lontarkan pada Luhan, sebenarnya Jongin tengah menyinggung seorang gadis yang selalu ‘menemani’ Luhan di mimpi-ekhm-basahnya. Gadis yang dimaksud adalah gadis dengan marga Park, Park Jiyeon.

Jiyeon, objek pertama ‘mimpi’ Luhan hingga sekarang. Hanya saja Luhan selalu mengabaikan siapa partner dalam mimpinya di kenyataan. Jika tidak begitu, Luhan selalu hilang konsentrasi. Untungnya, dulu Luhan belum tertarik pada Jiyeon, diperkuat lagi jarang bertemu karena memang kelasnya selalu berbeda. Namun itu semua berubah semenjak tahun ini berada di kelas yang sama-3-B-dan Luhan tertarik sekaligus menginginkan Jiyeon. Bahkan Luhan pernah beberapa kali menghindari Jiyeon jika malamnya baru saja melewati sesuatu yang-kau tahu itu.

Luhan menonjok bahu Jongin cukup keras, “Kenapa dari dulu kau selalu berpikiran mesum, eoh? Lagipula Jiyeon belum benar-benar menjadi kekasihku-”

“-aku sendiri belum mengerti dengan perasaanku.”

Jongin memutar bola matanya malas, “Ayolah Hyung, setiap lelaki pasti mesum. Kau sendiri juga begitu. Wajahmu saja yang menipu. Kau bilang Jiyeon belum menjadi kekasihmu? Tadi kau mengatakan sudah mengungkapkan perasaanmu. Atau kau … digantung?
Kau benar-benar … sudah jelas kau mencintainya.”

“Entahlah Jong, aku sungguh belum bisa memahami perasaanku. Jadi aku tidak berani meminta Jiyeon memberitahukan bagaimana perasaannya terhadapku.” Luhan menghela napas lelah, menyandarkan punggungnya ke kursi.

Luhan memang menyukai dan menginginkan Jiyeon, tapi ia tidak bisa menanyakan jawaban Jiyeon sebelum dirinya yakin akan perasaannya sendiri. Karena ia serius dan tidak ingin menyakiti Jiyeon, itu saja.

Luhan takut, seandainya Jiyeon memiliki rasa untuknya, begitupula dengan dirinya-yang anggaplah bahwa ia mencintai Jiyeon, kemudian berpacaran, tapi semakin lama hubungan itu terjalin, perasaannya mulai goyah. Perasaannya hanya sesaat dan kadar menginginkan Jiyeon semakin surut. Tentu itu akan berakhir menyakiti Jiyeon, karena ia hanya mengobsesikan gadis itu.
.
.
.
.
“Jiyeon~ cepatlah,” panggil Luhan sekali lagi. Sembari menunggu Jiyeon untuk pergi ke kantin bersama, Luhan menyenderkan tubuhnya di tiang pintu. Sedang Jiyeon masih berkutat dengan entah apa itu di tempat duduknya.

“Luhan-ssi?” interupsi seorang guru olahraga. Luhan tersentak dan langsung menoleh pada seorang pria bertubuh atletis di dekatnya. Menyadari pria tersebut merupakan seorang guru, Luhan segera membungkukkan tubuhnya dan memberi salam, “Annyeong, Songsaenim.” Luhan menegapkan tubuhnya lagi, tersenyum ramah pada gurunya, “Ne, Saem.”

Guru itu ikut tersenyum, “Ah, Luhan-ssi, bisakah kau panggilkan Jiyeon?”

Luhan terdiam sejenak sebelum menjawab. Luhan cukup penasaran, mengapa guru olahraganya memanggil Jiyeon.

“Tentu. Tunggu sebentar, Saem.” Setelah menyelesaikan ucapannya, Luhan langsung meghampiri Jiyeon.
.
.
“Jiyeon, Choi Songsaenim memanggilmu,” ucap Luhan begitu sampai di hadapan Jiyeon.

