Namitsutiti

Suzy The Vice President [Chapter 2]

10 Comments


suzyythevicepresident

Poster by -reenepott @ Art Fantasy

Tittle » Suzy The Vice President

Author » Namitsu Titi

Cast » Bae Suzy [Miss A], Kim Myungsoo [Infinite]

Genre » School-life & Romance

Rate » T

Disclaimer » Semua cast milik orang tuanya masing-masing dan Tuhan YME. Popularitas Cast milik agency dan diri nya masing-masing. Tapi, alur cerita milik saya.

© 2015 Namitsu Titi

.

~Happy Reading~

.

.

.

.

.

Suzy merenggangkan otot-otot jari tangannya yang lumayan pegal. Sepertinya virus kepegalan (?) Myungsoo ikut menyebar ke tangannya. Secara refleks, Suzy menggerakkan pandangannya ke arah jam yang menempel di dinding, dekat Televisi berukuran 32 inch. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 21:05. Pantas saja, Suzy sudah merasakan hawa kengantukan. Jam tidurnya pukul sepuluh malam memang, tapi mengingat seharian ini menghabiskan begitu banyak tenaga, rasa kantuk mulai menguasainya.

Hahh… Suzy tidak bisa memenuhi keinginan tubuh lelahnya kini. Suzy harus menyelesaikan pekerjaannya-mengoreksi proposal yang dibuatnya, untuk kegiatan sekolah yang akan datang-lebih dulu sebelum berangkat menuju alam mimpinya.

Suzy menengokkan kepalanya ke arah wajah Myungsoo lagi. Pemuda itu masih betah di alam bawah sadarnya ternyata.
Suzy terkikik dalam hati saat menemukan raut wajah Myungsoo yang berubah-ubah dan terlihat menggemaskan di matanya. Yang terkadang merengut dengan bibir mengerucut-seperti yeoja, aniya?-kedua alisnya saling bertaut tapi kemudian tersenyum aneh. Dan Suzy merutuki raut wajah Myungsoo yang sudah melunturkan image cool-nya.

Myungsoo dewasa sangat jauh berbeda dengan Myungsoo kecil.
Eitss… bukan dalam artian umur maupun fisik yang memunculkan kata ‘berbeda’, tapi tingkah lakunya yang berubah drastis.
Seingat Suzy, saat Myungsoo masih kecil, pemuda itu memiliki pribadi yang kalem, tidak seperti sekarang. Tingkahnya benar-benar menyulut kekesalan Suzy.

Suzy pun tak habis pikir, mengapa Myungsoo bisa menjadi pemuda yang amat narsis seperti itu. Apalagi dengan kebiasaan Myungsoo yang selalu menggodanya. Hoekkk…. rasanya Suzy ingin muntah saking menjijikan dan menyebalkannya.

Suzy menggerakkan tangannya untuk menyentuh bahu polos Myungsoo, berniat membangunkan pemuda tampan itu dengan sedikit ragu.

Ayolah, meskipun Suzy tidak menaruh rasa pada Myungsoo, tapi ia juga gadis biasa, yang masih termasuk dalam jajaran gadis-gadis remaja. Dihadapkan dengan pria yang tengah bertelanjang dada di depanmu, apakah akan bereaksi biasa-biasa saja?

Ckck. Memang kalian pikir, Suzy memarahi Myungsoo karena melepas bajunya, dikarenakan membuat Suzy kesal?

Oh, itu BIG NO sekali!

Sama seperti remaja gadis lainnya, malu! Tapi, mengingat Suzy lebih banyak menujukkan tampang galaknya pada Myungsoo, Suzy hanya bisa merona dalam hati.

Eeehhh…?!!!

