Namitsutiti

I’m Sorry Baekhyun [Part 1/2] | Sequel UAS Moment

15 Comments


im-sorry-baekhyun

Cover by SimpleshineArt

Tittle » I’m Sorry Baekhyun

Author » Namitsu Titi

Cast » Park Jiyeon [T-ARA], Byun Baekhyun [EXO], Park Chanyeol [EXO], Nam Woohyun [Infinite], Oh Sehun [EXO]

Genre » Friendship, Little bit Romance, and School-life

Rate » PG-13

Disclaimer » Semua cast milik orang tuanya masing-masing dan Tuhan YME. Popularitas Cast milik agency dan diri nya masing-masing. Tapi, alur cerita milik saya.

© 2015 Namitsu Titi

Sequel UAS  Moment

~Happy Reading~

.

.

.

.

Ada seorang lelaki yang membuat Jiyeon senang. Jiyeon menyukai pertemanannya dengan dia, Byun Baekhyun. Menurutnya, Baekhyun menggemaskan dan lucu. Apalagi tampangnya yang sok keren itu.

Jiyeon mengira bahwa Baekhyun tidak terkenal di kalangan perempuan, tapi nyatanya, Jiyeon tidak tahu bahwa ada banyak gadis yang membicarakan lelaki imut bernama Baekhyun.

Baekhyun adalah teman lelaki pertama Jiyeon yang membuatnya nyaman. Sayangnya, Baekhyun sok jual mahal. Buktinya, jika dengan orang lain dia irit sekali bicara, tapi kalau sudah bertemu dengan sahabat-sahabatnya-Chanyeol, Sehun, dan Kyungsoo-dia sangat heboh dan ceria. Satu kata dari Jiyeon untuk Baekhyun; unik.

 

***

 

Jiyeon melirik Baekhyun di depannya dan segera menyamakan langkahnya dengan Baekhyun. Jiyeon memang selalu greget kalau melihat Baekhyun. Rasanya ingin terus berada di sampingnya.

 

“Baek, aku ingin menuntaskan rasa penasaranku terhadap Woohyun. Rencanya aku ingin mengatakannya sekarang. Menurutmu bagaimana?” tanya Jiyeon, pandangan matanya ia arahkan ke sisi wajah Baekhyun, menunggu tanggapan Baekhyun penuh penasaran. Jiyeon berdehem beberapa kali guna menetralkan perasaannya yang sedikit gugup. Membicarakan mengenai suatu perasaan, siapa yang tak merasakan itu sesaat sebelum bertemu langsung dengan orangnya ‘kan?

 

Baekhyun masih saja memandang jalan-agak menunduk-semenjak Jiyeon menyinggung nama Woohyun. Baekhyun membuka suaranya karena mungkin saja Jiyeon akan berbicara lagi.

 

“Kalau memang itu akan membuatmu lega, bicarakan saja,” ujar Baekhyun tanpa melirik Jiyeon. Emosional hatinya mulai menguar, ia berharap yang terbaik bagi Jiyeon, pendengaran dan hatinya.

Baekhyun mencintai Jiyeon dan membiarkan Jiyeon menemui seseorang yang disukai gadis itu, tentu berpengaruh pada ketenangan hatinya.

 

“Ya, Baekhyun. Terima kasih atas saranmu.” Jiyeon tersenyum pada Baekhyun, namun Baekhyun tak melihatnya. Karena dari tadi Baekhyun terlihat enggan menatap Jiyeon.

 

***

 

Baekhyun memejamkan matanya di atas permukaan wajahnya yang sangat kusut. Baekhyun terlihat seperti orang yang sedang patah hati. Inisiatifnya, aerphone putih terpasang di kedua telinganya, memutar lagu mellow menjadi pilihan Baekhyun sekarang.

Hei, Baekhyun, itu malah akan memperburuk aura hatimu, kau tahu?

 

Jiyeon memandang ke bawah-anak OSIS yang tengah latihan upacara-di dekat tembok pembatas depan kelasnya. Begitu juga dengan Woohyun.

 

“Kau menyukaiku, itu benar?” tanya Woohyun yang kini sudah memandang Jiyeon.

 

“Apa kau tak suka kalau memang yang kau ucapkan itu benar? Jadi itu alasan kau menghindariku?” ucap Jiyeon dengan tegas namun juga terdengar nada kekecewaan. Rasa gugupnya sudah menguap entah ke mana semenjak Jiyeon menyadari alasan Woohyun menghindarinya.