Jiyeon terdiam seperti tengah memikirkan sesuatu. “Baiklah, aku akan menemuinya. Lu, kau tunggu di sini sebentar, ne? Aku yakin kami tak akan lama,” putus Jiyeon. Jiyeon menepuk bahu Luhan beberapa kali sebelum berlalu dari hadapan Luhan.
.
.
~Five minutes later~

“Luhan~~” Jiyeon melongokkan kepalanya ke dalam kelas. Pembicaraannya dengan Guru Choi sudah selesai.

Mendengar panggilan Jiyeon, Luhan seketika mengangkat kepalanya-mengalihkan perhatiannya dari ponsel miliknya yang tengah membuka akun twitter.

“Ayo, ke kantin sekarang~”

Suara Jiyeon terdengar lagi. Luhan mengangguk, lalu berjalan mendekati Jiyeon.
.
.
.
.
“Jiyeon, apa yang kau bicarakan dengan Choi Songsaenim?” tanya Luhan di perjalanan menuju kantin.

Jiyeon menoleh sekilas ke arah Luhan, memandang ke depan lagi. “Hm, hanya masalah renang.”

“Renang?” ulang Luhan terlihat bingung.

Ne. Sesuai kesepakatan, aku akan mengikuti kompetisi renang tingkat kota besar. Sebenarnya kami sudah membicarakan ini sejak kemarin, tapi aku mulai bisa latihan nanti siang jam satu,” jelas Jiyeon. Wajahnya terlihat cerah ketika membicarakan masalah renang. Karena renang adalah hobinya.

Luhan manggut-manggut mengerti, kemudian berbicara lagi, “Jiyeon, bukankah kau sudah tingkat akhir. Seharusnya tidak ada lagi yang namanya kegiatan di luar jam pelajaran sekolah, terutama perlombaan.”

“Seharusnya begitu, tapi sekolah ini belum memiliki perenang lain yang sehebat diriku.” Jiyeon tertawa, ia merasa cukup bangga dengan kenyataan tersebut. “Bahkan hoobae kita pun, belum ada yang mengalahkan diriku,” lanjutnya, semakin berbangga diri. Apa yang dikatakan Jiyeon memang benar adanya.

Luhan tak bisa menahan tangannya untuk mengacak-ngacak rambut Jiyeon akan kepercayan diri Jiyeon yang begitu tinggi. Nyatanya, Luhan juga ikut tersenyum.

Hari ini adalah hari menyenangkan bagi Luhan. Tak heran jika sedikit-sedikit Luhan tersenyum, bahkan sudah dimulai sejak tadi pagi.
.
.
.
.
Luhan melemparkan pandangannya ke seisi kantin, mencari meja yang kosong. Hari ini kantin nampak ramai daripada biasanya. Jadi Luhan harus menemukan meja kosong yang tersisa.

“Ah, Jiyeon, kita ambil tempat di meja sana saja.” Luhan menunjuk sebuah meja yang tengah ditempati Jongin dan Chanyeol. Kebetulan dua kursi di hadapan mereka kosong. Jiyeon mengangguk asal, tanpa melirik terlebih dahulu meja yang dimaksud Luhan. Tatapan matanya masih sibuk dengan ponselnya.

“Luhan, Jiyeon?” sapa Chanyeol, sesaat kedua orang yang dipanggil Chanyeol sudah tiba di mejanya.

“Ah, hai, Yeol,” sahut Luhan akrab.

Sedangkan Jiyeon terdiam, mendengar suara Chanyeol menyapa saraf pendengarannya. Pandangannya masih tertuju pada layar ponselnya, tetapi ia tidak sedang fokus. Jiyeon tersadar saat Luhan meyentuh lengannya untuk duduk di sebelah kursinya. Jiyeon tersentak, lalu bergumam, “Ne.”
.
.
“Huahh …,” Jongin mendesah kekenyangan. “Teman-teman, ayo kambali ke kelas!” pecah Jongin seraya berdiri dari kursinya.

Luhan mengangguk, mengajak Jiyeon untuk ikut berdiri.

