Namitsutiti

Just Your Admirer [Prolog]

Leave a comment


just-your-admirer2

Credit Poster by Junsihye @ KPOP Gallery Art

Tittle » Just Your Admirer

Author » Namitsu Titi

Cast »Kim Nami [OC], Xi Luhan

Genre » School-life, Frienship

Rate » G

Disclaimer » Semua cast milik orang tuanya masing-masing dan Tuhan
YME. Popularitas Cast milik agency dan diri nya masing-masing. Tapi,
alur cerita milik saya.

© 2014 Namitsu Titi
.


~Happy Reading~


.
.
.
.

Aku, Kim Nami, seorang gadis biasa yang sudah terjerat oleh pesona seorang pemuda tampan-yang baru aku akui belakangan ini-bernama Xi Luhan.

Aku, seorang gadis yang tidak memiliki paras cantik seperti temanku, Rye Mi.

Aku, seorang gadis yang tidak memiliki IQ setinggi teman sekelasku, Hae Rin.

Dan aku, seorang gadis berkacamata.
Eits … jangan menggambarkan penampilanku secara ‘berlebihan’! Aku bukan seorang Nerd Girl! meski aku berkacamata. Bentuk kacamataku tidak setebal Nerd Girl, penampilanku juga tak se-norak Nerd Girl.

Pokoknya NORMAL!

Mataku sudah minus semenjak kelas tiga SMP, tapi baru memakai kacamata sejak pertama kali masuk SMA. Tapi ngomong-ngomong, temanku mengatakan kalau aku lebih pantas memakai kacamata. Dan aku menyetujuinya. Setidaknya bisa-sedikit-menyembunyikan mata pandaku. Sebagai seorang gadis, tentu saja aku kurang percaya diri jika ada lingkaran hitam di bawah mata, seperti teman sekelasku, Huang Zitao.
Anehnya, teman-temanku mengatakan kalau aku terlihat jauh lebih imut dengan adanya mata panda. Ugh, itu pengejekan namanya!

~Author POV~

Nami mengayunkan kakinya dengan langkah yang cukup cepat. Suara sepatu yang bergesekkan dengan lantai cukup menggema di koridor kelas yang dilewatinya. Di sekelilingnya hanya ada beberapa siswa saja yang sedang nongkrong di depan kelas mereka. Dan aura acuh menguar di dalam tubuh Nami. Well, sebenarnya aura acuh yang sering ia tebarkan itu adalah sikap refleks, dan itu adalah kebiasaan yang tak diinginkannya. Justru aura ramah yang ingin disebarkannya, tapi malah sebaliknya. Terlebih lagi, tampang bad mood menemaninya di pagi ini.

Pasti karena Luhan, pangeran tampannya. Nami tidak tahu, apakah hari ini Luhan sudah berangkat lagi atau belum. Bodohnya lagi, Nami belum tahu Luhan terkena sakit apa dan … bagaima kabarnya saat ini.

Nami membuang wajahnya ke arah lain saat di depan kelas 3-C ada seseorang yang membuatnya jijik. Entahlah, ia merasa enggan hanya untuk menoleh sekilas pun.

Sebelumnya, Nami berteman cukup akrab dengan Jongin-nama pemuda itu-tapi tidak lagi setelah menyadari gelagat Jongin-bahwa pemuda itu menyukainya. Untuk kebenaran, Nami belum mengetahuinya. Ia hanya mendapat sinyal dari gelagatnya saja.

Satu point dari Nami ; Ia sangat sensitive terhadap orang yang menyukainya-secara diam-diam ataupun tidak-jika Nami sendiri tidak memiliki perasaan yang sama seperti pemuda tersebut. Efeknya, Nami akan menjauhinya.
Nami tak menginginkan pemuda lain menyukainya jika ia tak menginginkan pemuda tersebut. Itu anti baginya.
Yah, boleh-boleh saja pemuda tersebut menyukainya, asal jangan sampai Nami mengetahuinya.

Termasuk Jongin. Walaupun tebakannya belum terbukti kebenarannya, tetap saja ia akan menjauhinya, meski orang yang dimasud adalah teman arab sekalipun. Kecuali sahabat, ia akan berusaha menerima keadaan, jika memang ada-Nami belum pernah memiliki sahabat pria.

Nami dengan cueknya melewati Jongin. Tatapan matanya memandang lurus ke depan. Namun, baru empat langkah melewati Jongin, Nami langsung mengendurkan sikap dinginnya, terutama sorot matanya. Seorang pemuda bernama Wu Yifan, baru saja keluar dari kelasnya-kelas 3-C. Pandangan keduanya langsung bertubrukan.