 

Jiyeon menyukai Woohyun sejak lama dan keduanya cukup dekat. Tapi akhir-akhir ini hubungan keduanya merenggang, membuat Jiyeon uring-uringan dan khawatir. Tentu Jiyeon tak pernah ingin mengalami hal seperti ini-tiba-tiba menghindar-dengan Woohyun, orang yang disukainya. Jiyeon ternyata telat menyadari bahwa Woohyun keberatan atas perasaannya.

 

“Jiyeon, kau menyukaiku?” tanya Woohyun lagi, mengabaikan perkataan Jiyeon.

 

Jiyeon meggeram kesal dengan pangalihan Woohyun. “Ya, Woohyun! Tapi itu ‘pernah‘ dan ‘dulu‘,” tekan Jiyeon di kata ‘pernah’ dan ‘dulu’. Dilihatnya Woohyun memandang ke bawah lagi. Cih, mengabaikan.

 

Jiyeon tanpa sengaja menolehkan kepalanya ke arah pintu kelasnya. Baekhyun, dia sudah berdiri di sana-di ambang pintu-menatapnya dalam. Ada sesuatu di diri Jiyeon untuk mendekati Baekhyun. Sorot mata lelaki itu seolah-olah memanggilnya.

 

“Woohyun, maaf kalau perasaanku membebanimu. Aku berharap kita bisa berteman baik lagi.” Jiyeon memperlihatkan senyum tulusnya. “Aku permisi, Woohyun.” Jiyeon membungkukkan tubuhnya di depan Woohyun yang terdiam … kaku.

 

‘Jiyeon, maaf, aku telat mengatakan bahwa aku juga pernah menyukaimu sebelum Baekhyun merebut perhatianmu.’

 

Jiyeon tersenyum lebar ketika pandangan matanya menyatu dengan manik hitam Baekhyun. “Baekhyun, ayo pulang~” ujar Jiyeon ceria, mungkin. Jiyeon meraih tangan Baekhyun dan menariknya menjauh dari sekolah untuk pulang.

 

Baekhyun memandang punggung Jiyeon di depannya, perlahan mengembangkan senyumnya.

Tuhan, masih berpihak padanya. Jiyeon dan Woohyun … yeah, tidak akan bersama. Baekhyun tahu, setelah ini Jiyeon akan berusaha melupakan Woohyun sepenuhnya.

 

***

 

‘Klek ….’

 

 

‘Drrttt … drrrttt ….’

 

 

Bertepatan dengan Jiyeon menutup pintu kamar mandi, ponselnya berdering di atas kasurnya. Lantas, Jiyeon mengayunkan kakinya menuju ranjang besarnya.

 

From : Baek Cute

Jiyeon, kita berangkat sekolah bersama, kau mau?

 

Jiyeon mendudukkan bokongnya di kasur. Jiyeon tersenyum membaca pesan Baekhyun.

 

To : Baek Cute

Ya, Baek. Aku mau. Kau menjemputku?

 

 

‘Drrrtt … drtttt ….’

 

 

From : Baek Cute

Tentu. Tunggu, ya?

 

To : Baek Cute

Oke Baekhyun. Kalau bisa dalam lima menit kau sudah sampai di rumahku. Haha … bercanda, Baek, aku bahkan belum dandan.

 

From : Baek Cute

Aku bahkan sudah ada di depan pintu rumahmu.

 

‘Apa?!’ ucap Jiyeon terkejut. Jangan-jangan Baekhyun sudah ada di depan rumahnya ketika Baekhyun mengirimnya pesan.

 

Astaga, Baekhyun.

 

Oh, parahnya lagi, Jiyeon masih memakai handuk mandi, belum berpakaian.

 

 

***

 

 

Jiyeon memandang Baekhyun cemberut, “Baekhyun, sejak kapan kau sudah berdiri di depan pintu rumahku?” Jiyeon menutup pintu rumah dan menguncinya.

 

Baekhyun memasang pose berfikir, “Eum … sebenarnya saat aku mengirimu pesan, aku sudah berdiri di sini, hehe.” Baekhyun tersenyum canggung.

 

“A-apa?! K-kau sudah selama itu? Ah, maaf Baek, aku membiarkanmu menunggu hampir setengah jam dan-” Jiyeon menepuk kening, “-tadi aku lupa mempersilakanmu masuk! Mianhae, tadi aku tidak bisa berpikir jernih. Kau tahu, aku buru-buru tadi dan … melupakanmu. Mianhae~” Jiyeon memasang wajah bersalahnya. Jiyeon benar-benar merutuki dirinya yang melupakan keberadaan Baekhyun. Tapi mau bagaimana lagi, jika sedang terdesak, Jiyeon selalu melupakan banyak hal.