“Myung….” Suzy menggoyang-goyangkan bahu Myungsoo lumayan keras. Asal tahu saja, Myungsoo memiliki kebiasaan buruk saat tidur. Seperti tubuh tanpa nyawa. Meskipun meneriakinya dengan toa sekalipun, suara yang dihasilkan tidak akan menyangkut di saluran pendengarannya. Seperti angin yang berlalu. Well, mungkin angin lebih peka daripada fungsi pendengaran Myungsoo. Angin bisa dirasakan kehadirannya, sementara pendengaran Myungsoo? Apakah masih berfungsi?

Suzy menambahkan tingkat penggoyangannya (?) dirasa Myungsoo belum menunjukkan tanda-tanda orang yang akan terbangun dari tidurnya.

Eummm… semakin lama jari lentiknya menyentuh bahu Myungsoo, membuat Suzy merasakan gejolak berdebar di dadanya. Bola matanya mulai bergerak gelisah.

Aishh…! Kalian itu suka sekali berpikiran terlalu jauh, ya? Dengarkan baik-baik, okay? Suzy berdebar bukan karena merasakan bumbu-bumbu cinta mulai melumuri hatinya.

Bukannn… i-itu… eummm… karena… ingat! Suzy sama seperti remaja lainnya. Eum, yeah, begitulah.
Suzy takut fantasy liarnya mulai menjalari pikiran polosnya.

Ya Tuhan, Suzy sendiri juga tak menyangka, kenapa image cool-nya diam-diam bisa memikirkan hal itu. Suzy merutuki Myungsoo lagi yang sering menggodanya dengan otak yang sudah terkontaminasi itu. Barangkali pikiran yang berjenis ‘virus menjijikan’ itu berasal dari perlakuan pikiran kotor Myungsoo padanya.

“Myung… Myungsoo…!” Suzy menepuk keras bahu Myungsoo. Rasa kesal mulai mengumpul di dadanya. Kedua alisnya bertaut, menandakan betapa kesalnya ia, dan sorot matanya menatap emosi pada pemuda bersurai hitam itu.

Jika Myungsoo masih belum membuka matanya dan segala cara halus Suzy tidak membuahkan hasil, Suzy berjanji akan menggulingkan kasar tubuh Myungsoo dari sofa, kemudian mengguyurnya dengan air super dingin. Oh, atau Suzy panggilkan ambulan saja? Bukankah itu akan meringankannya dan tidak akan menguras tenaganya?

Hmm… itu terdengar lebih indah, bukan?

Suzy melipat kedua tangannya di depan dada. Aura kekesalan semakin menguat. Suzy frustasi dengan kebiasaan tidur Myungsoo.
Suzy merasa kasihan dengan nasib istri Myungsoo nanti, yang memiliki suami The Ultimate King Of Sleeping.

Bibir Suzy semakin mengerucut. Terlihat imut. Untunglah Myungsoo belum terbangun. Entah apa yang akan terjadi jika Myungsoo melihat Suzy yang tengah berimut seperti itu, yang benar-benar Out Of Character.

Suzy melirik Myungsoo lagi dengan aura jengkel. Beberapa detik kemudian….

Tunggu! Tiba-tiba saja ide menarik namun menjijikan sekaligus menyebalkan, hinggap di otak encernya. Terkesan absurd memang, tapi kemungkinan keberhasilannya bisa terjamin.

Hahhh… baiklah.

Perlahan, Suzy mulai mencondongkan tubuhnya ke arah Myungsoo. Wajahnya ia arahkan mendekati tengk-telinga Myungsoo maksudnya. Arrhh… ini benar-benar gila!
Jika saja udara malam ini tidak begitu dingin, mungkin Suzy akan membiarkan Myungsoo tidur di sofa dalam keadaan setengah telanjang. Tapi, hawa udara malam ini tidak mendukungnya. Myungsoo bisa sakit jika terus dibiarkan seperti ini. Tentu saja, itu akan semakin merepotkannya.

“Myungg… Myungsoo, bangun~” bisik Suzy halus di belakang telinga Myungsoo. Tapi, Myungsoo belum menunjukkan tanda-tanda.

