Namitsutiti

I Know, Myungsoo [Part 2A]

4 Comments


i-know-myungsoo

Credit poster by peniadts @Art Fantasy

Tittle » I Know, Myungsoo

Author » Namitsu Titi

Rate » PG-13

Genre » Friendship, School-life, Sad.

Cast » Bae Suzy [Miss A], Kim Myungsoo [Infinite]

Disclaimer » Semua cast milik orang tuanya masing-masing dan Tuhan YME. Popularitas Cast milik agency dan diri nya masing-masing. Tapi, alur cerita milik saya.

A/n : Part ini lebih banyak menceritakan bagaimana hubungan MyungZy sebelumnya. Kalau merasa sudah bosan, silakan close saja ff-ku, daripada bete wwkwk :v

.

© 2015 Namitsu Titi

.

~Happy Reading~

.

.

.

.

“Cho Ra~” seru Suzy, setelah meletakkan kantung plastik yang berisi makanan di atas mejanya.

“Apa?” terdengar sahutan dari gadis yang dipanggil Suzy, di tempat duduknya.

“Pesananmu tidak ada. Mau uangmu yang kembali atau tetap makanan yang aku beli?” tanya Suzy dengan nada cukup tinggi. Suzy berdiri di samping mejanya, sementara Cho Ra duduk di kursinya, meja deretan ketiga dari meja Suzy.

“Apa? Coba kamari!” Suzy berdecak kesal, mendengar Cho Ra memintanya untuk mendekat ke arah meja sahabatnya. Suzy yakin, Cho Ra itu sedang menggodanya.

Di belakang tempat duduk Cho Ra adalah meja Myungsoo. Pemuda itu sedang berkutat dengan laptopnya.

Suzy mengambil kantung makanan yang dibelinya di kantin, kemudian dibawanya menuju Cho Ra. Terpaksa sebenarnya. Ya Tuhan, Suzy itu sangat anti jika harus mendekati seseorang, sementara orang tersebut tengah berada di dekat Myungsoo. Malu. Entah mengapa rasa itu selalu menemaninya. Terlebih lagi, tadi Myungsoo sempat meliriknya, sebelum ia mulai melangkah mendekati Cho Ra.

Gerutuan-gerutuan kecil untuk sahabatnya terdengar di hatinya, bercampur dengan hasrat gugup di dalamnya.
Sepertinya menggoda Suzy dengan objek bernama Myungsoo itu sudah menjadi hobi bagi Cho Ra.

“Kau pilih uang atau makanan? Kalau ingin uang, makanannya untukku,” Suzy berkata dengan nada yang terkesan aneh di telinga Cho Ra. Dan ia menyimpulkan, sepertinya Suzy tengah salah tingkah.

“Makanan saja,” jawab Cho Ra. Lantas, Suzy segera menyerahkan kantung makanannya.

“Cho Ra, matematikanya sudah belum?” tanya Myungsoo, ikut menimbrung pembicaraan kedua gadis itu. Laptop yang ada di hadapannya sudah ia masukkan kembali kedalam tasnya.

“Oh, belum Soo,” sahut Cho Ra.

“Memang dikumpulkannya kapan, Myungsoo?” timpal Suzy, mencoba bertanya. Lagian ia juga merasa tak enak pada Myungsoo.
Seminggu ini, Suzy akui bahwa dirinya terlalu cuek pada Myungsoo. Setiap bertemu, Suzy tak pernah melirik pada pemuda itu, meski sekilas pun.

“Setelah pulang sekolah,” jawab Myungsoo terkesan acuh. Begitulah, ekspresi yang ditangkap Suzy. Myungsoo benar-benar tidak seperti biasanya. Bahkan, Myungsoo menjawab tanpa menatapya. Suzy hanya bisa meringis. Sebelumnya, Myungsoo selalu menjawab dengan bibir tersenyum dan binar mata yang ramah.
Tapi, sekarang tidak lagi.

Apakah Myungsoo merasa tersinggung? Ataukah benar-benar merasa kecewa padanya?

Suzy kembali merutuki sikapnya, saat mengingat penyebab Myungsoo memperlihatkan ekspresi berubahnya. Meski begitu, Suzy mencoba berpikir positif. Mungkin Myungsoo sedang bad mood. Jika Suzy menyimpulkan bahwa Myungsoo menjauhinya, itu masih terlalu aneh untuknya.
.
.
.
.
Hawa tegang dan gugup segera mengerumuni dada Suzy, ketika melihat Myungsoo akan memasuki kelas, sementara ia akan keluar kelas.
Suzy berencana akan melempar senyum tipis saat keduanya bertemu pandang. Tapi….

‘Mengabaikanku, eoh? Kau kenapa Myungsoo? Benar-benar kecewa, kah?