Nami cukup terkejut dengan kemunculan Yifan yang tiba-tiba. Jika akan begini, mungkin sedari tadi ia akan memasang ekspresi ramah agar Yifan tak melihat raut wajahnya yang buruk.
Nami melangkah pelan melewati Yifan setelah melempar tatapan ramahnya pada pemuda berambut blonde tersebut. Nami berpikir mungkin Yifan bingung terhadap sikapnya, yang diawal dingin tapi tiba-tiba saja berubah ramah. Dan Nami tak mempedulikan akan itu. Terserah.

Fakta pertama ; Yifan adalah siswa teladan yang pertama kali ditemui Nami. Dan Yifan menjadi inspirasi serta motivasi Nami semenjak ia mengetahui Yifan.
.
.
Nami memasuki kelasnya dengan wajah yang masih menunduk, bahkan saat sudah sampai di tempat duduknya pun-berhadapan dengan meja guru-masih dalam posisi yang sama.
Nami menurunkan kursinya dari meja, tapi sebelum kursi tersebut benar-benar mendarat, Nami sempat melirik ke pojok kiri deretan kedua, tempat duduk Luhan dan Kyaaa….! Rasanya Nami ingin menjerit-jerit saking bahagianya. Luhan sudah berangkat sekolah, yes!

Senyum di bibir merah Nami tersungging dengan lebarnya-lebih tepatnya senyum tertahan. Hei, teman-teman yang ada di sekitarnya bisa menganggap dirinya aneh jika tersenyum terang-terangan tanpa suatu alasan yang tidak mereka ketahui.

“Welcome~!” ujar Nami secara tiba-tiba. Senyum merekah tercetak di bibirnya. Kedua tangannya merentang lebar. “Welcome to the class!” sekali lagi, Nami mengulangnya. Tubuhnya menghadap ke arah Rye Mi dan masih melakukan pose seperti tadi. Matanya terarah pada Rye Mi-teman sebangkunya-kemudian beralih ke arah lain.

Oh, yeah. Mata terarah pada temannya, tapi makna ucapan tertuju pada pemuda yang duduk di belakang sana-Luhan.
Dan suaranya cukup nyaring pula.

Rye Mi, yang mendapat sapaan aneh paginya hanya mengerutkan kening, tak mengerti dengan apa yang tengah dilakukan Nami. “Hah? Maksudnya?” responnya.

“Oh, tidak. Hehe …” Nami menghentikan aksi anehnya, lalu duduk di kursinya.
.
.
.
.
“Rye Mi, kita jalannya pelan-pelan saja,” usul Nami. Rye Mi mengangguki.

Keduanya mulai berjalan pelan. Sebenarnya ada maksud tersembunyi di balik ucapannya. Di belakang mereka, ada Luhan yang berjalan dengan beberapa teman sekelasnya. Nami yakin, Luhan akan berjalan cepat dan akhirnya akan berjalan bersama, berdekatan. Ah, senangnya~

‘Duk … duk … duk …’

Nami menoleh ke belakangnya saat mendengar pantulan bola. Lalu menghadap ke depan lagi. Hatinya tersenyum kemudian. Di belakangnya, ada Luhan yang tengah memantulkan bola-yang dibawanya-ke jalan aspal.

See … my guess is true, right? Give me applause haha….

Luhan dan Chanyeol kemudian berjalan mendahului Nami. Membuat kesenangan Nami menjadi berlipat. Yeah, Nami jadi lebih leluasa memandangi Luhan.
Teman-temannya yang berjenis perempuan, langsung memberondongi Luhan dengan berbagai pertanyaan, mengenai keadaan Luhan, termasuk Rye Mi. Oh, rupanya Nami juga tak ingin kalah. Nami mengajukan pertanyaan mengenai penyakit apa yang diderita Luhan.

“Luhan! Memangnya kau sakit apa?” tanya Nami dengan nada sedikit tinggi. Mungkin ia agak lepas kendali karena saking semangatnya ingin menanyakan kabar Luhan.

“Ya, sakit,” jawabnya. Tawa kecil sebagai pengelakan keluar dari mulutnya. Nampaknya Luhan tidak ingin memberitahu penyakitnya.

Meskipun jahil, Luhan tak segan untuk berbagi senyumannya secara sering untuk orang lain. Luhan juga pintar bergaul, jadi tak heran jika ia memiliki banyak teman dari kalangan perempuan maupun laki-laki, meski terkadang jahilnya-pada perempuan-tidak ketulungan. Walaupun begitu, sifatnya hanya dilakukan untuk mengakrabkan diri dan bercandaan, bukan untuk menyakiti.