“Myunggg~” Ups, Suzy keceplosan dengan nada suaranya yang terkesan sangat manja. Suzy harap-harap cemas. Semoga Myungsoo tidak menangkap nada suara menyebalkannya.

Bola mata hitam pekat Suzy berkedip-kedip saat melihat bahu Myungsoo bergerak sedikit. Suzy masih kepikiran dengan suaranya dan jika dihubungkan dengan reaksi Myungsoo, berarti….

“Eunghh…” Suzy langsung melebarkan bola matanya begitu mendengar lenguhan Myungsoo yang terkesan se-sexy?

‘Huwaaa… aku mulai gilaaa,’ pekik Suzy dalam hati.

Aish… kemana sifat cool-mu, Bae Suzy?

Suzy dengan cepat menegapkan tubuhnya lagi. Suzy menatap Myungsoo sedikit gugup, yang tengah menggeliat tak nyaman dalam tidurnya.
Cara seperti ini memang berhasil, tapi Suzy merutuki kebodohannya yang terlalu berlebihan dalam melakukannya. Ugh, lagian Myungsoo pervert sekali. Myungsoo hanya akan bangun jika Suzy membangunkannya dengan cara yang seperti itu.

Myugsoo terdiam sejenak sembari mempersiapkan kelopak matanya untuk terbuka. Myungsoo sangat menikmati tidurnya saat ini, meskipun sebentar. Terlebih lagi, ia dibangunkan dengan cara menakjubkan seperti itu. Wow, rasanya Myungsoo ingin melompat-lompat saking bahagianya. Ck, kapan lagi ia dibangunkan oleh seorang gadis yang sering galak padanya, dengan suara lembutnya. Apalagi saat Suzy mengeluarkan suara manja untuk membangunkannya.

‘Myunggg~’

Ya Tuhan, betapa inginnya ia memeluk Suzy seerat mungkin saking gemasnya. Hehe.

Myungsoo langsung mendudukkan tubuhnya ketika rasa kantuknya sedikit menghilang. Myungsoo mengacak rambutnya sekilas, kemudian menatap Suzy dengan bibir yang tersenyum lembut hingga ke matanya.

“Pakai dan pergilah ke kamarmu,” ujar Suzy sambil menyodorkan kaus hitamnya.

Myungsoo sedikit mengernyit heran. Myungsoo melirik kaus yang ada di tangan Suzy, kemudian melirik tubuhnya.

Ah, bahkan Myungsoo lupa bahwa ia masih tanpa atasan. Myungsoo lebih memilih menikmati pemandangan langka di hadapannya daripada mengambil dan memakai kausnya. Tanpa memakai atasan pun, Myungsoo sudah merasa hangat dengan sikap Suzy malam ini.

Suzy-NYA, jauh terlihat lebih manis daripada permen lollipop atau permen kapas yang pernah dimakannya saat ia masih kecil. Apalagi, Myungsoo pernah memakan permen kapas bersama Suzy ketika keduanya berusia lima tahun. Ugh, semakin manis saja.

“Akh!” Myungsoo mengerang tertahan kala Suzy mencubit lengan kirinya. Tidak terlalu sakit sebenarnya, Myungsoo hanya terkejut. Myungsoo sedang asyik-asyiknya mengenang masa kecilnya, tapi Suzy dengan seenaknya mengganggunya. Apalagi dengan mencubitnya. Coba saja kalau dengan mengelusnya. Pasti dengan bahagia, Myungsoo akan menghentikan mengenang ria-nya.

“Cepat ambil! Tanganku pegal!” Suzy menyodorkan paksa kaus Myungsoo di depan wajah pemuda tampan itu. Tangannya sudah pegal karena terlalu lama menyodorkan kaus Myungsoo. Apalagi Myungsoo menatapnya seperti tengah memikirkan sesuatu. Dan lagi, Suzy tak bisa terlalu lama menatap Myungsoo dengan bagian atasnya yang polos.