Suzy melangkahkan kakinya dengan hati murung. Myungsoo memang sempat meliriknya, tapi kemudian beralih ke arah lain. Melunturkan senyum di hati Suzy, efeknya.
.
.
.
.
Suzy menghela napas lelah di kursinya. Punggungnya tersandar di kepala kursi. Kepalanya terasa penuh, memikirkan perubahan sikap Myungsoo. Hal ini bahkan tidak hanya terjadi sekali. Belakangan ini, Myungsoo sama sekali tidak menunjukkan binar ramah padanya, ataupun tersenyum padanya. Jalankan menyapa, melirik pun tidak.
Dan lagi-lagi seperti ini.
Suzy merasa teracuhkan jika Myungsoo tengah mengobrol dengan teman-temannya. Padahal Suzy juga sedang berada di dekat mereka. Memang benar, Suzy hanya diam saja, tidak ikut bergabung dengan pembicaraan mereka, tapi mengapa ia merasa Myungsoo terlihat enggan hanya untuk sekedar meliriknya, barang sedetik saja?

Padahal, Suzy sudah memberanikan diri pada Myungsoo, kalau ia akan mencoba akrab dengannya.

Tapi kenapa sekarang malah seperti ini? Kini, Myungsoo seperti orang lain di mata Suzy. Kemana Myungsoo yang dulu?

Suzy menaruh kepalanya di atas meja, beralaskan kedua tangannya yang dijadikan bantal.
Napas kasar yang terdengar berat, tengah memburunya.
Hhhh… membuang dan menghirup napas saja, terasa menyesakkan. Punggungnya juga bergetar, sejalur dengan penarikan napas. Matanya terpejam erat. Bayangan-bayangan ketika Myungsoo mengajaknya mengobrol, menyapa ataupun tersenyum padanya, perlahan mulai menghampiri syaraf ingatannya. Namun, mengingat sedang dalam situasi yang seperti ini, malah terasa menyakitkan untuknya.

Suzy amat sangat merindukan sosok Myungsoo yang sebelumnya.
Kini, Suzy menyesali sikapnya yang selalu tidak welcome, saat Myungsoo mengajaknya untuk saling akrab.

Myungsoo berbeda dari yang lain. Meski Suzy selalu menanggapi pertemanan Myungsoo seadanya, seperti tidak berminat-jika dilihat dari sisi negatif-Myungsoo tak pernah berhenti untuk mengakrabkan diri padanya. Mungkin, jika orang lain, mereka akan berhenti mendekatinya. Hal ini terjadi sejak satu tahun yang lalu, ketika kelas 2-keduanya sekelas, Suzy menyukai Myungsoo dari kelas satu-dan Myungsoo masih melakukan hal yang sama hingga seminggu sebelum hari ‘itu’.

Lambat laun, air mata Suzy mulai mengalir, membasahi tangannya. Sekuat tenaga, ia mencoba menghentikan rasa ingin menangisnya. Takut, jika isakannya mulai keluar, mengingat ada Myungsoo yang tengah duduk-di sebelahnya-di kursi setelah mejanya.

Suzy bisa tahu karena ia mendengar suara Myungsoo yang tengah mengobrol dengan teman Suzy, yang duduk di belakang punggungnya.

Terkadang, Suzy heran pada Myungsoo. Meskipun belakangan ini Myungsoo terkesan mengabaikannya, tapi ketika ia sedang murung dikarenakan bad mood atau kurang enak badan, Myungsoo selalu berada di dekatnya. Entah itu duduk bersebelahan, ataupun berdiri tak jauh darinya.

Apakah Myungsoo masih peduli padanya? Dan Myungsoo mendekatinya dengan cara tidak langsung? Misalnya seperti sekarang ini?

Jujur saja, menyukai Myungsoo itu, banyak moment tak menyenangkannya. Perasaan suka yang sebenarnya tak diinginkan oleh Suzy, mengalir begitu saja hingga detik ini. Yeah, karena sejak awal tahu, Myungsoo mencintai gadis lain. Setelah mereka putus pun, Myungsoo masih mencintai gadis itu. Dan itu membuat Suzy frustasi. Sungguh, Suzy menyerah jika Myungsoo tetap seperti itu. Tapi sialnya, berapa kali pun ia mencoba melupakannya, hasilnya hanya sesaat. Myungsoo selalu bisa membangkitkan rasa cintanya, meski hanya dengan sebuah senyuman. Betapa labilnya, kan? Ia merutuki hatinya yang tidak bisa diajak kerjasama. Inilah, yang membuat Suzy lelah.

Tapi kini, Suzy bersyukur, semenjak hubungan mereka berakhir-gadis itu yang memutuskan Myungsoo, 10 bulan yang lalu-Suzy sudah bisa mengendalikan perasaannya. Yeah, seandainya hari ini Myungsoo membuatnya senang, maka Suzy akan menahan mati-matian untuk tidak menikmati sepenuhnya.

Banyak sekali penyebab yang membuat Suzy down, seperti ; membenci dirinya yang selalu susah untuk akrab dengan Myungsoo, jika sehari saja tidak terlibat komunikasi dengan Myungsoo-ia akan murung karena Myungsoo selalu menyapanya hampir setiap hari, dan Myungsoo itu dekat dengan gadis lain-itu membuatnya cemburu karena ia iri pada mereka.