Sebenarnya Nami ingin bertanya lebih lanjut lagi, tapi ia urungkan. Mungkin nanti ia akan bertanya pada Rye Mi. Luhan sakit apa kemarin. Sewaktu kelas dua, Rye Mi sekelas dengan Luhan dan pastinya, Rye Mi cukup tahu banyak mengenai Luhan.
.
.
.
.
~Di tempat Futsal~

“Nami, dia kakak kelas kita saat SMP, bukan?” Rye Mi menunjuk pemuda yang dimaksudnya dengan dagu.

Nami mengikuti arah pandang Rye Mi. Matanya menyipit untuk memastikan. Pemuda itu tengah mengobrol dengan Chanyeol, dan memunggunginya.

Dan Nami menyetujui kalau pemuda itu kakak kelasnya-satu tingkat di atasnya-Kim Jongdae.
Sepertinya Jongdae datang bersama pria-pria berumuran 30-an, memakai pakaian olahraga khusus guru. Mungkin mereka juga akan berlatih futsal.

Saat Nami sudah semakin dekat dengan Jongdae, tiba-tiba saja Jongdae menoleh pada kedua gadis itu. Tapi hanya sekedar menengok-sekilas, tak lebih.

Bertemu kembali dengan Jongdae, menimbulkan rasa yang cukup untuk Nami.
Dulu, ketika Nami kelas dua SMP, ia pernah tertarik pada Jongdae.

Jongdae itu merupakan pemuda yang ahli dalam bidang olahraga. Apalagi bola voli. Dia menjadi pemain terbaik di SMP mereka. Terlebih lagi ketika melakukan Smash ataupun Blok, dia benar-benar hebat.

Nami cukup lama menaruh perasaannya, hingga ia mengetahui sendiri jika Jongdae sudah berpacaran dengan seorang gadis dari kelas 2-A-Nami kelas 2-C.

Jongdae dan gadis itu berpacaran setelah lima bulan Nami tertarik pada Jongdae. Disaat itu, Nami mulai mencoba untuk berhenti menyukai Jongdae.

Suatu ketika, saat Nami kelas tiga SMP, hampir mendekati Ujian Nasional, Nami mendengar sendiri kalau Jongdae dan gadis itu mengakhiri hubungan. Kebetulan, gadis itu curhat saat Nami melewatinya. Tentu saja ada kesenangan tersendiri bagi Nami, karena sejujurnya Nami masih menaruh hati pada Jongdae.

Ketika Nami belum mengetahui status Jongdae, ia sudah memantapkan hatinya kalau ia akan tetap menyukai, meski mereka sudah tidak bertemu sekalipun.

Dan kini, rasa senang menjalari hati Nami, walau perasaannya tak sedalam dulu. Apalagi kalau ada Luhan yang tengah berdiri di sisi lapangan sana, sudah mulai mengisi hatinya

Masa lalu hanyalah masa lalu, tak perlu mengungkitnya, karena ‘masa sekarang’ pun, sudah ada di depan mata.

“Iya, Rye. Namanya Jongdae, kan? Mantannya Hye Ra?” sahut Nami.

Ya, nama gadis itu Hye Ra, temannya Rye Mi. Dan keduanya bertekan akrab, sementara Nami hanya mengenalnya saja.
Hye Ra saat SMP merupakan salah satu gadis populer di sekolahnya. Selain cantik dan memiliki bentuk tubuh yang indah, ia juga pintar dalam hal menari. Lihai sekali gerakannya dan Nami juga mengagumi tariannya.

“Iya,” Rye Mi menganggukkan kepalanya.
.
.
Nami duduk di bangku penonton, dan matanya tak pernah lelah untuk memandangi Luhan. Pemuda itu tidak ikut bermain. Ia hanya menjadi wasit. Luhan terlihat pendiam hari ini.
Apa mungkin Luhan belum sembuh benar?
.
.
.
.
Nami melongokan kepalanya pada jendela kaca ruang UKS yang terbuka. Luhan tidak ada di UKS. Apakah Luhan belum sampai di sekolah? Pikirnya.

Seusai futsal bagian perempuan selesai, mereka-perempuan-memutuskan untuk kembali ke kelas lebih dulu, seperti biasa. Sementara anak laki-lakinya masih bermain futsal. Namun, Luhan tiba-tiba saja ikut kembali ke kelas. Sontak saja, menghadirkan kernyitan heran di pikiran Nami.