Suzy merinding melihat pahatan tubuh bagian depan Myungsoo yang begitu menantang keremajaannya. Mungkin jika fans Myungsoo melihat betapa bidangnya dada Myungsoo, ditambah lagi dengan otot perutnya, Suzy yakin, mereka akan langsung menerjang Myungsoo bagaikan Harimau yang sedang kelaparan.

Myungsoo langsung tersentak kaget ketika Suzy bernada membentak padanya. Padahal, baru lima menit Myungsoo menikmati pemandangan indah itu, tapi sekarang ia harus dihadapkan lagi dengan sifat asli Suzy.

‘Labil sekali,’ gerutu Myungsoo dalam hati.

Myungsoo segera mengambil kausnya dengan wajah cemberut layaknya anak kecil. Persis seperti saat ia masih kanak-kanak, ketika tidak dibelikan mobil-mobilan berwarna hitam oleh ibunya, karena saat itu Myungsoo sudah mengoleksi banyak mobil-mobilan dengan warna serupa.
.
.
.
.
Myungsoo menutup pintu kamarnya, kemudian berjalan menuju ruang makan Apartemen Suzy. Tangan kirinya sesekali mengelus bokongnya yang terasa sakit. Gila saja, Suzy membangunkannya dengan menendang bokong sexy-nya hingga terjatuh dari atas ranjangnya. Suzy menendangnya dengan tak kira-kira, layaknya menendang bola ke dalam gawang. Ugh, kenapa sih, tidak dibangunkan dengan cara lembut seperti tadi malam? Gerutunya.

Myungsoo merinding dengan dengan nasib paginya yang harus merasakan kemesraan bokongnya dengan lantai dingin nan keras itu, jika mereka-Suzy dan Myungsoo-menikah nanti.

Eh? Tunggu… menikah?! Hehe. Myungsoo tersenyum mesem-mesem saat otaknya tersangkut dengan kata pernikahan.

Ckck, padahal umurnya masih 17 tahun tapi sudah memikirkan pernikahan? Astaga.

“Sepertinya aku memang harus menelpon rumah sakit jiwa,” ucap Suzy sarkastik. Suzy melirik Myungsoo dengan tatapan sinis ketika matanya menangkap pemuda tinggi dengan tubuh proposional itu.

Suzy menata dua piring yang dipenuhi nasi goreng yang baru selesai dibuatnya di atas meja. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk Myungsoo. Kemudian kembali lagi ke dapur untuk mengambil gelas, mengabaikan Myungsoo yang tengah menggerutu di belakangnya.

“Kau tega sekali, Zy. Kau tahu, makhluk tampan sepertiku terlalu sayang untuk ditaruh di tempat orang-orang kelewat waras seperti itu,” gerutu Myungsoo dengan wajah merengut. Ia tak terima jika aura ketampanannya terkontaminasi dengan aura-aura tidak jelas di tempat mengerikan itu.
Ck, jangankan berada di tempat seperti itu, berdekatan dengan si Woohyun sialan saja, ia tak sudi.

Niat awalnya, Myungsoo akan langsung duduk manis di kursi ruang makan, menunggu Suzy keluar dari dapur, tapi tidak jadi saat matanya lebih dulu tertuju pada sesuatu yang membuatnya mendidih. Dengan tak sabaran, Myungsoo segera berjalan menuju almari kaca yang berada di ruang makan. Myungsoo menggeser pintu kaca bagian atas, kemudian dengan kasar mengambil sebuah foto yang berjejeran dengan foto miliknya. Mata elangnya berkilat tajam menatap foto Woohyun yang ada di tangannya. Kenapa foto Woohyun ada dimana-mana?! Geram Myungsoo.

Apalagi ini, foto Woohyun disejajarkan dengan foto miliknya?

Shit!

Myungsoo kembali meletakkan foto Woohyun ketika mendengar suara langkah kaki Suzy.