Mencoba mendapatkan Myungsoo? Itu terlalu mustahil untuknya. Ingat, Myungsoo masih mencintai mantannya-setahunya.
Terlebih lagi, Suzy selalu cuek pada Myungsoo. Hey, salahkan saja rasa gugup dan malunya yang berlebihan.

Jika mengingat hari ‘itu’, sebenarnya Suzy tidak hanya muak saja pada Myungsoo, tapi juga ‘malu’. Huh, serbu saja si Cho Ra yang sudah dengan teganya memberitahu Myungsoo kalau ia tertarik padanya, ketika liburan sekolah. Grrr… rasanya Suzy ingin melempar Cho Ra dari lantai teratas gedung sekolahnya menuju halaman sekolah. Untung, Cho Ra hanya mengatakan sebatas mengagumi, bukan cinta.
.
.
~Myungsoo POV on~

Ada satu pertanyaan yang melekat pada otakku. Aku merasa, beberapa hari ini, Suzy terlalu cuek padaku. Contohnya saja, ketika hari pertama masuk sekolah, setelah tiga minggu libur. Aku melempar senyum padanya ketika hari ‘itu’, tapi dia mengabaikanku dengan ekspresi juteknya. Aku tak tahu mengapa, Suzy terlalu dingin kala itu.

Ada lagi, ketika aku bingung dengan tugas matematika, aku menghampiri meja Suzy. Tapi aku tak bertanya padanya-biasanya aku selalu bertanya pada Suzy, melainkan pada Shinmi, teman sebangkunya. Mungkin, jika tak melihat ekspresi acuhnya, aku akan bertanya padanya.
Dan dia benar-benar acuh padaku. Aku merasa, dia seperti menganggapku benar-benar tidak ada.
Aku bingung padanya. Apa benar, dia membenciku? Tapi karena apa?

Ataukah… karena aku tak menanggapi perasaannya?

Perasaan? Oh ya, aku mendengar dari Cho Ra, kalau Suzy menyukaiku! Ya Tuhan, aku tak menyangka, Suzy yang sedari dulu selalu bersikap cuek padaku, ternyata diam-diam menyukaiku?
Cho Ra mengatakan itu saat aku ke rumahnya untuk mengerjakan laporan ketika liburan. Saat itu, tiba-tiba saja, Cho Ra bertanya padaku,

“Soo, kalau misalnya di sekolah kita ada yang menyukaimu, menurutmu bagaimana?” dan aku mengernyit heran atas pertanyaannya.

Lalu au menjawab, “Ya tidak apa-apa.” Kalau ada yang menyukaiku, masa aku harus marah, begitu?

Tapi kemudian, Cho Ra bertanya lagi, “Misalkan, ya, jika ada teman sekelas yang menyukaimu, bagaimana?” Aku mengerutkan kening lagi mendengarnya. Apa dia mencoba mengintrogasiku?

“Memangnya ada?” tanyaku balik. Kulihat Cho Ra mengangguk ragu. “Siapa?” desakku.

“Suzy,” ungkap Cho Ra.

Aku sempat tertegun ketika mendengar jawaban Cho Ra. Su-Suzy… menyukaiku?

“O-oh….” respons spontanku, diiringi tawa awkward. Jujur, aku bingung harus mengeluarkan tanggapan seperti apa.

Hahhh… aku bingung sekarang. Aku harus menanggapi Suzy seperti apa. Meladeni perasaannya atau bagaimana?

“Cho Ra, lalu aku harus bersikap bagaimana?”

“Biasa saja ‘lah, Soo. Toh, sikap Suzy padamu juga biasa saja, kan?”

“Hmm… baiklah.” Suzy memang bersikap biasa jika bertemu denganku-minus sikap cueknya. Dia tidak menunjukkan perasaannya sedikitpun padaku.

“Tapi, Soo, Suzy itu tidak ‘menyukai’mu.”

“Hah? Kau bilang dia suka padaku?” tanyaku bingung.

“Iya. Maksudnya, sukanya itu bukan artian cinta. Dia hanya mengagumi perilakumu. Jarang-jarangkan, ada lelaki sepertimu. Ramah, bertanggung jawab, rajin beribadah, pokoknya yang baik-baiklah di mata perempuan. Yak! Kau jangan melayang gara-gara aku memujimu!” Haha, aku terkekeh mendengar pujian Cho Ra. Hm, jadi Suzy itu hanya kagum.

“Tapi aku kasihan pada Suzy. Kau itu terlalu dekat pada gadis lain,” lanjutnya. Oh, jadi Suzy cemburu, begitu? Baiklah, aku tidak akan terlalu dekat lagi. Hey, Aku melakukan ini karena aku ingin menghargai perasaannya.

Hahh… aku semakin bingung lagi sekarang. Cho Ra bilang, Suzy hanya kagum padaku, tapi kenapa Suzy terlihat makin cuek padaku?