Baekhyun, kasihan sekali menunggunya selama itu. Andaikan ibunya tidak menginap di rumah neneknya, pasti ibunya sudah mempersilakan Baekhyun masuk. Ah, Jiyeon merasa bersalah sekali.

 

“Hei, sudah, jangan terus memasang wajah seperti itu. Menunggu satu jam pun tak masalah bagiku.” Baekhyun mengusap bahu Jiyeon beberapa kali, “Omong-omong, kenapa penampilanmu berantakan sekali?” canda Baekhyun.

 

“Ah,” Jiyeon tersentak, langsung memeriksa penampilannya. Namun setelahnya Jiyeon mengerutkan kening. Penampilannya rapi, tidak ada yang kusut sedikitpun dengan pakaiannya. Dasinya juga terpasang dengan benar.

 

“Haha … bukan pada pakaianmu. Wajahmu. Kau tidak memakai sesuatu?”

 

“Hah?” Jiyeon tercengang. Baekhyun teliti sekali. Pikirnya. Jiyeon berdehem, “Itu gara-gara kau, Baek. Lagian kalau ingin menjemputku kenapa tidak mengirimku pesan jam lima pagi?” gerutu Jiyeon, “Apa perlu aku memakai make-up sambil jalan?” wajah Jiyeon tiba-tiba menjadi cerah, ia tersenyum bodoh.

 

Baekhyun melirik Jiyeon sekilas, berdecak, kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan Jiyeon. “Tak perlu. Kau sudah cantik,” gumam Baekhyun pelan. Wajah Baekhyun sedikit bersemu ketika mengatakannya.

 

Jiyeon melotot melihat Baekhyun meninggalkannya begitu saja, “Ya! Baekhyun, tunggu! Jangan meninggalkanku!” teriak Jiyeon kesal.

 

Ah, syukurlah, Jiyeon tidak mendengar gumaman Baekhyun.

 

 

***

 

 

Jiyeon mendongakkan kepalanya mencari namanya yang terpajang di papan pengumuman. Hari ini adalah pembagian kelas, jadi tak heran kalau ada banyak siswa yang meninggalkan ruang kelasnya untuk melihat namanya di papan pengumuman yang menginformasikan kelas barunya. Setelah mengetahui di mana kelas barunya, Jiyeon kembali ke kelas dengan kepala menunduk. Jiyeon kehilangan semangatnya, sungguh. Ia dan Baekhyun … beda kelas?

 

“Baek …,” lirih Jiyeon agak serak. Jiyeon membiarkan begitu saja matanya yang mulai berkaca-kaca dilihat Baekhyun. Jiyeon tidak bisa menahan dirinya. Jiyeon sungguh tak ingin berpisah dengan Baekhyun meskipun nantinya kelas mereka bersebelahan. Jiyeon ingin terus bersama Baekhyun. Jiyeon menyukai waktu-waktunya yang dihabiskan bersama dengan Baekhyun. Jiyeon masih belum bisa, ia akan merasa kehilangan. “Baekhyun, kita beda kelas~~~” rengek Jiyeon sambil menarik-narik ujung lengan baju Baekhyun, karena lelaki itu diam saja sedari tadi.

 

“Sudah, tenang saja,” ucap Baekhyun dengan wajah tenang dan datarnya.

 

Jiyeon berhenti menarik-narik baju Baekhyun. Rasanya air matanya benar-benar ingin menetes dengan tanggapan Baekhyun yang biasa saja seakan tidak peduli.

 

Baek … kau sungguh tak mengerti perasaanku. Aku sangat bahagia berteman dekat denganmu dan aku sangat sedih saat akan berjauhan darimu. Tapi kau … apa kau hanya menganggapku sekedar teman sekelasmu?

 

 

***

 

 

~Sepulang sekolah~

 

 

Chanyeol menyenggol lengan Baekhyun saat pandangannya tertuju pada Jiyeon yang berjalan di depannya. Chanyeol merasakan aura suram tengah mengelilingi tubuh Jiyeon, apalagi Jiyeon terus menundukkan kepalanya. Karena itu, Chanyeol akan menanyakannya pada Baekhyun, tapi Chanyeol harus mengurungkan niatnya sejenak ketika melihat Baekhyun terus memandangi Jiyeon.