“Kenapa Luhan kembali ke kelas duluan?” ujar Nami, saat ia dan Rye Mi berjalan pulang.

“Apa dia sedang sakit?” tebak Rye Mi.

Dan Nami terlihat diam saat mendengar terkaan Rye Mi. Kini, Nami semakin dibuat khawatir ketika tak melihat Luhan tidak ada di UKS. Kemana dia? Apakah sudah berada di kelas?

Nami memencarkan pandangannya ke segala arah. Bisa saja, Luhan masih ada di sekitarnya. Nami menaiki anak tangga yang tertuju ke lantai dua, dimana kelasnya berada.
Matanya ia arahkan ke tempat lain lagi.

Beberapa detik kemudian, kelegaan menyusup hatinya. Di gedung yang terletak di seberang gedung yang sedang diinjaknya, ia melihat Luhan tengah berjalan melewati kelas 1-C, kemudian turun melewati anak tangga. Syukurlah, akhirnya ia melihat Luhan juga.

Nami menghambat ayunan langkahnya, berniat menunggu Luhan. Ia ingin menanyakan keadaannya secara langsung.

Hahhh…. rasanya tak sabar sekali.
.
.
“Luhan, kau sakit apa?” terdengar suara Rye Mi menanyakan kabar Luhan, di telinga Nami.

Arrhh…. Nami jadi pada Rye Mi. Kalau temannya sudah bertanya, ia jadi malas bertanya pada Luhan.
Tadi Rye Mi memang sempat berhenti di depan kelas 1-F, untuk berbicara pada guru tugas. Justru itu, Nami sengaja berjalan lebih dulu, karena ia kira, Rye akan lumayan lama berbicara dengan guru tugas itu. Nami juga yakin ka
lau Luhan akan dengan cepat menyusulnya, tapi sekarang apa? Yang berjalan beriringan serta bisa menanyakan kabar malah temannya. Huffthh … tebakan yang salah ternyata.

“Tidak,” elak Luhan sembari tersenyum.

Nami memelankan langkahnya lagi, menunggu Rye Mi dan Luhan.
Mata Luhan dan Nami bertemu pandang sekilas, karena keduanya saling mengalihkan.

“Wajahmu terlihat pucat,” ujar Rye Mi. Sontak saja, Nami langsung memandang wajah Luhan intens. Memang, wajah Luhan terlihat agak pucat, dan Nami baru menyadarinya.

“Apa iya, Rye?” Luhan mengatakan itu lagi-lagi dengan senyum hm … Nami tak bisa mendeskripsikannya. Rye Mi bergumam ‘iya’.
.
.
“Rye, apa kau tahu, Luhan sakit apa?” Nami mengambil baju seragam sekolahnya yang terlipat di atas meja.

“Hm … sepertinya Maag.” Rye Mi berjongkok untuk melepas tali sepatu olahraganya.

“Maag?” Nami membeo. Luhan sakit Maag? Pantas saja tubuhnya kurus begitu. Apa Luhan jarang makan? Yeah, meskipun tubuh kurus bukan berarti jarang makan, tapi Nami memang suka berasumsi seperti itu.
.
.
Nami merentangkan baju olahraganya di meja, kemudian dilipatnya rapi. Matanya sesekali mencuri pandang pada salah seorang pemuda yang duduk di baris ketiga. Eum … sebenarnya Nami ingin bergabung bersama mereka-Luhan dan Jongin. Kedua pemuda itu tengah menonton film atau Anime, mungkin? Tapi setelah dipikir lagi, tidak jadi saja. Sepertinya mereka tengah menonton Anime. Itu terbukti dari suara berbahasa Jepang yang terdengar dari Laptop di hadapan mereka.

Sebenarnya Nami juga menyukai Anime, tapi … yang sedang mereka tonton itu, Anime dengan genre ‘WOW’, Ecchi!
Oh, ya ampun, bagi penyuka Anime pasti tahu ‘kan, itu Anime yang seperti apa?
Intinya, di Anime dengan genre yang seperti ini, karakter wanitanya memiliki dada yang besar, malah kadang pakaian atasnya sering memperlihatkan sebagian dadanya. Ck, itu membuktikan kalau Jongin dan Luhan itu memang benar-benar berotak mesum.

 

‘Dari ceritaku di atas, aku memang masih kaku dengan Luhan, tapi sekarang sudah tidak lagi. Kami mulai akrab! Hehe…’

.
.
.
.
TBC

 

Thank you ya, udah baca

Advertisements

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s