Alasan aku tak menanggapi perasaannya, bukan sumber Suzy menjadi seperti sekarang, kan?

Lalu apa???

Ngomong-ngomong, soal Suzy kagum padaku, saat itu aku penasaran padanya. Aku langsung saja bertanya melalui SMS.

To : Suzy
Zy, apa aku boleh bertanya sesuatu?

Tak lama, Suzy membalas pesanku.

From : Suzy
Boleh. Mau bertanya apa memangnya?

Aku segera menulis pertanyaanku.

To : Suzy
Menurutmu, pria yang baik itu seperti apa?

Tanpa membaca ulang, aku langsung mengirimnya.

From : Suzy
Memangnya ada apa bertanya seperti itu?

To : Suzy
Setiap orang ‘kan memiliki pandangan yang berbeda.

Balasku, setelah memikirkan balasan yang tepat.

Namun tak lama, aku merasa janggal dengan yang aku tulis. Lantas, aku segera mengecek pesan terkirimku.

Arrrhh… betapa bodohnya aku!
Mengapa aku bertanya sepeti itu?! Seperti menanyakan tipe pria yang disukai wanita, kan?
Apalagi, ‘Pria yang baik itu seperti apa?’ ckck, jelas sekali, bukan?
Semua orang juga tahu, yang ‘baik’ itu seperti apa. Bodoh!

Tapi aku juga penasaran dengan jawabannya. Apa dia akan membalas, ‘pria yang seperti dirimu’ oh, gila! Mana mungkin dia menjawab seperti itu. Tapi dia ‘kan mengatakan kalau dia mengagumiku yang otomatis aku adalah pria yang baik, kan?

From : Suzy
Ya… pasti kau tahu ‘kan, pria yang baik di mata wanita itu seperti apa? Aku bingung menjelaskannya.

Balasannya belum memuaskanku. Ya sudahlah, mungkin pertanyaanku yang membingungkan.

To : Suzy
Ya sudah. Tidak apa. Jangan dipaksakan.

From : Suzy
Oke. lain kali kalau bertanya yang jelas, ya? ^^

Aku tersinggung mendengarnya. Dia memang benar. Harusnya, sekalian saja aku bertanya, ‘Tipe pria idamanmu seperti apa?’ dan Suzy sepertinya menyadari apa maksud lain pertanyaanku.

To : Suzy
Ya.

To : Cho Ra
Ra, menurutmu pria yang baik itu seperti apa?

From : Cho Ra
Ya seperti kekasihku haha….

Huh, apa-apaan si Cho Ra. Aku belum mengerti, dia malah memuji kekasihnya. Hahhh… Sudahlah. Lagian, mengapa aku ingin tahu sekali?

Itu adalah komunikasi terakhirku dengannya, dan disusul semingu kemudian, dia bersikap dingin padaku.
Waktu itu, ‘untuk menjauhinya’, hanya rencana saja. Tapi, mengingat sikap acuhnya yang amat sangat. Secara refleks, aku juga mengikuti alurnya.
Aku tidak lagi menyapa atau melakukan hal lain padanya.

Apa dia benar-benar tak ingin aku dekati?

Walaupun Suzy sering acuh padaku, entah mengapa, aku merasa kalau Suzy diam-diam peduli padaku. Benarkah?

Hari ini, aku melihat yang aneh padanya. Sebenarnya bukan hari ini saja. Aku merasa, dia dia terlihat murung belakangan ini. Apalagi sekarang. Aku tidak tahu, dia sedang tidur atau apa. Tapi punggungnya terlihat seperti itu. Maksudnya, seperti penarikan napas yang berat. Ada apa?

~Myungsoo POV Off~
.
.
.
.
“Chaerin~” rengek Suzy pada teman sekelasnya.

“Apa? Apa?” sahut Chaerin.

“Aku lagi sedih.”

“Kenapa? Cerita saja.”

“Hem… kita ceritanya di tempat dudukmu saja, ya?” Chaerin mengangguk.

Kedua gadis itu segera saja berjalan menuju tempat duduk Chaerin yang berada di belakang.

Chaerin menunggu Suzy bercerita dengan sabar, meski dalam hati, ia merasa gemas sendiri. Suzy hanya mengeluarkan rengekan antara ingin bercerita atau tidak.

“Cerita saja. Tidak perlu malu,” bujuk Chaerin lagi.

Suzy akhirnya membuang napas penuh keberanian. Suzy belum pernah menceritakan kisah cintanya pada Chaerin, jadi wajar jika ia bimbang. Ingin bercerita, tapi malu.

“Mmm… mmm… begini, aku ‘kan menyukai seseorang, tapi sekarang aku merasa dia menjauhiku.” Suzy berhenti sejenak. Rasanya malu sekali. Sementara Chaerin hanya diam mendengarkan. Kemudian, Suzy melanjutkan ceritanya lagi.