“Aku pikir kau akan memasak makanan yang enak. Ternyata hanya nasi goreng,” komentar Myungsoo setelah mendudukkan bokongnya di kursi seberang Suzy.

“Kalau tidak mau ya sudah tidak perlu dimakan,” sungut Suzy, ikut mendudukkan bokongnya.

“Eh? Bukan begitu. Hanya heran saja. Kemarin kau belanja banyak bahan makanan.” Myungsoo mengambil sendok di samping piringnya, kemudian menyendok nasi goreng yang terlihat lezat itu dan dimasukkannya ke dalam mulutnya.

“Aku malas,” sahut Suzy setelah menelan sesendok nasi gorengnya.

Myungsoo memasukkan tangannya ke dalam saku celana untuk mengambil ponselnya yang bergetar.

Hallo, Eomma,” sapa Myungsoo begitu ia menekan tombol ‘answer‘ di layar ponselnya.

[Ne. Kau sudah bangun, Myung?] tanya Ibu Myungsoo dengan nada sedikit heran. Biasanya jam segini, pukul 05:50, Myungsoo belum terbangun.

Ne, Eomma. Suzy yang membangunkanku. Pagi ini kami ada tugas kedisplinan,” jelas Myungsoo. Ia sedikit melirik Suzy yang tengah mengunyah makanannya.

[Hm. Myung, setelah pulang sekolah, ajak Suzy ke rumah kita.]

Ne, Eomma.”

[Kau sudah sarapan, Myung?]

“Hn. Ini, aku sedang sarapan bersama Suzy.”

[Hmm, kalau begitu, lanjutkan sarapanmu.]

Ne.”

Myungsoo memasukkan kembali ponselnya setelah mendengar nada sambungan yang terputus dari ibunya.

“Zy, Eomma menyuruhku untuk membawamu ke rumah sepulang sekolah.”

Suzy melirik ke arah Myungsoo. Mulutnya masih mengunyah makanannya. Lalu Suzy mengangguk mengiyakan.

“Biar aku yang mencucinya,” ujar Myungsoo ketika keduanya telah usai dengan sarapannya. Myungsoo bangkit dari duduknya kemudian mengambil piring Suzy beserta gelasnya. Lalu membawanya menuju dapur untuk dicuci.

Suzy menatap punggung Myungsoo heran. Hanya kata ‘dia kenapa?’ yang kini bersarang di kepalanya. Biasanya Myungsoo paling malas jika disuruh mencuci piring yang dipakainya. Selain itu, jika sudah berada di ruang makan, Myungsoo selalu membuatnya jengkel, dengan cara menggodanya atau melakukan hal lainnya yang membuatnya kesal. Jika diperhatikan, pagi ini Myungsoo terlihat kalem.

Apa Myungsoo marah padanya karena tadi pagi ia membangunkan Myungsoo
dengan cara menendangnya?

“Kenapa masih di situ? Cepat ambil tasmu.”

Nah ‘kan, nada bicaranya saja berbeda. Terkesan lembut?

Suzy mendongak menatap Myungsoo saat pemuda itu membuyarkan penerkaannya.
.
.
.
.
Myungsoo memberhentikan motornya di parkiran sekolah. Meskipun masih pagi, tapi parkiran sudah lumayan banyak diisi beberapa kendaraan. Mungkin karena tugas kedisplinan pagi ini ditangani langsung oleh Suzy dan Myungsoo. Suzy menekan pundak Myungsoo sebagai tumpuan tangannya. Kemudian melepas helm berwarna putihnya dan diserahkannya pada Myungsoo.

Myungsoo menerimanya, lalu turun dari motornya.
Tanpa ada celotehan, usilan dan godaan, Myungsoo berlalu saja dari hadapan Suzy. Sekali lagi, pagi ini Myungsoo terihat kalem.

Dan Suzy? Gadis itu memandang heran lagi, sampai-sampai ia menendang kecil kaki Myungsoo.