“Hmm … Jiyeon?” panggil Chanyeol pada Jiyeon yang baru saja bangkit dari duduknya. Chanyeol meneruskan ucapannya begitu Jiyeon menoleh padanya. “Bisa kita bicara sebentar?”

Jiyeon terdiam, wajahnya nampak datar. Kemudian, “Lu, kau kembalilah ke kelas bersama Jongin. Nanti aku menyusul.”

Mengerti situasi, Luhan mengangguk pelan, meski pikirannya bekerja menghasilkan kesimpulan yang bernama heran.

Sebelumnya, Luhan tidak pernah melihat Chanyeol dan Jiyeon akrab, yang tentu saja, perasaan heran mengerumuni hatinya kala mendengar Chanyeol ingin membuat privasi dengan Jiyeon.
.
.
“Jongin, apa kau mengetahui sesuatu di antara Jiyeon dan Chanyeol?” Luhan bertanya saat keduanya sudah keluar dari area kantin

Jongin menggelengkan kepalanya. “Tidak tahu,” jawab Jongin. “Hyung takut kalau Jiyeon dan Chanyeol telah terjadi sesuatu, eoh? ” Jongin mengatakan sambil melemparkan godaan seperti biasa. Tapi itu tidak membuat Luhan kesal. Raut wajah Luhan malah terlihat serius.

Luhan tidak mengetahui banyak hal tentang kedua orang itu sebelumnya meski kini berteman dekat. Itu karena Luhan baru mengenal Chanyeol dan Jiyeon tahun ini. Luhan hanya tahu bahwa kedua orang tersebut juga pernah berada di kelas yang sama ketika tingkat dua. Dan yang paling mengherankan adalah, mereka sudah bersama selama setahun lebih, tapi mengapa tidak terlihat akrab sama sekali? Selain itu, Luhan memiliki dua teman dekat, yaitu Jongin dan Chanyeol, lalu mengapa Jiyeon bisa akrab dengan Jongin sementara dengan Chanyeol, tidak?
Apa ada sesuatu yang tidak diketahuinya, kah?
.
.
Jiyeon mencoba bersikap tenang, berusaha untuk ramah kepada Chanyeol. Jiyeon merasa, ia juga harus meluruskan sesuatu disini. Jiyeon juga tak mau terus-terusan bersikap buruk kepada pemuda di hadapannya ini. Chanyeol tidak salah, dan dirinya juga harus memperbaiki sikapnya.

“Chanyeol, sepertinya aku mengerti dengan apa yang akan kau katakan, jadi biarkan aku dulu yang berbicara.”

Meskipun awalnya Chanyeol terkejut dengan Jiyeon yang tiba-tiba saja berkata demikian, Chanyeol akhirnya mengangguk menyetujui. Chanyeol pikir, mendengar penjelasan Jiyeon terlebih dahulu, terdengar lebih baik.

“Chanyeol, aku minta maaf untuk sikapku yang tak selalu ramah padamu. Ini karena aku tidak tahu apa yang harus dilakukan agar bisa … melupakanmu. Tapi asal kau tau Chanyeol, aku juga merasa bersalah karena terus mengacuhkanmu, padahal kau tak salah apa-apa. Emm … kau tenang saja Chanyeol, mulai sekarang aku akan memperbaiki sikapku padamu. Aku janji. Lagipula aku sudah bisa melupakanmu. Sekali lagi aku minta maaf, Chanyeol. Aku berharap kau masih mau berteman denganku, seperti Jongin dan … Luhan,” jelas Jiyeon, menghembuskan napasnya lagi.

“Aww~! Apa yang kau lakukan, eoh?!” teriak Jiyeon kesal, tangannya mengusap-ngusap pipinya bekas cubitan Chanyeol. Dan dengan kurang ajarnya, Chanyeol membalas protesannya dengan tertawa jahil. Ugh, setahunya, Chanyeol adalah pemuda baik-baik. Oh, mungkin ini karena Chanyeol sering bergaul dengan Luhan.