Suzy mulai menceritakan bagaimana ia bisa menyukai Myungsoo, moment-moment yang menyenangkan maupun yang membuatnya cemburu, dan betapa lelahnya ia menyukai Myungsoo, hingga bagaimana sikapnya ketika hari ‘itu’. Suzy bercerita tanpa menyebutkan nama Myungsoo tentunya.
Bisa-bisa, ia langsung tenggelam oleh rasa malu, jika ia memberitahukan namanya.

“Chaerin~ aku harus bagaimana? Aku tak bisa menghilangkan sikap dinginku padanya. Selain itu, aku takut jika dia berpikiran kalau aku tak ingin berteman dengannya, mengingat sikapku yang seperti ini-

“-Kalau misalkan kau jadi dia, kemudian aku merespons ajakan pertemananmu dengan cuek, pastinya kau berpikir bahwa aku tak ingin berteman denganmu ‘kan? Padahal itu tidak benar sama sekali. Aku bukannya benci tapi malu. Ayolah, berdekatan dengan orang yang disuka itu rasanya malu sekali.” Suzy mendesah lesu.

Apakah kedekatannya dengan Myungsoo hanya sampai sebelum hari ‘itu’? Dan kini, keduanya akankah bersikap layaknya orang yang tidak saling mengenal? Hhhh….

“Ya harusnya kau tidak perlu terlalu malu padanya. Memang benar, berdekatan dengan orang yang disuka itu rasanya malu sekali. Tapi, jika terus-terusan merasa malu, akhirnya malah jadi seperti ini, kan?”

“Lalu aku harus bagaimana sekarang~?”

“Sudahlah, kalau berjodoh pasti balik lagi.”

“Yah! Apa-apaan kata-katamu?! Terdengar seolah-olah kami sudah pacaran saja! Harusnya, ‘Kalau berjodoh, pasti tak akan kemana-mana’,” gerutu Suzy tak terima.

“Iyaaa, pasti balik lagi.” Tawa menggoda keluar dari mulut Chaerin.

“Chaerin~!” Suzy berteriak kesal pada Chaerin. Disaat situasi seperti ini, bisa-bisanya Chaerin malah menggodanya. Dasar!

“Dan aku berharap, ketika hari itu tiba, aku sudah menemukan orang lain yang lebih aku cintai dari dia. Biarkan dia merasakan perasaan sepertiku juga,” gumam Suzy pelan.
.
.
.
.
Suzy menyetrika baju seragam sekolahnya dengan pikiran yang tidak pada tempatnya. Ia memikirkan banyak hal pagi ini. Meskipun hal yang sedang mengerumuni otaknya hanya satu pokok permasalahan saja, tetap saja, Suzy sepertinya lebih suka menganggap dengan kata ‘banyak’. Satu permasalahan yang membuat Suzy ingin berkata jujur pada pemuda itu sedari dulu, tapi ia enggan mengungkapkannya.
Banyak resiko yang harus ia ambil.
Semakin hari, rasanya Suzy sudah tak tahan. Ingin sekali berterus terang, tapi apakah ini tidak apa-apa?
Apakah resiko yang akan ia ambil, tidak apa-apa baginya?

Demi merasa lega, baiklah, Suzy akan mengatakannya. Justru ini keuntungan baginya, bukan? Suzy bisa leluasa untuk bersikap acuh pada pemuda itu.

Arrrhh… sepertinya perasaan yang ada di diri Suzy begitu menggebu, begitu bersemangat, saat dirinya mengatakan ‘iya’ untuk berterus terang pada pemuda itu. Sial!

Suzy menghentikan pergerakan tangannya yang tengah menyetrika atasan seragamnya. Kemudian, melangkah menuju sebuah meja kecil di dekat ranjangnya.
Rasa kebimbangan mulai menghampirinya lagi. Perasaan gugup turut ikut serta di dalamnya.

Tangan kanannya ia gerakkan untuk meraih ponselnya yang berwarna merah, dengan bagian permukaannya berwarna hitam. Suzy menimang lagi.

Haruskah ia melakukannya?

Suzy menggeram tertahan, diikuti jarinya menyentuh layar ponselnya.
Dengan ragu dan perasaan malu yang baru saja menghinggapinya, Suzy mulai mengetikkan beberapa deret kalimat yang mungkin saja akan mengubah kisahnya mulai esok pagi, ataupun nanti, saat ia sudah menginjakkan kaki di sekolahnya.

To : Bastard
Myung, belakangan ini kau kemana?
Menghilangkah? Kenapa lama sekali?
Terakhir aku melihatmu saat awal-awal masuk sekolah setelah liburan.
Aku minta maaf,
jangan merasa kalau aku membencimu,
jangan merasa kalau aku tak ingin berteman denganmu,
mungkin kata-kataku membingungkan, ya?
Tapi, aku ingin mengatakan itu sejak dulu.
Don’t have negative thinking about me.
I’m pleasure be your friend 🙂
Meskipun aku tidak tahu apa yang kau pikirkan,
tapi aku hanya ingin mengatakan ini saja.
Rasanya lega hehe…

Suzy menghela napasnya begitu selesai menulis beberapa kalimat yang akan ia kirim pada pemuda itu, Myungsoo.
Rasanya seperti sedang bertarung melawan ‘deman panggungnya’ saat ia berpidato di depan umum, misalnya. Berat dan susah sekali untuk menyelesaikan kalimat-kalimat yang bisa dibilang panjang itu. Sekali lagi, Suzy membaca ulang pesan yang ditulisnya.