 

“Baek, apa kau tahu, mengapa Jiyeon terlihat suram seperti itu?” tanya Chanyeol yang sudah tak tahan karena penasaran, “Dan kenapa kau terus memandanginya?” goda Chanyeol.

 

“Ah,” Baekhyun tersentak karena tiba-tiba Chanyeol menyikut lengannya lagi. “M-mungkin karena kelas. Sepertinya dia tidak ingin berpisah kelas denganku,” jawab Baekhyun setengah malu.

 

“Wow!” Chanyeol bersorak gembira sambil bertepuk tangan, “Itu kabar bagus, Baek!” Chanyeol menatap Baekhyun penuh senang, “Ini kemajuan!”

 

Baekhyun mengangkat sudut bibirnya, namun sedetik kemudian ia menghela napas, “Tapi dia tidak menaruh perasaan berlebih, Yeol. Dia hanya menyayangiku sebagai temannya.”

 

Chanyeol menggeleng, seolah tidak menyetujui perkataan Baekhyun, “Setidaknya dia merasakan sedih sedalam itu ketika kalian akan berpisah.”

 

Setelah menyelesaikan ucapannya, Chanyeol langsung menyusul Jiyeon. Chanyeol sudah meminta izin kepada Baekhyun bahwa ia akan menyapa Jiyeon, yang kemudian dibalas anggukan oleh Baekhyun.

 

“Hei?” Chanyeol menyikut lengan Jiyeon, “Kau kenapa?” tanya Chanyeol begitu Jiyeon menoleh padanya. Jiyeon menggeleng. “Aku dengar kau tak ingin pisah kelas dengan Baekhyun?” pertanyaan Chanyeol berhasil membuat Jiyeon menatap lelaki itu.

 

Ne, Chanyeol,” sahut Jiyeon pelan. Nada suaranya terdengar sangat sedih di telinga Chanyeol.

 

“Kau tenang saja. Kalian masih bisa sering bertemu. Kelas kalian bersebelahan.”

 

Ya, Chanyeol, aku tahu. Tapi walaupun bersebelahan, aku yakin kami tak akan seakrab dulu.

 

“Ah, Jiyeon, kau tahu tidak, Baekhyun itu ‘sangat menyayangimu‘ lho~” goda Chanyeol menekan kata ‘sangat menyayangimu’.

 

Jiyeon tersenyum mendengar ucapan Chanyeol, “Tentu saja, aku temannya.”

 

“Bukan sayang yang seperti itu,” elak Chanyeol sambil tertawa. Chanyeol sengaja menyampaikan kalimatnya dengan tertawa agar Jiyeon menganggapnya bercanda.

 

Sayangnya, Jiyeon tak bisa dibohongi. Jiyeon sensitive sekali, ia tak akan membiarkan begitu saja lelaki lain menyukainya jika bukan … Woohyun-ia masih belum sepenuhnya melupakan Woohyun. Ya, Jiyeon akui, dirinya memang-sangat-egois. Tapi Jiyeon juga tidak bisa bersikap biasa-biasa saja. Perlahan senyuman Jiyeon berubah menjadi senyuman canggung. Disisi lain, Jiyeon juga tak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ucapan Chanyeol cukup membuatnya salah tingkah. Sayangnya, keegoisannya dengan cepat menutupi perasaan tersebut.

 

 

***

 

 

Baekhyun memutuskan kontak matanya dengan Jiyeon. Baekhyun merasa sakit di hatinya ketika menangkap sorotan mata Jiyeon yang tidak biasanya. Tak sehangat sebelum keduanya berpisah kelas. Tatapan itu … lebih mengarah ke sorotan tidak suka dan kurang nyaman. Baekhyun mempercepat langkah kakinya memasuki kelasnya, 3-C.

 

Berbeda dengan Baekhyun, Jiyeon memperlambat ayunan kakinya. Jiyeon menyesali tatapan refleksnya. Sungguh, Jiyeon tak berniat sama sekali untuk menunjukkan sorot matanya yang mengundang kesalahpahaman. Jiyeon tidak bisa mengendalikan emosi hatinya yang cukup kacau saat ini.

 

Hampir seminggu, Jiyeon belum mengobrol lagi dengan Baekhyun, mengingat intensitas pertemuannya yang sangat jarang. Bertemu pun secara tak sengaja saat berpapasan di kantin atau koridor kelas, dan hanya sapaan kecil yang terlontar, sebagai tanda bahwa keduanya masih berteman baik.