Chanyeol menghentikan tawanya, menatap Jiyeon serius. “Ne, Jiyeon, tentu aku masih sangat mau dekat denganmu. Kau tahu, aku sangat bingung dengan sikapmu yang selalu ketus kepadaku. Aku berpikir kalau kau sangat membenciku. Mendengar alasanmu, itu membuatku seperti orang jahat karena telah membuatmu menderita akan perasaanmu-”

“-maaf, dulu aku menolakmu. Aku tahu itu rasanya sangat sakit, terlebih aku adalah … apakah aku harus meneruskannya?” goda Chanyeol disela-sela keseriusannya.

“Tidak perlu. Aku malas mengungkitnya,” cibir Jiyeon

Jiyeon serius dengan ucapannya-sudah melupakan Chanyeol-karena itu Jiyeon bersikap santai saat Chanyeol mengungkit sesuatu yang dulu dibencinya. Bahkan jika Chanyeol ingin menjelaskan panjang lebarnya, itu tidak akan berpengaruh dengan kestabilan hatinya.

“Baiklah, intinya sekarang kita berbaikan!” cetus Chanyeol semangat. Jiyeon mengangguk mantap, mengembangkan senyumnya.

.
.
.
.
Songsaenim, saya mohon izin, tidak dapat mengikuti pelajaran Anda kali ini. Saya harus latihan renang dan sudah ditunggu Choi Songsaenim,” izin Jiyeon di depan gurunya yang tengah mengajar kelas.

Ne, saya mengerti. Bersemangatlah untuk latihanmu.”

Jiyeon mengangguk sembari tersenyum, “Terima kasih Songsaenim. Saya permisi.” Jiyeon mengayunkan kakinya ke luar kelas setelah mendapat anggukan gurunya.

Baru beberapa langkah Jiyeon ke luar dari kelasnya, ia mendengar seseorang menggerutu ke padanya. Menyadari siapa, Jiyeon tersenyum kecil.

“Jiyeon, kau tidak berniat berpamitan kepadaku, eoh?” Luhan melangkah mendekati Jiyeon. Jiyeon tengah berhenti dan membelakanginya.

“Kau, tidak menganggapku?” bisik Luhan di belakang kepala Jiyeon.

Jujur, apa yang baru saja dilakukan Luhan membuat Jiyeon merinding akan suara Luhan. Jiyeon ingin berbalik menghadap Luhan sekaligus mengelak, tapi Jiyeon tidak bisa. Jiyeon merasa berat di tempat. Seperti ada sesuatu yang membuatnya untuk tidak bergerak sedikitpun.
Grep~
Oh, sial, tidak bisakah Luhan tak memeluknya di sini? Ini sekolah! Serius,kau sadar tidak ‘sih Luhan, ini SEKOLAH! umpat Jiyeon dalam hati.

Ya Tuhan, Jiyeon harus bagaimana? ia tidak bisa bergerak sedikitpun untuk melepaskan pelukan Luhan.

Ini … berbahaya untuknya. Berdebar. Jiyeon berdebar. Bagaimana ini? Ia akan benar-benar seperti patung akibat jantungnya berdetak aneh.

“Kenapa tidak berbicara, heum?” bisikan Luhan terasa makin gila untuknya. Dan Jiyeon pasrah saja mendapati perlakuan Luhan yang membuatnya menderita-Luhan semakin mengeratkan pelukannya hingga Jiyeon merasakan kalau punggungnya bertabrakan keras membentur dada Luhan yang … arrhhh! ia bahkan merasakan kebidangan dada Luhan.

Jiyeon memejamkan matanya. Ia menahan segala rasa yang menggemuruh di dadanya. Namun satu hal yang ditakutkan Jiyeon; sentuhan Luhan. Karena Jiyeon akan berakhir terlalu menikmati sentuhan kecil itu. Selalu dan selalu. Membuatnya hampir gelisah jika tidak ada sentuhan ringan yang terjadi di setiap harinya.
Skinship dengan Luhan, seperti sudah menjadi candu bagi Jiyeon.