Tapi lihatlah reaksi Myungsoo. Pemuda itu hanya terlonjak kaget dan memasang tampang cool-nya kembali. Kemudian melangkahkan kaki panjangnya lagi dalam diam.

Yeah, Myungsoo hanya menganggap tendangan Suzy sebagai semut kecil yang baru saja menggigitnya, karena saking terpesonanya si semut tersebut pada kakinya.

Hei Suzy, kenapa kau terlihat gusar begitu saat Myungsoo mengabaikanmu?

Omo?!!

Merasa belum puas, Suzy segera menyeimbangkan langkahnya dengan Myungsoo. Dengan tiba-tiba, Suzy mencubit lengan kanan Myungsoo lumayan keras. Setelahnya, Suzy terdiam, menunggu reaksi Myungsoo. Biasanya jika sudah begini, Myungsoo akan membalasnya. Tapi ternyata, Myungsoo hanya mengusap beberapa kali bekas cubitannya dalam keadaan suasana wajah tenang. Tidak ada gurat kekesalan di sana.

Suzy cemberut pada akhirnya. Lagipula, kenapa tingkahnya jadi Out Of Character begini? Kemana Suzy yang galak itu? Kemana sikap Suzy yang tak pernah menjahili orang lain lebih dulu?

Ah ya, bukankah sejak tadi malam sikapnya juga aneh? Eum, semenjak membahas tentang penampilan Myungsoo yang tengah… bertelanjang dada?

Astaga, sekarang ada apa denganmu, Bae Suzy?

Oke, mari kita lupakan perubahan sikap kedua orang itu yang terlihat sangat aneh, karena nyatanya, kini sepertinya mereka sudah kembali pada sifat asli mereka. Mungkin kita harus berterimakasih pada gadis-gadis kecentilan yang tengah merusuh tidak jelas di luar pintu gerbang sekolah. Berkat mereka, Myungsoo kembali menjadi namja narsis dengan senyuman bodoh yang bertengger di bibirnya, dan Suzy kembali memasang image cool dengan berjalan angkuh mendekati gadis-gadis berisik di sana, yang merupakan FANS dari namja ternarsis bernama KIM MYUNGSOO.

Kyaaa… itu Myungsoo Oppa datang! Mana bedakku?!” bisik salah satu gadis yang menyerupai teriakan itu, menggeledah tasnya yang lebih banyak diisi peralatan make up daripada peralatan sekolah.

Aish! Lipstikku mana?! Yah! Itu Lipstikku!”

Yak! Jangan menyenggolku! Nanti tatanan rambutku jadi berantakan!”

Kira-kira begitulah bisikan-bisikan keras yang selalu menjadi penyambutan dari sang fans TERCINTA untuk sang Idol bernama Kim Myungsoo, yang sebagian besar fans berasal dari tingkat satu.

Sebenarnya Suzy merasakan sakit di telinganya kala mendengar suara fans Myungsoo. Tapi dengan baik hati Suzy membiarkan mereka. Toh, kalau Myungsoo sudah berada di hadapan mereka, gadis-gadis labil itu akan langsung serempak terdiam.

Seperti saat ini, Myungsoo dan Suzy sudah berada di depan fans Myungsoo. Dan gadis-gadis itu sudah tak seribut tadi. Memasang wajah sok kalem dan tersenyum semanis mungkin pada Myungsoo yang kini mereka perlihatkan.
Menyebabkan kilatan menyilaukan di mata Suzy. Sementara Myungsoo malah tersenyum senang menanggapi sapaan fans-nya. Suzy jadi berpikir, mungkin Myungsoo akan jauh lebih baik jika Myungsoo bersikap kalem seperti moment sebelum ini.

Kyaaa! Aku lupa memakai pakaian dalam~” jerit seorang gadis yang berdiri di belakang kerumunan para fans Myungsoo. Posisi gadis itu membelakangi.