Menahan napas, mata terpejam, perlahan mulai menekan ibu jarinya pada layar ponselnya-menyentuh tepat di bagian tombol send.

Suzy membuka matanya begitu pesannya sudah terkirim. Napasnya sedikit tersengal. Ia benar-benar merasa seperti tengah melakukan suatu perjuangan yang baru pertama kali dialaminya.

Suzy kembali menyetrika bajunya yang tertunda. Namun, matanya sesekali menengok ke arah ponselnya yang berada di meja tadi. Berharap mendapat balasan, dan Suzy juga penasaran dengan reaksi Myungsoo.

Lima menit ini, tidak ada satupun pesan yang masuk, hingga ia mulai berangkat sekolah pun, masih sama. Dan Suzy cukup kecewa karena itu.
.
.
.
.
Suzy melangkahkan kakinya menuju kelas 3-B, kelasnya, dengan dipenuhi debaran gugup disetiap langkahnya.
Suzy entah harus bagaimana bersikap jika sudah berhadapan dengan Myungsoo nanti.

Suzy berjalan menuju menuju kursinya yang berada di barisan depan, tepat di depan meja guru. Kepalanya sedikit ia tundukkan, tidak berani memandang ke sekitar, takut bertemu pandang dengan Myungsoo. Malu sekali jika terjadi. Suzy meletakkan tasnya di kursi, dan diam-diam melirikkan ekor matanya ke meja Myungsoo.
Syukurlah, Myungsoo belum datang.
.
.
“Ini huruf x atau tanda kali?” tanya Myungsoo yang sudah berdiri di samping meja Suzy.

Ketika mendengar suara Myungsoo, Suzy masih fokus dengan soalnya, meski diam-diam ia memperhatikan Myungsoo. Suzy menunggu orang lain yang akan menyahuti Myungsoo hingga beberapa detik. Suzy sengaja tidak langsung menjawab, karena ia bingung, Myungsoo sedang bertanya pada siapa. Karena tidak ada yang menyahuti, lantas Suzy berinsiatif untuk menyahutnya. Toh, ia sudah memantapkan diri, tidak akan terlalu malu lagi. Yah, meski rasa malu mulai datang karena teringat isi pesannya yang ugh… seperti pernyataan cinta. Untunglah, kali ini ia bisa melawannya.

“Tanda kali, mungkin,” gumam Suzy, setelah memperhatikan pertanyaan yang ditunjukan Myungsoo.

“Oh, itu huruf X, Myungsoo.” Tiba-tiba Shinmi ikut menimpali.

Suzy kembali fokus sendiri, mengabaikan mereka berdua yang langsung saja larut dalam diskusian.
.
.
.
.
Suzy memundurkan motornya untuk keluar dari barisan parkiran. Ia berhenti sejenak saat Myungsoo akan melewatinya.

“Suzy, pulang?” ujar Myungsoo yang langsung pada kata ‘inti’. Tapi setidaknya ada senyuman di bibirnya, meski terlihat canggung.

‘Saat ini, dia ‘kembali’.’

Suzy langsung menatap Myungsoo.

‘Aku rindu saat seperti ini.’

Suzy tidak langsung menjawaab sapaan Myungsoo. Ia masih terkejut dengan Myungsoo yang tiba-tiba seperti ini.

Hyaaa… jangan-jangan Myungsoo sudah membaca pesan anehya tadi pagi?

Suzy mengipas-ngipasi wajahnya, setelah Myungsoo berlalu dengan motornya.
Hhhh… detik-detik ini, Suzy tak bisa berhenti untuk senyum-senyum sendiri karena Myungsoo.

Tapi, apakah ini akan bertahan lama? Apakah besok, Myungsoo akan kembali seperti dulu lagi?
Jika seperti ini, meskipun menyakitkan, Suzy berharap, kebahagiaan itu cukup untuk hari ini saja.
Ia tak boleh terus berharap. Suzy menebak, bahwa esok hari, ia pasti akan berhenti menikmati keindahan detik ini.
Karena, ini selalu dan selalu terjadi.
Jika hari ini ia mendapatkan moment yang menyenangkan, besoknya pasti ia akan dibuat cemburu atau hal-hal yang menyedihkan lainnya. Begitu seterusnya.

Benarkan, ini sangat melelahkan?
.
.
.
.
Suzy dengan cepat membuka pesannya, saat melihat pengirimnya adalah Myungsoo.

From : Bastard
Kau tidak salah. Harusnya aku yang minta maaf. Mungkin kau merasa kalau aku mencuekinmu.