Ya benar, Jiyeon memang gila, dan itu tak jauh berbeda dengan Luhan sendiri.

.

.

.

.

Jiyeon berlari kecil ke arah Luhan yang baru saja memasuki area kolam renang. Luhan memang sudah mengatakan padanya bahwa Luhan akan menyusulnya, jadi tak heran mengapa sekarang Luhan berada di sini.

“Luhan~~” Jiyeon melambai-lambaikan tangannya ceria, namun Jiyeon langsung merengut melihat Luhan malah membelakanginya setelah melirik sekilas padanya.

“Hei, Lu, kenapa kau malah membelakangiku, huh?” bibirnya mengerucut sebal. Secara refleks melipatkan tangannya di depan dada.

“Luhan, lihat aku~” Jiyeon menggoyang-goyangkan bahu Luhan yang masih betah membelakanginya.

“J-Jiyeon, turunkan tanganmu!” Luhan agak membentak, mencoba mengontrol suara dan napasnya. Luhan menggerakkan sedikit bahunya sebagai sinyal bahwa Jiyeon harus menjauhkan tangannya dari sana dengan s-e-g-e-r-a.

“Huh? Luhan, ada apa denganmu?” Jiyeon terpaksa membalikkan tubuh Luhan menghadapnya. Jiyeon sungguh bingung dan tidak mengerti.

Luhan tersentak, tanpa sadar membentak Jiyeon. “Apa yang kau lakukan!!” Luhan berhenti sejenak, lalu kembali melanjutkan-merasa mulai hilang kendali atas tubuhnya, “Kau ingin menggodaku?!!!” napasnya perlahan memburu.

Jiyeon berdiam kaku di tempatnya. Ia ketakutan. Luhan, dia membentaknya-membuat hatinya berdenyut sakit.

Jiyeon mencoba bersuara, tapi ia tidak bisa mengeluarkan suaranya, terlebih lagi sorot mata Luhan penuh berbagai emosi, salah satunya … hasrat?

“B-ber-berbalik!” perintah Jiyeon susah payah, suaranya terdengar bergetar. Jiyeon menyeret kakinya menjauh dari Luhan untuk berganti.

Bodoh, bodoh, bodoh. Kata yang sangat pas dan sedang dipakai Jiyeon sekarang. Jiyeon mengumpati dirinya yang melupakan bahwa Luhan pernah mengatakan sesuatu yang tidak boleh dilakukan Jiyeon.
.
.
.
.
-Beberapa jam yang lalu, seusai istirahat, sebelum Jiyeon meninggalkan kelas untuk latihan renang.

“Jiyeon, nanti sepulang sekolah aku akan menyusulmu. Apakah tidak masalah?”

“Huahhh … benarkah? U’m! Kau boleh menyusulku, hehe ….”

“Tapi … saat aku menemuimu, kau tidak boleh memakai pakaian renang di hadapanku!” jelas Luhan, menekan di kalimat terakhirnya.

Jiyeon mengangkat sebelah alisnya, “Kenapa? Bukankah itu bukan masalah besar? Bahkan kau sering melihat perempuan di kolam renang saat penilaian dengan kostum lebih sexy dariku, eoh?”

Luhan menghela napasnya, mengubah rautnya menjadi serius. “Dengar, Jiyeon, aku serius. Lakukan apa yang kukatakan. Aku akan sangat marah jika kau melakukannya.”

Luhan segera bersuara lagi melihat Jiyeon akan mengajukan protes kembali, “Jangan katakan ‘mengapa’ lagi. Bukankah kau mengetahui, aku memiliki rasa untukmu? Kau ingin melihatku menderita karena ulahmu? Konsentrasiku akan lama kembali jika sudah seperti itu. Kau mengerti?” tanya Luhan, mendesak Jiyeon bahwa gadis itu benar-benar harus menurutinya-tak ada bantahan sedikitpun.