Pekikan frontal gadis tersebut, yang entah datang darimana dan kapan, sukses menghentikan aksi para fans Myungsoo yang tengah berkagum-kagum ria, menghentikan si narsis Myungsoo yang tengah tersenyum dengan lebarnya-mengalahkan lebarnya lapangan basket (?) dan menghentikan aksi Suzy yang tengah asyik menceramahi beberapa siswa yang masih saja tidak disiplin dalam berpakaian.

Semuanya terdiam. Hening. Dan suara gagak hitam peliharaan KMS High School tiba-tiba berkicau di pagi hari ini. Yang entah suatu respons positif-dengan artian, gagak tersebut menyahuti gadis tak tahu malu tadi-atau respons negatif-dengan artian….

Serempak, siswa-siswi yang yang ada di sekitar gadis itu menoleh ke arah gadis berambut hitam panjang bergelombang yang masih setia dalam posisi awal, dengan ekspresi wajah yang errrr… sulit ditebak. Namun berbeda untuk fans Myungsoo. Mereka, “Grrrr…,”-mendesis ganas layaknya hewan buas yang siap menerkam mangsa yang begitu menggiurkan.

…. kematian.

Ayolah, jelas sekali kalau fans Myungsoo merespons seperti itu. Bukankah gadis tak tahu malu itu seolah-olah sedang menggoda sang idol? Ckck.

Merasa ada aura hitam, gadis itu dengan cepat membalikkan tubuhnya.
Kekehan dengan cengiran lebar yang menjadi ciri khasnya, tersebar ragu di wajah cantiknya.

“Tu-tunggu! Jangan menyerangku. Aku hanya bercanda. Hehe.” Gadis itu menyengir lagi. Kini ia tersenyum lepas karena fans Myungsoo tidak menampilkan ekspresi menyeramkan, melainkan heran.

‘Siswi baru, kah?’ gumam mereka dalam hati. Merasa sedikit iri juga karena gadis itu memiliki wajah cantik alami.

Jinri?!” pekik Myungsoo dan Suzy bersamaan ketika mengetahui siapa gadis tersebut. Raut pucat Myungsoo dan seringaian Suzy mewarnai pekikannya.

Eoh?” Jinri-gadis frontal itu-langsung mengalihkan pandangannya pada Myungsoo dan Suzy. Matanya seketika berbinar-binar kala bertubrukan dengan mata Myungsoo.

Segera saja, Jinri berlari dengan semangatnya menuju Myungsoo, mengabaikan fans Myungsoo dan siswa-siswa di depan Suzy yang menatapnya bingung, dan menghiraukan wajah Myungsoo yang semakin pucat.

Oppa~~~”

‘Bruk!’

Jinri memeluk erat Myungsoo yang awalnya sudah mundur dua langkah untuk melarikan diri.

Oppa~” gumam Jinri manja. Kedua tangannya melingkar erat di pinggang Myungsoo.

“Ekhem…,” Suzy berdehem, membuat perhatian semua orang yang berdiri di sana, menoleh padanya.

“Kalian-” Suzy menunjuk sekelompok fans Myungsoo, “Dan kalian-” Suzy menatap tajam siswa-siswa di depannya, membuat siswa tersebut menunduk takut. “Cepat masuk! Kalian ingin telat, eoh?!” titah Suzy dengan nada keras dan tegas.

Sontak saja, orang-orang yang ditunjuk Suzy langsung menjalankan perintah Suzy. Mereka tak ingin membuat Suzy marah sehingga harus mendengar teriakan mengerikannya.

“Leppp-leppass… Jinri!!” Myungsoo menarik kasar lengan Jinri yang melingkari pinggangnya hingga terlepas. Myungsoo memberikan tatapan tajam mematikannya pada gadis itu.

“Ugh, Oppa, kau galak sekali. Kita ‘kan baru bertemu. Oh ya Oppa~ mulai sekarang, aku sekolah di sini lho~” ujar Jinri manja. Tangannya mulai bergelanjut manja di lengan Myungsoo.