‘Biasanya dia tak pernah menyebutku dengan ‘kau’, melainkan namaku sendiri. Tapi sekarang…’

Suzy sedikit tersenyum ketika membaca balasan dari pengirim dengan nama kontak ‘bastard‘ itu.

Bastard? Suzy sengaja memberi nama Myungsoo ‘bastard‘ yang artinya ‘brengsek’. Ia menamainya saat sedang bad mood gara-gara Myungsoo.

To : Bastard
Tidak juga, harusnya aku yang minta maaf, Myungsoo. Kau tahu sendiri ‘kan, dari dulu aku selalu cuek padamu.

Suzy menghela napas lega. Akhirnya, ia bisa meminta maaf pada Myungsoo atas sifatnya yang seperti ini. Dan Suzy tak peduli, jika Myungsoo akan tetap mendiamkannya (?) atau tidak. Yang terpenting, Myungsoo tahu, meskipun ia terkesan dingin pada Myungsoo, tapi tidak ada rasa benci di dalamnya.
Dan kini, benar adanya. Keesokannya, Myungsoo masih canggung padanya. Tapi setidaknya, Myungsoo tak secuek beberapa hari belakangan ini. Dikarenakan kejadian sebelumnya, sepertinya Suzy benar-benar bisa menekan perasaannya. Suzy sudah tidak terlalu mengharapkan dan tergila-gila pada Myungsoo seperti dulu lagi. Ini kemajuan untuknya. Berarti, jalan untuk berhasil melupakan Myungsoo semakin dekat. Sungguh, sejak dulu, Suzy hanya mengharapkan pertemanan dari Myungsoo. Salahkan saja hatinya yang menginginkan lebih, hingga perasaan itu semakin kuat setiap harinya.
.
.
.
.
“Suzy, sepertinya Myungsoo dan Jinri makin dekat saja,” ujar Shinmi tiba-tiba.

Suzy berhenti membaca deretan tulisan materi IPA. Dengan kening berkerut dan rasa muak di hatinya, ia layangkan pada Shinmi. “Terus…?” tanya Suzy tak minat.

“Iya. Kemarin saja, Myungsoo sengaja ke kos’an kami malam-malam hanya untuk mengantarkan foto copy‘an Fisika pada Jinri. Saat akan ke rumah Chaerin saja, Jinri sampai dijemput Myungsoo,” jelas Shinmi.

“Oh, aku tak peduli,” jawabnya acuh. Suzy kembali membaca bukunya.

Hari ini adalah hari Ujian Semester di sekolah Suzy. Ia dan teman sebangkunya-Shinmi-tengah belajar di depan Lab. Bahasa Inggris. Shinmi tiba-tiba saja membicarakan Myungsoo, dan Suzy tak suka mendengarnya. Ingatkan, kalau Suzy kini tengah berusaha melupakan Myungsoo, dan Shinmi dengan seenaknya membicarakan Myungsoo. Suzy muak bukan karena Myungsoo dekat dengan gadis lain, melainkan pada Shinmi sendiri.
Ingin sekali ia berteriak pada Shinmi, bahwa tidak seharusnya Shinmi membicarakan Myungsoo di hadapannya. Tapi, jika Suzy begitu, Shinmi akan menganggapnya bahwa ia masih menyukai Myungsoo. Sedangkan Suzy sendiri, kini sudah bisa meredam perasaan dan tidak peduli lagi pada Myungsoo-meski masih ada sedikit.

Coba saja, seandainya kita sedang mencoba melupakan orang yang dicintai, kemudian temanmu malah membicarakan orang tersebut di depan kita, apakah kita tidak akan merasa geram pada teman kita? Sementara dia tahu, bahwa kita sedang berusaha, tapi dengan seenaknya dia mengungkitnya?! Terlebih lagi, Suzy merasa, Shinmi begitu bukan karena dalam maksud ‘menggoda’ tapi dalam artian memanas-manasi.

Sedari dulu, Suzy juga tahu, meskipun Shinmi sudah memiliki kekasih, tapi Shinmi juga menaruh rasa pada Myungsoo.

Kenapa Shinmi dan Suzy bisa dekat? Oh, itu karena Suzy nyaman berteman dengan Shinmi. Gadis itu baik pada Suzy. Hanya saja, jika berhubungan dengan Myungsoo, Shinmi selalu greget padanya. Seperti menginginkan Suzy membenci Myungsoo.

Dan Shinmi pernah berhasil mempengaruhi Suzy. Saat kelas satu, Suzy pernah membenci Myungsoo gara-gara omong kosong Shinmi. Untungnya, ia bisa menghilangkan rasa buruk itu, setelah mengetahui kebenarannya. Kini, jika Shinmi berbicara mengenai Myungsoo, ia sudah tidak terlalu percaya lagi, sebelum mencari kebenarannya.

Mungkin, apa yang tadi Shinmi katakan, ia akan tanyakan langsung pada temannya, Jinri sendiri.