Ne, Luhan. Aku tak akan melakukannya.” Jiyeon sempat berpikir, apakah akibatnya akan fatal jika Jika ia tidak menuruti keinginan Luhan?
Dia, serius sekali. Pikir Jiyeon.
.
.
“Lu~ aku mohon maafkan aku!” Jiyeon menggenggam erat ujung tas punggung Luhan.

Kini keduanya sudah berada di luar tempat renang. Setelah Jiyeon selesai berganti, Jiyeon langsung menyusul Luhan yang menunggunya di luar.

Jiyeon sudah memanggil Luhan, tapi Luhan mengacuhkannya, tidak ingin melihat ke arahnya sedikitpun.

Jiyeon, sekarang ia sangat menyesalinya, dan telah meminta maaf berkali-kali pada Luhan, namun tak mendapat respons dari pemuda di hadapannya ini.

Apakah ia harus bersimpuh agar Luhan mau memaafkannya?

“Baik. Aku memaafkanmu, dengan syarat kau harus memberitahuku sesuatu-”

“-siapa Chanyeol bagimu?”

Raut putus asa Jiyeon perlahan memudar, beralih pada gurat wajahnya yang cerah, seperti seseorang yang berhasil menemukan sesuatu yang hilang darinya. Baru, baru Jiyeon merasakan senang, tapi perasaan itu perlahan melemah ketika kata ‘siapa Chanyeol bagimu?’ terucap dari mulut dingin Luhan.

‘Aku mencarinya, tapi tak pernah menemukannya. Dia memang berada di sekitarku, namun menganggapnya jauh dari mataku.’ Jiyeon pernah mengatakan sebuah ungkapan yang bermakna sama seperti ini ketika Sehun bertanya, mengapa Jiyeon tidak membicarakan tentang ‘dia’ lagi.

Orang itu, Chanyeol, teman sekelasnya, seorang pemuda yang dicintai Jiyeon dan memutuskan untuk berhenti-ia lelah-sebelum beberapa minggu dekat dengan Luhan.

“D-dia … c-cinta pertamaku, tapi dulu, Lu.”

JLEB!

C-cinta pertama?

Luhan lemas seketika. Rasanya benar-benar, arrgghh … kenapa di sini rasanya menekan sekali? Ia tahu dan dengan jelas mendengar kalau ada kata ‘dulu’ setelah ‘cinta pertamaku’, tetapi mengapa rasa sialan itu semakin bertambah?

Drrrt … drrrtt ….

Jiyeon merogoh ponselnya, tangannya agak gemetar. Seketika Jiyeon berjengit melihat nama ‘Chanyeol’ menelfonnya.
Jiyeon … ragu, apakah ia harus mengangkatnya di saat seperti ini?

H-hallo, Chanyeol?” Jiyeon melirik Luhan perlahan-sedikit takut. Jiyeon berdo’a, semoga ini tak apa untuk Luhan.

“Ah, ne, aku-”

Jiyeon, kau.benar-benar.tak.mengerti.perasaanku? Tidak bisa ‘kah kau membiarkanku sejenak untuk menetralkan sesuatu yang menyakitkan di sini?”

Dingin.

Luhan dingin sekali.
.
.
.
.
TBC

Huahhh … #buang napas lega :v akhirnya setelah tiga bulan berlalu, nih FF update juga ya khakha :v semoga part ini cukup memuaskan untuk kalian yaaaa 😉

Aku ucapkan terima kasih buat yang udah ngingetin aku buat update, yah meskipun baru selesai sekarang 😀 terima kasih buat teman-teman yang udah nyemangatin aku, kalian itu akh pokoknya thanks banget ya 😀

Baiklah, sampai jumpa di part selanjunya 😀

Advertisements

23 thoughts on “Dangerous Fantasy [Part 4]

  1. huaa keren:’D ditunggu part selanjutnya ka, semangat ka bikin part selanjutnya^^

    Like

  2. keren ffnya… Luhan bingung aku jg ikut bingung ma perasaanny luhan… pasti dia cinta ke jiyeon kan ?

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s