 

Tapi dengan sikap Jiyeon tadi-yang tidak disengaja, Jiyeon yakin itu akan mempengaruhi kedekatan keduanya. Disela-sela tatapannya tadi, Jiyeon tak habis fikir, mengapa sekelebat bisikan menghampirinya bahwa Baekhyun hari ini …

 

terlihat tampan.

 

Mungkin ini efek dari kerinduannya pada temannya itu.

Jadi, lupakan saja.

 

 

***

 

 

From : Byun

Jiyeon, ada apa dengan ekspresi wajahmu tadi? Aku takut melihatnya. Horror. Haha~

 

Jiyeon tersenyum kecil membaca pesan Baekhyun. Jiyeon pikir, Baekhyun akan beranggapan buruk terhadapnya. Syukurlah.

 

To : Byun

Haha … itu refleks, Baekhyun.

 

Byun, Jiyeon sengaja mengubah nama kontak Baekhyun dengan marganya. Jiyeon masih terpikirkan ucapan Chanyeol waktu itu dan sekarang ia merasa terganggu dengan nama kontak Baekhyun; Baek Cute.

 

Jika dulu Jiyeon selalu semangat membalas pesan Baekhyun, kini Jiyeon merasa sangat malas. Sekali lagi, ini pengaruh dari ucapan Chanyeol.

 

Jiyeon khawatir pertemanannya dengan Baekhyun akan renggang. Jika itu terjadi, Jiyeon sangat merutuki sifatnya yang terlalu sensitive. Pertemanannya akan renggang hanya karena keegoisannya? Benar-benar konyol.

 

Tanpa sadar Jiyeon menoleh ke meja deretan ketiga dekat tembok. Di kelas sebelumnya, tempat duduk Baekhyun sebelah sana. Jiyeon ingat sekali, Baekhyun pernah memakan roti bungkus dengan cara makannya yang sok anggun dan kaki kanan yang ditumpangkan ke kaki kiri. Di sebelah pojok kanan sana, dulu Baekhyun bermain kartu dengan Sehun, Kyungsoo, dan Chanyeol. Bukan kartu yang ada diperjudian, itu hanya kartu biasa yang biasanya dimainkan anak kecil-Sehun yang membawanya. Kemudian Jiyeon ikut bergabung dengan mereka. Jiyeon tidak ikut bermain, ia hanya menontonnya.

 

Tiba-tiba saja Sehun mengatakan, “Jiyeon, hari ini ulang tahun mu?” Jiyeon tersenyum dan mengangguk malu. Tak lama, Sehun menyodorkan tangannya pada Jiyeon, “Selamat ulang tahun, Jiyeon.” Jiyeon mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Selang beberapa detik, pandangan Jiyeon tertuju pada Baekhyun yang tengah tersenyum padanya sambil mengocok kartu.

 

“Jiyeon, selamat ulang tahun, ne? Maaf, aku tidak memberimu hadiah.”

 

Jiyeon tersenyum lebar, kemudian mengatakan terima kasih dengan suara agak bergetar, “Terima kasih, Baek. Ne, tidak apa-apa.”

Jiyeon sangat senang karena teman yang begitu disayanginya mengucapkan selamat padanya-ulang tahun yang ke-17.

 

Ah, Jiyeon sangat merindukan masa-masa itu-sewaktu kelas dua-dan juga Baekhyun.

 

 

***

 

 

“Baek!” panggil Jiyeon ketika pandangannya tak sengaja menangkap tubuh Baekhyun yang tengah berjalan keluar dari kantin bersama Chanyeol.

 

Baekhyun menoleh dan menggumamkan kata, “Apa?”

.

.

.

.

TBC

 

Huahh … gimana sequel-nya? Aku harap kalian suka ya 😀 dan maaf kalo alurnya kecepatan hehe, nanti kedepannya aku perbaiki lagi 😀

Ngomong-ngomong, mau masih lanjut gak??? hehe 😀 oya, mianhae, FF yang lain belum aku lanjut, tapi nanti pasti aku lanjut semua, termasuk yang coming soon 😀 oya, 13 April aku mau UN, minta doa-nya ya 😀

Gomawo udah nyempetin baca ini, dan makasih yang udah mau meninggalkan komentarnya, komentar kalian membuatku semangat, serius XDBYE 😀

Advertisements

15 thoughts on “I’m Sorry Baekhyun [Part 1/2] | Sequel UAS Moment

  1. pure baek 😦 lanjutannya mana nih? 😦

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s