Masalah Myungsoo dan Jinri dekat itu memang benar. Ia sudah melihatnya. Tapi setahunya, mereka hanya dekat saja. Shinmi saja yang berlebihan.
Meski begitu, mendengar bagaimana kedekatan Myungsoo dan Jinri, entah mengapa masih terasa menyesakkan.

Apa ia benar-benar masih mencintai Myungsoo?

“Mau kemana?” tanya Shinmi yang melihat Suzy bangkit dari duduknya.

“Ke kelas.” Suzy segera beranjak menuju kelas 1-D, yang menjadi ruang ujiannya. Kelas tersebut berhadapan dengan ruang Lab. Bahasa Inggris.
.
.
“Cho Ra, itu apa?” Suzy menatap penasaran dengan apa yang tengah dipegang sahabatnya.

“Oh, ini brosur Inha University.” Cho Ra menyerahkan brosur itu pada Suzy, setelah selesai membacanya.
.
.
Suzy berdecak sekaligus tersenyum dalam hati, ketika Luhan mengganggunya.
Pemuda itu benar-benar jahil. Luhan menepis pelan brosur yang tengah dibacanya. Lantas, ia langsung memukul tas Luhan menggunakan brosur, ketika pemuda itu baru selangkah berlalu dari hadapannya.
Luhan berhenti melangkah, kemudian berbalik menghadap Suzy dengan senyum manis di bibirnya.
Mau tak mau, Suzy ikut tersenyum. Ayolah, ia hanya pura-pura kesal pada Luhan. Lagipula, ia menyukai senyuman Luhan. Mana mungkin ia mengabaikannya.

Kalau boleh jujur, Suzy sudah tertarik pada Luhan hampir sebulan ini. Menyukai Luhan itu jauh menyenangkan daripada Myungsoo, karena ia menginginkan Luhan. Yeah, meski perasaannya belum sedalam seperti pada Myungsoo, tapi pasti bisa melebihi cinta yang tertanam untuk Myungso. Harus!

Dan Suzy sangat berterimakasih pada Luhan. Karenanya, Suzy tidak terlalu memikirkan Myungsoo. Suzy entah harus bagaimana, seandainya ia tak menaruh ketertarikan pada Luhan, mungkin ia akan terus terpuruk karena Myungsoo.

‘Sepertinya kau telah menemukan cintamu yang baru, ya? Kau begitu senang jika sedang di dekatnya. Tapi, apa boleh aku mengatakan, kalau sebenarnya… aku tak suka melihatmu senang karenanya, Suzy.’-Myungsoo

Myungsoo langsung tersentak kaget saat mendapati Sungyeol menepuk bahunya. Myungsoo menatap kesal pada sahabatnya, setelah ia mengalihkan pandangannya dari Suzy yang masih tersenyum, meski Luhan sudah berlalu dari gadis itu.

Sungyeol terkekeh, “Kau lihat bukan, Suzy begitu bahagia saat berdekatan Luhan? Apa kau tak merasa keberatan, huh?”

Myungsoo lebih memilih mengabaikan Sungyeol dengan membaca kembali materi yang akan diujikan.

“Dengar, Myungsoo. Semakin hari, pasti Suzy bisa mengenyahkan perasaan yang tertanam untukmu dengan kehadiran Luhan di hatinya. Seperti yang kau tahu, Suzy tidak hanya menganggumimu tapi mencintaimu, Myungsoo. Jika terus bersikap cuek padanya, kau hanya akan mendengar peresmian hubungan mereka di kemudian hari.”

“Lebih baik kau belajar, Sungyeol. Kau cerewet, serius,” gerutu Myungsoo. Ia lalu beranjak mendekati Sunggyu, meninggalkan Sungyeol yang masih terkekeh.

“Haha… baikalah. Terserah dirimu saja, Myung.”
.
.
.
.
Woahahaha (?) akhirnya part ini selesai jugaaa^0^)/ wkwkwk XD
Thank You sudah baca 😀
Makasih juga yang udah meninggalkan jejaknya.
Gimana? Mau dilanjut, atau cukup sampai disini? wkwk

Oke, yang masih bingung, silakan bertanya.

Okeh, bye-bye dulu yaaaa >.<

Advertisements

4 thoughts on “I Know, Myungsoo [Part 2A]

  1. hihi.. kok ceritanya mirip banget sama anak jaman sekarang yang lagi suka sama cowok, tapi ceweknya khusus cewek dingin dan cuek.
    Bagus banget thor, serius. Ditunggu nextnya

    Like

  2. ceritanya kaya curhatan authornya nih ??iya ya ??ahahha
    banyak yang masih kurang ngerti ‘-‘ jadi myung suka suzy atau engga?
    temennya suzy pada tau suzy suka sama myung??

    Like

  3. Wah…
    Myungsoo ngerasa nyesel nieh ye..
    Ada Luhan jga yeee
    #Lanjut donk

    Like

  4. Wait wait, gw gagal paham bgian akhirnya.. Suzy suka sm myungsoo itu, semua orang udah pd tau ya? Ciee yg nyesel, bener tuh kta sungyeol.. Nextnya kapan? Ditunggu ya..

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s