“Ekhem! Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu acara ‘lovey dovey’ kalian, tapi Jinri, bel masuk sudah berbunyi. Kau tidak berminat ke ruang Kepala Sekolah sebelum ke kelasmu, hem?” Suzy melangkah mendekati Myungsoo dan Jinri, kemudian melepaskan tangan Jinri dari lengan kanan Myungsoo.

Aish! Aish! Eonnie mengganggu saja, huh!” gerutu Jinri. Matanya menyiratkan sorot sinis sekaligus sebal. Suzy hanya tersenyum evil, mendengar gerutuan Jinri.

Oppa~ aku duluan, ya?” Jinri melambai-lambai genit pada Myungsoo.

Namun, Jinri menghentikan langkahnya saat, “Cih, aku tak menyangka ya, kalian memakai cincin sialan itu!”
.
.
“Heh, Myungsoo, ngomong-ngomong, ada apa Eomma-mu mengajakku ke rumahmu?” tanya Suzy. Matanya menatap lurus ke depan.

Myungsoo mengendikan kedua bahunya, “Molla. Mungkin Eomma rindu padamu.”

Suzy mengalihkan pandangannya ke arah lain. Di depan kelas 2-C, Suzy melihat Woohyun dan Ailee tengah berjalan bersama. Myungsoo yang melihat musuhnya bersama seorang gadis, langsung menyeringai senang.

“Hem, seperti yang kau lihat, Suzy. Woohyun itu… hem yah begitulah. Oh, dan au rasa, kau bukan hanya mengaggumi tapi menyukai si sialan itu, kan? Haha, jangan harap aku akan membiarkanmu menaruh rasa lebih dalam lagi padanya,” gumam Myungsoo.

Suzy masih membuang muka dan menghiraukan Myungsoo di sampingnya.

Cup!’

Myungsoo mencium pipi Suzy dengan cepat, kemudian menjauhkan kepalanya lagi.

Energy has sent!” teriak Myungsoo semangat.

Suzy langsung menoleh kesal pada Myungsoo. Dan Myungsoo dengan cepat menjauhi Suzy ketika menyadari kalau Suzy akan menendang kakinya.

“Aku akan membantumu untuk mencintaiku! Believe me!” teriak Myungsoo sambil berjalan mundur dengan cepat, kemudian memasuki kelasnya lebih dulu.

“Sialan, kau Myungsoo!” rutuk Suzy.

‘Sayang, kau ke rumahlah dulu bersama Myungsoo dan jangan cari Eomma di rumah, ne? Eomma akan ke rumah Eomma-mu sebentar. Eum, mungkin nanti malam Eomma pulang.’

Suzy mendengus sebal setelah membaca pesan singkat dari Ibunya Myungsoo.


Sorry lama update 😀 untuk yang bertanya mengenai hubungan Myungzy, apa sekarang udah ngerti? kekeke… penjelasannya buat di next lagi okee ;-

Makasih sudah membaca dan makasih untuk yang meninggalkan komentar ataupun like-nya 🙂

 

See Ya!

Advertisements

10 thoughts on “Suzy The Vice President [Chapter 2]

  1. Loh loh siapa jinrii ?
    Apa maksudnya cincin sialaan ?
    Knapa myung bilang bakal bikin suzy suka ama diaa ?
    Penasaraaan

    Like

  2. What the, jjur nh ak mash bgung. Blm dpat kjelasannya..
    Part ini mnrutku mash random.
    Ahhh.. myungsoo. Knapa narsisnya kelewatan bgett.
    Aku suka saat suzy brkarakter cuek.
    Ahhh.. smngat thor.
    Dtggu nextnya mkin pnasaran klanjtanny gmna

    Like

  3. keyen authornim…
    ngakak..

    ayo semangat myung oppa..
    semangat juga authornim ngelanjutin FF nya..
    Hwaiting..!!

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s